My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Arisan Blog Gandjel Rel
Tampilkan postingan dengan label Arisan Blog Gandjel Rel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arisan Blog Gandjel Rel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2021

Adaptasi Belajar Daring Bukan Untuk Siswa, Tapi juga Orang Tua dan Guru
Februari 19, 2021 10 Comments


Assalamualaikum sobat. Pandemi covid yang belum juga usai memberi pengharuh banyak pihak. Terutama adalah anak sekolah dan kuliah yang masih belajar daring hingga saat ini. 


Anak saya yang bungsu dan menjadi mahasiswa jurusan DKV aja sampai memilih cuti satu semester kemarin. Semoga semester ini udah bisa memilih kuliah lagi. Alasan dia memilih cuti kuliah udah saya ceritakan dalam artikel sebelumnya.



Dari artikel sebelumnya juga saya udah menuliskan gimana curhat orang tua dan siswa, tentang gimana menjalani belajar daring ini. Pandemi menjadi tantangan bagaimana mereka harus menciptakan suasana belajar di rumah dengan menyenangkan.

Peran Orang Tua Saat Mendampingi Pembelajaran Jarak Jauh

picture by tes.com

Sebenarnya bagi orang tua yang terbiasa mendampingi anak-anaknya belajar selama ini, kondisi PJJ mungkin tak pengaruh banyak. Meski intensitas waktu mendampingi belajar menjadi lebih panjang. Bukan hanya itu tapi masih ditambah dengan mengajari ketika anak tidak tahu atau belum memahami materi pelajaran. 

Orang tua yang terbiasa mendampingin anak belajar, pasti tahu gimana mereka juga harus ikut memahami materi pelajaran. Tapi kesenjangan materi pelajaran sekarang memang telah melesat jauh. Materi yang dulu mungkin baru diajarkan saat siswa kelas 5, sekarang udah diajarkan pada siswa kelas2. 

Di sini muncul banyak keluhan dari orang tua yang mengalami kendala saat membantu anak  menjalani PJJ. Apalagi bila orang tua ini semua pekerja yang tidak memiliki pilihan bekerja di rumah dari tempat kerjanya. Makin banyak juga masalah yang muncul. 

Akhirnya orang tua ada yang memilih jalan untuk mengikutsertakan anak pada bimbingan belajar online. Atau memilih orang yang profesional dan cukup dekat dengan mereka yang membuka bimbingan belajar, untuk datang ke rumah. Tentu ada beberapa prosedur protokol kesehatan yang mesti dilakukan.

Namun masih ada kendala juga bila kemampuan materi tidak memungkinkan. Akhirnya materi pelajaran tidak terserap dengan tuntas oleh anak-anak ini. 

Guru Harus Kreatif Dengan Melakukan Inovasi Digital

Memang semua kembali lagi pada peran guru meski kondisi masih belum memungkinkan untuk dilakukan belajar secara tatap muka.

Kebetulan saya sempat ngobrol dengan tetangga yang juga ibu RT di lingkungan saya. Beliau adalah pendidik di salah satu sekolah dasar di Semarang Tengah. 

Beruntungnya siswa di sekolah ini, karena guru dan kepala sekolah akhirnya memiliki kemampuan untuk membuat materi pelajaran dengan membuat video. Jadi tiap guru sudah merumuskan materi pelajaran dalam bentuk tulisan dan gambar semampu yang mereka buat. Kemudian salah seorang guru yang memiliki ketrampilan edit video dan animasi, menerjemahkannya dalam bentuk digital.

Memang seperti sekolah lain, juga banyak guru lainnya, awal pandemi membuat kondisi PJJ di sekolah ini tidak suskses. Siswa mengalami penurunan konsentrasi karena tidak bisa belajar di kelas. 

Namun seiring berjalannya waktu, ide dan inovasi yang dilakukan ini tercipta dari inisiatif beberapa orang guru. Mereka merasa sedih karena anak didiknya tidak mampu memahami materi yang disampaikan. Susah kan kalo pembelajaran hanya sebatas catatan.

Inovasi yang dilakukan adalah dengan menjadikan satu ruang khusus untuk tempat guru direkam saat menjelaskan materi pelajaran. Kemudian penjelasan ini juga didukung dengan gambar animasi untuk beberapa pelajaran tertentu. Seperti matematika, yang butuh menayangkan wujud bentuk benda misalnya.

Ibu Sardi, guru yang mengampu siswa kelas 3 ini menuturkan bagaimana susahnya di awal saat harus menerjemahkan materinya dalam bentuk gambar. Dia tidak pintar menggambar, jadi memang harus dengan bantuan guru lain. Ini lah peran guru yang pintar mengolah data, gambar, dan menerjemahkan dalam bentuk visual di video. 

Di ruang khusus ini pula dilakukan pengeditan oleh si guru yang ahli di bidang komunikasi visual. Padahal pak guru ini aslinya adalah guru di bidang olahraga. Namun keahlian yang dimilikinya di bidang teknologi telah memberikan jalan keluar bagi guru, siswa, dan tentunya orang tua. 


Mendengar tetangga saya bercerita proses PJJ di sekolahnya, membuat saya pun jadi hepi. Beruntung ya sekolah yang memiliki guru dengan keahlian seperti di atas. Karena tidak banyak sekolah yang bisa melakukan hal serupa. 

Belajar Tidak Cukup Tentang Ilmu Pengetahuan

picture by edutania


Saat pandemi seperti sekarang ini,  kreativitas terhadap penggunaan teknologi sangat dibutuhkan. Dan tentunya bukan hanya transmisi pengetahuan, tapi juga bagaimana memastikan pembelajaran tetap tersampaikan dengan baik.

Sudah terbukti munculnya beragam masalah karena proses PJJ memang tidak bisa efektif seperti saat tatap muka. Teknologi tidak dapat menggantikan peran guru atau dosen. Bahkan teknologi tidak mampu mengefektifkan interaksi belajar antara siswa dan guru.

Karena pembelajaran itu bukan sekadar untuk mendapatkan pengetahuan dari mata pelajaran. Pembelajaran juga untuk memunculkan nilai, kerja sama, serta kompetensi siswa. Bukan hal mudah ketika pandemi akhirnya menuntut tanggung jawab orang tua lebih banyak. 

Namun pandemi memang menjadikan setiap orang, baik anak-anak, orang tua, kembali lagi pada esensi keluarga. Ketika selama ini orang tua pekerja, ibu rumah tangga, anak remaja, disibukkan dengan kegiatan di luar rumah. Pandemi memaksa mereka untuk kembali menghangatkan suasana rumah. Mereka tidak bisa lagi dengan mudahnya bebas bertemu teman kerja atau arisan. 

Perubahan gaya hidup dengan lebih banyak waktu bersama keluarga, tentu satu hikmah dari pandemi ini. Memang di balik setiap musibah selalu ada hikmah yang bisa disyukuri. Makin banyak waktu bersama keluarga juga merupakan saat bonding yang spesial. 

Orang tua bisa mengisinya dengan beragam kegiatan yang positif. Bisa menciptakan hobi baru yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Kegiatan ini bisa juga menjadi ajang parenting bagi orang tua dan anak. Orang tua bisa menyisipkan pesan-pesan moral saat bermain, melakukan hobi, dan kegiatan lain di rumah.

Pandemi ini memang menjadi saat penuh duka bagi banyak orang. Namun manusia adalah makhluk Tuhan yang paling kuat beradaptasi dalam kondisi apapun. 

Kekuatan iman, ikhtiar menjalani protokol kesehatan, kemampuan bertahan hidup, semoga menjadi modal untuk menghadapi pandemi yang belum tahu kapan akan berakhir. 

Semoga sobat selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan selalu dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Sabtu, 11 Juli 2020

Mie Kopyok Makanan Tradisional Semarang ini, Mudah Loh Bikinnya
Juli 11, 2020 30 Comments
Mie Kopyok Makanan Tradisional Semarang ini, Mudah Loh Bikinnya


Assalamualaikum Sahabat. Saat ini pandemi covid masih ada di bumi pertiwi, bahkan di dunia. WHO baru aja merilis cara penyebaran baru lewat udara. Emang selama ini udah lewat udara kan? 

Serius ya, saya bingung loh membaca info terbaru ini. Namun kali ini saya nggak bakal nulis tentang covid. Yang ingin saya tuliskan adalah efek dari covid yang nggak ilang hingga detik ini.

Salah satu efek yang bikin saya kehilangan momen istimewa karena covid adalah enggak bisa kulineran. Kalian pasti setuju dong. Sampai hari ini saya udah libur incip kuliner di luar rumah sambil nongkrong, ada 4 bulan. Kalo pesan makan online gitu sih sering ya.

Sedih dong karena keluarga saya termasuk yang suka incip kuliner Indonesia gitu. Meski gak nolak juga sih dengan akulturasi makanan asing yang masuk ke ranah kuliner negeri ini. Karena beberapa kali anak-anak suka juga minta makan di resto masakan Korea atau Jepang.

Ya udah bersabar aja deh, sambil terus berdoa semoga pandemi segera berakhir. Sehingga kondisi benar-benar kembali normal seperti sebelum ada pandemi covid.

Cari Keringat dan Kulineran di area CFD Simpang Lima

Perlu kalian tahu, sebelum covid ada di bumi ini, tiap minggu saya dan suami selalu jalan pagi di area Car Free Day (CFD) Simpang Lima Semarang.

Bagi warga Semarang, olah raga di area CFD itu satu hal yang dinantikan selama 6 hari sebelumnya. Begitu weekend tiba dan termasuk saya nih, udah merencanakan bakal berangkat jam berapa saat Minggu pagi. Sereceh itu ya rencana jalan-jalan pagi di area CFD. 

Ketika ada kepentingan keluar kota atau ada acara yang nggak memungkinkan kami ke CFD, terasa ada yang hilang. Hahahaa, lebay nih.

Emang sih suasana olah raga di CFD itu bikin semangat. Melihat orang yang sedang menggerakkan tubuhnya, jadi pengan ikutan. Meski saya biasanya begitu nyampai di lapangan Simpang Lima langsung jalan muter sampai dua atau tiga kali. Tergantung kondisi kaki, wkwkwkk.

Kalo udah capek, baru deh mikir mau ngisi perut. Hahahaa.

Biasanya saya dan suami suka pesan mie kopyok di depan toko kue Brilliant, pojokan Simpang Lima bagian selatan. Di situ ada gerobak penjual mie kopyok yang sering dikerumuni pelanggannya termasuk kami berdua. 

Kemarin sempat ubek-ubek foto di folder drive, dan baru menemukan penampakan mie kopyok saat jajan di sana. 


Sayangnya saya kok lupa nggak simpan foto gerobak dan bapak penjualnya. Tapi setelah nyari di arsip Instagram @hidayah_art akhirnya ketemu videonya. Saya screen capture deh, wkwkwk.


Menurut saya sih mie kopyok yang disajikan si bapak penjual ini lumayan enak kok. Rasa bawang putihnya enggak terlalu banget, kecapnya juga pas di lidah saya. Karena ada juga pembeli yang minta kecap tambahan. Beda dong dengan saya yang malah minta mie dikurangi, tapi diganti kecambah aja yang banyaaak.

Dari foto yang saya screen capture terlihat udah nyaris satu tahun saya enggak motret saat makan mie kopyok. Jadi foto di atas emang foto terakhir saat makan mie kopyok yang sempat saya ambil gambarnya.

Harga seporsi mie kopyok sekitar 10 ribu, ini awal tahun 2020. Dan udah lebih dari 6 bulan saya nggak jajan di sana, hikss.

Apa Sih Mie Kopyok itu, Beneran Kuliner Asli Semarang?

Iya dong, karena sejak saya kecil juga udah ada penjual mie kopyok ini sliweran di depan rumah menjajakan dagangannya. Jaman dahulu (1970 hingga 1987) masih ada penjual mie kopyok yang menggunakan pikulan. Penjual yang menggunakan gerobak malah belum ada. Ini seingat saya sih.

Mie Kopyok merupakan salah satu makanan tradisional Kota Semarang yang sering dijadikan alternatif sarapan. Banyak penjual yang mangkal di beberapa wilayah di Kota Semarang. Bahkan lebih banyak lagi penjual mie kopyok berjualan keliling gang atau jalanan di Kota Semarang.

Mie Kopyok Makanan Tradisional Semarang

Di rumah saya aja, tiap hari ada 4 penjual mie kopyok yang lewat menjajakan dagangannya. Tapi hanya ada 1 penjual mie kopyok yang enak rasa racikannya. Jadi kalo pengen beli harus ngintip dulu dari balik gordyn penjual mana yang lewat. Saat lama gak ngincipi mie kopyok kadang ada aja godaannya. Suara sendok yang diadu dengan piring terdengar nyaris sama. Dan saat saya intip keluar jendela, bukan langganan yang lewat. Huhuuu, hilang deh keinginan beli mie kopyok.

Mie kopyok terdiri dari mie basah dan kecambah yang ditaruh di sendok sayur berbentuk khusus. Yaitu ada lubang kecil-kecil untuk meniriskan kuahnya. Dua bahan ini dicelupkan sekitar 3 menit  ke dalam air panas di dandang. Kemudian diangkat dan dikopyok-kopyok (dikocok-kocok naik turun di dalam air panas di dandang). Itu lah penyematan nama mie kopyok yang saya ketahui dari kecil.



Selain mie dan kecambah, ada lontong, dan tahu pong, serta dikucuri kuah yang ada bumbu bawang putih. Bumbu bawang putih ini biasanya disimpan di botol bening. Kemudian ditambahkan juga kecap manis, seledri,  bawang goreng, dan krupuk gendar. 

Nah paling enak menikmati mie kopyok dengan tambahan sambel rawit setan yang cukup banyak. Biar nggak mblenger gitu. 

Yang terkenal untuk penjual mie kopyok ada di kawasan piere tendean, yaitu mie kopyok Pak Dhuwur. Bagi saya sendiri mie kopyok ini rasanya biasa aja. Karena lidah saya udah terbiasa dengan mie kopyok yang jualan di daerah Pecinan. 


Mie kopyok di atas itu saya beli di tempat penjual langganan di rumah masa kecil, yaitu di Jagalan. Tempat mangkalnya di jalan Karang Anyar, satu deretan dengan leker Paimo. Depan Asem-Asem Koh Liem, agak ke timur lagi dikit.

Yang berjualan sekarang anaknya, bapaknya udah meninggal dua tahun lalu. Mie Kopyok ini termasuk favorit di kawasan Pecinan. Meski tempatnya cuma numpang di teras bangunan milik orang, dengan kursi plastik dan tanpa atas pula, tapi yang beli lumintu. Lumintu itu pembeli yang datang bergantian, nggak pernah berhenti.

Mungkin karena beli mie kopyok di sini selalu disajikan sepiring krupuk gendar. Jadi pembeli suka dengan tambahan krupuk gendar meski tetap dihitung sendiri dan bukan bagian dari seporsi mie kopyok.

Untuk harganya sekarang ini saya kurang tahu karena udah lama nggak jajan di sana. Terakhir kalo nggak salah sekitar 11 ribu, kalo tambah krupuk gendar sepiring ada 4 buah cukup bayar 5 ribu.

Yuk Racik Sendiri Mie Kopyok di Dapur Rumah

Sebagai warga asli Kota Semarang, tentu saja saya udah beberapa kali masak mie kopyok di rumah. Biasanya untuk suguhan ketika ada acara kumpul keluarga. Karena bikin mie kopyok itu gampang banget sih. Jadi bikin sendiri pun juga gak masalah. 

Yuk saya akan berbagi resep Mie Kopyok khas Semarang

Bahan yang dibutuhkan :

- 1 kg Mie kuning segar (untuk 7 porsi)
- 8 biji bawang putih di geprek, lalu direndam dalam air mendidih dan sisihkan hingga hangat suam2 kuku. Bisa ditambahkan kaldu bubuk jamur. Masukkan ke dalam botol kaca bekas sirup
- Kecambah panjang secukupnya untuk campuran
- 10 biji tahu pong, goreng sebentar lalu potong-potong
- daun seledri secukupnya rajang halus
- lontong dipotong-potong untuk penyajian
- bawang goreng untuk taburan
- cabe rawit utuh di rebus
- kecap manis
- kerupuk gendar/kerupuk nasi/kerupuk karak, dip
- garam
- air secukupnya untuk merebus

Cara memasak mie kopyok khas semarang

- siapkan piring, ulek cabe yg sudah direbus di atas piring. Beri sedikit garam, lalu beri 5 potong lontong, sisihkan

- Rebus air secukupnya, hingga mendidih. Kemudian dengan menggunakan sendok sayur yang ada lubangnya, semacam saringan, kasih mie dan kecambah. Celupkan ke dalam air yang mendidih sekitar 3 menit. 

- Taruh celupan mie dan taoge di piring berisi lontong tadi. Kemudian beri potongan tahu, kuah bawang putih, kerupuk gendar dan kecap manis. Taburi dengan bawang goreng dan potongan daun seledri.

Koreksi rasanya, dan sajikan selagi hangat.


Mie kopyok bisa kamu kreasikan dalam porsi besar. Kamu bisa menikmati bersama keluaga ataupun teman-teman. Dijamin deh pasti pada suka dengan sajian makanan tradisional dari Semarang ini.

Biasanya mie kopyok disajikan untuk sarapan sekitar pukul 7 ke atas. Kuahnya yang ringan karena tanpa penambahan bahan protein, memberikan kesan segar. 

Kalo kalian udah pernah nyoba makanan tradisional dari Semarang ini dan kangen ingin menyicipinya lagi, buat aja sendiri. Bahannya mudah didapatkan di kota mana aja. Nanti cerita ya gimana hasil racikan mie kopyok bikinan kalian. Sampai jumpa, wassalamualaikum Sahabat.
Reading Time:

Rabu, 01 Juli 2020

Permata Pengalamanku Traveling Saat Haji Bersama Suami, Rasanya Seperti Honeymoon
Juli 01, 2020 27 Comments
Permata Pengalamanku Traveling Saat Haji Bersama Soulmate


Assalamualaikum Sahabat.

"Gimana kalo aku belikan kursi roda?"
Mataku yang kecil menatap laki-laki yang baru saja mengusulkan hal itu. 
"Kamu duduk aja, nanti aku yang mendorong kemana pun kau inginkan. Jadi kamu nggak capek, oke?"

Aku membayangkan semua ritual ibadah dengan kondisi duduk di kursi roda. Seperti orang yang tak berdaya. Apa nanti kata setiap orang tak dikenal yang menjumpai kami.

Terbayang setiap bisikan dan belas kasihan dalam otak kecilnya.
'Kasihan suaminya, dorong istrinya kemana-mana'
'Baik banget ya suaminya, setia gitu'
'Laki-laki terbaeeeq'

Kepalaku mendadak menggeleng kencang. 
"Enggaaak... aku gak mau!" 

Akhirnya kata sepakat dia tak akan membelikan aku kursi roda. 

Awal Dari Seluruh Kisah Perjalanan Haji Tahun 1435 H/2014 M

Cerita di atas adalah fakta yang terjadi pada diriku, menjelang empat bulan sebelum berangkat haji tahun 2014. Tepatnya pada awal bulan Mei ketika akan kembali menuju tempat parkir Masjid Agung Demak. 

Aku dan suami mengantarkan bapak yang punya nadzar, ingin shalat di Masjid Agung Demak setelah sembuh. 7 bulan sebelumnya bapak menjalani operasi prostat dan kencing batu dalam satu waktu. Proses pemulihannya ada sekitar 4 empat bulan. Jauh sebelum operasi, bapak pernah berujar ingin shalat di Masjid Agung Demak kalo sembuh dari sakit prostat.

Nah saat berjalan menuju tempat parkir, aku terjatuh. Dan tidak bisa berjalan seperti sebelumnya. Kondisi tubuh kayak pohon pisang itu, yang ditebang dan langsung roboh. Suami melihat kakiku ternyata terkilir. Jadi jalan sisa menuju mobil di parkiran itu suami dan bapak menggendongku. 

Asliii... sebenarnya aku malu dilihat sesama pengunjung. Tapi rasa sakit di pergelangan kaki kiri mengalahkan rasa malu. 

Sore itu juga aku diantar menuju tukang ahli sangkal putung di kawasan Bangetayu, satu jalur menuju pulang ke rumah. Ada suara 'krak' saat si bapak membetulkan kondisi engkel kaki kiri. Huhuuu, sakitnya setelah itu baru terasa. Dan sampai di rumah baru terlihat bagian atas telapak kaki hingga pergelangan ternyata bengkak.

Dua hari kemudian suami mengantarku ke tempat pijat Bu Siti di kawasan Banyumanik, Semarang. Di sini udah kayak klinik dokter, ada kamar rawat inap, ruang tunggu untuk pasien rawat jalan, kasir, toilet, dan mushola. 

Selama menajalani rawat jalan, ada sekitar 6 kali aku kesana. Ada teman yang baik hati mengambilkan nomer antrian karena rumahnya dekat dengan tempat bu Siti. Jadi suami Winda, teman penulis ini usai shalat Subuh mampir ke tempat Bu Siti untuk ambil nomer antrian. Tentu saja aku selalu dapat nomer 1. Alhamdulillah semoga Allah azza wa jalla memberikan balasan kebaikan berlipat kali untuk Winda dan suami.

Nah jelang dua bulan sebelum berangkat haji, kakiku masih belum sembuh sempurna. Aku mulai belajar shalat seperti biasanya. Ternyata ketika ditekuk saat duduk tahiyat awal, kaki kiri terasa nyeri. Aku sungguh nggak kuat, jadi duduknya senyamanku aja. Sebelumnya aku shalat di kursi selama 2 bulanan. 

Ini yang jadi penyebab suami ingin membeli kursi roda untuk aktivitasku nanti di tanah suci. Dia membayangkan dengan kaki seperti itu, mana bisa aku melaksanakan ibadah dari rukun, wajib, dan sunnah haji? 

Niatnya baik karena ingin meringankan rasa sakit tiap kali kaki digunakan untuk jalan atau shalat. Namun aku sendiri memiliki keyakinan bahwa Allah Maha Penyembuh. Insyaa Allah nanti akan diobati ketika akan melaksanakan ibadah di tanah suci.

Apalagi Bu Siti bilang kakiku udah mulai pulih. Misalkan saat ibadah di tanah suci nanti kakiku sakitnya kambuh, pasti ada orang yang akan menolongku. Ucapan Bu Siti menenangkan hati dan aku percaya.

Berangkat Haji Bersama Suami   

Ibadah Haji adalah Traveling
Aku dan suami 
bersama keluarga

Hari keberangkatan tiba, Sabtu tanggl 7 September 2014 menjadi kenangan yang selalu tersemat dalam ingatanku. Suami pasti juga merasakannya karena dia terlihat pendiam sejak di dalam bus yang mengantarkan regu 1, rombongan 1 kloter 17 SOC Boyolali Jawa Tengah.

Suami mendaftar dengan menyetor BPIH sejumlah 25 juta per orang. Saat itu bulan Juli 2010 dan kami langsung mendapat nomor porsi keberangkatan tahun 2014. Uang 50 juta itu kami dapatkan setelah menjual rumah di Pedurungan.  

Ketika tahun 2014 tiba dan suami mendapat telepon dari Bank Mandiri, untuk segera melunasi kekurangan setoran, kami melakukannya segera. Seperti pesan sepupuku yang kerja di Depag urusan Haji. Katanya tak peduli nilai dolar berapa pun, segera lunasi. Memang rejeki kami saat pelunasan ONH tahun 2014 itu dolar tengah naik. Jadi jumlah yang harus dibayar suamiku waktu itu per orang sejumlah 13.690.000. Tinggal dikalikan dua aja untuk pelunasan kami berdua.

Alhamdulillah sejak bulan Februari 2014, Allah memberikan kami rejeki berlimpah. Seperti air mengalir, tak henti dikucurkan ke rekening tabunganku. Kebetulan saat itu pekerjaan proyek suami memang menggunakan tabunganku. Jadi aku tahu ketika ada duit masuk ke rekening. Tiap kali ada duit masuk, tak henti aku bersyukur dengan kemurahanNYA. 

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. At Thalaq: 2)
“Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya” (Q.S.53:39)

Dua ayat dalam Al Quran ini dipegang teguh oleh suami. Laki-laki yang aku anut kepasrahannya dalam hal rejeki. 

Haji adalah ibadah memenuhi panggilanNYA melaksanakan rukun, wajib, dan sunnah haji di Makkah dan shalat arba'in di Madinah. Tak cukup membawa bekal materi. Karena ibadah haji adalah ibadah yang butuh fisik yang bugar. Enggak cukup dengan berusia muda karena ada banyak orang tua yang lebih kuat berjalan sejauh 2 km di bawah terik mentari tanpa mengeluh.

Karena itu lah aku merasa terpukul saat pertama menyadari tak bisa berjalan dengan sempurna seperti sebelum terkilir. Niat haji pada usia muda adalah agar bisa membantu orang tua yang susah menemukan jalan, menggandengnya, seperti musnah dalam sekejap. 

Namun aku mengambil hikmah dengan kejadian ini. Manusia hanya berencana dengan segala keterbatasannya. Jangan pernah terbersit perasaan sombong menjadi yang terbaik, suka menolong karena ingin dianggap baik hati, dan seterusnya.

Kaki yang terkilir menjadi penyebab aku tak lagi mandiri. Semua urusanku dari berangkat ke asrama Donohudan Boyolali dan selama di tanah suci, dibantu suami.

Semua jemaah bahkan yang udah usia sepuh membawa sendiri koper tenteng, namun aku? Dibantu suami karena melihat untuk jalan pun masih agak kesakitan. Alhamdulillah saat itu  suamiku dalam keadaan sehat fisiknya. Jadi selama perpindahan bus, naik dan turun dari tangga pesawat, santai saja berjalan membawa dua koper tenteng milik kami. 

Ibadah Haji Sebagai Traveling Pertama Keluar Negeri

Sejak dulu aku ingin banget bisa berkunjung ke Singapura, dekat kan negeri ini jadi tentu tiketnya pun nggak mahal. Namun tiap kali suami diajak traveling ke negeri singa ini, selalu menolak. 

"Traveling pertama keluar negeri itu ke tanah suci, bukan ke Singapura, Malaysia atau negara mana aja,"

Huhuu, sedihnya mendengar ucapan suami. 

Namun ketika kakiku mendekat ke jendela kamar di hotel yang ada di Madinah, dan nampak menara Masjid Nabawi, ada satu rasa yang menyentuh hati. Terlebih saat akhirnya kakiku menginjakkan kaki di hamparan karpet di dalam masjid dengan pendingin udara. Saat dahi menyentuh karpet yang dingin dan menyejukkan. Tangis pun tumpah seketika.

Seketika aku menyadari, mungkin benar kata suamiku bahwa impian sejak awal menikah ingin berangkat haji selagi muda itu harus diwujudkan. Jangan kepengen yang lainnya dulu. 


Permata pengalamanku yang hingga hari ini masih menggetarkan hati saat mengenangnya kembali.

Dari keberangkatan, menginjakkan kaki di KAA Jedah, hatiku masih biasa aja. Hanya tak henti kalimat istighfar menemani sepanjang jalan.


Perjalanan panjang selama 8 jam dari Jedah menuju Madinah, aku dan suami hanya duduk dengan tetap berdzikir. Tak henti kami saling menatap dengan senyum tersemat, bahagia, haru, dan rasa takjub bisa menjalani ibadah haji berdua.

Bahkan saat harus berangkat dan pulang dari hotel menuju Masjid Nabawi dan balik lagi ke hotel, kami jalani dengan semangat. Meski matahari saat menjelang shalat Ashar sangat menyengat. Kami memang harus pulang karena akan makan siang dan istirahat sejenak.

 
Setiap selesai shalat Subuh, aku dan suami memilih jalan-jalan di sekitar masjid. Menjelajahi toko cendera mata, mencari sarapan yang cocok di lidah kami. 

Iya, saat itu rasanya seperti traveling. Sebagai jemaah haji gelombang pertama, keberangkatan kami bisa dibilang 20 hari lebih awal sebelum ibadah Armina (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). 

Ada banyak waktu untuk digunakan menjelajah kota Madinah dan Makkah. Menyusuri jalan yang panas dan berdebu. Namun juga menikmati kuliner yang kadang tak bersahabat. Tapi tetap saja aku menikmatinya karena penasaran dengan rasa nya yang khas dengan aroma rempah. 

Kadang kami melewati jalan berbeda saat pulang ke hotel. Melihat-lihat toko di sepanjang jalan, meski enggak berniat belanja. Tapi kami menikmati jalan berdua di kota Madinah yang ramah pada pejalan kaki.

Madinah dan Makkah, Saksi Cinta Kami

Setiap pukul 9 pagi, aku udah siap dengan perlengkapan keluar hotel menuju Masjidil Haram. Ada kacamata, masker N-95, Topi dengan pinggir lebar, dan ransel di punggung.

Ibadah haji seperti traveling
Laki-laki terbaik yang
Allah pilihkan untukku

Kamarku dan suami dipisahkan dari pavilyun berbeda. Tahun 2014 memang suami istri tidak tidur dalam satu kamar. 

Jadi penantian saat berangkat ke masjid seperti kencan, ada harap-harap cemas, deg-degan dan bahagia. Dan saat si dia muncul dengan ransel di punggung, hatiku berdebar. Apalagi tangannya segera menggamit jemariku dan menuntun langkahku keluar lift. Jantung berdetak tak biasa. 

Terlebih saat ada kabar ada jemaah dari Brebes, India, dan Pakistan yang tertabrak mobil saat menyeberang dekat hotel kami. Suami menggandengku kencang, tak ingin lepas. Ada rasa terlindungi ketika menyadari dia memegang amanah dari orang tuaku, kerabat, dan keluarga besar kami. 

"Titip Wati, Ar,"
Jaga Wati ya dek, jangan pernah berpisah dengan istrimu, selalu berdua terus ya. Itu adalah pesan dari keluargaku, ibu mertua, adik dan kakaknya, juga keluarga besar kami. 

Memang kakiku yang belum pulih dari terkilir, membuat kerabat, tetangga, dan keluarga agak cemas. 

Bisa jadi karena suami takut juga kehilangan aku. Kami sering mendengar cerita tentang suami istri yang terpisah karena naik taksi berdua. Jadi ceritanya waktu turun dari taksi, suami yang keluar duluan. Eh mendadak mobil melaju kencang padahal istrinya masih di dalam. Entah lah beritanya benar atau tidak, tapi selama di Makkah saya mendengar kejadian ini sampai tiga kali. 

Namun suami benar-benar menjadi pelindung yang setia selama di tanah suci. Bahkan dari tanah air saat di asrama haji, suami tak pernah berhenti menolongku dalam setiap prosesnya.

Jadi teringat saat di Arafah, dan aku menggendong sendiri koper tentengku untuk berlari ke bus. Suami sampai terperangah. Aku, yang selama perjalanan haji dari rumah, asrama haji, Jedah, di Madinah, dan bahkan selama shalat di Makkah selalu mendapat pertolongannya. Mendadak mandiri dengan membawa koper tenteng dan berlari pula.

Tentu semua itu berkat semangat ingin menjalani ibadah dengan sebaik-baiknya. Juga karena sebelum menjalankan umroh wajib di masjidil Haram, kakiku telah sembuh. 

Jadi dua hari menjelang berangkat ke Makkah, aku terpencar dengan teman jemaah perempuan satu regu. Entah mungkin ini takdir yang mempertemukan aku dan Ibu Supartini. Jemaah haji yang berasal dari Beji, Depok dan telah menyembuhkan engkel kaki dengan pijatannya yang lembut.

Silahkan baca : Malaikat Dari Depok

Seakan Allah SWT telah mempersiapkan kakiku agar bisa thawaf saat umroh wajib begitu tiba di Makkah. 

Aku yakin dengan pertolonganNYA yang dijanjikan. Allah tahu dengan niatku yang ingin bisa membantu orang tak berdaya saat berhaji. Namun Allah memberiku ujian berupa engkel kaki terkilir. Aku menganggap itu ujian kecil, keciiil banget. Ujian yang menjadikan aku senantiasa belajar bersabar. Dan sabar itu tak terbatas. Kalo terbatas namanya air kemasan yang pakai tutup. Airnya terbatas sesuai kemasannya.

Dan perjalanan ibadah hajiku dengan suami menjadi permata pengalaman, yang senantiasa menjadi kenangan kami. Sesekali kami ceritakan pada anak-anak, agar memupuk hasrat mereka untuk menyiapkan diri berkunjung ke tanah suci.


Tak ada yang tak mungkin kalo memang Allah azza wa jalla menghendaki. Jadi jangan pernah takut bermimpi untuk berangkat haji ke tanah suci. Ada banyak kisah haji yang menakjubkan yang pernah aku dengar. 

Dari teman satu perjalanan ibadah haji, yang mendadak berangkat karena harus menemani orang tuanya. Ada juga teman kuliah yang diberangkatkan oleh Kerajaan Arab Saudi karena sering menolong untuk memasangkan lampu teras di gedung dekat kantornya.

Mampukan diri dengan memenuhi panggilanNYA, insyaa Allah waktu terbaik akan tiba. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Rabu, 17 Juni 2020

New Normal Life, Menuju Kehidupan Produktif dan Aman di Tengah Pandemi Covid-19
Juni 17, 2020 36 Comments

New Normal Life, Menuju Kehidupan Produktif dan Aman  

New Normal Life

Assalamualaikum Sahabat. Senin tanggal 8 Juni 2020, seperti sore pada hari-hari sebelumnya. Saya duduk sendirian di depan smart TV di rumah, karena suami masih di tempat proyek pekerjaannya. Sementara si bungsu yang learn from home juga di depan laptop dengan tugas dari dosen mata kuliahnya.


Begitu Bapak Achmad Yurianto menerangkan bahwa dia ditemani oleh seorang dokter, saya kaget. Terus terang surprise juga menjumpai dokter perempuan yang mendampingi Bapak Yurianto adalah dr. Reisa Broto Asmoro. Dokter berparas cantik yang memiliki segudang prestasi.

Mata saya yang aslinya ngantuk jadi melek. Saya merasakan perubahan suasana saat menanti siaran pers terkait update informasi Covid-19. 

Alasannya adalah dr. Reisa menyampaikan informasi dengan intonasi yang enak didengar. Bukan bermaksud membandingkan dengan Bapak Yuri, tapi memang kenyataannya demikian. Selama ini saya tertarik menanti info seputar covid. Tapi tiap kali Bapak Yuri menyampaikan informasi selalu bikin saya ngantuk.

Saya memang selalu update info tentang covid-19 dari sumber berita yang valid. Salah satunya adalah duduk mendengarkan uraian dari jubir Gugus Tugas Covid-19. 

Namun ketika informasi disampaikan dengan nada bicara yang monoton, tentu bikin bosan juga. Meski saya tetep aja nonton tayangan ini tapi dari streaming di YouTube bukan di TV Nasional.


Adaptasi Kebiasaan Baru

Udah tahu kan kalo saat ini virus pandemi masih bercokol di negeri ini. Namun pemerintah memiliki pertimbangan bahwa sudah saatnya menggerakkan kembali roda perekonomian agar masyarakat tidak makin terpuruk. Salah satunya dengan mencanangkan masa new normal life, atau adaptasi kebiasaan baru di tengah masyarakat.

New normal life adalah perubahan pola hidup pada situasi pandemi covid-19 dengan adanya kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standard / protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. (diambil dari status dokter Reisa)

Menurut Achmad Yurianto selaku juru bicara pemerintah dalam percepatan penanganan COVID 19, tatanan kehidupan baru dimaknai sebagai kehidupan yang produktif dan aman dari wabah virus corona. 

Seperti yang kalian tahu, berbagai pihak bahkan WHO sekalipun tidak bisa memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir. Bahkan bisa jadi tahun 2021 virus ini mungkin masih ada. Jadi memang kita harus bisa menyesuaikan diri dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.  

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan beberapa syarat sebelum pemerintah menerapkan normal baru, antara lain: memastikan penularan terkendali, sistem kesehatan dalam keadaan baik, jaminan langkah pencegahan di lingkungan kerja, mencegah kasus impor covid, dan memastikan kesadaran dan partisipasi masyarakat. 

Dokter Reisa Broto Asmoro sendiri menjelaskan bahwa new normal life bisa juga diartikan perkantoran, industri, tempat kerja sektor jasa & perdagangan akan diperbolehkan dibuka kembali untuk mendukung keberlangsungan usaha perekonomian negara. Hal ini tentunya HARUS disertai dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin dari masyarakat.

New Normal Life

Dengan masih selalu menjaga kebersihan tangan. Seperti tidak menyentuh wajah dengan tangan yang kotor. Tetap mengenakan masker ketika berada di luar rumah. Yang tak kalah penting adalah memastikan penggunaannya dengan benar, yaitu menutup bagian hidung dan mulut. Dan masih harus jaga jarak minimal 1 hingga 2 meter.

Yang tak boleh dilupakan adalah tetap menerapkan Gaya Hidup Sehat seperti pola makan gizi seimbang, minum air mineral yang cukup, rutin berolahraga dan istirahat atau tidur yang cukup dan berkualitas. Jangan pula terlalu memikirkan pandemi hingga mengalami stress yang ujungnya bisa menyebabkan GERD. Ingat kan dengan Surya Saputra yang menderita GERD karena kepikiran dengan pandemi.

New Normal Life Sesuai Kondisi Setiap Daerah

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang tersebar namun memang yang terbanyak ada di Pulau Jawa. Dan penduduk yang mobile pun kebanyakan juga dari Pulau Jawa ini. 

Awalnya virus ini ditemukan juga di wilayah Depok, yang termasuk dekat dengan Jakarta. Tingkat kepadatan warga yang tinggal di Jabodetabek, juga mobilitas warga yang tinggi menggunakan angkutan massal membuat virus menyebar lebih cepat dan masif.

Sementara itu per hari Minggu (14/6/2020), jumlah pasien Covid-19 di Indonesia bertambah 857 orang. Dengan demikian secara akumulasi sejak pasien pertama diumumkan, 2 Maret 2020, total positif Covid-19 sebanyak 38.277 orang. Sebanyak 14.531 orang di antaranya telah dinyatakan sembuh dan 2.134 lainnya meninggal dunia.

Covid-19 telah tersebar di 34 provinsi dan 430 kabupaten/kota. Sebanyak 41.639 orang telah dinyatakan sebagai orang dalam pemantauan (ODP) dan 13.574 orang tercatat sebagai pasien dalam pengawasan (PDP).

Peningkatan PDP dan ODP akhir-akhir ini, juga adanya banyak kluster baru penyebaran virus disebabkan oleh mudik dan euforia pasar tradisional menjelang lebaran. Juga adanya silaturahmi yang masih dilakukan oleh sebagian warga negeri ini selama lebaran. 

Namun pemerintah tetap melakukan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tentunya dengan tetap menerapkan sistem zonasi berupa pembagian empat zone. Yaitu zona hijau, kuning, oranye, dan maerah yang masing-masing dijelaskan dengan solusi berbeda dalam penanganan covid-19.

Hal ini pun dengan tetap adanya koordinasi dengan kepala daerah tiap provinsi, kabupaten, dan kota. Ada tahapan yang harus dilakukan bersamaan dengan penerapan protokol kesehatan dan disiplin dari setiap individu masyarakat.


Berikut ini new normal life yang patut menjadi perhatian bagi masyarakat kita :

- New Normal Life Bagi Pekerja

New Normal Life

Sebagian besar perusahaan, kantor pemerintahan, dan tempat usaha udah mulai aktivitasnya. Pemerintah terus mengingatkan kepada para pekerja agar sebisa mungkin membawa peralatan makan dan minum sendiri. Tujuannya, agar menghindari penggunaan barang yang dipakai secara massal. Bahkan sebisa mungkin juga menyiapkan bekal makan dari rumah. Karena kalo bawa bekal dari masakan dapur sendiri, tentu udah yakin dengan kebersihan bahan makanannya.

Mengingat penyebaran virus corona melalui droplet atau percikan air liur dari orang y ang terinfeksi. Dan bisa menyebar apabila orang lain yang tidak terjangkit menghirup atau menyentuh wajah.
 
Protokol kesehatan harus selalu dilakukan, seperti mencuci tangan selama 40 detik, membersihkan ruas jari, sela jari, telapak, dan punggung tangan. Ada infografis nya di sini :

New Normal Life

Pihak perusahaan juga harus melakukan beberapa hal sebagai berikut :
- Penyemprotan disinfektan setiap pagi dan malam
- Melakukan pengecekan suhu tubuh setiap pekerja atau tamu yang datang ke kantor
- Menyediakan tempat cuci tangan dan sabun pembersih tangan
- Menyiapkan pintu masuk dan keluar yang berbeda
- Menyiapkan tempat kerja dengan sistem jaga jarak bagi pekerjanya

- New Normal Life di Pasar Tradisional

Sahabat tentu tahu kan kalo menjelang lebaran kemarin, pasar tradisional pengunjungnya berjubel. Saya sampai mikir, kok mereka nggak ingat kalo virus covid-19 masih ada di bumi ini, bahkan ada di dekat kita? Saya yakin antara seminggu sampai dua minggu setelah lebaran, kasus covid-19 pasti meningkat.

Benar sih dugaan saya dan tentu kalian juga sama kan? Kasus covid meningkat setiap hari bisa di atas 800 bahkan 1000 lebih orang positif. 

Seorang teman, kerabat, adik ipar yang bekerja sebagai tenaga kesehatan, di bagian laborat, bagian gizi, maupun dokter di rumah sakit swasta yang menjadi rujukan, mengeluh kelelahan. 

Bahkan pihak Dinas Kesehatan Kota Semarang sudah beberapa kali melakukan test swab di mall, pasar tradisional, dan tempat-tempat keramaian. Dari sini diketemukan orang positif covid, hingga ada supermarket dan beberapa pasar di Semarang yang ditutup selama beberapa hari.

Selama ini pihak pemerintah daerah sebenarnya sudah memberikan protokol kesehatan. Seperti pembeli dan pedagang wajib memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Namun tetap ada aja yang melanggar aturan ini.

New Normal Life

Mengingat cluster baru covid ditemukan di pasar tradisional, tentu harus ada pengaturan tambahan. Misalnya kalo tidak pakai masker, tidak boleh masuk pasar dan melakukan aktivitas di dalam. Ini berlaku untuk pedagang dan pembeli tentunya. Ada pengecekan suhu tubuh, dengan ketentuan batasan 38 derajat celsius dilarang masuk pasar.

Jumlah pengunjung pasar akan dibatasi. Jika dianggap terlalu penuh, pengunjung yang hendak masuk harus mengantre dulu hingga pengunjung yang di dalam keluar. Tirai plastik yang memisahkan pedagang dan pembeli harus terpasang.

Yang tak kalah penting adalah uang sebagai alat tukar, tidak boleh diserahkan langsung dari pembeli dan pedagang. Harus ada alat untuk meletakkan uang tersebut sehingga tidak menjadi perantara penyebaran virus.

- New Normal Life Bagi Anak Sekolah 

Memperhatikan pandemik wabah covid 19 yang masih belum melandai ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta kepada pemerintah agar tetap belajar dari rumah atau sekolah tetap ditutup.

Lebih dari 91% populasi siswa di dunia ini dipengaruhi oleh penutupan sekolah dampak pandemik COVID 19 (UNESCO). Survei KPAI mengungkapkan bahwa 139 (17,5%) dari 800 orang anak di Indonesia terpapar corona, 80% orang tua siswa menghendaki tetap belajar dari rumah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI hingga saat ini (4 Juni 2020) belum menetapkan waktu masuk kembali sekolah. Pembukaan kembali sekolah menunggu pertimbangan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19. Prinsipnya kesehatan dan keselamatan siswa menjadi prioritas utama.

Namun dari info update berita Gugus Tugas covid-19, kegiatan tatap muka di sekolah hanya boleh dilakukan di wilayah yang berstatus zona hijau. Hal ini juga diikuti dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan virus Corona atau covid-19 yang diatur secara ketat.

New Normal Life Anak Sekolah

Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, saat ini ada 6 persen populasi peserta didik di Indonesia yang berada di zona hijau.

Menteri Nadiem menjelaskan sejumlah kriteria bagi sekolah yang berada di zona hijau untuk kembali membuka pembelajaran tatap muka. Tentunya dengan persyaratan sebagai berikut :
1. Kota atau kabupaten berada di zona hijau
2. Ada ijin dari Pemerintah daerah, terutama dari tim gugus tugas covid-19
3. Satuan pendidikan atau sekolah wajib memenuhi semua daftar periksa dan telah siap untuk melakukan pembelajaran tatap muka.
4. Orangtua atau wali dari peserta didik setuju dengan pembelajaran tatap muka.

Menteri Nadiem menegaskan, keempat syarat tersebut wajib untuk dipenuhi sebelum sekolah kembali melakukan pembelajaran tatap muka.

"Tetapi sekolah tidak bisa memaksa murid yang orangtuanya tidak memperkenankan karena masih belum cukup merasa aman ke sekolah. Murid ini diperbolehkan belajar dari rumah."

___________________

Intinya new normal life tetap harus menerapkan protokol kesehatan. Melakukan pola hidup sehat, disiplin menjaga kebersihan. Karena hanya dengan disiplin, kita bisa membantu mencegah penyebaran covid-19. Tetap berkarya, semangat sehat dan jaga keselamatan bersama sahabat. Wassalamualaikum.

Sumber Materi :
- Rangkuman Update Info Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19
- https://www.liputan6.com/news/read/4262633/pedoman-lengkap-new-normal-life-untuk-karyawan-dan-perusahaan-saat-pandemi-covid-19
- https://www.jawapos.com/surabaya/12/06/2020/new-normal-belanja-di-pasar-tradisional-bayar-lewat-nampan/
- https://www.untan.ac.id/menyiapkan-pendidikan-menuju-normal-baru/
Reading Time:

Kamis, 28 Mei 2020

Mengajak Anak Minat Baca Buku? Mulai Dari Diri Sendiri, Moms
Mei 28, 2020 19 Comments

Mengajak Anak Minat Baca Buku? Mulai Dari Diri Sendiri

Minat Baca Buki

Assalamualaikum Sahabat. Menjadi orang tua itu mudah. Buktinya orang tua jaman dulu juga banyak yang memiliki anak-anak lebih dari dua dan sukses mengantarkan mereka hingga jadi orang. Maksudnya jadi orang adalah sukses bekerja dan berkeluarga.

Eh tapi itu stereotype orang sukses jaman dulu ya. Begitu pun kesuksesan mendidik anak, juga takarannya sama. Lulus sekolah/kuliah, bekerja, berkeluarga.

Namun sekarang jamannya udah beda, Moms. Dunia digital telah merenggut hal biasa yang dahulu merupakan nilai-nilai luhur keluarga. Waktu saya masih usia sekolah dasar, hal biasa melihat bapak dan ibu saya membaca di ruang tamu yang merangkap ruang keluarga. TV tidak dinyalakan, karena kami sedang belajar. Godaan terbesar bagi saya dan adik-adik adalah membaca buku atau majalah. Jadi kami inginnya segera menyelesaikan PR sekolah atau membaca buku pelajaran dulu.

Sementara bagi sebagian orang tua jaman dulu, ada juga yang memiliki anak suka dolan keluar rumah. Bisa jadi karena anak-anak ini tidak memiliki pilihan kegiatan di rumah, seperti baca buku. 

Parenting Jaman Dulu VS Jaman Now

Gaya pengasuhan orang tua saya tidak bisa dibandingkan dengan gaya saya dan suami tentunya. Saya tidak bakal mengadopsi gaya pengasuhan bapak ibu saya. Demikian pula suami, juga tidak akan mengadopsi seratus persen gaya pengasuhan orang tuanya.

Gaya pengasuhan orang tua jaman dahulu lebih mengedepankan disiplin yang kaku. Itu sih kebanyakan ya. Karena orang tua saya, khususnya bapak meski tegas tapi juga royal memberikan pujian. Hukuman yang diberlakukan di rumah adalah membantu urusan rumah. Seperti menyapu ruang tamu, atau mengepel lantai. 

Beda dengan ibu saya yang berwatak keras dan galak, bila kami tak menuruti kemauan beliau, ada tangan yang bakal mendarat di paha. Cukup sekali saya mengalami dicubit ibu, kapok. Saya belajar menjadi anak manis agar tak lagi kena hukuman dari ibu.

Namun galaknya ibu menjadi pelajaran juga bagi saya. Bahwa seorang anak itu nggak akan suka dengan suara galak apalagi hukuman berupa cubitan atau jeweran di telinga. 

Saya sejak menikah sudah mulai suka membaca majalah parenting. Waktu itu kebetulan begitu menikah selang dua bulan langsung hamil. Saya berlangganan majalah Ayah Bunda. Dari majalah ini lah saya belajar pengasuhan yang ideal sesuai jamannya.
 
Bagaimana mengajak anak-anak agar mau mendengar ucapan orang tua, mengajarkan disiplin, dan suka baca.

Meski beda pola asuh, pada intinya tujuannya sama. Menjadikan anak-anak sebagai orang yang memiliki budi pekerti luhur, bekerja dengan nilai-nilai sesuai norma dan agama, dan menghormati orang yang lebih tua.

Saya beruntung masih mengalami pengasuhan anak tanpa gangguan gadget. Tapi kami dulu udah memiliki mainan PS sih. Dan saya sukses juga mengajak anak-anak untuk disiplin mengatur waktu kapan harus belajar, main, dan kegiatan lainnya. 

Untuk jadwal PS saya tegaskan anak-anak boleh sepuasnya bermain saat hari Sabtu dan Minggu. Batasnya hari Minggu sore sebelum shalat Ashar. Milzam dan Naufal udah bisa ngatur waktu kapan mereka bermain secara bergiliran. Saya memang mengajak anak-anak agar bisa bermain bergantian, nggak boleh egois dan main sesukanya.

Nggak ada teriakan protes karena saudaranya curang, main lebih banyak waktu misalnya. Karena keduanya punya batas main, sejam atau setengah jam gitu. Dan biasanya sebelum selesai, yang sedang main akan ngasih tahu saudaranya kalo dia mau selesai main. Saya bisa senyum aja sambil ngawasi dari jauh dan melakukan kegiatan baca buku atau ngerjain pekerjaan rumah.

Baca Buku Adalah Cara Saya Untuk Mengenal Dunia

Sejak kecil saya suka membaca karena melihat orang tua yang begitu asik saat membaca buku atau majalah. Saya adalah sulung dari empat bersaudara, dengan dua adik perempuan dan satu adik lali-laki. Kami berempat doyan baca semua.

Terlebih orang tua menyediakan bacaan berupa majalah anak-anak pada masa itu. Tahu kah kamu dengan majalah TomTom, Kawanku, Kuncung, dan Bobo? Ah kalo Bobo sih sampai sekarang juga masih terbit ya.

Kesukaan membaca ini yang bikin saya bercita-cita pengen punya perpustakaan sendiri di rumah.

Saya bahkan punya cita-cita kalo sudah bekerja akan membeli satu novel setiap bulan. Hal ini karena sejak masih usia SD hingga kuliah, saat ingin membeli majalah atau novel, saya selalu menyisihkan uang sebelumnya. 

Karena orang tua memang tidak mampu membelikan majalah atau novel baru bagi saya dan adik-adik. Meski begitu saya dan adik-adik sangat senang membaca setiap buku atau majalah bekas yang dibelikan bapak. Terlebih rumah kami menjadi semacam tempat berkumpulnya teman main atau tetangga. Karena hanya di rumah kami lah, mereka bisa puas membaca.

Ya, saya tinggal di kampung pecinan di daerah Karanganyar, Randualas, Semarang Tengah. Kampung kecil dengan warga yang beragam, dari berbagai daerah. 

Bapak saya terkenal disiplin namun royal membelikan kami buku atau majalah untuk bacaan meski bekas. Karena di mata teman sepermainan saya dahulu, hanya rumah kami yang menyediakan bacaan dan bisa dipinjam. Tentunya dengan membacanya di rumah kami.

Kembali lagi pada pilihan bapak dan ibu saya yang menyediakan bacaan di rumah. Dengan buku atau majalah pilihan mereka agar terseleksi dan sesuai dengan usia saya dan adik-adik. Bapak memang tidak memiliki uang yang banyak, yang bisa membelikan benda yang kami inginkan. Namun bapak tahu dengan mengenalkan buku bacaan pada kami sejak dini, artinya juga mengenalkan dunia tanpa batas.

Seperti yang pernah bapak sampaikan, buku adalah jendela untuk saya bisa menatap dunia di luar sana yang sungguh teramat luas. Pengen melihat negeri Paman Sam? Cukup mencari buku tentang negeri adidaya itu dan baca isinya. Saya akan bisa mengenal tentang wilayahnya, cuaca, dan penduduknya.

Mengajarkan Minat Baca Buku, Mengenalkan Dunia Baru 

Tahun berlalu hingga saya pun berkeluarga dan tinggal di rumah yang cukup besar. Suami kebetulan sudah menabung sejak masih kerja dan membeli rumah pertama ini. 

Sejak masih pacaran pun suami tahu dengan minat baca saya. Meski sempat muncul cemburu kala melihat saya asik dengan buku bacaan. Lama kelamaan dia udah hapal tiap kali saya duduk dengan buku di tangan, artinya itu adalah me time yang tidak bisa diganggu. Hahahaa, bersyukur banget punya suami sebaik dia.

Karena suami tuh orang yang bertolak belakang dari saya, dia tidak suka baca buku. Misalkan melihat majalah Ayah Bunda, paling dia hanya membaca judulnya. Sungguh lucu banget ya keputusan Tuhan menjodohkan kami.

Namun ketika anak-anak mulai hadir dalam pernikahan kami, sungguh dia adalah laki-laki terbaik untuk saya. 

Karena setiap buku dan majalah yang saya beli, tak pernah ada larangan. Dia selalu siap mengantar ke toko buku, pameran buku, bahkan pernah juga sampai nemenin belanja di pameran buku BBW di Kota Jogja saat itu.

Minat Baca


Sejak awal memulai hubungan kasih, saya udah menjelaskannya bahwa buku adalah kecintaan saya sejak kecil yang ditanamkan orang tua. Jadi meski kelak menjadi suami saya, dia tak berhak melarang saya menghentikan minat baca ini. Terlebih karena saya ingin mendidik anak-anak kelak juga memiliki minat baca buku. Saya ingin mengikuti cara bapak dan ibu saya mendidik anak-anaknya mencintai buku. 

Meski saya tahu suami tidak suka baca buku atau majalah, tak mengapa. Sepanjang dia mendukung saya dan anak-anak untuk mencintai baca buku.

Alhamdulillah dukungannya luar biasa. Ada satu kejadian yang sempat bikin jantung kami dag dig dug. Yaitu si sulung yang pernah berjalan dari rumah di kawasan Pedurungan menuju Tlogosari (sekitar kurang lebih 4 km), hanya demi menyewa buku di salah satu kios sewa buku. 

Untuk anak usia 8 tahun, yang tak pernah pergi sendirian sejauh itu bahkan dengan jalan kaki, tentunya nekad banget. Gara-gara saya janji akan mengantar si sulung sewa buku, namun karena hujan akhirnya gagal. Jadi sehari kemudian dia berjalan kaki sendirian menuju Tlogosari.

Saya pun langsung pamit dari tempat kerja begitu mendapat kabar dari ART dan bapak tentang keberadaan si sulung yang tak ditemukan di rumah. Seluruh tetangga udah ditanya, bahkan teman mainnya juga semua ada di rumah.

Saya udah curiga bahwa dia pasti pergi ke kios sewa buku. Saya pun meminta bantuan adik laki-laki untuk menyusuri sepanjang jalan antara Tlogosari dan Pedurungan. Saya sendiri dari tempat kerja menuju kios sewa buku. Namun di sana tidak terlihat anak saya. 

"Dia naik apa kesini, Mba?" tanya penjaga kios yang udah hapal dengan kami, karena pelanggan lama.
"Bisa aja naik angkot, dia suka nyimpan duit saku yang seminggu sekali saya kasih,"

Akhirnya percuma juga saya duduk diam di kios buku. Saya hanya meminta pada petugas yang jaga kios agar menahan anak saya bila sudah tiba di sana. Saya juga memintanya untuk nelpon mengabarkan bila Milzam udah nyampe di kios.

Saya memutuskan untuk ikut menyusuri jalanan sepanjang Tlogosari sampai Pedurungan. Alhamdulillah saya terlatih untuk tidak gampang cemas bila menghadapi peristiwa yang bagi sebagian orang tua, terutama ibu-ibu bakal panik. Saya terlatih untuk berpikir sistematis dan logis, serta menyingkirkan perasaan bila menghadapi satu peristiwa yang butuh konsentrasi. 

Kondisi mental yang stabil, tidak gampang panik, dan mencemaskan satu hal buruk yang belum tentu terjadi, telah membuat saya selamat melakukan pencarian di jalan. Saya yakinkan diri bahwa ada malaikatNYA yang melindungi anak saya. Tentunya dzikir, istighfar, bacaan ayat kursi tak henti saya lantunkan. Sesekali saya berhenti di pinggir jalan untuk mengecek ponsel, mana tahu ada adik atau bapak, atau mbak penjaga kios menghubungi saya.

Saya udah dua kali menyusuri jalanan Soekarno Hatta dari Tlogosari menuju rumah di Pedurungan, dan balik lagi ke Tlogosari, ketika mendadak ada sms masuk.

Mbak, Milzam ada di bengkel, selamat, sehat, dan aman. Diantar oleh orang naik mobil yang mau kulakan di Johar

SMS yang masuk itu saya baca berulang. Saya sedang di jalan Soekarno Hatta, dan jarak menuju bengkel adik saya itu cukup 10 menit sampai. Namun saya tak ingin terburu-buru kesana. Saya mengucap syukur dan menyempatkan diri mengambil air untuk minum. Saya pun menelpon rumah, mengabarkan pada bapak dan ART yang sedang menanti kabar kami. Sengaja saya meminta bapak menunggu di rumah karena ada Naufal yang masih berusia 3 tahun. 

Sepanjang pencarian si sulung, saya baru mengabarkan suami saat tengah di kios sewa buku. Saya takut kalo suami pecah konsentrasinya karena sedang bekerja di proyek. Saya pun mengabarkan kabar gembira ini.

Saya memeluk si sulung begitu tiba di bengkel. Adik saya pun menuturkan kronologis bagaimana kejadian si sulung selama menghilang sekitar tiga jam itu.

Benar dugaan kami bahwa si sulung tak sabar menanti kepulangan saya dari tempat kerja. Sementara ketika meminta simbah kakung untuk mengantar ke Tlogosari, dia diminta bersabar karena adiknya lagi tidur. Kalo saat terbangun si adik tidak melihat kakak dan simbahnya, bisa marah karena merasa ditinggal sendiri di rumah meski ada mbak ART.

Jadi si sulung nekat berangkat sendiri dengan berjalan kaki menyusuri jalan fatmawati, menyeberang jalan brigjend. sudiarto, menuju jalan soekarno hatta. Kemudia dia mengambil arah jalan Syuhada, karena sering diajak simbah kakung naik motor lewat jalan itu tiap kali ke Tlogosari, rumah bapak ibu saya.

Capek pasti kan dan rasa haus mengantarkan si sulung mampir ke warung. Dan di sini lah dia dipertemukan dengan orang baik yang mengantarkannya ke bengkel adik saya atau om nya di jalan soekarno hatta.

Teman kerja, tetangga, dan seluruh kerabat kami yang mengetahu peristiwa ini cuma berkomentar sederhana. Bahwa orang baik akan selalu mendapat pertolongan ketika mengalami musibah. Kejadian si sulung ini katanya adalah bentuk pertolongan yang kami terima karena katanya kami suka bantuin orang lain. Masya Allah, saya hanya mengerjap menahan air mata saat mendengan komentar senada. 

Karena peristiwa ini, suami pun akhirnya membuatkan perpustakaan mini di rumah. Dia memesan rak buku sebanyak 6 buah, dan meminta saya membeli komik dan buku-buku kesukaan anak-anak, terutama si sulung. Nilainya cukup lumayan karena mencapai 9 jutaan. Maksudnya adalah agar di rumah ada perpustakaan tempat anak-anak bisa membaca buku sepuasnya. Jadi kami nggak perlu lagi menyewa buku di tempat lain. Cukup baca dengan pilihan buku yang ada di rumah aja.

Wah mendapatkan dana sebanyak itu tentu bikin saya kalap. Hampir tiap akhir pekan saya menyambangi toko buku di kota Semarang. Tiap hari Sabtu dan Minggu tiba, saya pun menuju toko buku. Memilih buku-buku kesukaan anak-anak. 

Minat Baca

Hingga hari ini dukungan suami pada minat baca buku saya dan anak-anak tak pernah luntur. Bahkan memerlukan diri untuk datang dari Bogor dinihari, dan pukul 10 pagi udah berangkat ke Jogja untuk belanja buku di BBW. Karena memang suami kebetulan pas pulang ke Semarang. Meski aslinya saya nggak tega meminta, bahkan sempat menolak dan nggak perlu lah sampai ke Jogja. 

Ternyata suami memberikan kejutan dengan mendadak ngajakin ke Jogja dan mengantar kami belanja buku di BBW Jogja. Uhhh senangnya saya dan anak-anak waktu itu.

Menurut suami, dukungannya itu mudah. Hanya memberikan materi atau mengantar. Lebih sulit mengajarkan anak-anak untuk suka baca buku. Karena suami tahu, bahwa orang-orang yang suka baca buku akan memiliki wawasan yang lebih luas. Orang yang suka baca juga memiliki kemampuan untuk memperlajari hal baru dengan lebih mudah. 

Memang dari pengalaman saat sekolah dulu, saya lebih mudah belajar di pelajaran yang membutuhkan hapalan. Karena terbiasa membaca buku dan novel yang tebal.

Cara Mengenalkan Minat Baca Buku Pada Anak 

Suami bilang, biarkan saja hanya dirinya yang tidak suka baca buku. Namun anak-anak harus mengikuti hobi ibunya yang suka baca. Hahahaa, lucu banget kan ucapan suami ini. Dia nggak tertarik menyukai bacaan karena menurutnya rumit. Enak mendengarkan apa yang sudah saya baca, katanya.

Beruntung deh kalo salah satu orang tua menyukai proses membaca, mengajarkan pada anak-anaknya juga. Karena saya tak bisa membayangkan bagaimana cara anak belajar bila dia tidak pernah diajarkan untuk suka membaca. Karena saya meyakini orang yang suka membaca, akan lebih mudah belajar di kelas. Dia lebih mudah menerima penjelasan guru di kelas.

Sejak anak-anak masih dalam kandungan, saya udah mengajarkan kesukaan membaca. Bukan hanya membaca buku fiksi, komik, majalah, atau novel anak-anak. Namun saya juga membacakan mereka ayat-ayat dalam Quran sebagai pengenalan bacaan yang pertama. 

Mengajak si sulung suka baca adalah hal mudah. Sangat mudah malah. Di dinding kamar, saya sengaja menempel kertas bertuliskan huruf warna warni yang saya bikin sendiri. Saya juga menempelkan halaman bonus dari majalah Ayah Bunda di dinding kamar. Tujuannya memang agar si sulung mudah diajak membaca sebelum tidur.

Tidak demikian halnya dengan adiknya, Naufal. Sejak kecil tiap kali saya ajak membaca, tangannya selalu meremas majalah. Gemes kan?!

Alhamdulillah meski begitu saya tak pernah lelah mengajaknya melihat gambar warna warni di buku atau majalah Bobo. Dan entah berapa majalah menjadi korban remasan tangannya. Hingga akhirnya ketika udah usia 5 tahun dia mulai suka baca komik yang isinya banyakan gambar dibanding tulisan. Dia bisa ketawa sendiri tiap buka komik. 

Sekarang si bungsu udah memiliki novel favorit. Sejak usia SMP dia suka novel karya Sherlock Holmes. Ya saya dan ayahnya menuruti aja keinginannya membeli misalkan sedang jalan-jalan di mall yang ada toko buku.

Minat baca
Si sulung dan buku koleksi
Beli di BBW Jogja

Mengajarkan anak memiliki minat baca buku memang harus ditumbuhkan sejak dini, sejak masih dalam kandungan. Kita baca buku-buku yang berwarna agar mulai mengenalkan juga macam warna sejak dini.

Seharusnya bagi ibu muda yang saat ini ingin mengajarkan anaknya menyukai bacaan, harus bersyukur. Karena penulis anak sekarang banyak hadir dengan buku-buku berkualitas. Jaman anak-anak saya hanya ada buku mewarnai dan majalah anak. Jadi saya pun memiih daftar bacaan berupa ensiklopedi binatang, alam, dan jenis lainnya. 

Memilihkan buku pun enggak harus sesuai keinginan kita. Saya dulu tidak memaksa si bungsu untuk menyukai buku favorit kakaknya. Tiap anak memiliki kecintaan tersendiri. Bahkan tidak mengapa untuk suka baca komik. Pilihkan aja komik yang sesuai usianya. Biarkan anak-anak memilih buku kesukaannya, karena yang penting kan minatnya udah dibimbing sejak dini. Wassalamualaikum.
Reading Time: