My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Jalan-Jalan Kuliner
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan Kuliner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Januari 2025

Jalan Jalan dan Kulineran di Pasar Gede Solo
Januari 19, 20250 Comments
Assalamualaikum Sahabat Jalan. Liburan panjang akhir bulan Januari asiknya jalan-jalan kemana ya? Kayaknya paling asik kalo ke Kota Solo, kulinernya tuh enak semua. Jadi bisa lah jadi pilihan kuliner selama libur panjang. Namun kali ini saya hanya ingin mengajak kamu kuliner di Pasar Gede Solo yang viral di sosial media. 

Penjual Gempol

Pasar terbesar di Kota Suarakarta ini sangat mudah ditemukan karena berada di seberang Balai Kota Surakarta.

Selain itu, bentuk bangunannya yang unik juga membuat Pasar Gede Solo sangat mudah untuk diingat oleh setiap orang.

Pasar Gede Solo


Pasar ini sejak dahulu udah beberapa kali kami sambangi untuk jajan dawet atau beli ayam. Namun saya nggak pernah ambil foto selama kuliner di Pasar Gede. Jadi nya kemarin itu waktu ke Pasar Gede lagi, saya pun bergaya saat kulineran, hahahaha.

Lokasi dan Sejarah Pasar Gede

Pasar Gede Solo terletak di Jalan Jenderal Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Sebutan Pasar Gede sudah ada sejak pertama kali tempat ini dibangun. Nama tersebut diambil dari bentuk atap di pintu masuknya yang berbentuk seperti singgasana, sehingga warga setempat menyebutnya Pasar Gede.

Bangunannya dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten. Pasar mengalami kerusakan akibat serangan Belanda pada 1947. Kemudian pasar ini direnovasi pada 1949 oleh Pemerintah Indonesia. Atapnya kemudian diganti dengan material kayu pada 1981.

Pasar Gede dibakar oleh sekelompok massa yang merasa kecewa karena tidak terpilihnya Megawati Soekarno Putri sebagai presiden saat itu. Oleh pemerintah akhirnya renovasi Pasar Gede Solo dilakukan dan selesai pada 2001.

Pasar Gede telah melewati beberapa masa dari kerajaan, kolonial, dan kemerdekaan. Saat ini Pasar Gede masuk sebagai cagar budaya yang dilindungi.

Pasar ini melambangkan harmoni sosial budaya, karena berdekatan dengan pemukiman Tionghoa dan Klenteng Tien Kok Sie, serta ramai saat perayaan Imlek.

Klenteng dekat pasar Gede Solo


Saat parkir di sisi kanan bangunan pasar, kebetulan dekat lokasi klenteng dan kami menjumpai pentas wayang potehi. Seru sebenarnya kalo bisa duduk dan nonton jalan ceritanya. Namun karena saat itu ada tujuan lain, saya hanya nonton sambil berdiri. 

Kuliner Di Pasar Gede Solo

Sebelum belanja, wajib banget foto di depan Pasar Gede. Ini tempat ikonik untuk nantinya jadi konten di Instagram, hahahaa. 

Begitu berdiri di depan Pasar Gede kami sudah menjumpai beragam jualan baik menggunakan los meja maupun sekadar

Kelihatan kok kalo ini tempat favorit karena untuk foto di sini tanpa bocor pun susyaaah banget.

Pasar Gede


Soto Bu Harini

Menu Pilihan Tentu saja ada soto seperti yang tercantum di spanduk yang terpasang di atas tempat makan. Selain itu ada juga menu pilihan Kare Ayam, Sambel Tumpang, Asem-Asem, Sop Ayam & Aneka Minuman. Warung sederhana ini ramai dikunjungi pembeli hingga kami harus antri sebelum mendapat tempat duduk untuk menikmati pesanan.




Sambel tumpang dan soto ayam

Saya memilih sambel tumpang, suami dan anak-anak lebih memilih soto. Makanan pendamping ada macam-macam, seperti tempe, pergedel, pia-pia, sosis solo, dan kerupuk.

Ayam Goreng 

Khas ayam goreng Boyolali, Solo, tersedia beberapa pilihan warung di jajaran los jual makanan. Karena pak Ali sampai tidak terlihat dalam kerumunan pembeli, saya pun memilih penjual di sebelahnya.

Nasi Liwet Bu Sri

Nasi liwet dengan suwiran ayam kampung dan sayur labu dijual dengan harga Rp 10.000. Lokasinya berada di deretan penjual buah dan sangat populer di kalangan wisatawan.

Namun saya kemarin tidak menjumpai penjual nasi liwet padahal pengen sarapan di sini.

Timlo Sastro

Timlo legendaris yang sudah ada sejak 1952. Warung ini menyajikan timlo gurih dan biasanya sudah tutup siang hari, jadi datang pagi-pagi.

Saya kemarin juga tidak menjumpai warung ini. Entahlah apakah libur atau memang sudah habis jualannya. Saya tiba di pasar itu masih pukul 9.00, jadi termasuk masih pagi dong ya.

Gempol Pleret

Minuman manis dari santan dengan isian tepung beras berbentuk bulat gepeng dan warna putih, ini terkenal dan sering viral di media sosial, sangat menyegarkan di siang hari.

Gempol Pleret

Kemarin saya malas antri karena pembeli udah penuh duduk di kursi yang menghadap meja jualan. Saya pikir minuman ini ada juga di Semarang jadi ya udah lah gak usah mampir jajan.

Tahok Pak Citro

Hidangan khas kawasan Pecinan ini berisi kembang tahu dari sari kedelai dengan kuah jahe hangat dan gula. Minum semangkok tahok mampu memberikan kehangatan di tubuh. Saya juga tidak menyicipi tahok karena perut udah kekenyangan. 

Di Semarang juga bisa dengan mudah ditemui gerobak jualan yang di Semarang disebut wedang tahu.  

Lenjongan Yu Sum

Lenjongan adalah campuran berbagai jajanan khas Jawa seperti tiwul, cenil, ketan hitam, sawut, grontol, dan klepon, disajikan dengan parutan kelapa dan gula merah cair.

Saya pun tidak membeli jajanan ini dengan alasan perut nggak bakal mampu menampung. Sebagai wisatawan yang ingin kuliner, saya nggak pernah kemaruk membeli semua yang ada di depan mata.

Jajanan Sosis solo, Pia-Pia

Ada jajanan yang menarik minat saya namun berusaha tidak membeli. Sungguh sebuah tekad yang nyaris nggak mampu saya tahan, hahahaha.

Sosis solo dan pia-pia

Jualan si bapak ini merupakan favorit saya, ada sosis solo, pia-pia, lemper, dan arem-arem. Penampakan jajanannya itu menggoda. Namun sekali lagi saya berusaha mengingat jajanan yang kami bawa di mobil itu masih ada. Daripada nanti yang dibeli di pasar ini nggak dimakan karena kenyang, mending gak usah dibeli.

Warung Jualan Teh dan Oleh-oleh

Di dalam pasar Gedhe, kamu bakal ketemu penjual teh khas Solo di berbagai sudut. Saya aja sampai bingung memilih beli teh di warung yang mana, hahahaa. 

Akhirnya pilihan jatuh di salah satu warung yang jualannya cukup lengkap. Luas los nya aja paling gede di antara warung lain. Harga satu paket ada dua macam. Dari yang isi 3 dengan harga 10.000 hingga isi 6 dengan harga 22.500. Saya beli 3 paket, 2 paket isi 3 dan 1 paket isi 6.

Teh khas Solo
Bu Watik beli teh khas Solo

Saya memang menahan diri tidak membeli jajanan atau oleh-oleh selain yang benar-benar kami inginkan. Jadi saya hanya beli kerupuk gendar, ayam goreng, teh, dan sendok sayur panjang.

Iya saya sempatkan mampir di warung yang terletak di pintu keluar sisi kiri. Di sini barang jualannya bermacam-macam. Dari penggaruk punggung, sendok sayur berbagai ukuran, penyaring gorengan, dan lainnya.

Penjual Lopis
Penjual Lopis



Terus terang masih banyak lagi jualan lainnya yang tidak mampu saya rekam dengan kamera HP maupun indera penglihatan. 

Kalian coba deh mampir ke Pasar Gedhe bila sedang berkunjung ke Kota Solo. Nikmati beragam kuliner dan bawa pulang jajanan yang awet ke kota asal. Kalo kalian udah pernah ke pasar ini, cerita yuk kuliner apa aja yang udah dinikmati dan tulis di kolom komentar.. Wassalamu'alaikum.
Reading Time:

Senin, 06 Maret 2023

Nyobain Menu Nasi Kebuli Jawa Daging Kambing di Joglo Ki Penjawi
Maret 06, 2023 15 Comments

Menikmati Santap Siang di Joglo Ki Penjawi, Salatiga

Joglo Ki Penjawi

Assalamualaikum Sahabat. Setelah sekian lama, akhirnya Minggu tanggal 12 Februari lalu saya kembali nemenin suami kerja. Kalo biasanya tempat kerja suami ada di kawasan pemukiman atau jalan penghubung antar kota, kali ini bukan. Eh sebenarnya jalan penghubung antar kota dan provinsi malah, cuma susah nyari makan di tempat ini.


Sementara ini selama 2 bulan paksuami dapat kerjaan ngecat jembatan yang ada di jalan tol. Memang ada tempat makan bila lokasi jembatan ada di dekat rest area. Tapiii, dari 14 jembatan yang jadi jatah kerjaan, hanya ada 2 yang dekat dengan rest area. Itu pun jaraknya tetap aja jauh ya berkilo-kilo meter. 

Selama ini saya bawakan bekal untuk makan siang si babe, karena hari MInggu itu saya diajak nemenin, sengaja nggak bawa bekal. Karena belio mau traktir makan siang di salah satu tempat makan. Pemilihan tempat makan diserahkan pada saya, dan bingung donk mau kemana nanti maksinya, hahahaa.

Akhirnya Memilih Joglo Ki Penjawi

Bersyukur lah hari ini kita dimudahkan dengan jaringan internet yang lancar dan mesin pencarian Google. 

Saya pun menawarkan 3 tempat makan yang dekat dari tol exit Bawen. Tadinya suami pengen makan siang di Joglo Rini. Cuman saya bilang, udah beberapa kali makan di sana. Enakan nyari suasana makan baru di tempat lain. 

Akhirnya pilihan kami jatuh di salah satu resto yang ada di area masuk Kota Salatiga. Dari Bawen menuju Salatiga, kalian bisa menemukan resto ini sekitar 3 km. Masuk melalui jalan Ki Penjawi, melewati Bong (makam) China, resto ada di sisi kanan jalan.

Menu pesanan di Joglo Ki Penjawi

Menu di tempat ini variatif, dari masakan Jawa hingga western ada. Area nya yang ada di dataran tinggi, membuat hawa yang sejuk dan ini mendukung kita untuk lebih lama menikmatinya bareng keluarga atau sahabat.

Ada fasilitas tempat shalat juga, terletak di pintu masuk belok kiri. Toilet letaknya berdampingan dengan tempat shalat.



Resto Dengan Nuansa Tradisional Bonus Pemandangan Gunung 

Benda antik di Joglo Ki Penjawi

Tempat makan dengan tampilan fasad khas tradisional ini mengusung konsep jadul dan nJawani. Terlihat dengan penampilan rumah Joglo juga penggunaan gebyok sebagai tempat makan. 

Coba kalian datang untuk menikmati makanan di Joglo Ki Penjawi saat jelang sore. Karena saat langit cerah dan kalian beruntung bisa menyaksikan pemandangan gunung dari lantai 2. Udara sejuk Kota Salatiga bisa kalian nikmati sambil menyesap minuman hangat. 

Kemarin saya kesini sekitar pukul 2 siang, namun mendung. Nggak bisa melihat pemandangan gunung memang, karena langit tertutup awan. Namun saya tetap bisa menikmati suasana resto sambil menyesap wedang uwuh.

Oleh karyawan resto, saya dan suami diantar ke rumah yang berbentuk joglo. Dari luar udah terlihat nuansa rumah tradisional Jawa. Dari teras joglo, terdapat dua manekin prajurit yang masing-masing mengenakan baju adat dan baju khas serdadu.

Teras Joglo Ki Penjawi
Yang pink bukan serdadu yaa 😂

Begitu memasuki ruangan depan, kita serasa diajak memasuki rumah tempo dulu. Interior mengusung konsep seperti museum karena banyaknya peralatan rumah tangga jaman dulu yang dipajang di sebagian besar ruangan. Dari informasi karyawan, memang banyak barang antik yang dijadikan pajangan karena owner seorang kolektor benda kuno. 

Bagian ruang tamu terdapat benda antik. Ada beberapa wayang golek yang dipajang di atas lemari. Berbagai benda antik lainnya, seperti setrikaan, tempat lilin, radio, TV, kotak peti, dan lainnya. 

Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan kecil yang terisi satu set meja. Di ruang ini bisa untuk menikmati sajian menu bagi keluarga kecil. 

Konsep interior ruang seperti museum ini justru bikin pengunjung betah. Selain menikmati hidangan yang dipesan, pengunjung pun bisa foto di berbagai sudut ruangan. Jadi ketika nungguin makanan disajikan juga tak terasa lama. 

Seperti saya yang meminta suami memotret dengan berpose di beberapa sudut tempat kami duduk menanti sajian menu. Saya pose dengan berpura-pura main dakon, hahahaa. Sebenarnya asik juga ya misalkan ada biji sawo yang biasanya dimainkan dalam lubang dakon gitu. Sayangnya dakon ini hanya dipajang, bukan untuk dijadikan permainan untuk mengisi waktu. Oiya di tempat kalian namanya apakah sama juga?

Main dakon
Main dakon yuk 😊

Dari tempat makan di lantai 1 ini, kalian bisa memandang view dari teras samping. Nah lokasi resto dengan ketinggian tanah tidak sama malah menguntungkan. Di bagian bawah resto joglo yang saya jadikan tempat makan, terdapat taman. Kayaknya saya pernah lihat postingan seseorang yang makan di bagian outdoor area ini. 

Yuk, Saya Ceritakan Tentang Menu Makan Siang di Sini

Setelah sibuk cerita ngalor ngidul tentang tempat makan Joglo Ki Penjawi, saatnya saya review menu yang udah kami pesan. Karena pagi belum sarapan apapun kecuali ngeteh, saya pesan Nasi Kebuli Jawa Daging Kambing. Daannn saya suka banget dengan menu pilihan ini. 

Nasi kebuli berbentuk tumpeng mini
sebelum saya obrak abrik 😂 25K


Nasi Kebuli Joglo Ki Penjawi
Nasi kebuli setelah berkurang
beberapa sendok.
Daging kambing terlihat banyak kaann

Porsinya ya Allah, gedee dengan isian daging kambing yang melimpah. Ada emping goreng, sayuran slada, tomat, bawang goreng, timun, dan acar. Irisan dagingnya juga nggak pelit karena ukurannya tuh cukup besar. 

Untuk rasanya, saya nggak nyesel pokoknya pilih Nasi Kebuli Daging Kambing ini. Karena meski menggunakan rempah khas Timur Tengah namun nggak terlalu pekat gitu. Udah disesuaikan dengan lidah orang Jawa. Pantas aja ya namanya Nasi Kebuli Jawa Daging Kambing. 

Kalo paksuami pesan Steak Ayam Original yang isiannya ada daging ayam dan sayuran pelengkap serta saus. Saya setuju dengan pilihan suami karena sausnya itu khas kayaknya, beda dengan beberapa resto lain. 

Steak Ayam
Steak Ayam Original 28K

Selain dua menu utama, saya pesan Mix Jowo Platter. Tahu nggak isinya apa? Kalo baca kebayangnya mie-mie an gitu ya. Ternyata nama unik ini disematkan pada pisang goreng, rolade tahu, mendoan, tahu isi, yang disajikan dalam mangkok berbentuk wajan. Isinya juga banyak loh, kalo gak salah ingat ada 12 gorengan dan harganya cuma 20k.

Gorengan mendoan pisang rolade

Ada gong di latar foto

Untuk minumannya, kami pesan wedang uwuh dan hot lemon. Keduanya punya rasa yang mantap, cocok dinikmati dengan suasana mendung kawasan Ki Penjawi.

Senang banget nyobain kuliner di resto ini, apalagi harga juga terjangkau banget. Dibandingkan dengan harga makanan yang pernah kami rasakan di gerai yang ada di mall, lebih murah di sini. 

Waktu suami di kasir, karyawannya nanya tentang pengalaman makan di sini. Tentang rasa makanan, pelayanan, dan kami jawab jujur kalo kami cocok dengan menu yang dipesan.

Restoran

Saya dan suami juga sepakat, bakal balik lagi ke Joglo Ki Penjawi karena ingin nyoba menu lainnya. Kami berdua kalo pesan makan memang secukupnya, nggak pernah berlebihan. Takutnya nggak abis kan. 

Kemarin untuk gorengan malah akhirnya dibungkus karena sisa banyak. Saya hanya ngambil mendoan, suami ambil mendoan dan tahu isi. Jadi sisanya ada 9 dengan isi yang beragam. Waktu dibawa pulang, pihak resto juga mengemas dengan rapi. Kayak kalo beli jajanan untuk dibawa pulang. 

Nanti rencananya kami akan ajak keluarga untuk menikmati menu yang ada di Joglo Kie Penjawi.  Terutama saya ingin pesan Ayam Betutu dan sate lilit. Hahahaa, udah direncanakan ya, padahal kesana nya kapan juga kami belum tahu. 

Suami saya tuh kalo udah cocok dengan menu di salah satu resto, bakal balik lagi sampai berulang kali. Dia emang setia untuk urusan makanan, dan sama saya juga *ehh

Kecuali kalo nggak suka dengan makanannya, atau ngantri lama kayak di salah satu cafe di dekat obyek wisata Kopeng.


Yahh gak apa sih, katanya pembeli itu raja. Kalo pelayanan, rasa makanannya enak, dan suasana juga bikin krasan, pasti konsumen bakal balik. Setuju atau setuju? Yuk komen dong, wassalamualaikum.
Reading Time:

Selasa, 03 Januari 2023

Mengukir Kenangan di Senja Pagi dan Pasar Sayur Kopeng
Januari 03, 2023 26 Comments

Piknik Tipis-Tipis di Senja Pagi dan Pasar Sayur Kopeng 

Assalamualaikum Sahabat. Saat hati gundah tapi nggak tahu sebabnya, bisa jadi kamu butuh menepi. Nah kalo kebetulan kamu sedang berada di daerah Jawa Tengah, tepatnya di jalan yang menghubungkan Salatiga dan Blabag, bisa mampir ke salah satu kafe di kawasan Kopeng. Mari mengukir kenangan di Senja Pagi Cafe and Eatery yang terletak di Kragon, Ngablak, Magelang.


Senja Pagi Cafe

Meski alamat kafe ini masuk Magelang namun sebenarnya masih dekat dengan tempat wisata Kopeng. Cukup dekat  dengan tempat saya dan keluarga camping bulan Agustus 2021. Ketika pandemi agak melandai, kami tengah di puncak kejenuhan di rumah terus, akhirnya memilih kegiatan di alam. 

Mampir baca yuk :


Best View Gunung Andong dan Gunung Telomoyo

Senja Pagi Cafe and Eatery baru buka saat libur lebaran tahun 2022 ini. Namun meski baru buka, rupanya udah jadi tempat favorit bagi kaum muda dan keluarga. Terlihat saat kami tiba di lokasi sekitar pukul 10 lebih udah lumayan ramai.  

Ada beberapa pilihan tempat untuk duduk santai dan menikmati minuman dan makanan yang kalian pesan. Area indoor dengan coffee bar terdapat tempat duduk dengan pemandangan taman di teras depan karena dindingnya berupa kaca bening berukuran besar. 

Nanti akan saya ceritakan suasana makan di area indoor ini. Karena pilihan awal kami adalah di luar ruangan di sisi kiri pintu masuk. Terdapat area outdoor dengan beberapa kursi dan meja. Dari sini pun view gunung Andong udah terlihat megah. 

Cafe senja pagi
Sisi depan anak tangga
 tempat kami awalnya duduk

Dengan hamparan sawah dan kebun milik warga lokal dengan latar belakang gunung Andong. Berbatasan dengan kebun warga, terdapat tanaman hias yang dijadikan pagar cafe. Di sini menjadi salah satu spot foto pengunjung karena memang view nya terlihat cakep.     


Tempat nongkrong baru ini cocok sebagai tempat untuk menikmati liburan di akhir pekan bersama keluarga sembari kulineran. Apalagi berada di area perkebunan dan persawahan yang suasananya sejuk dan adem membuat betah untuk berlama lama nongkrong. View alam persawahan, perbukitan hingga view enam gunung bisa kalian saksikan dengan panorama yang begitu mempesona.

Pilihan Snack, Minuman dan Makanan di Senja Pagi Eatery



Senja Pagi Cafe and Eatery ini menawarkan menu yang cukup beragam dan harganya terjangkau untuk menemani saat santai dan liburan kalian. Menu minumannya beragam, dari teh, kopi, jus, dan wedangan. Untuk snack ada mendoan, pisang goreng dengan toping kesukaan, dimsum, dan lainnya. Untk makanan yang mengenyangkan ada rice bowl, nasi goreng, mie dan pasta. 

Awalnya siang itu begitu sampai di lokasi kami memilih duduk di area outdoor yang terletak di depan anak tangga menuju roof top Senja Pagi. Kami memilih di sini karena view Gunung Andong yang cakep. Rencananya juga kami akan foto bersama dengan latar belakang gunung tersebut. Kenyataan tidak seindah harapan, gaiiis. Hikss.


Outdoor Senja Pagi Cafe
Nggak nyaman duduk di outdoor
Matahari tepat di atas kepala


Tepat di atas kepala matahari dengan garangnya menyorot terik. Haduhhh, itu lah sebabnya skincare memang wajib dipakai setiap hari. Terutama kalo sedang jalan-jalan seperti ini. Udah kena panas, debu, dan asap rokok dari pengunjung. Kasihan kulit wajah kalo nggak ada perlindungan dari skincare. Bakal rusah deh skin barrier kalian. 


Saya yakin kulit wajah udah terlindungi, jadi ketika diajak ke outdoor di rooftop Senja Pagi, langsung ngikut. Fasilitas akses ke rooftop juga nyaman dengan anak tangga yang ergonomis. Jadi nggak bikin napas engap begitu udah nyampe di lantai 2 Senja Pagi. Aman jaya lah yaa.

Outdoor yang ada di lantai 2 ini disediakan meja dan kursi juga dengan atap yang sebagian terbuka. Bagian lantai ada dua area, ruang terbuka dengan lantai keramik motif kayu. Di bagian lantai di bawah naungan dialasi rumput sintetis. Pagar besi menjadi pengaman di sepanjang sisi terluar rooftop. Jadi aman ya untuk digunakan spot foto pengunjung.

Foto di rooftop Senja Pagi

Foto di roof top Senja Pagi

Pantas aja area outdoor di lantai 2 selalu full pengunjung kafe. kebanyakan anak muda yang memilih tempat di roof top ini. Ya meski ada pagar pengaman, kalo ngajak anak-anak harus selalu dalam pengawasan. 

Tapi memang view di roof top kece badai. Kamu bakal puas menikmati view cantik Gunung Andong, dengan area persawahan, kebun warga. Mata dimanjakan dengan pemandangan alam yang masih asri. Terlebih udara yang masih bersih seakan menjadi bonus. Namun kalo kelamaan di pinggir pagar lumayan juga, bikin agak merinding dengan angin yang siang itu lumayan berhembus kencang. Kami segera turun ke lantai 1 dan menurut adik kami, akan pindah posisi ke dalam ruangan kafe.

Adik kami yang memesan menu via Whatsapp milik Cafe Senja Pagi, melihat ada ruang kosong di indoor-nya. Tadi saat kami datang tuh ruangan bagian dalam masih penuh dengan pengunjung. Ternyata sekarang udah kosong, jadi akhirnya kami pindah ke dalam. Kasihan ibu kepanasan kalo di luar dan masih menanti orderan kami disajikan. Jadi kami pun pindah dan kembali menyusun meja serta kursi sendiri. Self service deh pokoknya karena pelayannya tengah sibuk mengurus orderan pengunjung. 

Ngumpul di Cafe Senja Pagi


Ngobrol udah dapat panjang, cerita tentang saudara, jajanan favorit, masa kecil keluarga mertua, sampai film yang sedang tayang di bioskop. Namun minuman pesanan belum juga datang. 

Ketika akhirnya minuman disajikan, langsung deh dinikmati. Semua mengambil gelas masing-masing. Saya pesan wedang uwuh. Ternyata gelasnya kecil, tidak seperti di kafe yang ada di mall atau di loby hotel langganan saya. 


Menu di Senja Pagi Cafe
Gelas ukuran kecil ygy, hihihi
Kurang puas dong yaa


Sampai adik ipar nyeletuk, minta air panas lagi aja. Dan jadi ingat saya pernah minta air panas lagi saat di kafe yang ada di mall itu. Karena memang isi wedang uwuh masih banyak dan rasanya juga terlalu manis untuk lidah saya. 

Tapi kalo di sini, apa bisa? Terlebih saya enggan meminta tambahan air panas karena pelayannya juga sibuk entah ngapain aja di balik meja kasir itu.

Kembali kami menanti orderan menu snack dan makanan. Saya kurang tahu mengapa menu pesanan kami lama juga disajikan. Menunggu kelamaan hingga jenuh. Padahal udah ngobrol, bercanda, sampai ada yang nonton drakor, main game, scroll media sosial, bahkan minuman sebagian udah abis, kwkwkww.

Minuman di Senja Pagi Cafe
Sempat saya foto sebelum diminum

Akhirnya setelah perut sudah hilang rasa lapar karena kelamaan menunggu, snack pertama datang. Dan langsung deh diserbu pemilik tangan-tangan yang tadi kelaparan. Mendoan dua piring langsung tak tersisa. Ini rakus atau lapar? hahahaa.

Menu di Senja Pagi Cafe
Cuma pesan dua porsi mendoan
Karena pesan Snack dan makanan yg
sayangnya gak disajikan barengan


Snack kedua juga bernasib sama, hanya tesisa piring. Yang akhirnya bikin kami pun memutuskan untuk pulang dari pada kelamaan nunggu sajian berikutnya yang entah kapan datang. Adik kami menanyakan menu yang dipesan. Karena tidak ada kepastian, kami meminta bill tagihan dan melunasi yang sudah disajikan. 

Kecewa kah kami? Antara ya dan tidak. Ya.. karena kasihan ponakan yang udah lapar dan menanti menu yang dipesan namun tidak jadi datang. Tidak kecewa karena di sekitar kafe masih ada pilihan tempat kuliner lain yang bisa didatangi sepulang dari sini. 

Saat mau pulang baru kami tahu kalo ke kafe ini lebih baik reservasi plus pesan menu aja sekalian. Karena banyak pengunjung yang datang, ya demi view gunung andong tentunya. Untuk rasa makanan lumayan enak, tapi bukan yang ingin kita nikmati berulang kali. Waktu datang lagi ke Senja Pagi, saya sekeluarga pesan menu lain. Ini menu kami :

Menu di Senja Pagi Cafe

Untuk harga menu di Senja Pagi masih terjangkau. 

Menu Senja Pagi Cafe & Eatery


Memang cafe ini menurut saya menjual view. Untuk pelayanan kurang cekatan. Ada dua keluarga juga yang akhirnya pulang setelah orderan mereka datangnya baru minumannya aja. Kami sempat menyampaikan saran agar mempercepat orderan pengunjung agar tidak bikin kecewa. Meski datang demi view, saya yakin mereka ingin merasakan juga menu yang udah dipesan.

Fasilitas lain Senja Pagi terdapat musholla, toilet, tempat parkir yang cukup luas. Oia di sini pun ada bapak-bapak yang menawarkan jasa foto. Harganya nggak mahal dan bisa nawar kalo minta foto beberapa kali.

Pilihan Kulner di Pasar Sayur dan Buah Kopeng

Kami sebenarnya ingin ke warung steak di kawasan wisata Kopeng. Namun ternyata warungnya tutup, gaiiis. Ya udah lah diputuskan mobil meluncur ke pasar sayur dan buah di Kopeng. Tempat yang biasa kami kunjungi kalo ingin makan sate dan wedang ronde. 

Setelah masuk dan mendapatkan tempat parkir terdekat dengan warung sate, kami pun memesan sesuai seleran masing-masing. Saya pesan sate ayam, yang lainnya ada yang sama dengan pesanan saya. Namun ada juga yang memesan sate kelinci. Sementar teman makan sate ada dua pilihan nasi dan lontong. 

Sate ayam


Saya dan suami memilih pesan satu porsi lontong untuk berdua. Karena di depan mata, ada sepiring gorengan yang dibeli adik kami di warung depan parkiran mobil. Ada juga dari kami yang pesan wedang ronde, namun pilihan terbanyak adalah teh panas. Udara dingin Kopeng memang cocok kalo minum minuman yang panas.


Wedang ronde


Sambil menanti sate siap disajikan, ada yang jalan-jalan sambil belanja sayur, buah, ataupun jajanan. Kios di pasar sayur dan buah di sini sudah tertata rapi. Banyak pilihan belanja dari snack ringan seperti keripik, krupuk mentah, dan lainnya. Sementara buah dan sayur pun juga nampak banyak dijajakan di kios-kios. Di bagian tengah pasar, terdapat kios penjual tanaman hias serta buah.


Setelah lama tidak pernah ke pasar sayur dan buah di Kopeng ini, memang terlihat berbeda. Terakhir kesini sebelum pandemi dan tata letaknya belum seperti sekarang. Yang saat ini lokasinya dikelompokkan sesuai jenis jualannya. Jadi memang terlihat lebih rapi. Untuk tempat parkir ada sebagian di depan yang muat untuk 8 mobil. Sisanya ada di bagian belakang dekat dengan deretan kios penjual tanaman hias. 

Begitulah hari Minggu akhir bulan November yang kami nikmati dengan kuliner di kawasan Kopeng. Oia untuk harga makanan di pasar buah dan sayur itu nggak mahal. Untuk sate ayam dan kelinci satu porsi sekitar 30 ribuan udah termasuk lontong. Sate isi 10 tusuk dan lontongnya 1 bungkus. 

Pulang dari Kopeng, hati bahagia senyum puas karena kenyang dan ngantuk. Iyaa ngantuk begitu dalam perjalanan dari Kopeng menuju rumah adik kami yang terletak di Ngawen Salatiga. Dekat sih dengan kawasan Kopeng. Jalannya hanya mengikuti jalan aspal berkelok-kelok yang dipisahkan oleh jalan ring road.  Pokoknya lurus aja arah ke Pasar Sapi. Tapi sebelum pasar sapi, kami belok ke kanan daaaan, masuk ke pelatarn parkir rumah adik kami. 

Tujuan pertama adalah kamar mandi. Untung aja rumah adik kami jadi satu dengan tempat usahanya, ada tiga kamar mandi dan tetep sih harus antri untuk jumlah 12 orang yaa. Alhamdulillah sekali lagi kami mengukir kenangan bersama hari itu.  Semoga kami sekeluarga besar dan teman-teman pembaca diberikan kesehatan agar tetap bisa menjalin silaturahmi. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Kamis, 11 Agustus 2022

Mencari Halal Food di Jalan Alor, Bukit Bintang, Malaysia, Susah Banget Kah?
Agustus 11, 2022 41 Comments
Assalamualaikum Sahabat. Mengenang kembali jalan-jalan ke negeri Jiran tahun 2019, rasanya jadi kangen. Kangen jajanannya yang khas, unik, dan punya cita rasa lezat. Kesan mencari halal food yang cukup susah, tapi tetap excited, hehehe. So...mending ditulis aja nggak sih pengalaman kuliner selama di Malaysia. Karena saya juga nggak tahu kapan bisa kesana lagi. Terlebih kondisi masih cukup merisaukan dengan adanya virus yang masih bermutasi. 



Traveling ke Malaysia saya alami dua kali pada tahun yang sama yaitu tahun 2019. Cukup lama juga ya dan memang sebelum pandemi menghantam bumi. Pertama kali berkunjung ke Malaysia pada bulan Maret 2019 bersama suami, dan teman-teman blogger. 

Maret 2019 di Bukit Bintang
Penjual gerobak di Jalan Alor belum buka 

Kemudian saya kembali lagi bulan Oktober 2019. Namun kali ini untuk kunjungan liputan bareng Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC). 

Silakan baca liputan saya : Malaysia Healthcare Travel Council


Selama 4 hari 3 malam saya bersama rekan media dan blogger benar-benar bekerja dari pagi hingga malam. Kebetulan saya mendapat jatah kunjungan di beberapa rumah sakit yang ada di Kuala Lumpur. Dan beruntungnya pula jadi nginap di satu hotel aja selama di sana, yaitu di Park Royal Hotel. Namun saya dan dua teman dari Kota Medan mendapat jatah kamar di apartemen Park Royal Hotel.

Kerja Terus, Kapan Jalan-Jalannya?

Dari hari pertama kedatangan hingga hari terakhir kami disibukkan dengan acara liputan. Kemudian pada hari kedua, sepulang dari acara Welcome Dinner bersama Tourism Malaysia, beberapa teman ngobrol pengen healing sejenak. 

"Capek juga ya, jadwal liputan padat,"
"Iya nih, jadi nggak ada waktu melipir jalan-jalan,"
"Namanya juga undangan kerja, hahahaa."

Bincang gak jelas malam itu di dalam mobil sewaan panitia MHTC mengundang tawa. Memang paling bener kalo tubuh dan pikiran lelah itu obatnya bercanda, ngakak bareng teman seperjalanan yang senasib, hahahaa.

Kebetulan hotel tempat kami nginap itu terletak di dekat Bukit Bintang. Setelah ngobrol lagi, dan melihat beberapa tempat terdekat yang oke untuk healing, bertemu lah land mark Kuala Lumpur yaitu jalan Alor. Wuihhh tempat yang udah lama saya nantikan untuk dikunjungi nih, asik banget ihhh.

Waktu awal jalan-jalan ke Malaysia ini, saya, suami dan teman-teman lewat depan jalan Alor. Sayangnya nggak bisa wisata kuliner di sana karena masih siang dan belum buka semua. Hanya resto yang ada di jalan tersebut yang udah buka. Namun kami nggak tertarik karena yang kami inginkan ya jajanan khas jualan yang pakai gerobak dan suasana malam jalan Alor.

Jadi saat saya mendengar kalo hotel saat kunjungan liputan dekat dengan land mark Kuala Lumpur, langsung deh setuju dengan usul teman untuk ke jalan Alor.

Kami pun janjian untuk segera ngumpul di lobby. Karena ada teman yang ingin ngambil sesuatu di kamarnya. Setelah terkumpul siapa aja yang ikut, kami berjalan keluar hotel. Jarum jam menunjukkan pukul 22.10 dan kami berjalan berenam, perempuan semua. Suasana malam di kawasan Bukit Bintang justru makin ramai. Kami jalan santai aja dan nggak butuh waktu lama udah tiba di depan jalan Alor yang udah ramai pengunjung.

Mencari Halal Food di Jalan Alor

foto di atas adalah pintu masuk jalan Alor

Sebenarnya saya dan teman-teman udah merasa kenyang dengan sajian masakan dalam acara yang diadakan oleh Malaysia Health care. Tapi karena malam itu adalah kesempatan terakhir kami bisa jalan-jalan, ya udah lah diputuskan segera capcus ke lokasi terdekat dengan hotel tempat nginep. Daaan, kata mba Tari, jalan Alor itu tempat terdekat dan terbaik untuk menikmati malam di kota Kuala lumpur. Nggak berniat  nyari makanan berat, melihat-lihat aja siapa tau ada halal food porsi kecil yang bisa dinikmati. Atau boleh juga sih porsi besar, ntar bisa dimakan bareng gitu.


Jalan alor ini pusat kuliner street food di bukit bintang, banyak sekali pedagang makanan disini, kebanyakan chinese food dan seafood. Tempatnya sangat ramai dengan pilihan makanan yang beragam. Harga makanannya bervariasi, ada yang murah sampai yang mahal. Tergantung ya jenis makanan yang kalian pilih. 


Tapi saya lihat makanan yang mendominasi memang jenis chinese food dan seafood. Ada juga jajanan khas, makanan asli Kuala Lumpur seperti nasi lemak. Banyak pramusaji yang menawarkan pengunjung untuk mampir ke resto mereka. Sambil menyodorkan buku menu, menyarankan beragam pilihan masakan. Kalo kalian tidak tertarik, bisa dibalas dengan senyum atau tolak secara halus. 


Selain makanan yang mengandung B2, Chinese Food yang halal juga ada banyak pilihan. Nanya aja sebelum pesan makanannya ya. Selain itu ada juga penjual yang menyajikan Thailan food atau Indian food. Beragam nasi, sayur, sup, jajanan manis juga ada. 


Ada banyak gerobak makanan dan cindera mata. Yang bikin makin ngiler tuh ketemu gerobak durian, air tebu, dim sum/ steamboat dan masih banyak lagi. Sebenarnya pengen ya nyicipi salah satu sajian halal food di jalan Alor. Seperti roti Arab, nasi lemak, kebab, tortla, duhhh sukses deh bikin ngiler. 


Pilihan halal food di jalan Alor
foto sate di piring itu milik orang, saya pinjam untuk difoto 

Menarik nih waktu saya menemukan gerobak yang jualan Japanese sweet potato, kacang rebus, jagung rebus. Aroma manis jagung dan kacang rebus menguar, mengundang setiap mata si pemilik perut yang tengah lapar. 




Akhirnya tatapan kami terpaku pada penjual kue putu. Rasa penasaran yang mengantarkan kami mendekat pada gerobak penjualnya. Jauh jauh ke Malaysia, jajannya malah kue putu, hahahaa.


Kalo kalian pernah bertemu penjual kue putu yang berjualan keliling dengan suara berdenging, di sini enggak begitu. Penjual dengan gerobak yang mangkal di salah satu ruas jalan Alor, menyajikan kue putu sambil nyiapin dari adonan yang masih mentah. Yang sama dengan kue putu di Semarang hanya sama-sama disajikan dalam keadaan hangat. 


Kue putu di jalan Alor ini rasanya sama dengan yang ada di Semarang. Bentuknya aja yang berbeda. Kalo di Semarang karena dicetak menggunakan bambu, bentuknya lonjong. Kalo di jalan Alor ini kue putu menggunakan cetakan dari aluminium berbentuk kerucut. Cetakan ini diisi dengan adonan yang terbuat dari tepung bers dan kelapa, serta bumbu lainnya. Kemudian diisi parutan gula jawa, baru deh dikukus. Dan setelah matang bentuknya bulat, disajikan bersama parutan kelapa. Ini seporsi isinya 3 buah dijual harga RM 2,5 dikemas menggunakan styrofoam bening. Rasanya enak kok sama dengan kue putu yang ada di Semarang.




Yang khas di jalan Alor ini adalah saat makan akan ada penyanyi jalanan yang menyanyikan berbagai lagu. Ditingkahi suara obrolan dari berbagai bahasa, dengan aroma beragam makanan, jadi bikin malas meninggalkan lokasi.


Semakin malam jalanan ini ramai sekali, orang berjalan dan pedagang yang menyajikan makanan & minuman. Tersedia berbagai minuman seperti es kelapa muda, es tebu mapun berbagai juice buah.




Selain makanan dari berbagai pilihan, terdapat juga pijat refleksi, bar/cafe, mini market, bahkan gerobak penjual cindera mata. Saya bersama teman-teman sempat mampir untuk melihat-lihat jenis jualan si bapak. Ada dompet kw, gantungan kunci dengan hiasan land mark setempat, patung dari bahan akrilik, cincin, gelang, dan masih banyak yang lain.




Akses Menuju Jalan Alor

Jalan Alor ini menjadi tujuan wisata kuliner oleh setiap wisatawan yang berkunjung ke Kuala Lumpur. Jalan ini juga sangat mudah dijangkau dengan transportasi kereta monorail. Kalian bisa turun di Stasiun Imbi atau Bukit Bintang. Jika dari Stasiun Imbi, cukup jalan kaki aja menyusuri Lorong Pudu atau Jalan Bulan menuju Jalan Bukit Bintang. Setelah itu melangkah lah ke Jalan Changkat Bukit Bintang. Jalan Alor mudah ditemukan karena terlihat jelas di sisi kiri kalian jalan kaki.


Untuk yang mengakses dari Stasiun Bukit Bintang, tinggal langkahkan kaki ke Jalan Bukit Bintang seperti halnya petunjuk sebelumnya. Dari Plaza Low Yat, pusat Jalan Alor Kuala Lumpur Malaysia bisa dijangkau kira-kira 10 menit jalan kaki.


Malam yang makin larut, seakan mampu membuat kami tersihir untuk terus berjalan. Untung aja ujung jalan terlihat pandangan mata kami. Dan kami pun memutuskan kembali ke tempat awal kami masuk jalan Alor. Karena udah puas dengan apa yang udah kami nikmati malam itu, kami memutuskan balik ke hotel.


Ternyata penjelajahan kami di jalan Alor tidak lama, hanya satu jam. Apalagi kami juga hanya beli beberapa cindera mata dan jajan minuman serta cemilan kue putu aja. Hemat banget yaaak. Mungkin lain waktu kami bisa kembali kesini untuk menikmati wisata kuliner atau halal food yang dijajakan di resto chinese food atau seafood halal? Bisa juga sih, semoga ada waktu terbaik ya, sahabat. 


Kalian pernah juga berkunjung ke jalan Alor, sahabat? Udah nyoban halal food apa aja? Yuk bagikan pengalaman kalian nyoba menu halal food di jalan Alor. Wassalamualaikum.
Reading Time: