Agustus 2022 - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Kamis, 11 Agustus 2022

Mencari Halal Food di Jalan Alor, Bukit Bintang, Malaysia, Susah Banget Kah?
Agustus 11, 2022 6 Comments
Assalamualaikum Sahabat. Mengenang kembali jalan-jalan ke negeri Jiran tahun 2019, rasanya jadi kangen. Kangen jajanannya yang khas, unik, dan punya cita rasa lezat. Kesan mencari halal food yang cukup susah, tapi tetap excited, hehehe. So...mending ditulis aja nggak sih pengalaman kuliner selama di Malaysia. Karena saya juga nggak tahu kapan bisa kesana lagi. Terlebih kondisi masih cukup merisaukan dengan adanya virus yang masih bermutasi. 



Traveling ke Malaysia saya alami dua kali pada tahun yang sama yaitu tahun 2019. Cukup lama juga ya dan memang sebelum pandemi menghantam bumi. Pertama kali berkunjung ke Malaysia pada bulan Maret 2019 bersama suami, dan teman-teman blogger. Kemudian saya kembali lagi bulan Oktober 2019. Namun kali ini untuk kunjungan liputan bareng Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC). 

Silakan baca liputan saya : Malaysia Healthcare Travel Council


Selama 4 hari 3 malam saya bersama rekan media dan blogger benar-benar bekerja dari pagi hingga malam. Kebetulan saya mendapat jatah kunjungan di beberapa rumah sakit yang ada di Kuala Lumpur. Dan beruntungnya pula jadi nginap di satu hotel aja selama di sana, yaitu di Park Royal Hotel. Namun saya dan dua teman dari Kota Medan mendapat jatah kamar di apartemen Park Royal Hotel.

Kerja Terus, Kapan Jalan-Jalannya?

Dari hari pertama kedatangan hingga hari terakhir kami disibukkan dengan acara liputan. Kemudian pada hari kedua, sepulang dari acara Welcome Dinner bersama Tourism Malaysia, beberapa teman ngobrol pengen healing sejenak. 

"Capek juga ya, jadwal liputan padat,"
"Iya nih, jadi nggak ada waktu melipir jalan-jalan,"
"Namanya juga undangan kerja, hahahaa."

Bincang gak jelas malam itu di dalam mobil sewaan panitia MHTC mengundang tawa. Memang paling bener kalo tubuh dan pikiran lelah itu obatnya bercanda, ngakak bareng teman seperjalanan yang senasib, hahahaa.

Kebetulan hotel tempat kami nginap itu terletak di dekat Bukit Bintang. Setelah ngobrol lagi, dan melihat beberapa tempat terdekat yang oke untuk healing, bertemu lah land mark Kuala Lumpur yaitu jalan Alor. Wuihhh tempat yang udah lama saya nantikan untuk dikunjungi nih, asik banget ihhh.

Waktu awal jalan-jalan ke Malaysia ini, saya, suami dan teman-teman lewat depan jalan Alor. Sayangnya nggak bisa wisata kuliner di sana karena masih siang dan belum buka semua. Hanya resto yang ada di jalan tersebut yang udah buka. Namun kami nggak tertarik karena yang kami inginkan ya jajanan khas jualan yang pakai gerobak dan suasana malam jalan Alor.

Jadi saat saya mendengar kalo hotel saat kunjungan liputan dekat dengan land mark Kuala Lumpur, langsung deh setuju dengan usul teman untuk ke jalan Alor.

Kami pun janjian untuk segera ngumpul di lobby. Karena ada teman yang ingin ngambil sesuatu di kamarnya. Setelah terkumpul siapa aja yang ikut, kami berjalan keluar hotel. Jarum jam menunjukkan pukul 22.10 dan kami berjalan berenam, perempuan semua. Suasana malam di kawasan Bukit Bintang justru makin ramai. Kami jalan santai aja dan nggak butuh waktu lama udah tiba di depan jalan Alor yang udah ramai pengunjung.

Mencari Halal Food di Jalan Alor

foto di atas adalah pintu masuk jalan Alor

Sebenarnya saya dan teman-teman udah merasa kenyang dengan sajian masakan dalam acara yang diadakan oleh Malaysia Health care. Tapi karena malam itu adalah kesempatan terakhir kami bisa jalan-jalan, ya udah lah diputuskan segera capcus ke lokasi terdekat dengan hotel tempat nginep. Daaan, kata mba Tari, jalan Alor itu tempat terdekat dan terbaik untuk menikmati malam di kota Kuala lumpur. Nggak berniat  nyari makanan berat, melihat-lihat aja siapa tau ada halal food porsi kecil yang bisa dinikmati. Atau boleh juga sih porsi besar, ntar bisa dimakan bareng gitu.


Jalan alor ini pusat kuliner street food di bukit bintang, banyak sekali pedagang makanan disini, kebanyakan chinese food dan seafood. Tempatnya sangat ramai dengan pilihan makanan yang beragam. Harga makanannya bervariasi, ada yang murah sampai yang mahal. Tergantung ya jenis makanan yang kalian pilih. 


Tapi saya lihat makanan yang mendominasi memang jenis chinese food dan seafood. Ada juga jajanan khas, makanan asli Kuala Lumpur seperti nasi lemak. Banyak pramusaji yang menawarkan pengunjung untuk mampir ke resto mereka. Sambil menyodorkan buku menu, menyarankan beragam pilihan masakan. Kalo kalian tidak tertarik, bisa dibalas dengan senyum atau tolak secara halus. 


Selain makanan yang mengandung B2, Chinese Food yang halal juga ada banyak pilihan. Nanya aja sebelum pesan makanannya ya. Selain itu ada juga penjual yang menyajikan Thailan food atau Indian food. Beragam nasi, sayur, sup, jajanan manis juga ada. 


Ada banyak gerobak makanan dan cindera mata. Yang bikin makin ngiler tuh ketemu gerobak durian, air tebu, dim sum/ steamboat dan masih banyak lagi. Sebenarnya pengen ya nyicipi salah satu sajian halal food di jalan Alor. Seperti roti Arab, nasi lemak, kebab, tortla, duhhh sukses deh bikin ngiler. 


Pilihan halal food di jalan Alor
foto sate di piring itu milik orang, saya pinjam untuk difoto 

Menarik nih waktu saya menemukan gerobak yang jualan Japanese sweet potato, kacang rebus, jagung rebus. Aroma manis jagung dan kacang rebus menguar, mengundang setiap mata si pemilik perut yang tengah lapar. 




Akhirnya tatapan kami terpaku pada penjual kue putu. Rasa penasaran yang mengantarkan kami mendekat pada gerobak penjualnya. Jauh jauh ke Malaysia, jajannya malah kue putu, hahahaa.


Kalo kalian pernah bertemu penjual kue putu yang berjualan keliling dengan suara berdenging, di sini enggak begitu. Penjual dengan gerobak yang mangkal di salah satu ruas jalan Alor, menyajikan kue putu sambil nyiapin dari adonan yang masih mentah. Yang sama dengan kue putu di Semarang hanya sama-sama disajikan dalam keadaan hangat. 


Kue putu di jalan Alor ini rasanya sama dengan yang ada di Semarang. Bentuknya aja yang berbeda. Kalo di Semarang karena dicetak menggunakan bambu, bentuknya lonjong. Kalo di jalan Alor ini kue putu menggunakan cetakan dari aluminium berbentuk kerucut. Cetakan ini diisi dengan adonan yang terbuat dari tepung bers dan kelapa, serta bumbu lainnya. Kemudian diisi parutan gula jawa, baru deh dikukus. Dan setelah matang bentuknya bulat, disajikan bersama parutan kelapa. Ini seporsi isinya 3 buah dijual harga RM 2,5 dikemas menggunakan styrofoam bening. Rasanya enak kok sama dengan kue putu yang ada di Semarang.




Yang khas di jalan Alor ini adalah saat makan akan ada penyanyi jalanan yang menyanyikan berbagai lagu. Ditingkahi suara obrolan dari berbagai bahasa, dengan aroma beragam makanan, jadi bikin malas meninggalkan lokasi.


Semakin malam jalanan ini ramai sekali, orang berjalan dan pedagang yang menyajikan makanan & minuman. Tersedia berbagai minuman seperti es kelapa muda, es tebu mapun berbagai juice buah.




Selain makanan dari berbagai pilihan, terdapat juga pijat refleksi, bar/cafe, mini market, bahkan gerobak penjual cindera mata. Saya bersama teman-teman sempat mampir untuk melihat-lihat jenis jualan si bapak. Ada dompet kw, gantungan kunci dengan hiasan land mark setempat, patung dari bahan akrilik, cincin, gelang, dan masih banyak yang lain.




Akses Menuju Jalan Alor

Jalan Alor ini menjadi tujuan wisata kuliner oleh setiap wisatawan yang berkunjung ke Kuala Lumpur. Jalan ini juga sangat mudah dijangkau dengan transportasi kereta monorail. Kalian bisa turun di Stasiun Imbi atau Bukit Bintang. Jika dari Stasiun Imbi, cukup jalan kaki aja menyusuri Lorong Pudu atau Jalan Bulan menuju Jalan Bukit Bintang. Setelah itu melangkah lah ke Jalan Changkat Bukit Bintang. Jalan Alor mudah ditemukan karena terlihat jelas di sisi kiri kalian jalan kaki.


Untuk yang mengakses dari Stasiun Bukit Bintang, tinggal langkahkan kaki ke Jalan Bukit Bintang seperti halnya petunjuk sebelumnya. Dari Plaza Low Yat, pusat Jalan Alor Kuala Lumpur Malaysia bisa dijangkau kira-kira 10 menit jalan kaki.


Malam yang makin larut, seakan mampu membuat kami tersihir untuk terus berjalan. Untung aja ujung jalan terlihat pandangan mata kami. Dan kami pun memutuskan kembali ke tempat awal kami masuk jalan Alor. Karena udah puas dengan apa yang udah kami nikmati malam itu, kami memutuskan balik ke hotel.


Ternyata penjelajahan kami di jalan Alor tidak lama, hanya satu jam. Apalagi kami juga hanya beli beberapa cindera mata dan jajan minuman serta cemilan kue putu aja. Hemat banget yaaak. Mungkin lain waktu kami bisa kembali kesini untuk menikmati wisata kuliner atau halal food yang dijajakan di resto chinese food atau seafood halal? Bisa juga sih, semoga ada waktu terbaik ya, sahabat. 


Kalian pernah juga berkunjung ke jalan Alor, sahabat? Udah nyoban halal food apa aja? Yuk bagikan pengalaman kalian nyoba menu halal food di jalan Alor. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Rabu, 03 Agustus 2022

Dengan Program CSR, JNE Melakukan Aksi Sosial Untuk Masyarakat
Agustus 03, 2022 22 Comments
Assalamualaikum sahabat. Satu minggu setelah masyarakat muslim khususnya bersukaria pada malam takbiran dan pelaksanaan shalat Idul Adha, karena selama dua tahun tidak bisa melakukannya dengan normal. Ada kabar duka dari Garut, banjir dan tanah longsor akibat hujan deras mengguyur sejak Jumat hingga Sabtu dinihari (15-16 Juli 2022).


Sebagai warganet yang lebih suka melihat linimasa Twitter, saya terkejut dengan tagar yang trending topic itu. Apalagi hingga Sabtu siang tanggal 16 Juli 2022, tagar #PrayForGarut masih dicuitkan mencapai 2454 kali.  

Laporan sementara, banjir di Garut tersebut merendam ratusan rumah di dua kecamatan, yakni Tarogong Kidul dan Garut Kota. Semoga kita semua senantiasa diberikan lindungan oleh Allah SWT #PrayForGarut - tulis akun @Sobat_RK


Ada info dari salah seorang warganet bahwa beberapa akses jembatan putus. Bahkan yang paling menyedihkan kabar rumah hanyut terbawa arus banjir bandang.


Berbagai pihak memberikan bantuan untuk warga terdampak banjir. Terutama daerah pinggiran sungai yang mengakibatkan beberapa rumah rusak parah akibat terjangan banjir bandang.


info.bisnis.co

Jabar Quick Response (JQR) hingga seminggu setelah musibah banjit, masih memberikan bantuan kepada korban banjir bersama JNE cabang Bandung. Koordiantor unit respon kebencanaan JQR Syehabudin menjelaskan, korban banjir dan longsor masih butuh dibantu walau skalanya tidak sebesar masa tanggap darurat.


"JQR telah berkordinasi dengan teman jaringan di beberapa wilayah bantuan masih dibutuhkan untuk dapur umum warga," ujar Syehabudin di lokasi bencana Garut, pada siaran persnya, Minggu 24 Juli 2022.

Program CSR JNE Melibatkan Berbagai Pihak 

Kepedulian JNE terhadap lingkungan sekitarnya tak perlu diragukan. Sejak sebelum pandemi JNE selalu hadir setiap terjadi bencana maupun untuk berbagi kebahagiaan. Sudah tiga dekade lebih JNE tidak sekadar mengantarkan paket. Namun juga mengantarkan kebahagiaan sesuai taglinenya #ConnectingHappiness 


JNE bekerja sama dengan BenihBaik.com yaitu kemudahan pelayanan bagi masyarakat untuk berdonasi pada kaum dhuafa atau orang yang membutuhkan bantuan. Jadi setiap orang yang mengirimkan paket dan menggunakan jasa JNE dapat memberikan sumbangan. Dikirim dari mana aja, kemana tujuannya, secara digital melalui BenihBaik.com. 


Beberapa program CSR lainnya dan sudah dilaksanakan berkolaborasi dengan lintas organisasi. JNE mengirimkan bantuan yang didonasi atau digalang oleh berbagai pihak. Total ada lebih dari 20 Ton kiriman APD dan alat kesehatan sampai dengan saat ini dan akan dilakukan secara berkelanjutan. Beberapa organisasi sebagai berikut ; Mr. Zack @1000hari, YADAS (Yayasan Dana Abadi Surga) /Glek, Andi F Noya (Benihbaik.com), Adib Hidayat/ APD Kita/ (Kitabisa.com), BTP Foundation/ Bpk. Ahok, GLC (Global Leadership Center), CT ARSA – Trans Media, Poppy CB (Cotton Ink), Anne Avantie (designer APD), MCI (Mualaf Center Indonesia)/ Ikhlas Fondation, dan Media Grup/Metro TV.


Untuk pendistribusian makanan bekerja sama dengan  Relawan Siaga (Oke Oce) Sandiaga Uno, Institut Perempuan, Dr. Pukat, HDCI (Harley Davidson Club Indonesia), Food Bank of Indonesia (FOI).


Perlu teman-teman ketahui, bahwa Program CSR di JNE ada 3, yaitu :

JNE Hijau



Adalah program tanggung jawab sosial perusahaan JNE di bidang pelestarian lingkungan. Tujuan dari program CSR JNE Go Green ini diantaranya untuk mendukung gerakan pungut sampah dan pembuatan taman kota ilmu pengetahuan.

JNE Komunitas 


Merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan JNE di bidang kegiatan komunitas. Tujuan dari program CSR Go Community diantaranya untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi desa, serta pelestarian budaya.


JNE Pendidikan



Adalah program tanggung jawab sosial perusahaan JNE di bidang pendidikan. Tujuan dari program ini diantaranya adalah untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar, calistung, edukasi kesehatan, olahraga, bisnis, dan internet.


Program CSR di bidang pendidikan salah satunya adalah memberikan banduan dana untuk TK Kartika III-03 di Kelurahan Pudakpayung. Bantuan berupa meja dan kursi belajar untuk mendukung kegiatan di sekolah yang sehat dan ramah anak.


Penyerahan bantuan dilakukan pada Kamis (23/12/2021), di TK Kartika III-03 oleh Kepala Cabang JNE Semarang, Wahyu Sangerti Alam, kepada Ketua Yayasan Kartika Jaya Koordinator 4 Denintel Sintel Cabang lll Diponegoro, Ny. Pramita Sanjayati, disaksikan Komandan Detasemen Intelijen Kodam IV/Diponegoro, Letkol Inf Mokhamad Husnur Rofiq SIP.

Ketua Yayasan Kartika Jaya Koordinator 4 Denintel Sintel Cabang lll Diponegoro, Ny. Pramita Sanjayanti mengaku, dukungan dari JNE sangat membantu bagi peningkatan sarana prasarana di TK Kartika III-03. Sekolah ini pernah juara dalam Lomba Sekolah Sehat tingkat Jawa Tengah. Ny. Pramita berharap adanya bantuan ini sekolah bisa kembali meraih juara untuk lomba yang akan segera berlangsung.
 

Program Vaksinasi Covid-19 di Semarang

Sampai dengan bulan September 2021, sudah lebih dari 21.000 karyawan JNE menerima vaksinasi. Program vaksinasi ini tak hanya dilakukan di kantor pusat JNE di Jakarta. Namun juga digelar oleh kantor cabang di Bogor, Depok, Kupang, Jambi, Padang, Jayapura, Solo, Yogyakarta, Bandung, dan Semarang.  


Kepala JNE Cabang Utama Semarang, Wahyu Sangerti Alam, menuturkan bahwa kuota vaksinasi JNE di Kota Semarang mencapai 700 orang. Program vaksinasi Covid-19 dosis pertama tersebut diselenggarakan di Kantor JNE Cabang Utama Semarang di Jl Kumudasmoro Tengah, No 5 Kota Semarang. 




Program vasinasi terselenggara karena adanya kerja sama antara JNE dengan Kodam IV/Diponegoro. 


“Selain karyawan JNE, masyarakat umum juga mengikuti acara ini. Bahkan mayoritas peserta vaksin justru masyarakat umum,” jelasnya dalam siaran pers pada Jumat (1/10/2021).  


Program vaksinasi tersebut merupakan wujud dukungan JNE terhadap gerakan vaksinasi Covid-19 yang dicanangkan pemerintah. Seluruh karyawan JNE dianjurkan mengikuti vaksinasi. Karena JNE bergerak di bidang jasa yang selalu berinteraksi dengan masyarakat dan dituntut sehat


Kepala Urusan Pengamanan Kesehatan (Kaur PAM) Kodam IV/Diponegoro, Sarwo, mengungkapkan harapannya, kerja sama dengan JNE tersebut dapat memudahkan masyarakat mendapatkan vaksin Covid-19. Sarwo juga berharap agar inisiatif JNE tersebut diikuti perusahaan lain.  


Sejak pandemi merebak pada Maret 2020 sampai saat ini, JNE sudah mengalokasikan lebih dari Rp 13 miliar untuk penanggulangan penyebaran Covid-19 dan lainnya. 


Program CSR dilakukan untuk membantu penanggulangan bersama pemerintah dan swasta. Beberapa kolaborasi tersebut, antara lain: pendistribusian 10.000 masker ke 25 rumah sakit rujukan pasien corona di berbagai kota di Indonesia, pengiriman lebih dari 25 juta perlengkapan APD ke seluruh rumah sakit. JNE juga mendistribusikan ratusan ton bantuan Covid-19 lainnya ke lebih dari 1.200 faskes dan 1.135 lembaga dan perorangan di seluruh Indonesia


Dukungan JNE pada UMKM Tak Pernah Berhenti

Siapa yang udah pernah berkunjung ke Desa Sade, Lombok? Desa Sade terletak di Desa Rembitan, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Desa Sade masih mempertahankan adat Suku Sasak yang merupakan suku asli Lombok. 



Desa ini dalam satu kompleks rumah yang masih mempertahankan adat dan budaya leluhur. Yang khas dari desa Sade adalah hampir setiap rumah memajang hasil kerajinan warga. Dari selendang, dompet, tas, kain, dan masih banyak lagi yang lain. Saya dan mba Tanti pun ikut memilih beberapa produk untuk oleh-oleh.


Tapi yang nggak bisa datang langsung memilih hasil karya warga desa Sade, gimana dong?

Tenang... Kita bisa belanja online untuk produk kerajinan Lombok. Produk UMKM udah banyak yang dipasarkan di beberapa market place.


Selama ini pula JNE memberikan dukungan dengan menggelar program-program yang menarik, seperti promo diskon ongkir, cashback dan sebagainya. Apalagi pandemi telah mengubah masyarakat lebih memilih belanja online demi keamanan dan kenyamanan karena adanya virus Covid-19.


Dengan pemberian promo diskon ongkir, dan promo lainnya, diharapkan dapat mendorong minat masyarakat untuk berbelanja secara online. Hal ini tentunya akan meningkatkan penjualan UMKM.


Pengembangan bisnis pun dilakukan dengan strategi pemasaran online lebih diperluas. Diskon spesial dan promo untuk para pengirim, dan prioritasnya adalah UMKM serta dimaksudkan untuk peluang kolaborasi.


Kolaborasi dikenal sebagai salah satu trik membangun usaha yang jitu. Selain menguntungkan kedua belah pihak, kolaborasi juga mampu menghasilkan ide-ide baru yang dapat diterapkan di masa mendatang. 


Oleh karenanya JNE terus berupaya untuk berkolaborasi dengan UMKM setempat, menghadirkan berbagai program pelatihan. Seperti event JNE Goll..Aborasi Bisnis Online yang dilakukan di beberapa kota di Indonesia. Goll…Aborasi Bisnis Online tahun 2022 akan dilakukan di 60 kota di seluruh Indonesia. 


Nah tentang Penimbunan Beras di Depok adalah Standard Operating Procedure bahan untuk bantuan sosial yang diberikan harus yang layak konsumsi. Misal kondisi beras udah rusak tentu tidak boleh diberikan agar tidak menyebabkan sakit bila dikonsumsi. Wassalamualaikum.


Sumber Materi :
- https://jatengpos.co.id/jne-dukung-dunia-pendidikan/arif/
- https://semarangbisnis.com/
-https://infobrand.id/strategi-jasa-kurir-bertahan-dan-berinovasi-di-kala-pandemi.phtml
Reading Time:

Senin, 01 Agustus 2022

Anak Hobi Seni Gambar? Jangan Diremehkan!
Agustus 01, 2022 17 Comments

Assalamalaikum. Ketika anak-anak sudah beranjak dewasa, saya kadang suka mengingat masa lalu. Masa ketika mereka masih bocah dan senang sekali mencoret dinding di rumah menjadi lukisan surealis. Bapaknya sampai gemes karena dinding baru aja selesai dicat belum ada satu bulan.



Saya dan suami memang cuma bisa gemas, meski udah disediakan papan tulis ukuran besar untuk coret-coret, anak-anak tetap aja memilih dinding rumah sebagai media gambar. Ya sudah lah, kami nggak ingin mematikan hasrat anak-anak mengekspresikan imajinasinya di dinding. Meski dinding jadi nggak cantik lagi, hahahaa.


Saya yakin masa mencoret-coret dinding itu nggak lama, nanti saat usia 5 atau 6 tahun mereka udah bisa dikasih saran agar tidak melakukannya. Apalagi usia segitu juga udah sekolah, udah diajari menggambar di buku tulis atau papan tulis.


Satu hal yang saya ingat dari hobi kedua anak saya, si sulung masih menurut bila diingatkan untuk menggambar di papan tulis. Meski nanti juga lupa lagi kalo udah beberapa hari. Sementara si adik tetep aja nggak mau menggambar di papan tulis. Katanya papannya jelek, ibu pusing deh kalo alasannya seperti itu. Padahal papan tulisnya itu udah dibikin yang bagus karena saya pesan di salah satu tukang kayu langganan suami.


Manfaat Seni Gambar Bagi Anak-Anak

Namun tidak semua orang tua menerima kesenangan anak-anaknya menggambar di dinding rumah. Sering saya menemukan orang tua yang marah karena dinding jadi nggak karuan dengan coretan abstrak si kecil. Anak usia 3 tahun mana tahu kalo dia telah merusak dinding rumah dengan coretannya? Dia hanya ingin mencoret sesuka dan sebisanya aja. Nggak paham dengan dinding yang berubah kotor, nggak cantik, nggak rapi lagi di mata orang dewasa.


Saya ingat pernah membaca di salah satu artikel di majalah Ayah Bunda, majalah langganan saya sejak menikah hingga mengasuh anak-anak. Dari artikel tersebut dituliskan tentang kesenangan anak menggambar di media mana aja itu memiliki manfaat bagi tumbuh kembangnya.


Bahkan bisa aja seni gambar yang dilakukan anak kita kelak menjadi sumber nafkahnya? Siapa yang tahu, ye kaan?!


Saya juga baca dari salah satu portal berita dari disdikpora, menggambar dan juga mewarani itu memiliki manfaat bagi anak-anak. Berikut ini manfaat menggambar dan mewarnai :


- Sebagai Media Berekpresi


Bukan hanya orang dewasa yang butuh mengekspresikan perasaannya. Anak-anak terutama yang masih balita dan belum bisa menyampaikan isi hatinya, butuh media untuk berekpresi. Bagaimana isi hati mereka, marah, sedih, gembira, semua dituangkan dalam seni gambar.


- Membantu Anak Mengenal Perbedaan Warna

Ini untuk menggambar sekaligus mewarnai, atau mewarnai saja. Memberi kegiatan seni mewarnai untuk anak, membantu mereka mengenal warna. Sekaligus mengajarkan perbedaan warna, kata yang tepat untuk setiap warna agar tidak salah menyebutkannya.


- Menstimulasi Otak Kanan

Seni gambar juga mampu menstimulasi  otak kiri dan kanan secara seimbang. Bila otak kanan berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, musik, warna, dan emosi serta ingatan jangka panjang. Sedangkan otak kiri berkaitan dengan logika, analisa, hitungan, tulisan dan ingatan jangka pendek.


- Melatih Anak Menggenggam Pensil



Sebagai orang tua, tentu kalian pernah kesulitan mengajarkan anak memegang pensil. PR banget ya membimbing anak memegang pensil. Belajar menggenggam dan mengontrol pensil di tangan itu harus dibiasakan. Kemampuan tersebut nantinya pasti akan dibutuhkan saat mulai masuk sekolah. 


- Melatih Kreativitas Anak

Tahu nggak bu-ibu, anak yang suka menggambar biasanya menggunakan imajinasinya untuk menorehkan pensil atau apapun itu ke media sesuai bentuk yang diinginkan. Anak usia 3 tahun belum bisa menampilkan gambar yang kece. Ya iya lah, coretan tak berbentuk mulus pun udah suatu prestasi baginya. 

Si bungsu kami sejak kecil suka mencoret dinding rumah. Begitu usianya 4 tahun gambarnya mulai berbentuk. Cuma kadang saya merasa agak seram lihat gambarnya yang bawa pedang dengan darah menetes gitu. Apaaah? Anak usia 4 tahun udah menggambar hal yang mengerikan? Ya saya nggak bisa menyuruh dia untuk menggambar yang manis manis aja. Eh pernah sekali saya arahkan begitu. Malah hasilnya kaku, gak alami. 

Ternyata cara saya membiarkan justru menjadi efektif karena si bungsu bebas berkreasi. Dan sekarang anaknya udah jadi mahasiswa semester 7 di jurusan DKV Udinus. Udah nyambi kerja juga dan ini karena dilamar oleh owner perusahaannya via DM Instagram. Boleh magang di situ juga dari pada keluar kerja. Kerjanya menyesuaikan jam kuliah karena sekarang sebagian udah mulai tatap muka.


- Melatih Kepekaan Pada Lingkungan 

Anak yang suka menggambar, terbiasa mengamati lingkungannya. Dia punya kepekaan dan menuangkan hasilnya di media gambar. Karya si bungsu sejak dia suka menggambar di kertas, dipajang di lemari kaca meja belajarnya. Dari gambar kucing yang menjulurkan lidahnya, dengan badan setengah manusia, pemuda membawa pedang, gadis yang duduk sendirian, dan masih banyak lagi.

Saya tidak tahu dia mengamati siapa, kemudian dituangkan dalam ekspresi yang berbeda dengan aslinya. Namun saya mengagumi tangannya yang menggores garis tanpa mleyot, tegas dan yakin dengan setiap goresan pensil di kertas. Saya pun akhirnya menyediakan buku sketsa yang cukup tebal beberapa buah. Karena kecepatan gambarnya bisa menghabiskan buku sketsa dalam beberapa waktu aja. 


Mulai Menyukai Doodle dan Menorehkan Karya di Media Apa Aja


Oh iya saya masih ingat, waktu usia 12 tahun dia mulai bikin doodle. Nggak tahu juga belajar dari mana, mendadak buku sketsanya terisi beberapa doodle. Yang bikin saya ngakak adalah, rak buku di kamarnya pun tak lepas dari goresan doodle. 


Sebenarnya hasil dia bikin doodle itu nggak hanya ada di buku sketsa atau lemari buku. Doodle dan hasil karyanya bisa ditemukan di sepatu, tas sekolah, kursi, slayer, atau topi. Dia paling suka kalo saya membawa pulang goodie bag dengan warna polos. Itu artinya bisa dijadikan media gambarnya. 


Sejak kuliah di DKV, si bungsu mulai merasa berada di tempat yang diinginkannya sejak kecil. Setiap hari dia punya tugas menggambar, atau nerjain nirmana. Bosan nggak bosan setiap hari bertemu tugas ini.


Saya senang melihat dia nyaman di jurusan yang dipilihnya sesuai passion. Saya awalnya nggak bisa menjelaskan pada orang-orang yang bertanya si bungsu kuliah di mana. Ketika saya melafalkan DKV, orang mendengarnya itu kuliah di kafe, hahahaa. 


Masih banyak orang yang nggak paham bahwa jurusan DKV ini memiliki kesempatan kerja yang lebih luas. Bahkan waktu pertama kali saya (sebagai wali mahasiswa) datang pada acara ramah tamah dengan pihak kampus bersama orang tua lain di jurusan DKV, udah mendapat warning dari dekan.


Tolong saat anaknya nanti menginjak semester 3 atau 4, jangan terlena dengan tawaran kerja. Karena kalo udah mengenal duit, bisa lupa dan nggak menyelesaikan kuliahnya


Hmm, benar juga soal tawaran kerja ini. Meski sebenarnya dia udah mulai menghasilkan duit dari passion sejak usia 14 tahun di SMP. Beberapa kali mendapat order desain logo usaha orang tua temannya. Bayarannya duit jajan atau produk usaha mereka.


Yang lumayan didapatkan si bungsu adalah membimbing anak seorang pengusaha karoseri terkenal di Semarang. Selama satu bulan memberikan pendampingan membuat desain 3D render untuk persiapan lomba. 


Nah mengapa sekarang saya membiarkan si bungsu kerja di salah satu perusahaan restorasi mobil antik di Semarang? Pertama karena si bungsu tetap menjalani kuliah sesuai jadwal. Dia bertanggung jawab dengan pilihannya kuliah sambil kerja. Karena waktu ditawari pekerjaan, dia masih kuliah daring. Dan ketika sekarang kuliah udah mulai tatap muka, si bos mengijinkan dia mengutamakan kuliah dan bekerja ketika jawal kuliah libur atau kosong.


Jadi buk-ibuk, kalo anaknya suka mencoret-coret dinding rumah, jangan baper atau marah. Siapa yang tahu si anak kelak menjadi tukang insinyur, desainer, animator, dan bidang seni lainnya? Masih aman lah kalo media dinding rumah sendiri yang kena coretan anak-anak, dari pada milik tetangga?


Seperti yang udah saya tuliskan di awal, biarkan anak bebas berekspresi dengan media apapun yang dipilihnya. Ketika usianya bertambah juga dia bakal memilih media gambar dan tidak lagi coret-coret dinding. Tapi, coretan di dinding bisa jadi seni grafiti juga kan? Sebuah karya yang juga bisa dinikmati bila dibikin dengan bagus. Setuju nggak sih? Silakan berkomentar di bawah ya teman-teman, wassalamualaikum.

Reading Time: