
Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri
Dari beberapa tahun terakhir, saya fokus pada pencapaian kesehatan keluarga. Bagi pembaca blog ini pasti tahu kalo saya sering berbagi cerita pengalaman rawat inap keluarga. Dari cerita pengalaman suami saat kena serangan jantung, recovery, dan sampai proses pasang ring dalam tahun yang sama.Ada juga cerita mendampingi anak saya cek EEG hingga terapi pengobatan epilepsi. Alhamdulillah tahun ini si sulung dinyatakan lulus, a.k.a ngga perlu lagi konsultasi bulanan. Tapi tetap harus konsumsi obat seumur hidup. Jadi dia ke rumah sakit cuma ambil jatah obatnya.
Oia suami saya juga udah lulus konsultasi di dokter spesialis jantung sejak tahun 2022. Karena kondisi jantung udah normal dan tidak butuh konsultasi lagi di rumah sakit. Namun pesan dokter, suami tetap harus jaga kesehatan dengan mengubah gaya hidup yang lebih sehat. Jangan sampai terjadi sumbatan lagi di arteri jantungnya. Jangan sampai nambah pasang ring lagi, In shaa Allah yaa.
Jadi apa aja yang udah dilakukan suami, termasuk saya juga tentunya. Karena saya ingin sehat menuju usia lansia (saat ini saya berusia 57 tahun) dan bisa tetap beraktivitas tanpa hambatan. Yuk saya ceritakan semua ikhtiar selama dua tahun terakhir.
- Memilah Makanan
Sebenarnya memilah makanan ini sudah kami lakukan setelah suami pulang dari perawatan di rumah sakit saat serangan jantung (tahun 2018). Saya menghilangkan makanan yang pengolahannya menggunakan minyak goreng sawit. Saya lebih suka mengolah makanan dengan cara mengukus, menumis tanpa minyak, dan mengurangi penggunakan santan.
Memang akan selalu ada up and down urusan memilah makanan ini. Apalagi ketika suami sudah mulai aktivitas bekerja. Kadang dia ada pekerjaan di luar kota dan saya tidak ikut menemani. Otomatis saya tidak bisa menyiapkan menu makan harian suami. Tapi suami udah konsisten memilih makanan yang aman demi tetap sehat. Jangan sampai nambah ring di jantungnya ya.
- Olahraga dan Aktivitas Fisik
Ada yang suka defensif kalo ditanya apakah olahraga menjadi bagian hidupnya. Nggak usah nyari contoh jauh jauh. Dulu pun saya juga berdalih kalo setiap hari saya udah sedari pagi beberes rumah. Dari depan sampai belakang bagian rumah, masih ditambah ngurus kebun mini di teras. Itu sama saja saya udah olahraga sedari pagi. Buktinya, keringat membasahi sebagian baju hingga ingin segera membersihkan diri.Ternyata apa yang saya ucapkan itu salah. Menurut KBBI, kegiatan yang saya lakukan adalah bagian dari aktivitas fisik.
Aktivitas fisik adalah gerakan tubuh apa pun yang membakar energi (misal: jalan kaki, bersih-bersih rumah, naik tangga), pekerjaan rumah lainnya.

Nah kalo olahraga adalah bentuk aktivitas fisik yang terstruktur, terencana, berulang, dan bertujuan untuk meningkatkan kebugaran. Seperti jogging, futsal, senam/gym, renang. Yang jelas, olahraga adalah aktivitas fisik, tapi tidak semua aktivitas fisik adalah olahraga. Karena olahraga memiliki aturan dan tujuan yang spesifik. Beda kan ya bila kita melakukan aktivitas fisik, karena merujuk pada rutinitas sehari-hari.
- Mengelola Stres
In this economy, hidup udah sulit. Jadi jalani hidup dengan slow living. Ah itu sih kalo kita udah merdeka secara finansial. Begitu mungkin jawaban netizen di negeri penuh drama ini.Tapi bisa loh kita kelola hidup ini dengan cara sederhana. Slow living tidak harus meninggalkan kota besar menuju kota kecil atau desa. Saya dan suami udah sejak tahun 2018 memilih hidup layaknya air mengalir. Namun tetap waspada dengan riak kecil yang menanti di depan mata. Prinsip saya setelah suami mengalami serangan jantung, untuk apa bekerja banting tulang bagai kuda duit banyak tapi mendadak sakit kritis?!
Hidup sederhana, bekerja tidak mencari uang, namun meraih keberkahan. Karena sebenarnya hidup hanya butuh makan secukupnya, bersosialisasi sewajarnya, dan meraih impian dengan memperbanyak doa.
Alhamdulillah tanpa bekerja keras, kami bisa hidup layak. Kami tetap menikmati hidup dengan jalan-jalan bersama kerabat dan teman dekat. Suami yang menularkan prinsip hidup bahwa saat bisa bersenang-senang, nikmati saja. Kalo ingin hidup dengan nyaman, kami tidak perlu memikirkan masalah yang sedang terjadi di luar sana. Fokus pada masalah dalam diri dan keluarga, kemudian cari solusinya yang paling mudah yang bisa dilakukan.
Satu hal yang kami lakukan sepanjang 31 tahun usia pernikahan, ikuti air mengalir. Tuhan sudah menyiapkan skenario hidup kita, jadi nggak perlu larut dalam masalah agar tetap tegak menjalani hidup ini.
![]() |
| Kami berempat usai tawaf wajib 01 Desember 2025 |
Jadi saya dan suami berangkat umroh bersama kakak dan suaminya. Sebuah perjalanan religi yang menyenangkan, menjadi quality time selama di tanah suci.
Bersyukur karena sebelum umroh ini, saya dan suami sudah rutin olahraga selama 5-6 hari dalam sepekan. Karena umroh ini sepertinya lebih terasa berat dibanding ibadah haji yang sudah kami lakukan tahun 2014. Muthowif kami bilang, karena keadaan jemaah yang begitu banyak.
Musim dingin menjadi waktu favorit jemaah dari berbagai belahan dunia untuk ibadah umroh. Dan saya mengkonfirmasi hal ini ketika bertemu jemaah dari Inggris. Dia bersama putri kecilnya dan ibunya shalat di rooftop Masjidil Haram. Sementara suaminya dan putra kecilnya entah di lantai berapa. Mereka memilih umroh pada akhir tahun karena anak-anaknya libur sekolah. Menyenangkan bisa umroh sekeluarga ya.
Tahun Baru 2026, Semangat Baru Menjemput Impian
Namun saya tumbuh sebagai pribadi yang berpikir optimis. Jadi tidak mengapa kan ya kalo ada beberapa mimpi yang saya sematkan dalam pikiran?! Iya saya simpan saja mimpi-mimpi saya. Tapi suami dan anak-anak tahu kok apa impian saya tahun depan.
Ambil Peluang dan Wujudkan Mimpimu
























