April 2020 - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Kamis, 30 April 2020

Belajar Jahit Masker Untuk Mengisi Waktu di Rumah Aja
April 30, 20201 Comments

Belajar Jahit Masker Saat di Rumah Aja



Assalamualaikum Sahabat. Di rumah saja selama masa pandemi itu harus pintar mengisi waktu. Dua puluh empat jam di rumah, bingung nggak sih mau apa aja? Saya memang terbiasa di rumah selama ini. Namun ada saat tertentu ngikut suami kerja, nemenin aja jadi teman ngobrol di jalan. 

Nah ini selama covid-19, nggak mungkin juga saya ikut suami ke tempat kerja. Alhamdulillah pada saat pandemi ini, suami masih ada kerjaan renovasi dan bikin rumah baru. Ada empat tempat dan semuanya mulai berbarengan. Akhirnya suami ngajakin si sulung untuk kerja bareng. Nah saya bersyukur banget pas si sulung juga bisa jadi asisten babenya. Jadi babenya nggak kecapekan ngurus kerjaan pas barengan gini.

Karena akhirnya di rumah terus, mau nggak mau saya kudu putar otak mencari ide mau ngapain aja. Masa seharian mau nonton film, ngulik channel YouTube favorit, masak aja?

Kondisi pandemi ternyata menuntun saya untuk belajar hal baru.

Belajar MENJAHIT MASKER

Waktu awal masyarakat diminta stay at home, saya mulai berpikir harus ngapain nih di rumah. Bakal bosan nggak sih kalo kudu di dalam ruangan seharian?

Mendadak saya menyadari bahwa nggak mungkin di rumah terus menerus. Saya harus keluar rumah paling enggak untuk belanja kebutuhan dapur. Nggak mungkin juga meminta bantuan suami. Kasihan dia udah sibuk ngurus kerjaannya. Apalagi suami udah pasang ring di jantung, nggak boleh capek-capek. 

Dan juga kami butuh masker untuk orang serumah. Paling enggak si bungsu sesekali juga diminta bantuan babenya beli material dan membawanya dengan mobil ke proyek.

Saya pun mulai belajar bikin masker sendiri. Saya nggak bisa jahit baju, kalo jahit lurus aja sih udah oke, hahahaa. 

Awalnya ngikuti tutorial di salah satu channel Youtube. Namun bikin masker pertama ukurannya kekecilan. Pengen ngakak waktu udah jadi dan dicoba.

"Ini sih ukurannya untuk anak-anak," komentar adik saya.

Okeee, saya bikin lagi dong. Nah masker yang kedua ini lumayan lah hasilnya. Sudah saya gunakan untuk belanja sayur dekat rumah.

Saya pun keranjingan bikin masker model dua lapis dengan bagian tengah ada lubang untuk disisipi tisu. Ternyata ukurannya kebesaran. Yaawlaaa...

Saya bangga memakai masker buatan sendiri. Nggak apa sih ukurannya kebesaran, malah bagus kan. Karena syarat masker itu adalah bahannya dari kain katun, harus menutup hidup, mulut dan dagu. Jadi masker kotak-kotak bikinan saya ini memenuhi syarat keamanan saat harus keluar rumah.

Jahit Masker, Pilih Pakai Mesin atau Jahit Tangan?

Tutorial bikin masker yang saya lihat di channel Youtube adalah dengan cara jahit tangan. Saya pun awalnya mengikutinya. Namun alamak saya nggak sabat waktu memasukkan benang ke dalam lubang jarum.

Kalo memakai benang agak panjang, nantinya akan mbundet. Tapi kalo menggunakan benang secukupnya, cepat abis. Tentu saja kudu sering ganti benang kan? Dan effort masukin benang ke lubang jarum itu bikin mata sakit. Wkwkwkwkk.

Saya pun beralih menggunakan mesin jahit ibu. Kebetulan rumah kami berdekatan, tinggal jalan kaki aja.



Tentu saja hasil jadinya juga lebih cepat kalo dijahit dengan mesin. Eh ini saya ya, yang kurang sabar jahit pakai tangan. Meski kalo untuk menjahit ujung gamis pun saya lebih suka memilih jahit tangan. Beberapa gamis yang saya pakai itu ujungnya hasil jahitan tangan. Ibu jahit seluruh bagian gamis dengan mesin jahit. Nanti giliran kelim ujung gamis, saya yang melakukannya.

Tapi kalo untuk bikin masker, saya nggak sabar jahit tangan. Justru lebih cepat pakai mesin jahit. Tapi itu juga terserah kal
ian yang pengen jahit tangan untuk bikin masker.

Sulit Atau Nggak Bikin Masker Sendiri?

Saya bilang enggak. Tapi memang butuh ketelatenan jahit masker sendiri. Apalagi kalo sebelumnya sama sekali nggak bisa jahit.

Tapi yang namanya belajar itu pantang bilang sulit. Pantang bilang menyerah. 

Alhamdulillah saya selalu tertantang belajar hal baru. Apalagi ini ada hubungannya dengan memberi rasa aman bagi saya, anak-anak, dan suami. Mereka senang kok mengenakan masker hasil belajar saya. Dibandingkan masker buatan sepupu yang pintar menjahit, masker saya kalah tentunya. 



Tapi anak-anak dan suami mau mengenakannya. Bergantian dengan stok masker lainnya. Kata mereka, masker itu nggak harus bagus. Karena yang penting adalah fungsinya. Kalian bikin masker sendiri juga? Cerita yuk selama di rumah kalian belajar apa aja? Wassalamualaikum.
Reading Time:
Mendampingi Anak Korban Verbal Bullying Bisa Move On dan Punya Prestasi
April 30, 2020 25 Comments

Mendampingi Anak Korban Verbal Bullying


Assalamualaikum Sahabat. Tema arisan periode 6 ini mengingatkan saya saat si bungsu kelas 5 SD. Biasanya bullying itu dilakukan oleh sesama teman atau kakak kelas, adik kelas kan. Beda yang dialami si bungsu, dia menjadi korban bullying gurunya.

Saya sebenarnya udah menutup luka lama ini. Dahulu saya bahkan sempat mengucapkan kalimat, enggak apa anak saya menjadi korban. Tapi insyaa Allah, dia akan menjadi anak yang sukses. 

Meski saya nggak mau anak saya menjadi martir. Karena guru yang mengajar di kelas 5 ini setiap tahun selalu melakukan hal serupa. Korbannya aja yang ganti karena anak didiknya kan naik ke kelas berikutnya.

Cerita Korban Verbal Bullying Kala Itu...

Saya melihat perubahan perilaku Naufal. Dia bungsu kami yang selalu ceria mendadak jadi pendiam. Memang aslinya anaknya pemalu tapi enggak pendiam banget lah kalo di rumah. Dan saya pun mencari informasi ke putra tetangga yang satu kelas dengan si bungsu ini.

Ternyata temannya nggak tahu, apa yang dialami si bungsu saat di sekolah. Saya bahkan tak menaruh curiga kalo anak saya ini mengalami verbal bullying.

Baru lah saat beberapa hari kemudian si bungsu curhat tentang nilainya yang menurun. Alasannya dia tidak bisa mendengar gurunya berbicara karena duduknya di belakang. Si bungsu memang anaknya bongsor, waktu usia 10 tahun itu BB udah 43 kg. Abis khitan juga waktu naik kelas 5 jadi nambah tinggi dan gemuk. Anaknya doyan makan dan nggak punya pantangan, apa aja doyan.

Saya pun berkunjung ke kelas 5 esok harinya untuk menanyakan tentang rolling tempat duduk siswa. Namun rupanya guru kelasnya kurang berkenan dengan pertanyaan saya tentang rolling kursi ini. Padahal di sekolah itu udah biasa siswa melakukan rolling tempat duduk tiap minggu sekali. Jadi tiap siswa akan merasakan duduk di kursi depan, belakang, samping kanan, ataupun kiri. Adil kaaan?!

Saya pun pulang ke rumah namun tetap meminta guru kelas si bungsu agar mendengarkan aspirasi orang tua murid.

Saya juga memantau perkembangan tentang rolling dengan bertanya pada si bungsu seminggu kemudian. 

"Gimana dek, masih duduk di belakang sendiri?"
"Sekarang dduduk paling depan," Naufal tertawa, terlihat hepi.

"Alhamdulillah ya dek, jadi dengar dong ucapan Bu Guru,"

Saya udah melupakan masalah ini, sambil tetap menitipkan pesan agar dia protes kalo duduknya di belakang terus kayak kemarin. Semua siswa punya hak untuk meminta rolling tempat duduk.

Ternyata ada kejadian yang agak parah dialami si bungsu. Entah bagaimana kesalahannya, si bungsu kerap dipanggil dengan sebutan anak bodoh. Saya mendapat info dari tetangga yang anaknya satu kelas dengan si bungsu.

Saya marah dong! Masa ada seorang guru yang memberikan jugdment kata-kata buruk pada siswanya sendiri?!

Saya pun mendatangi guru kelasnya dan protes dengan ucapannya. Tentu saja saya mengajukan keberatan dengan sopan, bukan memaki atau berteriak. Saya masih punya adab sopan santun juga dan tak ingin si bungsu malu dengan sikap ibunya.

Entah guru kelas yang sejak awal nggak suka dengan permintaan rolling hingga terbawa dengan masalah terakhir, saya tidak tahu. Yang pasti tiap saya mengajukan keberatan dengan senyum manis, beliau juga menanggapi dengan baik. Namun ternyata dia memberikan penilaian buruk tingkah laku si bungsu. Bahkan kepala sekolah udah mendapat laporannya.

Saya mengetahui masalah ini saat dipanggil oleh kepala sekolah. Katanya ada yang melaporkan bahwa anak saya merokok di sekolah. Astaghfirullah... saya itu orang yang paling keras dengan perokok. Masa iya anak saya malah merokok di sekolah?

Dari hasil perbincangan dengan kepala sekolah, saya mendapat informasi bahwa si bungsu terlihat memegang rokok dan meniup-niupnya. Ada guru agama yang melihat dari jauh. Karena tahu si bungsu adalah siswa guru A, dia pun lapor pada guru kelasnya.

Yang bikin saya kecewa adalah ucapan guru kelasnya. Seperti ini ucapannya,"Saya tahu Naufal itu merokok karena nyontoh bapaknya,"

Mata saya membesar, kaget dong. 

"Maaf Ibu, dari mana Ibu tahu kalo suami merokok? Coba kalo berbicara dengan mengemukakan fakta yang benar. Suami saya itu orang yang nggak pernah merokok, baik di rumah, di lingkungan RT RW, keluarga besar."

Guru wali kelasnya cuma tersenyum, melihatnya aja udah nggak enak banget lah waktu itu.

"Ibu kan pendidik, masa dengan mudah selalu memberikan jugdment negatif seperti itu. Silahkan datang ke tetangga saya, Ibu tahu kan rumah kami. Tolong tanya kepada mereka, apakah suami saya seorang perokok?!"

Masalah ini diselesaikan dengan peringatan untuk anak saya agar tidak mengulangi perbuatannya. Masya Allah, saya sungguh harus bersabar mendengar keputusan itu. Saya hanya mampu mengucap istighfar agar tidak emosi mendengar anak saya dikatakan merokok di sekolah.

Selang beberapa bulan kemudian, baru saya tahu bahwa si bungsu memang memegang rokok. Dia menemukan rokok yang masih panjang. Namun dia dan temannya saling memegang bergantian. Apesnya waktu dipegang si bungsu, ada guru agama yang melihat. 

Saya melihat ada kondisi yang memang tidak menguntungkan si bungsu. Namun saya yang udah lelah protes ke sekolah, menganggap ini adalah ujian bagi saya di si bungsu.

Bahkan ada saran dari tetangga yang anaknya pernah menjadi siswa di bawah arahan guru tersebut, untuk memberi amplop. Saya tegas menolak waktu suami cerita saran tetangga. Memang guru tersebut terkenal suka diberi sesuatu oleh orang tua murid. Dan tiap tahun selalu bermasalan dengan anak didiknya hingga sering mendapat protes dari orang tua siswa.

Saya dan suami bahkan baru tahu, saat itu sebenarnya ada beberapa wali murid yang juga ingin mengajukan keberatan pada kepala sekolah atas perbuatan guru kelas 5. Namun mendengar sikap kami yang sudah protes duluan, mereka nggak jadi melakukannya. 

Masalah yang dihadapi anak-anak mereka tidak sama persis. Namun guru kelas tersebut melakukan verbal bullying pada siswa-siswa yang juga teman sekelas Naufal. Ada yang disebut anak goblok, atau tukang jajan, dan sebutan negatif lainnya dan itu tidak pantas diucapkan oleh guru wali kelas atau pendidik.

Mendampingi Anak Korban Verbal Bullying

Picture by Pexels
Bukan hal mudah mendampingi si bungsu saat kena bully gurunya. Dia sampai trauma tiap Senin pagi tiba. Misalkan sejak pagi udah siap dengan pakaian dan sarapan, mendadak mogok ke sekolah. Pusing kan saya waktu itu, apalagi masih harus mempersiapkan berangkat kerja. Beberapa kali saya ijin terlambat ke kantor karena mencari tahu apa yang sedang terjadi pada si bungsu.

Peran orang tua mendampingin anak yang menjadi korban verval bullying ini sangat penting. Setiap hari saya memberikan dukungan dengan menyuntikkan kalimat motivasi agar si bungsu tidak takut terhadap gurunya. 

Yup, si bungsu seperti ketakukan berangkat dan bertemu guru kelasnya. Trauma banget pokoknya. 

Alhamdulillah dengan pendampingan yang saya lakukan bersama suami dan kakaknya, si bungsu berangsur pulih. Dia bisa naik kelas dengan nilai memuaskan. Terlebih guru kelas 6 yang menjadi wali kelasnya adalah orang yang senang memotivasi. 

Usai terima raport, guru wali kelas 6 langsung mendatangi si bungsu dan mengajak bicara. Ternyata guru wali kelas 6 ini telah membiasakan untuk menyambut calon siswanya dengan mengucapkan kalimat motivasi. Agar semangat dan siap menjadi siswa kelas 6 yang selalu bahagia. 

Aduh sungguh saya terharu mendengar cerita si bungsu tentang kalimat motivasi yang disampaikan gulu kelas 6. Seakan kondisi yang dialami si bungsu sebelumnya terhapus oleh ucapan yang bikin hati adem.

Saya ingin sharing apa aja yang mesti dilakukan orang tua untuk mendampingi anaknya yang menjadi korban verbal bullying. 

Verbal bullying itu tidak terlihat secara fisik namun tidak boleh dibiarkan. Verbal bullying adalah penindasan yang dilakukan dengan mengucapkan kalimat negatif. Efeknya bisa lebih dahsyat dibanding kekerasan fisik. Karena tahu dong kekerasan verbal itu nancap di hati, bahkan ada yang mengakibatkan efek 'mematikan' si korban.

Berikut ini tips mendampingi anak korban verbal bullying :

1. Kenali Gejala Anak Kena Verbal Bullying 

Picture by Pexels
Verbal bullying tidak terlihat karena kekerasan dalam bentuk ucapan. Namun orang tua bisa mengenali dari gejala yang nampak. Dari perubahan perilaku, sikap anak yang semula ceria berubah murung. Atau anak mencari perhatian dengan melakukan tindakan yang tidak seperti dirinya selama ini. 

Bisa terlihat kok, seperti saya yang menemukan si bungsu terlihat tidak hepi. Tidak lagi mau duduk dekat saya saat nonton TV. Ternyata dia membentengi dirinya agar tidak diajak bicara oleh saya, ayahnya maupun kakaknya.

2. Ajak Anak Menghadapi Pelaku Bullying

Saya sudah mengetahui bahwa pelaku bullying adalah guru kelasnya. Pertama tahu pelaku verbal bullying adalah guru, saya mencari tahu tentang dirinya. Rupanya beliau udah dikenal sebagai guru yang suka melakukan verbal bullying. Setiap tahun selalu ada siswa yang menjadi korban bully dan enggak hanya satu anak. 

Namun saat itu kekerasan verbal belum begitu diperhatikan seperti halnya kekerasan fisik. 

Beda ya tindakan menghadapi pelaku verbal bullying dari guru dan sesama teman. Guru itu punya kuasa memberikan nilai pada anak saya. Jadi saya harus pintar-pintar mencari kalimat yang tidak menambah beban bagi si bungsu ketika di kelas. Gurunya kalo nggak suka dengan wali murid yang kena anaknya. Tapi saya selalu memberi pengertian pada si bungsu bahwa dia harus berani bertanya di kelas. Dia juga tidak boleh mendengarkan omongan negatif dari gulu kelasnya. 

3. Beri Tahu Pihak Sekolah

Sebenarnya sebelum saya melakukan tindakan protes, ada temannya Naufal yang udah kena duluan dan ada dua anak. Cuma karena anaknya tidak ngasih tahu orang tuanya, tenggelam deh dengan kasus anak saya. Orang tua mereka ini yang ternyata punya rencana akan protes kepada kepala sekolah, namun nggak jadi. Sudah ada saya yang menjadi leader protes duluan.

Kepala sekolah pun sebenarnya sudah mengetahui bahwa tenaga guru yang mengajar kelas 5 sudah serin diprotes wali murid. Dua tahun sebelum anak saya, ada orang tua murid yang melaporkan hingga ke Dinas Pendidikan Kota. Udah ada teguran pula, namun belum sampai dipindahkan ke sekolah lain.

Jadi ketika saya protes pun tanggapan kepala sekolah hanya menenangkan dan berjanji akan menegur guru kelas 5. Namun bukannya berubah, justru anak saya yang diintimidasi. Puncaknya kejadian tentang merokok seperti yang saya ceritakan di atas.

4. Pantau Selalu Keadaan Anak

Orang tua jangan pernah menyerah ketika anak merengek tidak ingin sekolah. Seperti anak saya tiap hari Senin seperti kayak trauma enggak mau masuk ke sekolah. Pernah saya mendapat telpon dari suami yang mengabarkan kalo si bungsu lari keluar dari halaman sekolah menuju masjid. Akhirnya diajakin mengambil air untuk wudhu dan shalat Dhuha. Usai shalat, diajakin ngobrol lah sama babenya. Dan akhirnya mau masuk kelas setelah beberapa waktu.

Suami sendiri yang nganter tapi dari jauh dan guru kelasnya melihat keluar saat Naufal masuk kelas. Tahu kayaknya kalo ayahnya Naufal anter dari jauh, karena senyumnya manis sekali saat menyambut si bungsu.

Intinya tetap pantau sikap anak, perhatikan hal kecil, tanya kegiatan apa seharian itu di kelas. Bagaimana sikap si pembully, apakah udah ada perubahan dari nya. Orang tua diharapkan mampu meyakinkan anak bahwa kasus itu bukan kesalahannya. Dia bukan anak yang bodoh. Selalu beri motivasi untuk anak berani mengajukan pertanyaan ketika di kelas. 

5. Pindah Sekolah

Foto taken by ARTEM Photography
Jika masalah bullying terus berlanjut dan kondisi anak semakin parah, orang tua harus peduli. Mungkin mereka bisa mencari solusi dengan memindahkan sekolah baru. Atau memilih konsep belajar home schooling. Dan pilihan belajar di rumah ini sempat terpikirkan oleh saya. Namun suami tidak setuju mengingat saya masih kerja di kantor. 

_______________

Intinya, Moms... jangan menyepelekan seorang anak yang menjadi korban verbal bullying. Karena dampaknya bisa melekat hingga jangka panjang bahkan sampai dia tumbuh dewasa. Emosinya bisa berubah dalam sekian menit karena bisa saja dia belum bisa memaafkan dirinya sendiri akibat jadi korban verbal bullying.

Korban verbal bullying ini juga mengubah sikap seorang anak menjadi tidak percaya diri. Sedih loh saya tiap kali di rumah anak udah dimotivasi, trus ke sekolah percaya dirinya hilang gara-gara ucapan negatif gurunya.

Semoga kejadian verbal bullying ini tidak tejadi pada anak lain. Saya dulu berdoa seperti itu, cukup berhenti pada anak saya. Dan kabarnya ketika si bungsu udah masuk ke sekolah lanjutan, gurunya ini udah dipindahkan ke kelas yang lebih rendah. Perubahan perilakunya juga ada dan tidak lagi suka membully siswanya. 

Alhamdulillah saya jadi mendapat pelajaran juga dari kejadian ini. Meski saya jadi trauma dengan sekolah negeri, paling tidak saya berani mengupayakan hak anak saya. Senangnya di SMP yang kami pilihkan ini ada sesi konsultasi dengan psikolog. Saya jadi bisa curhat tentang peristiwa saat si bungsu kelas 5. Sesi konsultasi ini juga menggali minat dan ketrampilan anak didik sehingga bisa diarahkan ikut kegiatan eksul di sekolah. Dari sini lah si bungsu terpilih mewakili sekolah untuk lomba desain graphis dan dapat membawa pulang kemenangan sebagai juara ketiga. 

Tak selamanya anak korban verbal bullyng menjadi tidak punya prestasi. Asal orang tua mau meluangkan waktu dan mendampingi dengan benar, mereka pun dapat meraih prestasi sesuai minat. Sahabat punya pengalaman seperti saya? Sharing yuk, kalian enggak sendiri. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Rabu, 29 April 2020

15 Aplikasi di Smartphone Menemani Aktivitas Work From Home Saat Pandemi Covid-19
April 29, 2020 12 Comments
15 Aplikasi di Smartphone Menemani Aktivitas Work From Home Saat Pandemi Covid-19





Assalamualaikum Sahabat. Di rumah aja tentu bakal membosankan kalo tak ada kegiatan yang produktif. Padahal di era digital harusnya kamu pintar-pintar mencari atau menemukan aktivitas yang seru. Work from home nggak bakal bikin bosan kalo kamu udah pasang aplikasi seperti saya. 

Coba yuk ikuti terus, apa aja sih aplikasi yang ada di smartphone saya. 

15 Aplikasi yang menemani saya saat work from home adalah :

- YouTube

Situs web untuk berbagi video bagi pemilik akun untuk mengunggah, menonton, dan berbagi video. Kamu nggak punya akun pun bisa menonton video yang diunggah di YouTube. Asik sebenarnya karena dari satu aplikasi ini saya bisa menggali info beragam. Dari nonton film, resep, DIY, kisah inspirasi, dan lainnya.

- Whatsapp Grup
Siapa yang belum pasang aplikasi Whatsapp? Nggak ada rasanya. Ibu mertua saya aja punya aplikasi ini di ponsel pintarnya. Padahal usia Ibu udah 80 tahun. Karena Ibu suka nelpon anaknya satu-satu. Kami kasihan dengan jumlah pulsa yang cepat habis. Jadi akhirnya kami tawarkan ibu untuk pasang aplikasi di ponselnya.

- NETFLIX
Bagi sebagian orang, waktu menanti buka puasa bisa dengan menonton film. Saat menghabiskan waktu dengan menonton film, tidak terasa waktu berbuka puasa tiba. Nah, ada aplikasi Netflix yang bisa kamu download di ponsel. Aplikasi ini menyediakan berbagai film dan series bahkan drama keren yang bisa kamu tonton satu demi satu lho.

- InShoot

Aplikasi yang bisa kamu gunakan untuk edit foto atau video. Namun tidak seperti aplikasi edit video seperti filmora, viva video, kine master, Inshoot tidak bisa menggabungkan beberapa video atau foto. Saya baru coba edit video dari dua yang digabungkan menjadi satu video. 

- INSTAGRAM
Semua orang pasti punya aplikasi media sosial Instagram. Memantau isi timeline atau menonton Story orang lain rupanya bisa kamu lakukan selama ngabuburit agar tidak mati gaya. Selain menonton update Story atau timeline orang lain, kamu juga bisa lho merapikan feeds kamu atau mengunggah Story menjelang berbuka puasa.


- CANVA
Aplikasi desain grafis yang bisa dilakukan dengan mudah ini bisa dipelajari secara autodidak. Coba-coba aja, dan nikmati keseruan utak-atik gambar, tulisan, stiker, ilustrasi, dengan pilihan template yang sangat banyak. Saya masih menggunakan aplikasi Canva yang gratis.


Aplikasi ini bisa kamu gunakan untuk mendesain kartu ucapan, poster, brosur, infografis, presentasi, atau undangan. Segera install aplikasi di smartphone kamu dan rasakan keseruan saat menggunakannya.

- SNAPSEED  
Bagi mereka yang menyukai posting foto di Instagram, bisa menggunakan aplikasi edit foto Snapseed. Aplikasi edit foto yang bisa digunakan di smartphone ini memiliki beberapa fitur serta filter yang menarik. 

Fitur Snapseed ada Details, tune image, crop, rotate, transform, brush, selective adjust, spot repair, dan vignette. Sementara filter yang ada seperti lensa blur, glamour glow, tonal contrast, HDR Scape, dan masih banyak lagi. Yuk, eksekusi aja aplikasi nya.

- TWITTER
Aplikasi Twitter masih setia di smartphone saya karena bisa dijadikan tempat curhat bebas. Saya juga bisa baca info berita yang sedang trending di linimasa. Kadang ngikutin juga thread twitt yang gaje, receh, horor, inspiratif. Pernah juga baca status nyinyir politi, tapi gak lama karena malas kena efek negatifnya.

- BELANJA ONLINE


Siapa sih yang saat ini enggak pasang aplikasi belanja online di ponsel pintarnya? Ada banyak pilihan toko online, dari Lazada, Tokopedia, Shopee, Blibli, dan banyak lagi lainnya. Di ponsel saya ada tiga toko online yang sering menjadi tempat belanja online. Sebelum pandemi covid, saya jarang belanja online. Karena saya lebih suka ke toko offline sembari jalan-jalan dan window shopping. Kecuali bila barang yang saya inginkan hanya tersedia di toko online. Baru deh saya pilih belanja online.

Sejak pandemi tentu saja pilihan belanja online lebih saya sukai. Di samping nggak ada resiko bertemu dengan banyak orang di toko online. Belanja online kadang lebih murah karena ada promo harga diskon. Udah belanja apa aja selama pandemi? Rahasia ahhhh...

- Belajar Online di Zoom
Anjuran pemerintah untuk bekerja atau belajar dari rumah harus diikuti. Namun aktivitas bekerja atau belajar di rumah tetap berjalan lancar. Bagaimana caranya? Ada aplikasi belajar online dengan menggunakan Zoom. Kebetulan saya mengikuti beberapa belajar online dengan tiga komunitas. Salah satunya pernah saya share ceritanya.



- OVO
Aplikasi satu ini sekarang udah wajib ada di ponsel pintar. Dompet digital satu ini memberikan fasilitas pelayanan untuk mempermudah transaksi belanja atau pembayaran online. Saya menggunakan OVO untuk membayar semua tagihan rumah tangga karena lebih praktis. Dan karena udah terbiasa, saya merasa terbantu saat pandemi. Saya tidak perlu keluar rumah seperti sebelumnya hanya untuk bayar tagihan listrik, paket internet Indihome, sampai bayar BPJS.
.
- GRAB

Ah ini dia aplikasi layanan transportasi awalnya. Yang kemudian berkembang melayani pemesanan makanan, juga pembayaran online. Untuk pembayarannya kerjasama dengan aplikasi OVO. Jadi memang harus pasang dua aplikasi ini untuk menikmati akses kemudahan hidup di jaman digital.

Grabfood ini telah membantu saya selama ini ketika sedang malas masak, sakit, atau sekedar kulineran tanpa perlu keluar rumah. Jadi tiap awal bulan biasanya saya isi saldo agar bisa menikmati layanan pesan antar makanan. 

- GOJEK
Ini sama dengan Grab, cuma beda pemiliknya aja yang berbasis di negeri sendiri. Aplikasi yang awalnya juga melayani angkutan melalui jasa ojek online. Sekarang udah melayani beragam jasa anter pesan makanan, pembayaran, juga lainnya.

- MyIndiHome
Aplikasi yang mestinya dimiliki oleh semua pelanggan layanan internet milik Telekom sih. Saya sendiri baru dua tahun memasang aplikasi ini di ponsel. Dengan aplikasi MyIndiHome kamu bisa berlangganan Indihome sendiri, juga aktivasi OTT Video Streaming, untuk registrasi bermacam fitur tambahan, melaporkan gangguan layanan Indihome, cek tagihan, reward, poin, info pemakaian, bahkan ada pula free music atau film. Sebenarnya ada banyak lagi fitur menarik lainnya.

- FilmoraGo
Aplikasi edit video yang digunakan untuk membuat video secara sederhana dan mudah. Saya udah nyoba edit video dengan aplikasi lain. Tapi kembali lagi saya memilih aplikasi edit video menggunakan Filmora. Bagi pemula aja gampang banget kok. Coba dulu deh.

Whuaaa, banyak juga ya aplikasi di hape yang sering saya gunakan. Aslinya sih masih ada lagi aplikasi lain di hape saya. Tapi sengaja enggak saya masukkan dalam daftar di sini. Kamu pasang aplikasi apa aja di hape? Wassalamu'alaikum.
Reading Time:

Selasa, 28 April 2020

Cari Tahu Terpapar Virus Covid-19, Akses Layanan Rapid Test Halodoc
April 28, 2020 38 Comments

Cari Tahu Terpapar Virus Covid-19, Akses Layanan Rapid Test Halodoc


Assalamualaikum Sahabat. Saat pertama kali mendengar pemerintah mengumumkan agar masyarakat mulai work from home, saya sedang di Lombok bersama seorang sahabat. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sendiri saat itu masih belum ada keputusan. Baru selang sehari setelah meeting beserta staff hingga larut malam, Gubernur Jateng mengumumkan hal sama.

Saya yang sehari kemudian pulang melalui bandara Adi Sucipto, Jogja,melihat mulai ada pemeriksaan suhu tubuh di pintu keluar terminal kedtangan. Physical distancing mulai dicanangkan pula oleh pemerintah. Namun sepanjang kepulangan dari Jogja ke Semarang, meski jalanan ramai lancar, saya tak melihat masyarakat pakai masker.

Saat pulang ke Semarang saya naik travel, dan setiap baris hanya ditempati 1 (satu) penumpang. Saya pun memakai masker untuk mencegah penularan ataupun tertular virus covid-19. Mencegah lebih baik kan dari pada nantinya kena sakit?!




Physical Distancing

Teman saya yang juga tenaga kesehatan, bertanya kondisi sepulang dari Lombok. Alhamdulillah saya melakukan karantina mandiri sepulang dari Lombok karena di sana banyak turis mancanegara. Saya nggak tahu apakah ada yang membawa virus dalam tubuh mereka.

Physical distancing pengganti social distancing karena jaga jarak fisik untuk mencegah penyebaran virus covid-19. Jarak fisik boleh lah ya dijaga namun secara sosial tentunya harus tetap saling terhubung.

Caranya adalah dengan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, berinteraksi dengan teman bisa melalui sosial media. 



Bahkan mulai tanggal 17 Maret 2020 juga anak sekolah dan kuliah sudah mulai melakukan pembelajaran dari rumah. Ada beberapa aplikasi yang digunakan untuk proses kemudahan belajar. Mulai dari Google Classroom, Schoology, YouTube, dan ada juga Ruang Guru. 

Sementara bagi pekerja juga mulai melakukan pekerjaan dari rumah. Meski tetap saja masih banyak lagi yang belum bisa bekerja di rumah. Mereka adalah pekerja yang masih mengandalkan gaji harian, seperti buruh pabrik, ojek online, penjual di pasar, dan masih banyak lagi lainnya.

Dengan penyebaran virus covid-19 yang semakin meluas, ketua gugus tugas Covid19 pun memberikan aturan baru tentang penggunaan masker. Sesuai anjuran dari WHO yang melihat tingkat penyebaran virus yang terus meningkat. 

Masker untuk semua, dengan catatan masker N95 untuk tenaga medis. Sementara warga umumnya menggunakan masker dari kain. Saya sendiri awalnya ikut bikin masker dari kain dua lapir yang bagian tengahnya bisa disisipkan tisu. 

Namun ketika butuh lebih banyak masker untuk kegiatan suami yang masih harus kerja di luar, saya pesan masker lebih banyak kepada sepupu. Ini juga memberikan rejeki untuknya yang terdampak dirumahkan karena pandemi. Karena jeli melihat peluang, sepupu saya mulai produksi masker bagi teman dan kerabat yang membutuhkan masker kain.

Dan kita pun butuh masker kain ini ketika untuk keluar rumah saat belanja atau keperluan lainnya. Yang penting tetap jaga kebersihan dengan mencuci tangan selama 20 detik. Atau bawa hand sanitizer ketika keluar rumah.

Physical distancing memang penting dilakukan agar penyebaran covid-19 tidak meluas kemana-mana. Saya masih tetap bisa melakukan kegiatan di rumah. Justru ketika lebih banyak waktu di rumah, tanaman saya makin tumbuh subur. Saya makin punya waktu membersihkan rumput liar, menggunting ranting yang tidak berguna, dan memindahkan tanaman cabe yang mulai tumbuh beberapa centimeter. 

Seperti Apakah Rapid Test?

Seminggu kemudian (tanggal 24 Maret 2020), baru lah ada pernyataan dari Presiden Jokowi, agar rapid test mulai dilakukan. Namun rapid test ini prioritasnya untuk tenaga medis yang menangani pasien positif terjangkit virus Corona atau Covid-19. Rapid test ini juga diprioritaskan untuk mereka yang tinggal di zona-zona rawan penyebaran Covid-19.

Saya sendiri orang awam, namun suka membaca dari berbagai sumber yang kredibel sejak munculnya covid-19 di tanah air. Dari berbagai info yang saya baca, Rapid test adalah metode skrining tahap awal untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus corona. Antibodi ini akan dibentuk oleh tubuh secara alami bila ada paparan virus corona. 

Nah yang perlu kalian tahu, rapid test ini hanya dilakukan pada orang yang punya resiko tertular covid-19. Misalnya mereka yang pernah memiliki kontak langsung dengan pasien covid-19. Juga mereka yang pernah tinggal di satu daerah atau negera penularan covid-19, serta yang memiliki gejala demam, batuk kering di tenggorokan, serta gangguan sistem pernapasan.


Sebenarnya ada tiga kategori yang harus menjalani rapid test. Yaitu OTG (Orang Tanpa Gejala), ODP (Orang Dalam Pemantauan), dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Yang menentukan status tersebut adalah tenaga kesehatan.

Berikut penjelasan ketiga kategori tersebut :

- OTG (Orang Tanpa Gejala)

Orang tanpa gejala (OTG), status ini diberikan kepada warga yang tidak menunjukan gejala tetapi pernah melakukan kontak erat dengan pasien positif corona. 

Biasanya golongan ini tidak mengalami atau merasakan gejala tertentu, bahkan merasa sehat. Namun dia tahu telah melakukan kontak dengan pasien positif covid-19. Karena itu lah dia harus menjalani rapid test.

- ODP (Orang Dalam Pemantauan)

Mereka yang mengalami demam tinggi, suhu tubuh di atas 38 derajat celcius, pilek dan sakit tenggorokan seperti batuk. Orang dengan gejala tersebut harus waspada karena merupakan gejala umum mereka yang kena virus covid-19. 

Selain itu ada juga orang yang pernah tinggal atau berada di daerah dengan penularan lokal atau masuk zona merah covid-19.

- PDP (Pasien Dalam Pengawasan)

Ada tiga kondisi yang bisa ditetapkan sebagai PDP. Yang pertama adalah orang yang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pernah berada dalam daerah penularan lokal.

Yang kedua adalah orang yang mengalami demam dan pernah berkontak langsung dengan pasien positif covid-19. Dan, yang ketiga adalah orang yang mengalami ISPA berat atau pneumonia berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

Cara Akses Layanan Rapid Test Halodoc


Sebenarnya agar penyebaran virus covid-19 tidak makin meluas, lakukan work from home, di rumah aja. Kalo keluar rumah gunakan masker dan ikuti langkah kebersihan diri begitu tiba di rumah. 

Namun tak dipungkiri dengan makin meluasnya zona merah covid-19, mereka yang berstatus ODP dan OTG melakukan rapid test. Namun terbatasnya persediaan alat untuk layanan Rapid Test, mereka yang berstatus OTG dan ODP tak mendapatkan jatah tersebut.

Karena itu, dengat niat baik membantu pemerintah menekan laju peningkatan kasus covid-19, Halodoc menyediakan layanan rapid test. Saat ini sementara masih melakukan layanan rapid test di Jabodetabek. Layanan rapid test ini bekerja sama dengan berbagai mitra rumah sakit.

Pemeriksaan rapid test Halodoc menggunakan sampel darah untuk diuji. Nantinya darah yang diambil akan digunakan untuk mendeteksi imunoglobulin. Yaitu antibodi yang terbentuk saat tubuh seseorang mengalami infeksi. Dari sini juga pasien yang masih tahap awal infeksi bisa diidentifikasi lebih cepat.

Kalo ingin melakukan rapid test di Halodoc, gimana caranya? 
Yuk saya kasih prosedur rapid test melalui Halodoc, gampang kok. Ikuti langkah-langkahnya berikut ini ya :
1. Buka aplikasi Halodoc dan klik tombol "COVID-19 Test"
2. Pilih lokasi rapid tes
3. Pilih Jenis Tes COVID-19 (PCR atau Rapid Test)
4. Pilih Jadwal Kunjungan
5. Lengkapi identitas diri dan unggah foto kartu identitas
6. Lakukan pembayaran
7. Pendaftaran berhasil dan tunggu SMS konfirmasi jadwal sebelum berangkat ke lokasi tes. Nantinya SMS tersebut harus ditunjukkan kepada petugas medis saat kunjungan di lokasi Rapid Test.

Berikut ini langkah-langkah melakukan rapid test di Halodoc dalam bentuk infografis :

Udah sih gitu aja bila kalian ingin melakukan rapid test mandiri. Enggak harus antri karena udah daftar melalui ponsel. Juga lebih aman karena buat janji dulu #DiRumahAja. Pilihan juga ada dua macam, bisa PCR atau Rapid Test, dan bisa memilih rumah sakit yang paling dekat dari rumah.

Rumah sakit penyedia Tes Covid-19 yang bekerja sama dengan Halodoc adalah Mitra Keluarga, Mayapda Hospital, St. Carolus, dan Primaya Hospital. 

Yang paling membantu kalian adalah, hasil Rapid Test Covid-19 akan dikirimkan melalui SMS atau notifikasi Halodoc di ponsel kalian satu hari sesudahnya. Jadi begitu kaian selesai melakukan rapid test, bisa segera meninggalkan area fasilitas tes. Praktis yaaa.

Kalian udah coba melakukan layanan rapid test di Halodoc? Bisa dong sharing di kolom komentar, agar makin banyak yang tahu dengan lebih detil. Saya berharap kalian selalu dalam keadaan sehat, kita semua juga tentunya, aamiin. Wassalamualaikum.

----------------------
Sumber materi :
-  https://www.halodoc.com/layanan-rapid-test
 https://corona.jatengprov.go.id/
Reading Time:
#DiRumahAja, Ini 9 Kegiatan Seru Bersama Keluarga Agar Terhindar Dari Covid-19
April 28, 2020 13 Comments

9 Kegiatan Seru Bersama Keluarga Agar Terhindar Dari Covid-19


Assalamualaikum Sahabat. Bosan atau nggak bosan, kalian harus tetap di rumah aja ya. Seruan ini aja mungkin ada yang udah bosan mendengar maupun membacanya. Saya sendiri meski sebelum ada himbauan stay at home, sudah terbiasa beraktivitas di rumah aja. Dan sampai sekarang belum bosan karena udah punya agenda melakukan sederet kegiatan selama di rumah.


Himbauan di rumah saja memang didengungkan banyak pihak. Penyebaran virus Covid-19 ini sangat cepat sekali. Satu orang positif Covid, ketika berinteraksi dengan tiga orang dalam jarak dekat, bisa menularkan virus itu. 

Tiga orang ini yang bisa saja tertular bila memiliki imunitas tubuh yang bagus, bisa menjadi carrier atau pembawa virus. Dan dia juga bisa menularkan virus ini pada orang yang bakal diajak berinteraksi.

Itu lah sebabnya himbauan untuk physical distancing wajib dipatuhi. Tetap bertahan di rumah saja dan gali kreatif diri dan keluarga dengan melakukan kegiatan yang bikin hepi, seru, dan menyenangkan. Agar anggota keluarga tidak bosan meski di rumah aja seharian dan selama entah sampai kapan waktu pandemi ini berakhir.

Ada 7 Kegiatan Seru Bareng Anak Yang Bisa Dilakukan di Rumah Aja :

1. Membaca

Ajak anak-anak membaca bersama dengan memilih buku berkualitas. Saat ini orang tua bisa mudah mendapatkan buku-buku yang sesuai dengan usia anak mereka. 

Buku dengan tema karakter mudah dijumpai bahkan di toko online. Karena saat ini mall, toko buku pun udah banyak yang menutup store nya. Ya sedih juga mendengar retail buku dan penerbit terbesar pun sudah menutup store di berbagai kota. 

Kegiatan membaca buku bisa jadi aktivitas menyenangkan dengan memilih buku favorit anak-anak. Bukan buku baru juga nggak masalah. Ajak anak-anak untuk menerka akhir cerita di buku bila sudah pernah membacanya. 

2. Ajak Anak Berkebun

Bagaimana kegiatan berkebun di rumah, Moms? Bila di rumah ada lahan kosong yang selama ini terabaikan, bisa juga memulai kegiatan berkebun. Tidak ada lahan kosong pun jangan jadikan alasan gagal berkebun.

Saya pun tak memiliki lahan kosong karena teras depan udah jadi lahan parkir mobil dan motor. Namun itu tak menghambat saya untuk merawat tanaman di  sisa teras yang sempit. Kesukaan saya menanam segala macam tanaman membuat otak jadi kreatif. Ada pagar yang bisa dijadikan meletakkan pot-pot tanaman. Ada area di atas selokan yang bisa ditutup dengan cor beton dan di atasnya diletakkan pula pot tanaman buah. Fasad depan rumah terlihat hijau dan tidak membosankan. 

3. Melakukan Pekerjaan Domestik

Mengajak anak membantu pekerjaan domestik bukan hal rumit. Ketika anak saya masih balita, mereka senang sekali membantu saya membersihkan rumah. Memang sih hasil pekerjaan mereka tidak lah sempurna. Namanya juga anak-anak, ukuran tubuhnya yang mungil dan memegang gagang sapu atau pel juga belum kokoh.

Picture by Gustavo Fring 
Namun itu bukan alasan untuk tak mengajak anak memiliki peran mengerjakan pekerjaan domestik. Anak saya yang bungsu saat berusia 9 tahun sudah trampil mencuci piring dan gelas. Dan itu tidak saya perintahkan. Gara-garanya adalah melihat saya tetidur karena lelah setelah membersihkan rumah. Dia punya inisiatif sendiri membantu untuk mencuci alat makan.  

4. Belajar Dengan Cara Menyenangkan

Orang tua mengajak anak belajar matematika dengan cara mengenalkan belanja di pasar. Ciptakan ada pembeli dan penjual, dan barang dagangan. Pilih barang dagangan berupa jajanan, piring, mangkok, atau buah yang ada di rumah. 

Ajak anak untuk belajar membeli dengan menggunakan uang kertas buatan sendiri. Misalnya untuk membeli satu buah jeruk butuh duit kertas pecahan lima ribu sebanyak satu lembar. Dengan kegiatan seperti ini, anak menjadi hepi dan tak merasa sedang belajar berhitung. 

5. Olah Raga

Yuk Moms, ajak anak-anak bergerak sebentar. Cukup lah 30 menit, atau 20 menit juga boleh. Dengan berjemur di depan rumah, jangan jauh-jauh juga dong. Bisa melakukan gerakan warming up, loncat tali, memutari teras rumah, atau sepedaan. Tapi tetap di dalam pagar aja.

Olah raga akan meningkatkan kadar imun tubuh. Kalo imun tubuh bagus, akan memunculkan hati yang gembira. Jangan sampai di masa pandemi ini anak-anak menjadi sedih karena mendengar pemberitaan negatif.

6. Bermain Peran

Nah bermain peran menjadi seseorang juga bisa menjadi kegiatan yang seru dan menyenangkan. Bebaskan anak untuk memilih peran sebagai tokoh khayalannya. 

Kegiatan ini akan menjadi seru bila dibuatkan skenario naskah yang sederhana. Nggak perlu yang detil, cukup lah peran pembeli dan penjual, atau raja dan rakyatnya, juga tetep menarik untuk dilakukan.

7. Aktivitas Seru di Dapur

Mumpung ada banyak waktu selama di rumah aja, yuk ajak anak-anak berkreasi di dapur. Mengerjakan sesuatu di dapur bersama anak-anak tentu bisa menjadi pilihan menghabiskan waktu.

Di Rumah Aja
Picture by Pexels - Cotton Bro
Moms bisa mengajak anak-anak baking, membuat puding, atau jajanan kekinian yang sedang hits di masa pandemi. Biarkan anak yang menentukan akan membuat kue atau nasi goreng. Dampingi dan tunjukkan bila anak meminta bantuan. 

8. Bermain Games

Ada banyak pilihan games yang bagus untuk dimainkan anak-anak. Bisa cari di Google, dan pilihan games ini gratis loh. Bahkan ada beberapa yang bisa dimainkan secara offline.

Macam games bagus untuk anak-anak adalah Huruf Hijaiyah, Sponge Bob Moves, Toca Kitchen, Kotak Bekal Hello Kitty, dan lainnya. Tetap dampingi saat anak bermain games ya, Moms.

9. Membuat Karya

Picture by Frau Malerai
Anak balita bisa juga diajak membuat karya yang sederhana. Bisa menggambar  dan mewarnai, bikin boneka dari kertas lipat, atau mainan dari playdoh. Kegiatan ini akan bisa mengusir jenuh di rumah. Tidak itu saja, tapi juga melatih motorik halus anak-anak.
______________

Apabila anak mulai bosan, ajak bermain petak umpet dengan hadiah cemilan kesukaan. Seperti yang dilakukan oleh seorang teman blogger yang mengajak anaknya bermain menemukan cemilan favorit di tempat tersembunyi di dalam rumah. Seru banget kan. 

Moms bisa menciptkan bentuk kegiatan lainnya. Seperti berjemur sambil menebak kata. Semua anggota keluarga bergantian menebak kata dari gerakan salah seorang pemain.

Nah, cerita dong kegiatan seru kalian bersama anak-anak saat harus di rumah aja. Nggak ada alasan bosan lagi ya meski kepastian kapan pandemi berakhir belum diketahui. Ikhtiar dengan menciptakan suasana rumah yang menyenangkan, agar anggota keluarga tetap krasan di rumah. Ini bentuk bantuan kita pada pemerintah dan mereka yang tugas di garda depan. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Senin, 27 April 2020

Beragam Kegiatan Agar Betah di Rumah, Nomer 2 Yang Paling Asik!
April 27, 20200 Comments

Beragam Kegiatan Agar Betah di Rumah

Assalamualaikum Sahabat. Menjadi orang yang aktif di luar rumah ketika sesekali harus di rumah aja, bukan hal yang susah. Beda ketika harus di rumah terus dan nggak boleh keluar rumah dengan kondisi pandemi seperti saat ini. 

Coba sejenak berpikir, di rumah aja memang menyenangkan kalo sesekali. Terutama bagi kalian yang aktif bekerja atau punya kegiatan di luar rumah. Namun saat larangan keluar rumah agar tidak terjadi penyebaran virus Covid-19, membuat kalian tidak bebas bergerak, gimana rasanya?

Sebagai orang yang krasan di rumah aja, saya belum mengalami jenuh saat dipaksa di rumah aja. Seperti yang pernah saya ceritakan dalam artikel sebelumnya di blo ini, nikmatnya di rumah aja baru saya alami mulai tahun 2015 hingga sekarang. Karena bulan September 2015 itu saya baru aja resign dari tempat kerja. Setelah sibuk kerja dari jam 9 sampai 5 sore, tentu resign ini sangat saya nantikan. Hingga hari ini, bahkan saat harus di rumah aja seperti sekarang, saya belum merasakan bosan.

Saya aslinya orang introvert yang menyukai keheningan. Kalo tidak mengingat sebagai makhluk yang harus bersosialisasi, saya lebih nyaman tinggal di rumah. Reuni alumni yang saya ikuti cuma dua, yaitu dengan teman SMP dan kampus. Di luar dua alumni itu saya belum tertarik. 

Saya ikut reuni dengan teman SMP juga awalnya karena suami (teman satu kelas) yang memiliki pembawaan ramah, mengajak saya hadir saat pembentukan panitia. Otomatis saya pun ikut didapuk jadi panitia inti. Sementara kalo reuni kampus, karena hanya satu angkatan dan satu jurusan. Dan saya memang kangen mereka setelah lama terpisah.

Namun saya menyadari betapa membosankan saat harus di rumah aja bagi mereka yang aktif dan menyukai kegiatan di luar rumah. Saya nggak perlu menunjuk orang lain, cukup lah anak-anak di rumah. Mereka beberapa kali ngajak jalan-jalan. Cukup lah ke Ungaran aja, di mobil aja, yang penting melihat suasana lain di luar rumah. Oh no haluuuu!

"Heiiii, kalian diminta di rumah aja, sabaaar... nggak usah keluar rumah kecuali Ibu minta tolong beli sesuatu. Please stay at you bedroom, Nang," seru saya suatu hari.

Saya nggak perlu ngomong panjang lebar tentang bahayanya virus covid-19. Mereka sudah masuk usia dewasa jadi bisa nyari info sendiri di sosial media.

Tapi usia tidak menjadi mereka mudah beradaptasi. Setahu saya kalo usia masih di bawah 17 tahun itu butuh diajakin bicara tentang pentingnya mencegah penyebaran covid dengan di rumah aja. Anak-anak saya yang udah berusia di atas 20 tahun pun juga butuh diingatkan meski bukan dengan nasehat panjang lebar. Paling saya ajak mereka mengingat korban covid yang sudah meninggal, mereka yang dirawat di ruang isolasi, tenaga medis yang bertaruh nyawa demi merawat pasien ini. 

Saya akan bercerita tips agar anak remaja betah di rumah. Berikut ini tips betah di rumah :


1. Sedia Buku Bacaan


Kebetulan saya lumayan sukses mengajak anak-anak suka baca buku. Bahagia banget bisa membiasakan mereka baca buku karena suami saya itu nggak suka baca buku. Namun bersyukur banget dia support dengan menyiapkan rak buku dan saldo tabungan untuk belanja buku.

Bahkan pernah suami yang pagi jam 03.00 WIB baru datang dari Cibitung, khusus mengantar ke BBW di Jogja demi anak istrinya bisa borong buku. Gimana saya nggak makin cinta pada suami, hihiii. Sukses deh saya dan anak-anak belanja buku sepuasnya sementara suami tertidur di mobil di parkiran gedung JEC tempat BBW ngadain pameran.

Silahkan baca : Tips Berburu Buku Murah di Big Bad Wolf di Jogja


2. Akses Internet

Awal tahun 2020 ini atas permintaan si sulung, kami upgrade internet di rumah. Semula kami menggunakan internet dengan kapasitas 10 Mbps dan TV channel plus telpon rumah. Mulai bulan Maret 2020, kami memilih layanan internet dari Indihome dengan kapasitas 20 Mbps tanpa TV channel.

Seneng dooong, akses internet tanpa batas mulus tanpa lemot. Serumah ada 4 orang yang semuanya suka nonton YouTube. Saya suka streaming film hollywood, sementara suami suka nonton channel Berburu Mobil Impian, Rifato  milik pembalap Rifat Sungkar, dan channel seputar mobil di Youtube. Anak-anak memiliki channel favorit sendiri yang berbeda. Jadi kami masing-masing nonton channel yang berbeda. Hanya channel Big Living Tiny House, National Geography, atau Waku-Waku aja yang jadi tontonan sekeluarga.


Sungguh akses internet tanpa lemot ini mampu membantu keluarga saya mengusir jenuh di rumah aja. Jadi ketika anak-anak muter rumah kecil kami, saya meminta mereka nonton streaming di YouTube. Pokoknya berusaha duduk tenang dulu deh di rumah aja.


3. Melakukan Hobi

Di rumah aja memang kadang bikin bosan ya. Terutama kalo kamu suka jalan-jalan atau ngemall. Sabar dulu deh, kalo kalian menurut dengan anjuran pemerintah, dengan di rumah aja udah bantuin mencegah penyebaran virus covid-19.

Saya memiliki hobi beragam. Dari baca buku, berkebun, merajut bikin bros sederhana, nonton film hollywood, atau acara menarik lainnya. 



Kalian juga bisa melakukan hobi yang akan bikin betah di rumah aja. Beneran deh, ketika asik melakukan hobi itu bisa bikin lupa waktu. Seperti saya saat berkebun, mendadak waktu berjalan sangat cepat. 


Tak terasa memindahakan tanaman yang tumbuh makin besar dari pot semula ke pot yang lebih besar bisa menghabiskan waktu. Ya tentunya karena nggak hanya satu atau dua pot aja. Biasanya bisa sampai 7 pot kalo melihat ada stok pot tanaman yang lebih besar ada di rumah.


4. Olah Raga

Saat pandemi covid-19, hal penting yang harus dilakukan adalah olah raga. Karena nggak mungkin lagi jalan-jalan ke taman Virgin dekat rumah, saya memilih olah raga ringan di dalam rumah. 

Cukup dengan memilih salah satu channel work out di YouTube, saya bisa menirukan gerakan instruktur selama 30 menit. Itu aja udah bikin tshirt yang saya gunakan basah karena keringat. Tubuh pun jadi segar dengan olah raga ini. So simple, Sob!


5. Work From Home & Learn From Home

Yup sejak tanggal 17 Maret 2020 di Semarang mulai diterapkan social distancing. Tidak ada lagi pembelajaran di sekolah maupun di kampus. Si bungsu pun udah kuliah online, melanjutkan pembelajaran semester 4 dari rumah aja.

Beberapa kali dia ikut Google Classroom, mengumpulkan tugas, mendengarkan, dan diskusi dengan dosen dan teman-temannya di sana. Jadi meski diminta di rumah aja, belajar pun tetap berjalan lancar.

Saya sendiri sudah lama bekerja di rumah sebagai content writer dan blogger. Sebuah profesi yang 10 tahun lalu gak pernah terlintas di pikiran. Meski saat itu hingga saya resign tahun 2015, selalu meminta pada Allah azza wa jalla agar memberikan saya pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Ahhh manisnya sebuah doa ketika terwujud. 



Jadi ketika harus work from home, saya enjoy karena udah terbiasa melakukannya. Memang sih dengan adanya pandemi, kegiatan blogger di satu event, kodar, jadi terhambat karena di-cancel semua. Namun di rumah aja saya bisa ikut kopdar daring. 



Asik kan bisa bertemu dengan teman-teman di dunai maya.


6. Berjemur 

Nah, ini salah satu kegiatan yang dianjurkan oleh semua kalangan, agar berjemur saat pukul 10.00 WIB. Kalo saya lebih suka sebelum jam 10 udah mulai mengulur slang air. Jadi sambil berjemur, saya nyiram tanaman. Lumayan kan dalam satu waktu ada dua kegiatan yang sudah saya lakukan. 
  
Anak-anak saya juga melakukan ini gantian agar semua menikmati sinar matahari pagi yang menyehatkan. Tubuh bekeringat, tulang nambah kuat, kulit pun senang karena tetap kena cahaya matahari. Cukup berjemur 10 menit aja ya Sahabat. Ntar kulit muka gosyong kalo lebih dari setengah jam. Bhuahahaaa.

__________________

Tuh kan dengan enam kegiatan tetap seru dan asik kok. Semua itu agar saya dan anak-anak betah di rumah aja. Sudah deh tahan diri agar tidak keluar rumah. Di rumah aja lebih aman, nyaman, hemat BBM, tidak perlu mandi dandan pakai lipstik. Eh beneran saya sampai lupa kapan terakhir pakai lipstik. 

Nah, itu enam tips betah di rumah versi saya. Sebenarnya masih ada lagi, tapi saya simpan dulu untuk tema @BPN30DayRamadhan berikutnya. Yaitu Kegiatan Seru Bersama Keluarga di rumah. Wassalamualaikum.
Reading Time: