My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: BPN 30 Day Ramadan
Tampilkan postingan dengan label BPN 30 Day Ramadan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BPN 30 Day Ramadan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2020

Berkebun Menjadi Self Healing Ketika Pandemi
Mei 19, 2020 18 Comments

Berkebun Menjadi Self Healing Ketika Pandemi

Self Healing

Assalamualaikum Sahabat. Saya terlahir dan tumbuh dewasa sebagai orang kota. Bahkan sampai berkeluarga pun masih setia menempati rumah di tengah kota. Padahal saking pengennya jadi orang desa, saya dulu sempat berujar mau mencari jodoh orang desa. Ternyata semesta tak mendukung, wkwkkk. 

Mengapa sih saya begitu pengen tinggal di desa? Entah lah, saya sendiri nggak yakin alasan yang sebenarnya. Cuma karena rumah masa kecil saya itu di gang kecil, dan bertetangga dengan penjual yang boro atau merantau di Semarang. Rata-rata mereka berasal dari Delanggu.

Saya pernah minta ibu untuk diijinkan ikut tetangga pulang kampung. Mereka biasanya pulang kampung saat nyadran. Yaitu kegiatan tradisi membersihkan makam dan selamatan. Kebetulan salah seorang tetangga ada yang seumuran dan dia ikut pulang kampung ibunya. Ibunya memang salah seorang keturunan warga Jati Rogo, Delanggu. 

Sejak saat itu setiap kali ada teman atau keluarga bapak ibu saya yang pulang kampung, saya tak mau ketingalan ikut mereka. Siapa yang punya kampung gitu, saya dengan pede mengajukan diri ikut pulang. Saya melakukan ini sampai udah jadi mahasiwa, ahahaha.

Saya memang menyukai tanaman hijau. Kesukaan ini mengantarkan saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dari SD hingga SMA. Di SMA pun saya masuk grup pecinta alam. Bahkan saat kuliah, saya pun ikut aktif di kegiatan WALHI kampus Politeknik Undip (sekarang : Polines).

Memandang pepohonan bikin pikiran tenang, hati pun senang. Mencium aroma daun, atau menyentuh embun di permukaan daun, menjadi sensasi yang bikin kangen. Hal ini mampu mengirimkan signal ke otak dan memproduksi lebih banyak serotonin. 

Udah tahu kan, kalo serotonin itu memiliki fungsi mempengaruhi suasana hati. Serotonin juga berperan sebagai pencernaan, proses pembekuan darah, pembentukan tulang, dan fungsi sek**al.

Kegiatan berkebun memang bikin saya melupakan huru hara warga negeri ini yang dengan bebasnya ke mall, memilih baju baru, atau buka bersama. 

Cemas Muncul Membaca Berita Tentang Covid-19

Sejak covid masuk ke Indonesia, saya masih santai memang. Kayaknya waktu itu masih sedikit orang yang terpengaruh dengan berita dua orang perempuan, ibu dan anak yang menjadi PDP.

Namun semua berubah begitu menjelang akhir Maret, penderita PDP mulai bertambah. Semua kegiatan sejak pertengahan bulan Maret dilakukan di rumah. Dari belajar, bekerja, semua dilakukan dari rumah saja.

Informasi seputar covid sangat deras mengalir disajikan di portal berita, di share di grup WA, dan semua sosial media lainnya. Banyak yang kemudian menjadi cemas, dari versi ringan hingga berat. Bahkan ada yang butuh curhat karena membaca info menjadikan hatinya parno, jantung deg-degan, pikiran kalut dan pusing kepala.

Saya sendiri terpengaruh nggak sih dengan info seputar covid? 

Awalnya iya, banget. Kemudian saya japrian dengan teman dan adik ipar yang bekerja sebagai tenaga kesehatan. Saya juga mencari tahu tentang covid dari teman blogger yang bekerja di dinas kesehatan. Saya mulai membatasi diri dengan tidak membaca semua info di portal berita. Baik yang di share di grup WA maupun di sosial media lainnya. 

Kemudian seperti ketika saya memiliki masalah, ada langkah yang sudah membantu meringankan kesedihan atau rasa nggak nyaman karena pandemi ini. Artinya sebelum ada pandemi, seiring usia saya tentunya udah beberapa kali mengalami masalah. Dari masalah kerja, dengan teman kerja, dengan bos, dengan tetangga, dan siapapun yang mungkin terjadi selama ini. Saya tidak langsung menanggapi dengan emosi.

Ada prosedur yang menuntun saya mengambil keputusan, apakah akan defensif, assertiv, atau cuek? Tergantung tentunya dengan ringan atau berat masalah yang muncul.

Saya tak pernah mengijinkan seseorang melukai hati. Caranya adalah dengan mengandaikan seseorang sebagai subyek, dan masalah sebagai obyek. Jadi masalah yang harus dicari solusinya, bukan bermusukan dengan orang yang bikin masalah. 

Sampai sejauh ini, paling aman memang peduli pada diri sendiri dahulu. Orang lain itu pelengkap kebahagiaan. Kalo orang lain jahat pada kita, nggak penting. Dia bisa dihilangkan kehadirannya jadi bahagia saya tak akan terusik. 

Menyembuhkan luka   hati dari masalah dengan orang lain memang kembali pada diri sendiri. Sepanjang kalian bisa lebih memedulikan kebahagiaan diri sendiri, tak penting kok sikap atau ucapan orang lain tentang kita. 

Mulai lah dengan ritual sejak pagi sehabis shalat, ajak diri sendiri untuk berbicara. pikirkan hal baik yang sudah kalian kerjakan, rejeki yang sudah diterima, mengucapkan syukur, dan tersenyum lah. Berterima kasih pada diri sendiri yang telah berani jujur mengungkapkan kesedihan. Menangis pun tak apa. Agar luka hati bisa terlepas dari selongsong di lubuk yang terdalam.

Seperti cemas yang muncul saat mengetahui warga yang tidak patuh saat antri di kasir. Pengennya sih saya tegur ya karena mereka tidak mau berdiri di tanda antrian yang udah disediakan pihak pengelola supermarket. Namun percuma dong saya jelasin kalo aslinya memang mereka adalah warga yang covidiot.

Saya hanya bisa istighfar dan berharap mereka mau mengetahui cara penyebaran virus covid. Saya menyadari bahwa tidak semua orang mau menyisihkan waktu untuk membaca berita. Mereka senang share berita di WAG, namun belum tentu sudah membaca sebelumnya. Yah, warga negeri ini memang rendah literasi. 

Pilihan Berkebun Sebagai Self Healing Agar Hati Tenang

Self Healing dengan Berkebun

Pandemi covid ini telah mengganggu banyak hal, dari kesehatan, ekonomi, hingga hubungan sosial antar manusia. Baru kali ini warga dunia dituntut untuk diam di rumah. Melakukan semua kegiatan dari rumah. Karena memang tempat teraman adalah rumah.

Nggak hanya pemilik pribadi ekstrovert yang terganggu karena tidak bisa bertemu dan menjalin komunikasi secara langsung dengan orang lain. Mereka yang memiliki pribadi introvert pun juga merasakan kesepian. Terutama kalo si introvert ini merasa nyaman dalam lingkungan yang sudah dikenalnya secara dekat.

Saya adalah si introvert dari SD hingga SMP. Saya pun berusaha membuka diri ketika belajar di SMA karena kritikan dan saran seorang sahabat. Jadi saya si introvert yang bakal measa nyaman dengan lingkungan pertemanan yang udah lama kenal. Saya bisa menjadi pribadi yang ceria dan bercerita banyak hal pada orang yang udah akrab sejak lama.

Ketika harus di rumah aja, awalnya saya senang. Nggak apa lah menurut anjuran pemerintah. Bukankah saya selama ini juga bekerja dari rumah? 

Namun setelah mengisi waktu di rumah dengan berkreasi menu baru, nontn film di channel TV, kebosanan mulai datang. Saya memang nggak bisa diam sih. Jadi harus ada kegiatan yang bakal bikin saya bergerak. Bosan kan kalo harus duduk seharian di depan TV, atau baca buku?

Self Healing dengan Berkebun

Saya mulai menengok teras rumah di depan. Tempat tembok pagar dengan pot yang berjajar dan tanaman yang beragam. Saya mulai membenahi gulma di pot, memotong ranting kering dan daun kuning. Trus udah selesai, mau ngapain lagi?

Ahh, ternyata nonton channel di YouTube pun ada juga manfaatnya. Saya mulai tertarik untuk menanam beragam sayuran dan cabe. Cabe kan ada banyak jenisnya, dari cabe keriting, cabe rawit setan, cabe rawit hijau, cabe scorpion, cabe gendot, cabe rainbow, dan lainnya. 

Foto di bawah ini adalah tanaman baru berupa semaian benih pok coy, cabe keriting, kemangi, tomat marglobe, dan daun bawang. Saya senang juga dengan tanaman daun mint yang tetap sehat setelah beli di tempat jual tanaman. 

Berkebun

Ternyata dengan kegiatan berkebun ini, saya mendapatkan manfaat. Apa aja sih manfaatnya, yuk teruskan membacanya ya.

Berkebun, meski lahan di rumah saya sempit, mampu menarik fokus saya pada kegiatan yang menyenangkan. Kalo semula saya tiap hari buka info tentang covid di laman resmi pemerinah daerah Jateng. Dan saya juga ngecek jumlah orang dengan PDP, ODP, atau OTG yang ada di aplikasi jarak terdekat dengan rumah saya. Hasilnya kadang bikin saya dag dig dug kalo ada pertambahan penderita.

Situasi pandemi memang sulit, banyak yang menghadapinya dengan kemarahan, sedih, emosi, dan belasan perasaan lain. Tiap orang butuh menyembuhkan kesedihan atas rasa tak nyaman ini dengan me time dan tidak terus menerus mencari info covid.

Saya sendiri memilih berkebun untuk self healing bagi diri sendiri. Dengan merawat tanaman yang ada di teras depan rumah, saya kadang bisa menghabiskan waktu sejam hingga dua jam lebih. Dari membersihkan rumput liar di pot, mengambil daun kuning, memotong dahan yang tidak berguna, agar tanaman tumbuh sehat. 

Bagi orang yang tak menyukai berkebun, tentu gak yakin dengan pilihan kegiatan ini. Mereka bisa saja menganggap berkebun itu rumit, kotor, dan panas karena kena sinar matahari.

Sementara bagi saya dan orang yang menyukai berkebun, kegiatan ini sesuatu yang menyenangkan. Kadang melihat kuncup baru tumbuh saja, mampu membuat hati bersorak kesenangan. Seperti saat saya menyaksikan benih pok coy yang saya tanaman hari Minggu jam 10 lebih, gak sampai dua hari udah muncul sprout atau calon daun. Saya jadi meloncat girang di teras, padahal itu selasa abis shubuh loh. Hihihii.

Ternyata apa yang saya rasakan ini merupakan efek mampu melarikan diri dari kebosanan dan rasa cemas dari berita tentang covid. Berkebun mampu membuat saya fokus dengan memberikan kesempatan bagi bagian otak untuk lebih kreatif. Seperti yang dituturkan oleh Dr. Joshua Klapow Ph.D.

"Berkebun itu melibatkan ketrampilan kognitif dan motorik. Ada rasa menempatkan perhatian orang pada sesuatu yang  positif,"

Rasa bahagia atau panik itu bisa menular karena pada intinya manusia terutama masyarakat Indonesia memiliki konformitas yang tinggi. Jika orang-orang sudah panik, maka mereka bisa menjadi agresif. Mungkin kah orang-orang yang kemarin menyerbu mall di Ciledug itu ungkapan kepanikan karena kelamaan di rumah?

Hmm, saya nggak yakin. Karena orang yang sudah di rumah dengan niat menahan penyebaran virus, akan tetap di rumah kalo mengetahui korban masih saja bertambah.

Coba deh lakukan kegiatan yang menyenangkan, yang bikin rasa cemas, panik, maupun sedih bisa dihempaskan. 

Saya selama pandemi memang lebih banyak di dapur dan berkreasi menu baru serta mengulang menu lama yang jarang dimasak. Namun saya juga perlu menemukan kegiatan yang lebih banyak lagi agar pikiran teralihkan dari rasa sedih. Atau bisa mengalihan rasa cemas melihat rang-orang yang masih santuy berkerumun di kafe atau angkringan. 

Itu lah kenapa saya juga sharing di sosial media dengan menu berbuka. Atau cerita tentang kebun di lahan sempit yang saya lakukan. Saya ingin menularkan hal-hal positif seperti itu untuk menguatkan sesama. Bahwa ibu-ibu bisa kok merawat tanaman meski katanya gak punya bakat. Atau bikin jajanan yang hits, seperti donat, brownis, dan lainnya. Yang penting lakukan kegiatan dengan hati ringan dan senang. Lakukan dengan tekun dan percaya diri bahwa kalian bisa. 

Tetap bersabar di rumah aja dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan. Gak apa juga nonton drakor kalo itu bikin pikiran bisa teralihkan dari info tentang covid atau tingkah warga negeri ini yang covidiot. 

Tetap jaga silaturahmi dengan saling menyapa di dunia maya, via chat WA, atau pun video call. Saling berkabar seperti ini bisa menguatkan, membangun suasana positif selama pandemi masih bercokol di negeri ini. Yuk saling menyemangati agar tetap di rumah dengan sharing kegiatan yang seru dan bikin hepi, sahabat. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Senin, 18 Mei 2020

Hari Pertama Trip Lombok 4 Day 3 Night Bersama Sahabat Bogger
Mei 18, 2020 27 Comments

Trip Lombok 4 Day 3 Night Bersama Sahabat Bogger

Trip Lombok

Assalamualaikum Sahabat. Perjalanan ini sangat saya nantikan. Kalian tentunya juga akan merasakan hal sama bila memiliki rencana trip bersama sahabat. Terlebih teman seperjalanan saya adalah Mba Tanti, pemilik blog Lalang Ungu, Ruang Ekspresi Sepotong Hati.

Dari awal trip ini rencananya adalah bulan Februari. Tapi sengaja saya dan mba Tanti mundurkan karena kayaknya curah hujan tinggi. Jadi pada bulan Januari 2020, saya pun pesan tiket Joga - Lombok PP untuk bulan Maret 2020.

Dua tahun yang lalu, saya pernah cerita di blog ini kalo destinasi wisata impian yang belum sempat dikunjungi salah satunya adalah pulau Lombok. Pengen banget bisa berkunjung ke Lombok bareng suami dan anak-anak. Namun sayangnya suami sedang banyak kerjaan mulai Desember 2019 hingga Juni 2020. Yah masa gagal lagi mau dolan ke Lombok?


Saya ingat pernah ngobrol di WA dengan mba Tanti tentang impian pergi bareng. Alasannya karena kami beberapa kali pergi dalam satu perjalanan dan seru banget. Iseng-iseng akhir tahun chat dengan mba Tanti, gimana klo ngetrip bareng ke Lombok. Ternyata gayung bersambut. Dan kami sempat cerita juga di grup WA, siapa tahu ada teman-teman yang ingin gabung bersama kami.

Kabar Covid dan Keputusan ke Lombok

Awal Februari waktu membaca kabar ada dua orang WNI yang tertular covid, saya sempat santai. Mereka tingal di Jakarta dan tertular dari orang Jepang. Namun ternyata makin hari berita tentang virus satu ini makin santer.

Saat itu saya dan Mba Tanti tengah memilih paket tour yang akan menemani selama di Lombok. Saya dan mba Tanti baru pertama kali berkunjung ke Lombok, jadi butuh guide yang profesional tentunya. Kami inginnya ngetrip enjoy. Nggak usah mikir gimana menuju ke lokasi wisata, makan di mana, dan printilan lainnya yang rumit dan bakal mengganggu kesenangan jalan-jalan.

Semua sudah siap, ketika Jakarta mulai ada penambahan pasien baru PDP. Tapi berita seputar covid masih belum heboh. Awal bulan Maret, ada teman blogger yang juga memutuskan ke labuan bajo. Saya pun terus memantau kondisi di daerah wisata lainnya.

Dari berita juga saya membaca tentang kondisi di Lombok. Ternyata masih sama dengan di Jawa Tengah. Pembatasan wilayah juga belum dilaksanakan di Jakarta. Sementara di negara lain sudah ada lockdown atau karantina wilayah. 

Dari diskusi dengan keluarga dan mba Tanti, kami memutuskan untuk tetap berangkat. Toh kondisi daerah yang akan kami kunjungi masih aman. Namun saya dan mba Tanti tetap bersikap hati-hati dengan membawa hand sanitizer dan masker. 

Menuju Kota Jogja, Mampir Makan di Bakmi Jombor

Mba Tanti berangkat dari Pekalongan, dan kami udah janjian akan bertemu di stasiun Poncol. Alhamdulillah suami bisa mengantar saya dan mba Tanti ke tempat travel yang sudah saya pesan di kawasan jalan Atmodirono. Perjalanan juga lancar dari stasiun setelah menjemput mba Tanti menuju travel Kencana.

Cuma waktu tiba di travel, baru mba Tanti ingat bahwa tumbler nya ketinggalan di tempat duduk saat nungguin saya. Duhhh, moga sekali itu aja kejadian ketinggalan ya.

Perjalanan menuju Kota Jogja dengan naik travel juga berjalan lancar. Jalanan memang masih ramai namun tak terjadi kemacetan. Saat memilih jam keberangkatan travel, kami sengaja memilih jam 14.00 wib. Alasannya agar sampai di Jogja sekitar waktu maghrib dan sempat makan malam dulu. Kami juga nggak tergesa memburu waktu karena keberangkatan pesawat ke Lombok masih pukul 21.00 wib.

Atas kesepakatan bersama, saya meminta driver travel untuk mengantarkan kami di rumah makan daerah Jombor. Karena kalo ikut travel ke pool, lokasinya di tengah kota. Dan takutnya jalan macet kan kalo weekend. Sementara kalo dari Jombor, kami bisa langsung menuju bandara dengan jarak tempuh sama tapi jalannya lancar.

Driver berbaik hati menurunkan saya dan mba Tanti di kawasan Jombor, Kota Jogja. Ada warung makan yang menyajikan mie dan nasi goreng ala Magelangan. Saya sendiri belum pernah beli di warung makan Bakmi Jombor ini. Pilihan driver sih waktu itu dan kami berdua setuju aja. 

Sambil menyeret koper ke warung, saya memilih tempat duduk di ruangan yang agak besar. Saya memesan jeruk panas dan nasi goreng. Dan saya kaget waktu lihat penampakan pesanan yang disajikan si ibu penjual. Porsi gede, gaes!

Ya udah lah berdoa dulu sebelum menikmati nasi goreng porsi gede, semoga habis deh. Hihiiii.

Trip Lombok

Mbak Tanti memesan nasi goreng mawut atau nasi goreng Magelangan. Yaitu nasi goreng yang ada campuran mie. Saya udah sering makan menu ini di tempat lain. Sementara mba Tanti penasaran makanya mau nyoba nasi goreng mawut atau ruwet ini.

Rasanya lumayan enak, mungkin karena saya kelaparan dan belum sempat makan dari pagi ya. Kebiasaan kalo pagi sarapan buah, dan harusnya siang makan nasi. Tapi karena sibuk prepare barang yang mau dibawa jadi terlupa makan. Tapi saya sempat ngemil roti di perjalanan.

Usai makan, Mba Tanti segera memesan taksi online untuk mengantar ke bandara Adi Sucipto. Sayangnya driver taksi online memberi kami petunjuk lokasi parkir yang cukup jauh dari warung Bakmi Jombor. Padahal saya dan Mba Tanti udah keluar warung dan jalan kaki beberapa meter. 

Ternyata tempat kami menunggu itu 'daerah merah' ojol atau taksi online. Jadi kami pun menyeret koper saat Maghrib menuju belokan yang lumayan jauh, tempat taksi dan driver udah nungguin. Itu aja sempat bertanya pada orang yang kebetulan lewat, lokasi yang dimaksud oleh driver.

Drama Salah Terminal Bandara

Driver taksi online segera melajukan mobilnya menuju bandara. Sempat isi bensin juga di jalan. Alhamdulillah tak berapa lama, kami sudah diantar di halaman parkir Terminal A. Agar hati tenang kami numpang shalat dulu di mushola yang letaknya dekat deretan mesin ATM.

Setelah itu kami pun bertanya pada petugas letak Terminal B. Olalaa, jawaban petugas bikin saya dan mba Tanti senyum-senyum.

Ternyata Bandara Adisucipto itu memiliki dua terminal kedatangan dan keberangkatan domestik. Terminal A untuk keberangkatan dengan menggunakan Garuda Indonesia, Lion Group, Citylink, dan untuk kedatangan pesawat Garuda, Air Asia, Lion Group, Citylink, Sriwijaya, dan Express Air. Sementara Terminal B untuk keberangkatan domestik Sriwijaya Group dan Express Air serta keberangkatan dan kedatangan international Air Asia dan Silk Air.

Trus, di mana dong letak Terminal B?

Petugas bandara pun menjawab, gak jauh kok, sekitar 200 meter saja dari Terminal. Saya pun berhitung memperkirakan jarak dan menganggap dekat. Karena tiap hari juga udah terbiasa jalan kaki sejauh 2 km, hahahaa. 

Gaya banget loh, petugasnya udah nawari untuk naik golf car aja, tapi memang kudu nungguin penumpangnya penuh. 

Trip Lombok
Sebelum jalan kaki
ke Terminal B, sempat foto-foto


Saya dan mba Tanti memilih jalan kaki karena alasan waktu yang masih longgar. Dari pada nunggu di Terminal B kelamaan, mending olah raga malam lah.

Jadiii...kami pun jalan kaki sambil menyeret koper dan nyangklong tas. Jadi pemandangan tersendiri karena hanya kami berdua sih yang jalan dari Terminal A ke Terminal B. 

Saya dan mba Tanti memiliki bayangan tentang lokasi terminal yang bersambung, alias nggak terputus oleh bangunan gitu. Rupanya bukan seperti bayangan kami, sahabat.

Terminal A dan B Bandara Adisucipto Jogja itu letaknya di 2 gedung yang terpisah dan nggak nyambung. Kami harus keluar dari Terminal A dan menyusuri trotoar di pinggir jalan beraspal pada malam sepi nan sunyi. Kemudian ngikuti jalan belok kiri dan lurus sampai nanti ada tulisan penunjuk arah Terminal B. Jalannya ada penerangan tapi nggak terang benderang. Iya sih buat apa coba ngasih lampu jalan sampai terang benderang.

Trip Lombok

Beruntung lah nggak sendirian, karena saya lebih takut sama orang jahat. Kalo ketemu mak kunti paling dia yang takut sama emak setrong ini. Hahahaa.

Berdua dengan mba Tanti berjalan kaki tetap asik dan seru aja. Kami malah ketawa tiap kali mengingat tingkah konyol salah bandara ini. Dan nampaknya hanya kami aja yang salah turun dari taksi. Karena sepanjang perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 30 menit itu, tak nampak orang yang menyusul kami. Bahkan golf car pun nggak terlihat melintas. 


Setibanya di Gedung Terminal B, kami segera menuju ruang pemeriksaan. Alhamdulillah semua berjalan lancar hingga kami sudah duduk manis di ruang tunggu keberangkatan. Bahkan kami sempat beberapa kali ambil foto bergantian dan selfi bareng. Hihihii. Kenangan indah harus direkam agar ada jejak perjalanan kami berdua.

Trip Lombok

Di ruang tunggu bandara cukup ramai. Ada rombongan anak kuliah kayaknya yang sepertinya akan pulang ke Lombok. Terlihat dari tentengan di tangan mereka adalah oleh-oleh khas Jogja. 

Nah di Bandara Adisucipto tak nampak perlakuan khusus bagi semua penumpang untuk pemeriksaan suhu tubuh atau lainnya. Masih biasa aja tanpa prosedur seperti yang saat ini ada di seluruh bandara untuk pencegahan covid.

Tulisan ini sampai di sini dulu ya. Semoga saya bisa segera menuntaskan rangkaian cerita Trip Lombok 4D3N bersama sahabat saya, mba Tanti. Wassalamualaikum. 
Reading Time:

Minggu, 17 Mei 2020

3 Hal Yang Penting Dilakukan Menjelang Hari Terakhir Ramadan
Mei 17, 20200 Comments

3 Hal Yang Penting Dilakukan Menjelang Hari Terakhir Ramadan

Doa menjelang Ramadan Berakhir

Assalamualaikum Sahabat. Ramadan nyaris berakhir, dan rasanya saya masih merasa kurang melakukan ibadah dalam segala segi. Ramadan tahun ini cepat banget berjalan. Saya sampai speechless waktu berbincang hal ini dengan suami.

Trus kami berdua saling mengingatkan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Mumpung masih ada sisa hari di akhir ramadan kan.

Ini 3 hal yang kami lakukan menjelang hari terakhir ramadan :

- Berdoa Mohon Ampunan dan Terbebas dari Masalah

Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah dalam urusan agama, dunia, keluarga dan hartaku.

Ya Allah, tutupilah auratku dan tenangkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Jagalah aku dari arah muka, belakang, kanan, kiri dan dari atasku, dan aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak dihancurkan dari bawahku.

Terlebih malam lalilatul qadar termasuk dalam malam terakhir bulan ramadhan. Dan ini juga waktu yang mustajab untuk berdoa. Sebaiknya setiap muslim membaca doa apapun untuk kebaikan dunia dan akhiratnya. Dan Doa Aisyah diatas adalah doa yang paling baik, karena doa ini diajarkan langsung oleh Nabi kepada istrinya yaitu Aisyah. 

Doa sebelum Ramadan berakhir

- Perbanyak Sedekah

Mumpung ramadan belum berlalu, ini adalah saat-saat terbaik menyisihkan sebagian harta untuk orang yang tidak mampu. 

Doa menjelang berakhirnya Ramadan

Saat pandemi juga pas banget bila melihat ke sekeliling kita, mana tahu ada tetangga yang tidak bisa makan hari ini. Coba deh ulurkan bantuan dengan memberikan sembako dan uang untuk membeli lauk.

- Doa Terhindar dari Api Neraka

Saya mendapatkan doa ini dari simbah waktu masi kecil. Tiap liburan bulan puasa (jaman kecil dulu tiap bulan ramadan libur sebulan), saya dan sepupu selalu nginap di rumah simbah. 

Kalo pagi hari kami diajarkan bacaan doa yang sampai hari ini masih sering saya baca. Seperti shalawat tiap kali bepergian, istighfar setiap saat, ayat kursi setiap mau tidur, dan lainnya. 

Salah satunya adalah doa agar terhindar dari api neraka. Berikut ini doanya :

Ya Allah, selamatkanlah aku dari api neraka dan masukkan aku ke dalam surge-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Doa diatas biasanya saya baca pada tanggal 21 Sampai akhir Bulan Ramadan. Kata simbah dulu, doa ini memohon kebebasan dari api neraka. Jadi bila ingin dijauhkan dari api neraka, perbanyaklah membaca doa seperti diatas.

Demikian tiga hal yang selalu saya lakukan menjelang berakhirnya bulan ramadan. Meski hari biasa pun saya juga melakukannya. Namun memang saat 10 hari terakhir, melakukan tiga hal di atas memiliki makna yang lebih dalam. Wassalamualaikum.

Reading Time:

Sabtu, 16 Mei 2020

Tips Hemat Pengeluaran Lebaran Saat Pandemi
Mei 16, 2020 13 Comments

Tips Hemat Pengeluaran Lebaran Saat Pandemi

Tips Hemat Pengeluaran saat Lebaran

Assalamualaikum Sahabat. Saat lebaran kebanyakan orang menjadi lupa dengan anggaran belanja yang udah direncanakan. Biasanya karena mendapat rejeki di luar rutinitas seperti dapat THR, bonus, gaji ke-13 misalnya. Mendadak merasa kaya dengan penghasilan tambahan, sehingga memaafkan diri dengan belanja sesukanya. Kayak lapar mata gitu kan jadinya.

Nah sebenarnya penghasilan yang didapat saat menjelang lebaran sudah diantisipasi sebelumnya. Jadi bukan rejeki mendadak ya.

Suami saya dulu amat cermat dalam mengalokasikan pemasukan di luar gaji. Seperti mendapatkan THR, bonus tahunan, dan gaji ke-13. Dia nggak pernah merasa mendapat duit kaget. 

Suami selalu menganggap bonus itu harus dialokasikan untuk membayar pokok harga rumah. Jadi seharusnya rumah lunas tahun 2007, bisa maju 9 tahun lunasnya. Itu karena sering dibayar pokoknya aja saat mendapat rejeki, jadi tahun 1998 kami  dari cicilan bulanan rumah pertama.

Itu lah sebabnya meski sekarang kondisi pandemi dan banyak yang mengalami kesulitan keuangan, bagi kami bukan hal baru. Sebagai orang yang kerja mandiri, naik turunnya penghasilan nggak lagi bikin terkaget-kaget. 

Saya dan suami terbiasa hidup sederhana sejak awal nikah. Punya rumah dengan cicilan yang menguras 2/3 gaji suami, tentu lah bikin saya harus cermat mengatur keuangan. Saya masih bekerja, jadi memang gaji saya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Saat dapat THR, kami berdua sama-sama berhitung dengan cermat. THR suami untuk membayar biaya pokok harga rumah. Sementara THR saya, dibagi untuk menabung dana darurat, berbagi pada saudara yang tidak mampu, dan untuk keluarga (ibu bapak dan adik-adik saya).

Ini yang saya lakukan untuk menghemat pengeluaran, agar setelah lebaran berlalu tetap memiliki uang dan nggak bangkrut.

Tidak Harus Membeli Baju Baru

Baju baru alhamdulillah, tapi kalo baju lama masih bagus, saya memilih tidak membeli baju saat lebaran. Seperti guru ngaji saya, beliau pernah berpesan bahwa baju baru saat lebaran itu tidak penting. Justru kita diharapkan mempersiapkan baju baru saat jelang ramadan. Karena semangat kita menyiapkan lahirian adalah untuk menyambut bulan yang penuh ampunan.


Baru baru untuk dipakai melaksanakan ibadah selama bulan ramadan. Artinya semangat kita harus diperbarui dengan hati yang lebih bersih, niat ikhlas, menjalani puasa, tadarus, tarawih, dan sedekah pada yang kurang mampu.


Masak Untuk Hari Lebaran Secukupnya

Ibu saya pernah masak opor dan sambel goreng dalam jumlah banyak. Maksudnya kalo anak-anaknya ngumpul saat lebaran, bisa menikmatinya bersama. Keponakan ibu dan bapak juga biasanya berkunjung saat hari lebaran pertama. Jadi mereka bisa ikut menikmatinya juga.

Ternyata pas hari lebaran pertama, anak saya sakit dan nggak bisa berkumpul di rumah ibu. Bapak dan ibu pun berangkat ke rumah saya untuk menemani kami. Karena suami tetap harus berangkat ke Boyolali mengantar ibu bapaknya untuk silaturahmi rutin tahunan. Suami yang bisa nyetir mobil, sementara yang lain nggak bisa. Jadi ya saya harus ikhlas suami tidak menemani saya merawat si sulung.

Nah, masakan yang sudah tersaji kelupaan nggak dibawa, jadiya kan mubazir. Sementara keponakan bapak ibu juga akhirnya berkunjung ke rumah saya. Karena mereka memang ingin bertemu orang tua saya untuk silaturahmi dan saling meminta maaf. Sejak saat itu saya minta ibu untuk masak secukupnya aja. Kalo misal sepupu saya datang, bisa disuguhi sayuran pecel atau brambang asem glandir yang lebih segar. Karena belum tentu sepupu saya mau menikmati opor sambel goreng karena udah masak sendiri di rumah masing-masing.

Lebaran tahun ini karena nggak ada kunjungan, saya masak opor Sambel goreng secukupnya. Cukup dinikmati untuk buka puasa hari terakhir dan makan lebaran hari pertama.

Tips hemat pengeluaran lebaran


Menyiapkan Kue Lebaran 

Saya tidak pernah menerima tamu, kecuali saat anak saya yang sulung sakit. Banyak tamu di rumah karena mereka ingin bertemu ibu bapak saya. Sedangkan kalo kondisi biasa ya nggak mungkin sepupu ke rumah saya, karena urutan silsilah keluarga saya termasuk yang muda. Hahahaa.

Tip Hemat Pengeluaran Lebaran
Foto jajanan lebaran tahun lalu

Jadi saya nggak pernah menyiapkan kue kering atau biscuit terlalu banyak. Beli atau bikin kue kering cukup tiga macam. Sisanya paling beli snack kemasan atau jajanan kiloan kesukaan anak-anak. Meski ada pos pengeluaran untuk kue kering yang nantinya akan saya bagikan pada ibu, famili yang tidak mampu, dan yang dituakan. 
__________________

Intinya pengeluaran yang tidak perlu memang sebisa mungkin ditekan atau ditiadakan. Jadi menikmati lebaran pun hati senang karena tidak memikirkan saldo rekening yang nol-nol atau dompet kosong melompong.

Apalagi sekarang kondisi pandemi, saatnya berhemat. Karena kita tidak tahu apakah masih bisa bekerja dengan gaji normal atau mungkin udah kena PHK. Lebaran nggak wajib kok berhura-hura. Esensi kembali ke fitrah adalah membersihkan hati dari kesalahan pada sesama teman dan kerabat. 

Pas banget kan ya dengan berhemat pada hari lebaran tahun ini, tidak mudik, tidak masak sajian lebaran berlimpah, bisa dialokasikan dananya untuk ditabung. Semoga bermanfaat, sahabat. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Jumat, 15 Mei 2020

Cari Ide Seru Lebaran 1441 H di Rumah Aja
Mei 15, 2020 25 Comments

Ide Seru Lebaran 1441 H di Rumah Aja

Ide Kegiatan Lebaran di rumah

Assalamualaikum Sahabat. Pengen nangis kalo melihat masyarakat sebagian udah gak sabar keluar rumah untuk buka bersama. Atau antri panjang di terminal Soekarno Hatta buat mudik. Saya sih masih khusnudzon mereka yang antri itu urusan dinas. Tapi pikiran jahat saya tetap aja curiga dengan sisi baik lainnya dan mbatin, opo iyo mereka itu naik pesawat untuk urusan urgen?

Sabaar Buk... Terus auto baca istighfar.

Tapi saya percaya banyak yang punya pemikiran sama. Suudzhon dengan mereka yang antri sampai berjubel di bandara Soekarno Hatta. 

Ngapain coba mendekati leberan mau dinas luar kota? Hadeuh udah istighfar masih aja ngebahas itu. Ya sudah lah biarkan aja semau-maunya mereka yang ingn menularkan covid ke kampung halaman, ke orang tua, sanak kerabat, hiksss.

Saya sendiri udah dua bulan ini nggak ketemu ibu mertua dan saudara ipar. Pernah akhirnya kasihan sama bumer, saya dan paksuami berkunjung ke rumahnya dan dadah-dadah dari dalam mobil. Kasihan bumer kangen kami tapi kami juga takut bertemu beliau. Padahal rumah kami tuh satu kecamatan. 

Ngomongin rencana lebaran nanti yang udah ada keputusannya nggak bakal ngumpul, saya udah speechless duluan. Alhamdulillah saya udah sejak tahun 2010 tingal dekat dengan rumah orang tua. Jadi nggak sesedih mereka yang tinggalnya berjauhan atau bahkan sudah tak lagi memiliki orang tua.

Akhirnya saya merencanakan libur lebaran harus ada kegiatan yang seru. Masa sih lebaran sepi tanpa silaturahmi, juga sepi dari kegiatan?! Enggak lah. Harus ada kegiatan juga selama lebaran. Tentunya untuk menggantikan hari-hari seperti ketika kami isi dengan silaturahmi. 

Berikut ini ide seru selama lebaran 1441 H di rumah aja :

-  Berkebun di Lahan Sempit

Ide Kegiatan lebaran

Ah jangan bosan ya tiap kali saya cerita tentang kegiatan berkebun. Saya masih halu memiliki tanah luas dengan petak tanah yang berisi tanaman sayur. Tapi kenyataan tak terlalu pahit lah ya, karena ada pot-pot dengan tanaman hijau yang tumbuh sehat.

Baru aja dua hari yang lalu saya pesan bibit sayur di toko online. Durasi pengirimannya sekitar tiga sampai empat hari. Mungkin barang pesanan saya baru tiba pada hari Sabtu. Kalo hari Senin saya mulai kegiatan menyemai benih, tentunya saat lebaran H + 3 dan seterusnya, bakal ada pekerjaan memindahkan sprout tanaman yang berdaun 4. Dengan catatan benihnya numbuh, aamiin.

Tentu saja kegiatan berkebun ini melibatkan seluruh anggota keluarga. Dari babe, saya, dan anak-anak. Saya udah bagi tugas untuk merawat dan menyiapkan tempat bagi tanaman-tanaman baru ini.

- Kreasi Menu

Sejak masih lajang saya suka masak atau baking. Karena ibu saya nggak pernah bikin roti atau kue, saya belajar dari bude dan mbak sepupu. Mereka yang mengajarkan kesukaan saya pada baking.

Kesenangan kreasi menu udah mulai merasuki saya begitu menikah. Saat awal nikah dan menempati rumah baru, ada mbak sepupu datang dari Kudus. Waktu saya sajikan menu sayur bening, pepes udang, dan tempe goreng, mbakku takjub. 

"Loh kirain cuma sayur dan goreng tempe, ternyata Wati pinter masak pepes," ucap mbak sepupu bikin hidung saya kembang kempis, wkwkwkk.

Apalagi ketika satu persatu anak-anak lahir dan mengenalkan MPASI. Saya belajar bikin beragam menu cemilan, seperti kroket, risol, soufle kentang, dan nagasari. 

Ide Kegiatan Lebaran

Dan kesenangan bikin cemilan atau masakan yang gampang, menurun pada si bungsu Naufal. Dia memang paling senang bantuin saya di dapur. Rencananya di rumah aja selama lebaran, kami akan berkreasi membuat cemilan atau masakan. Rencana mau bikin pempek dos, cireng nasi, risol mayo, dan pancake plus es krim. Banyak amat ya rencana bebikinannya, hahahaa. Semoga aja terwujud.

- Nonton Film

Walah, nggak usah lebaran juga udah nonton film pekerjaan sehari-hari. Iya sih emang. Lha nonton sambil rebahan itu kegiatan yang menyenangkan kok. Bikin hepi. Pengalih dari kegiatan nonton film di bioskop karena nggak boleh keluar rumah selama pandemi.

Film apa aja yang rencananya akan kami pilih sebagai hiburan selama lebaran? Masih belum tahu sih. Pokoknya nyari aja mana yang menarik sebagai pengisi waktu selama di rumah aja.

- Silaturahmi via Zoom

Udah ada rencana bakal digelar silaturahmi Bani Muhyi via Zoom. Jadi di WAG keluarga besar dari Ibu Mertua, udah dipersilahkan untuk install aplikasi Zoom di hape atau laptop anggota keluarga masing-masing.

Baru membayangkan aja kayaknya bakal seru nih. Karena biasanya kan silaturahmi hari pertama lebaran. Ini karena pandemi harus adaptasi dengan silaturahmi virtual. 

_____________

Nah, itu lah ide saya tentang kegiatan seru selama lebaran kudu di rumah saja.  Rencana cuma tiga aja ya, tapi nggak tahi nanti bisa aja nambah lagi. Mungkin kalian punya ide unik juga? Sharing yuk, untuk menginspirasi pembaca di blog ini. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Kamis, 14 Mei 2020

Tunda Mudik Tanda Kamu Tak Egois
Mei 14, 2020 10 Comments

Tunda Mudik, Tanda Tak Egois

Tunda Mudik

Assalamualaikum Sahabat. Setiap tahun tradisi mudik selalu mengiringi perjalanan ibadah bulan Ramadan. Biasanya dua minggu menjelang lebaran, pergerakan masyarakat udah mulai meninggalkan ibu kota dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Mendekati H-7 dan makin dekat hari lebaran, makin padat pula arus mudik. Baik menggunakan transportasi darat, laut, dan udara.

Indonesia memiliki letak geografis yang terdiri dari rangkaian daratan dan lautan, dengan jumlah pulau yang sangat banyak. Dari Wikipedia, terdapat hasil kajian citra satelit menyatakan bahwa jumlah pulau di Indonesia adalah sebanyak 18.306 buah. 

Data Departemen Dalam Negeri berdasarkan laporan dari para gubernur dan bupati/wali kota, pada tahun 2004 menyatakan bahwa 7.870 pulau yang bernama, sedangkan 9.634 pulau tak bernama. Dan dari sekian banyaknya pulau-pulau di Indonesia, yang berpenghuni hanya sekitar 6.000 pulau.

Dari pulau berpenghuni ini pun kebanyakan penduduk yang tinggal tersebar di berbagai pulau besar. Dan sebagian besar lagi menempati kota besar terutama di Pulau Jawa, sebagian Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

Tunda Mudik
Gambar diambil 1 tahun
Yang lalu di Stasiun Senen

Tak heran bila saat mudik tahunan, masyarakat yang urban ke kota besar, akan kembali ke kampung halamannya. Dan kota besar pun lengang karena sebagian penghuninya memilih lebaran ke kampung halaman.

Asal Mula Mudik

Dari KBBI, kata Mudik berasal dari pulang kampung. Yaitu saat perantau pulang ke kampung halamannya pada saat tertentu. Biasanya saat ada tradisi tahunan seperti nyadran, hari besar keagamaan yaitu hari raya lebaran misalnya.

Kata mudik secara etimologi berasal dari kata 'udik' yang artinya hulu. Jaman dahulu di Jakarta terjadi urbanisasi besar-besaran dari wilayah yang bernama akhir udik atau ilir (utara atau hilir). Nah kebanyakan akhiran itu diganti dengan kata Melayu selatan atau utara. Contohnya seperti Meruya Udik, Meruya Ilir, Sukabumi Udik, Sukabumi Ilir, dan sebagainya. (Wikipedia)

Semakin bertambahnya jumlah penduduk, transportasi menjadi alat mencapai kampung halaman dengan beragam masalah. Pernah ingat kejadian tahun 2016 yang terkenal dengan istilah Brexit? Yang merupakan pengalihan kata Brexit di Britania Raya dengan masalah kemacetan sepanjang 10 km di tol Brebes Timur Exit.

Ada banyak warga yang kelaparan, kelelahan, bahkan sampai meninggal dunia. Saat itu pemerintah dituding tidak siap menghadapi lonjakan pemudik yang ingin pulang kampung.

Mudik Saat Pandemi Covid-19, Yay or Nay?

Saat ini pandemi covid tengah mengintai di luar rumah. Bagi warga yang tidak aware dengan kesehatan dan kebersihan dirinya sendiri, bisa saja tertular virus.

Meski udah ada aturan mudik yang tidak diperbolehkan tapi tetap aja masih banyak warga yang ndableg. Ishhh, biarin aja pakai kata itu. Ndableg alias ngeyelan a.k.a semaunya sendiri.

Beberapa kali saya mencari berita di TV tentang arus mudik. Ternyata demi bisa berkumpul di kampung halaman, mereka mencari akal. Rata-rata menyewa mobil tidak resmi untuk angkutan travel gitu, bayarnya pun mahal. 

Mereka rombongan satu mobil berangkat saat malam hari. Atau diperkirakan saat tiba di jalur yang terdapat pos pemeriksaan Covid, sekitar waktu berbuka. Petugasnya kan pada minggir untuk berbuka. Nah mereka bisa melintas bebas. Lolos deh!

Namun petugas yang diwawancara menjelaskan, lolos di satu pos pemeriksaan belum tentu lolos di kota berikutnya.

Iya sih. Tapi buat apa main kucing-kucingan gitu? Kalo ketahuan mereka akan disuruh putar balik loh. Sia-sia kan tenaga, waktu, dan rencana buruk yang dilakukan itu.

Tunda Mudik

Jadi, sabaaaaar.. tahan diri dan jangan mudik dulu. Kangen sama orang tua? Bisa video call dengan mereka. Kalo kalian sayang pada orang tua atau keluarga di kampung halaman, tunda mudik sampai pandemi berlalu. Kalian tidak tahu gimana kondisi tubuh sepanjang perjalanan, bisa saja tertular virus dari sesama penumpang travel. Dan nantinya menjadi OTG (Orang Tanpa Gejala) yang menularkan pada keluarga dan tetangga di kampung halaman.

Pliiisssss.... sabar yaaa. Tetap di rumah aja, dan bisa silaturahmi dengan nelpon atau video call atau menggunakan sosial media lainnya. Semoga tetap mengikuti anjuran untuk tidak mudik. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Rabu, 13 Mei 2020

Merindukan Lebaran Tanpa Physical Distancing
Mei 13, 20200 Comments

Merindukan Lebaran Tanpa Physical Distancing

Lebaran 1441 H

Assalamualaikum Sahabat. Ramadan udah menjelang akhir, apa kabarnya kalian? Semoga tetep semangat menjalankan ibadah bulan ramadan di rumah aja. Tetap bersyukur dan nikmati ibadah di rumah. Makin banyak bisa tadarus, ada banyak waktu berkumpul dengan keluarga, tanpa sibuk mengatur jadwal bukber dengan teman alumni atau teman kerja.

Kurang dari dua minggu lagi ya lebaran akan datang. Menggantikan ramadan yang berlalu dalam sepi. Kondisi saat ini dengan pandemi covid memang memunculkan suasana berbeda. 

Biasanya seperti tahun lalu, mall dan pusat perbelanjaan akan dipadati oleh masyarakat yang telah menerima THR. Mereka mulai belanja kebutuhan lebara. Dari sembako untuk dibagikan, baju lebaran, hingga pernik hiasan untuk menyambut hari raya umat Islam.

Lebaran Yang Saya Rinduka...

- Lebaran adalah Silaturahmi

Setiap tahun saya mengikuti suami yang hadir di keluarga besar Ibu di Boyolali. Sebenarnya tempatnya selalu berganti tiap tahun. Jadi anak dari simbah akan mendapatkan giliran enam tahun sekali. Rumah yang menjadi tuan rumah bebas, yang penting di rumah salah seorang putra atau putri simbah.

Lebaran Yang Dirindukan

Hal seru mengikuti halal bi halal keluarga Bani Muhyi adalah saya bisa mengenal keluarga besar Ibu mertua. Saya enggak kaget karena juga berasal dari keluarga besar, terutama dari bapak saya. Tapi jumlah keluarga besar suami saya tuh udah dua ratusan karena ada cicit juga. Seru pokoknya. Dan tahun ini kami absen silaturahmi karena pandemi. Sediiih, hikss.

- Lebaran Tanpa Halal bi Halal di depan Rumah

Biasanya usai shalat Idul Fitri, kami akan keluar rumah dan berjajar, barbaris rapi di depan rumah di gang kami. RT 05 RW 03, tempat saya tinggal selama 10 tahun ini memiliki tradisi bersalaman usai shalat Id. 

Menyenangkan karena kami nggak perlu mengunjungi rumah ke rumah tetangga. Cukup berkumpul aja di depan rumah, berurutan dari yang sepuh (tua) hingga yang palng muda. Seru banget kegiatan ini sampai ditiru oleh RT lain. Namun nampaknya tak berumur panjang. Hanya RT kami di lingkungan RW yang mengadakan tradisi ini dan udah berumur lebih dari 15 tahun.

- Lebaran Tanpa Berkumpul Keluarga Besar

Sedih ya nggak bisa berkumpul keluarga besar, dari pihak ibu atau bapak, atau mertua. Jadi nanti paling hanya di rumah aja sambil nonton film atau berita. 

Saya sampai bingung mau menulis tentang lebaran tanpa kumpul dengan keluarga besar ini. Apalagi kalo melihat foto-foto lebaran tahun lalu seperti di bawah ini. Keriuhan foto bersama saat lebaran di tahun ini bakal tak ada.

Lebaran Yang Dirindukan


- Lebaran Tanpa Salam Tempel

Anak-anak kecil pasti merindukan salam tempel. Kasihan ya mereka udah menanyakan hal ini pada orang tua masing-masing. Di keluarga ibu yang memiliki grup WA, sepupu saling cerita tentang keluhan anak-anak mereka. Pengen ketawa tapi takut dosa, hihiii. 

Mungkin lebaran tanpa salam tempel ini akan menjadi kenangan pahit bagi anak-anak kita. Atau bisa juga orang tua yang menggantikan dengan memberikan bonus lebaran pada anak sendiri? Bisa dong.

Lebaran Yang Dirindukan
Anak-anak yang datang
bakal dapat salam tempel

Intinya lebaran tahun ini kita tetap akan physical distancing. Cukup halal bihalal via dunia maya. Mengandalkan pesan di WA, FB, Instagra, dan sosial media lainnya.

Merindukan lebaran tanpa physical distancing adalah milik semua orang. Kita tidak sendiri, jadi bersabar saja. Tetap bersyukur karena masih diberikan kesehatan, usia yang berkah, dan rejeki. Jangan lupa berbagi pada tetangga, keluarga dekat atau jauh, dan teman yang terdampak pandemi.

Lebaran yang saya rindukan insyaa Allah akan terwujud setahun lagi. Sepanjang kita semua mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap di rumah. 

Lebaran kali ini memang bukan lebaran biasa. Lebaran dengan pandemi covid yang tetap mengintai kelengahan orang-orang yang tidak peduli dengan kesehatannya dengan tetap berkumpul di luar rumah.

Saya merindukan lebaran yang normal. Saya merindukan keceriaan saat bersilaturahmi. Saya merindukan suasana hangat di jalan, dalam keluarga besar, yang tahun ini tak bakal sama. Semoga pandemi lekas berlalu, sahabat. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Selasa, 12 Mei 2020

Opor dan Sambel Goreng, Menu Khas Lebaran di Semarang
Mei 12, 20201 Comments

Opor Ayam dan Sambel Goreng, Menu Khas Lebaran di Semarang

Menu Lebaran Khas Daerah Semarang

Assalamualaikum Sahabat. Biasanya jelang akhir ramadan menjadi waktu untuk menentukan persiapan menu lebaran. Meski dari tahun ke tahun menu lebaran selalu sama. Karena pengaruh kultur dan tradisi keluarga. 

Seperti juga keluarga saya yang tak pernah ketinggalan menyajikan hidangan Opor Ayam dan Sambel Goreng saat lebaran. Menu in wajib ada saat hari terakhir ramadan. Dan menjadi menu buka puasa favorit. Karena jaman dulu untuk menikmati lauk ayam itu adalah hal istimewa. Di samping harga ayam saat itu mahal dan tak semua kalangan bisa menyajikannya di atas meja makan.

Berbeda dengan sekarang, ayam kampung sebagai bahan utama opor bisa digantikan dengan ayam merah atau ayam petelur yang harganya bisa separonya.

Menyajikan opor ayam dan sambel goreng saat hari terakhir ramadan juga pertanda bagi anak-anak bahwa lebaran udah datang. Hahaaa, asikkk banget ya. Ini adalah impian banyak anak-anak yang tengah belajar puasa sedari kecil. Sajian opor ayam dan sambel goreng itu ibarat hadiah selain baju baru.

Asal Mula Hidangan Opor Ayam dan Sambel Goreng

Menu Khas Lebaran

Saya sendiri tidak tahu mengapa opor ayam dan sambel goreng menjadi menu wajib di banyak keluarga yang tinggal di Semarang.

Opor ayam sebenarnya adalah ayam rebus yang diberi bumbu kental dari santan dengan tambahan berbagai bumbu seperti bawmer, bawput, kemiri, jinten, serai, kencur, dan sebagainya. Dalam tradisi Jawa, perayaan Lebaran biasanya dibuat meriah dengan membuat ketupat yang disajikan dengan opor ayam dan sambal goreng hati.

Opor ayam juga merupakan makanan yang sudah ada sejak dulu bahkan dipastikan sejak zaman kerajaan (sumber dari Wikipedia). Opor ayam biasa disajikan oleh masyarakat biasa yang pada waktu dulu tidak bisa makan daging. Peyebabnya adalah  menu masakan dengan bahan daging biasanya disuguhkan oleh keluarga kerajaan. Karena ingin menikmati hidangan serupa, maka terciptalah opor ayam.

Masakan ini konon katanya diperkenalkan oleh salah seorang sunan dari Walisongo. Opor ayam merupakan masakan yang memiliki makna. Terbuat dari santan yang maknanya adalah mengarah pada kata dari bahasa Jawa yaitu santen. Kata ini juga dianalogikan dengan kata pangapunten yang maknanya adalah meminta maaf.

Hingga saat ini opor menjadi hidangan sederhana yang sangat disukai oleh semua kalangan masyarakat. Karena rasanya yang tidak terlalu berat dan pembuatannya yang tergolong mudah menjadikan opor cocok sebagai hidangan sarapan, makan siang ataupun makan malam.

Resep Opor Ayam

Menu Lebaran Khas

Sebenarnya di web ini saya pernah menuliskan resep opor ayam. Tapi nggak apa deh, saya akan tuliskan lagi karena untuk mengingatkan diri sendiri juga.

  • Bahan utama tentu saja daging ayam kampung dengan berat kurang lebih 1 kg. Potong ayam menjadi 10 atau 12 kemudian cuci dengan air mengalir
  • Serai diambil batangnya kurang lebih 2 pcs kemudian memarkan
  • Daun jeruk 7 lembar, karena saya suka dengan daun jeruk yang banyak
  • Daun salam kurang lebih sebanyak 5 lembar
  • Santan saya kurang suka kalo kental, jadi ambil aja dari perasan kelapa parut 1 butir dan dijadikan kurang lebih sebanyak 600 ml
  • Air bersih kurang lebih sebanyak 1 liter.

Bumbu Opor Ayam Kampung :

  • Bawang putih  5 siung
  • Bawang merah 11 buah
  • Jinten sedikit
  • Kemiri kurang lebih sebanyak 9 butir
  • Ketumbar kurang lebih sebanyak 2 sendok teh
  • Jahe ukuran sedang besar kurang lebih sepanjang 1 ruas jari
  • Lengkuas dua ruas jari
  • Kunyit kurang lebih sebanyak 1 ruas jari 
  • Merica kalau suka kurang lebih sebanyak 1 sendok teh
  • Gula pasir secukupnya sesuai selera.
  • Garam dapur secukupnya
  • Minyak sedikit untuk menumis

Langkah Cara Membuatnya :

  1. Pertama rebus air kemudian tunggu sampai mendidih.
  2. Masukkan potongan daging ayam kampung tadi kedalamnya lalu masak selama kurang lebih 3 sampai 4 menit dan angkat (untuk menghilangkan bau ayam).
  3. Cuci kembali daging ayam yang sudah direbus tadi dengan air mengalir kemudian tiriskan.
  4. Ambil panci lagi dan beri air secukupnya kemudian panaskan dengan api kecil.
  5. Masukkan potongan daging ayamnya tadi kemudian rebus dengan api kecil tadi sampai air kaldu ayam keluar. Saya biasanya merebus kurang lebih 45 menit dengan api kecil.
  6. Uleg dan haluskan bawang merah, bawang putih,lengkuas dan bumbu opor ayam lainnya sampai halus.
  7. Siapkan wajan dengan minyak kurang lebih 3 sendok makan. Kemudian tumis dan masukkan bumbu tadi bersama dengan salam dan sereh lalu aduk aduk sampai wangi dan harum.
  8. Setelah ayamnya agak empuk dan hampir matang, masukkan bumbu yang ditumis tadi kedalamnya kemudian aduk sebentar dan tutup kembali sampai empuk dagingnya.
  9. Tuang santan kentalnya bersama dengan gula dan garam dapur sesuai kebutuhan kemudian aduk aduk sampai santannya mendidih.
  10. Tes rasa dan sajikan bersama pelengkapnya, yaitu ketupat dan sambel goreng.
Hmm, jadi teringat aroma opor ayam yang disajikan hangat untuk keluarga ya. Nah, opor ayam tak akan lengkap bila disajikan sendiri. Harus ada temannya yaitu sambel goreng.

Menu Lebaran Khas

Resep Sambel Goreng 

Untuk resep sambel goreng sederhana aja yang dimasak oleh keluarga saya. Ibu saya mengajarkan resep sambel goreng dengan bahan dasar cabe polong yang diiris tipis, bawmer, bawput, dan bahan lainnya.

Resep dan Cara Masak Sambel Goreng
Bahan :
1/2 kg Cabe besar/polong, diiris halus, serong
6 siung bawang putih, diiris halus, goreng dan sisihkan
9 butir bawang merah, diiris halus, goreng dan sisihkan
lengkuas ukuran 2 cm, daun salam 2
Santan 1 liter dari 1 butih kelapa ukuran sedang
Gula jawa 2 sdm
Garam secukupnya

Jeroan ayam secukupnya (kalo tidak suka, skip)
Telur rebus, kupas dan sisihkan

Cara Membuat :
- Tumis cabe hingga layu, masukkan bawang merah dan bawang putih yang sudah digoren sebelumnya. Aduk-aduk biarkan aromanya harum. Tambahkan lengkuas dan daun salam.

- Tambahkan santan, masak dengan api kecil hingga mendidih. 

- Masukkan telur dan jeroan ayam, gula jawa, garam. Biarkan hingga mendidih. Koreksi rasa dan sajikan.

Mudah banget kan resep sambel goreng dari ibu saya?!

Yuk persiapkan masakan menu lebaran di rumah. Sharing yuk, menu lebaran dari daerah kalian apa? Siapa tahu saya ingin juga menikmatinya, jangan lupa share resepnya ya di kolom komentar. Wassalamualaikum.
Reading Time: