2013 - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Sunday, 8 December 2013

BERANGKAT HAJI – THE SERIES
December 08, 2013 2 Comments


            Berdoa di depan ka’bah adalah salah satu cita-cita yang sudah kujalin sejak sepuluh tahun lalu. Kepulangan ibu mertua dari tanah suci telah membukakan mata hatiku. Apalagi beliau juga menyuruh pada kami, putra putrinya agar menyiapkan dana khusus untuk pergi haji. Maksudnya tentu membuka tabungan khusus haji dengan menyisihkan uang secara rutin tiap bulan.
            Kebetulan hampir tiap tahun, aku selalu menghadiri acara tasyakuran di rumah tetangga dan saudara yang akan berangkat haji. Sepulang mereka dari tanah suci, bukan buah tangan berupa makanan yang aku nantikan. Namun cerita yang mengalir tentang kegiatan selama di tanah suci yang selalu kutunggu-tunggu. Begitu banyak cerita yang menggetarkan hati hingga tak terasa mataku pun basah karena haru. Atau cerita lucu sekaligus tegang karena salah menggandeng tangan orang yang dikira pasangannya :)
            Setiap usai mendengarkan cerita tentang perjalanan haji, hati ini selalu tergelitik oleh tanya yang tak mampu kujawab, kapan aku dan suami menyusul mereka. Akhirnya pada tahun 2006 suami membuka rekening khusus tabungan haji di sebuah bank swasta. Karena meski di hati sudah terpancang niat ingin beribadah haji, tanpa menyiapkan dana di bank, bagai fatamorgana yang sulit sekali direngkuh.
            Banyak orang yang bilang, ia sudah niat di hati untuk pergi haji. Namun ternyata tak menyiapkan dana khusus untuk biaya pergi haji.  Tentu saja tabungan yang digabung ini bisa saja sering diambil untuk keperluan lain, seperti untuk biaya pendidikan, membantu ortu atau saudara, renovasi rumah, dan sebagainya. Hingga biaya setoran awal ONH tak pernah bisa terkumpul.
            Menurutku, juga suami, niat berhaji memang harus menyediakan dana khusus yang tak bisa diutak-atik untuk keperluan lain.  Setelah membuka rekening khusus ini, kami sempat mengalami pasang surut dalam keuangan keluarga. Usaha suami yang mengalami colaps hingga modal usaha yang ludes, telah mengganggu setoran rutin di rekening ini.
Namun kami selalu memiliki keyakinan bahwa setiap hamba yang menafkahkan rezekinya untuk menegakkan Islam, Allah Swt akan selalu memberi pertolongan. Alhamdulillah setelah empat tahun membuka rekening tabungan haji, Allah Swt memudahkan urusan kami untuk biaya setoran awal ONH. Saat itu setoran awal sebesar Rp. 25.000.000,-. Jadi kami harus menyediakan uang sebesar 50juta agar dapat memperoleh porsi keberangkatan.
Berdoa di depan Ka'bah menjadi cita-cita kami
Waktu suami mendaftar haji di kantor Depag kota Semarang, kami cukup terkejut. Daftar tunggu keberangkatan haji kami mencapai empat tahun. Saat itu tanggal 22 Juli 2010, dan jadwal keberangkatan kami adalah tahun 2014. Itu pun katanya masuk urutan terakhir. Tetap saja kami mengucap syukur karena masih diberi kesempatan berangkat tahun 2014. Duuh, rindu kami untuk shalat di depan Ka'bah mesti nunggu lama.
Hal berikutnya yang kami lakukan adalah, mulai bertanya pada saudara dan tetangga tentang apa yang harus kami lakukan sebelum tahun keberangkatan ke tanah suci. Banyak saran dan cerita yang kami rangkum. Yang terbaik dan bisa kami teladani saja yang menjadi catatan untuk dipelajari.
Seperti misalnya bimbingan manasik haji. Setiap calon haji baru mendapat bimbingan haji dari Depag kira-kira setengah tahun sebelum berangkat. Sekitar bulan April setelah ada SK KeMenag. Bimbingan manasik haji ini sebanyak sebelas kali di kecamatan dan  empat kali di tingkat kota. Menurut kebanyakan jemaah haji, bimbingan ini jelas-jelas tak bisa menjadi pegangan untuk melaksanakan rukun dan ibadah sunah di tanah suci.
Bila ingin mendapat lebih banyak bimbingan manasik, biasanya beberapa jemaah haji menjatuhkan pilihan pada KBIH yang dikelola oleh lembaga atau perorangan. Tentu saja untuk mengikuti bimbingan manasik ini tidak gratis alias berbayar. Rata-rata mereka memasang tarif sejumlah Rp. 1.600.000,- hingga Rp. 2.000.000,-. Kalau pasangan suami istri tentu harus menyiapkan dana dua kali lipat. Padahal kebutuhan dana untuk keperluan lain masih banyak. Seperti melunasi setoran ONH, biaya tes kesehatan, menyisihkan uang untuk keluarga di tanah air hingga kalau masih ada dana sisa, mengadakan walimatul safar.
Alhamdulillah, dari seorang sepupuku, ada informasi bahwa temannya mengadakan bimbingan manasik gratis. Tentu saja tak akan aku sebutkan nama ustadz ini, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Sebabnya adalah, bimbingan manasik haji gratis ini sempat menjadi keluhan dan protes oleh beberapa lembaga yang menyelenggarakan bimbingan manasik berbayar. Mereka menyebut tempat bimbingan sang ustadz ini illegal karena tak berijin dari Depag.
Itulah, di negeri tercinta ini, niat baik kadang menuai keburukan bagi orang yang tertandingi. Jadi, mohon dimengerti bila aku merahasiakan nama dan tempat ustadz ini mengadakan bimbingan. Kecuali bila ada saudara atau tetangga teman-teman yang berniat betul-betul serius ingin mendapatkan bimbingan manasik secara gratis, call me J Aku dengan senang hati akan memberi tahu tempatnya. Eh,, tentunya yang bertempat tinggal di Semarang yaaa.
Reading Time:

Friday, 22 November 2013

LIBUR GOWES BIKIN MALAS
November 22, 20130 Comments

Beberapa minggu ini aku sedih banget. Jangan kaget ya... bukannya dimusuhi anak atau suami, enggaklaaah. Tapi karena udah lama sekali aku nggak bisa nyepeda alias ngegowes di hari minggu pagi. So, aku nggak bisa ngeramein Carfreeday di Simpang Lima sperti ini :

Bukan hanya itu. Sedihnya lagi, aku nggak bisa ikutan olah tubuh di sana. Apalagi, sekarang banyak pilihan senam aeraobic bagi pengunjung kawasan Simpang Lima dan sekitarnya. Di depan bekas gedung Ramayana yang sekarang beralih rupa jadi jualan material or kebutuhan bangun rumah. Di depan STEMBA, dekat dengan pos polisi. Atau bisa juga memilih di depan kantor Indosat, di jalan Achmad Yani.

Kalau aku sih senang ngikutin trainer yang ada di jalan pahlawan. Tepatnya di depan gedung FLEXI. Menurutku, gerakan pelatihnya bisa diikuti oleh semua tingkatan umur. Apalagi dakuw, yang udah kepala empat. Mesti hati-hati kan kalau senam aerobic?! Takutnya kalau terlalu bersemangat bisa menyebabkan cedera tulang. Mahal tuh biaya pengobatannya.

Nah minggu terakhir aku gowes, lututku cedera. Duuuh, aku bukan orang yang mudah mengeluh sakit. Tapi, cedera tulang  itu bikin pening kepala. Mirip sakit gigi. Mungkin karena sama-sama butuh kalsium untuk asupan gizinya ya. 

Penyebabnya sih karena dua hari sebelumnya udah cape. Dan minggu pagi itu aku terlalu kencang ngegowes sepeda. Oh..oh, ada lagi. Ban sepeda agak gembes. Nah, itulah yang membuatku terlalu kencang mengayuh pedal. Itu juga yang akhirnya menjadi salah satu sebab lututku terasa sakit. Terutama saat aku mengayuh pedal ke arah bawah. Aku tahan-tahan, tapi suami melihat wajahku yang diam menahan sakit. Akhirnya memintaku istirahat di pinggir jalan.

Nggak butuh waktu lama, lima menit istirahat bagiku udah cukup. Kami pun lanjut pulang. Tapi sakitnya makin terasa. Alhamdulillah, suami yang sayang pada istrinya ini (ya iyalah, hihiii...), menyuruhku agar tidak mengayuh pedal lagi. Agar kakiku tak lagi sakit, suamiku mendorong laju sepedaku. Caranya dengan menekan punggungku.

"Bersepeda bareng kamu tuh nggak bakal ngeluarin keringat. Jadi dengan mendorong gini, keringatku bakal keluar," Seru suami karena aku enggan didorong terus menerus. Malu euy...

Tapi bener juga ucapannya. Kalo dia berangkat gowes sendiri, laju sepedanya bakal mencapai jalur semarang bagian atas. Berbeda kalo denganku, paling nyampe di jalan pahlawan atawa simpang lima dan sekitarnya, hihi...

Akhirnya, sampe rumah aku hanya ngayuh bentar. Seringnya didorong oleh suami tercinta :)

Gara-gara itulah, aku masih libur gowes. Suami nggak ngijini aku gowes kalo cederanya belum sembuh. Duuuh, kangen banget nyepeda ke simpang lima. Libur gowes itu bikin malas juga. Bawaannya di rumah saat minggu pagi itu, balik ke kasur lagi buat nerusin tidur, hihihi. Maklum, kan hari biasa kagak bisa ya. Jadi inget kata-kata mb Uniek. Mending mbangkong dari pada nggowes, katanya. Mbangkong alias tidur, hihihi...

Bener emang. Kalo nggak gowes, aku juga malas kemana-mana. Ibaratnya bisa ngolat ngolet di atas kasur sambil ngayal. Mau kemana nih minggu siang nanti. Niatnya ngerancang acara jalan-jalan, tapi kenyataannya nggak terlaksana.

Ya udah istirahat aja dulu yaaaa :)


Reading Time:

Sunday, 29 September 2013

My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: BEKAL SEHAT DARI RUMAH,  TRADISI BAIK DAN MURAH

Saturday, 28 September 2013

BEKAL SEHAT DARI RUMAH,  TRADISI BAIK DAN MURAH
September 28, 2013 8 Comments
www.resepsehat.com



BEKAL SEHAT DARI RUMAH,  TRADISI BAIK DAN MURAH

            “Wah, putranya masih mau bawa bekal dari rumah? Nggak malu…kan udah magang ya?” Seorang tetangga bertanya dengan nada tak percaya.
            Aku tersenyum maklum. Apalagi si sulung sudah berusia 18 tahun. Dan saat ini ia magang kerja di PLN cabang Jatingaleh, Semarang.  Tapi ia tidak malu membawa tempat makan yang berisi masakan bundanya untuk menu makan siang di tempat magang.
Reading Time:

Sunday, 22 September 2013

Review Buku  I'm (not) Perfect  - Dian Kristiani
September 22, 20130 Comments



Penulis          : Dian Kristiani
Penerbit        :  PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit  :  2013
Tebal            : 153 Halaman, Soft Cover
Harga           : Rp. 38.500
Genre           : nonfiksi / inspirasional

Begitu buku I’m (not) Perfect terbit, satu kata yang muncul adalah ‘Surprised”. Yup! Karena, beberapa hari sebelumnya mbak Dian Kristiani sudah membuat ‘thread’ di fb-nya tentang satu dua tiga isi buku ini.

Dan, resolusiku, cie..cie...cieeee, segitunya hahaha, harus beli buku ini! Yay! Kenapa? Balik deh aku tanya, kenapa tanya? Berarti yang tanya belum baca buku ini, kasihaaaan ;D
Oke, karena rencana nulis di sini adalah untuk review buku I’m (not) Perfect. Aku tak akan berpanjang kata nulis prolognya, hihi...

Di dalam buku ini, penulis menggiring pembaca, terutama wanita agar tak men’judge’ sesama wanita atas kekurangan yang tentunya tak bisa ditolak ini. Misal, tentang tak bisa memberi ASI (ngerasa bangeeet a.k.a makjleb). Pernah aku menuduh temanku di kantor yang tak mau memberi ASI. Waktu itu aku kritik dia, tapi aku juga bantu membelikannya makanan yang kupikir bisa membancarkan ASI-nya. So, aku kan tak menjelek-jelekkannya abis-abisan, huehue.. nyesel sejuta kaliiii....

Nah, kalo masalah melahirkan secara caesar? Kebetulan teman yang sama sempet curhat, kenapa dia tak bisa melahirkan dengan cara normal? Mengapa dia harus melalui proses caesar, yang beruntung sekali dia tak keluar duit karena dapat tunjangan asuransi. Namun, banyak orang yang menuduhnya dulu bukan anak berbakti pada ortu. Hah? Apa hubungannya coba? Melahirkan secara caesar dengan durhaka pada ortu?!

Ternyata mbak DK juga mengalami tuduhan ini? Berarti mindset kebanyakan orang kudu diubah gitu? Gak tahulah saya. Yang jelas, saya tahu banget kalo teman saya adalah orang yang sangat berbakti ama ortunya. Dan permasalahan tiap wanita yang (terpaksa) memilih proses caesar, tentu berbeda sesuai kondisi tubuh dan situasi pas melahirkan.

Betewe...cerita di buku ini banyak banget yang menyentil rata-rata sikap, tingkah dan ucapan wanita pada sesama wanita. Yang merasa tersindir, harusnya berterima kasih pada mbak DK. Bagaimanapun, beliau kan sekedar curhat, tapi berhadiah. Hihihi....iya kan, karena dapat duit dari curhatannya ;D Dan buka Cuma itu. Karena curhatan ini juga bisa jadi bahan renungan kita, duh dalem bangeeet J

Terserah bila ada pembaca yang gak suka dengan curhatan a.k.a sindiran mbak DK. Hihihi, padahal beliau nulisnya meski tajam setajam silet, tapi menuturkannya dengan gaya bahasa yang mengalir. Air kaleeee...

So, meski waktu pertama saya buka-buka dulu buku ini dari awal, tengah dan akhir halaman. Karena saya bingung mana dulu yang mau dibaca, hehehe... Tapi saya seperti biasanya, akhirnya baca dari halaman pertama, urut hingga akhir.

Dan, kebanyakan sih saya setuju dengan beliau. Seperti tentang sandal yang merk ‘c....s’ ntu tuuu... Meski pertama sempet pengen beli, begitu banyak sekali yang makai meski beda merk dan jauuuuh sekali beda kasta alias harga, aku mundur beli deeh ;D Sandal sejuta umat yang beda kasta gituuuh, hihihi...

Atau soal masak! Aku sebenarnya suka masak. Tapi gimana dong kalo dari pagi udah sibuk ngurus rumah, mesti ontime kerja jam setengah sembilan pagi dan nanti pulang jam setengah lima sore. Badan udah capek lahir batin, masih disuruh nyiapin masakan untuk keluarga? Oh, sayaaang aku tahu semua yang aku lakukan pasti dapat imbalan pahala dari Tuhan (ini kataku pada suami duluuuuuu sekali) Tapi, kita harus realitis (dengan alis berkerut), karena aku bukanlah wonder woman, yang bisa bekerja dengan sekali kibasan tangan ;D Alhamdulillah, suami senang-senang saja dimasakin ama ibu mertuanya, hahaha... alias katering ama ibuku. Bersyukur banget nggak ada yang nyolot soal ini dari lingkungan rumah alias tetangga J

Ya sudahlah, kalo gitu, sebagai istri eh, wanita, nggak ada yang sempurna. Tapi, kalo saya sudah terlihat sempurna di mata suami (ini ucapan suamiku lho, sumpeeeh! ;D ), ya biarkan aja anjing menggonggong, dakuw mah tetap aja jalan seperti biasa. Hihi, kok jadi curhat sih? Tapi bener deh, manusia kan gak ada yang sempurna. Karena itu, semua ada pasangannya. Kalo ada wanita yang gak bisa masak, mudah-mudahan suaminya pintar masak. Lho?! Yah, seenggak-enggaknya ada orang terdekat yang bisa dimintai bantuan siapin makanan untuk keluarga, gitu, hihi...

Pokoke, buku mbak Dian selalu dinanti-nanti sama dakuw, dan semua penggembiranya, eh penggemarnya. Buku non fiksi yang bisa bercerita seperti novel, alias tidak menggurui. Begitu!

Moga ada lanjutannya, seperti buku yang sebelumnya. Harus!


Reading Time:

Tuesday, 17 September 2013

KEINGINAN VERSUS KEBUTUHAN
September 17, 20130 Comments
Saat pertama mendengar berita kecelakaan yang dialami oleh putra selebiritis tanah air, hingga menyebabkan 6 orang meninggal (akhirnya bertambah menjadi tujuh orang), hatiku jadi miris. Aku sih tak hendak menyalahkan si anak. Usianya masih 13 tahun (seusia anak bungsuku), namun badannya yang bongsor membuat ia pede membawa mobil ke jalan raya.

Pertanyaan yang pasti terbersit di pikiran setiap orang, apakah orang tuanya tidak tahu putranya keluar bawa mobil sendiri? Aku tak ingin membahas hal ini. Alasannya, yang pertama, kecelakaan itu sudah terjadi. Sebagai orang tua, aku yakin Ahmad Dani dan Maia pasti tidak akan mengijinkan putra-putranya yang belum cukup umur mengendarai mobil sendiri. Masalahnya adalah, apakah mereka tahu sang putra bisa menyetir? Jawaban mereka tentu saja tidak. Dan tentu saja putranya tidak bisa menyetir, kalo bisa tentulah tak ada tragedi tersebut.

Terlepas mengenai keluarga korban yang mendapat santunan biaya pemakaman, pengajian hingga beasiswa bagi anak-anak yang seketika berubah menjadi anak yatim, tentulah patut kita acungi jempol. Yang menjadi pemikiran sang orang tua adalah, trauma psikis yang pasti bakal dialami oleh putranya kelak bila tahun berapa jumlah korban meninggal akibat peristiwa itu.

Dengan tragedi ini, kita patut introspeksi. Apakah kita, orang tua yang juga tak peduli bila anak-anak kita membawa motor sendiri ke jalan raya? Apakah kita tahu dengan kemampuan anak-anak mengendarai motor/mobil di jalanan? Karena, di luar putra selebritis ini, banyak sekali kita temukan anak-anak yang belum saatnya membawa motor sendiri ke jalan raya. Alasannya beragam, nggak sekedar main motor-motoran di jalanan. Tapi juga sebagai alat transportasi ke sekolah, tempat les dan yang lainnya.

Peran orang tua memang menjadi yang utama untuk masalah ini. Aku dan suami kebetulan memiliki keputusan yang sama. Anak-anak tidak boleh membawa motor sendiri untuk keperluan apapun sebelum usia mencapai 17 tahun. Usia yang menjadi standar untuk memperoleh SIM C (Surat Ijin Mengemudi). Tentunya peraturan usia berbeda untuk SIM A/B.

Beruntung, meski kedua anakku berjenis kelamin cowok, peraturan kami cukup dipatuhi oleh mereka. Milzam baru membawa motor ke sekolah saat usianya mencapai 17 tahun. Sebenarnya kami cukup terbantu meminta putra kami mentaati peraturan ini karena pihak sekolah sendiri melarang anak didiknya membawa motor ke sekolah bila masih kelas X. Meski ada beberapa siswa yang melanggar dengan menitipkan motor di tempat parkir yang dekat dengan sekolah, Milzam tak tertarik mencobanya. Alasannya, ia malas berurusan dengan polisi di jalan raya. Juga karena ia enggan berurusan dengan pihak BP sekolah bila ketahuan bawa motor ke sekolah.

Nah, si bungsu yang sudah berusia 13 tahun dengan tubuh bongsor nyaris menyamai kakaknya, ternyata juga tidak tertarik mencoba bawa motor. Entah keluar rumah untuk urusan sekolah, ataupun ke rumah teman. Ia biasanya minta diantar atau membawa sepeda onthel. 

Aku bersyukur kedua putraku tak suka keliling kampung atau jalan raya sekedar gagah-gagahan ngebut. Karena aku tak suka melihat anak-anak yang masih di bawa umur naik motor, terlebih tanpa memakai helm pengaman. Apalagi mereka kadang memboncengkan adik atau temannya yang juga sama-sama bertubuh mungil. Batinku saat itu, anak-anakku kalah berani naik motor dibanding mereka. Padahal tubuh anak-anakku lebih bongsor dibanding teman yang usianya sebaya atau lebih tua dua / tiga tahun.

Dengan adanya kejadian kecelakaan putra selebritis, aku makin menanamkan kepatuhan berkendara pada kedua anakku. Aku dan suami menjelaskan, bahwa secara teknis, mungkin saja anak usia 10 tahun sudah bisa mengendarai motor. Tapi, secara mental, mereka belum siap. Daya pikir yang masih dimiliki hanyalah keberanian membawa motor. Otak anak-anak ini belum mampu mencari jalan keluar saat menghadapi masalah seperti kendaraan di depan yang berhenti mendadak.


Kepatuhan seorang anak bergantung lurus dengan ketegasan orang tua. Kita harus mampu menarik garis tegas, apakah anak kita sudah saatnya diijinkan membawa motor sendiri sesuai dengan keputusan yang berwenang? Karena anak di bawah usia 17 tahun, belum memiliki kebutuhan membawa motor sendiri.




Reading Time:

Friday, 30 August 2013

Jalan-jalan Ke Candi Penataran yuuuk....
August 30, 20130 Comments
Perjalanan kami sekeluarga kali ini mengunjungi obyek wisata sejarah Candi Penataran. Ini pilihan yang disepakati aku dan kedua anak lanang. Bapaknya ngalah karena usulannya ke pantai ditolak kami bertiga. Hehehe....
Reading Time:

Wednesday, 21 August 2013

BERSAMPAN KE PULAU PANJANG
August 21, 2013 2 Comments


             Setelah selama dua hari bersilaturahim dengan keluarga besar, lebaran hari kedua saatnya menikmati liburan ke tempat wisata. Destinasi yang kami pilih yang cukup dekat aja dari kota Semarang, yaitu kota Jepara. Rencananya kami akan bermain air di pantai Bandengan. Kabarnya ada pulau cantik di seberang pantai Bandengan. Hmm... kita lihat aja nanti...
Reading Time:

Friday, 31 May 2013

May 31, 2013 16 Comments
                       SARARI, DETEKSI DINI KANKER SEBELUM TERLAMBAT

Baru-baru ini aku dikejutkan dengan berita duka meninggalnya presenter favorit Nira Stania. Ya, dia termasuk presenter favorit kami, aku dan suami. Kabar duka ini mengejutkan kami karena dia meninggal pada usia yang masih muda, yaitu 38 tahun akibat penyakit kanker payudara.

Aku langsung serching di internet, bagaimana perjalanan penyakit kanker ini pada Nira Stania. Kabarnya kanker payudara yang diderita wanita cantik ini telah memasuki stadium II dan tergolong ganas.
Reading Time:

Thursday, 14 March 2013

Ekskul Bisa Menjadi Prestasi Yang Membanggakan
March 14, 2013 13 Comments
Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak-anak memiliki prestasi. Namun kami lebih senang bila prestasi itu bukan di bidang akademik, karena sebenarnya tidak ada anak pintar atau bodoh. Semua anak terlahir dengan membawa talentanya masing-masing.

Menjadi orang tua itu bisa diibaratkan sebagai pelukis. Ketika seorang bayi terlahir di dunia, kelak orang tua lah yang selalu menorehkan tinta di atas kertas masing-masing anaknya. Karena itu kita harus pintar melihat dengan cermat bakat masing-masing anak.

Kami memiliki dua orang putra yang selisih usianya 5 tahun lebih. Putra sulung kami memiliki sifat tekun dan pantang menyerah. Kata suami, niru bundanya nih :)  Sejak kecil pula dia sudah terlihat memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi. Karena usianya belum mencapai empat tahun, tapi sudah ngebet ingin ikut lomba tujuh belasan di lingkungan perumahan kami. Peserta termuda yang diijinkan ikut lomba berusia 5 tahun. Akhirnya panitia pun memberi kelonggaran untuk si sulung menjadi peserta termuda.

Si sulung pun sudah kami ikut sertakan untuk les nari (meski nggak dilanjutkan), les gambar di tokbuk Merbabu, dan les bahasa Inggris. Namun les gambarnya berhenti karena ia merasa tidak bisa menggambar dengan bagus. Hanya les bahasa saja yang diikutinya sampai lulus SD.

Naaah.... beda si sulung, beda pula si adik. Namanya juga dua pribadi yang berbeda, anak kembar aja memiliki sifat yang berbeda kan?

Sejak kecil si bungsu suka banget coret-coret di bidang kosong. Dinding rumah (lama) yang baru dicat, bisa jadi ajang pelampiasan ekspresinya. Kalau aku sih melihat aksinya ini sebagai bentuk kreatifitas, beda dengan si ayah. Anak-anak memanggilnya babe. Katanya, dinding rumah bagaikan lukisan rambut genderuwo.

Semakin bertambah usia, kreatifitas coretannya tampak mengalami kemajuan. Naufal (3 th) bahkan kreatif membuat gambar bunga pada selembar kertas dan membentuknya menjadi buket, mirip buket bunga. Dan saat emaknya ini pulang kerja, tangan mungilnya mengulurkan buket dari kertas ini. Ihik... terharuuuu, karena sore itu bertepatan dengan tanggal 22 Desember, yang diperingati di Indonesia sebagai hari ibu. Sebaga ucapan terima kasih aku memeluk dan mencium pipinya yang 'gembil'.

Kalau si sulung kadang-kadang dibantu mengerjakan tugas ketrampilan saat usia SD, si bungsu ini mandiri banget. Dia marah bila kami membantunya. Kadang kami mesti bertengkar dulu. Akhirnya kami mengalah dan mengamati dari dekat. Ternyata, hasilnya malah lebih bagus dari pekerjaan kami. Tugas ketrampilan apa saja bisa dikerjakan sendiri. Dari membuat layang-layang, kitiran (apa sih bahasa Indonesianya? hihi), mobil-mobilan dari gabus, asbak dari sabun mandi batang hingga kalung dari sedotan.

Suatu malam, saat usianya menginjak 8 tahun, kami dibuat terpana. Menjelang tidur, kami nonton tivi sambil rebahan di tempat tidur. Pandangan kami terpaku pada halaman buku gambar milik Naufal. Ada gambar Naruto di atas kertas yang belum selesai diwarnai. Semula aku mengira gambar itu dijiplak dari komiknya. Tapi saat si bungsu membuat lagi di selembar kertas, kami langsung kaget. Meski ia meniru gambar itu, tetap saja bagi kami itu sebuah prestasi. Tidak setiap anak bisa menggambar sebagus anak kami kan?

Kami memberi pujian bukan sekedar kata. Tapi, kertas bergambar Naruto made by Naufal itu kami robek dan menempelnya di kaca meja rias. Sungguh, kami begitu bangga dengan kemampuannya ini.

Namun, sayang sekali ia tak mau diikutkan dalam kursus menggambar ataupun mengikuti lomba. Istilahnya, suka-suka dia. Jadi, yang bisa kami lakukan adalah, menyediakan sarana untuk melampiaskan hobi gambarnya. Seperti buku gambar segala ukuran, pinsil warna, crayon, spidol, pensil gambar, dan peralatan lain yang mendukung hobinya. Saking asyiknya, bisa saja dia mengekspresikan coretannya di buku tulis. Alasannya, buku gambar yang kosong sudah penuh gambar.  Kebetulan, saya selalu menyimpan beberapa buku tulis, buku kotak, buku halus dan peralatan tulis.

Ketrampilannya ini ternyata berbuah manis saat ia menginjak bangku kelas VII di sekolahnya sekarang, di SMP IT PAPB Semarang. Sekolah ini memberikan waktu khusus pada hari sabtu untuk menyalurkan hobi siswanya. Seharian itu siswa yang telah bergabung dalam ekskul pilihan masing-masing, mengikuti kegiatan dengan bimbingan guru.

Saat menulis ekskul pilihan pada awal MOS yang dilakukan di rumah, kami sempat beradu argumentasi. Naufal sejak awal memilih ekskul Komputer dan KIR Sosial. Pilihan kedua tidak jadi masalah buat kami, karena ekskul ini bisa mendidik si bungsu agar peduli dengan masalah sosial di lingkungan tempat tinggal dan sekolah. Berbeda dengan pilihan pertama, yang membuat kami jutek.

Alasan kami tidak setuju adalah, si bungsu bisa duduk di depan komputer selama berjam-jam pada saat hari libur. Hanya diselingi aktivitas makan dan shalat atau ke kamar mandi. Akibatnya, si bungsu susah diajak pergi silaturahim dengan keluarga besar, sekedar window shopping, atau incip-incip kuliner. Benar-benar bikin bete. Tapi karena ia ngotot, kami pun mengalah. Bukankah dia yang akan menjalani kegiatan ekskul di sekolahnya?

Rupanya pilihan ekskul ini berbuah prestasi. Yaitu saat pembimbing ekskul memilih dia dengan kakak kelasnya mewakili lomba ICT - Desain Grafis tingkat SMP di Maria Regina School. Semula dia enggan dan mau mengundurkan diri. Waduh, mulai deh krisis PD-nya muncul. Si bungsu memang tidak memiliki rasa PD seperti kakaknya. Jadi, kami sebagai orang tua kudu sering memompa semangatnya.


Alhasil, hari sabtu pagi tanggal 16 Februari 2013, aku mendapat tugas mengantar si bungsu untuk mengikuti lomba di sekolah internasional yang berlokasi di daerah Papandayan, Semarang. SMP IT PAPB termasuk salah satu sekolah swasta yang diundang untuk mengikuti lomba ICT di sekolah ini. Di samping lomba ICT, masih banyak lagi lomba yang dipertandingkan. Diikuti peserta dari tingkat Play Group, SD hingga SMP. Tema lomba adalah Love Prosperity. Ada lomba gambar, mewarnai, tari, nyanyi dan pentas seni.


Pentas seni Barongsai dan Liong, turut memeriahkan acara Open House 2013 di Marina Regina School.


Lomba ICT diadakan di lantai 4 sekolah yang memiliki arsitektur keren ini. Sambil nunggu lomba dimulai, kami jalan-jalan di area sekolah. Pengunjung yang datang bukan berasal dari sekolah ini saja. Tapi ada juga sekolah-sekolah lain, sepertinya sih khusus sekolah swasta yang diundang. Yang menarik adalah, meski panitia lomba adalah kalangan katholik, namun peserta lomba dan pengunjung yang datang menunjukkan pluralisme. Dari pemilik mata sipit, kulit putih, kulit sawo matang, berbahasa jawa, Indonesia hingga Inggris, semua berbaur di lokasi sekolah.

Bazar pun digelar pula di sini. Turut memeriahkan acara yang berlangsung sejak pagi , jam sembilan hingga menjelang sore. Ada penjual sate, siomay, nasi ayam/liwet, berbagai minuman dan snack. Yang unik, penjualnya bukan hanya pedagang makanan tulen. Tapi ada stand khusus untuk siswa sekolah ini menunjukkan keahliannya berjualan. Tersebar di sekeliling kelas. Dari lantai satu hingga lantai 4.

Peserta lomba Desain Grafis yang pertama keluar adalah wakil dari SMP IT PAPB. Membuat pengantar berkomentar,"Waaah...yang keluar pertama dari sekolah Islam. Kereeen...." Hihi, cukup bangga juga saat mendengarnya.

Namun, karena kelelahan, Naufal dan kakak kelasnya ingin segera pulang. Keduanya tak berminat untuk menunggu hasil lomba. Kebetulan pihak sekolah tidak bisa ikut mengantar kedua siswanya pada lomba ini dikarenakan pada saat bersamaan ada kegiatan lomba Mapel di SMPIT PAPB.

Alhasil, pengumuman baru diketahui pada hari senin, saat pihak Maria Regina School mengantar hadiah lomba. Sebuah prestasi karena dua siswa yang menjadi wakil dari sekolah, semua menjadi pemenang. Kakak kelasnya meraih juara I, sedangkan Naufal menjadi juara III. Sebuah prestasi yang hebat karena persiapan lomba hanya tiga hari. Berita ini diliput oleh wartawan dari Harian Semarang.

Dan, ini lah plakat juara III yang diterima Naufal, selain uang pembinaan. Duuuh, Alhamdulillah, kami sekeluarga ikut bangga dengan prestasi di luar akademik yang diperoleh si bungsu.

Saat ini, plakat ini diletakkan di samping komputer di rumah. Yang asli disimpan oleh pihak sekolah.

Prestasi ini kami harapkan bisa menjadi motivasi bagi si bungsu agar lebih giat menekuni bidang design grafis yang ternyata sangat diminatinya.  Dan juga untuk meningkatkan rasa PD bahwa dirinya memiliki kemampuan yang tidak setiap anak bisa. Seperti kata guru pembimbing, persiapan lomba mepet, tapi kedua siswa yang ikut lomba sudah memiliki modal dasar ketrampilan dan kreatifitas masing-masing.

Bravo Naufal, teruslah berkarya! Salam cinta, bunda dan keluarga.
Reading Time:

Thursday, 17 January 2013

BERBAGI ITU INDAH
January 17, 2013 16 Comments



   Pengen punya blog sebenarnya sudah lama. Tapi karena aku sama sekali tidak tahu bagaimana caranya membuat blog, baru beberapa bulan ini blog ku hadir di dunia, cie..cie..cie. Yup, kelahiran blog ini bagai seorang bayi untukku.  Ini pun kelahirannya dibantu oleh anak-anak. Tapi, keterbatasan pengetahuanku buat blog tak mencegah semangatku untuk berbagi.

     Senangnya, aku pun mulai tergabung dalam grup FB Kumpulan Emak2 Blogger. Wadah bagi kaum perempuan, yang sudah menjadi emak namun tetap eksis untuk berbagi ilmu, pengalaman dan kabar seputar info lomba. Dari grup ini pula, aku pernah memberanikan diri ikut dalam lomba blog. Butuh banyak waktu untuk belajar. Belum lagi menambahkan persyaratan teknis sebagai syarat lomba. Bahkan, sampai membuat kening berkerut saat mempublikasikan blog pribadi. Tapi, kepuasan bisa mengikuti lomba menjadi obat kelelahan dan kepala pening karena terlalu konsentrasi. Meski belum pernah menang, aku senang telah sukses berpartisipasi dalam lomba itu.

     Blog yang aku miliki, memang masih sederhana. Sampai saat ini pun masih sering aku utak-utik agar bisa memiliki tampilan yang menarik.  Tentunya agar semakin banyak pengunjung yang mampir dan membaca tulisanku. Harapanku, tulisan-tulisanku bisa menginspirasi pembaca.

     Blog ku berisi beragam tulisan. Ada resep masakan, seputar parenting dan berbagi kabar tulisanku yang dimuat di media (baru tiga biji udah narsis, hihi). Ada juga resensi buku. Pengennya sih bisa nulis beragam topik ini tiap bulan. Minimal 5 tulisan. Tapi, apa daya, kadang suka lupa mau ngisi blog. Hihi, alasan basi nih :)


     Naaah...tepat hari ini, tanggal 18 Januri 2013, Kumpulan Emak2 Blogger tepat berulang tahun yang pertama. Wow, ibarat bayi, mulai lucu-lucunya nih. Bikin gemes dan senang. Gemes, bila membaca postingan dari emak-emak yang keren dan menggiurkan (terutama resep masakannya :D ).  Daaan, senang ketika ada anggotanya yang menang dalam satu kompetisi nulis blog. Kapan ya dakuw? 

     Selamat ultah, moga prestasi KEB makin berkibar, emak-emak yang jadi anggotanya juga makin eksis nulis di blog. 
 #1stKEB - Satu Cinta dalam Inspirasi dan Karya - Ngeblog Terapi Jiwa" http://emak2blogger.web.id/

Reading Time: