4 Hal Yang Perlu Dilakukan Keluarga Menjelang Sakaratul Maut - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Friday, 4 January 2019

4 Hal Yang Perlu Dilakukan Keluarga Menjelang Sakaratul Maut



Assalamualaikum Sahabat. Talqin Perlu Dilakukan Menjelang Sakaratul Maut. Meski bagi anggota keluarga, ada perasaan belum mengikhlaskan dengan alasan sayang maupun ketakutan ditinggal orang tersayang.

Atau pernah kah kalian merasakan hati yang cemas, bertanya-tanya apakah malam menjelang tidur merupakan saat-saat akhir dalam keadaan bernyawa?

Dan bacaan ayat dalam Al Quran pun langsung meluncur beruntun dengan memperbanyak dzikir. Perasaan ketakutan ini wajar sih, karena sebagai muslim kita ingin meninggalkan dunia dalam keadaan husnul khotimah.

Akhir Hidup Kita, Pilih lah Husnul Khotimah

Kematian itu sebuah keniscayaan. Tidak ada patokan usia, kapan seseorang akan meninggal. Bisa saja mereka yang masih segar bugar ditemukan meninggal di atas tempat tidur karena serangan jantung. Sementara orang yang sudah berusia 90 tahun lebih masih sehat dan bisa beraktivitas jualan di pasar.

Jadi kematian itu tidak dekat dengan orang tua. Kematian bisa datang tanpa diduga, dalam berbagai peristiwa. Seperti kecelakaan transportasi atau sakit yang datang mendadak.

Dari Hadist dan Riwayat Ibnu Hiban :
Perbanyak lah oleh kalian mengingat pemutus kenikmatan (kematian)

Dalam berbagai kajian, kita selalu diingatkan oleh ustadz maupun ustadzah agar senantiasa menjaga keimanan. Caranya dengan istiqomah menjalankan syariat Islam, memperbanyak sedekah, tadarus Quran, menabung amalan baik, dan banyak lagi kebaikan yang bisa dilakukan agar selamat dari api neraka.

Cara meninggal seorang muslim diharapkan dalam keadaan husnul khotimah. Sedih kan bila ketika hidup seseorang dikenal rajin ke masjid namun saat jelang kematiannya, dia dalam keadaan su'ul khotimah. Semua itu misteri yang hanya mampu dipecahkan dengan selalu istiqomah menjaga iman dan ikhsan kita.

Menjelang akhir tahun 2018, saya dan suami sempat mengantarkan seorang keluarga menuju IGD rumah sakit. Rasa cemas membayangi keluarga besar kami. Terutama yang malam itu hadir menemani keluarga Om, adik bapak saya.

Bulik terlihat seperti orang tidur, diam tanpa reaksi apapun. Sementara slang oksigen, peralatan medis lainnya menempel di tubuh. Saya terpekur menatap di sisi tempat tidur di dalam ruangan IGD.

Tubuh yang mulai mengecil sejak enggan makan beberapa bulan ini, tak berdaya bak orang yang tidur lelap.


Hati saya sempat menciut manakala tangan yang saya gunakan memijat kaki, merasakan dingin di kedua kaki bulik. Sepupu, si sulung bulik dan om yang tinggal di Malang, sempat mengutarakan hal serupa. 

Sempat juga sepupu lain yang barengan menemani Om menunggu situasi medis bulik, membisikkan kondisi kaki yang mulai dingin.

"Kita perbanyak istighfar yuk," ajak saya.

Karena pasien yang ada di IGD hanya boleh ditunggui satu orang, kami pun bergantian menemani bulik.

Menyaksikan keluarga dalam kondisi lemah dan tidak sadar di ruang medis rumah sakit itu kadang bikin hati lemah. Perasaan kasihan, tidak tega, belum ikhlas, bercampur baur dengan keinginan agar pasien bisa diberikan tambahan waktu atau kesembuhan.

Namun kadang sebagai manusia, kita diharapkan bersiap diri untuk menghadapi kondisi sakaratul maut seorang anggota keluarga. Agar si sakit memiliki saat akhir hidupnya dalam keadaan husnul khotimah.

Sebagai anak, ponakan, ataupun cucu si sakit, kita wajib menuntun dan membimbing agar dimudahkan menjalani sakaratul maut.

Saya sempat curhat di WAG, tentang kondisi bulik. Bagaimana kondisi kakinya yang dingin, yang berbeda dengan tubuhnya bagian atas yang masih hangat.

Salah seorang teman di WAG, menyarankan agar kami terutama anaknya mulai talqin bulik. 

Sungguh, membaca pesan ini bikin hati saya mencelos. Benar kah ini saat akhir bulik kami? Bulik adalah istri Om, adik bapak saya yang aslinya terlahir di Banyumas. Kedekatan tempat tinggal dengan keluarga Om, bikin hubungan bulik dengan keponakan dari suami begitu akrab. Bahkan pernikahan saya dan suami pun mendapat dukungan materi yang tak mampu kami ganti seberapa pun besarnya.

Jadi, satu-satunya hal yang bisa saya dan sami lakukan adalah menemani bulik di saat-saat akhirnya.


Berikut ini pengalaman saya, sepupu, dan putri sulung bulik menjelang sakaratul maut :

1. Meminta Maaf

Kamis pagi, saya menelpon sepupu yang belum berangkat ke rumah sakit. Saya meminta dia untuk membisikkan permintaan maaf pada sang ibu. 
"Bilang ya kalo Widi ikhlas dengan kondisi Ibu, juga bila akan berpulang saat ini," pesan saya dengan hati bergemuruh oleh kesedihan.

Saya mendengar nada suara tertahan saat mengiyakan permintaan itu. Isak pelan mulai terdengar lamban. Namun alhamduillah Widi mampu meredamnya. Kami pun janjian akan bertemu di rumah sakit. Yang ternyata saya tidak mampu memenuhi janji karena ada kegiatan lain hari Kamis itu.

2. Memosisikan Kepala Miring ke Kanan

Ada nasihan yang pernah kami terima dari kajian rutin tiap Jumat sore yang saya ikuti. Bahwa menjelang saat akhir seseorang, sebaiknya ada anggota keluarga yang menidurkan si sakit pada posisi miring ke kanan. 

Namun karena kondisi bulik yang koma. Dan hanya bisa tidur dalam posisi telentang, kami memosisikan kepala agak miring ke kanan. Kebetulan posisi tempat tidur menghadap ke arah Barat. Jadi kaki sudah dalam posisi yang benar.

3. Disunnahkan men-Talqin si Sakit

Saya mulai perlahan meminta putri sulung bulik agar men-talqinkan ibunya. Kondisi ini bisa dilakukan bila anak-anak si sakit sudah mengikhlaskan saat akhir orang tuanya. Itu lah sebabnya, saya berpesan pada Widi agar meminta maaf dan mengikhlaskan ibunya.

Talqin biasanya dengan mengingatkan atau mengajarkan seseorang yang sedang sakaratul maut, mengucapkan kalimat syahadat. Pengucapannya dengan cara halus dan lembut, jangan memaksa si sakit untuk menirukan kalimat syahadat. Cukup dengan mengucapkan kalimat la ilaha illallah di telinga si sakit.

Terlebih bila si sakit dalam kondisi koma seperti bulik kami. Nggak mungkin juga meminta beliu turut mengucapkan kalimat syahadat. 

Namun kami cukup lega bilamana ada yang memperdengarkan kalimat syahadat, ada reaksi dari tubuh bulik. Kadang ada rembesan air mata dari kedua mata yang tertutup rapat. Atau dada yang tersengal pelan, ataupun jari yang bergerak. Isyarat itu cukup bagi kami, bahwa bulik mendengarkan kalimat syahadat yang kami ucapkan di telinganya.

4. Disunnahkan Baca Al Quran

Penunggu yang menemani si sakit diharapkan membaca surat dalam Al Quran. Bisa membaca surat Yasin, Al Ikhlas, atupun memperbanyak Al Fatihah.

Bisa juga dengan membaca dzikir, shalawat, dan istighfar di samping si sakit. Intinya adalah mengingatkan si sakit bahwa semasa hidupnya dia selalu mengucapkan kalam ilahi.

Sakaratul maut memang belum pernah kita alami. Namun mempersiapkan kondisi sakaratul maut dengan harapan mendapat ampunan dan Rahmat Allah, patutu kita usahakan pada orang yang sakit kritis.

Bulik kami sudah dipanggil Allah memasuki hari keempat di ruang ICU rumah sakit. Alhamdulillah ada putra bungsu bulik yang menemaninya menjelang detik akhir kepergiannya. Innalillahi wainna ilaihi roji'un... Allahhummaghfir lahaa warhamha wa'aafiha wa'fu anha. 

Kami sudah mengikhlaskan kepergian bulik, ibu dari dua putra putri yang sholeh dan sholehah. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan bulik semasa hidup. Dan menempatkannya di sisi orang-orang yang mulia akhlaknya, aamiin. 

Rasa bahagia terselip saat shalat jenazah, yang beberapa kali dilakukan di rumah duka. Bahkan saat akan dishalatkan di masjid, jemaah memenuhi setiap sudut masjid dekat rumah kami. Masyaa Allah, semoga bulik kembali dalam keadaan husnul khotimah.


Begitu banyak yang hadir untuk takziyah, mendoakan hingga tujuh harinya bulik di rumah Om. Saya sesekali sempat terharu menyaksikan setiap harinya saat datang ke rumah Om. Malam ketujuh bahkan lebih dari 100 orang hadir untuk mendoakan almarhum bulik Sri. Memperlihatkan amalan kebaikan bulik semasa hidupnya meninggalkan kenangan manis pada orang terdekat, tetangga, saudara, keponakannya.

Wassalamualaikum.

37 comments:

  1. Baca ini aku merembes mili teringat sakaratul maut yang dialami oleh alm bapakku. Saat sakaratul maut, tenggorokan terasa kering sekali sehingga terkadang kita mendengar suara grok grok grok. Di saat seperti itu, sebaiknya kerabat memberikan tetesan air karena pada saat itulah setan menggoda manusia agar ikut dengannya mengambil air. T_T

    Semoga kita semua bisa meninggal dalam keadaan khusnul khotimah ya Mbak. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bulikku nggak ada suara grok grok, makanya kami sempat berharap ada kesembuhan.

      Aamiin ya rabbal'alamiin, makasih mba Rani

      Delete
  2. Duh baca ini jadi kepikiran nanti saya matinya pas keadaan kyk gimana ya? Mudah-mudahan yg normal

    ReplyDelete
  3. jadi keingat beberapa keluarga yang insyaallah, khusnulhatimah :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Al Fatihah ya dek, semoga meringankan langkah almarhum

      Delete
  4. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.. InsyaAllah Bulik husnul khatimah ya mba. Ikut mbrebes mili baca perjuanagn mba dan sepupu mengikhlaskan kepergian Almarhumah.

    ReplyDelete
  5. jadi ingat waktu omku wafat setelah istri dan anaknya mengikhlaskan kepergian almarhum, sedih tapi harus pasrah. Semoga Buliknya husnul khatimah ya mba

    ReplyDelete
  6. apa pun kita pasti kembali ke sang pencipta, tetap sabar dan merelakan kepergian almarhum semoga di terima tempat yang terbaik disisi pencipta.

    ReplyDelete
  7. Aku kok jadi setelah baca postingan ini karena teringat almarhum Bapak. Dulu waktu Bapakku sering sakit akupun sering mengaji Al-Qur'an dan terus berdo'a agar bapakku cepat segera sembuh. Tapi apa daya 12 tahun yang lalu Bapakku pergi untuk selama-lamanya. Duh, malah curhat deh.

    ReplyDelete
  8. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un. Alfatihah untuk Bulik. Semoga amal ibadah Bulik menjadi jalan keridhoan Allah sehingga Bulik bisa menikmati keindahan surga. Allah ampuni segala dosa Bulik, dilapangkan kuburnya, dan dijauhkan dari siksa api neraka. Aamiin.

    Terima kasih atas tulisan yang berharga ini Mbak. Kita perlu sering-sering diingatkan begini supaya nggak "nyeleneh" menjalani hidup. Hidup cuma sekali, kalau nggak dipakai buat kebaikan, nanti menyesal karena setelah mati adalah hari-hari pertanggungjawaban. Nggak ada remidial hidup di dunia lagi. ����

    Saya baru tahu kalau harus dimiringkan ke kanan (alangkah baiknya dan dianjurkan ya). Saya pikir nggak ada posisi khusus.

    Adab-adab begini ini Mbak perlu juga dipelajari. Mulai dari memperlakukan orang yg sedang sakaratul maut, memandikan jenazah, mengafani, menyolatkan, membawa ke kuburan, sampai pada menguburkan dan mendoakan setelahnya. Adab-adab begini kan penting banget krn mayit juga wajib diperlakukan lembut dan beretika. Kapan-kapan share lagi ya mbaak mungkin cara Bulik dulu dimandikan yg sesuai syariat gimana dll.

    ReplyDelete
  9. Innalillahi wa Innailahi Rojiun.

    Moga Bulik husnul khotimah. Ditempatkan di tempat terindahNya.

    Itu dimiringkan ke kanan sama dgn posisi jenazah di liang lahat kali ya Mbak? Kan harus dimiringkan ke kanan sedikit ya? Menghadap ke Kiblat gitu ya Mbak?

    ReplyDelete
  10. Innalilahi wainnailaihiraajiun, semoga buliknya husnul khotimah, aamiin.
    Merinding, baca yang beginian, terimakasih sudah berbagi mba, penting banget diketahui banyak orang.
    Seumur-umur saya baru tau 2 orang yang meninggal dekat saya.
    Yang pertama nenek saya waktu saya masih SD, saat itu saya ingat, banyak orang kumpul di kamarnya, tante-tante saya mendampingi nenek dan membisikan syahadat.

    Yang kedua adik saya 19 tahun lalu.
    Sayang, waktu perginya kami gak ngeh, sangat tiba-tiba, sorenya naik sepeda, pulang udah murung, sore demam, dini hari koma, subuh udah pergi.
    huhuhu nangis lagi deh saya ingatnya :'(

    Semoga kita semua bisa kembali ke sang pencipta dalam keadaan yang suci dari dosa karena di ampuni olehNya, aamiin :')

    ReplyDelete
  11. Innalillahi wa innailaihi roji'uun. Saya sedih membacanya, Mbak. Jadi ingat sama almarhumah mamah mertua. Semoga husnul khotimah. aamiin

    ReplyDelete
  12. Innalillahi wa innailahi rojiun, tercekat aku membacanya. Berasa diingatkan akan kematian, makasih ilmunya ya, mb
    Moga kelak kita meninggal dalam kondisi baik dan diterima Allah SWT

    ReplyDelete
  13. Aku harus bersyukur banget mba, karena aku dikasih kesempatan sama Allah untuk berada di dekat ibu aupun ayahku menjelang mereka wafat.
    Banyak sekali hikmah yang aku petik, meskipun sedihnya bukan kepalang

    ReplyDelete
  14. Teringat saat alm nenek sakaratul maut, saya sedih dan sedikit menyesal kala itu masih remaja dan belum tau apa-apa. Saya gak sempat mengucapkan maaf pada beliau, mudah2an beliau tenang di alam sana, alfatihah

    ReplyDelete
  15. Innalillahi wa Inna ilaihi raajiun semoga bulik Sri khusnul khatimah, aamiin. Sedih rasanya pas tau saudara atau keluarga yang susah koma dan ada tanda tanda akan meninggal

    ReplyDelete
  16. Baca ini jadi merenung, mudah2-an kita semua dimudahkan ya mbak saat sakaratul maut sehingga husnul khatimah

    ReplyDelete
  17. Baca ini jadi ingat almarhumah ibu akum Sedih rasanya mengingat masa itu, waktu itu masih kecil jadi belum tau hal begini :(

    ReplyDelete
  18. Masa sakaratul maut ini memang menggentarkan hati ya Mbak. Yang mandampingi pasien memang benar-benar orang yang harus tatag hatinya, supaya kuat melakukan hal-hal seperti tersebut di atas dengan ikhlas dan tidak memberati yang mau berpulang....

    ReplyDelete
  19. innalillahi wa innailaihi rojiun. cara2 diatas emang perlu dilakukan bagi keluarga yg muslim dan muslimah. alhamdulillah, semoga mereka yg pergi meninggalkan kita husnul khotimah ya.

    ReplyDelete
  20. Ya Allah, Mbak Wati, aku kan mak deg baca judulnya. Terimakasih ya sharing ilmunya ��

    ReplyDelete
  21. Jadi inget saat menemani saat-saat teralhir alm. Bapa, ya Allah, pas menjelang meninggal, Bapak masih bisa berkomunikasi dengan baik, alhamdulillah di saat-saat terakhirnya, kami sekeluarga menemani dan selalu membacakan ayat suci di dekatnya

    ReplyDelete
  22. Semoga kita khusnul khotimah ya Mbak

    Aku pernah ikut nungguin Mbah yang sakarotul maut. Ada yg bimbing dan aku beberapa orang baca yasin. Pas dicabutnya, aku di rumah, gak tau gimana deh. Kalau memang kondisinya sakit, ya kita kudu paham tanda2nya supaya bisa bimbing. PR ya kalau meninggal mendadak gitu atau di mana yang tidak kita tahu. Kudu banyak berdoa deh

    ReplyDelete
  23. Aamiin semoga buliknya husnul khotimah ya Mbak. Makasih infonya ya. Kita memang harus selalu bersiap menghadapi kematian.

    ReplyDelete
  24. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Lahul Fatihah untuknya buliknya Mba Wati, semoga Allah lapangkan dan terangi kuburnya. Amiin.

    Aku sama sekali belum punya pengalaman menemani orang yang sakaratul maut, Mba. Meski teorinya mungkin aku paham, tapi masih sering mikir bisa nggak yaaa pas itu terjadi. Terutama untuk orang-orang yang kita sayangi. Karena pastinya kan sedih banget ya Mba T_T

    ReplyDelete
  25. Meski tidak bs menemani ayah saat di akhir hayatnya saya masih bersyukur ada suami yg menemani ayah jd ada yg membimbingnya...ihiks baca ini jd sedih..

    ReplyDelete
  26. masyaAlloh merinding hal ini yang tidak pernah aku lakukan saat mendiang ibu meninggal karena ibu meninggal tanpa sakit apapun jadi suka nyesek aku mba kalau inget ibu meninggal :(

    ReplyDelete
  27. Terima kasih Mba Wati untuk sharing pengalamannya. Jujur, aku baca tulisannya merinding. sekaligus manggut-manggut, karena belum tahu informasi ini sebelumnya.

    ReplyDelete
  28. Aku kok merinding ya. Ya Allah.. aku pernah ngerti bagaimana simbahku menghembuskan nafasnya. Membisikkan kalimat thoyyibah di telinga..

    ReplyDelete
  29. Buk, aku bacanya deg2an banget. Betapa kematian itu sangat dekat dengan kita. Ya Allah...sedih rasanya. Semoga detik ini juga, apalagi ini tahun baru, habit yang baik akan semakin meningkat.

    ReplyDelete
  30. Innalillahi wainailaihi rojiuun.. Terima kasih sudah mengingatkan ya mba..memang kita harus senantiasa siap jika ajal menjemput yaa mba

    ReplyDelete
  31. Ya Alloohh wafatkan kami dlm keadaan khusnul khotimah. Aamiin. Doa terbaik utk bulik ya Mba Hidayah. Allohummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha. Setiap muslim hrs saling mengingatkan ya Mba

    ReplyDelete
  32. inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga bulik khusnul khatimah, dan ini menjadi pengingat bagi kita ya mbak, untuk mempersiapkan yg terbaik. Maturnuwun mbak

    ReplyDelete