Assalamualaikum Besti. Jangan bosan ya kalo bertemu tulisan tentang jalan-jalan di blog ini. Karena saya memang masih ingin menceritakan Famtrip Kabupaten Semarang bareng Blogger, Vlogger, Influencer, dan GENPI. Tema famtrip Ayo Dolan Nang Kabupaten Semarang. Seru banget karena bisa kembali ikut event offline bareng teman-teman satu passion. Kunjungan ketiga di tempat cantik untuk menikmati senja yaitu di Bukit Cinta. Yang pasti seru karena sambil dengerin cerita legenda terciptanya rawa pening.
![]() |
| Foto by @Dotsemarang |
Untuk rangkaian dua tempat lainnya, bisa dibaca ceritanya di sini :
Watu Gajah Park, Wisata Air di Kabupaten Semarang
Pesona Garda Wisata Air Viral di Kabupaten Semarang
Perjalanan dari Pesona Garda menuju Bukit Cinta nggak lama, sekitar satu jam. Kami tiba di Bukit Cinta pukul 15.10 WIB. Udara sejuk menyergap tubuh begitu turun dari mobil minivan yang setia membawa kami serombongan. Beberapa pengunjung masih terlihat di lokasi tempat wisata. Ada yang berduaan, berombongan, saling bantu motret, atau sekadar duduk ngobrol dan menikmati suasana sore dengan mentari masih bersinar. Beruntung ya udara sejuk lumayan mengurangi panas dari matahari sore.
Memasuki gerbang tiket tatapan tertuju pada patung ikonik berwarna putih. Tempat yang selalu jadi spot foto favorit pengunjung. Patung naga dengan puncaknya adalah si baru klinting yang membawa lidi. Patung ini perwujudan legenda Baru Klinting, asal usul Rawa Pening.
Nah kalian penasaran nggak sih? Atau kalian udah pernah membaca atau siapa tahu pernah berkunjung ke rawa pening, dan mendengar cerita dari si bapak tour guide-nya?
Mendengar Cerita Legenda Baru Klinting, Asal Usul Rawa Pening
Rawa Pening adalah danau alam dengan luas 2.670 hektar. Dana yang berada di 4 kecamatan di Kabupaten Semarang, yaitu Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru. Letaknya berada di lembah di antara Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran.
Di pintu masuk ada Bapak Suyamto berdiri dan menyambut rombongan kami. Wah berasa menjadi tamu istimewa, hehee.
Selanjutnya kami diajak masuk ke dalam sebuah ruangan yang biasanya menjadi tempat singgah tamu yang datang ke Bukit Cinta. Bapak Suyamto adalah kepala UPTD Dinpar Kabupaten Semarang.
Menurut Bapak Suyatmo, destinasi wisata Bukit Cinta dijadikan daya tarik unggulan kedua setelah Candi Gedongsongo. Dua destinasi wisata ini dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang. Bedanya adalah Candi Gedongsongo sudah sangat dikenal dan menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Saat ini Bukit Cinta sudah bersolek, makin cantik dengan jalan dan dermaga yang bisa dijadikan spot foto. Potensi alam yang sudah dipermak dengan prasarana yang mendukung agar makin banyak wisatawan yang berkunjung.
Saat itu hadir pula Bapak Mugiono, pengelola destinasi wisata Bukit Cinta. Beliau menuturkan tentang legenda Rawa Pening. Kalo kalian pernah berkunjung ke Bukit Cinta, di sisi kanan setelah pintu masuk ada patung putih berbentuk mirip gunungan. Ada patung ular, anak kecil mengacungkan lidi (Baru Klinthing), ibu yang mendayung lesung. Selain itu ada juga berbagai relief yang mengisahkan tentang legenda Rawa Pening.
Bapak Mugiono menceritakan kalo legenda Rawa Pening itu ada 2 versi, yaitu Gumuk Sukorini dan Gumuk Sukorono. Dan satu lagi kisah Baru Klinitng. Ini kisahnya!
Dahulu ada perempuan cantik bernama Endang Sawitri yag sedang berguru pada Ki Hajar Selokantara. Saat itu sedang ada acara dan para wanita kebagian pekerjaan di dapur, mengolah masakan. Endang Sawitri meminjam pisau untuk memotong sayuran. Ki Hajar Salokantara meminjamkan pusaka miliknya dan berpesan agar tidak meletakkan pusaka di atas pangkuannya.
Karena fokus pada kegiatannya, Endang Sawitri lupa pesan sang guru. Dia melanggar pantangan yaitu meletakkan pusaka di atas pangkuannya. Endang Sawitri meminta maaf dan bilang pada sang guru agar mengampuninya. Ki Hajar Salokantara menjawab kalo hukuman sudah mulai berjalan. Ternyata Endang Sawitri hamil tanpa memiliki suami itu. Kemudian untuk menutup aibnya dia pun dinikahkan dengan Ki Hajar Salokantara.
Untuk menutup aibnya karena perutnya makin membesar, dia pun diasingkan ke Gedongsongo hingga akhirnya melahirkan. Proses kelahiran anaknya di Situs Air Suci Gedongsongi membuat Endang Sawitri bersedih mendapati wujud anaknya adalah bayi naga dan dinamakan Baru Klinting. Bayi naga ini sudah langsung bisa bicara.
Ketika udah agak besar, Baru Klinting pun bertanya kepada ibunya apakah dia memiliki ayah. Endang Sawitri menjawabnya dengan jujur bahwa ayah dari anaknya sedang bertapa di Gunung Telomoyo. Ia pun kemudian meminta Baru Klinting untuk menemui ayahnya sambil membawa tombak bernama Baru Klinting milik ayahnya sebagai bukti bahwa dia memang anaknya.
Sesampainya di lereng Gunung Telomoyo, Baru Klinting pun bertemu Ki Hajar yang disebut ayahnya. Sayangnya sang ayah belum mau mengakui dirinya sebagai anak. Ki Hajar meminta meminta Baru Klinting bertapa di gunung Kleker agar tubuhnya berubah menjadi manusia. Dia harus bisa melingkari gunung itu dengan tubuhnya. Namun Baru klinting yang licik menjulurkan lidahnya agar bisa menautkan kepala dan ekornya karena memang kurang sejengkal untuk melingkari gunung tersebut.
Saat Baru Klinting bertapa di Gunung Kleker, penduduk Desa Pathok mencacah tubuhnya. Saat itu mereka belum menemukan binatang yang dicari sebagai santapan dalam sebuah pesta panen. Saat tubuh Baru Klinting disiapkan sebagai santapan untuk pesta rakyat, arwah Baru Klinting menjelma menjadi seorang anak buruk rupa (anak bajang) dan bau amis.
Tubuh penuh sisik dengan wajah yang menyeramkan, dia pun menuju Desa Pathok untuk meminta makan. Namun warga desa mengusirnya karena bau tubuhnya yang amis. Hanya seorang nenek yang mau memberikan makan. Dan yang dimakannya adalah daging yang ditusuk dengan lidi. Oleh Baru Klinting. lidi itu ditancapkan di tengah desa. Ia meminta warga untuk mencabutnya yang sayangnya tak ada satu pun yang berhasil.
Dan ketika akhirnya Baru Klinting mencabut lidi tersebut, terdengar bunyi gemuruh dari air bah yang keluar dari dalam tanah. Air itu mengenggelamkan seluruh desa. Kemudian daerah tersebut dinamakan Rawa Pening.
Daya Tarik Bukit Cinta Rawa Pening
Daerah yang dulunya berupa bukit ini memang menjadi tempat yang paling keren untuk menatap Rawa Pening. Sekarang tempat ini memiliki beberapa spot foto yang seru untuk dinikmati wisatawan.
Kalian bisa mengeksplorasi kawasan Bukit Cinta seperti spot foto gembok cinta. Selain itu kalian bisa naik perahu motor keliling danau. Ada juga jet ski yang tentunya menjadikan adrenalin kalian makin berpacu saat di tengah rawa.
Bagi kalian yang hanya ingin menikmati keindahan danau, bisa duduk saja sambil menikmati hembusan angin. Ada banyak kursi yang disediakan oleh pengelola.
Fasilitas yang ada di Bukit Cinta antara lain parkir yang luas, mushola yang bersih, dan toilet.
Ada juga dua anjungan yaitu anjungan Brawijaya yang lebih besar, sementara yang lebih kecil anjungan Baru Klinting. Kemudian ada juga tempat bermain untuk anak-anak, pendopo, petilasan, dan museum ikan.
Bagi pengunjung yang ingin membeli jajanan atau oleh-oleh khas Kabupaten Semarang, bisa mampir ke kios-kios yang berjajar sebelum pintu masuk. Oleh-oleh khasnya seperti belut goreng, cetul goreng, grubi, enting-enting, keripik bayam, kering singkong pedas, dan masih ada lagi yang lainnya.
![]() |
| Foto by Erina |
Gimana bestie, tertarik berkunjung ke Bukit Cinta Rawa Pening? Yuk ajakin bestie kalian atau keluarga sembari menikmati suasana alam yang sejuk. Oia kalian bisa memilih berkunjung saat pagi atau sore hari agar tidak merasakan teriknya matahari. Wassalamualaikum.
Alamat : Desa Kebondowo, Kec. Banyubiru, Kab. Semarang, Jateng
Jam buka : 08.00-17.00 WIB
Website : www.kabsemarangtourism.com
Instagram : @bukitcinta.rp























