My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Senin, 13 September 2021

Tips dan Resep  Risoles dan Kulit Anti Robek
September 13, 2021 24 Comments


Assalamualaikum Sahabat. Minggu kemarin ada teman suami yang meminta tolong dibuatkan jajanan pastel. Tapi saya sedang enggan ngadonin, jadi menawarkan opsi lain yang isiannya sama yaitu risoles. Bagi saya lebih praktis bikin risoles karena cara pembuatan kulitnya cukup digoreng aja di wajan teflon. Beda dengan pastel, yang butuh diuleni, digiling, aduhh tangan saya lagi males deh pokoknya.

Beruntung sih orangnya mau aja ditawarkan pengganti pastel dengan risoles. Hahahaa.

Dan saya ingat, belum pernah menuliskan resep dan cara membuat risoles beserta kulitnya di blog ini. Jadi waktu bikin risoles ini saya buatkan juga foto dan video step by step

Kulit risoles yang ini adalah hasil resep uji coba sejak anak-anak masih balita. Terutama si sulung yang jadi kelinci percobaan, ups.

Karena si sulung dulunya tergolong anak yang picky eater. Jadi saya mesti pintar-pintar mengganti nasi, makanan yang tidak disukainya dengan karbohidrat yang lain. Bubur ayam kan berasal dari bahan yang sama dengan nasi, dia masih doyan. Tapi saya juga nyoba bikin cemilan yang mengenyangkan. Seperti bakpau, bolu kukus, nagasari, kroket, dan risoles juga. Sebenarnya masih ada karbo pengganti nasi yang saya berikan.


Risoles ini termasuk cemilan yang mengenyangkan karena ada bahan tepung untuk kulitnya. Makan dua risoles aja udah kenyang untuk anak seumuran si sulung waktu itu (usia 2 tahun).


Dan nyaris 80 % jajanan bikin sendiri. Karena saya yakin bahwa jajanan buatan rumah pasti lebih terjamin kebersihannya. Waktu itu masih belum ada sosial media. Saya nyontek dari kumpulan resep di majalah atau tabloid. Ada juga resep dari buku terbitan salah satu penerbit terkenal. Cuma ya namanya tulisan kadang hasilnya gak memuaskan. Beda dengan sekarang ya, nyontek resep dari video di channel YouTube sering berhasil.


Jadi lah saya dulu bikin jajanan itu kadang berhasil, lebih sering tidak berhasil, hahahaha. Penampilan jajanan tidak cantik, tapi rasanya sih enak. Beruntung deh si sulung selalu menghabiskan jajanan yang saya buat.


Kali ini saya kasih resep risoles dengan kulit yang udah diuji coba hingga belasan kali. Alhamdulillah udah tiga kali ini bikin dengan resep kulit risoles ini, hasilnya anti robek. Berikut ini cara pembuatannya.


Cara Membuat Risoles Isi Ragout :

Bahan :

3 siung bawang putih, cincang halus

4 siung bawang merah, haluskan

100 gram filet ayam, potong dadu (boleh skip)

100 gram wortel potong dadu

300 gram kentang potong dadu

1 tangkai daun bawang, iris kasar

1 sdt garam 

1/2 sdt merica bubuk

1/2 sdt kaldu bubuk

100 ml air




Cara Masak Ragout :

- Tumis duo bawang sampai harum. Masukkan ayam, tumis hingga airnya menyusut. 

- Masukkan wortel dan kentang, aduk-aduk. Masukkan garam, merica bubuk, dan kaldu bubuk.

- Tambahkan 100 ml air putih, masak hingga air meresap. 

- Tambahkan daun bawang yang sudah diiris kasar. Cek rasa, matikan kompor. Sisihkan.


Sekarang saya ajak kalian mengikuti langkah pembuatan kulit risoles yang hasilnya lembut dan anti robek.


Adonan Kulit :

- 300 gram tepung terigu

- 20 gram tepung tapioka

- 1/2 sdt garam

- 2 butir telur

- 650 ml air

- 2 sdm minyak sayur



Cara membuat :

- Campur semua bahan, kecuali air tambahkan sedikit demi sedikit. Sampai adonan kalis dan wujudnya cair.

- Tambahkan minyak sayur, aduk lagi hingga tercampur rata

- Saring adonan agar adonan yang bergerindil tidak ikut dimasak. Tentunya hasilnya nanti nggak cantik kalo masih ada tepung yang tidak tercampur.




- Panaskan teflon ukuran 24 cm. Tuang sedikit minyak, dan ratakan menggunakan kuas. Lakukan ini sekali saja di awal ya sahabat.

- Gunakan sendok sayur ukuran agak besar untuk menuangkan adonan. Langsung gulirkan di wajan dengan cara memutar nya. Usahakan adonan tadi menutup permukaan wajan. 




- Biarkan matang. Tandanya adalah adonan kering dan bisa terlepas tanpa dibantu alat. Taruh di piring. Lakukan hingga adonan habis.



Cara mengisi risoles :



- Ambil satu lembar kulit risol dan letakkan di wadah atau piring ceper. 

- Isi dengan ragout, secukupnya atau sesuai selera

- Lipat seperti membuat amplop. Tidak perlu dilem karena kulit ini udah langsung merapat. 

- Lakukan hingga selesai



Cara menggoreng Risoles :




- Siapkan tepung panir secukupnya di wadah

- Pecahkan 1 butir telur di wadah lain, dan kocok lepas

- Masukkan risol di cairan telur, kemudian angkat dan taruh di tepung panir. Lumuri hingga merata

- Lakukan hingga semua risoles sudah tertutup tepung panir. Simpan di wadah dan masukkan ke kulkas. 30 menit kemudian baru dikeluarkan dan digoreng.

- Panaskan minyak di wajan, gunakan api sedang.  Masukkan risol yang sudah tertutup panir. Balik dan angkat jika warna risol sudah coklat keemasan. Jadi balik cukup satu kali saja.

- Sajikan dengan cabe. 



Nah sudah selesai. Saya biasanya membuat isiannya risoles sehari sebelumnya. Untuk pembuatan kulit juga tidak lama. Oia untuk isiannya bebas ya. Kadang saya isi dengan daging asap, keju, dan daun bawang. 

Untuk adonan kulit risoles di atas, kemarin saya hitung hasilnya ada 37 buah. Karena saya menggunakan wajan teflon ukuran diameter 22 cm. Kalo ingin ukuran standar biasanya menggunakan wajan teflon 24 cm. 

Mudah banget bikin risoles dari isiannya, kulit yang anti robek, dan menggorengnya. Sahabat bisa loh ngajakin anak-anak untuk bantu memotong sayur atau melipat risoles. Anak-anak pasti senang karena merasa dihargai bantuannya. 


Sejak anak-anak masih kecil, saya udah mengenalkan area dapur. Tentu dengan tetap mengawasi kegiatannya. Dan hasilnya salah satu anak saya sampai sekarang suka masak. Kadang ngajakin saya baking atau bikin cemilan. Meski anak laki-laki harus dikenalkan dengan urusan dapur. Dulu saya berpikir sederhana, bahwa kelak mereka bisa saja jadi anak kost. Jadi mereka harus berkenalan dengan kompor dan alat masak sedari kecil.


Yuk coba bikin di dapur rumah ya sahabat. Atau kalian punya resep risoles dengan tips yang berbeda? Sharing yuk. Wassalamu'alaikum.

Reading Time:

Senin, 06 September 2021

Menikmati Mie Kocok Mawar, Jajanan di Kota Bogor Yang Mengenyangkan
September 06, 2021 17 Comments


Assalamualaikum Sobat Traveling. Udah kangen traveling, kangen kuliner di kota tujuan, sayangnya kondisi pandemi mengharuskan kita di rumah dulu. Apalagi ada PPKM sampai berseri macam drama Korea kesukaan kalian. 


Akhirnya sebagai pengobat rindu, saya cuma bisa membuka folder foto. Tersenyum sendiri saat mengenang hal lucu dari balik pengambilan foto. Atau meringis ketika menatap foto dengan terselip kisah yang enggak asik. Kejadian masa lalu yang terekam atau tidak terekam dalam foto, bisa jadi masih tersemat dalam ingatan.


Mendadak senyum terurai manakala tertangkap beberapa foto di Kota Bogor. Beberapa kiriman foto dari WAG keluarga, yang udah saya satukan di Google Foto. Ada foto semangkok mie berkuah yang terlihat menggiurkan. 


Ahhh, kenangan itu, saat Corona belum ada di bumi Pertiwi. Tapi mungkin juga udah ada di negeri asalnya. Karena saat foto itu diambil terjadi pada bulan Desember 2019. Tahun yang sangat menyenangkan, mengesankan, menciptakan haru, dan kenangan termanis dalam hidup saya, mungkin juga keluarga besar.


Ya, foto mie kocok yang saya dan keluarga suami nikmati saat traveling di Bogor dan sekitarnya. Tuhhh kan jadi kangen makan mie kocok, hikss.


Kuliner Mie Kocok Asalnya Dari Mana? 

Kalian udah pernah menyicipi mie kocok? 

Enak ya rasanya, mengenyangkan juga makan satu porsinya. Mie kocok yang asalnya dari Kota Bandung ini merupakan sajian makanan berkuah dari kaldu daging sapi. 




Isinya terdiri dari mie kuning, dengan kuah kaldu sapi yang agak kental dibandingkan kuah bakso. Kemudian ada irisan kikil, taoge, bakso, irisan seledri dan daun bawang, ditaburi bawang goreng, dan jeruk nipis.


Istilah kocok dalam nama hidangan ini merujuk kepada proses memasaknya, yaitu mengocok-ngocok mi dalam wadah logam bolong-bolong bergagang, seraya mencelupkannya ke dalam air panas. Jenis yang digunakan adalah mie kuning gepeng yang bertekstur lebih lembut.

https://id.wikipedia.org/wiki/Mie_kocok

Beberapa penjual mie kocok menggunakan bara api dari arang agar kaldu dan aroma lebih terasa. Kaldu biasanya didapat dari daging, kikil, dan tulang yang berisi sum-sum yang direbus selama berjam-jam. Dengan cara ini aroma kaldu terjaga, sementara daging dan kikilnya lembut saat dinikmati di lidah. Untuk bumbu, ada yang menambahkan daun salam, sereh, dan jahe untuk menghilangkan bau anyir tulang. Ada juga yang menambahkan kunyit, ketumbar, tenggiri, serta bawang putih untuk menambah rasa serta aroma kuah.


Meski aslinya dari Kota Bandung namun mie kocok bisa mudah ditemukan di wilayah Jawa Barat. Kali ini saya akan mengulas mie kocok yang ada di Kota Bogor. Kebetulan saya cukup sering menyambangi Kota Bogor karena suami sering mendapat kerjaan di sana. Eh tapi ini cerita sebelum pandemi. Jadii ya gitu deh, kulinerannya kapan, ditulisnya kapan-kapan, hehehee.


Mencari Warung Mie Kocok di Bogor

Sebagai warga pendatang yang sesekali berkunjung di Bogor, saya menurut aja saat diajak makan mie kocok di satu lokasi. Namanya di kota orang, terserah deh diajakin kemana. Yang penting kerinduan makan mie kocok saya tertunaikan. 

Terakhir makan mie kocok itu tahun 1988, lama juga ya. Dan saya makan mie kocok di Bandung. Oh sesudah itu pernah juga makan mie kocok beberapa kali di Kota Semarang. Ada tetangga yang berasal dari Bandung dan suka masak mie kocok. Kami beberapa kali pernah mendapat seporsi mie kocok dari tetangga tersebut. Jadi terakhir makan mie kocok tahun 2007, kalo gak salah ingat ya.


Nah saya tahu kalo di Bogor juga ada penjual mie kocok yang rasanya enak dan terkenal. Dari mana saya tahu? Yeee, gampang lah. Dari situs pencarian Google ada banyak tulisan tentang mie kocok di Bogor.  Sebelumnya juga suami udah cerita kalo dia pernah diajakin makan mie kocok. Maklum aja karena dia tinggal di Bogor untuk pengerjaan rumah tinggal. Sementara saya paling lama 2 mingguan aja nemenin suami.


Jadi saat Desember 2019 keluarga suami berkunjung ke Kota Bogor lagi, adik kami ngajakin kulineran. Dan mie kocok ini salah satunya. Kebetulan saat itu pulang dari jalan-jalan di Kebun Raya Bogor. 



Capek kan ya dan belum sempat makan siang juga karena resto nya rame. Warung makan yang lain juga rame. Tapi alasan sebenarnya memang kami udah rencana bakal makan mie kocok siang itu. 


Mie kocok Mawar adalah warung yang menjadi tujuan utama. Begitu kami keluar dari mobil dan melihat warung yang rame, sempat ciut juga hati ini. Tapi karena udah lapar, kami sabar aja nunggu dan tetap memesan beberapa porsi untuk serombongan. 


Oia kami serombongan ada 2 mobil dan jumlahnya 11 orang. Anak sulung saya waktu itu nggak ikut karena kerja, jadi ditinggal di Semarang. 


Saya dan beberapa anggota keluarga udah dapat tempat duduk. Namun aslinya saya nggak sabar sebenarnya nungguin orang makan, wkwkwk. Kami memang memutuskan untuk makan ketika pesanan udah siap di meja masing-masing. Tapi karena suami, adik ipar, dan anak saya yang bungsu belum dapat kursi, ya kami pun nungguin mereka.


Padahal kan udah ngiler nih saat saya perhatikan penjualnya menata mie kocok di mangkok-mangkok. Dari mie, bakso, tetelan atau kikil, sayurannya, dan bawang goreng. Kemudian menuangkan air kaldunya ke dalam mangkok itu. Beneran bikin ngiler, wkwkwkk.




Akhirnya setelah semua mendapatkan mangkuk dan duduk di kursinya, kami pun menyantap seporsi mie kocok. Menyendok kaldunya suap demi suap,  membangkitkan kenangan lama. Menyantap pertama kali saat masih sekolah SMA bersama teman-teman saat studi tour. Juga saat menyantap bareng tetangga di rumah lama dulu. 

Dari satu hidangan kadang menghadirkan banyak kenangan

Menikmati kuah mie kocok yang masih mengepulkan uap panas, juga bikin tubuh menghangat. Setiap gigitan kikil, bakso yang kenyalnya pas, dan paduan kuah yang terasa bumbunya, melunasi kangen yang mendalam.




Saya udah menghabiskan semangkok mie kocok dengan isian yang lengkap. Perut kenyang bikin hati bahagia ya. Senyum merekah menjadi tawa. Terlebih kami merasa mulai ngantuk. Pengen segera kembali ke rumah adik di bilangan Dramaga. 


Nanti ya tunggu kami kembali menyambangi warung mie kocok Mawar di Bogor. Penjualnya ramah dan enak diajak ngobrol. Warungnya kecil dengan meja dan kursi yang hanya mampu menampung pembeli sekitar 30 orang. Namun pembeli nya tak pernah sepi. Dari yang saya saksikan dan juga cerita adik kami yang tinggal di Bogor.


Mungkin kalian yang tinggal atau pernah ke Bogor, sempat beberapa kali makan mie kocok Mawar ini? Boleh yuk meninggalkan komentar di blog post ini. Terima kasih udah berkenan membaca cerita pengalaman saya menikmati mie kocok Mawar di Bogor. Wassalamu'alaikum.




Reading Time:

Sabtu, 28 Agustus 2021

Makan Nasi Uduk dan Menikmati Sejuknya Udara di Lereng Gunung Merbabu
Agustus 28, 2021 35 Comments



Assalamualaikum Sobat plesiran. Masih bersabar di rumah aja selama PPKM? Nah saya malah dari puasa ramadhan belum kemana-mana. Sebelumnya pernah ke beberapa kota karena nemenin suami survey lokasi proyek pekerjaan suami. 


Sejak sebelum pandemi saya sering ikut suami keluar kota untuk ngurus pekerjaannya. Namun kebetulan juga sejak pandemi pekerjaan luar kota menurun. Saya syukuri sebenarnya karena pekerjaan di kota sendiri aja juga ada banyak. Menurut saya, suami bisa pulang untuk makan siang dengan kerja di kota Semarang. Lebih aman, terutama untuk pencegahan penularan virus covid-19.


Sejak awal pandemi saya bahkan krasan banget di rumah aja. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Seperti berkebun, masak dan berkreasi mengolah makanan atau jajanan yang belum pernah dicoba di dapur saya. Atau pernah juga saya kerajinan di depan mesin jahit, bikin masker, bikin daster tanpa lengan, hahahaa.


Namun saya juga sesekali masih ikut suami keluar kota. Karena masih ada tawaran masuk kepada suami untuk mengerjakan renovasi atau membangun rumah dan toko. Ya masa sih rejeki ditolak. Jadi kami tetap penuhi keinginan calon klien dan berkunjung ke kota mereka. Tawaran pekerjaan paling jauh adalah Kota Bumiayu. Dan kami sempat mampir ke tempat wisata dengan melihat keadaannya terlebih dulu, apakah aman untuk didatangi.


Silahkan dibaca :


Ketika Jenuh Udah Mentok, Solusinya Apa?


Sebenarnya di rumah aja juga belum bikin saya bosan. Namun mengapa akhirnya kemarin kami sekeluarga malah melakukan perjalanan keluar kota tanpa ada alasan penting?


Itu terjadi mendadak tanpa ada rencana. Jadi ceritanya hari itu merupakan hari lahir saya. Sehari sebelumnya udah ada niat pengen bikin nasi uduk. Untuk menu hari itu adalah masak nasi uduk, ini juga keinginan si sulung yang lagi seneng sarapan menu itu. 


Rencananya Minggu itu saya bikin nasi uduk dengan pelengkap sederhana. Jadi ketika masakan udah selesai, kami berkumpul untuk berdoa dan makan bareng. 


Menu sederhana saat
Hari lahir saya

Mendadak suami ngajak pindah makan siang ke tempat yang masih asri. 

"Mau kemana emangnya, hari ini masih ada PPKM," celetuk saya sambil membersihkan meja makan.

"Cuma ke Salatiga aja, ke Kopeng atau Selo," jawab suami.

Kalo Selo itu kawasan desa wisata di bawah kaki Gunung Merbabu dan Merapi. Saya udah empat kali nginap di kawasan Selo. Ceritanya pernah saya tuliskan di blog ini.

Silahkan baca :



Biasanya jika suami udah ngajak gitu, seluruh anggota keluarga pun setuju. Suami saya sering ngajak keluar kota yang dekat dengan Kota Semarang. Dia suka ngajakin mendadak atau terencana ke kawasan wisata Bandungan sekadar minum susu kedelai. Atau ke Kopeng cuma pengen jajan sate kelinci. 


Tapi itu jauh sebelum ada corona di muka bumi ini. Sejak pandemi kami menahan diri melakukan perjalanan keluar kota hanya untuk wisata. Jadi kalo keluar kota biasanya karena ada pekerjaan suami yang butuh kehadirannya di lokasi. Dan kami biasanya ikut nemenin juga.


Seberes memasukkan nasi uduk beserta pelengkapnya ke dalam wadah bekal, saya panggil anak-anak untuk meletakkannya di dalam mobil.  Tas-tas berisi makanan, kerupuk, juga galon air mineral tak luput dibawa ke dalam mobil di jok belakang. Tak ketinggalan meja kecil untuk nantinya tempat naruh makanan di tempat piknik.


Ketika semua udah siap di dalam mobil, suami pun mengarahkan tujuan ke kawasan Kopeng Salatiga. Kota yang berjarak dekat dengan Semarang karena ada jalan tol. 


Ternyata penyekatan yang tadinya ada di pintu keluar menuju Bawen, udah nggak ada. Jadi penyekatan dibuka sehari sebelum kami lewat tol ini. Kami bisa lewat Bawen untuk menuju kawasan Salatiga. Jalanan nggak begitu ramai. Maklum masih suasana PPKM, namun kami beriringan dengan beberapa mobil. Waktu mampir beli BBM di tempat rest area juga masih ada beberapa mobil yang parkir. 


Mencari Hidden Gem Tempat Piknik Keluarga 


Jadiii.. ceritanya kami tidak akan ke tempat wisata karena memang semuanya ditutup selama PPKM. Sejak pandemi kami selalu memilih tempat yang sepi, bisa ke kebun, sawah, ladang di lereng gunung, sungai dekat tempat camping, yang semuanya bukan milik saya, hehehee.


Nggak masalah sih karena warga lokal yang kami temui juga welkam ketika kami numpang istirahat. Sekadar duduk, sambil ngobrol, foto-foto, atau minjam tempatnya untuk menggelar makanan.


Jadi hari Minggu tanggal 25 Juli kemarin, kami mencari tempat yang sepi, bukan tempat wisata, bukan tempat parkir, untuk rehat dan makan siang. 


Jalan menuju kawasan wisata Kopeng ramai tapi lancar. Beberapa mobil plat luar kota beriringan dengan mobil yang membawa kami berempat. Jendela mobil biasanya kami buka tiap kali berada di kawasan berudara sejuk. Namun sejak pandemi ini kami nggak pernah lagi melakukannya. Agak parno juga kalo virus covid ada di udara, hahahaa.


Melewati Taman Wisata Kopeng yang juga ditutup karena PPKM ini, mobil kami masih melaju santai. Beberapa kali kami menunjuk belokan ke kiri yang nampaknya asik buat tempat istirahat. Tapi suami enggak menyetujui pilihan saya dan si sulung. Mobil pun terus jalan membelah kawasan Kopeng.  


Ada rencana untuk ke kawasan Selo tapi bukan di tempat wisata. Yah makan jagung bakar aja di warung pinggir jalan juga oke. 


Mendadak mata saya melihat tempat kami pernah camping di Omah Kembang. Suami berinsiatif masuk ke jalan akses camp ground yang juga satu lokasi dengan kafe yang cukup terkenal di sana. Awal pandemi itu masih indent kalo pengen ngafe, dan saya pilih enggak berkunjung kesana. 


Jadi bulan Agustus tahun 2020 lalu kami memilih camping di Omah Kembang yang juga memiliki kafe. Sayangnya kafe belum buka saat kami ingin ngopi esok harinya. Hahahaa, ya udah akhirnya pesan coklat susu aja yang udah siap.

Silakan baca cerita :



Cakep ya view camping ground
Omah Kembang, Salatiga

Kembali ya cerita saat mencari tempat makan di alam. Siang itu mobil hanya melintas di jalan yang mengarah ke kaki gunung Merbabu. Cuma di sana nggak ada tempat agak terbuka dan teduh. Akhirnya suami putar kemudi dan kembali memasuki jalan raya Kopeng. Menuju arah Grabag, menatap ke bagian kiri untuk mencari tempat yang asik buat beristirahat dan maksi.


Saya sebenarnya mencari sebuah tempat yang mungkin bisa dijadikan tempat istirahat. Cuma saya agak lupa belokan menuju kesana. Mendadak mata saya menangkap papan nama yang familiar dalam ingatan. WEKAS, ah ini kan base camp untuk memulai pendakian Gunung Merbabu.


Saya meminta suami mengarahkan kemudi mobil menuju jalan kampung tersebut. Jalan cuma cukup untuk dua mobil berpapasan dengan salah satunya mesti ke pinggir.


Langit biru cerah dengan hiasan awan putih yang berubah setiap kali tertiup angin. Saya terpesona dan langsung jatuh cinta. Dan jadi pengen pindah tempat tinggal di kawasan ini, hahahaa. Ini impian saya si anak kota yang selalu bermimpi memiliki rumah di desa.

Foto di lereng Gunung Merbabu


Saat ada belokan di sebelah kiri, suami menghentikan mobil di sisi kiri. Kami mengamati area perkebunan warga. Jalan kecil yang dijadikan tempat parkir mobil enggak cukup luas. 


Suami memutuskan meninggalkan tempat tersebut karena enggak bisa beristirahat di sana. Enggak enak aja kalo misalkan nanti ada motor lewat. Meski sebenarnya pengguna motor tetep bisa aja melintas.

Ada Yang Tertinggal di Rumah 


Akhirnya kami kembali ke jalan dan kali ini menuju kawasan Selo. 

Namun belum sampai Hutan Kragilan yang menjadi tempat wisata selfie, kami melihat tempat untuk parkir mobil. Enggak luas tapi cukup untuk parkir 3 mobil. 

Ternyata itu merupakan pintu masuk tempat selfi, saya lupa namanya. Tempat wisata di Jawa Tengah dihimbau tutup oleh Gubernur Jawa Tengah, termasuk tempat yang kami jadikan untuk parkir mobil. 

Setelah suami memarkir mobil, saya segera turun dan mencari tempat landai untuk menggelar tikar. 

Membayangkan camping
 di tanah lapang di atas


Sayangnya tikar yang saya siapkan tertinggal di rumah. Saya ingat meletakkan tikar di ruang tamu. Wkwkwkk. Ya udah lah.


Kata pepatah nggak ada rotan akar pun jadi. Nah nggak ada tikar, ada mobil yang bisa dijadikan untuk tempat makan.

Bagian kursi belakang mobil
untuk tempat makan 😂


Saya pun menata meja lipat yang udah dibawa untuk dijadikan meja makan. Saya menata wadah bekal di atas meja. Ketika semua udah siap, kami pun makan.


Menikmati nasi uduk di tengah suasana perbukitan rasanya beda. Saya bersyukur menuruti ajakan suami meski sebenarnya agak malas. Saya memang parno keluar rumah, apalagi enggak ada alasan penting. Kami bisa juga makan di rumah.


Namun karena suami setuju untuk memilih tempat yang sepi dan jauh dari kerumunan orang-orang. Saya pun mengiyakan ajakannya.


Benar sih tempat kami menikmati makan siang, sepi banget. Memang kami ada di pinggir jalan. Namun tak ada orang yang berada di lokasi sama dengan kami. Jadi menurut saya lokasi ini aman untuk dijadikan tempat istirahat dan makan siang.




Nasi uduk dengan pelengkap mihun goreng, ayam goreng, orek tempe, telur dadar, sambel, kerupuk, dan lalapan. 




Ah jadi ingat saat kami dulu sering road trip ke beberapa kota di Pulau Jawa dengan mobil blind Van. Untuk makan biasanya kami bawa bekal dari rumah. Jadi kami menggelar tikar atau di dalam mobil yang bagian belakang udah diubah jadi tempat tidur. Atau beli makanan dan dinikmati di dalam mobil. Jadi kami memilih tempat parkir di pinggir jalan yang agak luas.


Kepergian kami kali ini memang mengobati kerinduan road trip dan makan di pinggir jalan. Karena kondisi negeri ini yang masih pandemi, mengurungkan niat untuk road trip keliling Jawa Bali dan Sumatera. 


Entah lah kapan impian kami bisa terwujud. Saat ini kami cuma bisa menerima kondisi dengan ikhlas dan sabar. Namun juga tetap merawat mimpi bisa road trip dengan mobil yang rencananya akan diubah menjadi campervan.


Udara lereng gunung telah mengobati kerinduan kami berpetualang di alam. Sudah cukup waktu kami bercengkerama dengan alam meski hanya sebentar. Saatnya kembali ke rumah. Wassalamu'alaikum.
Reading Time:

Kamis, 26 Agustus 2021

Mewujudkan Masyarakat Indonesia Yang Inklusif
Agustus 26, 2021 28 Comments


Assalamualaikum Sahabat.  Bulan Agustus setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pemuda Internasional atau International Youth Day (IYD). Tepatnya sejak tanggal 12 Agustus 2000, PBB menetapkan sebagai International Youth Day. Hal ini dimaksudkan agar menjadi kesempatan bagi pemerintah dan pihak terkait untuk lebih memperhatikan tentang isu-isu pemuda di seluruh dunia.


Dengan alasan ini pula Ruang Publik KBR bekerja sama dengan NLR Indonesia mengadakan talk show dengan tema : Yang Muda Yang Progresif, Untuk Indonesia Inklusif.




Host Talk show Ruang Publik KBR, Ines Nirmala menjelaskan, menurut data ada sebanyak 21.84 juta atau 8.26 persen penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. 



Nah pada kenyataannya, penyandang disabilitas -termasuk orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) sebagai bagian dari kelompok disabilitas- masih menghadapi kesulitan dalam upaya pemenuhan hak mereka. Hal ini dikarenakan stigma dan hambatan dalam mengakses layanan umum dan layanan dasar. 


Berdasarkan data Riskesdas 2018, kelompok orang muda usia 18-24 tahun dengan disabilitas (18-24 tahun) merupakan populasi disabilitas terbesar ketiga setelah kelompok usia lansia dan dewasa akhir. Mereka dapat dipandang sebagai peluang dalam mewujudkan Indonesia yang Inklusif, serta tidak sedikit inovasi dan perubahan yang digagas oleh orang muda dengan disabilitas dan OYPMK. 




Bagaimana Menciptakan Masyarakat Yang Inklusif?

Mbak Ines menjelaskan bahwa bincang di Ruang Publik KBR ini juga disimak di 100 radio jaringan KBR di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua, dan 104.2 MSTri FM Jakarta. KBR menggandeng narasumber Widya Prasetyanti, Program Development & Quality Manager, NLR Indonesia dan Agustina Ciptarahayu, Founder & CEO PT. Botanina Hijau Indonesia.


Bersama Ibu-Ibu Doyan Nulis juga yang hadir, Mba Ines juga mengajak teman-teman disabilitas dan OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta) untuk turut menyimak dan memberikan komentar dalam talk show kali ini. 


Widya Prasetyanti, Program Development & Quality Manager NLR Indonesia

NLR adalah organisasi non pemerintah yang didirikan di Belanda pada tahun 1967 untuk menanggulangi kusta dan konsekwensinya di seluruh dunia. Langkah yang ditempuh adalah dengan menggunakan pendekatan tiga zero. Yaitu zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas), dan zero exclusion (nihil eksklusi).




Di Indonesia NLR mulai bekerja tahun 1975 bersama pemerintah. Namun sejak tahun 2018, NLR memilih menjadi entitas nasional. Tujuannya agar bisa lebih spesifik bekerja di setor kesehatan dengan efektif dan efisien menuju Indonesia bebas dari kusta. NLR memiliki slogan : Hingga kita bebas dari kusta. 


Visi NLR 

- Dunia yang bebas dari kusta dan konsekuensinya; 

- Semua orang Indonesia, terutama OYPMK atau orang dengan disabilitas, menikmati hak-hak mereka di tengah masyarakat inklusif tanpa stigma dan diskriminasi.




Misi NLR :

Kami mencegah, mendeteksi dan menangani kusta dan mendukung kesehatan, kemandirian dan inklusi penuh bagi OYPMK di dalam masyarakat dengan :

- Memperkuat petugas kesehatan, organisasi penyandang disabilitas dan komunitas orang dengan disabilitas.

- Mengedukasi masyarakat tentang kusta dan disabilitas.


Apa Kepanjangan OYPMK:

OYPMK adalah singkatan dari Orang Yang Pernah Mengalami Kusta. Artinya di sini mereka dulunya pernah menderita kusta namun sudah dinyatakan sembuh dari penyakitnya. 

Kusta adalah penyakit yang menyerang sistem syaraf. Gejala kusta biasanya ditandai dengan munculnya bintik putih di kulit. Bintik yang seperti panu ini rasanya nggak gatal. Penyakit kusta bisa disembuhkan dengan konsumsi obat dan terapi. 


NLR memprioritaskan beberapa program untuk kelompok pemuda. Di antaranya adalah :

- Program untuk hak ketenagakerjaan formal maupun kewirausahaan untuk kaum inklusif. Kemudian ada porgram untuk anak dan remaja disabilitas dan kusta, dalam aspek kuncu tumbuh kembang mereka. 

- Program pendampingan bagi anak-anak down syndrome, anak-anak dan remaja OYPMK dengan  melakukan pendampingan untuk topik khusus kesehatan seksual dan repodruksi.   

- Program pemagangan inklusif, bagi kaum disabilitas dan kusta untuk magang di kantor NLR dan organisasi mitra di wilayah di seluruh Indonesia.

- Program Konseling secara khusus untuk teman-teman OYPMK menjadi pendamping untuk teman-temannya sebagai konselor.

- Program Suara Untuk Kusta, menyasar orang muda, warganet, ke kampus untuk penyadaran tentang kusta.


Populasi orang muda dari penduduk Indonesia, dari 270 juta, adalah gen Z usia 9-20 tahun ada 28% atau 75 jutaan. Sementara di bawah usia 9 tahun kelak bisa menjadi orang muda ada 38,8%. Bayangkan lebih dari 104 juta penduduk di Indonesia dalah orang muda.


Penyandang disabilitas juga sama, ada 3,3% yang berusia 5-17tahun. Kalo ditambah usia 18-24 tahun ada 21,1%. Atau total 24% dari penyandang disabilitas adalah usia 5-24 tahun ada 5 juta.


Ada sumbangan kasus baru setiap tahunnya atau 16 ribu yang 11% adalah usia 15 tahun ke bawah. Terbayang nggak sih ada sekitar 1700 anak dengan penderita kusta ditemukan setiap tahun.


Setelah melihat angka ini, jadi wajar yaa mengapa NLR peduli dengan kaum muda, terutama penyandang disabilitas.


Faktanya stigma pada kaum disabilitas dan kusta itu menjadi penghambat terbesar, baik itu dari diri sendiri, masyarakat luar. Dan itu berdampak diskriminasi dalam berbagai aspek. Termasuk dalam penerimaan kerja karena melihat kekurangan calon pekerja bukan melihat dari kemampuan bekerjanya. Ini lah yang menghambat ruang gerak bagi kaum disabilitas dan kusta.



Yang dilakukan oleh NLR, melalui mitra di wilayah baik dengan dinkes, puskesman, rumah sakit maupun organisasi di wilayah bisa berbeda. Semua disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.


NLR Indonesia bekerja untuk :

- Mengidentitfikasi penemuan kasus, 

- Penanganan Kusta, 

-Pendampingan hingga mereka bisa beraktualisasi diri, 

- Menerima dirinya dengan kondisinya, 

- Membuka diri  agar bisa beraktualisasi di manapun berada. 

Ini yang disebut  pendekatan twin trek atau jalur ganda. Jadi ada pendampingan aspek individunya tetap harus dilakukan. Dalam hal ini kebutuhan kesehatan maupun pengarus utamanya dengan lingkungannya, dengan masyarakat, keluarga, teman-temannya. Jadi tidak bisa dikerjakan satu persatu, karena yang menjadi perhatian adalah manusia dengan seluruh aspek harus dikerjakan bareng, karena saling terkait.


Pelatihan untuk OYPMK, setiap tahun ada periode untuk pemagangan bagi teman disabilitas (dan kusta) ada info ke masyarakat. Ada seleksi dari profil yang masuk, ada assessment juga. Dan awal perekrutan tentu juga melakukan program yang sesuai untuk masing-masing peserta sesuai minat. 


Ada 13 propinsi dengan 34 kabupaten/kota keberadaan mitra yang memiliki kegiatan di wilayah. Tentu berbeda dengan kegiatan di kantor pusat. Untuk training formal tidak ada setiap saat sesuai program yang dibutuhkan. Tetapi melalui program baik untuk penguatan kapasitas diri atau untuk self stigma, termasuk juga konseling untuk kegiatan. Juga bila ada kaitan dengan ketenagakerjaan adalah mempersiapkan peserta dengan soft skill siap bekerja di manapun berada.


Untuk tahun ini pemagangan tertunda dengan adanya PPKM. Jadi nanti akan diinfokan kembali pada kaum disabilitas dan OYPMK bila pemagangan sudah mulai berjalan lagi.


NLR Indonesia juga pernah bekerja sama dengan warga kampus dalam program Suka Suara untuk Kusta. Ada roadshow ke kampus untuk penyadaran masyarakat kampus tentang kusta. 


Di sana NLR membuka peluang dengan warga kampus yang berminat menjadi volunter. Terutama dengan kampus yang berbasis kesehatan pasti nya akan jauh menjadi kerjasama yang menarik. Warga kampus bisa mengajukan diri untuk kerjasama dengan menuliskan di chat room channel YouTube ini. Atau bisa juga cek di sosial media NLR Indonesia.




Agustina Ciptarahayu, Founder & CEO PT. Botanina Hijau Indonesia

Menurut Mba Tina, sekarang ini bidang kerja makin tak terbatas namun lebih pada inovasi. Sehingga Botanina justru melahirkan kerjasama berdasarkan skill yang dimiliki masing-masing. 


PT Botanina menganggap konsep inklusif ini merupakan konsep yang wajar. Semua orang bisa berpartisipasi di dunia usaha, sepanjang bisa berkarya setiap orang bisa mengikuti pola kerjasama sesuai kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Botanina selama ini udah melakukan kerjasama dengan disabilitas dengan kelebihan penciuman yang sangat tajam. Dalam pandangan Mba Tina, Tuhan itu adil dengan memberi kekurangan namun memiliki kelebihan indera penciuman. Dan dia ini adalah tangan kanan Botanina yang memiliki keterbatasan low vision.


Dan sekarang lagi musim saling memberikan merchandise. Seperti produk merchandise dari Jepang yang membutuhkan ketelitian karena nampak rumit namun unik. Nah untuk mengerjakan merchandise atau gift dengan unik gitu, dibutuhkan orang yang bisa fokus. Dan ternyata justru orang autis yang bisa bekerja dengan hasil karya yang istimewa. Tentu karena kelebihannya saat berkarya itu lebih fokus dan teliti.


PT. Botanina didirikan 7 tahun yang lalu dengan produk healt & beauty. Yaitu produk kesehatan, personal care, untuk anak-anak dan bayi, dan untuk imun. Untuk menciptakan produk seperti itu, salah satu skill yang dibutuhkan adalah menciptakan aroma.


Untuk bisa menciptakan produk tersebut harus bisa menciptakan aroma yang menyenangkan, seperti relaksasi atau menyegarkan. Karena bahan bakunya natural yang alami. Namun bahan alami itu resikonya ada perubahan wangi saat proses produksi dari base 1 hingga berikutnya. Jadi memang indera penciuman yang tajam dibutuhkan di sini.


Pertanyaan diajukan oleh pendengar yang gabung :

- Rafi, Bandung

Bagaimana perusahaan menyediakan apakah ada fasilitas khusus untuk mempekerjakan orang disabilitas?

Jawaban :

Tina : PT Botanina menyediakan pola kerjasama dengan pekerjaan full time, part time, dan freelance. Selama ini pengalaman perusahaan dengan disabilitas yang low vision, tuli, dan disabilitas yang ringan. Jadi penyesuaian lebih pada detil yang tidak terpikir. Misal lampu harus seterang apa, tulisan harus dengan font sebesar apa. 


Widya : Harus dilihat kondisinya seperti apa bagi penderita kusta yang bekerja. Kalo pekerjaan yang terlalu capai, bisa mengalami stres memunculkan kulit kemerahan. Ini yang harus dipahami, dari sisi jam kerja, tempat kerja, dan ada orang dengan kusta ini yang udah kehilangan indera peraba. Harus dijauhkan dari pekerjaan dengan peralatan benda tajam seperti pisau. Namun untuk hubungan sosial nggak ada bedanya, seperti makan siang bareng, nongkrong bareng.


Cerita Gaby, OYPMK Orang muda dari NTT

Gaby mengikuti pengobatan dan terapi karena pernah mengalami lumpuh ringan. Sehingga dia harus mengonsumsi obat dan terapi. Gaby kenal organisasi NLR Indonesia. Dia jadi tahu bahwa kusta bukan penyakit menular. Sehingga dia ingin mengenalkan kaum muda bahwa penyakti kusta ini menyerang bagian sistem syaraf kita sehingga membuat kondisi tertentu menjadi mati rasa atau lain sebagainya.


Ketika mengalami lumpuh kegiatan menjadi terhalang, tidak bisa berjalan sehingga sulit untuk membantu diri sendiri. Sehingga Gaby harus membutuhkan bantua orang lain untuk beraktivitas. Namun setelah mengikuti terapi di yayasan sosial Ibu Alfrida, dia bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa meski masih harus tetap ikut terapi. 


Gaby merasa bersyukur udah berkenalan dengan NLR karena membuka matanya bahwa kusta tidak menghambat langkahnya. Meski sebelumnya dia sempat putus asa namun kemudian semangatnya muncul karena pendampingan dari yayasan sosial. Gaby mulai belajar menenun, setidaknya dengan menggunakan tangan.


Keren ya, semangat untuk Gaby dan semua teman-teman OYPMK yang udah bangkit dan tetap berkarya sesuai kemampuan masing-masing.


Pesan dari PT. Botanina, berdasarkan dari pengalaman Mbak Tina, banyak sekali kategorinya dari ringan sampai berat. Setiap perusahaan punya peluang tinggal disesuaikan dengan kapasitas masing-masing. Ada beberapa skill yang dibutuhkan dan dimiliki oleh kaum disabilitas. 


Lebih lanjut dijelaskan oleh Mbak Tina bahwa ada gap informasi tentang kebutuhan tenaga kerja kaum disabilitas. Alangkah baiknya perusahaan bisa ikut komunitas atau mengetahui info yang lengkap untuk mencari calon pekerja disabilitas dengan kualitas yang dibutuhkan.


Sementara dari Mbak Widya, bagi perusahaan yang membutuhkan info profil kaum disabilitas, NLR bisa mendampingi pelaku usaha.


NLR terbuka apabila ada pelaku usaha yang mencari profil disabilitas yang memang menjadi kebutuhannya. Mereka bisa menghubungkan pelaku usaha dengan kaum disabilitas. Dalam persiapan untuk mendampingi OYPMK juga bisa dilakukan. Pendampingan ini dilakukan untuk kaum disabilitas / OYPMK  memasuki dunia kerja.


Bagi kalian yang belum sempat nonton talk show kemarin, bisa cek live streaming via website kbr.id dan youtube Berita KBR. 



Semoga talk show ini bisa membuka ruang yang lebih luas lagi untuk orang-orang yang pernah mengalami kusta dan juga kaum disabilitas. Semoga juga bisa mewujudkan Indonesia Yang Inklusif. Wassalamualaikum.

Reading Time:

Minggu, 22 Agustus 2021

Mengenang Masa Kecil Ketika Ngemil Kue Jadoel Gandjelrel
Agustus 22, 2021 40 Comments

 


Assalamualaikum Sahabat. Terlahir di kawasan pecinan Kota Semarang bikin indera pencecap saya dimanjakan oleh jajanan dan masakan yang kaya rasa. Kalo bapak saya bilang, yang penting halal ayo dinikmati aja. Masa kanak-kanak saya memiliki pengalaman kuliner yang mengesankan. Hingga ketika usia dewasa diajak kulineran pun, lidah saya akan membandingkan rasanya bila menikmati masakan yang sama.


Kawasan pecinan memang surganya kuliner di Kota Semarang pada masa itu. Warga asli Semarang akan menjejakkan kakinya ke kawasan ini untuk menikmati kuliner yang khas dan jarang ada di kawasan lainnya di kota ini. Saya ngomongin kuliner sebelum tahun 2000an ya. Kalo sekarang kuliner enggak lagi didominasi kawasan tengah kota, karena udah menyebar di pinggir kota seiring kemajuan teknologi.


Salah satu jajanan yang hingga hari ini masih suka saya kangenin adalah bolu jadoel. Salah satunya adalah kue gandjel rel.


Bagi warga Kota Semarang dan mereka yang pernah berkunjug ke kota ini, tentu udah tahu dengan kue gandjel rel. Bentuknya khas dengan tekstur yang padat dan berwarna coklat cenderung gelap. Bagi kalian yang belum pernah menyicipi kue ini, yuk bayangkan dulu rasa dan rupanya dengan membaca tulisan ini lebih lanjut.


Sekilas Tentang Kue Gandjel Rel

Kue Gandjel Rel berbentuk kotak, berwarna cokelat dan bertabur wijen serta bercita rasa kayu manis. Kue ganjel rel memiliki tekstur yang padat, seperti kue bantat, dan agak sulit dikonsumsi. Kalian yang udah merasakan kue Gandjel Rel versi jadul akan menceritakan gimana buliran kue itu akan nyelip di sela gigi. Juga ada rasa lengket dari lapisan atasnya, yang bikin kue ini memiliki cita rasa khas. 


Namun tekstur kue yang padat ini menurut kata ahli kue justru bagus untuk pencernaan. Kue ini memang tidak lembut layaknya kue berbahan tepung teripu lainnya. Dan menikmati sepotong ukuran kecil pun udah bikin perut kenyang. Karena saat menelan potongan demi potongan kue dibutuhkan segelas air minum. Saya biasanya menyiapkan teh panas kental dan agak manis. Ahhh jadi kangen kan pengen ngemil kue yang seret dan bikin lengket di gigi ini, hehehee.


Jaman saya kecil, untuk menikmati kue gandjel rel cukup pergi ke pasar di kawasan pecinan. Bisa di pasar Gang Baru atau di Karang Kembang, pasar yang dekat dengan rumah masa kecil saya. Di lapak penjual jajanan biasanya mudah ditemukan kue seret ini.


Kue gandjel rel ini juga selalu menjadi rebutan masyarakat Semarang saat perayaan Dugderan. Yaitu tradisi menjelang pengumuman  awal bulan Ramadhan. Biasanya akan ada kirab yang dipimpin oleh Bupati Semarang yang biasanya diperankan oleh Walikota yang menjabat. 


Kue gandjelrel produk Toasty Deli
untuk Kirab Dugderan

Nah biasanya saat kirab ini akan dibagikan kue gandjel rel pada warga yang hadir. Tradisi ini selalu dinantikan karena hanya terjadi setahun sekali. Ribuan warga bahkan rela berdesakan untuk mendapatkan kue tersebut karena dipercaya mampu memperkuat diri ketika menjalankan ibadah puasa.


Saya sendiri lupa, apakah tradisi membagikan kue gandjel rel ini memang udah ada sejak masa lampau. Karena saya tidak pernah mendapatkan bagian dari pembagian kue tersebut. Saya memang rutin ke Dugderan saat anak-anak hingga usia sekolah. Tak lupa pasti nonton kirabnya karena kegiatan ini jadi keasikan tersendiri. Menanti pengumuman kapan mulai mengawali puasa ramadhan. 


Tapi begitu bekerja malah udah nggak pernah lagi ke Dugderan. Sementara untuk rebutan kue pun bukan kebiasaan saya dan keluarga. Apalagi harga kue gandjel rel yang dijajakan di lapak di pasar tradisional dekat rumah juga nggak mahal. Biasanya dijajakan dalam potongan kecil ukuran 3x4 cm, harganya sekitar 3.500 (tahun 2018). Harga kue gandjel rel saat saya masih kecil juga udah lupa berapa, tapi yang pasti harganya terjangkau.


Kue Gandjel Rel Toasty Deli



Satu hari seorang teman bercerita kalo di Semarang ada produksi kue gandjel rel dengan tekstur yang lembut dan tidak padat. Penasaran dong jadinya. Karena saya udah nyoba beberapa kue gandjel rel dari beberapa produsen dan masih ada rasa ngganjel di gigi, hihiii. 


Nah saya pun nyobain kue gandjelrel produk dari Toasty Deli. Apakah benar teksturnya lembut, enggak seperti kue jadoel yang saya kenal selama ini?


Pertama kali memegang kotak kue gandjelrel Toasty Deli, nggak sabar pengen bergegas menyicipinya. Kemasannya warna cream dengan bagian atas tertulis :

Toasted! Soft Gandjelrel Khas Semarang 

Cita Rasa Klasik Tempo Doeloe

Di bagian muka berupa motif batik dengan penjelasan seperti ini :

Gandjelrel adalah kudapan manis rasa rempah kayu manis, yang dinamakan oleh karena bentuknya yang menyerupakai rel kereta api. Toasted! Gandjelrel dibuat lebih empuk untuk menambah kenikmatan santapan kue klasik tempo dulu ini


Ahhh, karena saya sedang puasa, jadi ya hanya dipotong-potong dulu. Menjelang maghrib saya udah siapkan irisan kue gandjelrel beserta teh manis yang panas. Di rumah saya udah jadi tradisi untuk menyiapkan teh panas untuk berbuka puasa. Jadi begitu adzan maghrib berkumandang, kami serumah bergegas membatalkan puasa dengan teh manis dan seiris kue gandjelrel dari Toasty Deli.



Ternyata sesuai dengan yang disebutkan di atas, kue gandjelrel Toasty Deli ini teksturnya lembut. Kalo kalian udah pernah makan banana cake atau kue marmer, ya seperti itu lah teksturnya. Pantas aja kalo Toasty Deli mendeklarasikannya sebagai Soft Gandjelrel.




Cita rasa klasik dengan komposisi bahan yang terdiri dari campuran gula palem, telur, tepung terigu, gula, margarin, ada tepung pati jagung, rempah, kayu manis, pengembang dan susu. Terlihat sih dari bahan-bahannya merupakan pilihan hingga menciptkan kue yang lembut dan empuknya khas. 


Anak-anak saya selama ini nggak pernah mau makan kue gandjel rel jadul. Tapi ketika saya minta mereka cicipi kue dari Toasty Deli ini, langsung berubah pendapat. Mereka semua suka, karena rempahnya pas.




Nah yang paling bikin saya amazing itu, kue gandjelrel Toasty Deli ini memiliki kadar kolesterol hampir 0 di setiap potongannya. Saya rekomendasikan kue ini buat kamu yang diet kolesterol, aman untuk nyicipinya. Oia untuk harga kue gandjelrel ini 1 loyang adalah 35 ribu rupiah. 


Toasty Deli adalah sebuah small-team bakery yang mengedepankan nilai kebersamaan. Mereka memproduksi makanan dengan sepenuh perhatian. Dan pastinya akan bisa memberikan kehangatan dan menyatukan selera konsumen dalam setiap sajiannya. 


Bagi Toasty Deli produk yang disajikan nilainya harus cukup baik untuk dikonsumsi oleh keluarga mereka juga. Karena itu Toasty Deli memperhatikan segala aspek dari kualitas, nutrisi, higienitas dan keterjangkauan harga produknya.



Bagelen Toasty Deli

Hayooo siapa yang doyan banget ngemil bagelen? Nah, Toasty Deli juga memproduksi roti kering ini. Bagelen ini menjadi favorit saya sejak dulu, kue kering jadul yang pasti menjadi bekal di kost-an juga, hahahaa.


Dipatok dengan harga cuma 25 ribu rupiah satu kotaknya. Kemasannya warna unyu gitu. Dan ada penjelasan kalo bagelen merupakan produk homemade dengan resep keluarga sejak tahun 1967.


Roti kering renyah dengan aroma mentega, dipadu manisnya gula dan toping keju parut, merupakan perpaduan rasa klasik yang tak lekang oleh waktu. Dalam kemasan juga disarankan untuk menikmatinya bareng secangkir teh atau kopi. 




Ahhh saya sendiri kemarin menikmati roti kering bagelen dengan segelas teh kental panas dan agak manis. Hmmm, surga bangeeet pagi-pagi ngemil seperti ini tanpa memikirkan pekerjaan rumah. Ya iya lah karena semua pekerjaan rumah udah rampung sebelum saya menikmati bagelen yang renyah dan gurih ini.


Roti Manis Toasty Deli



Toasty Deli tentu saja tidak hanya memproduksi kue Soft Gandjelrel. Kemarin anak-anak saya juga sempat mencoba beberapa jenis roti manisnya. Mereka cepat banget mengambil beberapa jenis, hikss. Dan saya cuma kebagian satu yaitu roti isi daging asap yang rasanya gurih dengan campuran keju.


Anak-anak yang udah sering makan roti manis pun sepakat, bahwa roti produk Toasty Deli ini empuk dan enak. Ada juga roti sisir gula isiannya itu mentega dengan gula dan cukup banyaaakk. Jadi ingat kan saat masih usia SD, Bapak membuatkan saya roti ini untuk sarapan.




Untuk roti manis itu ada 20 varian rasa dengan harga mulai 5 ribu rupiah, murah kaaan. Varian rasa yang kami coba ada pisang keju, coklat, sisir klasik, dan kacang. 


Nah kalo kalian tinggal di Semarang bisa tuh menyambangi tokonya langsung. Toasty Deli terletak di kawasan perumahan di Semarang Barat, gampang ditemukan. 


Namun kalo kalian takut keluar rumah dengan kondisi pandemi sekarang, bisa kok pesan melalui whatsApp. Atau kalian juga bisa memesan di Shopee. Untuk pengantaran Toasty Deli menggunakan ojek online atau ekspedisi same day. Bila rumah kalian hanya berjarak 8 km, ada free delivery dengan minimal pembelian sebesar 50 ribu rupiah. Murah yaa.


Apakah saya akan membeli lagi kue gandjelrel dan teman-temannya ini? Oiya dong pastinya. Karena kemarin saya nggak kebagian roti sisir klasik dan kacang. Itu varian rasa favorit saya, sahabat. Anak-anak dan suami kok gercep banget ya mindahin roti ke perut mereka, wkwkwkk. Buka puasa Asyura kemarin kami udah kenyang makan kue dan roti. 


Ayok kita belanja kue gandjelrel dan roti kering bagelen dulu. Jangan sampai ketinggalan juga roti manisnya yang empuk. Sampai jumpa dalam cerita pengalaman nyobain kuliner khas Semarang berikutnya, Sahabat. Wassalamualaikum.


Toasty Deli Cake & Bakery

Jl. Padma Boulevard, Tambakharjo, Kec. Semarang Barat,

Kota Semarang

Telepon: 0878-7111-1044

Buka Senin-Sabtu Pukul 07.00-19.00 WIB

Reading Time: