My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Indonesia Berjaya
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Berjaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Berjaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 September 2020

Ajarkan Anak Suka Membaca, Mendidik Karakter Menjadi Bijak Bermedia Sosial
September 07, 2020 11 Comments


Ajarkan Anak suka baca


Assalamualaikum Sahabat. Masih kah ada yang nonton TV nasional? Kalo dari teman, kerabat, dan kenalan saya, masih ada beberapa orang yang masih nonton tayangan TV nasional. Namun lebih banyak lagi yang tidak pernah nonton dengan alasan tayangan tidak menarik, tidak mendidik, dan berbagai alasan lain.

Maklum deh kalo banyak kalangan yang tidak tertarik nonton TV nasional. Bayangkan aja sinetron yang tayang juga seringnya merupakan tontonan dengan alur cerita tidak masuk akal. 

Eh ini bukan kata saya loh. Namun komentar dari mereka yang sempat nonton beberapa dan enggan lagi meneruskannya. Kalo saya memang udah lama nggak nonton tv jadi penilaiannya tentu tidak bisa dipercaya. Teman saya ini bisa menceritakan dengan detil, tapi tak ketinggalan pula kalimat protesnya tentang sinetron Indonesia.

"Kalo enggak suka, ngapain nonton?"

"Karena aku nggak bisa nonton tv kayak pilihanmu, bisa nonton film luar dari channel berbayar,"

Hmm, iya sih. Kalo pilihan tayangan tidak ada bisa saja mereka terpaksa menonton apa yang ada. Tentu dengan ngomel-ngomel tidak puas setelah melihat tayangan sinetron. Akhirnya pilihan lain adalah nonton video di youtube ataupun di media sosial lainnya.  

Dan teman saya terkaget-kaget menjumpai kalimat komentar di bawah video. Kalimat kasar, tanpa empati, sesuka hati menulis komentar tak peduli lagi dengan sopan santun berbahasa tulisan.

"Ada apa dengan bangsa ini, Wat? Enggak peduli usia berapa, mereka sama menuliskan komentar yang tidak sopan. Nggak pantas dibaca anak usia di bawah umur,"

Saya hanya mampu terdiam. Karena memang benar dengan ucapan teman saya ini. Setiap orang bebas menuliskan komentar apapun itu tanpa memedulikan siapa yang membaca, atau orang yang dikomentari. Intinya kebanyakan mereka tak lagi memiliki rasa malu bila menulis hal buruk di kolom komentar.


Indonesia Kehilangan Sastrawan Termasyur

Dalam kurun lima tahun, coba ingat-ingat ada berapa sastrawan negeri ini yang sudah meninggalkan dunia fana ini.

Kalian tidak mengingatnya sama sekali? Bikin sedih nih.

Bagus deh bila kalian masih ada yang teringat, meski satu atau dua sastrawan yang mendahului kita. Seperti akhir tahun 2018, ada Eyang Nh. Dini yang telah meninggal dunia. Kemudian tahun ini sastrawan Sapardi Djoko Damono, dan disusul dalam waktu berdekatan adalah Ajip Rosidi pada  bulan Juli 2020 ini.


Ketika kabar duka tentang sastrawan yang meninggal dunia, tanggapan tiap orang tak sama tentu. Mereka yang pernah bertemu, berbincang, atau bahkan dekat hubungannya, bakal terhenyak sedih. Mengingat kembali saat perjumpaan dalam satu waktu yang pasti menyisakan kenangan terbaik dari almarhum atau almarhumah.

Bagi mereka yang tak pernah tertarik membaca karya sastra, kepergian sosok sastrawan bisa jadi tak akan meninggalkan kesan. Terlebih bila seumur hidupnya tak pernah sekalipun memiliki kesukaan baca buku atau karya sastra lainnya, makin tak peduli tentunya.

Saya pernah mendengar kisah seorang penulis di negeri Jiran yang mendapat dukungan dari pemerintah nya berupa penghargaan dan materi. Kalo dilihat dengan hasil karyanya tentu masih kalah jauh dibanding penulis karya sastra di Indonesia. Penulis di sana sudah dianggap sebagai sastrawan dan kehidupannya mendapat perhatian dari pemerintahnya.

Bayangkan dengan kisah hidup eyang Nh. Dini yang sempat nggak punya rumah dulu. Hingga mendapatkan bantuan dari GKR Hemas dengan menempati sebuah rumah di daerah Jogja. Meski akhirnya beliau kemudian mendapat perhatian dari berbagai pihak dan ananda nya, hingga akhir hayatnya.

Besok, tanggal 8 September diperingati sebagai Hari Aksara Internasional. Hari Aksara Internasional atau Hari Melek Huruf Sedunia ditetapkan oleh Unesco pada 17 November 1965. Peringatan ini diniatkan untuk mengingatkan kita bahwa melek aksara ini sangat penting bagi kehidupan.

Bayangkan aja ya misalkan kamu sama sekali nggak suka baca. Melihat berita di sosial media, bisa-bisa menanggapi dengan nyinyir. Padahal kadang isi berita tak sesuai dengan judul. Penulis sengaja memilih judul yang bombastis agar banyak yang baca. 


Saya dan Buku, Tak Akan Terpisahkan 

Iqra'... baca lah, merupakan kata pertama dari wahyu yang disampaikan Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw. Makna Iqra' ada 4, yaitu bagaimana cara kita membaca Quran dan mengkhatamkannya. Insyaalah meski tak tahu artinya, asalkan bacaannya benar akan mendapat pahala.

Iqra' dalam makna kedua adalah bagaimana mendalami Al Quran dengan mengetahui tafsirnya. Makna ketiga adalah bagaimana kita menghayati serta menjadikan pedoman hidup sehari-hari. Dan makna keempat adalah sebagai menyingkap tabir-tabir dalam Quran. 

Seperti yang dituturkan oleh Quraish Shihab, dengan membaca kemajuan seta peradaban bisa tercipta.

Orang yang suka membaca, akan memiliki perasaan dan imajinasi yang menyatu. Dari membaca bisa tercipta ide kreatif yang tak terbatas. 

Saya sendiri suka membaca sejak masih kecil karena melihat orang tua yang juga menyukai bacaan. Ada koran, majalah, dan buku-buku di rumah masa kecil. Hal ini menumbuhkan minat baca saya dan adik-adik hingga sekarang ketika kami udah dewasa dan berkeluarga.

Kesukaan baca saya juga didukung ketika kelas 2 SMP mendapat tugas membuat resensi buku sastra. Guru membebaskan kami memilih sendiri buku sastra yang tersedia di perpustakaan sekolah. Saat itu saya memilih buku berjudul Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli.

Kisah Siti Nurbaya yang begitu berwarna, telah membangkitkan minat saya membaca karya sastra lainnya. Usai menuliskan resensi Kasih Tak Sampai, saya dan beberapa teman menjadi penghuni tetap perpustakaan sekolah demi menuntaskan seluruh bacaan karya sastra yang ada di sana.

Saya begitu haus dan ingin menghabiskan seluruh buku yang tak ada di rumah. Sebuah pengalaman hidup yang menemani saya bertumbuh dan menciptakan kepribadian yang tentu tak sama dengan orang lain. 

"Ajarkan sastra pada anak-anakmu, agar yang pengecut menjadi pemberani" --Umar Bin Khattab.

Pernah kalian membaca satu ungkapan dari khalifah dan sahabat Rasulullah SAW ini? 

Umar Bin Khattab sangat mengapresiasi sastra pada zamannya. Menurut beliau, bangsa Arab membutuhkan hal ini. Karena sastra sangat berhubungan pada semangat dan kepahlawanan. 



Karya sastra biasanya jujur dan berani dalam penggunaan kata-kata. Sastrawan pintar meramu kata tanpa harus takut dengan ancaman pembaca maupun penguasa. Terlihat sekali dari beberapa karya sastra yang ada di Indonesia. Seperti milik Pramoedya Ananta Toer yanng novelnya salah satunya menceritakan kejatuhan dan keterpencilan manusia. Dari tulisannya ini, dia mendekam di penjara.

Anak-Anak dan Buku Pilihan

Mengingat pengalaman yang menyenangkan dengan buku, saya pun mengajak anak-anak agar suka baca juga. Suami saya orang yang kurang suka baca buku. Baca majalah atau koran selalu yang berhubungan dengan otomotif. Tapi bacaan lainnya, dia nggak menyukainya.

Namun saya masih bersyukur karena keinginan mengenalkan anak-anak pada buku, sangat didukung oleh suami. Dia tahu bagaimana kecintaan saya pada buku, telah mengantarkan pengalaman yang kaya dan menjadi hal baru.

Pengalaman memiliki karya tulisan yang beberapa kali mejeng di surat kabar dan majalah. Bahkan saat ini saya bisa berkarya menjadi blogger dari kesukaan membaca tema buku apa aja.

Mengenalkan buku pada anak-anak memiliki pengalaman yang berbeda. Saya pernah menuliskannya dalam artikel di sini.

Silahkan baca : Mengajak Anak Minat Baca Buku

Saat ini buku koleksi mereka mulai beragam. Si sulung dengan karya penulis favoritnya, yaitu Pramoedya Ananta Toer. Sementara si bungsu suka karya penulis Sir Arthur Conan Doyle, yaitu Sherlock Holmes. 


Selain itu ada beberapa koleksi buku yang ada di rak buku di kamar masing-masing. Saya tak pernah memaksakan pada anak-anak, buku mana yang bagus. Saya hanya sebagai pengamat yang akan meneliti terlebih dulu apakah bukunya pantas untuk jadi bacaan mereka.

Sebagai ibu, saya ingin memposisikan diri sebagai teman mencari buku kesukaan. Tentu aja kegiatan ini menjadi kesenangan kami karena bakal ada yang jadi tukang traktir jajan buku. Siapa lagi kalo bukan si bapak, hahahaa.

Tugas saya mengenalkan anak-anak untuk mencintai buku dan membacanya, udah terlaksanakan. Saya puas mereka suka baca buku dan tulisan yang berkualitas di website. 

Saya telah mengajarkan pada keduanya bahwa menulis itu butuh keberanian untuk memamerkan kreativitas seseorang. Jadi jangan gampang menghujat tulisan seseorang. Saya lebih menyukai anak-anak memiliki karya yang bisa dibanggakan, bukan menjadi netizen nyinyir.

Syukurlah mereka bukan termasuk golongan netizen nyinyir. Ada satu pengalaman dari putra salah seorang teman yang masuk penjara gara-gara status di media sosial. Saya jadikan pengalaman ini sebagai pembelajaran anak-anak agar bijak bermedia sosial. 

Salah satu cara bijak menggunakan media sosial adalah dengan suka membaca. Dan saya yakin anak-anak bijak menggunakan media sosial masing-masing. 

Namun saya masih tetap menginginkan agar lebih banyak lagi generasi muda yang suka baca. Nggak hanya membaca judulnya dan kemudian berkomentar sesuka hati. 

Jalan yang saya pilih adalah dengan menjadi blogger. Saya memiliki kebebasan menulis apa aja, namun tentunya yang bermanfaat untuk pembaca.

Ajarkan anak suka baca


Artikel di blog ini yang mengusung niche lifestyle, menjadikan saya mudah memilih tema. Coba deh kamu cari di arsip. Mau baca cerita horor dari pengalaman keluarga dan tetangga pun ada juga. Atau pengalaman nonton film yang saya tulis review nya, bisa jadi pilihan bagi yang suka nonton.

Menuliskan pengalaman yang saya alami, ternyata bisa menjadi dokumentasi perjalanan hidup. Anak-anak dan cucu, bahkan keluarga besar saya bisa turut membaca cerita saya. Bukan kah saat ini udah era digital, di mana setiap orang lebih menyuka cari informasi dari gawai?!

Itu lah sebabnya sesekali saya suka berbagi link artikel blog di WAG keluarga, hahahaa.

Paling enggak, saya mengajarkan bahwa cari dan baca lah berita dari sumber yang valid. Saya insyaa Allah akan menuliskan artikel tanpa hoax. Artikel kesehatan yang saya tulis berdasarkan pengalaman sendiri pun, juga menyisipkan keterangan dari dokter yang merawat keluarga.



Saya memang bukan seorang sastrawan. Namun dengan menuliskan pengalaman hidup saya dan keluarga di blog ini, harapannya adalah menjadi pembelajaran pembaca. Dan saya senang ketika ada orang yang tidak saya kenal, menghubungi via email. Bertanya lokasi tempat wisata yang saya tulis, cara menangani anak kejang karena mengidap epilepsi, dan ucapan terima kasih mereka karena beberapa hal yang udah saya tuliskan.

Semua feedback pembaca blog ini dari apa yang saya tuliskan, nilainya sangat berharga. Menjadi amunisi bagi saya untuk terus menulis hingga Tuhan tak lagi mengijinkan saya. Wassalamualaikum.


Referensi :

- https://www.liputan6.com/ramadan/read/3972313/quraish-shihab-menyelami-makna-iqra-wahyu-pertama-yang-diterima-nabi-muhammad-saw

- https://www.kompasiana.com/lanyhardila/5bfaabb86ddcae139b412056/peran-sastra-dalam-membentuk-karakter-siswa?


#sastraindonesia #akoer #Indonesia Berjaya #sembutopia #sembuhkanindonesia #hariaksara #internationalliteracyday #hariaksarainternasional

Reading Time:

Minggu, 16 Agustus 2020

Menjaga Cinta Pada Bumi Pertiwi Dengan Melakukan Karya Baik di Tengah Pandemi
Agustus 16, 2020 20 Comments



Assalamualaikum Sahabat. Tanggal 17 Agustus 2020 semestinya menjadi perayaan akbar negeri kita tercinta. Di usia yang ke-75 tahun ini, Indonesia dengan segala sumber daya alamnya yang melimpah telah melampaui berbagai tantangan.

Semestinya tahun ini menjadi perayaan ulang tahun Kemerdekaan RI yang meriah. Usia 75 tahun bagi manusia tentunya sudah pensiun. Namun kalo untuk ukuran negara, usia 75 tahun adalah saatnya mengawali kejayaan. Mewujudkan cita-cita bangsa yang sekian tahun telah diimpikan.


Muluk-muluk gak sih harapan saya sebagai warga bangsa ini? 

Enggak dong, harapan itu doa yang pengennya terwujud. Yakaaaannn!


Covid-19 Menyerbu Ibarat Badai Yang Menghantam Seluruh Warga Dunia

Sayangnya covid-19 telah meluluhlantakkan rencana itu.  Hingga hari ini, tanggal 13 Agustus 2020, jumlah warga yang terpapar Covid-19 di Indonesia sudah mencapai bilangan ratusan ribu positif. Katanya korban meninggal pun yang tertinggi seASIA Tenggara.

data infografis diambil dari
Gugus Tugas Covid-19 pusat

Virus corona telah menghempaskan semua angan, mimpi besar, bahkan rencana yang telah disusun jauh hari. Tanpa ada kabar, mendadak semua rencana buyar. Ada resepsi pernikahan yang mesti ditunda bahkan dibatalkan karena adanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Kabar duka mereka yang menjadi korban covid-19, so sad.


Semua orang harus jaga jarak. Paling aman jaga jarak saat bertemu awalnya minimal satu meter. Sekarang menjadi dua meter. Ini yang terpaksa masih kerja di luar rumah.


Semua orang harus mengenakan masker, lebih perhatian pada kebersihan dengan mencuci tangan setiap usai menyentuh permukaan benda, menjaga kesehatan. Orang juga banyak yang peduli dengan menjaga pola makannya. Kembali ke alam dengan mengonsumsi minuman herbal. 


Saya sendiri yang terbiasa menyediakan wedang uwuh, rempah segar dengan membeli di pasar, menjadi makin rajin menyiapkan minuman untuk keluarga. Makin rajin bikin jus sebagai selingan ngemil buah.


Corona juga makan korban mereka yang kena pemutusan hubungan kerja. Banyak pekerja lepas ataupun tetap yang terpaksa kehilangan pekerjaannya. Perusahaan yang dengan berat hati harus melepas pekerjanya dengan alasan keberatan biaya operasional usahanya.


Nggak ada yang bisa disalahkan karena memang pandemi dan baru pertama terjadi. Bahkan di seluruh dunia, ada banyak negara yang telah terpapar virus ini.  Keluarga terpecah, ayah di kota A, ibu dan anak-anak di kota G. Ada anak yang nggak bisa pulang karena sekolah, kampus, pondok pesantrennya tak mengijinkannya balik ke kota asal. Yah... Virus Corona lah yang mampu merenggut kebahagiaan keluarga untuk berkumpul bersama.


Bahkan hari raya dari umat Hindu, Budha, Islam, dan Katholik mesti dirayakan dari rumah saja. Baru sekali ini kita menikmati suasana shalat Ied dengan imam dari suami atau ayah kita.


Namun sampai kapan pandemi ini berjalan? Sampai kapan kita betah di rumah aja? Sampai kapan kalian yang harus kerja di luar rumah tetap menjaga protokol kesehatan?


Ada banyak pertanyaan yang tak mampu kita jawab dengan benar. Namun sebagai makhluk yang paling mudah dan cepat beradaptasi, kita wajib tetap ikhtiar menjaga kesehatan, beradaptasi dengan sejumlah kebiasaan baru, dan tetap berkarya.


Tentang kebiasan baru, saya pernah nulis di sini :

New Normal Life Agar Tetap Produktif Berkarya


Hikmah Corona di Bumi Pertiwi Indonesia  

Sahabat tahu kah, kalo di balik musibah pandemi corona ada hikmah yang bikin hati menghangat?


Saya ingin menuliskannya dalam artikel ini karena agar cerita saat pandemi terjadi di muka bumi ini, khususnya di Indonesia, masih terselip kabar bahagia. Apa sih cerita yang bikin hati saya menghangat?


Pertama saya ingin menuturkan bahwa ada lembaga amal berbasis di Inggris, yatu Charities Aid Foundation (CAF). Dalam World Giving Index Report di 2018, Indonesia berada di urutan teratas negara paling dermawan di dunia.


Nah kabar berikutnya makin menghangatkan hati yang lara karena corona. Sebelum laporan edisi kesembilan, CAF telah mengumpulkan data dari 146 negara. Mereka melakukan survei sepanjang 2017, untuk periode 2013-2017. (https://www.bbc.com)


Rangking ini disusun dari masing-masing negara dengan menilai berdasarkan tiga tindakan yang berkaitan dengan donasi atau amal. Tiga hal ini yaitu membantu orang tak dikenal, memberi sumbangan uang, dan menjadi sukarelawan. Dan hasilnya adalah Indonesia berada di urutan pertama dengan skor akumulasi terbanyak dari ketiga aspek tersebut.


Berdasarkan data yang disajikan, Indonesia mendapat nilai sebesar 46 persen untuk membantu orang tak dikenal, 78 persen untuk memberi sumbangan, dan 53 persen untuk menjadi sukarelawan. 


Meski sekarang ini warga dunia pun mulai banyak yang melakukan hal serupa. Karena bencana terjadi di mana-mana, mampu membuka pintu hati banyak warga dunia untuk melonggarkan hati dan sikapnya untuk berdonasi.


Di samping itu, semenjak ada corona makin banyak pula warga bumi ini yang mencari kegiatan agar tetap waras. 


- Orang Keranjingan Olahraga

Yang bosen di rumah aja, mulai mencari alasan keluar rumah bukan untuk urusan kerja. Namun dengan alasan mencari keringat, menambah imunitas tubuh agar stamina bagus, maka mereka pun keluar rumah untuk olah raga.


Ada yang sekadar jalan santai, lari (asal jangan lari dari kenyataan hidup), gowes, atau pilates. Bahkan kabarnya toko sepeda tak lagi memiliki stok jualan karena diborong oleh rang-orang yang pengen gowes. 

Foto lama 
diambil sebelum pandemi

Nggak apa sih menurut saya, karena masing-masing orang memiliki tingkat kemampuan mengelola stres karena corona yang tak sama. Ada yang cukup di rumah aja dan sibuk baking, cooking, berkebun, baca buku dari koleksi yang mangkrak di lemari hingga berdebu. Ada juga yang mesti mencari tempat sunyi di dekat rumah untuk menemukan ide kreatifnya. 


Semua itu dilakukan agar terlepas dari stres menghadapi pandemi yang tak kunjung usai. Mereka ingin menjaga imunitasnya agar tetap bakoh dan sehat sentosa. Mereka ingin tetap bisa berkarya di tengah pandemi. 


- Harga Sembako Stabil, Cenderung Murah 

Yang tak disangka adalah sembako mudah didapatkan. Hanya gula pasir tertentu aja yang susah diperoleh, entah kenapa. 


Namun untuk bahan pokok lainnya bisa diperoleh dengan mudah baik di pasar tradisional, supermarket, maupun minimarket, atau bahkan di warung tetangga. 


Eh ada yang komentar kalo ada beberapa sembako yang meroket harganya. Iyaa, seperti bawang bombay yang mendadak sebiji aja udah seharga 20 ribu rupiah. Ya udah lah nggak usah masak pakai bawang bombay. Ada bawang merah yang merupakan produk lokal dan bisa ngebantu petani bumi pertiwi.


Mungkin ada juga sembako lain yang ganti harga karena banyak alasan. Seperti kurangnya pasokan, entah karena aslinya memang produksi menurun atau disembunyikan oleh oknum tak bertanggung jawab.


Namun kebanyakan sembako lainnya cenderung murah dan mudah didapat. Bahkan menjelang lebaran aja, harga cabe merah yang montok itu enggak naik banyak seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya pun bisa menyiapkan masakan sambel goreng kesukaan keluarga tanpa baper. Alhamdulillah.


- Menyukai Kegiatan Berkebun

Ah ini dia kegiatan yang paling saya sukai selama pandemi. Bukan karena ikut-ikutan berkebun agar tidak pengen dolan jauh. Tapi memang sejak nikah saya suka merawat tanaman. 

Hepi banget dibuatkan rak
tanaman ini sama paksuami

Dan setiap hari Minggu selalu menjadi waktu yang saya nantikan. Karena dari Senin hingga Sabtu, saya bekerja. Hari Minggu menjadi waktu untuk salah satu kegiatan berikut ini : belanja tanaman, membersihkan gulma/merawat tanaman, mengatur pot-pot, mengganti pot atau mengisi media tanaman yang baru, dan memecah indukan tanaman. 


Saya sampai segitunya merawat koleksi tanaman, bisa seharian loh. Tentu saja di luar ngurus keluarga, seperti menyiapkan masakan, ngajak anak-anak bermain. Karena saya nggak mungkin bisa menjalankan hobi bila urusan kewajiban sebagai ibu bangsa enggak beres.


Tahu nggak sih, kalo tukang jualan tanaman curhat bahwa stok tanaman mereka mengalir lancar kayak air di sungai Serayu?!


Rata-rata mereka menuturkan bahwa tiap hari selalu ada pembeli tanaman. Kebanyakan kolektor baru, pecinta tanaman yang baru menyukai kegiatan berkebun. Nggak apa-apa, justru makin banyak pecinta tanaman baru bermunculan, makiin bagus untuk kondisi bumi pertiwi.


Makin banyak tanaman numbuh, teras rumah sempit yang lebih hijau dengan tanaman, mampu menyumbang oksigen untuk lingkungan sekitar.


Saya Tetap Berkarya Menjadi Content Creator


Masa awal pandemi sempat gak ada tawaran kerjaan menulis konten. Bukannya sedih, saya justru mengisi waktu dengan tetap berkarya. Tetap nulis artikel untuk mengisi blog ini dengan artikel organik. 


Saya memang aneh sih kalo job sepi justru seneng. Karena saya bisa menyeimbangkan artikel di blog nggak hanya tulisan-tulisan berbayar. Tapi juga ada artikel murni karena ingin sharing tak dibayar. Meski tulisan berbayar pun merupakan hasil pengalaman saya.


Bisa kok kalian cek di sisi kanan blog, bulan Maret ada 9 artikel yang isinya masih seimbang antar artikel berbayar dengan organik.


Bulan April lebih banyak artikel organik karena ada kegiatan one day one post dengan satu komunitas blogger.


Jadi meski pandemi dan berkurang tawaran kerja sebagai content kreator, bukan berarti karya saya terhenti. Saya bisa menuliskan review film favorit, cerita berkebun, nulis resep masakan favorit, dan masih ada ide nulis lainnya untuk mengisi blog ini.


Gitu deh Sahabat. Apapun yang menjadi kegiatan kalian, lakukan dengan hati bahagia, tanpa terpaksa, tetap berkarya dalam suasana positif. Tebar virus positif dengan sharing kegiatan yang produktif agar bumi pertiwi ikut tersenyum. 


Indonesia memiliki kekayaan yang tidak dimiliki oleh negara lain. Pulau belasan ribu yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Beragam suku dengan bahasa daerah yang banyak pula dialek dan kaya dengan logat yang unik. Kekayaan alam dalam berbagai bentuk, dari hasil bumi (fosil), pemandangan alam, yang bisa dijadikan modal hidup warganya.


Indonesia Berjaya, Dirgahayu Negriku


Dalam suasana masih pandemi pula, kita masih tetap merayakan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Saya yang sesekali suka nonton langsung upacara penurunan bendera Merah Putih di Lapangan Simpang Lima Semarang, tahun ini ragu kesana. 

Foto tahun lalu,
Menyaksikan upacara bendera

Sepertinya lebih baik memilih di rumah aja untuk menyaksikan detik-detik pengibaran Sang Saka Merah Putih. Begitu pula saat penurunan bendera. 


Malam ini biasanya tahun-tahun lalu menjadi hari tersibuk di lingkungan RT maupun RW tempat tinggal saya. Pasti begitu juga di rumah kalian. Membuat tumpeng, masak bersama dengan tetangga di salah satu rumah warga menjadi kegiatan rutin tahunan yang sayang untuk dilewatkan. 


Tahun ini tak ada malam tirakatan mengenang pendiri bangsa menyiapkan dan menanti detik-detik menggaungkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.


Di tempat saya rencananya masih ada syukuran selamatan setelah shalat Isya, khusus bapak-bapak. Berdoa bersama dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Mengenakan masker, jaga jarak, dan segera pulang ke rumah setelah doa selesai.


Yang masak nasi kuning pun hanya tiga orang ibu yang diberikan tanggung jawab. Tak ada masak bersama meski gotong royong mengumpulkan uang untuk biaya menyiapkan nasi kuning tetap dilakukan. Ketua RW kami nggak ingin meniadakan malam tirakatan. Syukuran untuk mengenang jasa pahlawan pejuang kemerdekaan tetap dilakukan dengan kondisi terbatas dan aturan yang berlaku. 


Bagaimana malam tirakatan di tempat kalian, Sahabat?


Salam Cinta Indonesia. Salam damai dalam perbedaan. Selamat Ulang Tahun negeri yang kaya, dengan penduduk yang murah senyum dan suka menolong.  Yakin lah Indonesia Tetap Berjaya. Wassalamualaikum.

#Indonesia Berjaya #HUTRI75 #NKRI #sembutopia #rajinmakanbuah #stayhealthy #staysafe 

Reading Time: