My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Selasa, 19 Mei 2020

Berkebun Menjadi Self Healing Ketika Pandemi
Mei 19, 2020 13 Comments

Berkebun Menjadi Self Healing Ketika Pandemi

Self Healing

Assalamualaikum Sahabat. Saya terlahir dan tumbuh dewasa sebagai orang kota. Bahkan sampai berkeluarga pun masih setia menempati rumah di tengah kota. Padahal saking pengennya jadi orang desa, saya dulu sempat berujar mau mencari jodoh orang desa. Ternyata semesta tak mendukung, wkwkkk. 

Mengapa sih saya begitu pengen tinggal di desa? Entah lah, saya sendiri nggak yakin alasan yang sebenarnya. Cuma karena rumah masa kecil saya itu di gang kecil, dan bertetangga dengan penjual yang boro atau merantau di Semarang. Rata-rata mereka berasal dari Delanggu.

Saya pernah minta ibu untuk diijinkan ikut tetangga pulang kampung. Mereka biasanya pulang kampung saat nyadran. Yaitu kegiatan tradisi membersihkan makam dan selamatan. Kebetulan salah seorang tetangga ada yang seumuran dan dia ikut pulang kampung ibunya. Ibunya memang salah seorang keturunan warga Jati Rogo, Delanggu. 

Sejak saat itu setiap kali ada teman atau keluarga bapak ibu saya yang pulang kampung, saya tak mau ketingalan ikut mereka. Siapa yang punya kampung gitu, saya dengan pede mengajukan diri ikut pulang. Saya melakukan ini sampai udah jadi mahasiwa, ahahaha.

Saya memang menyukai tanaman hijau. Kesukaan ini mengantarkan saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dari SD hingga SMA. Di SMA pun saya masuk grup pecinta alam. Bahkan saat kuliah, saya pun ikut aktif di kegiatan WALHI kampus Politeknik Undip (sekarang : Polines).

Memandang pepohonan bikin pikiran tenang, hati pun senang. Mencium aroma daun, atau menyentuh embun di permukaan daun, menjadi sensasi yang bikin kangen. Hal ini mampu mengirimkan signal ke otak dan memproduksi lebih banyak serotonin. 

Udah tahu kan, kalo serotonin itu memiliki fungsi mempengaruhi suasana hati. Serotonin juga berperan sebagai pencernaan, proses pembekuan darah, pembentukan tulang, dan fungsi sek**al.

Kegiatan berkebun memang bikin saya melupakan huru hara warga negeri ini yang dengan bebasnya ke mall, memilih baju baru, atau buka bersama. 

Cemas Muncul Membaca Berita Tentang Covid-19

Sejak covid masuk ke Indonesia, saya masih santai memang. Kayaknya waktu itu masih sedikit orang yang terpengaruh dengan berita dua orang perempuan, ibu dan anak yang menjadi PDP.

Namun semua berubah begitu menjelang akhir Maret, penderita PDP mulai bertambah. Semua kegiatan sejak pertengahan bulan Maret dilakukan di rumah. Dari belajar, bekerja, semua dilakukan dari rumah saja.

Informasi seputar covid sangat deras mengalir disajikan di portal berita, di share di grup WA, dan semua sosial media lainnya. Banyak yang kemudian menjadi cemas, dari versi ringan hingga berat. Bahkan ada yang butuh curhat karena membaca info menjadikan hatinya parno, jantung deg-degan, pikiran kalut dan pusing kepala.

Saya sendiri terpengaruh nggak sih dengan info seputar covid? 

Awalnya iya, banget. Kemudian saya japrian dengan teman dan adik ipar yang bekerja sebagai tenaga kesehatan. Saya juga mencari tahu tentang covid dari teman blogger yang bekerja di dinas kesehatan. Saya mulai membatasi diri dengan tidak membaca semua info di portal berita. Baik yang di share di grup WA maupun di sosial media lainnya. 

Kemudian seperti ketika saya memiliki masalah, ada langkah yang sudah membantu meringankan kesedihan atau rasa nggak nyaman karena pandemi ini. Artinya sebelum ada pandemi, seiring usia saya tentunya udah beberapa kali mengalami masalah. Dari masalah kerja, dengan teman kerja, dengan bos, dengan tetangga, dan siapapun yang mungkin terjadi selama ini. Saya tidak langsung menanggapi dengan emosi.

Ada prosedur yang menuntun saya mengambil keputusan, apakah akan defensif, assertiv, atau cuek? Tergantung tentunya dengan ringan atau berat masalah yang muncul.

Saya tak pernah mengijinkan seseorang melukai hati. Caranya adalah dengan mengandaikan seseorang sebagai subyek, dan masalah sebagai obyek. Jadi masalah yang harus dicari solusinya, bukan bermusukan dengan orang yang bikin masalah. 

Sampai sejauh ini, paling aman memang peduli pada diri sendiri dahulu. Orang lain itu pelengkap kebahagiaan. Kalo orang lain jahat pada kita, nggak penting. Dia bisa dihilangkan kehadirannya jadi bahagia saya tak akan terusik. 

Menyembuhkan luka   hati dari masalah dengan orang lain memang kembali pada diri sendiri. Sepanjang kalian bisa lebih memedulikan kebahagiaan diri sendiri, tak penting kok sikap atau ucapan orang lain tentang kita. 

Mulai lah dengan ritual sejak pagi sehabis shalat, ajak diri sendiri untuk berbicara. pikirkan hal baik yang sudah kalian kerjakan, rejeki yang sudah diterima, mengucapkan syukur, dan tersenyum lah. Berterima kasih pada diri sendiri yang telah berani jujur mengungkapkan kesedihan. Menangis pun tak apa. Agar luka hati bisa terlepas dari selongsong di lubuk yang terdalam.

Seperti cemas yang muncul saat mengetahui warga yang tidak patuh saat antri di kasir. Pengennya sih saya tegur ya karena mereka tidak mau berdiri di tanda antrian yang udah disediakan pihak pengelola supermarket. Namun percuma dong saya jelasin kalo aslinya memang mereka adalah warga yang covidiot.

Saya hanya bisa istighfar dan berharap mereka mau mengetahui cara penyebaran virus covid. Saya menyadari bahwa tidak semua orang mau menyisihkan waktu untuk membaca berita. Mereka senang share berita di WAG, namun belum tentu sudah membaca sebelumnya. Yah, warga negeri ini memang rendah literasi. 

Pilihan Berkebun Sebagai Self Healing Agar Hati Tenang

Self Healing dengan Berkebun

Pandemi covid ini telah mengganggu banyak hal, dari kesehatan, ekonomi, hingga hubungan sosial antar manusia. Baru kali ini warga dunia dituntut untuk diam di rumah. Melakukan semua kegiatan dari rumah. Karena memang tempat teraman adalah rumah.

Nggak hanya pemilik pribadi ekstrovert yang terganggu karena tidak bisa bertemu dan menjalin komunikasi secara langsung dengan orang lain. Mereka yang memiliki pribadi introvert pun juga merasakan kesepian. Terutama kalo si introvert ini merasa nyaman dalam lingkungan yang sudah dikenalnya secara dekat.

Saya adalah si introvert dari SD hingga SMP. Saya pun berusaha membuka diri ketika belajar di SMA karena kritikan dan saran seorang sahabat. Jadi saya si introvert yang bakal measa nyaman dengan lingkungan pertemanan yang udah lama kenal. Saya bisa menjadi pribadi yang ceria dan bercerita banyak hal pada orang yang udah akrab sejak lama.

Ketika harus di rumah aja, awalnya saya senang. Nggak apa lah menurut anjuran pemerintah. Bukankah saya selama ini juga bekerja dari rumah? 

Namun setelah mengisi waktu di rumah dengan berkreasi menu baru, nontn film di channel TV, kebosanan mulai datang. Saya memang nggak bisa diam sih. Jadi harus ada kegiatan yang bakal bikin saya bergerak. Bosan kan kalo harus duduk seharian di depan TV, atau baca buku?

Self Healing dengan Berkebun

Saya mulai menengok teras rumah di depan. Tempat tembok pagar dengan pot yang berjajar dan tanaman yang beragam. Saya mulai membenahi gulma di pot, memotong ranting kering dan daun kuning. Trus udah selesai, mau ngapain lagi?

Ahh, ternyata nonton channel di YouTube pun ada juga manfaatnya. Saya mulai tertarik untuk menanam beragam sayuran dan cabe. Cabe kan ada banyak jenisnya, dari cabe keriting, cabe rawit setan, cabe rawit hijau, cabe scorpion, cabe gendot, cabe rainbow, dan lainnya. 

Foto di bawah ini adalah tanaman baru berupa semaian benih pok coy, cabe keriting, kemangi, tomat marglobe, dan daun bawang. Saya senang juga dengan tanaman daun mint yang tetap sehat setelah beli di tempat jual tanaman. 

Berkebun

Ternyata dengan kegiatan berkebun ini, saya mendapatkan manfaat. Apa aja sih manfaatnya, yuk teruskan membacanya ya.

Berkebun, meski lahan di rumah saya sempit, mampu menarik fokus saya pada kegiatan yang menyenangkan. Kalo semula saya tiap hari buka info tentang covid di laman resmi pemerinah daerah Jateng. Dan saya juga ngecek jumlah orang dengan PDP, ODP, atau OTG yang ada di aplikasi jarak terdekat dengan rumah saya. Hasilnya kadang bikin saya dag dig dug kalo ada pertambahan penderita.

Situasi pandemi memang sulit, banyak yang menghadapinya dengan kemarahan, sedih, emosi, dan belasan perasaan lain. Tiap orang butuh menyembuhkan kesedihan atas rasa tak nyaman ini dengan me time dan tidak terus menerus mencari info covid.

Saya sendiri memilih berkebun untuk self healing bagi diri sendiri. Dengan merawat tanaman yang ada di teras depan rumah, saya kadang bisa menghabiskan waktu sejam hingga dua jam lebih. Dari membersihkan rumput liar di pot, mengambil daun kuning, memotong dahan yang tidak berguna, agar tanaman tumbuh sehat. 

Bagi orang yang tak menyukai berkebun, tentu gak yakin dengan pilihan kegiatan ini. Mereka bisa saja menganggap berkebun itu rumit, kotor, dan panas karena kena sinar matahari.

Sementara bagi saya dan orang yang menyukai berkebun, kegiatan ini sesuatu yang menyenangkan. Kadang melihat kuncup baru tumbuh saja, mampu membuat hati bersorak kesenangan. Seperti saat saya menyaksikan benih pok coy yang saya tanaman hari Minggu jam 10 lebih, gak sampai dua hari udah muncul sprout atau calon daun. Saya jadi meloncat girang di teras, padahal itu selasa abis shubuh loh. Hihihii.

Ternyata apa yang saya rasakan ini merupakan efek mampu melarikan diri dari kebosanan dan rasa cemas dari berita tentang covid. Berkebun mampu membuat saya fokus dengan memberikan kesempatan bagi bagian otak untuk lebih kreatif. Seperti yang dituturkan oleh Dr. Joshua Klapow Ph.D.

"Berkebun itu melibatkan ketrampilan kognitif dan motorik. Ada rasa menempatkan perhatian orang pada sesuatu yang  positif,"

Rasa bahagia atau panik itu bisa menular karena pada intinya manusia terutama masyarakat Indonesia memiliki konformitas yang tinggi. Jika orang-orang sudah panik, maka mereka bisa menjadi agresif. Mungkin kah orang-orang yang kemarin menyerbu mall di Ciledug itu ungkapan kepanikan karena kelamaan di rumah?

Hmm, saya nggak yakin. Karena orang yang sudah di rumah dengan niat menahan penyebaran virus, akan tetap di rumah kalo mengetahui korban masih saja bertambah.

Coba deh lakukan kegiatan yang menyenangkan, yang bikin rasa cemas, panik, maupun sedih bisa dihempaskan. 

Saya selama pandemi memang lebih banyak di dapur dan berkreasi menu baru serta mengulang menu lama yang jarang dimasak. Namun saya juga perlu menemukan kegiatan yang lebih banyak lagi agar pikiran teralihkan dari rasa sedih. Atau bisa mengalihan rasa cemas melihat rang-orang yang masih santuy berkerumun di kafe atau angkringan. 

Itu lah kenapa saya juga sharing di sosial media dengan menu berbuka. Atau cerita tentang kebun di lahan sempit yang saya lakukan. Saya ingin menularkan hal-hal positif seperti itu untuk menguatkan sesama. Bahwa ibu-ibu bisa kok merawat tanaman meski katanya gak punya bakat. Atau bikin jajanan yang hits, seperti donat, brownis, dan lainnya. Yang penting lakukan kegiatan dengan hati ringan dan senang. Lakukan dengan tekun dan percaya diri bahwa kalian bisa. 

Tetap bersabar di rumah aja dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan. Gak apa juga nonton drakor kalo itu bikin pikiran bisa teralihkan dari info tentang covid atau tingkah warga negeri ini yang covidiot. 

Tetap jaga silaturahmi dengan saling menyapa di dunia maya, via chat WA, atau pun video call. Saling berkabar seperti ini bisa menguatkan, membangun suasana positif selama pandemi masih bercokol di negeri ini. Yuk saling menyemangati agar tetap di rumah dengan sharing kegiatan yang seru dan bikin hepi, sahabat. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Senin, 18 Mei 2020

Hari Pertama Trip Lombok 4 Day 3 Night Bersama Sahabat Bogger
Mei 18, 2020 8 Comments

Trip Lombok 4 Day 3 Night Bersama Sahabat Bogger

Trip Lombok

Assalamualaikum Sahabat. Perjalanan ini sangat saya nantikan. Kalian tentunya juga akan merasakan hal sama bila memiliki rencana trip bersama sahabat. Terlebih teman seperjalanan saya adalah Mba Tanti, pemilik blog Lalang Ungu, Ruang Ekspresi Sepotong Hati.

Dari awal trip ini rencananya adalah bulan Februari. Tapi sengaja saya dan mba Tanti mundurkan karena kayaknya curah hujan tinggi. Jadi pada bulan Januari 2020, saya pun pesan tiket Joga - Lombok PP untuk bulan Maret 2020.

Dua tahun yang lalu, saya pernah cerita di blog ini kalo destinasi wisata impian yang belum sempat dikunjungi salah satunya adalah pulau Lombok. Pengen banget bisa berkunjung ke Lombok bareng suami dan anak-anak. Namun sayangnya suami sedang banyak kerjaan mulai Desember 2019 hingga Juni 2020. Yah masa gagal lagi mau dolan ke Lombok?


Saya ingat pernah ngobrol di WA dengan mba Tanti tentang impian pergi bareng. Alasannya karena kami beberapa kali pergi dalam satu perjalanan dan seru banget. Iseng-iseng akhir tahun chat dengan mba Tanti, gimana klo ngetrip bareng ke Lombok. Ternyata gayung bersambut. Dan kami sempat cerita juga di grup WA, siapa tahu ada teman-teman yang ingin gabung bersama kami.

Kabar Covid dan Keputusan ke Lombok

Awal Februari waktu membaca kabar ada dua orang WNI yang tertular covid, saya sempat santai. Mereka tingal di Jakarta dan tertular dari orang Jepang. Namun ternyata makin hari berita tentang virus satu ini makin santer.

Saat itu saya dan Mba Tanti tengah memilih paket tour yang akan menemani selama di Lombok. Saya dan mba Tanti baru pertama kali berkunjung ke Lombok, jadi butuh guide yang profesional tentunya. Kami inginnya ngetrip enjoy. Nggak usah mikir gimana menuju ke lokasi wisata, makan di mana, dan printilan lainnya yang rumit dan bakal mengganggu kesenangan jalan-jalan.

Semua sudah siap, ketika Jakarta mulai ada penambahan pasien baru PDP. Tapi berita seputar covid masih belum heboh. Awal bulan Maret, ada teman blogger yang juga memutuskan ke labuan bajo. Saya pun terus memantau kondisi di daerah wisata lainnya.

Dari berita juga saya membaca tentang kondisi di Lombok. Ternyata masih sama dengan di Jawa Tengah. Pembatasan wilayah juga belum dilaksanakan di Jakarta. Sementara di negara lain sudah ada lockdown atau karantina wilayah. 

Dari diskusi dengan keluarga dan mba Tanti, kami memutuskan untuk tetap berangkat. Toh kondisi daerah yang akan kami kunjungi masih aman. Namun saya dan mba Tanti tetap bersikap hati-hati dengan membawa hand sanitizer dan masker. 

Menuju Kota Jogja, Mampir Makan di Bakmi Jombor

Mba Tanti berangkat dari Pekalongan, dan kami udah janjian akan bertemu di stasiun Poncol. Alhamdulillah suami bisa mengantar saya dan mba Tanti ke tempat travel yang sudah saya pesan di kawasan jalan Atmodirono. Perjalanan juga lancar dari stasiun setelah menjemput mba Tanti menuju travel Kencana.

Cuma waktu tiba di travel, baru mba Tanti ingat bahwa tumbler nya ketinggalan di tempat duduk saat nungguin saya. Duhhh, moga sekali itu aja kejadian ketinggalan ya.

Perjalanan menuju Kota Jogja dengan naik travel juga berjalan lancar. Jalanan memang masih ramai namun tak terjadi kemacetan. Saat memilih jam keberangkatan travel, kami sengaja memilih jam 14.00 wib. Alasannya agar sampai di Jogja sekitar waktu maghrib dan sempat makan malam dulu. Kami juga nggak tergesa memburu waktu karena keberangkatan pesawat ke Lombok masih pukul 21.00 wib.

Atas kesepakatan bersama, saya meminta driver travel untuk mengantarkan kami di rumah makan daerah Jombor. Karena kalo ikut travel ke pool, lokasinya di tengah kota. Dan takutnya jalan macet kan kalo weekend. Sementara kalo dari Jombor, kami bisa langsung menuju bandara dengan jarak tempuh sama tapi jalannya lancar.

Driver berbaik hati menurunkan saya dan mba Tanti di kawasan Jombor, Kota Jogja. Ada warung makan yang menyajikan mie dan nasi goreng ala Magelangan. Saya sendiri belum pernah beli di warung makan Bakmi Jombor ini. Pilihan driver sih waktu itu dan kami berdua setuju aja. 

Sambil menyeret koper ke warung, saya memilih tempat duduk di ruangan yang agak besar. Saya memesan jeruk panas dan nasi goreng. Dan saya kaget waktu lihat penampakan pesanan yang disajikan si ibu penjual. Porsi gede, gaes!

Ya udah lah berdoa dulu sebelum menikmati nasi goreng porsi gede, semoga habis deh. Hihiiii.

Trip Lombok

Mbak Tanti memesan nasi goreng mawut atau nasi goreng Magelangan. Yaitu nasi goreng yang ada campuran mie. Saya udah sering makan menu ini di tempat lain. Sementara mba Tanti penasaran makanya mau nyoba nasi goreng mawut atau ruwet ini.

Rasanya lumayan enak, mungkin karena saya kelaparan dan belum sempat makan dari pagi ya. Kebiasaan kalo pagi sarapan buah, dan harusnya siang makan nasi. Tapi karena sibuk prepare barang yang mau dibawa jadi terlupa makan. Tapi saya sempat ngemil roti di perjalanan.

Usai makan, Mba Tanti segera memesan taksi online untuk mengantar ke bandara Adi Sucipto. Sayangnya driver taksi online memberi kami petunjuk lokasi parkir yang cukup jauh dari warung Bakmi Jombor. Padahal saya dan Mba Tanti udah keluar warung dan jalan kaki beberapa meter. 

Ternyata tempat kami menunggu itu 'daerah merah' ojol atau taksi online. Jadi kami pun menyeret koper saat Maghrib menuju belokan yang lumayan jauh, tempat taksi dan driver udah nungguin. Itu aja sempat bertanya pada orang yang kebetulan lewat, lokasi yang dimaksud oleh driver.

Drama Salah Terminal Bandara

Driver taksi online segera melajukan mobilnya menuju bandara. Sempat isi bensin juga di jalan. Alhamdulillah tak berapa lama, kami sudah diantar di halaman parkir Terminal A. Agar hati tenang kami numpang shalat dulu di mushola yang letaknya dekat deretan mesin ATM.

Setelah itu kami pun bertanya pada petugas letak Terminal B. Olalaa, jawaban petugas bikin saya dan mba Tanti senyum-senyum.

Ternyata Bandara Adisucipto itu memiliki dua terminal kedatangan dan keberangkatan domestik. Terminal A untuk keberangkatan dengan menggunakan Garuda Indonesia, Lion Group, Citylink, dan untuk kedatangan pesawat Garuda, Air Asia, Lion Group, Citylink, Sriwijaya, dan Express Air. Sementara Terminal B untuk keberangkatan domestik Sriwijaya Group dan Express Air serta keberangkatan dan kedatangan international Air Asia dan Silk Air.

Trus, di mana dong letak Terminal B?

Petugas bandara pun menjawab, gak jauh kok, sekitar 200 meter saja dari Terminal. Saya pun berhitung memperkirakan jarak dan menganggap dekat. Karena tiap hari juga udah terbiasa jalan kaki sejauh 2 km, hahahaa. 

Gaya banget loh, petugasnya udah nawari untuk naik golf car aja, tapi memang kudu nungguin penumpangnya penuh. 

Trip Lombok
Sebelum jalan kaki
ke Terminal B, sempat foto-foto


Saya dan mba Tanti memilih jalan kaki karena alasan waktu yang masih longgar. Dari pada nunggu di Terminal B kelamaan, mending olah raga malam lah.

Jadiii...kami pun jalan kaki sambil menyeret koper dan nyangklong tas. Jadi pemandangan tersendiri karena hanya kami berdua sih yang jalan dari Terminal A ke Terminal B. 

Saya dan mba Tanti memiliki bayangan tentang lokasi terminal yang bersambung, alias nggak terputus oleh bangunan gitu. Rupanya bukan seperti bayangan kami, sahabat.

Terminal A dan B Bandara Adisucipto Jogja itu letaknya di 2 gedung yang terpisah dan nggak nyambung. Kami harus keluar dari Terminal A dan menyusuri trotoar di pinggir jalan beraspal pada malam sepi nan sunyi. Kemudian ngikuti jalan belok kiri dan lurus sampai nanti ada tulisan penunjuk arah Terminal B. Jalannya ada penerangan tapi nggak terang benderang. Iya sih buat apa coba ngasih lampu jalan sampai terang benderang.

Trip Lombok

Beruntung lah nggak sendirian, karena saya lebih takut sama orang jahat. Kalo ketemu mak kunti paling dia yang takut sama emak setrong ini. Hahahaa.

Berdua dengan mba Tanti berjalan kaki tetap asik dan seru aja. Kami malah ketawa tiap kali mengingat tingkah konyol salah bandara ini. Dan nampaknya hanya kami aja yang salah turun dari taksi. Karena sepanjang perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 30 menit itu, tak nampak orang yang menyusul kami. Bahkan golf car pun nggak terlihat melintas. 


Setibanya di Gedung Terminal B, kami segera menuju ruang pemeriksaan. Alhamdulillah semua berjalan lancar hingga kami sudah duduk manis di ruang tunggu keberangkatan. Bahkan kami sempat beberapa kali ambil foto bergantian dan selfi bareng. Hihihii. Kenangan indah harus direkam agar ada jejak perjalanan kami berdua.

Trip Lombok

Di ruang tunggu bandara cukup ramai. Ada rombongan anak kuliah kayaknya yang sepertinya akan pulang ke Lombok. Terlihat dari tentengan di tangan mereka adalah oleh-oleh khas Jogja. 

Nah di Bandara Adisucipto tak nampak perlakuan khusus bagi semua penumpang untuk pemeriksaan suhu tubuh atau lainnya. Masih biasa aja tanpa prosedur seperti yang saat ini ada di seluruh bandara untuk pencegahan covid.

Tulisan ini sampai di sini dulu ya. Semoga saya bisa segera menuntaskan rangkaian cerita Trip Lombok 4D3N bersama sahabat saya, mba Tanti. Wassalamualaikum. 
Reading Time:

Minggu, 17 Mei 2020

3 Hal Yang Penting Dilakukan Menjelang Hari Terakhir Ramadan
Mei 17, 20200 Comments

3 Hal Yang Penting Dilakukan Menjelang Hari Terakhir Ramadan

Doa menjelang Ramadan Berakhir

Assalamualaikum Sahabat. Ramadan nyaris berakhir, dan rasanya saya masih merasa kurang melakukan ibadah dalam segala segi. Ramadan tahun ini cepat banget berjalan. Saya sampai speechless waktu berbincang hal ini dengan suami.

Trus kami berdua saling mengingatkan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Mumpung masih ada sisa hari di akhir ramadan kan.

Ini 3 hal yang kami lakukan menjelang hari terakhir ramadan :

- Berdoa Mohon Ampunan dan Terbebas dari Masalah

Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah dalam urusan agama, dunia, keluarga dan hartaku.

Ya Allah, tutupilah auratku dan tenangkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Jagalah aku dari arah muka, belakang, kanan, kiri dan dari atasku, dan aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak dihancurkan dari bawahku.

Terlebih malam lalilatul qadar termasuk dalam malam terakhir bulan ramadhan. Dan ini juga waktu yang mustajab untuk berdoa. Sebaiknya setiap muslim membaca doa apapun untuk kebaikan dunia dan akhiratnya. Dan Doa Aisyah diatas adalah doa yang paling baik, karena doa ini diajarkan langsung oleh Nabi kepada istrinya yaitu Aisyah. 

Doa sebelum Ramadan berakhir

- Perbanyak Sedekah

Mumpung ramadan belum berlalu, ini adalah saat-saat terbaik menyisihkan sebagian harta untuk orang yang tidak mampu. 

Doa menjelang berakhirnya Ramadan

Saat pandemi juga pas banget bila melihat ke sekeliling kita, mana tahu ada tetangga yang tidak bisa makan hari ini. Coba deh ulurkan bantuan dengan memberikan sembako dan uang untuk membeli lauk.

- Doa Terhindar dari Api Neraka

Saya mendapatkan doa ini dari simbah waktu masi kecil. Tiap liburan bulan puasa (jaman kecil dulu tiap bulan ramadan libur sebulan), saya dan sepupu selalu nginap di rumah simbah. 

Kalo pagi hari kami diajarkan bacaan doa yang sampai hari ini masih sering saya baca. Seperti shalawat tiap kali bepergian, istighfar setiap saat, ayat kursi setiap mau tidur, dan lainnya. 

Salah satunya adalah doa agar terhindar dari api neraka. Berikut ini doanya :

Ya Allah, selamatkanlah aku dari api neraka dan masukkan aku ke dalam surge-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Doa diatas biasanya saya baca pada tanggal 21 Sampai akhir Bulan Ramadan. Kata simbah dulu, doa ini memohon kebebasan dari api neraka. Jadi bila ingin dijauhkan dari api neraka, perbanyaklah membaca doa seperti diatas.

Demikian tiga hal yang selalu saya lakukan menjelang berakhirnya bulan ramadan. Meski hari biasa pun saya juga melakukannya. Namun memang saat 10 hari terakhir, melakukan tiga hal di atas memiliki makna yang lebih dalam. Wassalamualaikum.

Reading Time:
Peduli Dengan Berbagi Pada Mereka Yang Terdampak Pandem
Mei 17, 2020 41 Comments
Peduli Dengan Berbagi Pada Mereka Yang Terdampak Pandemi

Berbagi Saat Pandemi

Assalamualaikum Sahabat. Sepuluh hari terakhir ramadan biasanya menjadi saat yang bikin baper. Saat-saat ramadan akan meninggalkan kita. Semoga kita masih diberikan waktu dan rejeki untuk berjumpa ramadan tahun depan dalam kondisi yang lebih baik. Saat yang sama juga merupakan hari-hari yang menceriakan karena lebaran akan tiba. Keceriaan yang membungkus suasana dalam silaturahmi bersama keluarga, kerabat, dan sahabat.

Sayangnya ramadan dan lebaran tahun ini tidak seperti biasanya. Kondisi pandemi yang masih mencengkeram erat warga negeri ini, mengikis sedikit keceriaan dalam menyambut bulan suci. Suasana ramadan yang sepi dari kegiatan tarawih, berbagi takjil, dan tadarus di masjid, tentunya menjadi akan jadi kenangan pahit.

Namun sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia, kita diwajibkan tetap berprasangka baik dengan kondisi saat ini. Pandemi memang mengusik kegiatan warga negeri ini dan juga warga dunia, untuk sejenak berhenti. Seakan alam mengnginkan manusia beristirahat dari kegiatannya yang mengusik alam selama ini. Polusi udara, kemacetan jalan raya, sampah yang berlimpah di TPA dan di jalanan, sudah saatnya dikurangi secara luas.

Terlihat kan begitu pemerintah mengumumkan agar seluruh masyarakat stay at home, dan pekerja agar work from home, pelajar dan mahasiwa juga learn from home, lingkungan menjadi lebaih baik. Langit biru karena tak ada polusi udara yang membungkus udara kota. Jalan terlihat agak lengang karena banyak warga yang melakukan kegiatan di rumah saja.

Tapi masa iya ada pandemi seperti ini baru perubahan lingkungan bisa terwujud? Nanti setelah pandemi usai, artinya situasi kembali seperti semula dong? Ngenes ya jadinya.

Ulang Tahun Dalam Keprihatinan

Mungkin kah ada yang mengingat bahwa tahun ini Indonesia genap berusia 75 tahun? Kalo mengingat jutaan impian milik warga negeri ini bisa merayakan ulang tahun negeri dalam keceriaan, sepertinya tidak akan terlaksana. Mengingat sekarang ini kurva orang yang terjangkit covid masih terus meningkat. Dan sampai kapan pandemi berakhir, beberapa ahli tidak berani memberikan prediksinya.

Bukan itu saja. Pemerintah bahkan akan mengendurkan peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Yaitu bagi mereka yang berusia di bawah 45 tahun diperkenankan untuk berkarya kembali. Alasannya adalah karena mereka tergolong warga dengan imunitas tubuh bagus.

Saya malah berpikir seperti ini,  kalo warga usia di bawah 45 tahun bekerja lagi di kantor. Mereka memang memiliki imunitas bagus karena faktor usia. Namun itu artinya bila mereka terpapar virus di luar rumah, ketika pulang bisa saja menjadi OTG (Orang Tanpa Gejala) yang membawa virus di tubuhnya. Ini sih perkiraan saya sebagai orang awam dari hasil membaca berbagai informasi seputar penyebaran virus covid-19.

Kondisi dalam PSBB aja masih banyak orang yang keluar rumah untuk hal tak penting. Apalagi bila PSBB dibuka, apa tidak mungkin warga menjadi bertindak ngawur? Traveling bebas, ke kafe/restoran, ngumpul di angkringan. Bayangkan bila beberapa warga membawa virus dalam tubuhnya, dia menjadi OTG. Karena terlihat sehat, bugar, namun di dalam tubuhnya ada virus covid.

Udah tahu kan gimana penyebaran virus covid? 

Yup, virus ini cara penyebarannya adalah dari satu orang ke orang yang lain melalui percikan (droplet), dari saluran pernapasan yang sering dihasilkan ketika batuk atau bersin. 

Perlu kalian tahu, jarak jangkauan droplet dulu sekitar 1 meter. Namun saat ini WHO menyebut jarak jangkauan droplet menjadi 2 hingga 3 meter. 

Droplet ini lah yang bisa menempel di permukaan benda. Seperti meja, pintu, handle pintu, angkutan umum, dan benda lain di tempat umum.


Kalo warga berusia di bawah 45 tahun ini menjadi OTG, bisa dibayangkan dong efek dominonya. Yaitu ketika dia pulang dan bertemu dengan keluarga di rumah, bisa terjadi penyebaran virus.

Terlebih bila di rumah tersebut ada orang lansia, anak-anak, ibu hamil. Bisa membayangkannya nggak sih apa yang akan terjadi?

Harapan saya dan banyak teman-teman di luar sana, yang masih aware dengan tetap diam di rumah, adalah putusnya mata rantai penyebaran virus. Semoga pemerintah mempertimbangkan kembali peraturan yang akan melonggarkan PSBB. Pengen kan kurva covid di Indonesia melandai pada bulan Juli? Sehingga perayaan ulang tahun kemerdekaan RI ke 75 bisa berlangsung meriah di seluruh negeri.

Tetap Menjaga Pola Hidup Sehat       

Akhirnya memang semua kembali pada diri kita sendiri. Sebagai istri dan ibu, saya sejak memiliki bayi pun sudah mengingatkan suami untuk jaga kebersihan dan kesehatan tubuh. Begitu anak-anak mulai tumbuh, hal serupa pun saya tekankan pada mereka.

Saya terbiasa menjaga pola hidup bersih dari bapak yang disiplin untuk jaga kebersihan. Tiap pulang dari bepergian, bapak selalu menekankan agar kami segera mencuci kaki dan tangan. Baju juga segera masukkan ke ember cucian.  Baru lah kemudian kami boleh ambil minuman atau makanan. 

Kata bapak waktu itu, kuman dari luar akan terus menempel tubuh bila langkah yang dimintanya tidak dilakukan. 

Apa yang diajarkan bapak sejak saya kecil, ternyata merupakan langkah yang dianjurkan oleh Kemenkes sebagai pola hidup bersih dan sehat dengan GERMAS. Perilaku pola hidup bersih dan sehat memang penting, terutama saat terjadi pandemi seperti sekarang. Apalagi kalo kalian masih harus bekerja keluar rumah. Atau butuh belanja sayuran dan kebutuhan rumah tiap periode tertentu. 

Berikut beberapa hal yang mesti jadi perhatian saat pandemi covid:     

1. Rajin mencuci tangan dengan sabun

Menjaga kebersihan menjadi salah satu rutinitas yang paling sering digaungkan sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Salah satu perilaku menjaga kebersihan yang sangat gencar dikampanyekan adalah mencuci tangan memakai sabun. Kalo diingat kegiatan mencuci tangan ini sebenarnya sudah dilakukan saat mau bersuci (wudhu). Bila kalian melakukan bersuci dengan benar, itu lah langkah yang sama dengan saran dari Kemenkes.

Sebagai langkah awal pencegahan masuknya virus, mencuci tangan dengan sabun merupakan bagian dari kesadaran akan penerapan PHBS. Sebenarnya, mencuci tangan dengan sabun merupakan perilaku normal keseharian yang harus dilakukan. Karena itu jadikan hal ini sebagai kebiasaan baik ya.

2. Meningkatkan Imunitas Tubuh

Sistem imun yang kuat dipercaya menjadi benteng terbaik terhadap serangan virus. Karena itu masyarakat sekarang mulai rajin mencari informasi tentang hal tersebut. Salah satu caranya adalah dengan menjaga asupan tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.

Berbagi Saat Pandemi

Yaitu memperbanyak sayur dan buah sebagai konsumsi sehari-hari di luar makanan yang biasanya. Karena kalo untuk meninggalkan kebiasaan makan sebelumnya yaitu nasi, lauk pauk, dan sayur, diganti raw food, bukan hal mudah. Membiasakan perbanyak ngemil sayuran dan buah saja dan meninggalkan snack kemasan pabrik. 

Pada bulan puasa kebetulan banget kan, bisa membatalkan puasa dengan minum air putih atau teh hangat dan kurma. Sahabat bisa loh memilih kurma Medjool yang memiliki kandungan lebih dibanding kurma lainnya. 

Pandemi Covid, menjaga kesehatan

Untuk mengetahui manfaat kurma Medjool, silahkan baca :



Berikutnya setelah shalat Maghrib, saya ngemil buah potong. Baru setelah shalat Isya dan tarwih, bisa menikmati makan secukupnya. Saya tetap makan nasi dengan ukuran 3 sdm dan sayuran serta lauk yang ada. 

Saya selalu menyediakan buah-buahan lokal yang saat ini banyak dijual dengan harga murah. Saya sudah lima tahun ini tiap sahur hanya makan buah potong dan jus sayuran. Ternyata karena udah biasa, tubuh jadi terasa ringan dan enggak lemes saat melakukan kegiatan pagi hari. Saya bisa aktif berkreasi dengan merawat tanaman setiap pagi habis shalat subuh, menulis artikel ikut challenge selama 30 hari di salah satu komunitas blogger, dan menyiapkan makan untuk berbuka.

3. Rutin Olah Raga

Meski puasa saya dan anak-anak tetap melakukan olah raga ringan. Biasanya sehabis tarwih kami memilih olah raga ringan sit up. Saya hanya mampu melakukan gerakan sit up sebanyak 30 kali. 

Yang penting tetap bergerak agar tubuh terasa segar dan tidak mudah sakit. Saya merasakan sendiri sejak rutin olah raga, bulan puasa ini menjadi lebih bugar. Tidak mudah lelah dan tetap bersemangat melakukan semua pekerjaan rumah.

4. Berjemur Sambil Berkebun

Setiap hari saya berjemur di depan rumah sambil nyiram tanaman. Paling bagus memberi nutrisi pada tanaman adalah sekitar pukul 9 hingga 10 pagi hari. Saat stomata tanaman muncul untuk mencari makanan.

Alhamdulillah makin banyak waktu di rumah, koleksi tanaman saya justru makin banyak. Saya punya waktu yang luang untuk merawat tanaman lebih banyak lagi.

Berbagi Saat Pandemi

Saat ini selain tanaman lama yaitu jeruk nipis, jeruk purut, jeruk limau, cabe, sirsak, yang semuanya ditanam dalam pot. Juga ada tanaman baru yaitu seledri, daun bawang, cabe keriting, pok coy, tomat, dan kangkung. Saya memesan benih beberapa jenis sayuran di toko online. Rencananya saya akan berkebun dengan model vertikal di lahan sempit depan teras rumah.

Saat ini benih yang saya beli di toko online udah sampai. Hari ini juga menjadi hari pertama saya semai benih cabe keriting, tomat marglobe, pok coy, dan kemangi.

Berbagi Saat Pandemi

Saya bersyukur ada suami dan anak-anak yang memberikan dukungan dengan menyiapkan peralatan untuk menanam model vertikal. Semoga dengan menyiapkan ketahanan pangan dari rumah, saya bisa menghemat biaya belanja sayuran. 

5. Atur Waktu Istirahat

Siapa yang masih melek sampai malam demi kerjaan atau nonton drakor? Nah ini yang kadang sulit dihindari, tidur sampai larut malam. Alasannya banyak, dari ngejar deadline, nonton film atau drakor, jadi biang keladi. Ngejar deadline pekerjaan gak masalah, hanya waktunya yang kurang tepat. Belajar mengatur waktu harus mulai dilakukan agar tidak lagi tidur sampai tengah malam atau bahkan dinihari. Terlebih saat bulan puasa kan kita mesti bangun pukul 03.00 atau sesuai waktu kalian di daerah masing-masing. 

Ternyata tidur sampai larut malam mengakibatkan beragam masalah. Mulai dari susah mengurangi BB tubuh, kesehatan jangka panjang yang bakal terganggu, dan lainnya.

6. Mengelola Stres

Saat ini begitu banyaknya info seputar covid dan kadang belum tentu benar bisa bikin orang menjadi gampang stres atau ketakutan. Padahal bila pikiran terlalu fokus pada kabar buruk dan kita tak mampu mengelolanya, bisa menyebabkan menurunkan imun tubuh.

Coba saring dan pilah informasi yang valid, agar tidak mudah galau membaca berita. Karena memang banyak sekali berita hoax di portal berita online atau sosial media.

Lebih Peduli Pada Warga Yang Terdampak Pandemi

Berbagi Saat Pandemi

Sahabat, saat ini begitu banyak terjadi PHK karena perusahaan pun terdampak corona. Sulitnya proses produksi berakibat pada sulitnya perusahaan mempertahankan karyawannya. Terutama perusahaan besar manufaktur yang memiliki ribuan karyawan. Adik kandung saya juga mengalami PHK. Alhamdulillah dia bertahan dengan beralih jualan sembako. Model pemasarannya menggunakan sosial media. 

Saya sendiri bersama suami udah tiga kali membagikan sembako. Alhamdulillah tabungan jimpitan yang dikumpulkan oleh pengurus RT, mendapatkan jumlah yang lumayan. Dengan modal tabungan jimpitan, saya pun membelanjakan sembako untuk kerabat, tetangga, dan teman yang terdampak pandemi. 


Melihat pembagian sembako yang saya lakukan bersama suami, atau saat bersama teman alumni SMP, ada perasaan sedih. Ingin sekali bisa membantu lebih banyak. Bayangkan saja dalam satu paket sembako, isinya adalah beras 2,5 kg, gula pasir 1 kg, telur 1/2 kg, minyak 1 liter, dan teh 1 kotak kecil. 

Saya berharap sih paket sembako ini cukup untuk memperpanjang konsumsi makan keluarga penerima. Saya juga berharap lebih banyak lagi pihak yang mengulurkan bantuan pada tetangganya terdekat, keluarga, dan teman-temannya.

Mungkin bisa juga kalian bergerak bersama dengan teman satu komunitas untuk mengumpulkan donasi. Tiap orang bisa menyisihkan donasi seminimal mungkin. Duit 20 ribu yang biasanya untuk beli kopi kekinian, gak akan terasa untuk didonasikan. Duit 20 ribu dari satu orang bila dikumpulkan dalam jumlah puluhan atau ratusan orang, bisa lumayan. Hasil donasi bisa untuk dibelanjakan sembako dan dibagi pada teman satu komunitas yang terdampak pandemi. 

____________

Tidak mudah memang hidup dengan pandemi yang masih ada di lingkungan kita. Namun ingat lah, kita tidak sendiri. Seluruh warga dunia juga mengalaminya. Musibah ini tidak memandang pangkat, harta, usia, karena semua kalangan bisa mengalaminya.

Sebagai manusia kita hanya bisa berdoa dan melakukan ikhtiar semampunya. Dengan harapan pandemi lekas berakhir dan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat kembali pulih. Namun tentunya ada ikhtiar juga dari apa yang kita lakukan untuk tetap mencintai bumi pertiwi dengan hal-hal kebaikan. Hidup dengan menjaga kebersihan dan kesehatan, merawat bumi dengan ikut menanam tanaman, dan ikut aktif berbagi atau mengumpulkan donasi untuk membantu sesama. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Sabtu, 16 Mei 2020

Tips Hemat Pengeluaran Lebaran Saat Pandemi
Mei 16, 2020 13 Comments

Tips Hemat Pengeluaran Lebaran Saat Pandemi

Tips Hemat Pengeluaran saat Lebaran

Assalamualaikum Sahabat. Saat lebaran kebanyakan orang menjadi lupa dengan anggaran belanja yang udah direncanakan. Biasanya karena mendapat rejeki di luar rutinitas seperti dapat THR, bonus, gaji ke-13 misalnya. Mendadak merasa kaya dengan penghasilan tambahan, sehingga memaafkan diri dengan belanja sesukanya. Kayak lapar mata gitu kan jadinya.

Nah sebenarnya penghasilan yang didapat saat menjelang lebaran sudah diantisipasi sebelumnya. Jadi bukan rejeki mendadak ya.

Suami saya dulu amat cermat dalam mengalokasikan pemasukan di luar gaji. Seperti mendapatkan THR, bonus tahunan, dan gaji ke-13. Dia nggak pernah merasa mendapat duit kaget. 

Suami selalu menganggap bonus itu harus dialokasikan untuk membayar pokok harga rumah. Jadi seharusnya rumah lunas tahun 2007, bisa maju 9 tahun lunasnya. Itu karena sering dibayar pokoknya aja saat mendapat rejeki, jadi tahun 1998 kami  dari cicilan bulanan rumah pertama.

Itu lah sebabnya meski sekarang kondisi pandemi dan banyak yang mengalami kesulitan keuangan, bagi kami bukan hal baru. Sebagai orang yang kerja mandiri, naik turunnya penghasilan nggak lagi bikin terkaget-kaget. 

Saya dan suami terbiasa hidup sederhana sejak awal nikah. Punya rumah dengan cicilan yang menguras 2/3 gaji suami, tentu lah bikin saya harus cermat mengatur keuangan. Saya masih bekerja, jadi memang gaji saya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Saat dapat THR, kami berdua sama-sama berhitung dengan cermat. THR suami untuk membayar biaya pokok harga rumah. Sementara THR saya, dibagi untuk menabung dana darurat, berbagi pada saudara yang tidak mampu, dan untuk keluarga (ibu bapak dan adik-adik saya).

Ini yang saya lakukan untuk menghemat pengeluaran, agar setelah lebaran berlalu tetap memiliki uang dan nggak bangkrut.

Tidak Harus Membeli Baju Baru

Baju baru alhamdulillah, tapi kalo baju lama masih bagus, saya memilih tidak membeli baju saat lebaran. Seperti guru ngaji saya, beliau pernah berpesan bahwa baju baru saat lebaran itu tidak penting. Justru kita diharapkan mempersiapkan baju baru saat jelang ramadan. Karena semangat kita menyiapkan lahirian adalah untuk menyambut bulan yang penuh ampunan.


Baru baru untuk dipakai melaksanakan ibadah selama bulan ramadan. Artinya semangat kita harus diperbarui dengan hati yang lebih bersih, niat ikhlas, menjalani puasa, tadarus, tarawih, dan sedekah pada yang kurang mampu.


Masak Untuk Hari Lebaran Secukupnya

Ibu saya pernah masak opor dan sambel goreng dalam jumlah banyak. Maksudnya kalo anak-anaknya ngumpul saat lebaran, bisa menikmatinya bersama. Keponakan ibu dan bapak juga biasanya berkunjung saat hari lebaran pertama. Jadi mereka bisa ikut menikmatinya juga.

Ternyata pas hari lebaran pertama, anak saya sakit dan nggak bisa berkumpul di rumah ibu. Bapak dan ibu pun berangkat ke rumah saya untuk menemani kami. Karena suami tetap harus berangkat ke Boyolali mengantar ibu bapaknya untuk silaturahmi rutin tahunan. Suami yang bisa nyetir mobil, sementara yang lain nggak bisa. Jadi ya saya harus ikhlas suami tidak menemani saya merawat si sulung.

Nah, masakan yang sudah tersaji kelupaan nggak dibawa, jadiya kan mubazir. Sementara keponakan bapak ibu juga akhirnya berkunjung ke rumah saya. Karena mereka memang ingin bertemu orang tua saya untuk silaturahmi dan saling meminta maaf. Sejak saat itu saya minta ibu untuk masak secukupnya aja. Kalo misal sepupu saya datang, bisa disuguhi sayuran pecel atau brambang asem glandir yang lebih segar. Karena belum tentu sepupu saya mau menikmati opor sambel goreng karena udah masak sendiri di rumah masing-masing.

Lebaran tahun ini karena nggak ada kunjungan, saya masak opor Sambel goreng secukupnya. Cukup dinikmati untuk buka puasa hari terakhir dan makan lebaran hari pertama.

Tips hemat pengeluaran lebaran


Menyiapkan Kue Lebaran 

Saya tidak pernah menerima tamu, kecuali saat anak saya yang sulung sakit. Banyak tamu di rumah karena mereka ingin bertemu ibu bapak saya. Sedangkan kalo kondisi biasa ya nggak mungkin sepupu ke rumah saya, karena urutan silsilah keluarga saya termasuk yang muda. Hahahaa.

Tip Hemat Pengeluaran Lebaran
Foto jajanan lebaran tahun lalu

Jadi saya nggak pernah menyiapkan kue kering atau biscuit terlalu banyak. Beli atau bikin kue kering cukup tiga macam. Sisanya paling beli snack kemasan atau jajanan kiloan kesukaan anak-anak. Meski ada pos pengeluaran untuk kue kering yang nantinya akan saya bagikan pada ibu, famili yang tidak mampu, dan yang dituakan. 
__________________

Intinya pengeluaran yang tidak perlu memang sebisa mungkin ditekan atau ditiadakan. Jadi menikmati lebaran pun hati senang karena tidak memikirkan saldo rekening yang nol-nol atau dompet kosong melompong.

Apalagi sekarang kondisi pandemi, saatnya berhemat. Karena kita tidak tahu apakah masih bisa bekerja dengan gaji normal atau mungkin udah kena PHK. Lebaran nggak wajib kok berhura-hura. Esensi kembali ke fitrah adalah membersihkan hati dari kesalahan pada sesama teman dan kerabat. 

Pas banget kan ya dengan berhemat pada hari lebaran tahun ini, tidak mudik, tidak masak sajian lebaran berlimpah, bisa dialokasikan dananya untuk ditabung. Semoga bermanfaat, sahabat. Wassalamualaikum.
Reading Time: