Maret 2021 - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Senin, 29 Maret 2021

Koleksi Tanaman Hias di Bawah Harga 50 Ribu, Bisa?
Maret 29, 2021 26 Comments


Assalamualaikum Sahabat.  Pasti banyak yang mengira saya penyuka tanaman hias baru-baru ini aja. Terutama yang baru berteman dan melihat foto-foto tanaman hias di akun sosial media saya, yang lumayan sering setelah pandemi. Kalo post foto memang sejak pandemi menjadi sering saya lakukan. Namun jauh sebelum pandemi pun saya udah pernah post foto di Instagram maupun Facebook.


Namun memang sejak pandemi koleksi tanaman saya makin banyak. Bisa jadi karena kebanyakan di rumah, nggak bisa jalan-jalan, jadi perhatian tercurah ke koleksi tanaman. Karena merawat tanaman udah jadi habit sejak lama.

Koleksi tanaman
Sebelum pandemi

Sebelumya saya udah pernah menuliskan koleksi tanaman buah atau warung hidup yang ada di teras sempit rumah. Lumayan banget, saya bisa memetik kangkung, bayam, cabe, daun salam, jeruk dan daun bawang untuk kebutuhan dapur. Nggak banyak yang dipetik tapi cukup untuk kebutuhan dapur. Namun untuk cabe, jeruk limau, dan daun jeruk, ada beberapa tetangga ikut menikmati. Sedekah bisa dari tanaman yang ada di rumah ya. 


Silahkan baca : Menyiasati Tanaman di Rumah Hadap Barat


Kali ini saya ingin menuturkan tentang koleksi tanaman hias yang ada di rumah. Dan sebenarnya enggak banyak koleksi tanaman hias saya. Jauh banget jenis dan jumlahnya dibanding tahun 2008 saat masih tinggal di rumah lama. Karena di sana ada lahan yang lumayan untuk meletakkan tanaman koleksi. Jadi saya punya tanaman hias daun mapun bunga, seperti anggrek dan adenium.


Di rumah yang sekarang saya ada beberapa jenis aglonema, sri rejeki, anthurium, sirih-sirihan, sukulen, dan philo. Ada juga sih monstera tapi kali ini yang ingin saya bahas adalah koleksi tanaman hias harga murah. 


Mengapa Suka Koleksi Tanaman Hias?

Jawaban termudah dan pendek adalah karena tanaman hias bikin rumah jadi makin cantik dan adem. Jawaban terpanjang silahkan lanjutkan baca ceritanya aja ya.

Sepertinya kecintaan saya pada tanaman dimulai dari bantu Bapak nyiram tanaman saat masih usia sekolah. Kemudian bertambah ketika saya menikah dan menempati rumah bersama suami. Apalagi di rumah pertama kami tersedia lahan yang cukup luas. 


Meski saat itu masih kerja, saya selalu menanti hari Sabtu dan Minggu. Hari ketika saya memiliki waktu lebih untuk ngurus tanaman dengan lebih intens. Kesukaan saya bertambah manakala tetangga juga memiliki hobi yang sama. Nyaris sebagian besar warga di RT tempat saya tinggal suka berkebun. Dan kami suka saling tukar tanaman koleksi yang berlebih. Asik kaaan, koleksi tanaman di rumah jadi nambah tanpa beli.


Ketika booming gelombang cinta, saya terkena imbas positif nya. Karena mengoleksi tanaman gelcin dan berhasil menuai benih hingga membesarkan anakannya. Jadi kalo dihitung saya mampu menangguk rejeki dari gelombang cinta lebih dari 20 jutaan. Ini hasil penjualan indukan seharga 15 juta yang awalnya saya beli hanya seharga 13 ribu. Tapi saya merawat selama 3 tahunan. Dan sisa penghasilan dari anakannya yang sangat banyak.

Silahkan baca : Hobi Berkebun Menghasilkan Duit

Hingga suatu hari saya dan keluarga mesti pindah rumah, mendekati orang tua yang sebelumnya mondar mandir ke rumah. Kasihan karena udah tua mending kami memilih beli rumah di dekat rumah mereka.


Di sini rumahnya separo dari rumah lama. Terasnya cukup untuk naruh pot tanaman, parkir motor dan mobil. Tapi hobi saya nanam tanaman nggak seleluasa saat di rumah pertama. Jadi koleksi tanaman sengaja saya bagi dari pada gak ada tempat naruh di teras rumah. Dan saya hanya memiliki koleksi tanaman buah di pot, aglonema, dan philo. Oiya ada satu anthurium gelombang cinta dan jemani.

 

Suatu hari saat pandemi yang memaksa semua orang untuk di rumah aja. Saya yang terbiasa ikut suami ke tempat kerja, nemenin belanja kebutuhan proyek, dan jalan-jalan, mendadak diam di rumah. Saya enggak biasa nganggur sedari muda. Pengennya melakukan sesuatu yang bermanfaat. 


"Ya udah bikin rajutan lagi," saran suami.

"Bikin pizza aja, Buk," ini sih saran anak-anak.

Dan berhamburan pesan dan saran agar saya nonton Drakor, baca buku, jualan online, de el el.

Uhhhh malas banget lah. Karena kegiatan itu semua udah saya lakukan kecuali nonton drakor. Ada sih nonton drakor tema thriller. Tapi begitu selesai ya udah, saya nganggur lagi.


Hingga suatu hari, suami ngajak saya ikut ke tempat proyek nya di kawasan Ambarawa. 

"Tumben ngajakin, biasanya disuruh di rumah terus,"

Ya, sejak pandemi saya memang memilih di rumah aja. Kayaknya suami kasihan melihat saya terkurung di rumah. Padahal saya enjoy aja di rumah. Meski kadang nganggur karena saat itu barengan dengan tangan yang cedera otot jempol akibat angkat pot. Saya suka mengisi waktu nganggur dengan mindahin pot dan itu hampir seminggu dua atau tiga kali. Dan cedera itu bikin saya harus mengistirahatkan tangan. Dari bersihin rumah, masak, nyuci, semua dilakukan oleh saudara yang bantuin nyetrika selama ini. Tahu kan efeknya bikin saya banyakan bengong dibanding sibuk ngurus rumah dan keluarga.


Ah kembali ke cerita tadi ya.

Suami cerita kalo sengaja ngajak saya karena tahu bakal di lokasi proyek istrinya ini pasti hepi. Ah mana bisa? Lokasi proyek tuh biasanya panas, banyak material yang rawan bikin cedera. Masa suami ngajak saya ketika tangan masih sakit?

"Nanti kamu pasti suka, karena dekat lokasi proyek, ada toko jualan tanaman."

Jawaban suami ini bikin saya mendadak semangat. Setelah bertanya kebenaran cerita suami, saya segera ganti pakaian. Sambil nyanyi nyanyi karena senang bisa keluar rumah meski deket jaraknya.


Koleksi Tanaman Hias Nggak Harus Mahal

Harga tanaman di teras ini,
harganya di bawah 50ribu

Singkat cerita setibanya di proyek, suami menunjukkan tempat orang jualan tanaman. 

"Udah sana lihat tanaman,"

Saya bengong dong melihat beberapa kios tanaman yang seakan melambai-lambai agar segera kesana.

"Ahhh... Kalo pengen boleh beli?"

Suami mengangguk. Horeee, teriak saya kayak anak kecil diijinkan jajan, hahahaa.

Suami tahu saya cinta banget merawat tanaman. Beberapa kali saat jalan-jalan di tempat wisata dan terdapat kios penjual tanaman, saya kadang belanja tanaman. 


Jadi saat di Ambarawa itu, suami ngurus proyek nya, sementara saya window shopping di kios tanaman. Siapa tahu ada tanaman yang menarik untuk diadopsi. Dan yang bikin saya semangat adalah harga tanaman yang dijual termasuk murah. Pas banget deh dengan hobi merawat tanaman sekarang ini, yaitu pilih yang murah. Alasannya adalah karena rumah yang sekarang, saya hanya bisa meletakkan tanaman di teras depan. Beda di rumah lama dulu, saya bisa meletakkan tanaman di teras belakang. Kalo beli tanaman mahal takutnya hilang dicuri, wkwkwkk.


Saya selalu merasa berada di surga kecil tiap kali bertemu kios penjual tanaman dengan harga murah. Udah lupa deh kalo di rumah saya punya tanaman cukup banyak. Tiba-tiba saya udah mengumpulkan beberapa jenis tanaman dan membayar di ibu penjual, qiqiqiii.


Kebanyakan di rumah juga bikin saya doyan belanja online. Awalnya belanja wajan, dandang untuk kukus siomay atau pisang (langseng). Eh lama-kelamaan belanja tanaman juga.


Dari bulan Mei hingga September 2020 (selama pandemi), ada 11 kali belanja tanaman. Saya memilih belanja tanaman online karena dua alasan. 

- Harus di Rumah Aja

- Harga tanaman di toko offline sejak pandemi melambung, tapi di toko online harga tetap

Untuk keaslian tanaman, kualitas nya, dan ukuran atau usia tanaman bisa dicek di kolom review masing-masing toko online. Jadi tips sukses belanja tanaman online memang harus mau telaten baca review nya.

Akhirnya suami bikin rak
untuk naruh tanaman saya yg makin banyak 😍

Berikut ini beberapa tanaman yang saya beli selama pandemi dengan harga di bawah 50 ribu rupiah.


- Sri Rejeki atau Diven



Saya beli dari harga 10 ribu - 30 ribuan. Yang harganya 30 ribu udah ada anakan berjumlah 2 sampai 3 batang.

- Philodendron

Banyak jenis Philo yang ada di pasaran. Saya hanya punya yang harganya murah. Ada Philo lemon, black cardinal, dan yang paling murah adalah philo burle mark.




Philo burke Marks
Perawatan gampang, harga murah

Tanaman ini saya beli dalam kisaran harga 15 - 25ribuan. Saya hanya beli satu tanaman, tapi suka mencacah agar jadi banyak. 

- Photos atau keluarga Sirih


Tanaman sirih ini juga saya beli dengan harga 10 ribu. Tadinya cuma satu pot. Kemudian saya potong dan jadi 5 pot. Sekarang udah berkembang jadi 9 pot dan rimbun daunnya.

Selain itu ada sirih Brazil, sirih badak, yang udah saya pecah atau potong dan saya bagikan ke adik dan sepupu.

Sirih Brazil


- Monstera Adansoni

Banyak yang menyebut tanaman ini janda bolong. Mungkin diterjemahkan dari nama aslinya yaitu Rondo Bolong. Katanya berasal dari pengucapan ron do bolong atau artinya daun yang bolong atau berlubang.


Saya beli tanaman ini seharga 13 ribu rupiah. Sudah saya pecah dan dibagikan ke adik dan sepupu.

- Caladium

Nah ini ada yang saya miliki dari ngambil di pinggir jalan di tengah hutan. Yang warnanya pink dan ada totol-totol putih nya.


Namun yang lainnya ada yang dikasih saudara. Ada juga yang beli dari harga 10-15 ribuan.



Tanaman nggak harus punya dan beli dengan harga mahal. Sayang duitnya terlebih bila kalian masih terbilang baru terjun menjadi kolektor tanaman hias. Beli tanaman yang harganya murah. Kemudian pelajari cara merawat dan mengembangkan nya, kalo berhasil bisa naik kelas dengan beli tanaman yang lebih mahal.

Nah ini bisa jadi solusi juga bagi kalian yang ingin mengoleksi tanaman tapi sayang kalo harganya mahal. Takut nanti tanamannya mati.


Tanaman hias dengan harga murah juga nampak menarik bila kita pintar merawatnya. Bukankah memiliki tanaman hias adalah untuk menghibur hati? Kalo beli tanaman dan kemudian mati, malah bikin hati sebal, buat apa koleksi tanaman harga mahal? Wassalamu'alaikum.

Reading Time:

Kamis, 25 Maret 2021

Mengapa Ikan di Cagar Alam Telaga Ranjeng Tidak Boleh Dipancing?
Maret 25, 2021 31 Comments


Assalamualaikum Sobat. Hari Minggu tanggal 21 Maret 2021 kemarin saya baru saja berkunjung ke tempat salah satu wisata di kawasan Desa Pandansari, Payugayangan, Brebes. Ceritanya saya dan anak-anak nemenin babe yang sedang survey untuk satu pekerjaan di Bumiayu. Nah pulangnya itu kami diajak mampir jalan-jalan gitu, Sob. Karena ternyata survey nya nggak lebih dari sejam. 


Minggu pagi pukul 9 itu mobil melaju ke arah daerah Paguyangan. Menyibak keramaian pasar Bumiayu yang macet, bercampur kesibukan orang-orang yang tengah berbelanja kebutuhan dapur ataupun untuk warung mereka. Kami harus menahan diri agar tak menggerutu manakala angkot dengan sembarangan menyabot jalur mobil. Namanya juga angkot, suka-suka pengemudinya lah ya. Dan katanya orang sabar banyak rejekinya, aamiin.


Akhirnya keruwetan jalan raya di jalan Pangeran Diponegoro terurai, ketika mobil melintas menuju Kecamatan Paguyangan, Brebes. Tepatnya di kawasan Kaligua. Tempat yang berada di ketinggian1.563 Mdpl.


Namun sebelum tiba di kawasan kebun teh Kaligua, saya tertarik melihat sisi kiri jalan. Di sana ada beberapa warga yang sepertinya berasal dari luar daerah seperti kami, berdiri di tepi perairan mirip telaga. Yang menarik adalah terdengar suara kecipak air padahal nggak ada perahu yang ada di atas air. Suara apakah itu? Saya penasaran dong.


Telaga Ranjeng di Pandansari

Tidak terpikirkan oleh saya kalo tempat itu merupakan kawasan wisata. Lokasinya di pinggir jalan Desa Pandansari, Bantang Kawung, Brebes. Jalur ini bakal kalian lewati bila menuju tempat wisata Kebun Teh Kaligua. 


Selama perjalanan saya memandang  lurus ke arah jalan di depan mata. Saya jadi nggak memperhatikan sisi kiri saat tiba di dekat kawasan Telaga Ranjeng. Hanya saya sempat berujar, ada apa sih kok orang ngelihat ke kawasan berpagar? Dan tempatnya memang nggak terlihat kayak tempat wisata lainnya. 



"Itu Telaga Ranjeng, Buk," balas si bungsu.

Ah percaya deh karena matanya menatap layar gawai. Kata si bungsu lagi, Telaga Ranjeng yang dikelola oleh Perhutani Pekalongan Timur ini didominasi pohon damar dan pinus. Telaga seluas 48,5 ha ini berada di kaki Gunung Slamet. 

"Yuk turun dulu sebentar," ajakku pada suami.

"Nanti aja sepulang dari kebun teh," 

Jawaban suami diiyakan anak-anak karena tujuan pertama kami memang ke kebun teh. Baru nanti sepulang dari kebun teh lah kami akan mampir ke Telaga Ranjeng. Kebetulan kami di kebun teh juga nggak cukup lama. Karena suasana di kebun teh tidak sejuk seperti bayangan saya sebelumnya. Setelah ngemil jajanan yang sengaja saya siapkan dari rumah, dan jalan ke Tuk Bening, kami keluar dari Kebun Teh Kaligua. Tulisan saat kami wisata di kebun teh Kaligua akan saya tulis setelah ini.


Jadi sekitar pukul 11 sepulang dari kebun teh, suami menghentikan mobilnya di tempat parkir seberang telaga. Udara lumayan sejuk. Saya memperhatikan beberapa pengunjung sekitar 4 orang tengah jongkok di tepi telaga. Hanya si sulung yang nemenin saya menuju tepi telaga. Suami dan si bungsu melihat dari luar di balik pagar.


Suami in action πŸ˜‚

Untuk memasuki kawasan telaga, saya cukup mengisi kotak sumbangan yang diletakkan di dekat pintu masuk. Di sisi kiri ada bapak-bapak yang berdiri dengan kotak kardus yang isinya beberapa bungkus roti. Rupanya roti itu sengaja dijual pada pengunjung yang datang ke lokasi telaga.


Saya penasaran buat apa si bapak jualan roti deket telaga? Mengapa si bapak tidak berjualan aja di deretan warung yang letaknya di tempat parkir? Karena di sana memang ada deretan warung yang menjual roti, air mineral, permen, dan jajanan lainnya.  


Ternyata si bapak memang sengaja jualan roti di tepi telaga untuk pengunjung yang ingin memberi makan ikan. Ada dua jenis roti, yang ukuran agak besar harganya 10 ribu. Sementara yang kecil harganya 5 ribu. Saya pun membeli satu bungkus roti yang seharga 5 ribu.


Kalo kalian amati, foto yang saya ambil ini menampakkan sekumpulan ikan dalam jumlah yang sangat banyak. Kebanyakan ikan koi, ikan mas, dan saya nggak tahu ikan apa lagi. Ikan-ikan itu bergerombol seakan menanti pengunjung memberi sepotong roti. Dan mereka akan berebut roti itu. Saya sempat kaget saat roti yang saya lempar langsung ditangkap seekor ikan. Dia melompat gitu hingga terdengar suara kecipak air saat tubuhnya jatuh ke permukaan telaga. 



Saya kaget dan berteriak kecil. Si sulung yang mendamping bilang,"Kan aku udah bilang, Ibu jangan terlalu dekat di tepi telaga." 


Iya sih, ikannya kayak beringas gitu. Mereka semangat saat menangkap setiap roti yang dilempar oleh pengunjung. Lucu sih melihat ikan-ikan itu kayak rakus menyerobot tiap roti yang dilempar pengunjung. 


Cagar Alam Telaga Ranjeng

Dari seorang bapak yang saya wawancara, menceritakan bahwa telaga itu udah lama ada. Jauh sebelum kemerdekaan negeri ini, sekitar tahun 1920an gitu. Konon katanya telaga ini merupakan pemandian tokoh kerajaan di Jawa Tengah.


Dahulu telaga ini merupakan habitat ribuan ekor lele dan ikan nila berukuran raksasa saking besarnya. Dan yang anehnya adalah tidak ada orang yang menabur bibit ikan di sana. Warga sekitar juga nggak ada yang berani mengambil ikan di telaga untuk dikonsumsi ataupun dijual. Memang ada mitos yang menyatakan kalo ada orang yang mengambil ikan tersebut akan sakit. Kecuali dia mengembalikan ikan tersebut ke telaga. 



Itu sebabnya ikan di telaga ini sangat banyak dan berukuran besar. Karena memang tidak ada orang yang berani mengambil atau memancingnya. Orang yang datang kesana hanya memberikan makan sebagai hiburan. Atau menikmati suasana telaga yang asri dan sepi dari hiruk pikuk dunia. 


Dari si bapak pula saya mendengar tentang mitos ikan yang nggak boleh dipancing. Pengunjung hanya boleh memberi makan.  Sambil menikmati suasana tepi telaga yang asri, saya meminta si sulung mengambil gambar. Tapi saya sengaja hanya memintanya motret telaga. Saya nggak ingin foto di depan telaga karena kondisi lokasi yang tak leluasa untuk foto-foto. 


Mendadak ada pengunjung yang lumayan banyak, rombongan menggunakan mobil kapasitas 16 orang. Jadi kami memilih keluar pagar dan kembali ke mobil. Situasi pandemi memang mengharuskan setiap orang jaga jarak. Cuma selalu ada orang-orang yang tidak peduli dengan aturan ini. Sedih loh.


Melihat lokasi Telaga Ranjeng sebenarnya bisa menjadi tempat wisata yang menarik. Udara pegunungan yang sejuk, terletak di hutan lindung, dan air telaga yang tenang, layak dijadikan tempat untuk menyepi. Sayang pengelolaan sebagai tempat wisata kurang maksimal aja. Atau bisa jadi memang hanya diperuntukkan sebagai cagar alam, jadi sengaja nggak dibuka untuk tempat wisata. Namun kalo memang sebatas itu, mestinya pagar dipasang gembok. Agar tidak dikomersilkan sebagai tempat wisata.


Dari laman wikipedia tentang cagar alam Telaga Ranjeng ini, justru tertulis kisah unik. Konon menurut cerita turun temurun, di telaga yang memiliki kedalaman 3 meter ini terdapat ribuan ikan lele. Ikan ini dianggap sebagai penunggu telaga. Dan ikan lele ini ukurannya raksasa karena tidak pernah diambil oleh warga. 


Pernah ada seorang pengunjung yang mengambil ikan lele tersebut. Nah, begitu sampai di rumah tuh orang ini jatuh sakit. Katanya lagi, ikan lele itu dia pulangkan lagi agar bisa sembuh. 


Benar atau tidak cerita ini, saya nggak tahu. Karena saya tergolong menggunakan logika, malah balik nanya kepada si penjaga, trus yang balikin ikan lele siapa tuh? Tetangga, saudaranya, atau siapa? Bayangan saya lagi, bawa ikan lele dari telaga menuju rumahnya emang nggak resiko si ikan mati ya? Hihihiii, saya emang sejak kecil suka banyak nanya gitu kalo mendengar atau membaca berita yang tidak masuk akal.


Namanya juga mitos, bisa benar atau tidak. Kalian boleh percaya atau tidak, bebas sih. Tapi meski nggak percaya tetep dong menghormati kepercayaan warga setempat. Sebagai tamu sudah selayaknya menjaga sikap dong.


Oiya ikan lele yang dulunya banyak, saat ini sudah nggak terlihat. Kemarin saya hanya melihat ikan mas dan ukurannya besar semua. Ya gimana coba, setiap pengunjung yang datang selalu memberi makan pada ikan-ikan itu. Dan mereka bisa hidup bebas tanpa terganggu. Ikan-ikan itu senang banget mendekati pengunjung. Saya aja sempat kecipratan air telaga gara-gara si ikan bersemangat loncat. Seakan ingin menerkam roti yang saya lempar. 

Dasar telaga terlihat, airnya jernih

Kebetulan sepulang dari Bumiayu ini, kami mampir ke rumah adik di Tegal. Dari ceritanya, belum tentu juga setiap pengunjung bisa menjumpai ikan-ikan mas ini. Karena dulu dia pernah mampir ke Telaga Ranjeng dan tidak nampak ikan satupun. Makanya waktu saya tunjukkan video saat di lokasi, adik saya seneng banget. 


"Kok bisa sih aku nggak lihat ada ikan satu pun?!"

"Yaaah lagi nggak beruntung aja, atau bisa jadi saat kemarau. Jadi ikannya memilih tinggal di dasar telaga."

Adik saya bilang, saat kesana ada airnya sampai dekat pagar. Tapi memang nggak nampak ikannya. Kalo airnya surut pasti jarak daratan dengan pagar lumayan jauh.


Nah kembali lagi ya adik saya belum beruntung. Karena waktu saya kesana, ikannya buanyaaakkk. Saya dan si sulung sampai senang nebar roti yang kami beli dari bapak penjaga.


Fasilitas Telaga Ranjeng

Kalo saya melihat kekurangan Telaga Ranjeng ini adalah, tidak adanya tempat yang lumayan asik untuk ambil foto. Apalagi kalo pengunjung lebih dari 10 orang dan situasi masih pandemi. Kondisi normal aja orang bakal berdesakan karena daratannya memang sempit. 



Saya membayangkan ada perahu yang bisa disewa untuk berkeliling telaga. Pasti syahdu banget kan, menyusuri perairan tenang sambil menikmati hutan yang hijau rimbun. Tempatnya asri, cukup sejuk, dan menentramkan jiwa. 


Di seberang telaga yang merupakan lahan parkir, ada deretan warung. Kalian bisa membeli jajanan, mie instan, air mineral, atau kopi sachetan. Saya kurang tahu harga makanan di warung-warung ini karena memang nggak beli jajanan di sana. Setiap pergi saya sudah menyiapkan jajanan dan makanan dari rumah. Kalau beli juga biasanya di minimarket kompleks perumahan atau pinggir jalan. Itu juga biasanya air mineral atau cemilan ringan.


Karena hanya memberi makan ikan, tentu saja kehadiran kami nggak lebih dari 10 menit. Setelah itu kami segera melanjutkan perjalanan keluar dari Desa Pandansari, Brebes. 


Sepulang dari Desa Pandansari kami menyempatkan mampir di salah satu masjid untuk shalat Dhuhur. Baru lah kami kulineran sate blengong, makanan khas Brebes yang saya rindukan. Dahulu saya pernah menyicipi kuliner ini. Nanti saya tulis cerita kulineran sate blengong dalam tulisan selanjutnya. Wassalamualaikum.


Sumber Materi :

- Pengalaman Saat Berkunjung ke Lokasi

- id.wikipedia.org/wiki/cagar_alam_telaga_ranjeng

Reading Time:

Rabu, 17 Maret 2021

Mengajukan Kartu Kredit Online? Bisa Pakai 2 Cara Mudah Ini
Maret 17, 2021 23 Comments


Assalamualaikum Sobat. Situasi pandemi seperti sekarang tak menyurutkan kita untuk tetap semangat berkreasi dan berkarya. Terlebih bila kita memiliki usaha meski di rumah aja tetep kok bisa berlangsung lancar. Semua kegiatan bisa dilakukan di rumah sepanjang ada terjangkau fasilitas internet untuk online. Bahkan untuk mengurus pembayaran juga bisa dilakukan dengan cara online.


Di masa pandemi seperti sekarang ini, mengajukan kartu kredit online merupakan salah satu solusi terbaik. Terlebih lagi pengajuannya sangat mudah hanya dengan mengunjungi website CekAja.com. Lalu bagaimana cara untuk melakukan pengajuan kartu kredit online dengan praktis dan tanpa repot?


Apa Itu Kartu Kredit?

Kartu kredit sudah menjadi salah satu jenis alat pembayaran sejak zaman dulu yang dapat memudahkan seluruh proses transaksi kalian. Sekaligus bisa sangaaat membantu meringankan kondisi finansial kalian pada saat ini.



Untuk bisa memiliki kartu kredit saat ini pun terbilang sangat mudah. Kalian bisa mendatangi banknya langsung untuk melakukan pengajuan atau mengajukan kartu kredit online melalui website CekAja.com yang telah terintegrasi paling tidak dengan 18 bank yang menyediakan layanan kartu kredit.


Tetapi, sebelum kita membahas perihal bagaimana cara pengajuan kartu kredit online maupun offline, ada baiknya kalian mengetahui lebih dulu apa saja yang menjadi keuntungan utama ketika mempunyai kartu kredit. 


Beberapa keuntungan mempunyai kartu kredit diantaranya sebagai berikut :

- Lebih nyaman dan praktis

- Ada banyak penawaran menarik dan berbagai jenis manfaat lainnya

- Menjadi alat pembayaran yang sangat aman

- Membantu sekali ketika dalam kondisi darurat

- Memberikan garansi tambahan atas barang-barang yang dibeli

- Seluruh jenis pengeluaran kalian bisa terlacak dengan baik

- Memudakan segala jenis transaksi yang dilakukan secara online

- Dapat digunakan di belahan dunia manapun.

Walaupun memiliku keuntungan yang sangat banyak, tetapi tetap saja kalian harus menggunakannya dengan sangat bijak. Sebab, sekalipun keuntungan yang ditawarkan banyak, tetapi penggunaannya sampai khilaf, maka akan memberikan dampak merugikan.


Keuntungan Membuat Kartu Kredit Online

Jika bicara tentang kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh kartu kredit memang tidak pernah ada habisnya. Maka tak heran jika semakin banyak orang yang mau membuat kartu kredit. Namun di era tekonologi yang serba canggih seperti sekarang ini, pengajuan kartu kredit online pun menjadi sangat mungkin dilakukan. 


Lantas apa yang membuat kartu kredit online lebih memiliki banyak keuntungan dibandingkan karu kredit yang dibuat secara offline?

* Jauh lebih mudah dan sederhana

* Sangat menghemat Waktu

* Keamanan terjamin


Tetapi, sebelum kalian mengajukan kartu kredit online, ada beberapa data yang setidaknya harus disiapkan lebih dulu. Tentunya penting dilakukan untuk membantu proses pengajuan kalian di-acc lebih cepat. Nah, apa saja?

- Data yang menyangkut Identitas Pribadi

- Kontak hp aktif yang mudah dihubungi

- Bukti dari Identitas Pribadi

- NPWP

- Serta bukti dari slip gaji atau penghasilan

- Panduan Membuat Kartu Kredit Secara Online


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tidak hanya bisa diajukan secara online, tetapi kalian juga bisa mengajukan kartu kredit online. Namun semua tahapan di bawah ini bisa dilakukan apabila kalian sudah menyediakan seluruh data yang telah disebutkan sebelumnya dengan lengkap.

 

Apabila sudah lengkap, maka kalian bisa langsung mengajukan kartu kredit online melalui website CekAja.com dan platform-platform e-commerce lainnya atau mungkin melalui website resmi dari banknya. Dalam pembahasan kali ini, kita akan bahas soal pembuatan yang dilakukan dari Cek Aja.com dan via website banknya secara langsung.


Via CekAja.com



Adapun tahapan-tahapan pengajuan kartu kredit online via CekAja.com, bisa melalui beberapa tahapan berikut ini:

- Membuka website https://www.cekaja.com/kartu-kredit

- Kemudian memilih jenis kartu kredit yang sesuai dengan kebutuhan , baik itu perihal promosinya, rewards yang akan didapatkan, biaya admin, jenisnya dan lain sebagainya.

- Kalian juga bisa memilih kartu kredit yang sesuai dengan gaji atau bank yang diinginkan.

- Kemudian akan keluar pilihan jenis kartu kredit dan kalian bisa pilih bank yang sesuai dengan keinginan.

- Setiap pilihan kartu kredit biasanya akan menampilkan beberapa deskripsinya, baik itu bunga, biaya tahunan sampai dengan keunggulan.

- Apabila kalian tertarik dari pada salah satu produk kartu kredit dari salah satu bank, maka silakan mengklik ‘Ajukan Sekarang’.

- Hal berikutnya yang harus dilakukan yaitu mengisikan informasi yang tersedia di bagian kolom formulir pengajuan kartu kredit online yang mencakup nama, tanggal lahir, nomor hp, jenis pekerjaan, penghasilan per bulan, dan lain-lain, kemudian klik ‘Ajukan Sekarang’.

- Terakhir, kalian hanya tinggal menunggu waktu sampai akhirnya CS dari CekAja.com menghubungi kalian.


Via website masing-masing bank

Selain melalui website CekAja.com, kalian juga melakukan pengajuan kartu kredit online melalui website masing-masing bank. Sebaiknya, tentukan lebih dulu bank mana yang ingin diajukan untuk membuat kartu kredit online. 


Setelah menentukan bank mana yang dipilih, maka hal berikutnya yang harus dilakukan yaitu melakukan pengajuan kartu kredit online sesuai dengan instruksi dari bank tersebut. Kemudian tunggu hingga bank yang bersangkutan menghubungi kalian untuk proses lebih lanjut.


Pembayaran Tagihan Kredit

Sebelum memutuskan melakukan pengajuan kartu kredit online, sebaiknya kalian harus tahu lebih dulu bagaimana cara melakukan pembayaran tagihan dari kartu kredit. Ada dua cara yaitu melalui jaringan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) langsung atau melalui transaksi bank online seperti melalui m-banking. Tetapi, bisa juga dilakukan melalui akun rekening bank yang tidak jauh berbeda dengan penerbit kartu kredit.


Selain itu, ketika kalian menggunakan kartu kredit, terdapat istilah limit. Apa itu limit? Limit maksudnya penggunaan dana maksimal yang diberikan pada kartu kredit kalian. Setiap penerbit kartu pasti akan memberikan limit pada setiap kartunya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.


Tidak hanya itu, ada juga beberapa indikator lain yang menentukan limit pada kartu kredit kalian. Di antaranya yaitu total pendapatan tahunan, jenis kartu yang kalian pilih dan catatan penggunaan kredit yang baik.


Maka dari itu, sebelum kalian memutuskan untuk mengajukan kartu kredit online, hal-hal semacam ini tidak boleh terlewat begitu saja. Karena sangat penting ke depannya. Kalian bisa mendapatkan segala kemudahan dalam pengajuan kartu kredit online hanya dengan mengunjungi https://www.cekaja.com/kartu-kredit


Nah, mudah banget ya pengajuan kartu kredit sekarang ini. Sangat membantu untuk kalian yang memiliki usaha dan ingin menaikkan omzet pada event tertentu. Seperti menjelang Ramadhan dan Lebaran, masyarakat akan membelanjakan uangnya untuk kebutuhan selama waktu istimewa ini. Dana dari kartu kredit bisa untuk menambah kekurangan modal. Yang penting segera lunasi begitu mendapat penghasilan dari event istimewa ini. Wassalamualaikum.

Reading Time:

Kamis, 11 Maret 2021

Resep Pastel isi Ragout Pasti Jadi, Kriyuk Renyah dan Gurih
Maret 11, 2021 25 Comments

Assalamualaikum Sobat. Beberapa bulan ini saya lagi hepi bisa kembali aktif di dapur. Alhamdulillah meski jempol yang dulu pernah nongol otot atau tulangnya, bisa diajak kerjasama. Saya bisa kembali menghadirkan masakan dapur rumah di meja makan. Meski sesekali pernah juga saya nyeri dikit di bagian jempol. Kalo kata suami, otot yang pernah terkilir nggak mungkin bisa sembuh seratus persen. Pasti sesekali muncul rasa sakit.


Gak apa sih yang penting saya udah bisa mulai rajin turun dapur. Bisa mencoba resep baru atau menghidangkan kembali menu lama. Bahkan saya makin rajin bikin cemilan. Berasa de javu sih karena saat anak-anak dalam masa pertumbuhan dulu, saya sering bikin cemilan. Apalagi anak saya cowok semua dan mereka suka dengan apapun yang disajikan di meja makan. Yang punya anak cowok pasti tahu betapa cepatnya mereka ngomong lapar tiap sejam dua jam. 


Naaah ... salah satu cemilan yang sekali lagi saya bikin adalah pastel isi ragout wortel dan kentang. Tanpa ayam juga tapi rasanya enak, gurih, dan kulitnya bisa krispi. Karena memang bikinnya dadakan (bukan tahu bulat tapi ya), jadi saya gunakan bahan yang ada di kulkas.



Yuk saya tuliskan aja ya resep dan cara bikinnya.


Resep Pastel Isi Ragout Tanpa Ayam, Bisa Tetap Enak


🍳 Bahan isi :

- 150 gram kentang dipotong kotak kecil

- 150 gram wortel dipotong kotak 

- seledri iris2 secukupnya


🍳 Bumbu halus :

- 3 siung bawang putih

- 1 sdt lada halus

- 1 sdt kaldu bubuk

- 50 ml susu cair plain

- 100 ml air

- Secukupnya garam

- 1 sdt maizena larutkan dengan sedikit air

- sdt bubuk kari (optional, aku gak pakai)


 πŸ³Cara membuat Isian Pastel :

Tumis bumbu halus sampai wangi, masukkan ayam (saya gak pakai), wortel, kentang, tumis sampai setengah empuk, tambahkan air, susu cair, kaldu, garam, bubuk kari, masak sampai empuk. 


Tambahkan larutan maizena, masak sampai kental, koreksi rasa, angkat dan dinginkan.


Karena di kulkas gak ada stok ayam, saya gunakan kaldu bubuk Royco ayam. Kebetulan kemarin saya udah punya stok kaldu ayam Royco yang baru, yang ada kandungan garam yodium. Jadi nggak masalah kalo misalkan duit terbatas tetap bisa kok membuat pastel ragout tanpa ayam.


🍳 Kulit Pastel

Bahan: 250 gram tepung terigu, 1 sdt garam, 1 sdt merica bubuk,  50 gr butter (boleh diganti margarin), 110 ml air.



Cara membuat kulit pastel :

1. Campur tepung terigu dengan garam, gula, merica sampai rata.

2. Tambahkan butter aduk-aduk dengan ujung jari-jari hingga butir halus. Tuangi air & minyak sambill uleni dengan menggunakan tangan hingga tercampur rata. 

3. Uleni terus sampai adonan tidak lengket lagi.



4. Bagi adonan jadi 16, bagian. Kemudian bulatkan adonan menjadi bulatan berukuran sama.  Dan gilas adonan agak tipis, isi dengan isian, bentuk & cetak sesuai selera. Pilin pinggiran dengan cara ditekuk ke dalam dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk. Atau kalo gak bisa, kalian bisa menggunakan cetakan pastel. Kalian bisa temukan di toko penjual bahan kue, atau di pasar tradisional dan supermarket.



CARA MENGGORENG :



- Panaskan minyak sampai panas, masukkan pastel sampai mengembang, kecilkan api. Gunakan api sedang, cenderung kecil. goreng sampai matang. Angkat dan tiriskan.

- Sajikan dengan cabe rawit.



Gampang bikinnya dan rasanya tentu lebih enak dibandingkan beli di tempat jual jajanan. Ada juga sih yang rasanya tak kalah lezat dibanding buatan rumah, tapi harganya tentu juga lebih mahal. Beda ya kalo bikin sendiri, rasanya dapat tapi duit yang dikeluarkan untuk beli bahan juga gak banyak. 



Tapi kan lelah, Buk? Iyaa, memang lelah namanya juga kerja kan, nggak duduk manis aja. Tapi lelah itu terbayar bila melihat pastel yang satu persatu berpindah tempat dari piring ke perut anak-anak dan suami, hahahaha.


Sayangnya kemarin gak sempet foto tiap melakukan beberapa pekerjaan seperti nguleni atau memilih pinggiran adonan pastel. Tapi saya bikin video nya. Nanti saya upload aja di YouTube ya. Sementara foto seadanya dulu. Yuk bikin cemilan pastel di dapur rumah sendiri. Wassalamu'alaikum.

Reading Time: