November 20, 2019
BY Hidayah Sulistyowati
45 Comments
Merawat Cagar Budaya Kota Lama Semarang, Menata Peradaban di Era Milenial
Assalamualaikum Sahabat. Siapa yang tak kenal kota lama, sebuah kawasan di Semarang yang saat ini begitu terkenal di seantero negeri. Menjadi tujuan wisata bagi warga lokal, wisatawan dari daerah lain maupun wisatawan asing. Sebagai warga lokal, saya pun udah beberapa kali berkunjung ke kota lama. Bukan sekadar melintas tapi juga beberapa kali mendampingi teman-teman dari berbagai kota yang ingin menikmati suasana kota lama.
Menyusuri kawasan kota lama Semarang, suasana seakan menarik saya ke sebuah peradaban masa silam. Ketika Pemerintah Kolonial menguasai wilayah negeri ini, Semarang pun tak luput dari cengkeramannya.
Ada berjuta kisah yang menyelimuti kota lama dengan bangunan tua yang masih terjaga keasliannya hingga hari ini. Merawat bangunan tua menjadi salah satu perwujudan menata peradaban untuk generasi milenial. Sejarah tak akan pernah terlepas dari kehadiran bangunan fisik dengan roh penghuni yang dahulu menjadi pemiliknya.
Sebagai warga Kota Semarang, saya ingin juga menitipkan kisah dengan menuliskan cerita tentang beberapa bangunan di kawasan kota lama. Bangunan yang merupakan Cagar Budaya Indonesia dan memiliki kisah tersendiri. Untuk itu saya akan mengajak kamu menyusuri sebagian jalan dan bangunan tua yang ada di sana. Yuk ikuti perjalanan saya hari ini.
Saya memulai perjalanan dari bagian Timur Jalan Letjen. Suprapto. Pandangan saya menatap ke arah Barat, jalan dengan paving block yang rapi memanjang. Ada pagar besi setinggi lutut orang dewasa, berbaris rapi seakan prajurit yang menjaga bangunan tua di sepanjang jalan itu.
Udara pagi yang masih segar dan matahari yang terasa hangat menemani saya sepanjang jalan. Berjalan di kawasan kota lama tidak perlu cemas bila datang sendiri. Area ini sekarang dijamin aman dan nyaman untuk kunjungan wisatawan.
Pemerintah Kota Semarang sudah menata lingkungan ini agar menjadi destinasi wisata yang menyenangkan, hangat, dan aman. Ada jalur khusus untuk pejalan kaki yang bisa pula dijadikan tempat untuk swafoto.
Melangkah dan menatap ke kanan jalan, pandangan tertambat pada bangunan berwarna putih. Bangunan ini dahulu merupakan toko serba ada yang menjual beragam barang mewah, dari lampu, pakaian wanita, produk kecantikan, dan lainnya. Sebelumnya bangunan ini dimiliki oleh Addler (tahun 1895) dan H. Spiegel menjadi manajer.
Namun belakangan H. Spiegel membeli dan merombaknya menjadi toko piano bernama Firma J.H. Seeling en Zoon. Dalam sejarah nya, bangunan ini mengalami pemugaran (tahun 2015) yang kemudian dijadikan resto dan bar.
Bangunan yang memiliki nama dari akronim pemilik awal yaitu Marta Badjunet, konglomerat yang berasal dari Yaman. Dengan posisi sudut di jantung Kota Lama, bangunan ini dulu merupakan toko serba ada modern de Ziekel. Bangunan ini juga menjadi kantor perusahaan impor-ekspor serta perdagangan umum Marba. Sayangnya gedung Marba saat ini dalam kondisi terlantar.
Di seberang utara yang berbatasan dengan jalan raya dan taman, ada bangunan dengan tangga putar di teras. Banyak pengunjung yang swafoto atau foto bersama di tangga yang cantik ini.
Saat ini bangunan ini digunakan untuk kantor Posko Terpadu Kawasan Kota Lama Semarang.
Hingga saat ini gereja ini masih dipergunakan untuk ibadah, jadi pengunjung tidak bisa semaunya datang dan melihat bagian dalam bangunannya. Namun kalo kamu beruntung, ada petugas yang mempersilahkan bagi pengunjung untuk memasuki bagian dalam gereja.
Gedung yang terletak berhadapan dengan Gereja Blenduk ini memiliki nama asli Nillmij van 1859 (Nederlandsch Indiesche Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij van 1859). Gedung yang menjadi kantor sebuah perusahaan asuransi jiwa milik Belanda di Hindia Belanda (Indonesia) sejak 31 Desember 1859.
Menyusuri kawasan kota lama Semarang, suasana seakan menarik saya ke sebuah peradaban masa silam. Ketika Pemerintah Kolonial menguasai wilayah negeri ini, Semarang pun tak luput dari cengkeramannya.
Ada berjuta kisah yang menyelimuti kota lama dengan bangunan tua yang masih terjaga keasliannya hingga hari ini. Merawat bangunan tua menjadi salah satu perwujudan menata peradaban untuk generasi milenial. Sejarah tak akan pernah terlepas dari kehadiran bangunan fisik dengan roh penghuni yang dahulu menjadi pemiliknya.
Sebagai warga Kota Semarang, saya ingin juga menitipkan kisah dengan menuliskan cerita tentang beberapa bangunan di kawasan kota lama. Bangunan yang merupakan Cagar Budaya Indonesia dan memiliki kisah tersendiri. Untuk itu saya akan mengajak kamu menyusuri sebagian jalan dan bangunan tua yang ada di sana. Yuk ikuti perjalanan saya hari ini.
Saya memulai perjalanan dari bagian Timur Jalan Letjen. Suprapto. Pandangan saya menatap ke arah Barat, jalan dengan paving block yang rapi memanjang. Ada pagar besi setinggi lutut orang dewasa, berbaris rapi seakan prajurit yang menjaga bangunan tua di sepanjang jalan itu.
Udara pagi yang masih segar dan matahari yang terasa hangat menemani saya sepanjang jalan. Berjalan di kawasan kota lama tidak perlu cemas bila datang sendiri. Area ini sekarang dijamin aman dan nyaman untuk kunjungan wisatawan.
Pemerintah Kota Semarang sudah menata lingkungan ini agar menjadi destinasi wisata yang menyenangkan, hangat, dan aman. Ada jalur khusus untuk pejalan kaki yang bisa pula dijadikan tempat untuk swafoto.
Sejarah Kota Lama dan Bangunan Tua
- N.V. Winkel Maatschappij H. Spiegel
Melangkah dan menatap ke kanan jalan, pandangan tertambat pada bangunan berwarna putih. Bangunan ini dahulu merupakan toko serba ada yang menjual beragam barang mewah, dari lampu, pakaian wanita, produk kecantikan, dan lainnya. Sebelumnya bangunan ini dimiliki oleh Addler (tahun 1895) dan H. Spiegel menjadi manajer.
Namun belakangan H. Spiegel membeli dan merombaknya menjadi toko piano bernama Firma J.H. Seeling en Zoon. Dalam sejarah nya, bangunan ini mengalami pemugaran (tahun 2015) yang kemudian dijadikan resto dan bar.
- Gedung Marba d.h. De Zikel
Saya berbalik menatap pada bangunan di seberang jalan. Bangunan tua yang terletak di sudut jalan. Pandangan mata saya terpagut pada bangunan tua yang memiliki daya tarik kuat. Selama ini bangunan itu seakan memiliki magnet bagi setiap pendatang.![]() |
| Saya menyempatkan foto di depan gedung cantik ini |
Bangunan yang memiliki nama dari akronim pemilik awal yaitu Marta Badjunet, konglomerat yang berasal dari Yaman. Dengan posisi sudut di jantung Kota Lama, bangunan ini dulu merupakan toko serba ada modern de Ziekel. Bangunan ini juga menjadi kantor perusahaan impor-ekspor serta perdagangan umum Marba. Sayangnya gedung Marba saat ini dalam kondisi terlantar.
- Oudetrap
Di seberang utara yang berbatasan dengan jalan raya dan taman, ada bangunan dengan tangga putar di teras. Banyak pengunjung yang swafoto atau foto bersama di tangga yang cantik ini.
Saat ini bangunan ini digunakan untuk kantor Posko Terpadu Kawasan Kota Lama Semarang.
- Gereja Blenduk
Bersebarang di sebelah barat dan dibatasi oleh Taman Srigunting, adalah bangunan gereja Protestan Indonesia Barat Immanuel. Salah satu bangunan fenomenal karena keunikan bentuk fasad dan kubahnya yang khas, hingga diberi nama Gereja Blenduk.Hingga saat ini gereja ini masih dipergunakan untuk ibadah, jadi pengunjung tidak bisa semaunya datang dan melihat bagian dalam bangunannya. Namun kalo kamu beruntung, ada petugas yang mempersilahkan bagi pengunjung untuk memasuki bagian dalam gereja.
- Gedung Asuransi Jiwasraya
Gedung yang terletak berhadapan dengan Gereja Blenduk ini memiliki nama asli Nillmij van 1859 (Nederlandsch Indiesche Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij van 1859). Gedung yang menjadi kantor sebuah perusahaan asuransi jiwa milik Belanda di Hindia Belanda (Indonesia) sejak 31 Desember 1859.
![]() |
| Gedung Jiwasraya dan nampak Rumah makan Ikan Bakar di sebelah kirinya |
Saya pernah mengikuti walking tour di Gedung Jiwasraya, bersama Duta Kola dan teman-teman dari berbagai komunitas di Semarang. Namun sayangnya waktu itu hari Minggu dan kantor dalam posisi tutup. Aslinya kan kami ingin menyaksikan lift yang dimiliki gedung ini.
Konon kata sang pemandu, bangunan ini merupakan yang pertama di Hindia Belanda (Indonesia) menggunakan lift/elevator. Meskipun sejak tahun 70-an lift tersebut tidak berfungsi lagi, tetapi hingga kini keberadaan dan keasliannya masih terjaga. Lift yang terbuat dari material besi dan berlantai kayu ini diketahui sebagai produksi Otis Elevator Company
Sebenarnya bangunan ini dulunya adalah gedung pengadilan milik pemerintah kolonial. Entah ada berapa banyak kasus yang maju dalam persidangan. Entah ada berapa orang yang menjadi terpidana dan nasib yang menyertainya kemudian.
Saat ini bangunan ini memiliki nama Old City 3D Art Museum yang juga merupakan rangkaian wisata Kota Lama.
_______________
Di sini juga merupakan kawasan yang menjadi favorit wistawan untuk swafoto. Seperti di bawah jendela, atau bangunan tua dengan akar yang menjadi tanaman. foto dengan lokasi mirip di kota yang ada di benua Eropa ini benar-benar menjadikan tempat hits di kalangan wisatawan.
Bahkan tempat ini pula yang sering menjadi tempat pengambilan adegan syuting beberapa film karya sineas muda Indonesia.
Di jalan kepodang ini ada satu bangunan lagi yang juga menarik perhatian masyarakat. Yaitu bangunan Monod Diep Huis. Lokasi Monod tidak jauh dari dinding akar, sebuah spot yang sering dijadikan tempat selfie atau berfoto para pengunjung Kota Lama.
Konon kata sang pemandu, bangunan ini merupakan yang pertama di Hindia Belanda (Indonesia) menggunakan lift/elevator. Meskipun sejak tahun 70-an lift tersebut tidak berfungsi lagi, tetapi hingga kini keberadaan dan keasliannya masih terjaga. Lift yang terbuat dari material besi dan berlantai kayu ini diketahui sebagai produksi Otis Elevator Company
- Landraad
Orang Semarang udah pasti tahu bangunan di kawasan Kota Lama yang sekarang menjadi rumah makan Ikan Bakar Cianjur. Meski sering berkunjung untuk menikmati makanannya, mungkin mereka tidak mengetahui kisah memori dari bangunan tersebut.Sebenarnya bangunan ini dulunya adalah gedung pengadilan milik pemerintah kolonial. Entah ada berapa banyak kasus yang maju dalam persidangan. Entah ada berapa orang yang menjadi terpidana dan nasib yang menyertainya kemudian.
- Dunlop-Kolff
Bangunan satu lantai yang terletak di sebelah barat Gereja Blenduk ini dulu merupakan kantor makelar utama produk sembako. Dunlop-Kolff ini merupakan makelar utama yang berkedudukan di Semarang dan mengekspor produk gula, beras, kapuk, dan lainnya. Perusahaan ini saat itu menjadi pengekspor utama produk pertanian dan kehutanan dari Hindia Belanda.Saat ini bangunan ini memiliki nama Old City 3D Art Museum yang juga merupakan rangkaian wisata Kota Lama.
Mengintip Peradaban Masa Silam di Jalan Kepodang
Sekarang saatnya memasuki lorong di seberang Old City 3D Art Museum. Oiya, kamu mesti hati-hati saat menyeberang dan berjalan menuju lorong yang lumayan lega untuk dijadikan jalan-jalan ini.Di sini juga merupakan kawasan yang menjadi favorit wistawan untuk swafoto. Seperti di bawah jendela, atau bangunan tua dengan akar yang menjadi tanaman. foto dengan lokasi mirip di kota yang ada di benua Eropa ini benar-benar menjadikan tempat hits di kalangan wisatawan.
Bahkan tempat ini pula yang sering menjadi tempat pengambilan adegan syuting beberapa film karya sineas muda Indonesia.
Yang tak kalah seru ada juga kafe yang menempati bekas bangunan tua yang sempat mangkrak. Hero Coffee, sebuah kafe asal Jogja yang memutuskan untuk membuka gerainya di salah satu bangunan tua di Kota Lama.
Lokasinya ada di jalan Kepodang atau Hoogenorpstraat dan dahulu merupakan kantor dagang milik dari Oei Tiong Ham. Pada masa kejayaannya, Oei Tiong Ham adalah milyarder Asia Tenggara yang kerajaan bisnisnya tersebar hingga di beberapa negara Asia dan Eropa. Bangunan Hero Coffee, dulunya merupakan kantor perdagangan untuk para broker kopi, gula, dan hasil bumi lainnya.
Lokasinya ada di jalan Kepodang atau Hoogenorpstraat dan dahulu merupakan kantor dagang milik dari Oei Tiong Ham. Pada masa kejayaannya, Oei Tiong Ham adalah milyarder Asia Tenggara yang kerajaan bisnisnya tersebar hingga di beberapa negara Asia dan Eropa. Bangunan Hero Coffee, dulunya merupakan kantor perdagangan untuk para broker kopi, gula, dan hasil bumi lainnya.
Di jalan kepodang ini ada satu bangunan lagi yang juga menarik perhatian masyarakat. Yaitu bangunan Monod Diep Huis. Lokasi Monod tidak jauh dari dinding akar, sebuah spot yang sering dijadikan tempat selfie atau berfoto para pengunjung Kota Lama.
Menata Peradaban di Era Digital
- Walking Tour ala Pegiat Wisata
Mengenal kota lama tidak sekadar berjalan-jalan dan swafoto di depan bangunannya yang hits. Setiap orang bisa saja datang ke satu destinasi wisata dan menikmati suasana.
Namun saya lebih menyukai wisata dengan petunjuk yang bisa memberikan tambahan wawasan tentang tempat yang saya kunjungi. Apalagi kalo tempat yang saya kunjungi merupakan cagar budaya.
Ada beberapa kali saya mengikuti walking tour yang diadakan oleh Duta Kola (Pemandu Wisata Kota Lama). Salah satunya ada kunjungan ke bangunan yang terletak di sebelah restoran Pringsewu. Bangunan yang dimiliki oleh Oei Tiong Ham ini sekaranag digunakan untuk tempat kerja Bank Mandiri Gelatik.
Yang menarik waktu kunjungan berbeda, dengan pemandu tour lainnya dari Bersukaria Walk. Ada cerita yang menarik bahwa dahulu Kota Semarang merupakan bagian dari kerajaan yang ada di Jogjakarta (Sultan Agung).
Sultan Agung ingin menyatukan seluruh Jawa menjadi kekuasaan Mataram. Namun karena Belanda di Batavia saat itu sudah cukup kuat bercokol, hal ini menjadi hambatan yang luar biasa bagi Sultan Agung. Hingga akhirnya Sultan Agung digantikan Sultan Amangkurat I.
Trunojoyo yang dibantu pasukan Belanda, melakukan serangan dan berhasil menguasai Mataram. Bahkan berhasil mengusir Sultan Amangkurat I dan keluarganya mengungsi ke daerah Banyumas.
Pada akhirnya Belanda meminta imbalan yang cukup besar. Belanda meminta sebagian wilayah Jawa dari setelah Batavia hingga Panarukan sebagai wilayah jajahannya. Semarang sendiri resmi jadi milik Belanda sejak 1708.
Semarang jadi wilayah yang sangat diperebutkan karena hasil perkebunan, dan perdagangan melalui laut. Dulu Semarang menjadi gerbang perdagangan bagi Mataram dan sudah diincar Belanda. Akhirnya Belanda memindahkan ibukota Jateng dari Jepara ke Semarang.
Saya yang mengetahui kisah ini merasa cukup terlambat, mengapa tidak sejak dahulu mengenal sejarah Kota Semarang? Saya hanya tahu warak ngendog, dugderan, dan tempat-tempat yang memiliki historis di kota ini. Namun cerita lengkap tentang perjalanan sejarah Kota Semarang, saya hanya mengenal sedikit.
Saya bersyukur ada dua pelaku wisata yang mengenalkan sejarah Kota Semarang ini. Mereka bahkan hanya menarik iuran yang cukup murah, bervariasi dan tergantung dengan lokasi yang akan dijelajahi. Jadi kalo kamu berkunjung ke Kota Semarang, lebih baik mengetahui kapan jadwal Bersukaria Walk dan Duta Kola ini akan melakukan penjelajahan. Dua pegiat wisata ini menggunakan sosial media di Instagram untuk menyosialisasikan kegiatannya.
Satu lagi pembaharuan di era digital yang bikin saya dan kaum milineal lainnya pasti merasa bahagia. Pemerinta Kota Semarang telah membuat inovasi berupa Aplikasi Kota Lama yang bisa diunduh di Playstore.
Dengan aplikasi ini, pengunjung bisa mengakses info bangunan, isinya apa, tahun berapa dibangun, fungsinya apa, arsitekturnya siapa, bahkan kondisi terkini dari bangunan tersebut.
Cuma sayangnya belum semua bangunan tua yang mendapat verifikasi sebagai Cagar Budaya Indonesia, sudah didata dan dimasukkan dalam aplikasi tersebut. Sebatas yang saya lihat, baru 30 bangunan yang masuk dalam aplikasi.
Semoga hal ini bisa jadi masukan bagi pengembang aplikasi Kota Lama Semarang. Karena bila informasi yang ada lebih lengkap, tentunya mempermudah wisatawan untuk mengakses dan mencocokkan dengan bangunan fisik di lokasi. Yuk menjadi wisatawan yang peduli dengan Cagar Budaya Indonesia. Wassalamualaikum.
Sumber Materi :
- Portal Online Suara Merdeka
- Pegiat Wisata Duta Kola (Pemandu Wisata Kota Lama)
- Pegiat Wisata Bersukaria Walk
- Wikipedia/kotalama.co.id
- datakata.com
Namun saya lebih menyukai wisata dengan petunjuk yang bisa memberikan tambahan wawasan tentang tempat yang saya kunjungi. Apalagi kalo tempat yang saya kunjungi merupakan cagar budaya.
Ada beberapa kali saya mengikuti walking tour yang diadakan oleh Duta Kola (Pemandu Wisata Kota Lama). Salah satunya ada kunjungan ke bangunan yang terletak di sebelah restoran Pringsewu. Bangunan yang dimiliki oleh Oei Tiong Ham ini sekaranag digunakan untuk tempat kerja Bank Mandiri Gelatik.
Yang menarik waktu kunjungan berbeda, dengan pemandu tour lainnya dari Bersukaria Walk. Ada cerita yang menarik bahwa dahulu Kota Semarang merupakan bagian dari kerajaan yang ada di Jogjakarta (Sultan Agung).
Sultan Agung ingin menyatukan seluruh Jawa menjadi kekuasaan Mataram. Namun karena Belanda di Batavia saat itu sudah cukup kuat bercokol, hal ini menjadi hambatan yang luar biasa bagi Sultan Agung. Hingga akhirnya Sultan Agung digantikan Sultan Amangkurat I.
Trunojoyo yang dibantu pasukan Belanda, melakukan serangan dan berhasil menguasai Mataram. Bahkan berhasil mengusir Sultan Amangkurat I dan keluarganya mengungsi ke daerah Banyumas.
Pada akhirnya Belanda meminta imbalan yang cukup besar. Belanda meminta sebagian wilayah Jawa dari setelah Batavia hingga Panarukan sebagai wilayah jajahannya. Semarang sendiri resmi jadi milik Belanda sejak 1708.
Semarang jadi wilayah yang sangat diperebutkan karena hasil perkebunan, dan perdagangan melalui laut. Dulu Semarang menjadi gerbang perdagangan bagi Mataram dan sudah diincar Belanda. Akhirnya Belanda memindahkan ibukota Jateng dari Jepara ke Semarang.
Saya yang mengetahui kisah ini merasa cukup terlambat, mengapa tidak sejak dahulu mengenal sejarah Kota Semarang? Saya hanya tahu warak ngendog, dugderan, dan tempat-tempat yang memiliki historis di kota ini. Namun cerita lengkap tentang perjalanan sejarah Kota Semarang, saya hanya mengenal sedikit.
Saya bersyukur ada dua pelaku wisata yang mengenalkan sejarah Kota Semarang ini. Mereka bahkan hanya menarik iuran yang cukup murah, bervariasi dan tergantung dengan lokasi yang akan dijelajahi. Jadi kalo kamu berkunjung ke Kota Semarang, lebih baik mengetahui kapan jadwal Bersukaria Walk dan Duta Kola ini akan melakukan penjelajahan. Dua pegiat wisata ini menggunakan sosial media di Instagram untuk menyosialisasikan kegiatannya.
- Aplikasi Kota Lama
Satu lagi pembaharuan di era digital yang bikin saya dan kaum milineal lainnya pasti merasa bahagia. Pemerinta Kota Semarang telah membuat inovasi berupa Aplikasi Kota Lama yang bisa diunduh di Playstore.
Dengan aplikasi ini, pengunjung bisa mengakses info bangunan, isinya apa, tahun berapa dibangun, fungsinya apa, arsitekturnya siapa, bahkan kondisi terkini dari bangunan tersebut.
Cuma sayangnya belum semua bangunan tua yang mendapat verifikasi sebagai Cagar Budaya Indonesia, sudah didata dan dimasukkan dalam aplikasi tersebut. Sebatas yang saya lihat, baru 30 bangunan yang masuk dalam aplikasi.
Semoga hal ini bisa jadi masukan bagi pengembang aplikasi Kota Lama Semarang. Karena bila informasi yang ada lebih lengkap, tentunya mempermudah wisatawan untuk mengakses dan mencocokkan dengan bangunan fisik di lokasi. Yuk menjadi wisatawan yang peduli dengan Cagar Budaya Indonesia. Wassalamualaikum.
Ayo ikuti lomba blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!
- Portal Online Suara Merdeka
- Pegiat Wisata Duta Kola (Pemandu Wisata Kota Lama)
- Pegiat Wisata Bersukaria Walk
- Wikipedia/kotalama.co.id
- datakata.com

















