My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Jalan-Jalan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2025

Treking Curug Lawe, Tertipu Review di Channel YouTube
Januari 16, 20250 Comments
Assalamualaikum. Judulnya kok gitu amat sih? Ya emang saya tertipu review jalur yang ada di video salah satu channel YouTube. Yang ditayangkan hanya secuil, saya kira jalurnya ya cuma nanjak dan turun tipis tipis. Ternyata kenyataan tidak seindah di reel Instagram atau video di YouTube. Treking di Curug Lawe itu puanjaaang dan laamaaaaa.


Bagi orang yang usianya masih muda, treking ke curug Lawe mungkin biasa aja. Meski tak dipungkiri kemarin ada juga dan banyak anak usia belasan atau awal 20an yang keteteran jalannya seperti kami. Gaya-gayaan, berhenti dan ambil foto, cekrek, hahahaaa. Alasannya ambil foto, selfie, aslinya sih tarik napas panjang agar engap berkurang.

Kata suami,"Andai tahu jalannya sejauh ini, aku nggak bakal kesini,"

Hahahaa, saya ngakak denger ucapan suami sepulang dari Curug Lawe. Meski tak dipungkiri kami berdua sangat menikmati perjalanan berangkat dan pulang dari Curug Lawe. Tapi memang jalannya jauh banget. Kalo baca review di google, rata-rata orang bilang jalurnya sekitar 2 km. Nonton di beberapa video channel YouTube pun juga testimoninya sama.

Namun mengapa alat pengukur langkah yang saya pakai, menunjukkan 3,4 km jarak dari gapura bertuliskan CLBK menuju Curug?

Oiya, CLBK bukan kependekan dari Cinta Lama Bersemi Kembali yaa. Tapi Curug Lawe Benowo Kalisidi. 

Gapura CLBK
Jalur treking di belakang kami

Ya udah lah ya, terlanjur basah jadinya kami tetap lanjut jalan dong. Yuk baca cerita saya bersama suami menyusuri treking menuju Curug Lawe.

Tiket Masuk

Harga tiket untuk per orang 11.000, saya dan suami dikenakan 22k. Untuk parkir kendaraan roda dua 3.000, roda empat 5.000, dan roda enam 10.000.

Lahan parkir cuku luas untuk menampung beberapa mobil dan kendaraan roda dua. Pagi itu pengunjung yang datang ramai terlihat dari tempat parkir yang penuh.

Menyusuri Jalur Panjang Curug Lawe

Curug Lawe berada di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat. Lebih tepatnya RT.01/RW.06, Hutan, Kalisidi, Kec. Ungaran Bar., Kabupaten Semarang, Jawa Tengah 50519.

Setelah bertemu Kantor Kecamatan Gunung Pati, kalian maju aja sedikit dan belok ke kiri jika dari arah Ungaran. Setelah itu ikuti petunjuknya. Kalo suami kemarin pakai GPS di HP atau GPS dalam arti lain, yaitu Gunakan Penduduk Sekitar. Hahahaa.
  
Akses jalan sebagian mulus, walaupun di beberapa titik ada jalan yang tidak rata, alias rusak  tapi enggak parah. 

Sisi kanan dan kiri jalan adalah rumah penduduk, dengan tanaman hias yang terlihat subur dengan warna cantik. Tanaman keras dan buah ada juga yang ditanam di pekarangan rumah. Ada warung makan, sembako, bahkan mendekati tempat wisata terdapat beberapa usaha ternak ayam. 

Memasuki desa Kalisidi jalanan lumayan menanjak dengan pemandangan yang cantik. Jalan yang berkelok mengikuti jalan kampung, kadang lewat pertigaan juga. Namun tenang saja petunjuk jalannya ada di setiap percabangan.

Mendekati lokasi wisata, vegetasi berganti dengan perkebunan, kebanyakan tanaman cengkeh. Namun ada juga tanaman kopi, jati, berbagai jenis tanaman lainnya. 

Setelah melintas perkebunan yang cantik, penunjuk mengarah pada gerbang bertuliskan Curug Lawe Benowo Kalisidi. Alhamdulillah akhirnya sampai juga di lokasi curug. Eh tapi ini baru sampai lokasi tiket ya, curugnya masih harus jalan lumayan jauh. Suami langsung parkir motor (iya kami sengaja memilih naik motor berdua) dan menuju tempat penjualan tiket.

Kecantikan Pemandangan Sepanjang Jalur Curug Lawe

Setelah tiket di tangan, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pintu masuk rimba Curug. Dari loket tiket, jalan berupa cor beton di dua sisi dengan dipisahkan tanah berumput di bagian tengah.

Setelah melewati jalan cor kurang lebih 300 meter, pengunjung diarahkan belok kiri dan bertemu gapura bertuliskan CLBK. Sebelum menuruni anak tangga dengan pegangan di sisi kiri, saya dan suami foto dulu. Ada sesama pengunjung yang membantu kami mengambil gambar. Ceritanya saya menawarkan satu keluarga yang akan foto welfie. 

"Mari saya bantu ambil gambarnya, Pak,"

Ihhh modus ya, ahahahaa. Ya gak apa sih, kan saling membantu teman seperjalanan. Mereka senang bisa dapat hasil foto keluarga yang bagus, saya pun juga. 

Kelihatan kan pegangan
tangga di belakang kami berdiri?

Setelah puas foto-foto, saya dan suami mulai berjalan turun lewat anak tangga. Lumayan sih agak berjarak dengan kemiringan yang tajam. Untuk kamu yang memiliki masalah persendian, nampaknya bakal butuh effort deh.

Treking awal
sesudah gapura CLBK

Setelah anak tangga terakhir, perjalanan masih aman. Kanan dan kiri jalur itu jurang dan selokan yang merupakan jalur irigasi. Airnya jernih sampai terlihat ikan kecil yang berenang.

Pastikan selalu hati-hati kalau melangkah menyusuri jalan setapak ini. Karena sisi kanan adalah selokan yang kedalamannya lumayan meski airnya cukup dangkal. Sisi kiri langsung jurang yang dalam tanpa ada pengaman atau pembatas sedikitpun. 

Sebelum treking ini, saya sempat nonton video perjalanan ke Curug Lawe di YouTube. Jadi sejak awal saya udah mempersiapkan nyali berjalan di jalur yang cukup bikin jantung dag-dig-dug. Pokoknya sepanjang jalan isinya dzikir deh, Masya Allah. 

Meski jalur di awal perjalanan cukup menguji nyali, saya dan suami tetap menikmati sepanjang jalan. Rindangnya pepohonan di kiri jalan, udara yang bersih dan segar, suara alam yang menenangkan hati, mampu menenggelamkan rasa ngeri melihat area jurang.

Apalagi saat berjalan nggak sampai 400 meter udah ketemu jembatan yang viral di sosial media. Iya jembatan cinta namanya. Jembatan yang terbuat dari kayu dan besi itu mampu membangkitkan semangat saya. Aslinya agak ngeri sih karena di bawah jembatan itu jurang yang nggak terlihat kedalamannya. Pagar pengaman juga cuma satu sisi. 

Jembatan cinta dicat warna merah dan terdapat tempat selfie di bagian tengah. Di mana pun bagian jembatan merupakan titik favorit pengunjung untuk ngambil foto. Saya pun tak mau ketinggalan ikut foto selfie sendiri. Biasa lah, suami susah diajakin foto bareng.

Sisi kanan saya
itu langsung jurang

Selepas jembatan kami bertemu dengan sungai dan ada jembatan kecil yang hanya cukup untuk satu orang. Bila ada orang yang ingin menyeberang dari sisi berlawanan, harus bergantian. Karena jembatan ini tanpa pagar pembatas.

Berpikir mau turun, begitu ngeliat
jalur menanjak di belakang
Tapi bohong, karena saya masih
 semangat naik


Treking di jalur ini memang dibutuhkan nyali, pantang menyerah, dan kehati-hatian. Banyak jalur yang membutuhkan kewaspadaan, nggak boleh lengah pokoknya.

Setelah menyeberang, kami langsung berhadapan dengan jalur menanjak yang terdiri dari ban bekas. Saya dan suami masih semangat. Nggak sia-sia deh setiap hari kami rutin jalan kaki minimal 3,5 km, bahkan di akhir pekan bisa mencapai 5 km. Jadi hingga separoh perjalanan belum merasa engap dan lelah.

Wajah saya masih antusias

Terlebih sepanjang perjalanan itu pemandangan begitu indah. Sepanjang jalur kita akan disuguhi pohon yang rindang dan anak sungai dengan air yang jernih. 

Aslinya pengen main air
Tapi tanjakan di belakang begitu
menggoda untuk dijelajahi, hehee

Jadi kalo lelah, kamu bisa rehat dan bermain air atau foto-foto. Kalo kamu suka ngonten, pasti akan sering berhenti untuk ngambil foto atau video. Kami sih sering lupa ngambil foto saking terpesona dengan hutannya yang keren banget.

Jalur menuju lokasi curug itu memiliki berkali kali tanjakan dan turunan. Saya sampai nggak mau berekspektasi kapan sampe Curug. Dijalanin aja, ntar kalo emang udah saatnya juga bakal tiba di lokasi.

Bersyukur pengelola CLBK ini sangat peduli dengan kebutuhan pengunjung soal makanan dan minuman. Di beberapa titik pendakian terdapat warung yang menyediakan beragam jajanan dan minuman. Saya dan suami datang saat hari Minggu, jadi warung yang jualan ada 4. Kalo hari biasa apakah jualan atau libur, saya kurang tahu. 

Pengelola juga menyiapkan toilet, tempat untuk rehat di beberapa titik, musholla, dan tempat sampah. Salut loh pada pihak pengelola CLBK karena sepanjang jalur itu cukup bersih dari sampah. Saya hanya menjumpai sampah satu dua plastik kemasan entah jajanan apa di jalur. Artinya pengelola cukup rajin menginspeksi sampah di sepanjang jalur.

Setelah berjalan selama 40 menit, kami bertemu sebuah percabangan. Ada papan petunjuk yang menjelaskan dua pilihan. Bila ingin ke Curug Lawe ambilah ke arah kanan, namun kalo ingin ke Curug Benowo ambilah ke arah kiri. 

Ya, Curug Lawe dan Benowo merupakan dua buah curug yang berbeda, namun lokasinya berdekatan. Dari papan petunjuk tersebut, Curug Lawe memiliki jarak yang sedikit lebih jauh dari persimpangan tadi. Tapi, entah mengapa sepertinya Curug Lawe lah yang lebih sering dikunjungi. Dan itu terlihat dari banyaknya pengunjung yang ngambil arah kanan seperti kami.

Dari persimpangan jarak yang harus ditempuh menuju Curug Lawe masih 800 meter lagi. Ayuk semangat!

Tanjakan terakhir yang paling terjal menghadang langkah kami. Hmmm, ingin berhenti sebenarnya. Namun beberapa pengunjung yang kami jumpai saling menyemangati. 

Sisi kiri sungai dan jurang
Saya jalannya mepet kanan

"Semangat, Ibuk.. bentar lagi sampai di curug. Ini tanjakan terakhir,"

Ucapan semangat yang sering saya dapatkan dari sesama pengunjung ini mampu menyuntikkan energi dari hati turun ke kaki. Terlebih saat suara deburan air yang tajam tertangkap Indra pendengaran. Kaki auto bergegas menapak di jalur yang basah karena gerimis yang cukup deras. 

Iya, setelah anak tangga terakhir, kami menjumpai satu jembatan di atas sungai kecil yang deras. Mendadak gerimis luruh ke bumi. Tadinya kami santai aja tetap berjalan. Eh makin deras juga airnya, hingga kami harus memakai jas hujan. Beruntung saat itu ada batu atau tebing tinggi yang bisa jadi tempat berteduh sambil memakai jas hujan.

Kemudian kami berjalan lagi hingga akhirnya tiba di Curug Lawe. Ketinggian curug yang gagah dengan curahan air deras dan kencang memang sangat mempesona. Sayangnya saat itu gerimis masih setia menemani, jadi kami foto dengan memakai jas hujan, hahaha.

Ada yg bantu motret

Saya dan suami nggak berlama-lama di curug. Di samping hujannya makin deras, kami memilih istirahat makan siang di warung yang aman dari hujan. Maaf ya saat di warung kami nggak foto-foto. Karena kami sungkan dengan pengunjung lainnya yang tengah menikmati suasana jajan di hutan.

Tips Treking ke Curug Lawe

Kalo kamu ingin jalan-jalan ke Curug Lawe, perhatikan beberapa hal berikut ini yaa.

  • Pakai pakaian yang nyaman dan menyerap keringat. 
  • Gunakan sepatu untuk treking, jangan pakai sandal jepit.
  • Bawa bekal secukupnya, jangan  lupa air minum yang cukup
  • Bawa obat-obatan yang sekiranya dibutuhkan bila ada keadaan darurat
  • Kondisi tubuh harus fit karena treking ke curug ini nggak main-main. Fisik kalian harus kuat sehingga nggak akan merepotkan orang di jalur trek.
  • Perhatikan jalur, hati-hati selalu karena di titik awal ada beberapa ruas trek yang pinggirnya itu jurang.
Misal kalian kurang tidur, jangan langsung treking. Mending istirahat sebentar atau minum kopi, makan permen agar mata waspada.

Kalian yang usianya seperti saya (56 tahun), tetap bisa treking sepanjang udah mempersiapkan diri dengan rutin jalan atau joging. Jadi jangan galau, yang penting siapkan fisik sehat dan bugar.

Sekian ya cerita saya dan suami yang sukses treking menyusuri jalur trek Curug Lawe yang katanya pendek. Ternyata kami kena prank. Jalurnya Masya Allah panjang banget. Alhamdulillah kami aman aja berjalan berangkat dan pulangnya. Next trip kemana lagi enaknya? Kasih saran di kolom komentar ya, wassalamu'alaikum.
Reading Time:

Rabu, 08 November 2023

Ngapain Aja di Tanah Lot dan Pura Danu Beratan, Wisata di Bali Yang Nggak Pernah Membosankan
November 08, 2023 4 Comments


Assalamualaikum. Halo apa kabarnya, semoga kita semua dalam keadaan sehat dan bahagia ya. Kembali saya akan menceritakan pengalaman family trip di Pulau Bali lalu. Kalo sebelumnya saya tuliskan perjalanan berangkat menggunakan pesawat dan kulineran di Ayam Betutu Bandara Ngurah Rai Bali. Kali ini saya ingin cerita wisata di Tanah Lot dan Pura Danu Beratan.

Pura Ulun Danu Beratan
Pura Ulun Danu Beratan

Sejak jauh hari, adik bungsu kami yang udah bikin itinerary menuturkan kalo hari kedua kami akan menuju Tanah Lot dan Pura Danu Beratan. Terakhir ke Tanah Lot saat anak saya masih kecil dan pergi ngajakin keluarga saya. Ada orang tua, juga adik-adik saya. Suami ngajakin kami road trip Jawa Bali kala itu. Meski lelah tapi seru dan terbayar dengan kebahagiaan yang terpancar di wajah keluarga saya. 

Tanah Lot Yang Tetap Memukau, Jajan Klepon Bali

Rupanya setelah sekian lama, wajah Tanah Lot udah berubah banyak. Untuk akses menuju bibir pantai yang terdapat karang dan bebatuan, serta goa dengan ular di dalamnya, kemarin nggak boleh dikunjungi. Jadi kami serombongan juga wisatawan lainnya hanya mengeksplor kawasan dekat pagar yang jaraknya lumayan jauh dari bibir pantai. Demi keamanan wisatawan tentu harus mengikuti aturan ya.

Memang saat itu ombak sangat besar hingga mampu mencapai pengunjung yang sedang foto-foto di dekat pagar. Padahal posisinya cukup jauh dari laut dan berada di ketinggian. Wahhh kami langsung lari menjauh dari pagar kalo nggak ingin kena cipratan ombak yang cukup besar itu.


Namun meski nggak bisa melipir ke bibir pantai dan bermain air, tidak masalah. Berdiri di dekat pagar dan berpose syantik juga seru. Karena banyaknya pengunjung antrian foto dengan pemandangan laut Bali mesti dilakukan yagesyaa, ha-ha-ha.

Maaf kalo foto yang dipamerkan di sini cukup mengundang mual pembaca. Maklum deh lama nggak traveling sekeluarga besar jadi kan begitu bisa jalan bareng pengennya foto foto terus.




Oia saat menuju kawasan Tanah Lot, driver kami menawarkan jajan kue klepon yang ada di pinggir jalan. Semula kami enggan menerima tawaran itu. Apa keistimewaan kue klepon di Bali? Namun salah seorang dari kami justru penasaran.

"Coba aja beli 5 atau 6 bungkus, sama nggak dengan yang ada di Jawa,"

Begitu driver memberikan beberapa bungkus, kami segera membuka dan melihat isiannya. Dalam satu kemasan daun yang terdiri dari satu lembar ini terdapat 5 butir klepon. 


Rasanya khas dengan aroma wangi daun pandan. Untuk aromanya ini yang menyolok, beda dengan klepon di Jawa yang aroma daun pandannya tidak sekuat ini. Nah kalo warna hijaunya didapat dari daun suji hingga nampak gonjreng warnanya.

Kalo rasanya sih mirip, cuma kelenturan kulitnya yang membedakan dengan klepon di Jawa. Klepon di Bali ini untuk kulitnya lebih lentur dan tipis. Kata pak driver juga, isiannya itu gula merah cair. Bukan seperti di Jawa yang menggunakan gula merah sisir. 

Untuk harga masih mirip lah ya dengan klepon di Jawa. Kemarin satu bungkus itu dihargai 4 ribuan dan isinya ada 5. Nah di Tanah Lot juga ada penjual klepon. Kami bertemu penjual klepon saat akan menuju pintu keluar. Di sini satu porsi harganya 5 ribu. 

Penjual klepon di Tanah Lot


Kalo kalian berkunjung ke Tanah Lot wajib nih jajan klepon Bali yang khas dengan aroma wangi daun pandan. Setidaknya menyicipi kuliner lokal dan membantu perekonomian warganya.

Berkunjung ke Tanah Lot juga bisa belanja oleh-oleh produk kreativitas warga lokal. Lengkap banget, dari topi lebar agar aman dari sinar matahari yang terik, atau udeng. Udeng yaitu penutup kepala yang biasa digunakan oleh laki-laki dewasa dan anak-anak saat ada upacara keagamaan di Bali. Namun wisatawan pun bisa juga mengenakannya untuk properti foto seperti suami dan ponakan. Harga topi lebar dan udeng sama yaitu 25k. 

Beli topi dan udeng
Kami jajan topi dan udeng 😂


Tiket masuk ke Tanah Lot ini untuk wisatawan domestik dewasa sebesar 20k dan anak-anak adalah 15k. Kalo wisatawan asing sekitar 60k dan 30k untuk anak-anak.

Fasilitas toilet di kawasan wisata ini cukup banyak baik yang dikelola oleh Taman Wisata Tanah Lot maupun perorangan. Jadi kalo ketemu tempat makan atau warung gitu, bagian belakang atau sampingnya akan menyediakan toilet. Toiletnya cukup bersih dengan air yang melimpah dan bersih.


Cantiknya Pura Ulun Danu Beratan

Foto di depan danau


Selepas dari Tanah Lot, kami melanjutkan perjalanan di Pura Ulun Danu Beratan. Tempat pemujaan atau sembahyang umat Hindu yang terbesar di Bali ini juga menjadi tempat wisatawan yang sangat terkenal.

Pura Ulun Danu Beratan ini terletak di ketinggian, di kelilingi perbukitan sehingga sesekali pun kabut turun dan menutup jarak pandang ke arah danau. Yang menjadikan pura ini sangat disukai wisatawan karena tempatnya yang sejuk.


Banyak wisatawan swafoto atau difotoin dengen membawa mata uang 50 ribuan. Karena memang Pura Ulun Danu Beratan ini menjadi ikon di mata uang tersebut. Saya sendiri meski udah dua kali ke tempat syahdu ini, belum pernah foto dengan duit 50 ribuan, hihihii.



Meski saat ke Pura Ulun Danu Beratan bukan weekend, tetap saja wisatawan sangat banyak. Jadi ya kita mesti pintar-pintar aja nyari spot foto yang tidak bocor. Atau bisa juga ikut antrian dengan pengunjung lainnya. Namun bisa juga meminta bantuan kang foto yang ada di lokasi, jadi kita bisa foto cantik tanpa bocor dan nantinya kasih tips seikhlasnya.

Kalo ini difotoin adik kami


Untuk tiket masuk ke danau ini setiap wisatawan dewasa dikenakan biaya masuk 30k dan untuk anak-anak sebesar 20k. Tiket parkir kemarin kami bayar 5k. 

Kalo kalian pecinta wisata air, bisa loh coba permainan yang seru seperti naik  speed boat, bebek air, dayung banana, dan lainnya. Ada juga kafe bagi yang ingin duduk dan ngopi atau menikmati cemilan sambil memandang danau. Banyak juga toko souvernir untuk dijadikan oleh-oleh bagi keluarga di rumah.

Mengelilingi tempat wisata ini tidak terasa lelah karena pemandangan yang disuguhkan begitu mempesona. Namun bila kalian lelah setelah berjalan-jalan, bisa duduk di beberapa kursi yang tersedia di seluruh lokasi wisata.


Yang menarik para wisatawan terutama manca negara adalah menyewa baju adat Bali. Kalian juga akan didandani seperti layaknya perempuan Bali yang akan menikah dan foto di salah satu pura dengan latar belakang danau yang eksotis karena kabut yang sesekali turun. Saya sendiri cukup senang menyaksikan wisatawan yang tampil cantik dengan pakaian adat serta make up khas perempuan Bali. Bahkan ada pula yang berpasangan mengenakan baju adat Bali ini. 


Pura Ulun Danu Beratan masih terus berbenah dengan memperbarui taman. Saat di sana, saya melihat beberapa pekerja tengah membuat taman serta menanam bunga-bunga cantik untuk memperindah lokasi. 

Berada di tempat wisata satu ini pasti nggak terasa waktu yang berlalu, suasananya, pemandangan yang cantik dari danau, taman, dan ngobrol bersama teman seperjalanan, adalah sebuah keistimewaan. Saya pengen lagi berkunjung ke Pura Ulun Danu Beratan suatu hari nanti kalo traveling ke Bali lagi. Semoga ya, wassalamualaikum.
Reading Time:

Sabtu, 02 September 2023

4 Day 3 Night Traveling Goes to Bali (Day 1 : Makan Siang, Jalan-Jalan ke BEACH KUTA )
September 02, 2023 8 Comments
Assalamualaikum Sahabat. Apa kabarnya, semoga kalian dalam keadaan sehat dan bahagia ya. Alhamdulillah senangnya bisa hadir dan menyapa kembali pembaca blog dengan share artikel terbaru. Kebetulan juga awal bulan Juli saya dan suami baru pulang ikut family trip ke Bali. 

Bandara Ngurah Rai Bali


Uhhh senangnyaaa, bersyukur loh bisa liburan bareng keluarga suami setelah sekian lama. Alasan pandemi yang bikin kami absen liburan bersama keluarga besar. Seperti juga keluarga lainnya umumnya karena memang adanya pembatasan traveling. 

Itu lah mengapa akhirnya ketika bisa traveling bareng, saya syukuri banget. Meski hanya 10 orang yang berangkat, nggak apa deh. Karena traveling kali ini mendadak banget dan nggak ada direncanakan sebelumnya. Dari ngobrol kecil, mendadak ada yang ngajakin jalan-jalan agak jauh dikit 

Semarang, Perjalanan Dimulai

Rabu, tanggal 5 Juli 2023 perjalanan dimulai dari rumah berdua dengan suami menuju tempat ibu tinggal bersama kakak pertama. Di sini udah ada mbak Nur (kakaknya suami yang tinggal di Pekalongan), dua ponakan dengan bapaknya (ibunya nyusul karena akan ada pelantikan jadi Kaprodi di kampus).

Jadi ini lah rombongan awal kami hanya ada 6 orang, adiknya suami akan nyusul nanti sore berangkat sendirian. Adiknya suami satu lagi terbang langsung dari bandara Sultan Badaruddin Pekanbaru. Dan dua lagi adalah adik bungsu yang akan berangkat bersa anak bungsunya. Nah kami dari Semarang ini akan menjemput di Salatiga, rumah adik bungsu yang terletak di daerah Ngawen. 

Perjalanan dari Semarang menuju Salatiga melintasi tol ya teman-teman, jadi nggak butuh waktu lama. Karena keluar dari tol Bawen, suami lebih suka memilih jalur lingkar arteri yang jalannya lebih lancar dan lebih dekat menuju rumah adik kami.

Di Salatiga kami diajakin sarapan Soto terlebih dulu sebelum berangkat. Sekitar pukul 08.30 tepat kami berangkat menuju Bandara Adi Soemarmo Boyolalu. Dari rumah adik kami pun memilih jalan tol karena hari Rabu itu kan weekdays agar perjalanan lancar. Oia kami membawa dua mobil karena ternyata mobil yang kami bawa dari Semarang aja udah penuh dengan koper di bagian bagasi. Peserta famtrip dari Semarang yang 6 orang aja mesti ngalah dengan koper yang gede-gede, kwkwkwww.

Nggak butuh waktu lama, sekitar pukul 09.15 kami udah sampe di bagian parkir bandara. Dari sini ada dua teman adik kami yang akan membawa balik 2 mobil ke rumahnya. Teman adik bungsu ini saling bantu karena sebelumnya waktu ke Bali juga diantar sampai bandara. 


Setelah check in dan memasukkan koper ke bagasi, kami segera menuju tempat boarding pesawat domestik. 

Setelah check in di bandara


Oia kami akan terbang naik si singa karena tiketnya emang paling murce sih. Kami sempat melewati mushola yang bersih seperti juga di bandara lainnya yang pernah saya kunjungi. Namun ternyata ruang tunggu keberangkatan pesawat domestik udah dekat banget. 

Ruang Tunggu Adi Soemarmo
Maaf foto back light


Di ruang tunggu keberangkatan domestik, saya dan keluarga menghabiskan waktu dengan ngobrol dan ngemil. Sesekali juga saya atau suami mengisi waktu dengan jalan-jalan, tiduran, dan kegiatan kecil membunuh waktu. 

Mbak Nursanti malah sempat ingin merasakan nyamannya kursi pijat juga, namun sayangnya semua kursi tersebut eror dan nggak bisa digunakan. Padahal yang 1 sebelumnya sempat digunakan seseorang. Nampaknya mesti diistirahatkan dulu baru bisa digunakan lagi. Mungkin banyak yang menikmati kursi pijat seharga 10 ribu untuk durasi waktu 15 menit. 
 
Kursi pijat


Pesawat delay seperti biasa kalo terbang bareng si oren, harus sabar dan pintar mengisi waktu nunggu di bandara. Senangnya kalo pergi rame-rame tuh nggak bosen meski nunggu cukup lama di bandara. Apalagi ruang tunggunya juga ada banyak fasilitas agar calon penumpang tidak bosan. 

Ada toko souvenir, resto pilihan, retail/mart, cafe untuk ngopi, bahkan ada juga kids zone dan perpustakaan. Saya sempat ngintip koleksi bukunya dan ada salah satu buku yang menarik untuk dibaca. Sayangnya nggak bakal selesai sambil nunggu jadwal keberangkatan. Letak mini library ini gampang ditemukan karena setiap penumpang yang akan ke toilet pasti melewatinya.


Tepat pukul 11.40 kami mendengar panggilan untuk segera memasuki pesawat. Kami malas antri berdiri, jadi memilih duduk aja dulu sambil nungguin antrian berkurang. Ada pilihan untuk lansia bisa memilih lewat garbarata atau anak tangga ke bawah. MBak Nursanti memilih garbarata, karena dipikir nggak bakal capek gitu kan ya. Eh kami baru ngeh kalo pasti ya tetep aja turun ke landasan karena ternyata semua penumpang naik lewat anak tangga. Lah ngapain juga disediakan fasilitas garbarata, kami ngakak setelah tahu mbak Nur bertemu di landasan pesawat.

Yeayyy, Alhamdulillah Selamat Sampai di Bali

Alhamdulillah penerbangan lancar dan kami mendarat mulus kurang lebih jam 14.20 WIT. Setelah pengambilan bagasi dan sambil nungguin adik kami yang ternyata nyaris bersamaan mendarat di bandara Ngurah Rai, akhirnya semua ngumpul sekitar pukul 14.58. Kami segera keluar bandra tapi tetep ya sempetin foto bareng di spot yang hitss.

Foto di tempat hits di bandara Ngurah Rai Bali


Mobil Hi-ace sewaan udah siap dengan driver andalan dan langganan adik bungsu yang sering ke Bali. Kami pun diantar ke Ayam Betutu Gilimanuk cabang Kuta dan makan siang yang puas banget di sini. 

Ceritanya ada di sini, silakan dibaca :


Kami melanjutkan tujuan berikutnya, di mana lagi kalo bukan di hotel Hadi Poetro tempat nginap selama tiga malam di Bali. Lokasi hotel ada di kawasan Kuta, kemana-mana dekat meski tetep deh ketemu macet karena memang pusat keramaian di Denpasar tuh di sini.


Nanti ya saya ceritakan lengkap tentang hotel ini di artikel terpisah. Yang jelas sih hotel kami ini dekat pasar Kuta 2, warung makan murah, tempat oleh-oleh Krisna dan Jepun, resto halal juga, toko souvenir, dan yang pasti minimarket. Semua ini bisa dijangkau dengan jalan kaki, asik kaaan.

Di hotel ini kami cuma naruh koper dan shalat trus mandi (bagi yang mau mandi sebelum lanjut jalan yagesyaa, hahahaa).

Nah jam 16.10 WIT kami ngumpul lagi untuk lanjut jalan-jalan sebentar ke Pantai Kuta dan BEACH. Tahu dong yang pernah ke Bali pasti mampir ke BEACH. Saya dan suami juga sekadar window shoping, beda dengan ponakan yang pengen beli sandal di Onitsuka. BEACH ini tempat nongkrong favorit semua golongan usia. Surga mainan buat anak-anak, tempat jajan coklat atau gelato yang seru untuk semua kalangan. Cuma butuh dompet tebel atau rekening gendut aja.

Onitsuka di BEACH


Setelah dari BEACH kami sempatkan ke pantai, pengen lihat sunset. Tapi sayangnya gerimis datang mendadak. Kami sempat foto-foto sedikit dan langsung menuju tempat parkir yang ada di seberang pantai. Adik kami yang berangkat dari Solo pukul 16.20, katanya udah landing pukul 17.56 WIT di Ngurah Rai. 

Jalanan yang macet di kawasan pantai, meski driver pintar memilih jalan tikus yang ternyata banyak dijadikan piihan driver lainnya, bikin agak lama sampai di bandara. Namun adik kami juga masih nungguin antrian turun dari badan pesawat. Dia ngga bawa koper karena semua udah dibawa rombongan yang berangkat pagi. Alhamdulillah kami udah lengkap ber-10 akhirnya. 

Keluar dari bandara kami beli air mineral untuk persediaan selama di Bali. Kemudian kami sempat beli makanan untuk makan malam yang dibawa ke dalam kamar hotel. Abis itu nggosip di salah satu kamar dan bobok syantik akhirnya. Oia itinerary udah dibuatkan oleh adik bungsu yang pengalaman traveling ke Bali selama ini. Dia sering ngajakin kliennya atau temannya liburan ke Bali. Jadi kami kakak dan ponakannya menurut aja dengan jadwal jalan-jalan yang udah diatur.


Segitu aja ya ceita hari pertama kami yang lumayan panjang. Terimakasih udah membaca pengalaman hari pertama dari keberangkatan dari Kota Semarang hingga menghabiskan waktu di Bali.

Pengalaman traveling bersama keluarga Bani Suhada ini udah yang kesekian kalinya, namun traveling ke Pulau Bali ini yang pertama. Sebelumnya paling jauh sebatas ke Pantai Klayar di Pacitan. Oh sebenarnya pernah juga ke Pulau Sumatra meski cuma kami para orang tua karena anak-anak sekolah. 

Saya sebenarnya masih pengen bisa traveling ke luar negeri seperti sebelum pandemi. Yang dekat aja kayak ke Thailand, Vietnam, dan Singapura. Atau boleh jug ke Malaysia lagi karena meski udah dua kali tapi tetep aja pengen lagi ke negeri ini. Ada beberapa artikel di blog teman Travel Blogger Indonesia yang saya baca untuk referensi. Senang kalo baca blog milik teman-teman karena cerita mereka selalu unik dan berbeda. Wassalamulaikum.
Reading Time:

Kamis, 15 September 2022

Traveling Lagi ke Lembah Harau,  Wisata Menarik di Payakumbuh Sumatra Barat
September 15, 2022 33 Comments

Assalamualaikum Sahabat. Melanjutkan cerita traveling saya bersama keluarga suami, awal bulan Agustus 2022 yang mengesankan. Ya bagi saya setiap perjalanan selalu meninggalkan kesan yang mendalam. Siapapun teman perjalanan pasti akan ada cerita yang tak sama. Meski dengan orang yang sama, ke tempat tujuan sama, akan selalu ada cerita yang berbeda. 



Apalagi perjalanan kami kali ini terasa istimewa dikarenakan untuk menjadi saksi ijab dan pernikahan ponakan. Pernikahan yang udah jadi perbincangan di WAG kelluarga sejak akhir tahun kemarin. Alhamdulillah pesan tiket pesawat udah dari Februari jadi masih dapat harga murah. Acaranya juga lancar, meski ada drama sejak berangkat dari hape yang tertinggal di mobil sampai ada yang kehilangan hape beneran. Ya itu lah cerita yang akan selalu jadi kenangan saat ada di satu perjalanan.


Oia saya menuliskan versi lengkap perjalanan ini karena traveling ke Lembah Harau adalah sisipan kegiatan setelah tasyakuran pernikahan ponakan. Jadi sengaja saya menulis lengkap perjalanan dari awal di bandara hingga ke Pekanbaru.


Perjalanan kali ini bersama dengan suami, ibu mertua, mbak Nur (mbak ipar), mbak Ida (istri kakaknya suami), dan adik ipar (pasangan suami istri, dek Pur dan Ani, serta si bungsu Nina). Dari rombogan kali ini dengan tujuan sama, yaitu Kota Pekanbaru dan nantinya akan jalan-jalan ke kawasan Bukittinggi. Kali ini saya akan menuliskan cerita saat wisata di Lembah Harau. Meski kami juga ke tempat wisata lain. Akan saya ceritakan di lain waktu bila ada yang tertarik, hihii.


Meski bukan kali pertama berkunjung ke lembah ini namun tetap aja menjadi pengalaman yang mengesankan. Tapi ada juga sih pengalaman tak mengenakkan. Apa sih yang bikin nggak enak? Baca lebih lanjut aja yaa.


Hari Kedua Berangkat dari Bogor Menuju Bandara

Setelah menikmati perjalanan sepanjang 7 jam, dengan beristirahat di Pekalongan dan rest area haritage Brebes, kami tiba di Bogor di kawasan Dramaga. Rumah adik kami yang hanya ditempati oleh anak sulungnya. Rencana besok pagi jam 8 kami akan berangkat ke bandara Soekarno Hatta bersamanya.


Sampai di Bogor segera masak nasi untuk makan malam kami bertujuh. Lauk pelengkap udah bawa dari Semarang. Ada rendang daging, serundeng, kentang pedas, dan telur balado. Saya dan mbak Nur akhirnya nyari sayuran di kulkas untuk dimasak tumis. 


Yang bebas tugas ada yang mandi, beberes bajuk untuk besok pagi, atau eksplor koleksi tanaman di kebun depan, hahahaa. Sementara suami dan adik ipar membersihkan mobil.


Setelah makan malam dan ngobrol diselingi vidcall dengan adik yang di Pekanbaru, kami segera masuk kamar untuk beristirahat. Capek, ngantuk, dan kami mesti mempersiapkan stamina untuk perjalanan besok ke bandara. Yang pasti kami harus siap nunggu lama di bandara karena pesawat delay. Udah biasa ya kalo maskapai Li**, hehee.


Pagi hari Jumat, 5 Agustus 2022 mobil kami terisi 7 orang dari sebelumnya karena ada ponakan yang bareng kami. Oia yang nikah adiknya duluan kemarin. Tapi alhamdulillah si sulung dari nte Yuli (adik kami yang tinggal di Pekanbaru) insya Allah bakal nyusul tahun depan. Mohon doanya ya buat ponakan kami.


Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam, mobil pun memasuki bandara terminal 2E. Setelah menurunkan bawaan, suami menitipkan mobil di parkiraan inap di dekat gate 1. Dia sendirian kesana, karena ada satpam yang antar. Kata si bapak satpam nantinya akan naik ke gate 1 lewat eskalator atau anak tangga. Kami pun menanti di dekat pintu masuk terminal 2E.


Penantian Selama 6 Jam di Bandara, Dari Shalat Hingga Makan Siang 

Setelah suami bergabung dengan rombongan, kami segera boarding karena ada penitipan bagasi. Berbarengan pula ada pesan notif masuk di WAG kalo adik bungsu udah nungguin di Gate E5 bersama Ibu. Mereka berangkat dari Semarang dengan penerbangan pertama. 


Jadi ceritanya memang kami barengannya mulai dari bandara Soetta. Karena kasihan ibu kalo mesti ikut kami yang muda ini road trip Semarang - Bogor. Tapi pulangnya terpaksa ikut road trip Bogor - Semarang karena adik bungsu mesti pulang duluan. Tapi alhamdulillah Ibu sehat sehat aja selama dalam perjalanan dari berangkat hingga pulang lagi ke Semarang.


Sebelum beranjak ke Gate E5 kami memilih shalat Dhuhur dulu di mushola yang ada Terminal 2D. Karena adik kami bilang, mushola yang ada di Gate E5 itu mesti turun satu lantai gitu. Meski akhirnya juga kami tetep mengakses kesana karena harus ke toilet saat menanti jam penerbangan yang masih lama. 


Setelah semua selesai melaksanakan shalat yang dijamak, kami pun beranjak ke Gate E Terminal 2E. Wah kasihan ibu misal jadi berangkatnya bareng kami naik mobil dari Semarang. Tapi tadi adik kami yang bareng Ibu juga cerita kalo mereka pun jalannya jauh. Beruntung ada fasilitas kursi roda bagi lansia, dibantu oleh maskapainya. Yang penting saat boarding sampaikan pada petugasnya kalo ada orang tua yang butuh kursi roda karena masalah dengan kakinya.




Tiba di terminal 2F rombongan kami segera berkumpul di deretan kursi bareng adik bungsu dan Ibu. Kami masih menanti rombongan dari Kuningan, keluarga suaminya adik kami. Tapi dari Kuningan ini hanya empat orang yang bisa berangkat ke Pekanbaru. Yang berangkat yang usianya muda ataupun tubuhnya sehat. Meski dibanding kami ya masih mudaan kami sih, karena yang berangkat adalah kakaknya ayah dari pengantin putra. Ah syudahlah nggak perlu dipusingkan tentang keluarga dan usianya, hahahaa. 


Di sini kami makan perbekalan, nasi kebuli dan ayam goreng. Pilihan lain nasi putih dengan ayam goreng dan telur balado. Pilihan saya nasi kebuli dan suwir daging, enak banget ya Allah. Kayaknya aku lapar karena jalan jauh antara terminal masing-masing gate ini, hihiii. Tapi emang udah jam makan siang juga sementara paginya saya hanya makan bolu dan teh manis.


Tepat jam 16.00 petugas memanggil para penumpang pesawat Lion Air tujuan Pekanbaru. Perjalanan nggak lama karena pukul 18.00 pesawat udah mendarat di bandara Sultan Syarif Kasim. 



Kami masih sempat foto-foto di bandara dan akhirnya bertemu dengan keluarga adik yang akan menikahkan anak bungsunya keesokan harinya. Dari bandara ini ada dua mobil plus satu mobil sewaan untuk menjemput rombongan dari Jawa.


Perjalanan dari bandara menuju rumah nggak butuh waktu lama karena lokasinya dekat, cuma membutuhkan waktu 15 menit. Setelah pembagian kamar dan mandi, shalat, dan beberes pakaian, kami berkumpul untuk ngobrol. Kebetulan ada dua kakak sepupu dari keluarga besar ibu mertua yang tinggal di Boyolali dan Palembang akan menghadiri pernikahan besok. Jadi deh malam itu acaranya makan dan ngobrol seru. Kalo nggak ingat besok bakal ada acara penting pasti ngobrolnya nggak bakal disudahi, hihiii.



Om Aji mengantar kedua pasangan suami istri (Mba Sri dan suami, Mba Heni dan suami) ke hotel. Suami dan om Pur dengan mobil lain mengikuti dari belakang. Rencananya adik ipar akan ditinggal di hotel tempat menginap pengantin dan keluarga, jadi mobil akan dibawa pulang suami. 


Piknik ke Lembah Harau Lagi, Suasana Udah Beda

Acara pernikahan aku skip aja yaa, alhamdulillah dari akad nikah hingga resepsi berjalan lancar. Kami pulang jelang pukul 14.00 dan segera shalat di rumah. Abis itu kami beristirahat tapi nggak bisa tidur karena mau nyuci, wkwkwk. Yang penting nyuci ntar setrikaan biar diurusi si mbak ART besoknya. Karena besok kami berencana akan wisata di kawasan Bukittinggi.


Akhirnya Minggu pagi setelah diskusi semua rombongan ikut kecuali adik bungsu yang harus pulang dengan pesawat pukul 9 pagi. Dari rencana 6 orang, akhirnya Ibu dan adik kami yang kemarin abis punya acara, ikut serta piknik. Ya adik kami ikut nemenin. Nggak kebayang capeknya seperti apa tapi masih sempat nemenin kami wisata. 


Tapi sebenarnya adik kami ini menggunakan jasa wedding organizer. Jadi ya meski capek juga paling karena ngurusi keluarga, masak buat kami, dan siapin oleh-oleh untuk kami juga. Karena sebelum kami datang dia udah belanja oleh-oleh, jajanan khas Pekanbaru. Untuk oleh-oleh ini nantinya akan saya tulis khusus di artikel selanjutnya.


Sebelum berangkat, Om Aji udah wanti-wanti kalo daerah Bangkinang ada jalur buka tutup karena proyek jalan yang tengah dicor. Kami udah siapin cemilan buah dan snack ringan untuk teman di perjalanan. Saya yang nggak sempat sarapan di rumah pun memilih cemilan buah selama di perjalanan. 


Setelah 4 jam perjalanan, sempat rehat sejenak di Kelok 9 untuk menyelonjorkan kaki, kami tiba di Lembah Harau. Oia kami sempat menghabiskan jagung bakar, pisang bakar selama di Rest Area Kelok 9. Kami juga sempat foto-foto bersama. 






Sejak 1993, Harau sudah menjadi cagar alam hutan hujan tropis dataran tinggi. Bahkan di sini juga terdapat suaka margasatwa sebagai rumah satwa asli Sumatra. Dengan luas 669 hektare, wilayah cagar alam Harau terbagi menjadi 3 area resort. Di antaranya adalah Resort Aka Barayun, Resort Sarasah Bunta, serta Resort Rimbo Piobang. 


Dahulu Lembah Harau terkenal dengan wisata menarik seperti air terjun. Sayangnya kali kedua saya ke tempat ini, kolamnya kering dan air terjun mirip curahan gerimis. Entah apa yang terjadi di atas bukit sana. Tapi yang pasti pepohonan di hutan di atas bukit pasti sudah berkurang habitatnya.


Sekarang Lembah Harau udah berbeda, tidak seperti dulu saat saya kesini bersama mba Nur, suami, dan dek Yuli. Kata banyak netizen Lembah Harau sekarang ada wisata menarik yang wajib dikunjungi. Ternyata ada penambahan wisata menarik tematik yaitu Kampung Eropa, Korea, Sarosa, Secret Garden, dan Jepang.






Selain itu, tersedia juga opsi wahana outbound dan tempat wisata menarik kekinian di Lembah Harau. Untuk akomodasi, kalian bakal mudah mendapatkan penginapan di lokasi wisata ini yang umumnya berupa homestay. Camping ground pun juga ada. Fasilitas lain adalah area parkir, toilet, serta tempat ibadah.

jalan menuju toilet, ada sandal khusus

Kecewa di mushola ini, banyak pengunjung tidak melepas alas kaki. Udah ada tanda larangan, disediakan sandal oleh pengelola juga. Sayang banget pengunjung membuang sampah seenaknya juga. 


Saya kasihan pada pekerja yang rajin membersihkan lokasi wisata ini. Hal yang paling memalukan adalah pekerja menyapu semua sepatu atau sandal yang naik ke lantai tempat larangan. Eh tapi masih ada beberapa pengunjung yang enggan melepas, justru naik ke anak tangga lebih tinggi dengan sepatu yang terpakai.

"Aduh aduuhhh, kok nggak ada empati gitu ya, ada larangan masih aja sepatu gak dilepas,"


Komentar gusar saya lepas seketika. Mbak Ipar ngakak mendengar omelan saya. Kesadaran menjaga tempat wisata di negeri ini merupakan PR besar yang entah gimana cara memperbaikinya. Saya selalu gemas kalo melihat kondisi sampah di tempat wisata. Ndableg (bandel) banget yak sebagian kecil (harapan saya) wisatawan ini. 


Harga Tiket Lembah Harau

Harga tiket masuk Lembah Harau Sumbar bergantung pada spot wisata menarik yang dikunjungi. Biaya masuknya mulai dari IDR 20K. Ada juga tiket masuk terusan IDR 30K-40K. Tiket terusan biasanya meliputi kunjungan ke semua atau ke sebagian spot (Kampung Eropa, Korea, Jepang, Kampuang Sarosa, serta Secret Garden). Saya sendiri kurang tertarik di samping keterbatasan waktu juga untuk mampir ke tempat tersebut.



Sempet ngintip bagian dalamnya
 seperti di foto bawah itu


Bagi sebagian warga wisata kekinian ini dianggap sebagai spot foto yang menarik. Karena belum bisa berkunjung ke negara impian, ya udah foto aja di spot yang ada di sini. Namun sebagian wisata lain justru menyayangkan kehadiran wisata tematik tersebut justru menghilangkan eksotisnya Lembah Harau. 


Lembah Harau merupakan ngarai curam yang terapit dinding tebing dengan ketinggian 100-200 meter. Lanskapnya begitu menawan, cenderung eksotis dengan topografi berbukit-bukit dan bergelombang. Di Lembah Harau ini setiap bukit memiliki nama masing-masing. Saya mendengar seseorang yang menuturkan ada yang disebut Bukit Jambu, Bukit Air Putih, Bukit Singkarak, Bukit Tarantang. Meski beliau tidak begitu hapal bukit mana yang namanya bukit Air Putih.  



Saya hanya berada di tempat ini sekitar 1,5 jam, diselingi ngemil, shalat, dan foto-foto. Semoga aja tempat ini masih mempertahankan kealamiannya. Karena Lembah Harau udah menarik dengan apa yang udah disuguhkan alam. Tebing tinggi, air terjun, hamparan rumput atau sawah, serta rumah adat Minangkabau dalam bentuk miniatur maupun tempat tinggal, atau homestay-nya. Semua itu berpadu indah dan eksotis terutama ketika kabut datang dan gerimis turun perlahan. 


Pukul 13.45 kami pun beranjak meninggalkan lapangan parkir menuju destinasi wisata menarik berikutnya. Teman-teman udah pernah berapa kali ke Lembah Harau? Bagi yang belum pernah berkunjung ke tempat ini, saya sarankan untuk datang sepagi mungkin agar bisa menikmati suasana lembah yang tenang dan damai. 


Artikel ini agak panjang di awal ya, mohon maaf karena saya sengaja ingin menjelasakan perjalanan kami sekeluarga. Nggak ada anak-anak yang ikut karena mereka semua sekolah dan ada kegiatan kuliah atau kerja. Jadi yang berangkat memang rombongan orang tua, om, tante, budhe, gitu yaa. 


Dan artikel ini sekaligus juga merupakan tantangan nulis dalam grup arisan blogger. Kali ini ada mba Siti Nurjanah yang pernah bertemu saat ada kopdar blogger di Semarang dulu. Lifestyle Blogger yang bertubuh mungil ini juga sering traveling ke berbagai tempat wisata menarik yang belum pernah saya kunjungi. Hmm apakah kami bakal kopdar lagi yaa? Semoga aja bisa traveling bareng ya, teman-teman. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Kamis, 21 Juli 2022

Traveling Lombok : Terpukau Kecantikan Pantai Tanjung Aan dan Mendaki Bukit Merese
Juli 21, 2022 11 Comments

Assalamualaikum. Sebenarnya traveling bareng sahabat di Pantai Tanjung Aan dan Mendaki Bukit Merese ini terjadi tahun 2020. Awal pandemi masuk ke negeri ini. Saat kami berangkat memang belum ada info seputar penutupan pintu masuk dan keluar dari luar negeri. Bahkan beberapa kota waktu itu juga banyak yang masih longgar. Saya dan mba Tanti tetap berangkat namun siap dengan bekal masker dan perlengkapan lainnya.



Meski udah sempat menuliskan dua artikel, saya akhirnya menunda untuk melanjutkan cerita traveling bareng bestie, mba Tanti. Tapi kalian bisa membaca cerita traveling kami di sini :


Cerita Belajar Menenun di Desa Sukarara 


Seharusnya saya menuliskan cerita berkunjung ke Desa Adat Sasak. Namun karena tulisan sebelumnya adalah berkunjung ke Desa Sukarara, saya memilih menuliskan cerita bermain ke pantai dulu ya.


Jadi kunjungan ke pantai Tanjung Aan ini bukan rencana utama. Harusnya kami diajak mengunjungi Pantai Mandalika. Namun saat itu jalan menuju pantai Mandalika tengah dikerjakan pembangunannya, jalur pun ditutup sementara waktu. Padahal saya dapat info kalo dua minggu sebelumnya jalur menuju pantai Mandalika masih bebas diakses. 


Ya sudah lah ya, karena menurut tour guide kami, Holid, Pantai Tanjung Aan lebih bagus dibanding Pantai Mandalika. Dalam hati saya agak kecewa, begitu pun dengan mba Tanti. Ucapan Holid, kami anggap cuma menghibur kami aja. Jadi saya agak sangsi apa benar pantai Tanjung Aan lebih cantik dibanding Pantai Mandalika? Yuk baca aja yaa.


Pantai Tanjung Aan Memagut Pandangan Dengan Air Yang Warnanya Bergradasi 


Lokasi Pantai Tanjung Aan berada di Desa Pengembur, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.  Jalan menuju Pantai Tanjung Aan memiliki akses yang sama dengan Pantai Mandalika. Dari pusat kota Mataram menuju Pantai Tanjung Aan ini durasi perjalanan sekitar 2 jam dengan jarak tempuh sepanjang 75 km. Namun akses dari BIL Lombok justru lebih dekat, sekitar 30 menit perjalanan. Dari sini jalanan mulus bikin hati senang. Namun tak disangka beberapa kilometer mendekati pantai justru jalan bergelombang. 


Saya sesekali menatap ke badan jalan yang rusak dan perlu kepiawaian sang sopir mengarahkan kemudinya. Tentunya nggak asik dong kalo duduk di dalam mobil yang jalannya kayak sungai kering. Sepanjang jalan kurang lebih 12 km badan sesekali dikocok, kayak bikin minuman kesehatan, hahahaa.


Saya cukup menikmati perjalanan meski kondisi jalan enggak menyenangkan. Karena di sisi kanan dan kiri jalan, adaa aja pemandangan yang menarik minat saya dan mba Tani. Apalagi Holid itu pintar jadi pemandu wisata. 


Ketika perasaan saya mulai bertanya-tanya, kapan kami nyampe di pantai, mendadak ada warna biru dari sudut mata kanan. Otomatis saya segera ambil gawai dan mengambil video view yang cantik itu. Masya Allah, sungguh saya benar-benar terpaku menatap kecantikan alam Lombok Tengah ini.


Suara debur ombak seakan memanggil kami untuk segera menyentuhnya. Udara pantai yang panas menyapa saat tubuh kami keluar dari mobil. Namun hembusan angin mengenyahkan panas yang menyengat. Bersyukur angin di sini tak henti berhembus jadi mengurangi udara panas yang kelembabannya cukup lumayan.


Saya dan mba Tanti dipersilakan oleh Holid menikmati suasana pantai yang tidak begitu ramai. Namun kami masih terkagum-kagum sejak masih di dalam mobil hingga berjalan mencari gazebo untuk berteduh. Kagum pada air laut yang memiliki gradasi warna dari hijau tosca, biru muda hingga biru donker, eh apa sih istilahnya?



Yang pasti paduan warna pasir putih seperti butiran merica, dengan air laut yang berwarna gradasi, hingga langit biru, awan putih, menjadi pemandangan yang bikin mata saya tak ingin berkedip. Takut kalo nanti langit menjadi putih karena mendung dan turun hujan. Saya menganggap kondisi alam saat di Pantai Tanjung Aan adalah sebuah rejeki dari Allah SWT. Semesta mendukung jalan-jalan kami di Lombok. 


Sebenarnya main ke pantai itu harus nyebur ke air, apalagi bersih hingga terlihat pasir di bawahnya. Ombak pun berdebur kecil, jadi aman buat main air atau mandi. Namun matahari nampak garang di atas sana, bikin jiper. Akhirnya kami memilih salah satu gazebo untuk berteduh. Ibu pemilik warung juga udah mengantarkan pesanan kami yaitu kelapa muda.


Duduk memandang pantai cantik sambil minum air kelapa muda dan makan dagingnya yang empuk, bikin perut kenyang. Apalagi sebelum ke pantai ini kami sempat makan siang. Jadi di pantai ini kayaknya kami hanya pesan kelapa muda. Meski tertarik ngemil jajanan yang dipamerkan di buku menu, tetap aja saya gak bisa nambah isi perut.



Angin berhembus, membuai mata yang mulai berat digayut kantuk. Saya yang tadinya duduk selonjor, mengubah posisi jadi rebahan. Perut kenyang, hati nyaman karena menatap pemandangan cantik di depan mata, bikin kantuk cepat datang. Saya pejamkan mata sembari berucap pada Mba Tanti kalo pengen tiduran bentar. Hehee.


Tak lupa tentu aja kami sempatkan waktu foto berdua. Sayang banget ya kalo nggak banyakin foto karena pemandangan di sini begitu cantik. Mengambil sudut foto di mana aja hasilnya cantik seperti model di dalam foto. *jangan mual yaa




Mba Tanti sesekali turun ke pasir pantai, mengambil beberapa foto. Sementara sesekali kami juga foto, kadang dibantuin Holid sang driver yang nyambi jadi tour guide dan tukang ambil gambar, asik kaaan.

 


Sore udah mulai hadir. Rasanya malas beranjak dan pulang. Sementara Holid udah punya destinasi berikutnya yang katanya tak kalah cantik. Hmm, di mana ya?


Oia di Pantai Tanjung Aan waktu kami kesana Maret 2020, tidak ada tiket masuk ya teman-teman. Cukup membayar biaya parkir, untuk motor Rp. 5.000, mobil Rp. 10.000, dan kendaraan ukuran besar Rp. 15.000. 


Ngomongin pantai, saya jadi pengen main ke tempat salah seorang teman blogger tinggal yaitu di Madura. Mba Diane Suryaman, seorang Travel Blogger asal Sumenep sering bercerita indahnya pantai di daerahnya. Aseliii, bikin saya mupeng. 


Senja di Bukit Merese Bagaikan Lukisan 



Dari Pantai Tanjung Aan, kami diajak Holid menuju satu bukit yang letaknya dekat. Katanya sih sekitar 15 menit aja kami udah nyampe di lokasi. Katanya lagi kami akan diajak mendaki bukit. Waduhhh!


Saya sempat protes karena udah lama nggak pernah olahraga, hahaha. Takut kan kalo nanti nggak bisa sampai ke atas bukit. Tapi Holid meyakinkan saya dan Mba Tanti kalo bukit Merese nggak tinggi dan menganggap kami mampu mendaki.


Beneran deh kami mendadak udah mau sampai. Terlihat dari beberapa mobil dan motor yang diparkir di kaki bukit. Mendadak hati saya ragu, apakah mampu mendaki bukit? Nampaknya cukup tinggi kalo melihat tanjakan dan melihat orang-orang berjalan dengan langkah beragam. Ada yang pelan, bergegas, bahkan ada yang naik motor. Curang ya yang naik motor, huhuu. 


Katanya, kalo ingin melihat yang keren itu butuh usaha. Seperti juga berjalan menanjak ke atas bukit. Kalo takut lelah, rebahan aja di rumah. Hahahaa.


Saya penasaran dong dengan cerita Holid. Katanya pemandangan di atas bukit itu keren banget. Antara penasaran, tertantang mendaki, dan dalam hati berkata, udah jauh dari Semarang ke Lombok, masa nggak naik ke bukit? 


Dengan langkah semangat saya dan mba Tanti pun memulai langkah. Kami diarahkan Holid ke sisi kiri tempat parkir. Jalan tanah berbatu menyambut kami. Beberapa pengunjung turut menyertai langkah kami. Saya bilang, nggak usah berjalan cepat. Semampu kita aja, dua perempuan lolita yang masih senang menjelajah alam. Sesekali kami berhenti. Alasannya memandang alam yang cantik. Atau mengambil foto. Aslinya sih mengatu napas. Hahahaa.


Jalanan di awal udah menanjak. Kanan dan kiri ada tanaman liar dan kebun warga. Dalam hati saya berucap, warga pemilik kebun pasti lah memiliki tubuh yang sehat. Karena tiap hari olahraga berjalan mendaki bukit.


Bukit pertama udah terjangkau langkah. Kata Mba Tanti, ah nggak tinggi ternyata. Saya pun menjawab, iya juga, kita pasti bisa!


Tapi perjalanan ini belum lah usai. Masih ada punggung bukit yang harus ditapaki langkah demi langkah. Nggak apa jalan pelan, yang penting sampai di puncak bukit dengan selamat. 

Daaan... ini lah Bukit Merese!

Nampak cantik bagaikan lukisan. Seperti ucapan teman, kerabat, dan suami yang melihat status saya dengan foto seperti di bawah.



Hamparan pasir putih, laut luas dengan warna biru, langit biru dan awan putih yang berubah bentuk tiap detik, memaku pandangan kami berdua. Dan kayaknya semua yang tengah di atas bukit merasakan hal sama. Pemandangan begitu cantik di depan mata. 


Iya sih seperti lukisan. Pelukisnya adalah Yang Maha Kuasa. Menjadikan alam ini begitu lengkap. 


Fabiayyi aala i rabbikuma tukazziban. Nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?


Senja makin mendekat. Mentari mulai turun ke cakrawala. Sayangnya mendung pun hadir mengiringi senja. Holid mengajak kami segera turun. Nun jauh di tengah laut di sisi kiri, nampak awan hitam mencurahkan airnya. Sepertinya hujan akan menghampiri tempat kami berada. 



Kami bergegas melangkah turun. Dan benar saja, belum genap sepuluh langkah, gerimin lembut turun. Kami makin bergegas namun tetap berjalan hati-hati. Kami nggak mau lah sampai terpeleset saat melangkah turun. Mending kehujanan dari pada jatuh terpeleset. Nggak asik banget. Udah sakit, belum lagi malu dilihat orang, hahahaa.


Alhamdulillah kami sampai di dalam mobil dengan selamat. Hujan deras langsung membasahi bumi. Kami mengucap syukur selamat dari air hujan yang deras itu. Perut terasa lapar, mungkin karena kalori terbuang saat mendaki bukit? Ahhh syudah lah. Sebentar lagi kami akan diajak makan sambil menuju perjalanan pulang ke hotel.


Tahu nggak teman-teman, menuliskan cerita ini bikin saya ingin traveling lagi. Enaknya kemana ya? Semoga saya dan mba Tanti bisa traveling bareng. Kayaknya kami bakal memilih Wisata Madura aja deh, banyak tempat keren juga di sana.


Segitu aja ya cerita saya saat traveling Lombok bareng teman blogger.  Siapa yang udah pernah ke Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese? Cerita yuk perjalanan versi kalian. Wassalamu'alaikum.

Reading Time: