My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Arisan Blogger Gandjel Rel
Tampilkan postingan dengan label Arisan Blogger Gandjel Rel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arisan Blogger Gandjel Rel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2020

Mendampingi Anak Korban Verbal Bullying Bisa Move On dan Punya Prestasi
April 30, 2020 25 Comments

Mendampingi Anak Korban Verbal Bullying


Assalamualaikum Sahabat. Tema arisan periode 6 ini mengingatkan saya saat si bungsu kelas 5 SD. Biasanya bullying itu dilakukan oleh sesama teman atau kakak kelas, adik kelas kan. Beda yang dialami si bungsu, dia menjadi korban bullying gurunya.

Saya sebenarnya udah menutup luka lama ini. Dahulu saya bahkan sempat mengucapkan kalimat, enggak apa anak saya menjadi korban. Tapi insyaa Allah, dia akan menjadi anak yang sukses. 

Meski saya nggak mau anak saya menjadi martir. Karena guru yang mengajar di kelas 5 ini setiap tahun selalu melakukan hal serupa. Korbannya aja yang ganti karena anak didiknya kan naik ke kelas berikutnya.

Cerita Korban Verbal Bullying Kala Itu...

Saya melihat perubahan perilaku Naufal. Dia bungsu kami yang selalu ceria mendadak jadi pendiam. Memang aslinya anaknya pemalu tapi enggak pendiam banget lah kalo di rumah. Dan saya pun mencari informasi ke putra tetangga yang satu kelas dengan si bungsu ini.

Ternyata temannya nggak tahu, apa yang dialami si bungsu saat di sekolah. Saya bahkan tak menaruh curiga kalo anak saya ini mengalami verbal bullying.

Baru lah saat beberapa hari kemudian si bungsu curhat tentang nilainya yang menurun. Alasannya dia tidak bisa mendengar gurunya berbicara karena duduknya di belakang. Si bungsu memang anaknya bongsor, waktu usia 10 tahun itu BB udah 43 kg. Abis khitan juga waktu naik kelas 5 jadi nambah tinggi dan gemuk. Anaknya doyan makan dan nggak punya pantangan, apa aja doyan.

Saya pun berkunjung ke kelas 5 esok harinya untuk menanyakan tentang rolling tempat duduk siswa. Namun rupanya guru kelasnya kurang berkenan dengan pertanyaan saya tentang rolling kursi ini. Padahal di sekolah itu udah biasa siswa melakukan rolling tempat duduk tiap minggu sekali. Jadi tiap siswa akan merasakan duduk di kursi depan, belakang, samping kanan, ataupun kiri. Adil kaaan?!

Saya pun pulang ke rumah namun tetap meminta guru kelas si bungsu agar mendengarkan aspirasi orang tua murid.

Saya juga memantau perkembangan tentang rolling dengan bertanya pada si bungsu seminggu kemudian. 

"Gimana dek, masih duduk di belakang sendiri?"
"Sekarang dduduk paling depan," Naufal tertawa, terlihat hepi.

"Alhamdulillah ya dek, jadi dengar dong ucapan Bu Guru,"

Saya udah melupakan masalah ini, sambil tetap menitipkan pesan agar dia protes kalo duduknya di belakang terus kayak kemarin. Semua siswa punya hak untuk meminta rolling tempat duduk.

Ternyata ada kejadian yang agak parah dialami si bungsu. Entah bagaimana kesalahannya, si bungsu kerap dipanggil dengan sebutan anak bodoh. Saya mendapat info dari tetangga yang anaknya satu kelas dengan si bungsu.

Saya marah dong! Masa ada seorang guru yang memberikan jugdment kata-kata buruk pada siswanya sendiri?!

Saya pun mendatangi guru kelasnya dan protes dengan ucapannya. Tentu saja saya mengajukan keberatan dengan sopan, bukan memaki atau berteriak. Saya masih punya adab sopan santun juga dan tak ingin si bungsu malu dengan sikap ibunya.

Entah guru kelas yang sejak awal nggak suka dengan permintaan rolling hingga terbawa dengan masalah terakhir, saya tidak tahu. Yang pasti tiap saya mengajukan keberatan dengan senyum manis, beliau juga menanggapi dengan baik. Namun ternyata dia memberikan penilaian buruk tingkah laku si bungsu. Bahkan kepala sekolah udah mendapat laporannya.

Saya mengetahui masalah ini saat dipanggil oleh kepala sekolah. Katanya ada yang melaporkan bahwa anak saya merokok di sekolah. Astaghfirullah... saya itu orang yang paling keras dengan perokok. Masa iya anak saya malah merokok di sekolah?

Dari hasil perbincangan dengan kepala sekolah, saya mendapat informasi bahwa si bungsu terlihat memegang rokok dan meniup-niupnya. Ada guru agama yang melihat dari jauh. Karena tahu si bungsu adalah siswa guru A, dia pun lapor pada guru kelasnya.

Yang bikin saya kecewa adalah ucapan guru kelasnya. Seperti ini ucapannya,"Saya tahu Naufal itu merokok karena nyontoh bapaknya,"

Mata saya membesar, kaget dong. 

"Maaf Ibu, dari mana Ibu tahu kalo suami merokok? Coba kalo berbicara dengan mengemukakan fakta yang benar. Suami saya itu orang yang nggak pernah merokok, baik di rumah, di lingkungan RT RW, keluarga besar."

Guru wali kelasnya cuma tersenyum, melihatnya aja udah nggak enak banget lah waktu itu.

"Ibu kan pendidik, masa dengan mudah selalu memberikan jugdment negatif seperti itu. Silahkan datang ke tetangga saya, Ibu tahu kan rumah kami. Tolong tanya kepada mereka, apakah suami saya seorang perokok?!"

Masalah ini diselesaikan dengan peringatan untuk anak saya agar tidak mengulangi perbuatannya. Masya Allah, saya sungguh harus bersabar mendengar keputusan itu. Saya hanya mampu mengucap istighfar agar tidak emosi mendengar anak saya dikatakan merokok di sekolah.

Selang beberapa bulan kemudian, baru saya tahu bahwa si bungsu memang memegang rokok. Dia menemukan rokok yang masih panjang. Namun dia dan temannya saling memegang bergantian. Apesnya waktu dipegang si bungsu, ada guru agama yang melihat. 

Saya melihat ada kondisi yang memang tidak menguntungkan si bungsu. Namun saya yang udah lelah protes ke sekolah, menganggap ini adalah ujian bagi saya di si bungsu.

Bahkan ada saran dari tetangga yang anaknya pernah menjadi siswa di bawah arahan guru tersebut, untuk memberi amplop. Saya tegas menolak waktu suami cerita saran tetangga. Memang guru tersebut terkenal suka diberi sesuatu oleh orang tua murid. Dan tiap tahun selalu bermasalan dengan anak didiknya hingga sering mendapat protes dari orang tua siswa.

Saya dan suami bahkan baru tahu, saat itu sebenarnya ada beberapa wali murid yang juga ingin mengajukan keberatan pada kepala sekolah atas perbuatan guru kelas 5. Namun mendengar sikap kami yang sudah protes duluan, mereka nggak jadi melakukannya. 

Masalah yang dihadapi anak-anak mereka tidak sama persis. Namun guru kelas tersebut melakukan verbal bullying pada siswa-siswa yang juga teman sekelas Naufal. Ada yang disebut anak goblok, atau tukang jajan, dan sebutan negatif lainnya dan itu tidak pantas diucapkan oleh guru wali kelas atau pendidik.

Mendampingi Anak Korban Verbal Bullying

Picture by Pexels
Bukan hal mudah mendampingi si bungsu saat kena bully gurunya. Dia sampai trauma tiap Senin pagi tiba. Misalkan sejak pagi udah siap dengan pakaian dan sarapan, mendadak mogok ke sekolah. Pusing kan saya waktu itu, apalagi masih harus mempersiapkan berangkat kerja. Beberapa kali saya ijin terlambat ke kantor karena mencari tahu apa yang sedang terjadi pada si bungsu.

Peran orang tua mendampingin anak yang menjadi korban verval bullying ini sangat penting. Setiap hari saya memberikan dukungan dengan menyuntikkan kalimat motivasi agar si bungsu tidak takut terhadap gurunya. 

Yup, si bungsu seperti ketakukan berangkat dan bertemu guru kelasnya. Trauma banget pokoknya. 

Alhamdulillah dengan pendampingan yang saya lakukan bersama suami dan kakaknya, si bungsu berangsur pulih. Dia bisa naik kelas dengan nilai memuaskan. Terlebih guru kelas 6 yang menjadi wali kelasnya adalah orang yang senang memotivasi. 

Usai terima raport, guru wali kelas 6 langsung mendatangi si bungsu dan mengajak bicara. Ternyata guru wali kelas 6 ini telah membiasakan untuk menyambut calon siswanya dengan mengucapkan kalimat motivasi. Agar semangat dan siap menjadi siswa kelas 6 yang selalu bahagia. 

Aduh sungguh saya terharu mendengar cerita si bungsu tentang kalimat motivasi yang disampaikan gulu kelas 6. Seakan kondisi yang dialami si bungsu sebelumnya terhapus oleh ucapan yang bikin hati adem.

Saya ingin sharing apa aja yang mesti dilakukan orang tua untuk mendampingi anaknya yang menjadi korban verbal bullying. 

Verbal bullying itu tidak terlihat secara fisik namun tidak boleh dibiarkan. Verbal bullying adalah penindasan yang dilakukan dengan mengucapkan kalimat negatif. Efeknya bisa lebih dahsyat dibanding kekerasan fisik. Karena tahu dong kekerasan verbal itu nancap di hati, bahkan ada yang mengakibatkan efek 'mematikan' si korban.

Berikut ini tips mendampingi anak korban verbal bullying :

1. Kenali Gejala Anak Kena Verbal Bullying 

Picture by Pexels
Verbal bullying tidak terlihat karena kekerasan dalam bentuk ucapan. Namun orang tua bisa mengenali dari gejala yang nampak. Dari perubahan perilaku, sikap anak yang semula ceria berubah murung. Atau anak mencari perhatian dengan melakukan tindakan yang tidak seperti dirinya selama ini. 

Bisa terlihat kok, seperti saya yang menemukan si bungsu terlihat tidak hepi. Tidak lagi mau duduk dekat saya saat nonton TV. Ternyata dia membentengi dirinya agar tidak diajak bicara oleh saya, ayahnya maupun kakaknya.

2. Ajak Anak Menghadapi Pelaku Bullying

Saya sudah mengetahui bahwa pelaku bullying adalah guru kelasnya. Pertama tahu pelaku verbal bullying adalah guru, saya mencari tahu tentang dirinya. Rupanya beliau udah dikenal sebagai guru yang suka melakukan verbal bullying. Setiap tahun selalu ada siswa yang menjadi korban bully dan enggak hanya satu anak. 

Namun saat itu kekerasan verbal belum begitu diperhatikan seperti halnya kekerasan fisik. 

Beda ya tindakan menghadapi pelaku verbal bullying dari guru dan sesama teman. Guru itu punya kuasa memberikan nilai pada anak saya. Jadi saya harus pintar-pintar mencari kalimat yang tidak menambah beban bagi si bungsu ketika di kelas. Gurunya kalo nggak suka dengan wali murid yang kena anaknya. Tapi saya selalu memberi pengertian pada si bungsu bahwa dia harus berani bertanya di kelas. Dia juga tidak boleh mendengarkan omongan negatif dari gulu kelasnya. 

3. Beri Tahu Pihak Sekolah

Sebenarnya sebelum saya melakukan tindakan protes, ada temannya Naufal yang udah kena duluan dan ada dua anak. Cuma karena anaknya tidak ngasih tahu orang tuanya, tenggelam deh dengan kasus anak saya. Orang tua mereka ini yang ternyata punya rencana akan protes kepada kepala sekolah, namun nggak jadi. Sudah ada saya yang menjadi leader protes duluan.

Kepala sekolah pun sebenarnya sudah mengetahui bahwa tenaga guru yang mengajar kelas 5 sudah serin diprotes wali murid. Dua tahun sebelum anak saya, ada orang tua murid yang melaporkan hingga ke Dinas Pendidikan Kota. Udah ada teguran pula, namun belum sampai dipindahkan ke sekolah lain.

Jadi ketika saya protes pun tanggapan kepala sekolah hanya menenangkan dan berjanji akan menegur guru kelas 5. Namun bukannya berubah, justru anak saya yang diintimidasi. Puncaknya kejadian tentang merokok seperti yang saya ceritakan di atas.

4. Pantau Selalu Keadaan Anak

Orang tua jangan pernah menyerah ketika anak merengek tidak ingin sekolah. Seperti anak saya tiap hari Senin seperti kayak trauma enggak mau masuk ke sekolah. Pernah saya mendapat telpon dari suami yang mengabarkan kalo si bungsu lari keluar dari halaman sekolah menuju masjid. Akhirnya diajakin mengambil air untuk wudhu dan shalat Dhuha. Usai shalat, diajakin ngobrol lah sama babenya. Dan akhirnya mau masuk kelas setelah beberapa waktu.

Suami sendiri yang nganter tapi dari jauh dan guru kelasnya melihat keluar saat Naufal masuk kelas. Tahu kayaknya kalo ayahnya Naufal anter dari jauh, karena senyumnya manis sekali saat menyambut si bungsu.

Intinya tetap pantau sikap anak, perhatikan hal kecil, tanya kegiatan apa seharian itu di kelas. Bagaimana sikap si pembully, apakah udah ada perubahan dari nya. Orang tua diharapkan mampu meyakinkan anak bahwa kasus itu bukan kesalahannya. Dia bukan anak yang bodoh. Selalu beri motivasi untuk anak berani mengajukan pertanyaan ketika di kelas. 

5. Pindah Sekolah

Foto taken by ARTEM Photography
Jika masalah bullying terus berlanjut dan kondisi anak semakin parah, orang tua harus peduli. Mungkin mereka bisa mencari solusi dengan memindahkan sekolah baru. Atau memilih konsep belajar home schooling. Dan pilihan belajar di rumah ini sempat terpikirkan oleh saya. Namun suami tidak setuju mengingat saya masih kerja di kantor. 

_______________

Intinya, Moms... jangan menyepelekan seorang anak yang menjadi korban verbal bullying. Karena dampaknya bisa melekat hingga jangka panjang bahkan sampai dia tumbuh dewasa. Emosinya bisa berubah dalam sekian menit karena bisa saja dia belum bisa memaafkan dirinya sendiri akibat jadi korban verbal bullying.

Korban verbal bullying ini juga mengubah sikap seorang anak menjadi tidak percaya diri. Sedih loh saya tiap kali di rumah anak udah dimotivasi, trus ke sekolah percaya dirinya hilang gara-gara ucapan negatif gurunya.

Semoga kejadian verbal bullying ini tidak tejadi pada anak lain. Saya dulu berdoa seperti itu, cukup berhenti pada anak saya. Dan kabarnya ketika si bungsu udah masuk ke sekolah lanjutan, gurunya ini udah dipindahkan ke kelas yang lebih rendah. Perubahan perilakunya juga ada dan tidak lagi suka membully siswanya. 

Alhamdulillah saya jadi mendapat pelajaran juga dari kejadian ini. Meski saya jadi trauma dengan sekolah negeri, paling tidak saya berani mengupayakan hak anak saya. Senangnya di SMP yang kami pilihkan ini ada sesi konsultasi dengan psikolog. Saya jadi bisa curhat tentang peristiwa saat si bungsu kelas 5. Sesi konsultasi ini juga menggali minat dan ketrampilan anak didik sehingga bisa diarahkan ikut kegiatan eksul di sekolah. Dari sini lah si bungsu terpilih mewakili sekolah untuk lomba desain graphis dan dapat membawa pulang kemenangan sebagai juara ketiga. 

Tak selamanya anak korban verbal bullyng menjadi tidak punya prestasi. Asal orang tua mau meluangkan waktu dan mendampingi dengan benar, mereka pun dapat meraih prestasi sesuai minat. Sahabat punya pengalaman seperti saya? Sharing yuk, kalian enggak sendiri. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Sabtu, 18 April 2020

After Covid-19, Gaya Hidup Sehat Akankah Tetap Dilakukan?
April 18, 2020 24 Comments

After Covid-19, Gaya Hidup Sehat Akankah Tetap Dilakukan?


Assalamualaikum Sahabat. Apa kabar kalian? Dengan hati yang tulus, saya berdoa agar kita semua diberikan kesehatan dan rejeki yang berkah. Di tengah pandemi Covid-19, ada begitu banyak perubahan yang terjadi di muka bumi. 

Ada yang buruk karena begitu banyak berita kematian, penularan virus covid-19 yang tiap hari makin banyak, hingga banyaknya APD yang menghilang di pasaran. Bahkan banyak tenaga medis yang meninggal di antara sekian banyak warga korban pandemi.

Oiya ini adalah artikel dalam rangka arisan Blogger Gandjel Rel periode ke-5. Ada mba Dian Nafi dan Chella Guru Kecil yang menjadi pemenang arisan. 


Sisi Baik Ketika Pandemi Covid-19

Namun masih ada kabar baik di tengah pandemi covid-19, sahabat. Seperti bumi yang berkurang polusinya, langit Jakarta dan kota besar di dunia terlihat biru, serta jalanan yang tak lagi macet parah.

Dan seperti yang sudah diketahui selama ini, bangsa ini memiliki warga yang punya empati luar biasa dahsyat. Ada banyak lembaga, perorangan, dan komunitas yang membuka donasi. Nyaris semuanya mampu mengumpulkan dana yang amat banyak jumlahnya. Sehingga dalam waktu singkat dana yang terkumpul bisa dibelikan kebutuhan menghadapi pandemi ini. Seperti masker, hand sanitizer, APD untuk tenaga medis, bahkan kebutuhan pokok bagi warga yang terdampak pandemi.

Warga gampang banget mengulurkan donasinya, entah dengan transfer via mBanking, ATM, dompet digital, dan cara lainnya. Sungguh menyaksikan fenomena ini saya begitu terharu. 

Saya pernah menangis tersedu dalam diam saat membaca laporan keuangan yang dikirim via email dari salah satu lembaga donasi terkenal. Nominal yang kita kirim mungkin tak seberapa besar, tapi bagi yang menerima teramat besar nilainya. Masya Allah.

Kebaikan-kebaikan lainnya juga turut andil mengubah gaya hidup masyarakat dunia. Mereka yang tadinya pulang dan masuk ke rumah tidak pernah mencuci tangan dan kaki, mendadak berubah jadi orang yang sangat peduli kebersihan tubuh. Rajin membersihkan rumah karena memiliki waktu banyak selama physical distancing. Banyak merenung dan berdzikir usai shalat, mengetuk pintu hati, membersihkan pikiran dari syak wasangka. Terbukti lebih banyak orang yang bersatu padu melawan covid-19 tak peduli agama, suku, dan asal daerahnya.

Biar lah yang masih nyinyir di sosial media, asal kita jangan ikut-ikutan lepas kendali hingga mengurangi amalan yang masih sedikit.

Yang tak kalah bagusnya adalah efek dari himbauan Kemenkes RI, Dinas Kesehatan tiap wilayah, hingga WHO agar melaksanakan gaya hidup sehat. 


Yup, tiap orang mulai banyak yang melakukan perubahan dengan menjaga kesehatan tubuhnya. Imunitas tubuh yang baik akan menjauhkan kita dari virus. Dan itu semua dilakukan dengan cara :
- Memberikan asupan gizi yang cukup
- Melakukan olah raga
- Istirahat yang cukup
- Cukup sinar matahari

Memberikan tubuh asupan gizi yang cuku termasuk mengonsumsi buah dan sayur yang lebih banyak. Saya sudah menuliskan tentang pentingnya mengonsumsi buah dan sayur selama pandemi covid-19. Dari pada pusing kan nyari-nyari vitamin di beberapa apotek, mending memperbanyak konsumsi buah dan sayur. Apalagi negeri kita memiliki aneka ragam buah dan sayur yang bisa menjamin kebutuhan tubuh akan vitamin.

Silahkan baca : Konsumsi Buah Untuk Menjaga Imunitas Tubuh

Langkah pencegahan agar tidak makin banyak penderita covid-19 juga dilakukan oleh sebagian besar warga. Seperti work from home bagi pekerja yang bisa melakukan kerja dari rumah. Belajar di rumah

After Covid-19, Gaya Hidup Sehat Masih Akan Dilakukan?

Sampai satu hari, saya bertanya-tanya apakah after Covid-19, gaya hidup sehat yang dilakukan juga ikut menghilang?

- Menjaga Imunitas Tubuh

Harapan saya tentu saja kita tetap menjaga gaya hidup sehat dengan tetap melakukan seperti selama pandemi ini. Gaya hidup sehat telah meningkatkan imunitas tubuh saat pandemi ini. Tentu berujung juga dengan kualitas hidup yang lebih meningkat.

Caranya adalah tetap mengonsumsi makanan yang bergizi, memperbanyak buah dan sayur, nutrisi yang cukup, mengurangi lemak jahat, agar daya tahan tubuh kuat. Konsumsi bawang dan jahe juga bagus untuk tubuh karena mengandung zat anti infeksi dan meredakan peradangan.



Tetap melakukan olah raga secara teratur meski di rumah saja. Tidak perlu mencari teman ke tempat gym kalo menjadikan kita susah melakukannya. Pengalaman saya seperti itu, akhirnya belajar melakukan sendiri di rumah.

Yang tak kalah penting adalah menjaga waktu tidur minimal 7-8 jam setiap harinya. Saat stay at home seperti sekarang, kita bisa membagi jam tidur dengan menambah waktu tidur saat siang hari.


- Pertahankan Sikap Empati

Peduli dengan kesusahan orang lain, terutama yang tinggal dekat dengan kita seperti tetangga dan famili. Berbagi sedikit dari yang kita miliki tak lantas membuat duit kita habis. Punya beras, mie instan, minyak, atau pun telur, bisa dibagikan pada orang dekat yang terdampak pandemi ini.

Bisa juga melakukan langkah mudah yang amat sederhana. Ketika ada teman yang punya usaha, bisa loh kita membeli produknya. Pertolongan yang mudah dan tetap menjaga martabat yang ditolong adalah dengan memberikan kail, bukan ikan.


- Mengelola Stres

Tahu kan ketika pandemi ini banyak berita bersliweran di sosial media. Di WAG, Facebook, Twitter, dan lainnya, kadang bikin kita jenuh dan cemas berlebihan. 

Mulai sharing berita yang ingin kalian baca karena tidak semua info yang beredar itu benar. Bahkan dari yang saya baca di salah satu portal berita online, per tanggal 9 April ada 1.022 berita tentang covid-19 ternyata hoax. Sedih kan kalo gini?!

Udah lelah, pusing mendengar berita orang meninggal, masih ditambah stress usai membaca info yang tidak benar. Stress dapat mengganggu sistem imun tubuh melawan infeksi. Karena itu sebaiknya diperlukan kecerdasan memilah berita agar tidak stress agar sistem imun terjaga dan kuat melawan virus covid-19.

Mulai lah melakukan kesenangan selama di rumah aja dengan hal yang positif dan bermanfaat. Seperti membuat kue, berkebun, mewarnai, membaca buku, dan kegiatan lainnya yang menyenangkan hati. Tentunya semua itu bisa dilakukan bersama seluruh anggota keluarga. 


Nantinya after covid-19, kita tetap bisa melakukan kegiatan yang menyenangkan ini dengan mengatur waktu setiap anggota keluarga. Hari Sabtu atau Minggu bisa berkebun, meminta bantuan anak-anak untuk mengatur tanaman. Atau membuat donat, kue kering, dan lainnya. Ciptakan kegiatan yang bisa dilakukan bersama keluarga yang tidak mengeluarkan duit dalam jumlah banyak. Bisa olah raga bersama, main monopoli, dan masih banyak permainan lainnya.

Ahhh, saya selalu tak putus harapan, bahwa covid-19 akan segera lenyap di muka bumi. Tentu saja kita juga tak boleh lengah dengan virus lain yang akan selalu muncul. 

Cara yang bisa dilakukan agar tubuh tetap sehat dan memiliki imunitas kuat adalah dengan melakukan langkah seperti yang telah kita lakukan selama pandemi. Semoga kita tetap diberikan kesehatan, kemudahan memperoleh rejeki yang berkah, dan bisa menikmati kehidupan yang lebih baik lagi, aamiin. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Kamis, 09 April 2020

Hobi Masak dan Berkebun,  Bisa Menjadi Penghasilan Tambahan Keluarga
April 09, 2020 44 Comments

Hobi Masak dan Berkebun, Bisa Menjadi Penghasilan Tambahan Keluarga


Assalamualaik num Sahabat. Kalo ada yang nanya saya punya hobi apa, jawaban saya otomatis adalah baca buku, dolan, dan tidur.  Dolannya nggak usah jauh-jauh sampai keluar negeri. Suami kalo ngajak dolan ke Bandungan atau Kopeng aja, saya langsung siap-siap bawa minum dan cemilan yang ada di rumah. Semangat banget yak, hahahaa.

Bandungan dan Kopeng adalah kawasan wisata yang paling dekat dengan Kota Semarang. Dan suami saya sukanya dadakan kalo ngajak ke dua kawasan ini. Udah kayak tahu bulat gitu, wkwkwkk.

Namun begitu udah punya keluarga, hobi saya nambah lagi yaitu berkebun dan masak. Dua kegiatan baru ini ada alasannya sehingga masuk dalam daftar hobi saya.

Saya ulas satu persatu, berurutan dari masak dulu ya. 


- Hobi Masak

Hobi kok masuk dapur, masak... beneran ini? 
Bener dong, begitu menikah saya punya hobi baru masak. Karena saya percaya dengan pepatah, cinta itu bisa datang dari perut naik ke hati. Eh salah ya? Ah entah lah yang benar gimana. Yang pasti ketika saya belajar masak di dapur untuk menyenangkan hati suami, ternyata sukses bikin si dia krasan makan di rumah.



Terlebih jaman awal nikah, saya langsung diajak menempati rumah yang sudah dimiliki suami sejak masih lajang. Waktu itu kawasan Pedurungan Kidul masih sepi. Kompleks perumahan pun kalo jam 19.00 udah sepi kayak di kuburan.

Penjual keliling pun jarang banget masuk kompleks perumahan. Karena portal di salah satu ujung jalan ditutup kalo udah malam.

Mau nggak mau saya belajar masak meski kalo pagi kayak ada perang barathayuda di dapur. Waktu itu saya masih kerja ikut orang, jam 8 pagi sudah harus masuk kantor. Bisa dong membayangkan gimana rempongnya saya kalo pagi, layaknya ibu kantoran gitu.

Jadwal saya tiap pagi (saat itu) adalah, sebelum Shubuh saya udah menyiapkan MPASI si sulung. Saya masukkan ke dalam dandang (untuk masak nasi) karena waktu itu belum ada majig com, wkwkkwk..ketahuan banget tahun berapa ya usia saya.

Setelah shalat Shubuh, saya mulai meracik bahan masakan. Saya bersyukur mendapatkan suami yang mau bantu urusan rumah meski ada ART juga sih. Tapi ART tuh kalo pagi ngurusi pekerjaan rumah seperti nyuci dan bersih-bersih seluruh rumah. Maksudnya adalah ketika saya sudah selesai masak, mandi, nyuapin anak, dan ganti baju kantor, dia pun udah selesai juga melakukan pekerjaan rumah.

Jadi ketika ART dan saya sibuk kerja, suami pun sibuk mengasuh si sulung yang masih berusia 8 bulanan. Begitu masakan di dapur untuk sarapan orang serumah dan MPASI udah siap, saya mandi. Kemudian baru nyuapin si sulung dengan MPASI olahan dapur rumah sendiri.

Oiya alasan suka masak menjadi hobi baru juga karena si sulung ini ketika mulai belajar jalan, mulai susah makan pula.

Nah saya pun mulai beli buku resep (belum ada internet yaa), majalah khusus resep, apa aja deh, dari jajanan, kue, sampai masakan. Saya nyoba bikin kroket, risoles, serabi, kue lumpur, bolu, roti manis, bakpau, hingga galantin.

Semua itu saya lakukan agar si sulung mengenal segala rasa masakan juga bahan makanan. Saya seperti si sulung, belajar mengenali masakan atau jajanan apa aja yang dia suka. Jadi ketika si sulung doyan makan nagasari, ya saya buatkan nagasari. Begitu pula ketika saya pertama kali membuat kroket dan dia menyukainya, saya pun sering membuatnya.

Sampai suatu hari ketika anak-anak udah besar, si sulung berusia 9 tahun, dan adiknya masih 4 tahun, terbersit niat bikin jajanan yang bisa dijual.

Setelah dipikir dan ditimbang, saya memilih lunpia, pisang karamel, dan galantin untuk dijual. Hari pertama saya bikin lunpia dan pisang karamel sebanyak 100 buah. Saya sengaja nitip jual di beberapa warung dan toko di sepanjang jalan yang saya lewati ketika berangkat kerja. Jadi satu dayung lima tempat saya dapatkan, hehee.

Alhamdulillah, penjualan pertama langsung ludes. Senang kah saya? Tentu saja senang, tapi saya tidak mau terlena. Jualan pertama laris itu belum menunjukkan kalo jajanan saya enak dan disukai pembeli. Tes pertama justru hari kedua, apakah jajanan yang saya titipkan bakal laris seperti hari pertama?

Ah ternyata masih sisa, meski hanya 1 dan dari lima toko itu, cuma kembali totalnya ada 3 lunpia dan 1 pisang karamel. Saya bersyukur dan pengalaman ini menambah semangat saya untuk bikin lebih banyak sesuai permintaan ibu pemilik toko.

Namun ternyata saya agak kelimpungan dengan kegiatan baru ini. Pagi ngurusi masakan untuk keluarga, masak untuk jualan, ngurus anak-anak yang mau sekolah, dan masih harus prepare ke kantor. Saya kayak kelebihan energi saat itu, maklum ya usia masih di bawah 40 tahun. Merasa muda dan kuat melakukan segala pekerjaan yang saya anggap mampu.

"Bu Sugeng tuh kayak orang kurang duit, masih jualan meski udah kerja kantor,"

Begitu salah satu tanggapan tetangga saya saat tahu kegiatan pagi di rumah. Suatu hari mereka ke rumah dan melihat saya tengah menggoreng lunpia dan pisang karamel. Sementara masakan untuk keluarga udah tersaji di meja makan.



Saya memang ingin usaha di rumah suatu hari nanti, itu pikiran yang terbersit di benak ketika memilih jalur jualan makanan.

Namun ternyata saya akhirnya menyerah dan memilih sebagai pekerja kantor. Jualan jajanan saya hentikan karena kelelahan, saya makin kemrungsung. Eh apa sih namanya, kayak kejar setoran gitu deh, hahahaa. 

Yang pasti waktu santai di pagi hari udah nggak ada. Dan saya sempat diprotes anak-anak karena malam sebelumnya selalu sibuk menyiapkan lunpia, menggulungnya dan menyimpang di kulkas untuk digoreng pagi harinya.

Kebiasaan saya sejak anak-anak masih kecil memang membacakan buku atau mendongeng sebelum tidur. Ketika saya selesai prepare lunpia, anak-anak udah ngantuk. Atau saya yang ngantuk, hehee.

Akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan jualan lunpia dan pisang karamel. Sementara galantin masih bisa saya kerjakan karena lebih praktis. Galantin bisa disiapkan dua hari sekali, sementara kuahnya dimasak tiap pagi.

Sebenarnya pemilik warung dan toko tempat saya menitipkan jajanan protes, mengapa saya hentikan jualan lunpia dan pisang karamel.

Kalo dipikir lagi, mengapa dulu saya tidak memilih berhenti kerja dan fokus aja ngurus jualan ya? Hehehe, saya hanya melihat semua itu udah keputusan yang enggak boleh disesali. 


- Hobi Berkebun

Nah, untuk hobi yang berikutnya yaitu ngurus kebun, karena rumah saya itu memiliki halaman yang cukup luas. Tanah seluas 200 meter persegi hanya dijadikan bangunan rumah seluas 115 meter persegi. Jadi masih ada sisa tanah yang lumayan kan?!

Saya mulai suka menanam sejak masih lajang, ikut bantuin bapak yang senang berkebun. Rumah kami kecil, tapi asri dengan pohon mangga manalagi dan arumanis. Belum lagi ada tanaman pare, timun, anggur, dan beragam tanaman bunga. Saya suka melihat hijau dedaunan, bikin adem yang melihat gitu.

Apalagi saya adalah anak kota yang rindu dengan aorma hutan dan sawah yang hijau menghampar. Saya sejak kecil udah suka ngikut tetangga yang pulang kampung di daerah Klaten. Alasannya karena saya nggak punya desa.

Kecintaan pada desa yang masih asri, bikin saya pun menyukai kegiatan berkebun. Saya suka bila halaman rumah yang kecil terlihat cantik dengan tanaman daun atau bunga. Jadi saya mulai membeli beragam tanaman. Dari tanaman buah, daun, hingga bunga. 

Dari awal saya memahami dan belajar sifat masing-masing tanaman. Ada teman belajar merawat tanaman, dari teman kantor, tetangga, hingga akhirnya mengantarkan saya pada tukang kebun yang juga berjualan tanaman.

Saya mulai pintar menyetek tanaman, memisahkan anakan, menyemai biji dari anthurium hingga mengawinkan serbuk bunga adenium. Suami dan anak-anak mendukung kegiatan ini. Karena ketika saya udah asik merawat tanaman, bisa seharian tuh di kebun. Dan hanya ngaso ketika waktu shalat atau makan aja. Saya bahkan bawa bekal minum air putih ketika sedang berkebun. Padahal kebunnya juga letaknya di belakang rumah, hahahaa.

Bagian belakang rumah saya pasang paranet karena tanaman yang ada di sana tidak tahan dengan sinar matahari. Jenis tanaman yang beragam seperti anggrek segala jenis, anthurium, aglaonema, bromelia, menjadi koleksi di kebun mungil ukuran 5x10 meter. 

Ternyat suatu hari tetangga yang berjualan tanaman ingin membeli salah satu tanaman agalonema yang masih anakan.

"Ayo dijual aja, jangan dibagikan terus,"
"Ah nggak enak, masa sih jual tanaman,"
"Lah saya jual tanaman untuk hidup, Bu,"
"Ya situ kan memang penjual tanaman, saya kan kolektor,"

Setelah berdebat dan tetangga pintar banget merayu, akhirnya saya luluh melepas anakan aglaonema. Alasan tetangga yang bikin saya luluh adalah, uang hasil penjualan tanaman bisa digunakan untuk membeli kompos, pot, dan kebutuhan kebun saya. Bukan kah ini yang namanya hobi yang menghasilkan ya? 

Hmmm, bener juga ya?!

Karena selama ini ketika ada teman, tetangga, atau kerabat yang datang ke rumah dan minta tanaman, mereka selalu minta komplit dari pot, tanah kompos hingga tanamannya. Ya iya lah, masa mau dibedol tanamannya? Hahahaa.

Kata tetangga lagi, itu artinya saya akan selalu keluar duit dari kantong sendiri. Misalkan saya mau menjual beberapa tanaman koleksi yang sama, ada pemasukan untuk membeli kebutuhan kebun. Dan yang paling asik adalah saya bisa juga membeli tanaman baru yang belum saya miliki. 

Waktu itu mulai banyak yang menyukai tanaman anthurium, aglaonema, anggrek dendro dan bulan, serta adenium. Saya termasuk sukses menyemai benih bunga anthurium. Dari satu bonggol, bisa menjadi anakan berjumlah sampai seratus lebih. 


Bonggol bunga anthurium gelombang cinta
yang bisa diambil dan disemai

Suatu ketika anakan anthurium yang ukuran 30 centimeter, diminati pedagang tanaman hias yang tengah pameran di Taman KB (sekarang menjadi Taman Indonesia Kaya). Waktu itu saya punya anakan ukuran 30 cm sebanyak 40 pot. Dan semuanya diambil oleh bapak Adi (nama samaran) dengan dibayar tunai. Betapa girangnya saya karena menerima total pembayaran sebesar 1.300.000 rupiah. Itu adalah pembayaran dari anakan ukuran 30 dan ukuran 60 cm sebanyak masing-masing 40 dan 10 pot.


Pict. Flona
anakan gelombang cinta

Anakan gelombang cinta ukuran sedang yang di gambar itu posisi di bawah, harganya (2006/2007) 35 ribu. Sementara yang ukuran agak besar, di atas gelombang cinta ukuran kecil. laku dengan harga 100 ribu.

Setelah itu kayak ada promo dari mulut ke mulut, mendadak ada orang yang saya tidak kenal mendatangi rumah saya. Hampir tiap hari ada aja orang yang membeli tanaman anthurium dan aglaonema. Saya aja bingung mereka dari mana tahu tentang domisili dan koleksi tanaman di rumah. Saya nggak penah curiga dan langsung aja membukakan pintu menuju halaman belakang. Karena mereka memang ingin memilih sendiri tanaman yang akan dibeli.

Hingga suatu hari ada dua orang yang ngakunya kolektor ingin membeli indukan anthurium gelombang cinta milik saya yang ukuran daunnya udah mencapai 1 meter lebih dikit. Mereka nanya harga indukan gelombang cinta tersebut. 

Saya bengong dong. Karena indukan itu yang menghasilkan ratusan anakan yang sebagian besar udah saya jual dan duitnya membantu keuangan keluarga.

Orang itu besoknya datang lagi. Namun sebelumnya saya udah mendapat bisikan dari teman sesama kolektor kalo tanaman saya bisa dihargai sebesar 20 juta rupiah. Saya juga udah diskusi dengan suami, gimana enaknya apakah dilepas atau dijadikan indukan. Suami menyerahkan keputusan di tangan saya. Karena memang saya membeli indukan itu ketika ukurannya masih kecil, sekitar 10 cm dan saya merawatnya hingga besar selama 3 tahunan.

Aslinya sih saya enggak rela melepas indukan tersebut. Dari kecil saya rawat hingga menjadi besar dan bisa menghasilkan anakan sampai lebih dari 700 anakan. Namun saya pernah kelepasan bicara dengan si sulung yang mau masuk SMP. Bahwa saya kalo dapat rejeki dari tanaman, akan membelikannya PC set dengan printer. 

Akhirnya dengan pertimbangan janji pada si sulung, dan harga yang udah cocok sejumlah 15 juta rupiah, saya pun melepas indukan dengan hati lara.

Pagi hari Minggu, saya terduduk di teras menatap indukan yang diangkat ke atas mobil pickup. Hati saya seperti melepas anak yang akan diasuh orang lain. 

Pasti ada yang bertanya ya, kok bisa tanaman anthurium gelombang cinta dihargai sebesar itu? Iya, saat itu memang booming anthurium dan banyak orang jadi gila dengan membelanjakan uang pada barang yang tak masuk akal nilainya. Namun tanaman yang mendapat harga fantastis itu adalah yang berkualitas. Daunnya keriting, kulit daun tebal, sehat, tidak ada luka gesekan daun, warna hijau sehat, dan tumbuh kompak daunnya. Tanaman indukan saya yang terjual memenuhi kriteria itu. 

Kabar yang beredar, tanaman indukan saya yang udah terjual itu, dibeli orang dari Jakarta seharga 25 juta. Gilak yaa. Saya aja sampe ngakak loh mendengar kabar itu. Dan booming harga fantastis itu hanya beberapa bulan aja kayaknya. 

Saya sendiri masih sibuk ngurus tanaman seperti biasanya. Namun kabar saya menjual tanaman seharga 15 juta menjadi gosip orang sekompleks bahkan sampai ke kelurahan, hahaa. Kebetulan rumah saya yang pertama ini memang dekat dengan kantor kelurahan. Ada pegawai nya yang pernah saya kasih anakan anthurium ini.

Hobi yang menyenangkan ini bikin saya jadi punya kegiatan tiap hari. Tubuh jadi sehat karena pagi-pagi udah ngurus tanaman. Pulang kerja juga yang dicari dan ditengok tanaman dulu. Anak-anak udah agak besar sih dan mereka pun kayak asisten saya, membantu ikut menyiram dan mengangkat pot-pot tanaman yang kecil yang bisa mereka pindahkan ke tempat sesuai keinginan saya.

Ahhh saya jadi bernostalgia menuliskan pengalaman saya saat berjualan makanan atau merawat tanaman. Tema arisan blogger Gandjel Rel ini memang unik. Saya senang bisa menuturkan kisah ini, sesuai permintaan pemenang arisan periode 3 yaitu mba Ika Puspita dan Novia Domi.

Bagaimana pun hobi yang menghasilkan bakal bikin hati bahagia. Cukup lah merawat hobi dengan jujur, ikhlas, dan berbaik sangka, insyaAllah pasti ada berkah di dalamnya. Saat ini di rumah saya memang tak lagi merawat tanaman seperti di rumah lama. 






Namun tanaman yang sekarang pun semoga juga membawa berkah. Ada tanaman cabe, jeruk nipis, jeruk limau, jerut purut, belimbing wuluh, sirsak, yang hasilnya juga dinikmati oleh tetangga. 


Dari Sahabat Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tetumbuhan kemudian burung, manusia, dan hewan ternak memakan buah-buahan dari pohon yang dia tanam kecuali hal tersebut terhitung sedekah baginya” (HR. Bukhari). 


Dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan kalimat “dan buah-buahan yang dicuri dari pohon tersebut, maka hal itu adalah sedekah baginya” dan juga tambahan “maka hal tersebut adalah sedekah baginya sampai hari kiamat” (HR Muslim)

Ahh tak terasa panjang juga curhat saya tentang hobi. Saya jadi penasaran pengen nanya, sahabat punya hobi apa aja? Sharing yuk, wassalamualaikum.
Reading Time:

Sabtu, 30 Desember 2017

Selamat Tinggal 2017, Tahun Yang Penuh Kesan
Desember 30, 2017 18 Comments

www.hidayah-art.com

Assalamualaikum. Pengen ngucapin Selamat Tinggal 2017, Tahun Yang Penuh Kesan dan pasti tak akan terlupakan. Tahun ketika saya dan suami mulai menjalankan pola hidup sehat. Menjaga masukan makanan untuk tubuh dan lebih banyak aktifitas fisik setiap pagi.

Beruntung ada taman yang dekat dengan rumah kami, sehingga nggak ada alasan bergerak jalan tiap pagi. Minimal lima kali dalam seminggu sudah cukup dengan jarak tempuh lima kali putaran. Hari Minggu kalo nggak ada rencana keluar kota, kami sempatkan olah raga di kawasan Car Free Day di Simpang Lima. Menyenangkan dan bikin kangen karena udah terbiasa sejak lama jalan pagi di sana.

Reading Time:

Minggu, 20 Agustus 2017

Bisnis Pengadaan Oleh-Oleh dan Perlengkapan Haji Serta Umroh
Agustus 20, 20171 Comments

www.hidayah-art.com
Photo by sandalsponmurah

Assalamualaikum. Bisnis Pengadaan Oleh-Oleh dan Perlengkapan Haji Serta Umroh. Dulu waktu resign, saya udah punya bayangan, pengen memulai usaha sendiri di rumah. Cuma waktu itu saya masih belum yakin, jenis usaha apa yang bisa dilakukan di rumah. Banyak sih maunya, ada beberapa gambaran usaha. Namun ternyata hingga sekarang tak ada satu pun yang terwujud.

Terbiasa memiliki pemasukan materi tiap bulan, bikin saya enggak mau nganggur di rumah. Anak-anak juga udah besar, ketemunya sore atau malam sepulang dari sekolah dan kampus. Jadi saya memang banyak nganggurnya sepanjang pagi hingga sore hari. Namun saya bersyukur memiliki kegiatan nulis yang bisa menghasilkan uang.

Reading Time:

Jumat, 28 Juli 2017

Tiga Jenis Buku Favorit Yang Menginspirasi
Juli 28, 20170 Comments

www.hidayah-art.com

Assalamualaikum. Ada Tiga Jenis Buku Favorit Yang Menginspirasi saya selama ini. Saya nggak mungkin memilih satu saja dari semua buku yang pernah saya baca. Karena sejak saya bisa baca pada usia balita, ada banyak bacaan yang menjadikan hidup saya begitu bermakna. 

Memilih beberapa buku juga nggak mungkin. Saya merasa pilih kasih karena semua buku yang pernah menjadi bahan bacaan, memiliki keunikan dan manfaat yang tak sama. Bahkan buku yang jelek isinya pun bisa juga menambah wawasan pengetahuan yang berbeda. Menjadi bahan introspeksi juga sih. Dan dari mana kita tahu buku itu jelek kalo belum sempat membacanya hingga halaman terakhir?

Reading Time:

Kamis, 20 Juli 2017

Traveling Seru Bareng Member Gandjel Rel
Juli 20, 20170 Comments


www.hidayah-art.com

Assalamualaikum. Impian saya adalah Traveling Seru Bareng Member Gandjel Rel. Traveling menjanjikan keseruan yang menyenangkan pasti bareng dengan member Gandjel Rel. Meski belum pernah traveling hingga berhari-hari dengan member Gandjel Rel, namun saya udah membayangkan seperti apa kehebohannya. Karena saya udah beberapa kali mengikuti event jalan-jalan sehari bareng member Gandjel Rel aja, udah berasa banget hebohnya. Jadi penasaran, pengen bisa traveling bareng mereka.

Rencananya sih usai Lebaran ini beberapa member Gandjel Rel akan traveling ke Karimunjawa.  Trus dijadwalkan sekitar bulan Agustus. Namun ternyata dari info cuaca tidak mendukung, karena angin Timur yang bikin gelombang tinggi menghalangi traveling kami. Gagal deh, hiksss. 

Reading Time:

Rabu, 12 Juli 2017

One Day Trip di Kabupaten Semarang
Juli 12, 20170 Comments


Assalamualaikum. One Day Trip di Kabupaten Semarang. Lebaran kayaknya baru kemarin, dan liburan sepertinya belum berakhir. Mungkin One Day Trip yang saya tulis ini bisa dijadikan itinerary ketika kalian singgah di kota Semarang. Cukup sehari sisihkan waktu bersama keluarga atau teman-teman, kalian bisa bersenang-senang di wisata yang dekat dengan kota Semarang. 
Reading Time:

Sabtu, 17 Juni 2017

Sahabat Dunia Akhirat
Juni 17, 20170 Comments

www.hidayah-art.com

Assalamualaikum sahabat. Pernah punya bayangan siapa Sahabat Dunia Akhirat kalian? Seseorang yang menjadi sahabat bukan hanya di dunia, namun juga insyaAllah hingga akhirat kelak? Langsung kebayang nggak siapa dia?

Ceritanya Tina pemilih blog Cerita Dandelion dan Mba Nurul, pemilik blog Parenting.id  pengen berbagi tema ArisanBloggerGandjelRel tentang Sahabat. 

Reading Time:

Minggu, 04 Juni 2017

Rindu Bersujud di Bumi Para Nabi
Juni 04, 2017 13 Comments
www.hidayah-art.com

Assalamualaikum. Ketika Rindu Mengusik Hati, apa yang mesti saya perbuat? Hikss, napa pilihan arisan periode ketiga dari Blogger Gandjel Rel bikin hati jadi baper? Karena rinduku masih belum tertunaikan. Karena rinduku terhalang oleh beberapa hal yang juga lebih penting. 

Sebenarnya rindu ini bukan milik saya semata. Suami pun juga merasakan hal yang sama. Hingga menjadi kerinduan yang saat ini hanya bisa kami hantarkan dalam setiap doa. 
Reading Time:

Jumat, 12 Mei 2017

Ice Cream Jadi Pengganti Gigi Sulung
Mei 12, 2017 15 Comments
www.hidayah-art.com

Assalamualaikum teman-teman. Ice Cream Jadi Pengganti Gigi Sulung ini menjadi kenangan masa kecil yang paling membekas di ingatan saya. Bersama Bapak lah, yang telah menemani masa kecil saya menjadi masa yang sangat menyenangkan. Penasaran gimana kenangan masa kecil saya bareng Bapak?
Reading Time: