September 2013 - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Sunday, 29 September 2013

My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: BEKAL SEHAT DARI RUMAH,  TRADISI BAIK DAN MURAH

Saturday, 28 September 2013

BEKAL SEHAT DARI RUMAH,  TRADISI BAIK DAN MURAH
September 28, 2013 8 Comments
www.resepsehat.com



BEKAL SEHAT DARI RUMAH,  TRADISI BAIK DAN MURAH

            “Wah, putranya masih mau bawa bekal dari rumah? Nggak malu…kan udah magang ya?” Seorang tetangga bertanya dengan nada tak percaya.
            Aku tersenyum maklum. Apalagi si sulung sudah berusia 18 tahun. Dan saat ini ia magang kerja di PLN cabang Jatingaleh, Semarang.  Tapi ia tidak malu membawa tempat makan yang berisi masakan bundanya untuk menu makan siang di tempat magang.
Reading Time:

Sunday, 22 September 2013

Review Buku  I'm (not) Perfect  - Dian Kristiani
September 22, 20130 Comments



Penulis          : Dian Kristiani
Penerbit        :  PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit  :  2013
Tebal            : 153 Halaman, Soft Cover
Harga           : Rp. 38.500
Genre           : nonfiksi / inspirasional

Begitu buku I’m (not) Perfect terbit, satu kata yang muncul adalah ‘Surprised”. Yup! Karena, beberapa hari sebelumnya mbak Dian Kristiani sudah membuat ‘thread’ di fb-nya tentang satu dua tiga isi buku ini.

Dan, resolusiku, cie..cie...cieeee, segitunya hahaha, harus beli buku ini! Yay! Kenapa? Balik deh aku tanya, kenapa tanya? Berarti yang tanya belum baca buku ini, kasihaaaan ;D
Oke, karena rencana nulis di sini adalah untuk review buku I’m (not) Perfect. Aku tak akan berpanjang kata nulis prolognya, hihi...

Di dalam buku ini, penulis menggiring pembaca, terutama wanita agar tak men’judge’ sesama wanita atas kekurangan yang tentunya tak bisa ditolak ini. Misal, tentang tak bisa memberi ASI (ngerasa bangeeet a.k.a makjleb). Pernah aku menuduh temanku di kantor yang tak mau memberi ASI. Waktu itu aku kritik dia, tapi aku juga bantu membelikannya makanan yang kupikir bisa membancarkan ASI-nya. So, aku kan tak menjelek-jelekkannya abis-abisan, huehue.. nyesel sejuta kaliiii....

Nah, kalo masalah melahirkan secara caesar? Kebetulan teman yang sama sempet curhat, kenapa dia tak bisa melahirkan dengan cara normal? Mengapa dia harus melalui proses caesar, yang beruntung sekali dia tak keluar duit karena dapat tunjangan asuransi. Namun, banyak orang yang menuduhnya dulu bukan anak berbakti pada ortu. Hah? Apa hubungannya coba? Melahirkan secara caesar dengan durhaka pada ortu?!

Ternyata mbak DK juga mengalami tuduhan ini? Berarti mindset kebanyakan orang kudu diubah gitu? Gak tahulah saya. Yang jelas, saya tahu banget kalo teman saya adalah orang yang sangat berbakti ama ortunya. Dan permasalahan tiap wanita yang (terpaksa) memilih proses caesar, tentu berbeda sesuai kondisi tubuh dan situasi pas melahirkan.

Betewe...cerita di buku ini banyak banget yang menyentil rata-rata sikap, tingkah dan ucapan wanita pada sesama wanita. Yang merasa tersindir, harusnya berterima kasih pada mbak DK. Bagaimanapun, beliau kan sekedar curhat, tapi berhadiah. Hihihi....iya kan, karena dapat duit dari curhatannya ;D Dan buka Cuma itu. Karena curhatan ini juga bisa jadi bahan renungan kita, duh dalem bangeeet J

Terserah bila ada pembaca yang gak suka dengan curhatan a.k.a sindiran mbak DK. Hihihi, padahal beliau nulisnya meski tajam setajam silet, tapi menuturkannya dengan gaya bahasa yang mengalir. Air kaleeee...

So, meski waktu pertama saya buka-buka dulu buku ini dari awal, tengah dan akhir halaman. Karena saya bingung mana dulu yang mau dibaca, hehehe... Tapi saya seperti biasanya, akhirnya baca dari halaman pertama, urut hingga akhir.

Dan, kebanyakan sih saya setuju dengan beliau. Seperti tentang sandal yang merk ‘c....s’ ntu tuuu... Meski pertama sempet pengen beli, begitu banyak sekali yang makai meski beda merk dan jauuuuh sekali beda kasta alias harga, aku mundur beli deeh ;D Sandal sejuta umat yang beda kasta gituuuh, hihihi...

Atau soal masak! Aku sebenarnya suka masak. Tapi gimana dong kalo dari pagi udah sibuk ngurus rumah, mesti ontime kerja jam setengah sembilan pagi dan nanti pulang jam setengah lima sore. Badan udah capek lahir batin, masih disuruh nyiapin masakan untuk keluarga? Oh, sayaaang aku tahu semua yang aku lakukan pasti dapat imbalan pahala dari Tuhan (ini kataku pada suami duluuuuuu sekali) Tapi, kita harus realitis (dengan alis berkerut), karena aku bukanlah wonder woman, yang bisa bekerja dengan sekali kibasan tangan ;D Alhamdulillah, suami senang-senang saja dimasakin ama ibu mertuanya, hahaha... alias katering ama ibuku. Bersyukur banget nggak ada yang nyolot soal ini dari lingkungan rumah alias tetangga J

Ya sudahlah, kalo gitu, sebagai istri eh, wanita, nggak ada yang sempurna. Tapi, kalo saya sudah terlihat sempurna di mata suami (ini ucapan suamiku lho, sumpeeeh! ;D ), ya biarkan aja anjing menggonggong, dakuw mah tetap aja jalan seperti biasa. Hihi, kok jadi curhat sih? Tapi bener deh, manusia kan gak ada yang sempurna. Karena itu, semua ada pasangannya. Kalo ada wanita yang gak bisa masak, mudah-mudahan suaminya pintar masak. Lho?! Yah, seenggak-enggaknya ada orang terdekat yang bisa dimintai bantuan siapin makanan untuk keluarga, gitu, hihi...

Pokoke, buku mbak Dian selalu dinanti-nanti sama dakuw, dan semua penggembiranya, eh penggemarnya. Buku non fiksi yang bisa bercerita seperti novel, alias tidak menggurui. Begitu!

Moga ada lanjutannya, seperti buku yang sebelumnya. Harus!


Reading Time:

Tuesday, 17 September 2013

KEINGINAN VERSUS KEBUTUHAN
September 17, 20130 Comments
Saat pertama mendengar berita kecelakaan yang dialami oleh putra selebiritis tanah air, hingga menyebabkan 6 orang meninggal (akhirnya bertambah menjadi tujuh orang), hatiku jadi miris. Aku sih tak hendak menyalahkan si anak. Usianya masih 13 tahun (seusia anak bungsuku), namun badannya yang bongsor membuat ia pede membawa mobil ke jalan raya.

Pertanyaan yang pasti terbersit di pikiran setiap orang, apakah orang tuanya tidak tahu putranya keluar bawa mobil sendiri? Aku tak ingin membahas hal ini. Alasannya, yang pertama, kecelakaan itu sudah terjadi. Sebagai orang tua, aku yakin Ahmad Dani dan Maia pasti tidak akan mengijinkan putra-putranya yang belum cukup umur mengendarai mobil sendiri. Masalahnya adalah, apakah mereka tahu sang putra bisa menyetir? Jawaban mereka tentu saja tidak. Dan tentu saja putranya tidak bisa menyetir, kalo bisa tentulah tak ada tragedi tersebut.

Terlepas mengenai keluarga korban yang mendapat santunan biaya pemakaman, pengajian hingga beasiswa bagi anak-anak yang seketika berubah menjadi anak yatim, tentulah patut kita acungi jempol. Yang menjadi pemikiran sang orang tua adalah, trauma psikis yang pasti bakal dialami oleh putranya kelak bila tahun berapa jumlah korban meninggal akibat peristiwa itu.

Dengan tragedi ini, kita patut introspeksi. Apakah kita, orang tua yang juga tak peduli bila anak-anak kita membawa motor sendiri ke jalan raya? Apakah kita tahu dengan kemampuan anak-anak mengendarai motor/mobil di jalanan? Karena, di luar putra selebritis ini, banyak sekali kita temukan anak-anak yang belum saatnya membawa motor sendiri ke jalan raya. Alasannya beragam, nggak sekedar main motor-motoran di jalanan. Tapi juga sebagai alat transportasi ke sekolah, tempat les dan yang lainnya.

Peran orang tua memang menjadi yang utama untuk masalah ini. Aku dan suami kebetulan memiliki keputusan yang sama. Anak-anak tidak boleh membawa motor sendiri untuk keperluan apapun sebelum usia mencapai 17 tahun. Usia yang menjadi standar untuk memperoleh SIM C (Surat Ijin Mengemudi). Tentunya peraturan usia berbeda untuk SIM A/B.

Beruntung, meski kedua anakku berjenis kelamin cowok, peraturan kami cukup dipatuhi oleh mereka. Milzam baru membawa motor ke sekolah saat usianya mencapai 17 tahun. Sebenarnya kami cukup terbantu meminta putra kami mentaati peraturan ini karena pihak sekolah sendiri melarang anak didiknya membawa motor ke sekolah bila masih kelas X. Meski ada beberapa siswa yang melanggar dengan menitipkan motor di tempat parkir yang dekat dengan sekolah, Milzam tak tertarik mencobanya. Alasannya, ia malas berurusan dengan polisi di jalan raya. Juga karena ia enggan berurusan dengan pihak BP sekolah bila ketahuan bawa motor ke sekolah.

Nah, si bungsu yang sudah berusia 13 tahun dengan tubuh bongsor nyaris menyamai kakaknya, ternyata juga tidak tertarik mencoba bawa motor. Entah keluar rumah untuk urusan sekolah, ataupun ke rumah teman. Ia biasanya minta diantar atau membawa sepeda onthel. 

Aku bersyukur kedua putraku tak suka keliling kampung atau jalan raya sekedar gagah-gagahan ngebut. Karena aku tak suka melihat anak-anak yang masih di bawa umur naik motor, terlebih tanpa memakai helm pengaman. Apalagi mereka kadang memboncengkan adik atau temannya yang juga sama-sama bertubuh mungil. Batinku saat itu, anak-anakku kalah berani naik motor dibanding mereka. Padahal tubuh anak-anakku lebih bongsor dibanding teman yang usianya sebaya atau lebih tua dua / tiga tahun.

Dengan adanya kejadian kecelakaan putra selebritis, aku makin menanamkan kepatuhan berkendara pada kedua anakku. Aku dan suami menjelaskan, bahwa secara teknis, mungkin saja anak usia 10 tahun sudah bisa mengendarai motor. Tapi, secara mental, mereka belum siap. Daya pikir yang masih dimiliki hanyalah keberanian membawa motor. Otak anak-anak ini belum mampu mencari jalan keluar saat menghadapi masalah seperti kendaraan di depan yang berhenti mendadak.


Kepatuhan seorang anak bergantung lurus dengan ketegasan orang tua. Kita harus mampu menarik garis tegas, apakah anak kita sudah saatnya diijinkan membawa motor sendiri sesuai dengan keputusan yang berwenang? Karena anak di bawah usia 17 tahun, belum memiliki kebutuhan membawa motor sendiri.




Reading Time: