My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Kuliner di Semarang
Tampilkan postingan dengan label Kuliner di Semarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner di Semarang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 November 2021

Kulineran di Semarang, Jangan Lupa Cicipi Makanan Ini
November 23, 2021 25 Comments

 Kulineran di Semarang, Jangan Lupa Cicipi Makanan Ini


 

Source: Shutterstock

Assalamualaikum Sahabat. Siapa disini yang sudah menanti-nanti liburan? Kota Semarang di Jawa Tengah bisa menjadi pilihan yang tepat kalau kamu suka kuliner dan mencoba makanan-makanan baru, lho. Harganya juga terbilang murah dan kamu bisa makan sampai kenyang tanpa mengeluarkan uang banyak. Mulai dari nasi, mi, kuah, bakar, panggang, sampai rebus, semua bisa kamu santap kalau datang ke kota ini.

Jadi, kamu mau ke Kota Semarang? Kalau jawabannya iya, lanjut baca sampai habis supaya kamu bisa buat jadwal untuk makan semua rekomendasi yang wajib kamu coba ini, ya!


Nasi Ayam Bu Har


Nasi Ayam Semarang


Sebagai orang Indonesia yang harus makan nasi, tempat ini wajib untuk dicoba. Bumbu yang dipakai itu punya rasa gurih, manis, dan pedas campur jadi satu. Lokasinya cukup mudah ditemukan yakni berada di depan salah satu grosir di jalan Majapahit, jadi cukup gunakan HP atau GPS untuk memandu dengan patokan grosir atau supermarket tersebut. Makan di sini dijamin pesan lebih dari 2 porsi, deh.


Warung Mangut Hj. Nasimah

Salah satu mangut yang terkenal di Semarang itu Warung Mangut Hj. Nasimah ini. Kalau kamu senang dengan rasa pedas, bumbu ini pasti cocok sama lidah kamu. Porsi nasi yang dikasih juga bukan main-main, jadi kamu akan pulang dengan perut yang bahagia pokoknya.


Mi Ayam Jamur Pak Djoko


Ini dia rekomendasi dari penduduk lokal untuk kamu yang suka kulineran. Jamurnya banyak dan teksturnya kenyal, pas untuk dimakan bareng dengan mi. Mereka juga menyediakan menu pilihan kwetiau, jadi jangan sampai lupa untuk datang ke Tlogosari demi satu mangkuk mi ayam jamur ini.


Banarawa

Saat ke Semarang, jangan sampai terlupa untuk mengunjungi kota tetangga yakni Salatiga. Pengunjung wajib banget untuk datang ke restoran ini. Bukan cuma makanan, pelayanan dan pastinya pemandangan yang menarik akan buat kamu menyesal kalau gak datang. Ada berbagai macam varian yang bisa kamu coba, dan semuanya enak rasanya. Saat ingin menghabiskan waktu dengan makan bersama pasangan atau keluarga, jangan lupa untuk mampir, ya.

 


Source: pexels 


Sate Padang Ajo Manih

Terletak di Gajah Mada, sate padang yang satu ini selalu ramai saat weekend. Bukan tanpa alasan, bumbunya yang gurih dan dagingnya yang lebut akan habis dimakan dalam 2 menit. Di sini, kamu bisa tambah keripik baladonya yang juga jadi khas dan selalu diserbu warga. Makan sate padang Ajo Manih masing-masing satu porsi, ya karena seporsi berdua rasanya kurang, deh.


Tahu Gimbal Pak Man

Kalau cari tahu gimbal di Semarang, pasti banget yang direkomendasikan adalah Tahu Gimbal Pak Man. Dengan membayar 25 ribu rupiah, kamu bisa makan satu porsi tahu gimbal yang super besar dan cukup untuk penuhi ngidam kamu selama satu bulan. Khusus pecinta pedas, jangan main-main di sini karena bumbunya akan dibuat sepedas itu.


Nasi Gandul Pak Memed



Tempat ini gak kenal waktu atau hari, pasti selalu ramai. Pesan nasi gandul di sini gak pernah cukup satu porsi, harus minimal dua porsi. Selain nasi andalannya, mereka juga menyediakan berbagai gorengan dan sambel yang bisa kamu campur dengan nasi gandulnya. Kalau tertarik, datang ke Dr. Cipto, ambil jalan dari bundaran Bubakan dan kamu bisa cari tempat makan yang ada antrian panjang. Tapi kalo beruntung kami langsung dapat meja di sana.


Bakso Lesanpuro Pak Ripto

Kamu suka tetelan? Tempat ini kemungkinan besar akan jadi tempat favorit kamu selama di Semarang. Warga setempat suka panggil tempat ini sebagai ladang kolestrol karena porsinya yang membludak. Baksonya juga bukan main-main dan kamu bisa dapet nikmati satu mangkok yang dengan isian yang luar biasa ini dengan hanya 25 ribu rupiah. Pasti ketagihan!


Gimana, kamu udah siap jelajah kuliner di Kota Semarang? Siapkan diri kamu bersama keluarga atau sahabat, dan nikmati rasa kuliner yang bakal menjadi jejak kenangan yang tak terlupakan. Boleh colek saya kalo ingin ditemani. Wassalamualaikum.

Reading Time:

Jumat, 23 April 2021

Kisah Jajanan Khas Semarang, Sambel Balungan Ayam dan Cara Masaknya di Dapur Rumah
April 23, 2021 11 Comments



Assalamualaikum Sobat. Apa kabar ibadah selama 10 hari pada bulann Ramadan kali ini? Semoga sobat diberikan kemudahan menjalaninya. Terutama ibu-ibu atau bapak-bapak, mas, mbak, yang berkutat di dapur untuk menyajikan menu buka dan sahur selama ini.


Sebagai ibu yang juga mesti nyiapin menu sahur dan buka puasa sekaligus, saya anggap kegiatan ini sebagai sebuah hiburan. Sudah beberapa tahun ini saya nggak mau masak sebagai kewajiban. Karena kalo saya senang melakukan kegiatan di dapur ini, nantinya nggak akan terasa lelah. Beda ketika saya merasa ini kewajiban, kayaknya kok jadi beban. 


Alhamdulillah, proses belanja, menyiapkan bahan masakan, memasak, membersihkan peralatan, adalah kegiatan yang menyenangkan bagi saya. Ada yang bantu atau tidak, saya tetap menikmatinya.  Karena udah pernah merasakan bagaimana perbedaan masak sebagai kesenangan dan kewajiban, jadi saya pilih yang bikin bahagia aja. Hehehee.


Oiya, ada kah yang jeli dengan artikel di blog ini, kok jadi sering berbagi tulisan resep masakan atau roti? Nah jawabannya adalah, tulisan ini terwujud karena ide suami yang ingin saya mendokumentasikan resep keluarga di blog ini. Siapa tahu kelak anak menantu atau cucu saya ingin nyoba masak dan saya nggak sempat mengajarkannya. Jadi mereka bisa nyontek dari blog ini.


Memang dalam artikel lama saya pernah juga menuliskan resep masakan atau roti, cuma jarang banget. Karena dulu saya nggak pernah melakukan step by step pengambilan gambar proses masak dan hasilnya. Meski sekarang juga kadang saya suka lupa mendokumentasikan karena asik dengan kegiatan masak. Seperti dalam resep sambel balungan ayam ini, saya kelupaan motret step by step. Tapi cara bikinnya gampang kok, jadi kalian tetap bisa mengikutin cara yang saya tuliskan.


Nah kali ini saya akan menuliskan resep Balungan Ayam, kuliner khas Kota Semarang. Alasannya karena kemarin sempat mencuit di Twitter tentang masakan untuk berbuka puasa di rumah. Eh ternyata menarik perhatian beberapa teman. Ya udah lah saya tuliskan aja dalam bentuk artikel di blog.  



Kisah Tentang Sambel Balungan Ayam

Mengingat kembali masa kecil, saat saya usia sekolah dasar dan tinggal di kawasan pecinan Semarang. Kampung dengan warga yang beragam, berasal dari berbagai daerah. Namun kebanyakan warganya adalah penduduk asli Kota Semarang, warga Tionghoa, beberapa pendatang keturunan Arab dan kaum boro (perantau).


Saya mengingat banyak kenangan yang menyenangkan, seru, unik, dan rasanya telah menjadikan saya sebagai pribadi yang menghargai perbedaan.


Kesenangan lain adalah kulinernya yang sedap, memiliki cita rasa kuat, dan tak tertandingi. Hingga ketika akhirnya saya pindah dari kawasan itu, butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menikmati kuliner yang dijual di luar. Udah rasa makanannya enak, harganya murah, dan bisa didapatkan dengan duduk saja di rumah. Karena banyak penjual yang berkeliling dari gang ke gang sejak sebelum matahari terbit hingga menjelang dinihari di hari berikutnya. 


Dan salah satu jajanan yang dijual berkeliling adalah Sambel balungan ayam.  Kebetulan juga penjualnya yang rata-rata berasal dari Kota Solo dan Delanggu,  Jawa Tengah itu tinggal dekat rumah. Mereka ada yang tinggal ngekost atau ngontrak. Ada yang sendirian, dengan pasangan, atau keluarga. 


Kalo penjual sate ayam adalah bapak-bapak, maka  balungan ayam dijual oleh istrinya. Jadi satu keluarga yang kadang ngajak ponakan juga untuk membantu ini, akan saling bekerja bersama berjualan sate ayam. Dari pagi sesudah belanja ayam hidup, kemudian disembelih, dan dibersihkan dari bulu dan kotoran, mereka meracik hingga menjadi sajian sate ayam. 


Prosesnya adalah, memisahkan daging ayam dari tulang dan jeroannya. Untuk daging ayam dipotong kecil dalam satu ukuran yang sama. Kemudian pekerjanya akan menusuk daging pada lidi yang udah disiapkan. Jeroan ayam pun juga ditusuk pada lidi. Tusukan daging yang premium dijual oleh si suami atau laki-laki. Sementara sisa tusukan daging berkuran kecil atau campur dan jeroan ayam, dijual oleh si istri atau penjual perempuan. Jadi memang tidak ada yang tertinggal dari bagian ayam. Kulitnya juga dijadikan sate dan dijual oleh si istri ini.


Nah tulang yang tidak bisa ditusuk (ya iya lah, wkwkwk), dimasak dengan cara merebusnya ke dalam kuah sambel yang udah dicampur bumbu. Proses masak sambel kacang untuk sate ayam ini dulu nya  menggunakan tungku yang terbuat dari susunan bata. Dengan bara api dari kayu yang dibakar atau arang. Karena itu lah proses masak membutuhkan jangka waktu yang cukup lama, bisa lebh dari dua jam. Sekarang sebagian masih menggunakan arang, tapi ada juga yang udah berganti dengan kompor gas.


Di Mana Lokasi Penjual Sambel Balungan Ayam di Semarang?

Saat ini penjual sate ayam yang masih menyediakan balungan (tulang ayam) udah langka. Sepengetahuan saya, ada di daerah dekat pasar burung di jalan Kartini, di Manyaran, dan Jagalan. 



Kalo penjual yang keliling kampung, sekarang udah susah dijumpai. Bahkan di kawasan pecinan juga udah langka. Kalo pun ada yang masih menjumpai penjual sate ayam membawa balungan yang keliling kampung, sudah bisa dipastikan mereka itu penjual sate ayam Madura.


Perbedaannya ada pada tekstur dan rasa sambel kacangnya. Yang udah menikmati sambel sate ayam dari dua penjual yang berbeda asal usulnya ini, pasti akan merasakan perbedaannya.


Tapi bisa saya perjelas untuk perbedaan mendasar adalah rasa pedas untuk sambel sate dari penjual yang berasal dari Kota Solo dan sekitarnya. Sementara sambel milik penjual sate ayam Madura, rasanya cuma manis tanpa ada pedas. Rasa pedas didapat dari irisan cabe.


Resep dan Cara Membuat Sambel Balungan Ayam




Nah, keluarga besar dari ibu saya yang tinggal di kawasan pecinan tentu saja mahir membuat masakan sambel balungan ayam ini. Termasuk ibu dan saya, juga adik-adik saya. 


Kami memang akhirnya membuat sendiri dikarenakan tidak lagi menemukan penjual sambel balungan dengan cita rasa seperti saat tinggal di Jagalan. Kalo bisa bikin sendiri, mengapa harus susah payah  mencari penjual dengan cita rasa yang mirip dengan jaman dulu?


Yuk ikuti langkah pembuatan sambel balungan ayam. Siapkan dulu bahan-bahannya yang mudah didapatkan. Untuk bahan balungan atau tulang ayam, bisa diganti dengan menggunakan bagian ayam seperti sayap, cakar, atau kepala. Tapi kalian bebas menggunakan seluruh bagian ayam juga untuk masakan ini.


Bahan Sambel Balungan Ayam :

1/2 kg balungan (tulang yang masih nempel daging ayam sedikit)

250 gr kacang tanah, goreng sampai matang

750 ml air

Garam, gula merah, kecap manis secukupnya

5 lembar daun jeruk, sobek jadi dua


Rebus bahan berikut :

4 bawang merah

3 bawang putih

3 butir kemiri

5 cabe keriting

4 cabe rawit merah


Pelengkap :

cabe rawit iris, bawang merah iris, lontong atau nasi


Cara Membuat :

1. Rebus balungan ayam, tiriskan (direbus sebentar saja).

2. Haluskan kacang tanah, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan cabe.

3. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan sebentar saja. Kemudian tambahkan air, masukkan balungan ayam bumbui dengan garam, gula jawa dan kecap. Koreksi rasa.

4. Sajikan bersama lontong atau nasi, taburi cabe rawit dan bawang merah yang sudah diiris kasar atau sesuai selera.



Oiya sob, resep ini kami dapat dari penjual langganan yang udah sedari kecil menjadi tetangga juga. Mereka juga memberikan trik kalo ingin jualan, sambelnya dicampur dengan ketela rambat. Jadi katanya lebih hemat bahan kacang. Kan kacang tanah mahal, itu sih katanya ya. 


Namun penggunaan bahan campuran hanya berlaku pada penjual perempuan. Kalo penjual sate ayam yang bapak-bapak, biasanya tetap hanya menggunakan kacang tanah. 


Oke, sekian kisah tentang jajanan khas Kota Semarang yang saat ini sudah mulai menghilang di kampung-kampung. Mungkin kalian pernah juga menikmati jajanan khas ini? Yuk cerita di kolom komentar. Sampai jumpa dengan resep jajanan atau cerita saya saat kulineran, wassalamualaikum.

Reading Time:

Minggu, 15 Maret 2020

Nasi Bancakan, Dari Filosofi Hingga Kenikmatan Rasa Yang Menggugah Selera
Maret 15, 2020 23 Comments

Nasi Bancakan, Dari Filosofi Hingga Kenikmatan Rasa Yang Menggugah Selera


Assalamualaikum Sahabat. Sekarang makin marak ya nasi bancakan disajikan di restoran, naik kelas katanya. Hampir setiap resto memiliki menu nasi bancakan atau dengan nama lain namun memiliki arti sama.

Nasi bancakan atau dulunya akrab dikenal sego bancakan, adalah sajian makanan yang diletakkan dengan alas daun pisang. Isinya rata-rata berupa nasi putih, telor rebus, sambel goreng ati atau rambak (krupuk kulit), urap sayuran, tempe, tahu, ikan asin, dan krupuk. 

Apabila pemilik hajat orang yang berharta, isinya lebih bervariasi dengan tambahan daging sapi atau ayam masak opor dengan kuah sedikit.

Biasanya nasi bancakan ini disajikan dalam acara tertentu. Misalkan kelahiran anak, ulang tahun, bersih kubur/makam, malam tirakatan, orang punya hajat, dan lainya.

Namun saat ini orang bisa setiap saat menyajikan nasi bancakan. Karena begitu nasi bancakan ini naik daun dengan disajikan di resto, nggak ada alasan menanti hidangan ini saat tertentu. Setiap hari boleh aja bikin nasi bancakan kalo nggak malas ribetnya atau bosan, hahahaa.

Bikin Sendiri Atau Makan di Restoran?

Bebas sih mau makan nasi bancakan di restoran boleh. Enaknya tapi makan bareng teman atau kerabat. Karena seni makan nasi bancakan itu adalah barengan atau keroyokan. 



Iya jaman saya masih anak-anak, ketika ada yang ulang tahun, biasanya ibunya akan bikin sego bancakan. Nah, satu tampah yang dialasi daun pisang, dengan isi nasi dan lauknya sukses bikin anak-anak berlari mengerumuni tampah itu.

"Kulo rumiyin, budhe," (saya duluan, budhe)
Saling bersahutan kami meneriakkan kalimat sakti itu. Kebayang nggak sih anak-anak usia antara 6 sampai 12 tahun, dengan baju berkeringan, mengerumuni tampah dan ibu salah seorang teman kami?

Pada waktu itu mana ada yang protes dengan bau badan. Yang penting adalah sukses bawa sepincuk nasi bancakan dan langsung menikmatinya sambil selonjoran di teras rumah.

Beda dulu dengan sekarang. Kalo bikin sendiri tanpa ada niat syukuran atau acara tertentu, siapa yang mau repot? 

Saya sendiri bikin nasi bancakan ketika mensyukuri hari weton kelahiran anak-anak. Kata orang Jawa tuh, weton kelahiran patutnya dibuatkan nasi bancakan. Entah lah jaman anak-anak masih balita saya rajin bikin tiap weton mereka. Trus bosen sendiri begitu mereka beranjak besar.

Weton adalah hari kelahiran dalam kalender Jawa, misalkan Rabu Wage, Sabtu Pahing, dan seterusnya.

Nah, kalo ada alasan tersebut, saya rajin banget bikin semuanya sendiri, tidak memesan pada catering. Karena ada ibu, adik, dan mbak sepupu yang bantuin. Tapi kalo cuma mensyukuri weton anak-anak, saya masak sendiri sih karena bikinnya dikit aja.

Filosofi Nasi Bancakan

Saya tahun kemarin di rumah nyaris sendirian karena suami dan si sulung kerja di luar kota. Sementara si bungsu yang udah jadi anak mahasiswa, pulangnya sering malam. Efeknya saya jadi malas makan karena merasa sendiri, hihii.

Nah paling asik kalo ada ajakan makan bareng tapi menunya nasi bancakan. Meski di resto, saya bakal datang dong.

Menikmati nasi bancakan di resto pun penyajiannya juga beralas daun pisang. Kemudian di atasnya diletakkan nasi beserta lauk dan pelengkapnya.



Aduh duhhh, terasa nikmat banget makan nasi bancakan bersama teman-teman. Mata saling melirik, tangan kadang mengambil tahu milik teman di depan atau samping kanan dan kiri, sungguh berasa keroyokan gitu. Padahal aslinya juga hidangannya masih banyak dan lengkap.


Tapi suasana makan secara keroyokan gitu bikin suasana makin meriah, seru, dan penuh canda tawa.

Makan nasi bancakan yang disajikan di atas selembar daun pisang juga berkesan sederhana. Tanpa piring, sendok, garpu, karena makannya dengan menggunakan tangan. Nikmat bangeeeet!

Ah, nulis nasi bancakan ini jadi laper deh. Mana udah malam pulak, resto udah tutup semua. Yuk temenin saya makan nasi bancakan, Sahabat. Wassalamualaikum.

Reading Time:

Jumat, 24 Mei 2019

Inovasi Keripik Lunpia Cik Meme, Cita Rasa Kuliner Indonesia
Mei 24, 2019 33 Comments

Keripik Lunpia Cik Meme, Cita Rasa Kuliner Indonesia 



Assalamualaikum Sahabat. Beberapa waktu lalu, timeline Instagram dan Facebook teman-teman saya isinya pamer ngemil keripik. Dan keripiknya itu bukan keripik biasa. Tapi Keripik Lunpia Cik Me Me, yang sebelumnya udah familiar dengan Lunpia enam varian rasa.

Udah ada yang tahu kah, enam varian rasa dari Lunpia Cik Me Me? Saya pernah menuliskan enam varian rasa Lunpia Cik Me Me. Keenam rasa lunpia itu enak semua. Pembeli dimanjakan dengan pilihan rasa favorit masing-masing. 

Varian Menu Lunpia Cik Me Me 


Varian menu yang tersedia di Lunpia Cik Me Me yaitu : LCM Plain, LCM Original, LCM Fish, Kakap LCM Crab, LCM Kajamu (Kambing Jantan Muda), dan LCM Raja Nusantara (Rasa Jamur Nusantara).

Keripik Lunpia Cik Me Me

Silahkan baca : Nikmati Sensai Enam Varian Rasa Lunpia Cek Me Me

Nah kalo enam varian rasa lunpia Cik Me Me saya sudah sering menikmatinya. Keenam rasa itu semua enak, nggak ada yang nggak enak. Tapiii yang jadi favorit saya adalah Lunpia Cik Me Me rasa Kambing Jantan Muda, Raja Nusantara (Rasa Jamur Nusantara), dan rasa Crab. Eh tapi yang original juga enak sih. 

Halaaah, semua enak pokoknya, mampir ngemil yuk!

Trus ketika tahu kalo Cik Me Me punya inovasi produk dari lunpia, saya penasaran. Bahkan saya sampai nanya-nanya gimana rasanya keripik dengan rasa lunpia?


Alhamdulillah, saya beruntung saat mendapatkan undangan dalam acara pengundian hadiah motor. Pengundian ini diberikan pada pembeli lunpia sebanyak minimal 10 buah. Tentunya mereka yang beruntung ya yang bakal mendapatkan hadiah 1 (satu) unit motor.

Nah, suguhan buat tamu undangan adalah... tadaaaa! Keripik Lunpia Cik Me Me, alhamdulillah. Saya jadi bisa ngemil bareng teman blogger, komunitas, dan media di lantai 2 Resto Lunpia Cik Me Me.


Inovasi Keripik Lunpia Cik Me Me, Citra Warisan Budaya Kuliner Indonesiaku


Citra budaya kuliner Indonesia mesti diberdayakan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan peradaban. Menelusuri sejarah, Semarang memiliki beberapa kuliner yang dahulu telah menyatu di hati dan lidah warganya. 

Ada wedang tahu, tahu pong, ganjel rel, dan tentu saja lunpia. Namun rasanya saat ini saya agak kesusahan mencari ganjel rel dan wedang tahu. Saya harus mencari ke tempat tertentu yang jauh dari rumah tempat saya tinggal.

Beda loh dengan lunpia, yang di seluruh pelosok kampung tersaji di warung, resto, pasar, atau kantin sekolah dan perkantoran.


Sebagai New Generation ke 3 Lunpia Mataram dan Generasi ke 5 Lunpia Semarang, Meliani Sugiarto, S.E. yang lebih akrab disapa Cik Me Me. Perempuan cantik dan ibu dari seorang putri ini nyaris tidak pernah berpangku tangan. Tentunya demi dan untuk meningkatkan daya saing jajan kuliner tradisi budaya anak bangsa, khususnya Lunpia Semarang. 

Dari penuturan Cik Me Me pagi itu, saya tuliskan di sini ya.
Saya sempat curhat pada Papah saya. Namun beliau menyangsikan niat saya dengan inovasi lunpia dijadikan keripik. Proses pembuatan atau uji coba keripik lunpia sampai 1,5 tahun. 
Proses pembuatan dari lunpia yang digulung, menjadi keripik lunpia itu butuh usaha yang tak terbayangkan. Cik Me Me harus memiliki satu bayangan, bahwa nanti akan seperti apa tekstur, warna, dan rasanya. Pokoknya keripik ini harus mencerminkan cita rasa lunpia sebagai kuliner Indonesia.
Kadang ada rasa lelah. Tapi harapan memiliki produk baru berupa keripik lunpia begitu menggebu. Impian nantinya produk inovasi ini bisa diterima oleh masyarakat luas, khususnya pecinta lunpia Semarang.

Cik Me Me ingin mempersiapkan diri untuk bersaing dengan jajan kuliner yang datang dari seluruh penjuru dunia. Impiannya adalah setiap warga dunia bisa mengenal ada produk Lunpia Semarang. Dan tentu saja inovasi keripik lunpia yang merupakan kreasi dari racikan varian lunpia Original. 

Proses riset yang panjang memang dibutuhkan untuk memenuhi selera tinggi warga bangsa ini yang tak pernah melupakan cita rasa lunpia Semarang. Serta untuk menjangkau selera kualitas eksport di berbagai belahan dunia yang selama ini sudah terlaksana. Dengan meningkatkan cita rasa lunpia, Cik Me Me berharap kuliner ini menjadi tuan di negeri sendiri.

Saya ikut senang dengan inovasi yang dilakukan oleh Cik Me Me. Ada dua varian rasa Keripik Lunpia Original / Pedas berukuran 100gr. Dan Keripik Lunpia Original / Pedas dalam kemasan 25gr.

Jadi kalo kalian nggak doyan pedas, tentunya pilih yang Keripik Lunpia Original. Buat kalian yang suka pedas tentu pilih yang varian Pedas dong. Rasanya gimana? Hmmm, tungguin ya, saya cicipi dulu.



Keripik Lunpia Cik Me Me ini memang beneran terasa cita rasa kuliner lunpia Semarang. Kriyuk kriyukk, rasa pedasnya pas dengan selera saya, dan gurihnya mantap. Khas banget deh. Saya sukak... saya sukaaak.

Mau dong dibelikan
keripik lunpia Cik Me Me

Belanja Lunpia Mendapat Kesempatan Hadiah Motor

Acara pengundian merupakan saat yang ditunggu bagi pembeli Lunpia Cik Me Me. Tahun ini saya tidak punya kesempatan mendapat nomer undian. Karena saya jarang beli hingga 10 buah. Paling banyak tuh 7 buah atau seringnya sih cuma beli lima, hihii.

Padahal tahun sebelumnya saya mendapatkan dua nomer undian karena membelikan kakak sepupu yang mau balik ke rumahnya di Surabaya. Tapi yo gak menang lha wong nggak rejeki kok ya. *sabaaar

Ada perwakilan dari Blue Bird yang udah dua tahun menjadi mitra Lunpia Cik Me Me. Ada cerita tentang driver taksi Blue Bird. Tahun lalu ada program bagi pengemudi taksi warna biru ini, bila mengantar penumpang belanja di resto Lunpia Cik Me Me, medapat bonus yang bikin hepi. Belum lagi diikutkan dalam pengundian dengan hadiah jam tangan. Senengnyaaa, udah dapat bonus, bisa ngincipi lunpia, masih berpeluang menang jam tangan pulak.

Hadir juga menjadi saksi program undian hadiah sepeda Motor 3 Honda PCX. Ada influencer, blogger, media online, dan komunitas MIK Semar. Dan pejabat yang berwenang yaitu dari Dinsos, Polisi, notaris, dan ketua Kadin Kota Semarang. 

Trus yang menang dan mendapatkan Motor Honda PCX siapa dong? Sabaaar permirsaaah.



Nah, setelah kupon undian di dalam wadah yang terbuat dari kaca bening ini diaduk-aduk, dua pewakilan dari pejabat berwenang mengambil masing-masing satu kupon undian. 

Berikut 3 pemenang undian Honda PCX :

Drg. Joelyati (Surabaya)
M. Retno Kun Istanti (Semarang)
Yulia Kartika (Semarang)

Selamat yaaa buat semua pemenang yang beruntung mendapatkan Honda PCX. Rejeki banget yak.

Oiya, ngomongin Sertifikasi Halal MUI yuk. Penting nih untuk kalian ketahui, bahwa Lunpia Cik Me Me merupakan pelopor lunpia bersertifikat HALAL MUI. Semua produk Lunpia Cik Me Me telah mendapatkan sertifikasi Halal dari MUI. Jadi kalian nyaman dong kalo belanja lunpia dan seluruh produk yang ada di store nya.



Dan seperti ramadhan sebelumnya, ada program Tradisi Budaya Ramadhan. Yaitu Tradisi Budaya Ramadhan dengan membeli 1 gratis 1. Dan yang asik untuk tahun ini adalah Free 1 Keripik 25gr untuk pembelian 10 Lunpia Cik Me Me (semua varian)





Keripik Lunpia Cik Me Me
Saya dan owner Lunpia Cik Me Me

Info Tentang Gerai dan Pemesanan Lunpia Cik Me Me

Untuk memenuhi kebutuhan pengunjung baik dari dalam maupun luar kota, gerai pusat Lunpia Cik Me Me yang berada di Jl. Gajahmada No 107 Semarang buka setiap hari dari pukul 05.00 – 22.00 WIB. 

Cabang Gerai Lunpia Cik Me Me lainnya juga dapat dijumpai di New Ahmad Yani International Airport Lantai 1 (Public Hall) dan Lantai 2 (Gerai My Indonesia) sehingga memudahkan apabila ingin membawa Lunpia / Keripik Lunpia Cik Me Me sebagai buah tangan bagi kerabat maupun rekan bisnis.

Trus kalo kalian sedang tidak berkunjung di Kota Semarang gimana? Tenaaang. Selalu ada solusi dari setiap keinginan, suweeer.

Lunpia Cik Me Me melayani pengiriman ke seluruh Indonesia. Buat kalian yang ingin memesan produk Lunpia Cik Me Me, bisa melalui aplikasi Go-Food atau Grab-Food. Untuk Keripik Lunpia Cik Me Me bisa juga dibeli melalui TOKOPEDIA dan BUKALAPAK.

Untuk varian Lunpia Goreng tahan sampai 24 jam (dalam perjalanan). Dan apabila sampai di tangan pemesan, bisa tahan sampai 1 bulan di dalam Freezer. Untuk varian Lunpia Goreng tahan sampai 24 jam (perjalanan). Dan apabila sampai di tangan pemesan, bisa tahan sampai 1 bulan di dalam Freezer.

Untuk pemesanan dapat menghubungi WA 085100000727. Lunpia Cik Me Me menyediakan layanan antar gratis dalam kota dengan pembelian minimal Rp 100.000.


Tidak heran rasanya apabila Lunpia Cik Me Me dijadikan camilan atau bahkan buah tangan yang cocok untuk segala lapisan usia. Apalagi bentar lagi mudik, bisa loh dijadikan oleh-oleh buat keluarga di kampung. Atau mau menjadikan Keripik Lunpia Cik Me Me sebagai suguhan tamu yang silaturahim pada hari istimewa? Bisa tentunya ya. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Rabu, 22 Mei 2019

Kenangan Ramadhan Saat Masih Kecil Yang Tak Terlupakan
Mei 22, 2019 23 Comments

Kenangan Ramadhan Yang Tak Terlupakan


Assalamualaikum Sahabat. Masih setia dengan #30HariKebaikanBPN yang udah masuk hari ke-17, saya ingin berbagi cerita masa kecil. Saya lahir dan besar di kawasan Pecinan Kota Semarang. Banyak sekali kenangan ramadhan saat masih kecil yang tak mampu saya lupakan.

Daerah kelurahan Jagalan, tepatnya randualas atau karanganyar selatan, rumah keluarga bapak saya merupakan kawasan terdekat dengan Pecinan. Dari rumah saya, menuju ke Pasar Gang Baru cukup berjalan kaki sekitar 15 menit. Dekat banget kan?!

Pasar Gang Baru adalah pasar yang sangat terkenal yang terletak di kawasan Pecinan. Pasar ini menjual berbagai barang kebutuhan masyarakat Tionghoa dengan kualitas super. Jaman belum tumbuh supermarket, pasar ini menjadi tujuan orang berduit untuk belanja kebutuhan dapur yang bermutu. 

Beli Takjil di Pasar Karang Kembang

Antara pasar Gang Baru dan rumah keluarga saya, ada satu pasar krempyeng (buka dari pagi sampai sore) yang bernama Pasar Karang Kembang. Di pasar ini lah tiap bulan ramadhan tiba, saya suka ikut ibu berbelanja.

Kalo ibu belanja bahan masakan untuk berbuka dan sahur. Saya belanja buah-buahan yang hanya ada pada masa bulan puasa.

Jaman saya masih usia sekolah dasar, buah semangka berukuran kecil berlimpah dengan harga murah. Nah, saya suka beli semangka ini untuk takjil.

Sebenarnya masa kecil saya, makanannya udah food combining ya. Buka puasa yang saya makan itu pertama kali adalah buah semangka. Dengan cara membuka sedikit bagian ujung semangka, kemudian mengambil daging buah dengan menggunakan sendok. Seger lah rasanya!

Trus ada lagi blewah, yang selalu muncul hanya pada bulan ramadhan. Meski bulan ramadhan itu selalu maju sekitar 10 hari tiap tahunnya. Blewah selalu ada saat bulan ramadhan. 

Di pasar Karang Kembang ini juga banyak kuliner lokal yang jarang ditemukan di kawasan kota yang lain. Saya suka kalo ibu nggak masak. Karena biasanya akan membeli lauk di pasar ini. Seperti sate dengan nangka muda, nasi ayam, pecel dan gudangan, nasi kuning, dan lainnya. 

Atau minuman seperti es gempol, es dawet, dan wedang jun. Kalo adik saya suka dengan jajanan apem, ketan salak, ketan biru dnegan serabi yang dinikmati bareng santan encer. 

Berikut Kuliner Lokal Yang ada di Pasar Karang Kembang :

1. Nasi Ayam

Kuliner yang sangat banyak ditemukan saat ini di berbagai tempat di Kota Semarang ini, jadi favorit saya dan keluarga. Sebenarnya tetangga keluarga saya juga sih.

Pasalnya nasi ayam ini memang mudah ditemukan di dekat rumah tinggal saya. Tempat tinggal saya merupakan kawasan yang dekat dengan pecinan. Dan ada banyak rumah yang disewakan untuk kamar kost. Penyewa kamar kost ini disebut 'BORO' dan pekerjaannya adalah berjualan makanan. 

Penjual nasi ayam yang nyewa kamar kost ada beberapa orang. Bahkan ada yang nyewa kamar kost di samping rumah orang tua saya. 

Nasi ayam mirip nasi liwet di Solo. Tapi kalo di Semarang, nasi ayam pakai kuah santan mirip opor encer. Isinya ada nasi liwet gurih, telur ayam masak pindang, suwiran ayam/ayam utuh, kuah opor, tahu, dan sambel goreng jipang. Yang suka kadang ditambahkan krecek.  


Soal rasa gimana? Nasi ayam yang sekarang dijual di pasar Karang Kembang udah nggak seenak penjual lama. 

2. Nasi Kuning

Di pasar ini ada juga penjual nasi kuning khas Kota Semarang. Isinya adalah nasi kuning, dengan pelengkapnya. Yaitu srundeng, abon sapi, irisan telur dadar, pergedel, sambel goreng kentang, kering tempe, dan mie goreng.

Saya lupa jaman dulu harga seporsi nasi kuning. Kalo sekarang sih 5 ribu rupiah. Tapi nggak pakai pergedel. Jadi kalo mau nambah pergedel ya kudu nambah duit.

Penjual nasi kuning di sini juga jualan nasi langgi. Pelengkap nasi langgi sama dengan nasi kuning. Yang membedakan hanya nasinya adalah nasi biasa.

3. Es Gempol  

Siapa penyuka es gempol? Atau, adakah jajanan ini di kotamu? Es gempol ini isinya adalah kuah santan encer dengan pelengkapnya berupa gempol dan pleret.

Kuahnya itu terbuat dari perasan kelapa parut dengan air yang udah matang. Jadi santannya enggak dimasak ya. 


Nah kalo gempol itu terbuat dari tepung beras yang dibentuk bulatan dan gepeng. Sementara pleret terbuat dari tepung ketan yang digiling tipis dan diberi warna merah muda.

4. Ketan Biru dan serabi  

Kue ini disantap dengan kuah santan kental. Saya biasanya membungkus jajanan ini dan menikmatinya di rumah. Kemudian saya tambahkan air hangat dalam kuahnya, agar tidak terlalu kental. 


Satu bungkus kue CORO di Kampung Bustaman berisi tiga biji dengan harga cukup murah yaitu  Rp. 5.000,-. 

Ada juga ketan biru yang biasanya suka dibeli barengan dengan kue coro ini. Selain di pasar karang kembang, saya pernah juga membelinya di Kampung Bustman. Biasanya hanya dijual saat bulan ramadhan seperti ini.

Silahkan baca liputannya di sini : Kue Coro, Jajanan Legendari Kota Semarang

5. Gudeg

Di pasar ini juga ada penjual gudeg dengan lauk pilihan yang beragam. Ada tahu telor, koyor, atau ayam. Ayamnya tentu asli, ayam kampung. Tapi saya paling  suka sama koyor. 

Sayang saya nggak punya foto kuliner yang satu ini. Karena penampakannya buka seperti gudeg Jogja. Ada kuahnya, dan rasanya juga ngga semanis gudeh Jogja.

6. Sate dan gori (sayur nangka muda)

Saya hanya menjumpai kuliner sate ayam dengan pelengkap sayur nangka muda di kota Semarang.


Sate ayam seperti umumnya aja. Cuma kalo di pasar Karang Kembang ini, ada pelengkapnya yaitu sayur nangka muda. Orang Semarang menyebutnya sayur gori. Rasanya enak banget. Hmmm, jadi kangen kan kalo ngomongin kuliner kenangan saat masih kecil.

7. Lontong Cap Gomeh

Sebagai kota yang terletak di pesisir laut Utara, Semarang tentunya mengalami akulturasi budaya. Kedatangan orang dari berbagai negeri seberang, dari pedagang, penyebar agama, hingga mereka yang ingin menetap di kota ini.

Tentunya ada kuliner yang muncul dari akulturasi budaya ini. Seperti pedagang dari negeri Tiongkok yang membawa kebudayaannya di negeri yang baru. Dari agama, budaya, hingga kulinernya, membaur dan menyesuaikan dengan kekhasan kota.


Lontng Cap Gomeh tidak hanya ada saat perayaan hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Di kampung saya ada banyak yang menjajakan kuliner khas ini. Begitu pula di pasar yang ada di kawasan pecinan ini.

Nah, itu lah kuliner kenangan ramadhan saat masih kecil, yang sering saya beli karena kelezatan rasanya.

Sekarang saya masih suka kulineran di kawasan pecinan. Tentunya saya memilih kuliner yang halal dan udah jadi langganan keluarga kami. Dari ketujuh kuliner di atas, adakah yang pernah kalian nikmati saat berada di Kota Semarang? Cerita yuk di kolom komentar ya. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Selasa, 07 Mei 2019

Tempat Buka Puasa Favorit di Kota Semarang
Mei 07, 2019 37 Comments

Tempat Buka Puasa Favorit di Kota Semarang



Assalamualaikum Sahabat. Udah masuk bulan Ramadhan gini, kalian buka puasa masih di rumah atau di luar rumah? Saya punya rekomendasi tempat buka puasa favorit keluarga di Kota Semarang. Terutama suami nih yang suka window shoping ngemall atau keluar rumah. 

Biasanya memang nggak tentu waktunya. Bisa aja hari-hari biasa atau kadang weekend. Yang penting tetap sih pilihan saya dan suami, tempat buka puasa favorit itu harus dekat dengan masjid. Atau paling tidak memiliki mushola. Meski ada juga yang masuk dalam list di sini yang tidak ada fasilitas musholla. Namun dekat dengan masjid yang ada di sekitar tempat buka puasa.


10 Tempat Buka Puasa Favorit di Semarang adalah :


1. Restoran di Mall Ciputra

Kalo tempat makan favoarit di mall itu paling suka di Mall Ciputra. Karena mungkin udah kebiasaan nonton bioskop juga sukanya di mall ini. Abis nonton atau nunggu jadwal tayang bioskop, saya dan keluarga suka jalan-jalan dulu. Bisa aja window shoping atau mampir makan karena di rumah enggak masak. 

Ada banyak tenant yang jadi tempat favorit untuk makan bareng keluarga. Bahkan sering juga dengan teman-teman blogger atau teman kerja jaman dahulu suka mampir makan di sini.












Yang sering kami kunjungi untuk makan adalah Ichiban, Hokben, Istana Mie, Pujasera, Solaria, dan Es Teler 77. Jaman anak-anak masih kecil, tenant macam KFC yang jadi pilihan keluarga saya. Maklum deh anak-anak mengoleksi mainannya. Jadi maunya ya ke KFC kalo ditawari makan.

Saya pernah menuliskannya di blog ini. Silahkan dibaca :

Tempat Makan Favori Keluarga Doyan Plesir


2. Warung Kaligarong



Tempat makan yang satu ini begitu buka langsung jadi favorit orang Semarang. Terutama karena penyajian makanan ala tradisional jaman simbah dahulu. Iya, ada model sajian sego bancakan yang ditaruh di atas daun pisang. Udah kayak makan model bancakan atau selamatan atau syukuran tempo dulu.

Yang paling favorit di tempat ini adalah sambel mangga muda. Duhhh puasa nulis ginian jadi mupeng buka di sana.  



Untuk minumannya ada jamu beras kencur, kunyit asem, dan smoothies kunyit asem. Karena waktu itu berbuka puasa, saya pilih teh panas manis. 

Tempat makan ini terletak di jalan kampung kali, satu deret dengan SMP Negeri 3 Semarang.

3. Hokben Majapahit

Ini baru buka akhir tahun 2018, langsung aja penuh dengan pengunjung dari warga kota yang tinggal di kawasan Semarang bagian timur. Saya aja udah tiga kali kesini. Yang pertama bareng teman blogger. Yang kedua dan ketiga bareng keluarga. 

Saya dan suami selalu menuruti keinginan anak-anak kalo makan di luar. Mereka inginnya makan bento, atau sushi. Kalo bento ya pilihannya di Hokben yang komplit. 






Silahkan baca : Nongkrong Asik di Resto Hokben Halal Majapahit 



4. RM Pringsewu


Ah ini nih tempat makan yang terkenal dengan kelezatan makanannya. Saya udah beberapa kali kesini. Tempat makan yang terletak di kota lama ini menyajikan seafood dan makanan tumis atau khas Jawa.

Ada beragam menu lezat yang bakal bikin kalian nggak bisa move on. Seperti saya yang balik lagi sambil menikmati sajian di teras. Eh tapi saya menikmati Roti Jhon di indoor karena di luar cuacanya hot banget.


Roti Jhon Cornet 22,5K
Menu utama yang udah lama ada di Pringsewu Kota Lama ini juga lezatos. Ada Gurame pesmol, cumi saus mangga, Sego bandhem, dan masih banyak lainnya.








5. Pullens Resto



Resto ini baru saya kunjungi awal tahun 2018. Dan pertama kesana bareng teman-teman blogger usai hadir dalam salah satu event. Pengen makan siang karena saat di event cuma dapat cemilan, lapar dong ya abisa mikir bikin kepsyen, wkwkwkk.

Pullens Resto ini tempatnya nggak terlalu luas, kalo menampung kurang lebih 100 orang aja mungkin agak penuh. Namun asiknya Pullens ini menyajikan masakan tradisional Jawa. Fasilitasnya ada toilet, wastafel untuk nyuci tangan juga. Namun sayang nggak ada musholla, jadi kalo buka bersama di sini harus mampir ke masjid terdekat. Tempat parkir barengan dengan store lainnya karena ini merupakan kompleks pertokoan.

Nama masakannya yang bikin gagal fokus. Ada Ayam Bakar Duda keren, Ayam Bojo Galak, Gule Kenangan Mantan, dan lainnya. Pokoknya namanya bikin ngakak deh waktu pertama datang dan melihat menunya.





Pullens juga tempat yang kece untuk pepotoan. Dengan aksen hiasan dinding yang nggak biasa. Serta suasana tempat makannya identik dengan anak muda. Etapi saya beberapa kali balik kesini bareng suami dan anak-anak saat merayakan pertambahan usia.




6. Gulai Kepala Ikan Pak Untung
Saya kalo lagi malas masak tapi pengen makan gulai kepala kakap, memilih datang ke tempat ini. Menu nya beragam, nggak hanya gulai kepala. Ada udang saus asam manis, tumis kangkung trasi, nasi goreng, rica-rica udang, dan masih banyak menu lain yang menggoyang lidah.



Saya udah pernah menuliskan tentang tempat buka puasa favorit di blog ini juga dua tahun yang lalu. Saat itu lokasinya masih di jalan Siwalan. Saat ini Gulai Kepala Ikan Pak Untung sudah buka cabang di jalan Majapahit dan di Jalan Singosari, satu deret dengan Pullens.

Silahkan baca : Pilihan Tempat Berbuka Yang Murah di Semarang


7. Restoran Pesta Keboen


Tempat makan ini merupakan rumah peninggalan jaman dahulu. Rumah salah seorang guru bahasa Inggris saya waktu SMP ini memang sekarang dijadikan untuk rumah makan. Suasananya yang homey dengan sajian makanan lezat menjadi tempat buka puasa favorit pilihan warga Kota Semarang juga kaum pendatang.

Menu andalan di sini ada Sup Iga, pisang coklat, sup buntut, dan masih banyak lainnya.

8. RM Pelangi


Restoran favorit juga di Kota Semarang. Karena di samping terkenal dengan kelezatan hidangannya, tempat makan ini memang lokasinya strategis di tengah Kota Semarang. 

Menu favorit yang terkenal justru sponge cake nya yang sering dijadikan hantaran untuk selapanan. Cake nya empuk banget, saya kadang suka beli di sini.

Menu makanannya juga rata-rata lezat dan rekomendasi banget deh untuk kalian yang ingin buka puasa di sini. Ada ruangan outdoor di lantai 2, tapi biasanya ada yang merokok di sini. Saya lebih suka di ruangan privat, bisa menikmati sajian makanan sambil ngobrol asik.

9. Gama Ikan Bakar dan Seafood

Tempat ini juga jadi favorit enggak cuma saya dan keluarga, tapi warga Kota Semarang. Sering menjadi tempat gathering acara kantor, atau event promo satu produk.

Saya sendiri udah nggak bisa berhitung berapa kali makan di sini. Tempat makannya ada beberapa pilihan. Di dalam ruangan, outdoor, tergantung sih untuk acara privat atau cuma kulineran aja. 


10. Rumah Makan Kampung Laut 


Kalo memilih buka puasa di sini cocok banget nih. Menanti waktu berbuka sambil menanti senja di pinggir laut. Kebetulan lokasi Kampung Laut emang dekat dengan laut Semarang. Cuma anginnya kenceng, jadi kudu siap outer.

Pilihan makanannya lengkap. Dari seafood, tumis sayur, nasi goreng, dan masih banyak lagi. Tempat ini udah jadi favorit orang Semarang untuk menjamu tamu. Di samping makanannya semua terasa lezat, suasananya juga asik.

Ini menu yang pernah saya cicipi saat di Kampung Laut.






Sebenarnya tempat buka puasa favorit di Kota Semarang itu banyak banget. Makanya saya kesulitan menulis sebagian karena masih ada beberapa lagi yang ingin saya tulis. 

Mungkin kalian yang warga Semarang atau pernah singgah di kota ini, punya tempat buka puasa favorit? Share yuk tempat buka puasa favorit versi kalian. Siapa tahu saya justru belum pernah datang ke tempat tersebut. Wassalamualaikum.
Reading Time: