Penyesalan Yang Tak Mampu Saya Lupakan - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Rabu, 12 Desember 2018

Penyesalan Yang Tak Mampu Saya Lupakan


hidayah-art.com

Assalamualaikum Sahabat. Penyesalan Yang Tak Mampu Saya Lupakan ini selalu terngiang dalam ingatan. Memori yang tak mungkin terlepas begitu saja. Sungguh saya menyesal bila mengingat kembali ke masa lalu.

Tahun 1989 menjadi tahun yang penuh kenangan bagi saya. Bulan September adalah impian bisa lulus dan diwisuda di Politeknik negeri. Kala itu namanya Politeknik Undip Semarang. Sekarang lebih dikenal dan berganti nama menjadi Politeknik Negeri Semarang.

Sebelumnya merupakan hari ketika saya mesti maju sidang untuk presentasi proyek akhir. Kalo mahasiswa S1 mengerjakan skripsi, sementara mahasiswa DIII tugasnya adalah proyek akhir.

Saya sedang dalam kondisi galau seberat-beratnya.

Saat itu bagi seorang muslimah yang mengenakan hijab, merupakan suatu hal yang masih langka.

Saya adalah salah seorang dari tujuh mahasiswi yang sudah berhijab. Tidak seperti sekarang yang sudah tak ada masalah dengan pemakaian jilbab. Namun pada masa tahun 1986, perempuan yang mengenakan hijab masih sangat langka.

Di lingkungan kampus, kami menjadi obyek perbincangan dalam hening. Bisik-bisik sesekali mampir di telinga. Saya tidak peduli dengan semua itu.

Tahun berganti. Saya dan keenam teman-teman yang memakai hijab masih teguh dan menjaga keimanan kami. Saling menjaga, saling mendukung, memberi kekuatan moral yang sungguh dahsyat.

Hingga pada suatu hari, saya sedang menyelesaikan tugas akhir. Beberapap bab di awal proyek akhir sudah disetujui oleh dosen pembimbing. Saya senang tinggal memasukkan kesimpulan dan beberapa paragraf lagi sudah rampung.

Bapak memanggil saya.

“Nduk, ada yang ingin kami bicarakan,”

Wajah serius bapak sungguh bikin saya cemas. Bapak saat itu tengah dalam masa pemulihan setelah sakit sekian bulan. Kecelakaan di jalan raya bersama ibu, membuat bapak tidak bisa bekerja. Jadi hampir setahun ibu lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

“Iya, Pak,” saya mendekat pada ibu yang ternyata sedang duduk dan merapikan jahitan.

Ibu saya pintar menjahit. Jadi ketika bapak tidak bisa bekerja, ibu menerima jahitan di rumah. Lumayan sih bisa untuk menghidupi kami sekeluarga dan membiayai pendidikan saya dan kedua adik saya.
Bapak agak berat hati mengemukakan pikirannya. Saya makin bergayut dalam kecemasan.

Saya tahu bapak makin pulih kesehatannya. Namun mengapa malam ini kami berkumpul bertiga dalam keadaan serius? Apa bapak punya sakit yang tidak saya ketahui sebelumnya?

Beberapa pertanyaan muncul silih berganti memenuhi pikiran.

“Kamu sebentar lagi mau lulus kuliah ya?”
“Iya.”
“Kamu tahu kan, kalo sekarang mencari pekerjaan itu cukup sulit. Banyak yang nggersah nggak dapat pekerjaan sesuai ijazahnya,” tutur bapak.

Saya mulai meraba akhir pembicaraan. Apakah saya akan dijodohkan dengan seseorang? Jadi saya nggak usah kerja, langsung aja nikah?

Ahhh, saya nggak kalo bener pikiran itu menjadi nyata. Saya masih ingin melanjutkan kuliah. Saya ingin melamar kerja dan bisa berkontribusi membantu keuangan keluarga.

Sebagai anak sulung, saya merasa berkewajiban membantu orang tua. Kalo saya bekerja sebelum menikah, bisa bantu mengurangi beban ibu.

"Nduk, mbok kamu nggak usah pakai hijab. Tradisi kita nggak ada yang pakai itu..."

Saya kaget!

Nggak nyangka bapak bakal membicarakan pakaian saya.

Sebelum saya bisa membela diri, bapak dan ibu bergantian memberikan penjelasan seputar keputusan saya yang sudah 2 tahun lebih mengenakan hijab. 

"Terserah sekarang semua keputusan ada di tanganmu,"

Kata penutup bapak itu bikin saya menangis. Saya berjalan menuju kamar. Menangis sepuasnya dalam diam. Rasa sedih, sakit hati, merasa terkhianati, semua bercampur menyesak di dada.

Bapak dan ibu, orang yang selama ini sesekali meminta saya meleps jilbab, sungguh tidak saya sangka benar-benar meminta. Saya pikir berlalunya waktu bisa meredakan keinginan mereka. Saya sering memberi penjelasan, namun selalu mentah ditentang. Hingga saya tetap dengan pendirian saya.

Mendekati saat sidang akhir, semua materi sudah siap. Saya hanya menanti hari H untuk maju dan merepresentasikan di hadapan tiga dosen penguji.

Namun ada satu yang belum saya persiapkan. Yaitu pakaian saat maju sidang proyek akhir.

Akhirnya hari H saya datang di kampus dengan penampilan baru. Penampilan yang bikin semua orang yang ada di kampus menatap dengan pandangan kaget dan bertanya-tanya.

Ya, saya akhirnya menuruti kata orang tua, melepas hijab dan kembali merelakan semua orang melihat rambut saya.

Meski harus menanggung beratus mata yang ingin tahu, saya menguatkan diri. Tak ada yang bisa memahami saya selain diri saya sendiri. Teman, dosen, siapapun itu, mereka hanya melihat kulit luar yang namapak.

Alhamdulillah meski hari itu perasaan saya kacau dengan penampilan baru. Namun hasil sidang saya memuaskan. Ketiga dosen yang kaget melihat penampilan saya, memberikan nilai sempurna untuk tugas akhir itu. Hingga saya bisa wisuda sebulan kemudian pada bulan Oktober 1989.

Hingga hari ini saya masih terus menyesali keputusan itu. Berandai-andai yang pasti tak bisa saya ulang kembali.

Di setiap penghujug doa, selalu saya pintakan maaf untuk diri sendiri, dan kedua orang tua. Agar segala kesalahan dan dosa kami karena keputusan melepas hijab bisa diampuni oleh Sang Maha Pemilik Kehidupan.

Ini lah kisah saya ketika masih dalam usia 21 tahun. Usia yang seharusnya sudah boleh memilih keputusan sendiri namun tak mampu berkelit dari permintaan orang tua. Semoga kisah saya bisa menjadi hikmah bagi pembaca semua. Wassalamualaikum.

1 komentar:

  1. Ikutan sedih mbak, bacanya :( Semoga kita bisa istiqomah ya mbak. Yg lalu biarlah berlalu, buat pelajaran..

    BalasHapus