2021 - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Senin, 11 Oktober 2021

Bangga Menjadi Orang Indonesia, Bijak Saat Bermedia Sosial
Oktober 11, 2021 25 Comments

 


Assalamualaikum Sobat. Bila saya bertanya, apakah sobat bangga menjadi orang Indonesia? Saya yakin kebanyakan sobat bakal menjawab bangga menjadi orang Indonesia. Karena saya dikelilingi orang-orang yang juga memiliki kebanggaan yang sama pada negeri ini. 


Namun ketika ditanya, apa yang kamu banggakan dari Indonesia? Dan mengapa saya menuliskan judul Bangga Menjadi Orang Indonesia, Bijak saat Bermedia Sosial? Nah baca hingga paragraf ini berakhir, yuk. 


Sabtu tanggal 9 Oktober 2021, saya beruntung memiliki kesempatan diundang dalam Netizen Gathering di Ibis Hotel jalan Gajah Mada 142 Semarang. Hotel yang lokasinya dekat banget dengan landmark Kota Semarang yaitu Simpang Lima.


Tema Netizen Gathering bareng MPR RI ini adalah "Proud to be Indonesian, Bijak Bermedia Sosial Dalam Mewujudkan Karakter Bangsa".


Terus terang saat membaca tema gathering ini, saya sempat terdiam sejenak. Pikiran saya mengaduk kembali memori beberapa komentar di sosial media. Saya menemukan komentar negatif yang sangat banyak di berbagai postingan foto di sosial media. Apalagi kalo kasusnya viral, makin dahsyat aja tuh komentarnya. Bahasa yang tidak sopan pun bermunculan. 


Masih ingat dengan survey yang dilakukan oleh Microsoft tentang tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang tahun 2020? Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Hasil tersebut menjelaskan bahwa Indonesia menjadi negara dengan tingkat kesopanan yang paling rendah di Asia Tenggara. 


Dan netizen Indonesia pun menyerbu kolom komentar akun Instagram Microsoft dengan bahasa senada. Mereka tidak terima, dan malah jadi terlihat dari komentarnya yang kebanyakan tidak sopan ini. Miris kaan?


Jadi ketika diadakan netizen gathering bareng blogger Semarang, penggiat literasi digital, dan influencer yang juga memiliki profesi beragam ini, saya merasa senang. Paling tidak dengan hadir dan kemudian menuliskan cerita tentang keseruan acara, ada kontribusi yang bisa dituliskan dalam blog ini.


Bijak Bermedia Sosial



Ibu Siti Fauziah, SE,.M.M, Kepala biro Hubungan masyarakat dan sistem informasi sekretariat jenderal MPR RI membuka netizen gathering dengan menitipkan beberapa pesan.


Saat ini hampir semua orang memiliki gawai. Terutama kaum milenial yang selalu update tiap ada gawai dengan fitur baru diluncurkan ke pasar. Bagi mereka dengan memiliki gawai yang paling terbaru, dunia serasa dalam genggaman. 


Namun ada juga kekurangannya karena ketika dalam satu acara, masing-masing orang asik dengan gawai miliknya. Bahkan bisa juga di dalam rumah, penghuninya asik sendiri. Gawai ini juga yang menjadikan yang dekat jadi jauh, dan yang jauh terasa dekat.


Memiliki gawai dan akun media sosial, bisa jadi pisau bermata dua. Saat ini setiap orang saling berkomentar yang bisa menyebabkan perpecahan, saling adu domba. Kamu pasti pernah ada dalam WAG yang anggotanya sempat berdebat. Awalnya ada foto atau infografis, ataupun link berita yang dibagikan. Kebetulan kontennya tentang hal yang mengundang komentar beragam. Bisa pecah nih perdebatan yang akhirnya menjadi konflik. Hubungan silaturahmi jadi merenggang, ujungnya bisa jadi anggota WAG keluar dari grup. 


Cara Bijak Menggunakan Media Sosial

- Bijak Menayangkan Konten

Sebagai netizen yang baik, ketika ingin menayangkan konten baik itu tulisan ataupun foto, infografis, bisa loh dibaca lagi. Dicek lagi apakah konten yang akan dipublikasikan di sosial media kamu bakal berefek baik atau buruk. 


Kalo efeknya baik, menjadi vibes positif, ya silakan aja dipublikasikan. Tapi bila konten itu memiliki efek yang negatif, mending tahan jari kamu. Pikir ulang apa yang akan kamu terima bila konten itu tetap ditayangkan di akun sosial media milikmu?


Terlebih saat ini ada UU ITE yang sudah memiliki rambu-rambu bagi warga Indonesia dalam berinteraksi di dunia digital.


Ibu Titik sapaan akrab beliau, mengingatkan kami kembali tentang 4 Pilar MPR.  Nah saya pernah juga menuliskan apa itu 4 Pilar MPR RI. 


Silakan dibaca :

Netizen Ngobrol Tentang Empat Pilar


- Bijak Berkomentar di Sosial Media

Dari survei yang diadakan oleh Microsoft, orang Indonesia senang berkomentar buruk. Ini saya setuju dari membaca ribuan komentar di Twitter, Instagran, Facebook, bahkan di website portal berita. 


Ayo lah tahan jarimu untuk menuliskan komentar negatif. Bila kamu tidak setuju, bisa kok menuliskan kritik tapi dengan bahasa yang baik. Jangan sampai yang kamu tulis adalah isi kebun binatang. Duhhh jangan deh. 


- Saring Informasi dari Sosial Media

Saat ini banyak informasi yang mudah sekali didapatkan, beda dengan jaman dulu. Dahulu kamu hanya mendapatkan info dari surat kabar edisi cetak. Sekarang orang sudah jarang membaca surat kabar dalam bentuk cetak. Orang lebih suka membaca dari gawai yang ada di genggaman. Lebih praktis, cukup mengandalkan paket data atau wifi yang murah, udah bisa membaca informasi yang lengkap. 


Namun ternyata info ini bisa jadi tidak valid. Banyak sekali berita hoax bertebaran yang kadang susah dicek kebenarannya bagi orang awam. Sebagai netizen yang cerdas, bijak lah menyaring berita yang valid. Malu lah pada diri sendiri kalo sampai kamu menyebar berita bohong. Udah malu di dunia, nanti di akhirat pun bakal diminta pertanggungjawaban. Ngeri banget!


- Proteksi Informasi Pribadi

Jaman digital memudahkan setiap orang bisa mengakses akun sosial media setiap orang. Bahkan banyak sekali orang tanpa keahlian khusus bisa mengintip informasi pribadi yang kamu sebarkan di sosial media. Dari tanggal lahir, alamat, peristiwa penting yang sudah kamu tulis di akun sosial mediamu.


Memang di akun sosial media ada juga fitur untuk mengatur privasi kamu. Namun tetap lah bijak menuliskan info pribadi di sosial media. Seperti nama sekolah, tempat kerja, alamat rumah, dan lainnya. 


- Waspada Menerima Pertemanan

Bagi sebagian netizen, memiliki jumlah teman atau follower yang banyak merupakan kebanggaan tersendiri. Hal ini penting jadi perhatian kamu agar berhati-hati menerima permintaan pertemanan. 


Tips dari saya, selidiki dahulu rekam jejak digital calon teman ini. Jadi jangan asal diterima karena senang mendapat teman atau follower baru. Lebih baik lagi terima pertemanan dari lingkaran yang satu hobi atau komunitas. Jadi paling tidak ada banyak teman lain yang juga mengenal calon teman ini.


- Filter Akun Yang Kamu Ikuti

Sosial Media itu sebenarnya bisa dijadikan branding nama bagi seseorang. Namun lebih banyak lagi yang memisahkan akun sosial media dengan kehidupan pribadinya. Jangan silau dengan konten yang dibagikan teman dunia maya kamu. Jangan sampai kamu terlalu mengagumi kehidupan orang lain yang tampil di sosial media mereka. Dan membandingkannya dengan kehidupan kalian.


Apa yang tampil di sosial media kadang tidak sama dengan kehidupan mereka sehari-hari. Pilih ikuti sosial media orang yang berbagi inspirasi, hal-hal baik, yang menghibur, dan bisa menjadi manfaat untuk kehidupan kita.


Bijak bermedia sosial itu tidak hanya memberikan manfaat, namun juga menunjukkan karakter kamu. Karena sebenarnya, siapa kamu di sosial media adalah refleksi dirimu di kehidupan nyata, secanggih apapun kamu bersembunyi di balik konten yang ada.


Bangga Menjadi Orang Indonesia

Bapak Budi Muliawan, SH.,M.H., Kepala Bagian pemberitaan dan hubungan antar Lembaga sekretariat jenderal MPR RI, hadir sebagai narasumber berikutnya. Beliau menuturkan sebuah kisah yang diharapkan jangan menjadi pengantar tidur bagi kami yang hadir, hahaha. 


Kita adalah bangsa yang tangguh. Indonesia merdeka karena perjuangan bukan pemberian. Ini yang membedakan ktia dengan negara serumpun. Jadi bangga menjadi orang Indonesia yang selalu tangguh berjuang. 


Secara global dunia diguncang oleh pandemi covid-19. Terbukti hari ini, saat pandemi terlihat bagaimana warga negeri ini berjuang bersama menyelesaikan masalah. Banyak dari kita yang menjadi sukarelawan, berbagi sembako pada tetangga atau warga yang mesti isolasi mandiri, dan masih banyak lagi. Kemudian ketika ada program vaksinasi dari pemerintah. Semua berjuang bersama, pemerintah tidak bisa melakukannya sendiri. Ada pemerintah daerah, swasta, stake holder, dan masyarakat yang turut mensukseskan program vaksinasi.


Ini menjadi bukti kita adalah bangsa yang terbiasa berjuang, bergotong royong, tanpa harus diminta dan tanpa harus dipaksa. Semua kegiatan itu berangkat dari kesadaran moral, dari pemahaman bersama kita adalah bangsa yang tangguh berjuang. Itu lah makanya tagline peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus tahun ini adalah Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh.


Bangga menjadi orang Indonesia bukan hanya karena negeri ini memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Bukan hanya karena Indonesia memiliki ribuan pulau, suku dan budaya yang beragam. Bukan hanya karena memiliki beragam kuliner dan bahasa yang unik dan menarik. Namun juga bangga menjadi warga Indonesia yang bijak dalam berkomunikasi di media sosial. Semua ini untuk mewujudkan kita menjadi netizen dengan karakter yang positif. 


Gathering netizen yang super seru dan hepi. Berangkat dari kerinduan setelah pandemi memisahkan jarak di antara blogger dari berbagai kota. Akhirnya kami dipertemukan dalam acara yang keren, menginspirasi, memotivasi, agar tetap berkarya dengan semangat kebaikan. 

Meski dalam suasana pandemi, kami sadar banyak adaptasi yang harus dilakukan. Meski kami mengenakan masker tak menjadikannya sebagai halangan untuk berkomunikasi yang hangat. Insya Allah kami yang hadir dalam keadaan sehat, terlihat dari semangat dan antuasiame kami saat itu. Acara tidak hanya diisi oleh materi dari narasumber. Kami pun diminta aktif untuk memberi masukan dan kritik untuk akun sosial media lembaga MPR RI. 



Acara yang dimoderatori oleh Nia Nurdiansyah berlangsung seru, pernuh tawa, namun tak mengurangi esensi saling berbagi pendapat. 


Kami juga diminta untuk membuat karya dalam bentuk digital sesuai teman Proud to be Indonesian. Dan kami blogger Semarang sepakat untuk membuat video dengan tema bangga menjadi orang Indonesia dalam keberagaman budaya, suku dan kekayaan alam. 



Yang menarik selain sesi diskusi adalah behind the scene pembuatan video. Meski kami serius dari awal diskusi saat menentukan konten. Namun saat eksekusi diiringi canda, tertawa menyaksikan ekspresi teman-teman, hingga saling membantu dalam pengadaan kostum.


Peserta yang hadir antusias berkolaborasi. Dimulai dari dress code kain batik, baik dalam bentuk sarung, kain yang dibentuk beragam, atau seperti saya yang mengenakan kulot batik.



Sementara masker kami yang seragam itu merupakan sumbangan dari Nyi Penengah Dewanti. Masker lurik produk dari kerja bersama Nyi dan sang suami, Hadi. Silakan diintip di akun sosial media mereka di @nyipedesouvenir.


Ahh rasanya saya enggan meninggalkan suasana hangat yang sudah lama dirindukan. Namun ada kewajiban lain menanti di rumah. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembaca. Wassalamualaikum.


Dokumentasi :

- Tim MPR RI
- Mira Sahid
- Pribadi
- Dikoko.production

Informasi Akun Resmi MPR RI :

Instagram : @mprrigoid
Twitter : @mprrigoid
Facebook : @mprrigoid
Youtube : @mprrigoid
Website : www.mpr.go.id

Reading Time:

Senin, 20 September 2021

Tetap Sehat di Masa Pandemi Dengan Melakukan Kegiatan Yang Menyenangkan
September 20, 2021 39 Comments

Assalamualaikum Sahabat. Hingga hari ini pandemi masih setia di muka bumi. Meski impian dan doa yang kita harapkan pandemi lekas berlalu, namun apa daya tidak demikian yang terjadi. Akhirnya kita harus beradaptasi dengan kondisi ini. Menjalani protokol kesehatan, hidup dengan kebiasaan baru, yang dulunya bukan hal wajar, dan mengubah semua tatanan kenormalan.

Anak-anak belajar di rumah, tidak lagi bertemu teman sekelasnya di sekolah.  Orang tua yang biasanya sibuk berangkat kerja dari pagi hingga sore atau malam, bekerja di rumah.


Seorang ibu mungkin bisa jadi juga perempuan bekerja, kesibukannya bertambah. Kali ini ibu tak hanya menyiapkan menu untuk sarapan keluarga. Namun juga menemani anaknya mengikuti pelajaran jarak jauh. 


Sementara pekerjaan rumah lain masih menanti perhatiannya. Seperti membereskan dapur, membersihkan ruangan kamar, toilet, dan ruang lainnya di dalam rumah. Bisa jadi ada pekerjaan lain yang masih menanti, seperti menekuni hobi agar hati tetap hepi.


Tips Tetap Sehat dan Bahagia Saat Pandemi

- Mengatur Pola Makan Sehat

Bekerja di rumah, belajar daring, mengakibatkan rasa lapar yang tak kenal waktu. Karena kemudahan akses untuk ngemil yang lebih besar dibanding dengan bekerja di kantor atau belajar di sekolah. Seorang ibu juga lebih permisif dengan menyediakan jajanan rumahan karena menginginkan anggota keluarga tercukupi asupan makanan.


Sebenarnya nggak masalah semisal cemilannya adalah buah, atau makanan yang sehat. Bukan makanan yang mengandung gula, tepung, dan minuman berwarna. Pendapat beberapa dokter yang saya baca dari sosial media, ada saran untuk mengurangi konsumsi garam, lemak, minyak, gula, dan tepung. Pakar kesehatan menyarankan untuk memperbanyak asupan sayur dan buah serta air putih yang cukup sesuai kebutuhan tubuh masing-masing. 


- Tidur Yang Cukup

Bekerja di rumah saat pandemi telah mengubah jam kerja seseorang. Kebiasaan rutinitas bekerja di kantor dengan durasi jam tertentu, tidak bisa dilakukan saat WFH. Kadang kalian akhirnya lembur hingga malam demi mengejar laporan yang ditarget harus dikumpulkan pagi harinya. Efeknya waktu tidur jadi berkurang.


Istirahat yang cukup dengan tidur selama 7 - 8 jam setiap hari dalam waktu tidur dan bangun pada jam yang sama, akan memberikan kualitas hidup seseorang.


- Rutin Aktivitas Fisik

Selama pandemi ini banyak juga yang mengaku kalo BB tubuh geser ke kanan, siapa yaaa? Awal pandemi saya ngalami hal seperti ini. Karena ketakutan berolahraga keluar rumah, jadinya malah mager. Saya dan suami yang rutin jalan kaki seminggu lima kali, berhenti melakukan kegiatan ini. Parno sih karena virus covid begitu mudah menyebar tanpa pilih-pilih.


Padahal olah raga di rumah juga tetap bisa dilakukan. Cukup lakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang dan konsisten sekitar 20 - 30 menit setiap hari. Bisa yoga sederhana yang mengajarkan latihan pernapasan. Atau jalan di tempat, olahraga yang mudah dan murah di rumah aja. Dan kalian bisa meniru video yang tersedia di channel YouTube. Ini udah cukup untuk tubuh mengeluarkan keringat.


- Jaga Durasi Menatap Layar Gadget

Selama pandemi berlangsung lebih dari 1,5 tahun ini, Work from home (WFH) dan sekolah daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan hal yang lazim ditemui. Dari sini terjadi peningkatan durasi menatap layar (screen time) gadget. Efeknya adalah meningkatnya angka kejadian computer vision syndrome (CVS). 


Tips untuk mencegah CVS adalah menerapkan rumus 20-20-20. Yaitu kalian perlu mengistirahatkan mata setelah menatap layar setiap 20 menit. Lakukan selama 20 detik dengan melihat obyek yang letaknya sekitar 20 kaki atau 6 meter. Terutama manjakan indera penglihatan dengan menatap warna hijau dari tumbuhan.


- Menikmati Hobi

Banyak yang bilang agar tetap sehat jiwa saat pandemi, jangan lupa melakukan kegiatan yang menjadi hobi kalian. Mungkin selama ini kalian sudah menjalani kegiatan yang menyenangkan, namun tidak maksimal. Karena waktu yang terbatas setelah kesibukan sepanjang hari. 


Pandemi yang mengubah gaya hidup semua warga dunia, menciptakan waktu luang di rumah. Saat harus kerja dari rumah, kalian mungkin memiliki sisa waktu yang cukup untuk kembali menekuni hobi yang terlupakan. Atau bisa jadi justru menemukan hobi baru yang menyenangkan. Seperti saya yang kembali berkebun, meski hanya di teras depan rumah yang kecil.


Ketika pagi hari membuka pintu rumah dan menemukan surga kecil di teras berwujud tanaman hijau yang tumbuh subur, sungguh sebuah positif vibes. Seakan setiap bangun tidur saya kembali menemukan semangat untuk bergerak agar tubuh tetap sehat. Kesenangan berkebun ini ternyata juga bisa menaikan imun tubuh. Dari kepuasan merawat tanaman, menyaksikan tumbuh subur, hati pun bahagia.


Ketika Tubuh Lelah, Tangan Sakit Karena Kegiatan Sehari-Hari

Bagi saya wajar aja ketika usai beberes ruangan, kerja di depan laptop, atau berkebun seperti angkat-angkat pot, mengubah letak tanaman, tubuh jadi pegal. Itu tanda tubuh aktif bergerak. Ada juga kok orang yang rebahan terus tubuhnya juga pegal. Dan saya justru enggak mau kayak gini. 


Enakan yang sibuk kan, karena tubuh yang aktif bergerak menandakan fisik yang sehat. Enggak apa misalkan pegal di lengan atau kaki usai beberes rumah, ada pahala di situ, Bund. 


Saya sendiri beberapa kali mengalami otot jari yang agak nyeri usai angkat pot tanaman. Ya salah saya sih yang hobi banget mindahin letak pot. Bisa loh seminggu itu saya lakukan dua atau tiga kali, wkwkwkk. 


Senang aja kalo melihat pot tanaman yang satu jenis ngumpul di sudut tertentu. Atau saat punya rak tanaman baru yang model bertingkat, hampir tiap hari mindahin untuk menemukan posisi yang pas. Kalo efek mindahin pot gini bikin jempol terkilir ototnya, wajar sih. Beban pot itu lumayan juga, ada yang beratnya mencapai 10 kg lebih.


Enggak hanya kegiatan berkebun, karena bekerja di depan laptop juga bisa menyebabkan nyeri di jari-jarinya. Biasanya karena kebanyakan lembur dan melakukannya dalam waktu nonstop tanpa istirahat. Jadi jari-jari tangan terasa kayak kesetrum atau nyeri di ujungnya hingga telapak tangan. Atau saat beberes rumah, posisi tubuh yang salah juga bisa mengakibatkan nyeri.

 

Solusinya sederhana aja, oleskan balsem untuk meredakan nyeri di bagian tubuh yang sakit. Saya sendiri selalu menyediakan balsem sebagai salah satu perlengkapan P3K di rumah. Kebetulan balsem yang ada di rumah saat ini adalah Tiger Balm.

Mengapa saya memilih TIGER BALM karena best balsem yang paling cocok untuk oles-oles engkel kaki yang sesekali nyeri usai beraktivitas. Aromanya yang menenangkan seperti memulihkan bagian tubuh yang nyeri, menyembuhkan dan memberikan rasa nyaman. 


Solusi Memilih Pereda Nyeri Untuk Keluarga

Tiger Balm telah menemani hari-hari saya saat butuh pereda nyeri usai melakukan rutinitas harian di rumah. Saya ingin berbagi pengalaman selama menggunakan produk ini. Ada dua jenis produk dari Tiger Balm yang ingin saya ceritakan dan keduanya sudah saya pergunakan. 


- Balsem Tiger Balm Putih



Balsem Tiger Balm Putih ini saya gunakan ketika kulit gatal akibat gigitan nyamuk. Tahu dong ketika pergantian musim dari kemarau ke musim penghujan, nyamuk pun ikutan datang. Dari pada saya garuk kulit 
yang kena gigitan nyamuk, mending dioleskan balsem Tiger Balm Putih ini. 












Balsem Tiger Balm Putih ini juga bisa digunakan untuk meredakan sakit kepala, hidung tersumbat, dan inhalasi di rumah. 

Untuk mengetahui DIY Inhalasi di rumah, kalian bisa cek di video berikut ini :

                                      

(right click file above to play,
click "Activate contents:)
- Balsem Tiger Balm Merah

Nah untuk perempuan yang masih rajin melakukan rutinitas sehari-hari, seperti beberes rumah, berkebun seperti saya, juga pekerja yang menggunakan laptop atau komputer terlalu lama, kadang merasakan pegel atau ototnya nyeri. Balsem Tiger Balm Merah ini pas banget untuk meredakan nyeri otot, pegal linu, dan nyeri di bagian tertentu akibat anggota tubuh yang salah gerak.

Juga untuk kalian yang hobi banget olahraga atau pekerjaan berat lainnya, mesti menyimpan Balsem Tiger Balm Merah ini di rumah. Atau bagi kalian yang masih harus bekerja di luar rumah, jangan lupa simpan di tas untuk persediaan. Namanya kecelakaan kecil di otot atau lelah karena ngejar jadwal kereta itu bisa terjadi kapan pun waktunya.


Tiger Balm Indoneisa merupakan balsam analgesik (pereda nyeri) unggulan yang banyak digunakan di seluruh dunia. Tentunya karena efektif dalam mengurangi sakit atau nyeri pada bagian tubuh yang mengalami cedera/keluhan. Merk ini juga best recommendation, sudah terkenal dan terpercaya dari generasi ke generasi dalam merawat, menyembuhkan dan memberikan kenyamanan selama hampir 100 tahun.


Formulasi Tiger Balm yang unik dibuat khusus dengan bahan-bahan herbal alami yang terbukti aman dan efektif. Terdapat khasiat penyembuhan dari Tiger Balm untuk mengatasi nyeri dan sakit di anggota tubuh kalian. Nah yang saya suka adalah aromanya yang menenangkan. Kalian bisa nyobain juga dan percaya lah aromanya memulihkan keseimbangan pikiran dan jiwa dari pengaruh gaya hidup masa kini yang penuh dengan kesibukan. Setelah menghirup aroma Tiger Balm, tubuh dan pikiran terasa lepas dari penat.


Cara Menggunakan Tiger Balm :

Sejak dahulu Tiger Balm sudah terkenal akan kualitasnya, dimana sering digunakan untuk pengobatan sakit kepala. Produk andalan ini telah menjadi pilihan favorit keluarga dalam menyembuhkan berbagai penyakit seperti hidung tersumbat, perut kembung dan gatal akibat gigitan serangga. 

Caranya kalian bisa mengaplikasikan atau menggosokkan balsem dengan lembut pada daerah yang mengalami keluhan untuk merasakan khasiatnya secara efektif.


Indikasi Balsem Tiger Balm :

Mengatasi sakit kepala, meredakan hidung tersumbat, perut kembung, dan gatal akibat digigit serangga. Berkhasiat cepat sebagai pereda nyeri, dibuat dari bahan herbal alami berkualitas.


TIGER BALM PLASTER



- Tiger Balm Plaster Warm :

Selain penggunaan balsem, kalian juga bisa menyediakan best plaster dari Tiger Balm Indonesia. Produk yang pertama yang saya ulas adalah Tiger Balm Plaster Warm. 

Tiger Balm Plaster yang memberikan kenyamanan saat kalian tempel di bagian tubuh yang nyeri. Best plaster yang mampu meredakan nyeri otot, bahu yang kaku karena terlalu lama duduk depan laptop, luka memar, keseleo, dan sakit punggung.




- Tiger Balm Plaster Cool :



Untuk Tiger Balm Plaster Cool ini udah saya gunakan ketika punggung kanan terasa pegal banget. Kayaknya karena saya salah bergerak ketika memindahkan pot ukuran besar dari dalam ruang tamu ke teras depan.

Setelah pemakaian selama sehari, punggung saya kembali nyaman. Ternyata Tiger Balm Plaster Cool ini memang untuk menghilangkan ketegangan akibat cedera. Misalnya keseleo, cedera olahraga, terutama di pergelangan tangan, siku, dan pergelangan kaki. 




Tiger Balm Plaster ini memang best plaster yang ngebantu saya mendukung kegiatan sehari-hari. Dengan menggunakan teknologi hidrogel, plaster berkualitas tinggi yang terbuat dari bahan non-woven yang berventilasi nyaman. Untuk penggunaanya juga sangat mudah. Setelah selesai pemakaian, tidak meninggalkan bekas pada kulit, sehingga cocok untuk penggunaan sehari-hari.

Plaster Tiger Balm merupakan analgesik dan produk anti-inflamasi ringan. Setelah ditempelkan, herbal diserap ke dalam kulit untuk merangsang sirkulasi darah yang membantu mempercepat proses penyembuhan. Tindakannya yang serba cepat membantu meredakan nyeri dan nyeri otot, leher dan bahu kaku, memar, keseleo dan tegang dengan cepat, nyeri punggung, dan nyeri artritis.


Sekilas Tentang Tiger Balm

Bermula dari Aw Chu Kin seorang ahli herbal istana kekaisaran mendirikan praktik dokter dan apoteker yang bernama Eng Aun Tong. Nama ini memiliki arti Aula Kedamaian Abadi

Pada tahun 1908 Aw Chu Kin meninggal dunia. Kedua putranya Aw Boon Haw dan Aw Boon Par mengambil alih serta menciptakan sebuah balsem analgesik untuk melawan berbagai penyakit yang kemudian diberi nama Tiger Balm. Pada Tahun 1926 kedua bersaudara ini membawa bisnisnya ke Singapura, dan berkembang hingga saat ini. 

Tiger Balm telah diabadikan sebagai salah satu formulasi penghilang rasa sakit,nyeri otot, sakit kepala, gigitan serangga serta lainnya, yang paling terkenal di dunia, dan dipasarkan dari generasi ke generasi.

Selama hampir 100 tahun Tiger Balm dipercaya dari generasi ke generasi untuk menyediakan perawatan dan kenyamanan. Tiger Balm juga sudah tersebar lebih dari 80 negara di dunia. Kenyamanan dan penyembuhan yang diberikan Tiger Balm, menjadi pilihan untuk pereda nyeri eksternal. Dengan formulasi unik yang dibuat khusus dari bahan-bahan berkualitas yang dapat meredakan nyeri dan memulihkan keseimbangan bagi tubuh dan pikiran. 

Tiger Balm dipercaya di berbagai belahan dunia sebagai produk yang efektif untuk setiap anggota keluarga, karena dapat diaplikasikan dengan mudah serta ideal untuk penggunaan sehari-hari. Tiger Balm juga telah diakui kualitasnya di negara-negara seperti Australia, Jerman, Hong Kong, Jepang, Swedia, Inggris, dan Amerika Serikat.


Kalian bisa mendapatkan produk Tiger Balm di Century Healtcare, Guardian Healty beauty, Watsons. Juda tersedia di Ranch Market, Farmers Market, AEON, The Food Hall, Boston, dan Hypermart.

Untuk kalian yang masih WFH dan tidak ingin keluar rumah, bisa juga order di market place Tiger Balm Indonesia :


- Shopee: https://shopee.co.id/tigerbalm

- Tokopedia: https://www.tokopedia.com/tigerbalm 

Pandemi tidak harus bikin kalian mager, rebahan, dan kegiatan di kasur atau sofa sepanjang hari. Tetap lakukan kegiatan yang produktif dan menyenangkan untuk mengisi waktu. Dengan tetap aktif di rumah aja, semoga jiwa dan raga sehat meski pandemi belum usai. Semoga tetap bahagia ya sahabat, wassalamualaikum.


Sumber materi :

- Akun Instagram @tigerbalm_id

-https://www.generali.co.id/id/healthyliving/detail/495/6-tips-menjaga-kesehatan-di-masa-pandemi

Reading Time:

Senin, 13 September 2021

Tips dan Resep  Risoles dan Kulit Anti Robek
September 13, 2021 25 Comments


Assalamualaikum Sahabat. Minggu kemarin ada teman suami yang meminta tolong dibuatkan jajanan pastel. Tapi saya sedang enggan ngadonin, jadi menawarkan opsi lain yang isiannya sama yaitu risoles. Bagi saya lebih praktis bikin risoles karena cara pembuatan kulitnya cukup digoreng aja di wajan teflon. Beda dengan pastel, yang butuh diuleni, digiling, aduhh tangan saya lagi males deh pokoknya.

Beruntung sih orangnya mau aja ditawarkan pengganti pastel dengan risoles. Hahahaa.

Dan saya ingat, belum pernah menuliskan resep dan cara membuat risoles beserta kulitnya di blog ini. Jadi waktu bikin risoles ini saya buatkan juga foto dan video step by step

Kulit risoles yang ini adalah hasil resep uji coba sejak anak-anak masih balita. Terutama si sulung yang jadi kelinci percobaan, ups.

Karena si sulung dulunya tergolong anak yang picky eater. Jadi saya mesti pintar-pintar mengganti nasi, makanan yang tidak disukainya dengan karbohidrat yang lain. Bubur ayam kan berasal dari bahan yang sama dengan nasi, dia masih doyan. Tapi saya juga nyoba bikin cemilan yang mengenyangkan. Seperti bakpau, bolu kukus, nagasari, kroket, dan risoles juga. Sebenarnya masih ada karbo pengganti nasi yang saya berikan.


Risoles ini termasuk cemilan yang mengenyangkan karena ada bahan tepung untuk kulitnya. Makan dua risoles aja udah kenyang untuk anak seumuran si sulung waktu itu (usia 2 tahun).


Dan nyaris 80 % jajanan bikin sendiri. Karena saya yakin bahwa jajanan buatan rumah pasti lebih terjamin kebersihannya. Waktu itu masih belum ada sosial media. Saya nyontek dari kumpulan resep di majalah atau tabloid. Ada juga resep dari buku terbitan salah satu penerbit terkenal. Cuma ya namanya tulisan kadang hasilnya gak memuaskan. Beda dengan sekarang ya, nyontek resep dari video di channel YouTube sering berhasil.


Jadi lah saya dulu bikin jajanan itu kadang berhasil, lebih sering tidak berhasil, hahahaha. Penampilan jajanan tidak cantik, tapi rasanya sih enak. Beruntung deh si sulung selalu menghabiskan jajanan yang saya buat.


Kali ini saya kasih resep risoles dengan kulit yang udah diuji coba hingga belasan kali. Alhamdulillah udah tiga kali ini bikin dengan resep kulit risoles ini, hasilnya anti robek. Berikut ini cara pembuatannya.


Cara Membuat Risoles Isi Ragout :

Bahan :

3 siung bawang putih, cincang halus

4 siung bawang merah, haluskan

100 gram filet ayam, potong dadu (boleh skip)

100 gram wortel potong dadu

300 gram kentang potong dadu

1 tangkai daun bawang, iris kasar

1 sdt garam 

1/2 sdt merica bubuk

1/2 sdt kaldu bubuk

100 ml air




Cara Masak Ragout :

- Tumis duo bawang sampai harum. Masukkan ayam, tumis hingga airnya menyusut. 

- Masukkan wortel dan kentang, aduk-aduk. Masukkan garam, merica bubuk, dan kaldu bubuk.

- Tambahkan 100 ml air putih, masak hingga air meresap. 

- Tambahkan daun bawang yang sudah diiris kasar. Cek rasa, matikan kompor. Sisihkan.


Sekarang saya ajak kalian mengikuti langkah pembuatan kulit risoles yang hasilnya lembut dan anti robek.


Adonan Kulit :

- 300 gram tepung terigu

- 20 gram tepung tapioka

- 1/2 sdt garam

- 2 butir telur

- 650 ml air

- 2 sdm minyak sayur



Cara membuat :

- Campur semua bahan, kecuali air tambahkan sedikit demi sedikit. Sampai adonan kalis dan wujudnya cair.

- Tambahkan minyak sayur, aduk lagi hingga tercampur rata

- Saring adonan agar adonan yang bergerindil tidak ikut dimasak. Tentunya hasilnya nanti nggak cantik kalo masih ada tepung yang tidak tercampur.




- Panaskan teflon ukuran 24 cm. Tuang sedikit minyak, dan ratakan menggunakan kuas. Lakukan ini sekali saja di awal ya sahabat.

- Gunakan sendok sayur ukuran agak besar untuk menuangkan adonan. Langsung gulirkan di wajan dengan cara memutar nya. Usahakan adonan tadi menutup permukaan wajan. 




- Biarkan matang. Tandanya adalah adonan kering dan bisa terlepas tanpa dibantu alat. Taruh di piring. Lakukan hingga adonan habis.



Cara mengisi risoles :



- Ambil satu lembar kulit risol dan letakkan di wadah atau piring ceper. 

- Isi dengan ragout, secukupnya atau sesuai selera

- Lipat seperti membuat amplop. Tidak perlu dilem karena kulit ini udah langsung merapat. 

- Lakukan hingga selesai



Cara menggoreng Risoles :




- Siapkan tepung panir secukupnya di wadah

- Pecahkan 1 butir telur di wadah lain, dan kocok lepas

- Masukkan risol di cairan telur, kemudian angkat dan taruh di tepung panir. Lumuri hingga merata

- Lakukan hingga semua risoles sudah tertutup tepung panir. Simpan di wadah dan masukkan ke kulkas. 30 menit kemudian baru dikeluarkan dan digoreng.

- Panaskan minyak di wajan, gunakan api sedang.  Masukkan risol yang sudah tertutup panir. Balik dan angkat jika warna risol sudah coklat keemasan. Jadi balik cukup satu kali saja.

- Sajikan dengan cabe. 



Nah sudah selesai. Saya biasanya membuat isiannya risoles sehari sebelumnya. Untuk pembuatan kulit juga tidak lama. Oia untuk isiannya bebas ya. Kadang saya isi dengan daging asap, keju, dan daun bawang. 

Untuk adonan kulit risoles di atas, kemarin saya hitung hasilnya ada 37 buah. Karena saya menggunakan wajan teflon ukuran diameter 22 cm. Kalo ingin ukuran standar biasanya menggunakan wajan teflon 24 cm. 

Mudah banget bikin risoles dari isiannya, kulit yang anti robek, dan menggorengnya. Sahabat bisa loh ngajakin anak-anak untuk bantu memotong sayur atau melipat risoles. Anak-anak pasti senang karena merasa dihargai bantuannya. 


Sejak anak-anak masih kecil, saya udah mengenalkan area dapur. Tentu dengan tetap mengawasi kegiatannya. Dan hasilnya salah satu anak saya sampai sekarang suka masak. Kadang ngajakin saya baking atau bikin cemilan. Meski anak laki-laki harus dikenalkan dengan urusan dapur. Dulu saya berpikir sederhana, bahwa kelak mereka bisa saja jadi anak kost. Jadi mereka harus berkenalan dengan kompor dan alat masak sedari kecil.


Yuk coba bikin di dapur rumah ya sahabat. Atau kalian punya resep risoles dengan tips yang berbeda? Sharing yuk. Wassalamu'alaikum.

Reading Time:

Senin, 06 September 2021

Menikmati Mie Kocok Mawar, Jajanan di Kota Bogor Yang Mengenyangkan
September 06, 2021 17 Comments


Assalamualaikum Sobat Traveling. Udah kangen traveling, kangen kuliner di kota tujuan, sayangnya kondisi pandemi mengharuskan kita di rumah dulu. Apalagi ada PPKM sampai berseri macam drama Korea kesukaan kalian. 


Akhirnya sebagai pengobat rindu, saya cuma bisa membuka folder foto. Tersenyum sendiri saat mengenang hal lucu dari balik pengambilan foto. Atau meringis ketika menatap foto dengan terselip kisah yang enggak asik. Kejadian masa lalu yang terekam atau tidak terekam dalam foto, bisa jadi masih tersemat dalam ingatan.


Mendadak senyum terurai manakala tertangkap beberapa foto di Kota Bogor. Beberapa kiriman foto dari WAG keluarga, yang udah saya satukan di Google Foto. Ada foto semangkok mie berkuah yang terlihat menggiurkan. 


Ahhh, kenangan itu, saat Corona belum ada di bumi Pertiwi. Tapi mungkin juga udah ada di negeri asalnya. Karena saat foto itu diambil terjadi pada bulan Desember 2019. Tahun yang sangat menyenangkan, mengesankan, menciptakan haru, dan kenangan termanis dalam hidup saya, mungkin juga keluarga besar.


Ya, foto mie kocok yang saya dan keluarga suami nikmati saat traveling di Bogor dan sekitarnya. Tuhhh kan jadi kangen makan mie kocok, hikss.


Kuliner Mie Kocok Asalnya Dari Mana? 

Kalian udah pernah menyicipi mie kocok? 

Enak ya rasanya, mengenyangkan juga makan satu porsinya. Mie kocok yang asalnya dari Kota Bandung ini merupakan sajian makanan berkuah dari kaldu daging sapi. 




Isinya terdiri dari mie kuning, dengan kuah kaldu sapi yang agak kental dibandingkan kuah bakso. Kemudian ada irisan kikil, taoge, bakso, irisan seledri dan daun bawang, ditaburi bawang goreng, dan jeruk nipis.


Istilah kocok dalam nama hidangan ini merujuk kepada proses memasaknya, yaitu mengocok-ngocok mi dalam wadah logam bolong-bolong bergagang, seraya mencelupkannya ke dalam air panas. Jenis yang digunakan adalah mie kuning gepeng yang bertekstur lebih lembut.

https://id.wikipedia.org/wiki/Mie_kocok

Beberapa penjual mie kocok menggunakan bara api dari arang agar kaldu dan aroma lebih terasa. Kaldu biasanya didapat dari daging, kikil, dan tulang yang berisi sum-sum yang direbus selama berjam-jam. Dengan cara ini aroma kaldu terjaga, sementara daging dan kikilnya lembut saat dinikmati di lidah. Untuk bumbu, ada yang menambahkan daun salam, sereh, dan jahe untuk menghilangkan bau anyir tulang. Ada juga yang menambahkan kunyit, ketumbar, tenggiri, serta bawang putih untuk menambah rasa serta aroma kuah.


Meski aslinya dari Kota Bandung namun mie kocok bisa mudah ditemukan di wilayah Jawa Barat. Kali ini saya akan mengulas mie kocok yang ada di Kota Bogor. Kebetulan saya cukup sering menyambangi Kota Bogor karena suami sering mendapat kerjaan di sana. Eh tapi ini cerita sebelum pandemi. Jadii ya gitu deh, kulinerannya kapan, ditulisnya kapan-kapan, hehehee.


Mencari Warung Mie Kocok di Bogor

Sebagai warga pendatang yang sesekali berkunjung di Bogor, saya menurut aja saat diajak makan mie kocok di satu lokasi. Namanya di kota orang, terserah deh diajakin kemana. Yang penting kerinduan makan mie kocok saya tertunaikan. 

Terakhir makan mie kocok itu tahun 1988, lama juga ya. Dan saya makan mie kocok di Bandung. Oh sesudah itu pernah juga makan mie kocok beberapa kali di Kota Semarang. Ada tetangga yang berasal dari Bandung dan suka masak mie kocok. Kami beberapa kali pernah mendapat seporsi mie kocok dari tetangga tersebut. Jadi terakhir makan mie kocok tahun 2007, kalo gak salah ingat ya.


Nah saya tahu kalo di Bogor juga ada penjual mie kocok yang rasanya enak dan terkenal. Dari mana saya tahu? Yeee, gampang lah. Dari situs pencarian Google ada banyak tulisan tentang mie kocok di Bogor.  Sebelumnya juga suami udah cerita kalo dia pernah diajakin makan mie kocok. Maklum aja karena dia tinggal di Bogor untuk pengerjaan rumah tinggal. Sementara saya paling lama 2 mingguan aja nemenin suami.


Jadi saat Desember 2019 keluarga suami berkunjung ke Kota Bogor lagi, adik kami ngajakin kulineran. Dan mie kocok ini salah satunya. Kebetulan saat itu pulang dari jalan-jalan di Kebun Raya Bogor. 



Capek kan ya dan belum sempat makan siang juga karena resto nya rame. Warung makan yang lain juga rame. Tapi alasan sebenarnya memang kami udah rencana bakal makan mie kocok siang itu. 


Mie kocok Mawar adalah warung yang menjadi tujuan utama. Begitu kami keluar dari mobil dan melihat warung yang rame, sempat ciut juga hati ini. Tapi karena udah lapar, kami sabar aja nunggu dan tetap memesan beberapa porsi untuk serombongan. 


Oia kami serombongan ada 2 mobil dan jumlahnya 11 orang. Anak sulung saya waktu itu nggak ikut karena kerja, jadi ditinggal di Semarang. 


Saya dan beberapa anggota keluarga udah dapat tempat duduk. Namun aslinya saya nggak sabar sebenarnya nungguin orang makan, wkwkwk. Kami memang memutuskan untuk makan ketika pesanan udah siap di meja masing-masing. Tapi karena suami, adik ipar, dan anak saya yang bungsu belum dapat kursi, ya kami pun nungguin mereka.


Padahal kan udah ngiler nih saat saya perhatikan penjualnya menata mie kocok di mangkok-mangkok. Dari mie, bakso, tetelan atau kikil, sayurannya, dan bawang goreng. Kemudian menuangkan air kaldunya ke dalam mangkok itu. Beneran bikin ngiler, wkwkwkk.




Akhirnya setelah semua mendapatkan mangkuk dan duduk di kursinya, kami pun menyantap seporsi mie kocok. Menyendok kaldunya suap demi suap,  membangkitkan kenangan lama. Menyantap pertama kali saat masih sekolah SMA bersama teman-teman saat studi tour. Juga saat menyantap bareng tetangga di rumah lama dulu. 

Dari satu hidangan kadang menghadirkan banyak kenangan

Menikmati kuah mie kocok yang masih mengepulkan uap panas, juga bikin tubuh menghangat. Setiap gigitan kikil, bakso yang kenyalnya pas, dan paduan kuah yang terasa bumbunya, melunasi kangen yang mendalam.




Saya udah menghabiskan semangkok mie kocok dengan isian yang lengkap. Perut kenyang bikin hati bahagia ya. Senyum merekah menjadi tawa. Terlebih kami merasa mulai ngantuk. Pengen segera kembali ke rumah adik di bilangan Dramaga. 


Nanti ya tunggu kami kembali menyambangi warung mie kocok Mawar di Bogor. Penjualnya ramah dan enak diajak ngobrol. Warungnya kecil dengan meja dan kursi yang hanya mampu menampung pembeli sekitar 30 orang. Namun pembeli nya tak pernah sepi. Dari yang saya saksikan dan juga cerita adik kami yang tinggal di Bogor.


Mungkin kalian yang tinggal atau pernah ke Bogor, sempat beberapa kali makan mie kocok Mawar ini? Boleh yuk meninggalkan komentar di blog post ini. Terima kasih udah berkenan membaca cerita pengalaman saya menikmati mie kocok Mawar di Bogor. Wassalamu'alaikum.




Reading Time:

Sabtu, 28 Agustus 2021

Makan Nasi Uduk dan Menikmati Sejuknya Udara di Lereng Gunung Merbabu
Agustus 28, 2021 35 Comments



Assalamualaikum Sobat plesiran. Masih bersabar di rumah aja selama PPKM? Nah saya malah dari puasa ramadhan belum kemana-mana. Sebelumnya pernah ke beberapa kota karena nemenin suami survey lokasi proyek pekerjaan suami. 


Sejak sebelum pandemi saya sering ikut suami keluar kota untuk ngurus pekerjaannya. Namun kebetulan juga sejak pandemi pekerjaan luar kota menurun. Saya syukuri sebenarnya karena pekerjaan di kota sendiri aja juga ada banyak. Menurut saya, suami bisa pulang untuk makan siang dengan kerja di kota Semarang. Lebih aman, terutama untuk pencegahan penularan virus covid-19.


Sejak awal pandemi saya bahkan krasan banget di rumah aja. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Seperti berkebun, masak dan berkreasi mengolah makanan atau jajanan yang belum pernah dicoba di dapur saya. Atau pernah juga saya kerajinan di depan mesin jahit, bikin masker, bikin daster tanpa lengan, hahahaa.


Namun saya juga sesekali masih ikut suami keluar kota. Karena masih ada tawaran masuk kepada suami untuk mengerjakan renovasi atau membangun rumah dan toko. Ya masa sih rejeki ditolak. Jadi kami tetap penuhi keinginan calon klien dan berkunjung ke kota mereka. Tawaran pekerjaan paling jauh adalah Kota Bumiayu. Dan kami sempat mampir ke tempat wisata dengan melihat keadaannya terlebih dulu, apakah aman untuk didatangi.


Silahkan dibaca :


Ketika Jenuh Udah Mentok, Solusinya Apa?


Sebenarnya di rumah aja juga belum bikin saya bosan. Namun mengapa akhirnya kemarin kami sekeluarga malah melakukan perjalanan keluar kota tanpa ada alasan penting?


Itu terjadi mendadak tanpa ada rencana. Jadi ceritanya hari itu merupakan hari lahir saya. Sehari sebelumnya udah ada niat pengen bikin nasi uduk. Untuk menu hari itu adalah masak nasi uduk, ini juga keinginan si sulung yang lagi seneng sarapan menu itu. 


Rencananya Minggu itu saya bikin nasi uduk dengan pelengkap sederhana. Jadi ketika masakan udah selesai, kami berkumpul untuk berdoa dan makan bareng. 


Menu sederhana saat
Hari lahir saya

Mendadak suami ngajak pindah makan siang ke tempat yang masih asri. 

"Mau kemana emangnya, hari ini masih ada PPKM," celetuk saya sambil membersihkan meja makan.

"Cuma ke Salatiga aja, ke Kopeng atau Selo," jawab suami.

Kalo Selo itu kawasan desa wisata di bawah kaki Gunung Merbabu dan Merapi. Saya udah empat kali nginap di kawasan Selo. Ceritanya pernah saya tuliskan di blog ini.

Silahkan baca :



Biasanya jika suami udah ngajak gitu, seluruh anggota keluarga pun setuju. Suami saya sering ngajak keluar kota yang dekat dengan Kota Semarang. Dia suka ngajakin mendadak atau terencana ke kawasan wisata Bandungan sekadar minum susu kedelai. Atau ke Kopeng cuma pengen jajan sate kelinci. 


Tapi itu jauh sebelum ada corona di muka bumi ini. Sejak pandemi kami menahan diri melakukan perjalanan keluar kota hanya untuk wisata. Jadi kalo keluar kota biasanya karena ada pekerjaan suami yang butuh kehadirannya di lokasi. Dan kami biasanya ikut nemenin juga.


Seberes memasukkan nasi uduk beserta pelengkapnya ke dalam wadah bekal, saya panggil anak-anak untuk meletakkannya di dalam mobil.  Tas-tas berisi makanan, kerupuk, juga galon air mineral tak luput dibawa ke dalam mobil di jok belakang. Tak ketinggalan meja kecil untuk nantinya tempat naruh makanan di tempat piknik.


Ketika semua udah siap di dalam mobil, suami pun mengarahkan tujuan ke kawasan Kopeng Salatiga. Kota yang berjarak dekat dengan Semarang karena ada jalan tol. 


Ternyata penyekatan yang tadinya ada di pintu keluar menuju Bawen, udah nggak ada. Jadi penyekatan dibuka sehari sebelum kami lewat tol ini. Kami bisa lewat Bawen untuk menuju kawasan Salatiga. Jalanan nggak begitu ramai. Maklum masih suasana PPKM, namun kami beriringan dengan beberapa mobil. Waktu mampir beli BBM di tempat rest area juga masih ada beberapa mobil yang parkir. 


Mencari Hidden Gem Tempat Piknik Keluarga 


Jadiii.. ceritanya kami tidak akan ke tempat wisata karena memang semuanya ditutup selama PPKM. Sejak pandemi kami selalu memilih tempat yang sepi, bisa ke kebun, sawah, ladang di lereng gunung, sungai dekat tempat camping, yang semuanya bukan milik saya, hehehee.


Nggak masalah sih karena warga lokal yang kami temui juga welkam ketika kami numpang istirahat. Sekadar duduk, sambil ngobrol, foto-foto, atau minjam tempatnya untuk menggelar makanan.


Jadi hari Minggu tanggal 25 Juli kemarin, kami mencari tempat yang sepi, bukan tempat wisata, bukan tempat parkir, untuk rehat dan makan siang. 


Jalan menuju kawasan wisata Kopeng ramai tapi lancar. Beberapa mobil plat luar kota beriringan dengan mobil yang membawa kami berempat. Jendela mobil biasanya kami buka tiap kali berada di kawasan berudara sejuk. Namun sejak pandemi ini kami nggak pernah lagi melakukannya. Agak parno juga kalo virus covid ada di udara, hahahaa.


Melewati Taman Wisata Kopeng yang juga ditutup karena PPKM ini, mobil kami masih melaju santai. Beberapa kali kami menunjuk belokan ke kiri yang nampaknya asik buat tempat istirahat. Tapi suami enggak menyetujui pilihan saya dan si sulung. Mobil pun terus jalan membelah kawasan Kopeng.  


Ada rencana untuk ke kawasan Selo tapi bukan di tempat wisata. Yah makan jagung bakar aja di warung pinggir jalan juga oke. 


Mendadak mata saya melihat tempat kami pernah camping di Omah Kembang. Suami berinsiatif masuk ke jalan akses camp ground yang juga satu lokasi dengan kafe yang cukup terkenal di sana. Awal pandemi itu masih indent kalo pengen ngafe, dan saya pilih enggak berkunjung kesana. 


Jadi bulan Agustus tahun 2020 lalu kami memilih camping di Omah Kembang yang juga memiliki kafe. Sayangnya kafe belum buka saat kami ingin ngopi esok harinya. Hahahaa, ya udah akhirnya pesan coklat susu aja yang udah siap.

Silakan baca cerita :



Cakep ya view camping ground
Omah Kembang, Salatiga

Kembali ya cerita saat mencari tempat makan di alam. Siang itu mobil hanya melintas di jalan yang mengarah ke kaki gunung Merbabu. Cuma di sana nggak ada tempat agak terbuka dan teduh. Akhirnya suami putar kemudi dan kembali memasuki jalan raya Kopeng. Menuju arah Grabag, menatap ke bagian kiri untuk mencari tempat yang asik buat beristirahat dan maksi.


Saya sebenarnya mencari sebuah tempat yang mungkin bisa dijadikan tempat istirahat. Cuma saya agak lupa belokan menuju kesana. Mendadak mata saya menangkap papan nama yang familiar dalam ingatan. WEKAS, ah ini kan base camp untuk memulai pendakian Gunung Merbabu.


Saya meminta suami mengarahkan kemudi mobil menuju jalan kampung tersebut. Jalan cuma cukup untuk dua mobil berpapasan dengan salah satunya mesti ke pinggir.


Langit biru cerah dengan hiasan awan putih yang berubah setiap kali tertiup angin. Saya terpesona dan langsung jatuh cinta. Dan jadi pengen pindah tempat tinggal di kawasan ini, hahahaa. Ini impian saya si anak kota yang selalu bermimpi memiliki rumah di desa.

Foto di lereng Gunung Merbabu


Saat ada belokan di sebelah kiri, suami menghentikan mobil di sisi kiri. Kami mengamati area perkebunan warga. Jalan kecil yang dijadikan tempat parkir mobil enggak cukup luas. 


Suami memutuskan meninggalkan tempat tersebut karena enggak bisa beristirahat di sana. Enggak enak aja kalo misalkan nanti ada motor lewat. Meski sebenarnya pengguna motor tetep bisa aja melintas.

Ada Yang Tertinggal di Rumah 


Akhirnya kami kembali ke jalan dan kali ini menuju kawasan Selo. 

Namun belum sampai Hutan Kragilan yang menjadi tempat wisata selfie, kami melihat tempat untuk parkir mobil. Enggak luas tapi cukup untuk parkir 3 mobil. 

Ternyata itu merupakan pintu masuk tempat selfi, saya lupa namanya. Tempat wisata di Jawa Tengah dihimbau tutup oleh Gubernur Jawa Tengah, termasuk tempat yang kami jadikan untuk parkir mobil. 

Setelah suami memarkir mobil, saya segera turun dan mencari tempat landai untuk menggelar tikar. 

Membayangkan camping
 di tanah lapang di atas


Sayangnya tikar yang saya siapkan tertinggal di rumah. Saya ingat meletakkan tikar di ruang tamu. Wkwkwkk. Ya udah lah.


Kata pepatah nggak ada rotan akar pun jadi. Nah nggak ada tikar, ada mobil yang bisa dijadikan untuk tempat makan.

Bagian kursi belakang mobil
untuk tempat makan 😂


Saya pun menata meja lipat yang udah dibawa untuk dijadikan meja makan. Saya menata wadah bekal di atas meja. Ketika semua udah siap, kami pun makan.


Menikmati nasi uduk di tengah suasana perbukitan rasanya beda. Saya bersyukur menuruti ajakan suami meski sebenarnya agak malas. Saya memang parno keluar rumah, apalagi enggak ada alasan penting. Kami bisa juga makan di rumah.


Namun karena suami setuju untuk memilih tempat yang sepi dan jauh dari kerumunan orang-orang. Saya pun mengiyakan ajakannya.


Benar sih tempat kami menikmati makan siang, sepi banget. Memang kami ada di pinggir jalan. Namun tak ada orang yang berada di lokasi sama dengan kami. Jadi menurut saya lokasi ini aman untuk dijadikan tempat istirahat dan makan siang.




Nasi uduk dengan pelengkap mihun goreng, ayam goreng, orek tempe, telur dadar, sambel, kerupuk, dan lalapan. 




Ah jadi ingat saat kami dulu sering road trip ke beberapa kota di Pulau Jawa dengan mobil blind Van. Untuk makan biasanya kami bawa bekal dari rumah. Jadi kami menggelar tikar atau di dalam mobil yang bagian belakang udah diubah jadi tempat tidur. Atau beli makanan dan dinikmati di dalam mobil. Jadi kami memilih tempat parkir di pinggir jalan yang agak luas.


Kepergian kami kali ini memang mengobati kerinduan road trip dan makan di pinggir jalan. Karena kondisi negeri ini yang masih pandemi, mengurungkan niat untuk road trip keliling Jawa Bali dan Sumatera. 


Entah lah kapan impian kami bisa terwujud. Saat ini kami cuma bisa menerima kondisi dengan ikhlas dan sabar. Namun juga tetap merawat mimpi bisa road trip dengan mobil yang rencananya akan diubah menjadi campervan.


Udara lereng gunung telah mengobati kerinduan kami berpetualang di alam. Sudah cukup waktu kami bercengkerama dengan alam meski hanya sebentar. Saatnya kembali ke rumah. Wassalamu'alaikum.
Reading Time: