Assalamualaikum Sahabat. Terlahir di kawasan pecinan Kota Semarang bikin indera pencecap saya dimanjakan oleh jajanan dan masakan yang kaya rasa. Kalo bapak saya bilang, yang penting halal ayo dinikmati aja. Masa kanak-kanak saya memiliki pengalaman kuliner yang mengesankan. Hingga ketika usia dewasa diajak kulineran pun, lidah saya akan membandingkan rasanya bila menikmati masakan yang sama.
Kawasan pecinan memang surganya kuliner di Kota Semarang pada masa itu. Warga asli Semarang akan menjejakkan kakinya ke kawasan ini untuk menikmati kuliner yang khas dan jarang ada di kawasan lainnya di kota ini. Saya ngomongin kuliner sebelum tahun 2000an ya. Kalo sekarang kuliner enggak lagi didominasi kawasan tengah kota, karena udah menyebar di pinggir kota seiring kemajuan teknologi.
Salah satu jajanan yang hingga hari ini masih suka saya kangenin adalah bolu jadoel. Salah satunya adalah kue gandjel rel.
Bagi warga Kota Semarang dan mereka yang pernah berkunjug ke kota ini, tentu udah tahu dengan kue gandjel rel. Bentuknya khas dengan tekstur yang padat dan berwarna coklat cenderung gelap. Bagi kalian yang belum pernah menyicipi kue ini, yuk bayangkan dulu rasa dan rupanya dengan membaca tulisan ini lebih lanjut.
Sekilas Tentang Kue Gandjel Rel
Kue Gandjel Rel berbentuk kotak, berwarna cokelat dan bertabur wijen serta bercita rasa kayu manis. Kue ganjel rel memiliki tekstur yang padat, seperti kue bantat, dan agak sulit dikonsumsi. Kalian yang udah merasakan kue Gandjel Rel versi jadul akan menceritakan gimana buliran kue itu akan nyelip di sela gigi. Juga ada rasa lengket dari lapisan atasnya, yang bikin kue ini memiliki cita rasa khas.
Namun tekstur kue yang padat ini menurut kata ahli kue justru bagus untuk pencernaan. Kue ini memang tidak lembut layaknya kue berbahan tepung teripu lainnya. Dan menikmati sepotong ukuran kecil pun udah bikin perut kenyang. Karena saat menelan potongan demi potongan kue dibutuhkan segelas air minum. Saya biasanya menyiapkan teh panas kental dan agak manis. Ahhh jadi kangen kan pengen ngemil kue yang seret dan bikin lengket di gigi ini, hehehee.
Jaman saya kecil, untuk menikmati kue gandjel rel cukup pergi ke pasar di kawasan pecinan. Bisa di pasar Gang Baru atau di Karang Kembang, pasar yang dekat dengan rumah masa kecil saya. Di lapak penjual jajanan biasanya mudah ditemukan kue seret ini.
Kue gandjel rel ini juga selalu menjadi rebutan masyarakat Semarang saat perayaan Dugderan. Yaitu tradisi menjelang pengumuman awal bulan Ramadhan. Biasanya akan ada kirab yang dipimpin oleh Bupati Semarang yang biasanya diperankan oleh Walikota yang menjabat.
![]() |
| Kue gandjelrel produk Toasty Deli untuk Kirab Dugderan |
Nah biasanya saat kirab ini akan dibagikan kue gandjel rel pada warga yang hadir. Tradisi ini selalu dinantikan karena hanya terjadi setahun sekali. Ribuan warga bahkan rela berdesakan untuk mendapatkan kue tersebut karena dipercaya mampu memperkuat diri ketika menjalankan ibadah puasa.
Saya sendiri lupa, apakah tradisi membagikan kue gandjel rel ini memang udah ada sejak masa lampau. Karena saya tidak pernah mendapatkan bagian dari pembagian kue tersebut. Saya memang rutin ke Dugderan saat anak-anak hingga usia sekolah. Tak lupa pasti nonton kirabnya karena kegiatan ini jadi keasikan tersendiri. Menanti pengumuman kapan mulai mengawali puasa ramadhan.
Tapi begitu bekerja malah udah nggak pernah lagi ke Dugderan. Sementara untuk rebutan kue pun bukan kebiasaan saya dan keluarga. Apalagi harga kue gandjel rel yang dijajakan di lapak di pasar tradisional dekat rumah juga nggak mahal. Biasanya dijajakan dalam potongan kecil ukuran 3x4 cm, harganya sekitar 3.500 (tahun 2018). Harga kue gandjel rel saat saya masih kecil juga udah lupa berapa, tapi yang pasti harganya terjangkau.
Kue Gandjel Rel Toasty Deli
Satu hari seorang teman bercerita kalo di Semarang ada produksi kue gandjel rel dengan tekstur yang lembut dan tidak padat. Penasaran dong jadinya. Karena saya udah nyoba beberapa kue gandjel rel dari beberapa produsen dan masih ada rasa ngganjel di gigi, hihiii.
Nah saya pun nyobain kue gandjelrel produk dari Toasty Deli. Apakah benar teksturnya lembut, enggak seperti kue jadoel yang saya kenal selama ini?
Pertama kali memegang kotak kue gandjelrel Toasty Deli, nggak sabar pengen bergegas menyicipinya. Kemasannya warna cream dengan bagian atas tertulis :
Toasted! Soft Gandjelrel Khas Semarang
Cita Rasa Klasik Tempo Doeloe
Di bagian muka berupa motif batik dengan penjelasan seperti ini :
Gandjelrel adalah kudapan manis rasa rempah kayu manis, yang dinamakan oleh karena bentuknya yang menyerupakai rel kereta api. Toasted! Gandjelrel dibuat lebih empuk untuk menambah kenikmatan santapan kue klasik tempo dulu ini
Ahhh, karena saya sedang puasa, jadi ya hanya dipotong-potong dulu. Menjelang maghrib saya udah siapkan irisan kue gandjelrel beserta teh manis yang panas. Di rumah saya udah jadi tradisi untuk menyiapkan teh panas untuk berbuka puasa. Jadi begitu adzan maghrib berkumandang, kami serumah bergegas membatalkan puasa dengan teh manis dan seiris kue gandjelrel dari Toasty Deli.
Ternyata sesuai dengan yang disebutkan di atas, kue gandjelrel Toasty Deli ini teksturnya lembut. Kalo kalian udah pernah makan banana cake atau kue marmer, ya seperti itu lah teksturnya. Pantas aja kalo Toasty Deli mendeklarasikannya sebagai Soft Gandjelrel.
Cita rasa klasik dengan komposisi bahan yang terdiri dari campuran gula palem, telur, tepung terigu, gula, margarin, ada tepung pati jagung, rempah, kayu manis, pengembang dan susu. Terlihat sih dari bahan-bahannya merupakan pilihan hingga menciptkan kue yang lembut dan empuknya khas.
Anak-anak saya selama ini nggak pernah mau makan kue gandjel rel jadul. Tapi ketika saya minta mereka cicipi kue dari Toasty Deli ini, langsung berubah pendapat. Mereka semua suka, karena rempahnya pas.
Nah yang paling bikin saya amazing itu, kue gandjelrel Toasty Deli ini memiliki kadar kolesterol hampir 0 di setiap potongannya. Saya rekomendasikan kue ini buat kamu yang diet kolesterol, aman untuk nyicipinya. Oia untuk harga kue gandjelrel ini 1 loyang adalah 35 ribu rupiah.
Toasty Deli adalah sebuah small-team bakery yang mengedepankan nilai kebersamaan. Mereka memproduksi makanan dengan sepenuh perhatian. Dan pastinya akan bisa memberikan kehangatan dan menyatukan selera konsumen dalam setiap sajiannya.
Bagi Toasty Deli produk yang disajikan nilainya harus cukup baik untuk dikonsumsi oleh keluarga mereka juga. Karena itu Toasty Deli memperhatikan segala aspek dari kualitas, nutrisi, higienitas dan keterjangkauan harga produknya.
Bagelen Toasty Deli
Hayooo siapa yang doyan banget ngemil bagelen? Nah, Toasty Deli juga memproduksi roti kering ini. Bagelen ini menjadi favorit saya sejak dulu, kue kering jadul yang pasti menjadi bekal di kost-an juga, hahahaa.
Dipatok dengan harga cuma 25 ribu rupiah satu kotaknya. Kemasannya warna unyu gitu. Dan ada penjelasan kalo bagelen merupakan produk homemade dengan resep keluarga sejak tahun 1967.
Roti kering renyah dengan aroma mentega, dipadu manisnya gula dan toping keju parut, merupakan perpaduan rasa klasik yang tak lekang oleh waktu. Dalam kemasan juga disarankan untuk menikmatinya bareng secangkir teh atau kopi.
Ahhh saya sendiri kemarin menikmati roti kering bagelen dengan segelas teh kental panas dan agak manis. Hmmm, surga bangeeet pagi-pagi ngemil seperti ini tanpa memikirkan pekerjaan rumah. Ya iya lah karena semua pekerjaan rumah udah rampung sebelum saya menikmati bagelen yang renyah dan gurih ini.
Roti Manis Toasty Deli
Toasty Deli tentu saja tidak hanya memproduksi kue Soft Gandjelrel. Kemarin anak-anak saya juga sempat mencoba beberapa jenis roti manisnya. Mereka cepat banget mengambil beberapa jenis, hikss. Dan saya cuma kebagian satu yaitu roti isi daging asap yang rasanya gurih dengan campuran keju.
Anak-anak yang udah sering makan roti manis pun sepakat, bahwa roti produk Toasty Deli ini empuk dan enak. Ada juga roti sisir gula isiannya itu mentega dengan gula dan cukup banyaaakk. Jadi ingat kan saat masih usia SD, Bapak membuatkan saya roti ini untuk sarapan.
Untuk roti manis itu ada 20 varian rasa dengan harga mulai 5 ribu rupiah, murah kaaan. Varian rasa yang kami coba ada pisang keju, coklat, sisir klasik, dan kacang.
Nah kalo kalian tinggal di Semarang bisa tuh menyambangi tokonya langsung. Toasty Deli terletak di kawasan perumahan di Semarang Barat, gampang ditemukan.
Namun kalo kalian takut keluar rumah dengan kondisi pandemi sekarang, bisa kok pesan melalui whatsApp. Atau kalian juga bisa memesan di Shopee. Untuk pengantaran Toasty Deli menggunakan ojek online atau ekspedisi same day. Bila rumah kalian hanya berjarak 8 km, ada free delivery dengan minimal pembelian sebesar 50 ribu rupiah. Murah yaa.
Apakah saya akan membeli lagi kue gandjelrel dan teman-temannya ini? Oiya dong pastinya. Karena kemarin saya nggak kebagian roti sisir klasik dan kacang. Itu varian rasa favorit saya, sahabat. Anak-anak dan suami kok gercep banget ya mindahin roti ke perut mereka, wkwkwkk. Buka puasa Asyura kemarin kami udah kenyang makan kue dan roti.
Ayok kita belanja kue gandjelrel dan roti kering bagelen dulu. Jangan sampai ketinggalan juga roti manisnya yang empuk. Sampai jumpa dalam cerita pengalaman nyobain kuliner khas Semarang berikutnya, Sahabat. Wassalamualaikum.
Toasty Deli Cake & Bakery
Jl. Padma Boulevard, Tambakharjo, Kec. Semarang Barat,
Kota Semarang
Telepon: 0878-7111-1044
Buka Senin-Sabtu Pukul 07.00-19.00 WIB











