"Enggaaak... aku gak mau!"
Akhirnya kata sepakat dia tak akan membelikan aku kursi roda.
Awal Dari Seluruh Kisah Perjalanan Haji Tahun 1435 H/2014 M
Cerita di atas adalah fakta yang terjadi pada diriku, menjelang empat bulan sebelum berangkat haji tahun 2014. Tepatnya pada awal bulan Mei ketika akan kembali menuju tempat parkir Masjid Agung Demak.
Aku dan suami mengantarkan bapak yang punya nadzar, ingin shalat di Masjid Agung Demak setelah sembuh. 7 bulan sebelumnya bapak menjalani operasi prostat dan kencing batu dalam satu waktu. Proses pemulihannya ada sekitar 4 empat bulan. Jauh sebelum operasi, bapak pernah berujar ingin shalat di Masjid Agung Demak kalo sembuh dari sakit prostat.
Nah saat berjalan menuju tempat parkir, aku terjatuh. Dan tidak bisa berjalan seperti sebelumnya. Kondisi tubuh kayak pohon pisang itu, yang ditebang dan langsung roboh. Suami melihat kakiku ternyata terkilir. Jadi jalan sisa menuju mobil di parkiran itu suami dan bapak menggendongku.
Asliii... sebenarnya aku malu dilihat sesama pengunjung. Tapi rasa sakit di pergelangan kaki kiri mengalahkan rasa malu.
Sore itu juga aku diantar menuju tukang ahli sangkal putung di kawasan Bangetayu, satu jalur menuju pulang ke rumah. Ada suara 'krak' saat si bapak membetulkan kondisi engkel kaki kiri. Huhuuu, sakitnya setelah itu baru terasa. Dan sampai di rumah baru terlihat bagian atas telapak kaki hingga pergelangan ternyata bengkak.
Dua hari kemudian suami mengantarku ke tempat pijat Bu Siti di kawasan Banyumanik, Semarang. Di sini udah kayak klinik dokter, ada kamar rawat inap, ruang tunggu untuk pasien rawat jalan, kasir, toilet, dan mushola.
Selama menajalani rawat jalan, ada sekitar 6 kali aku kesana. Ada teman yang baik hati mengambilkan nomer antrian karena rumahnya dekat dengan tempat bu Siti. Jadi suami Winda, teman penulis ini usai shalat Subuh mampir ke tempat Bu Siti untuk ambil nomer antrian. Tentu saja aku selalu dapat nomer 1. Alhamdulillah semoga Allah azza wa jalla memberikan balasan kebaikan berlipat kali untuk Winda dan suami.
Nah jelang dua bulan sebelum berangkat haji, kakiku masih belum sembuh sempurna. Aku mulai belajar shalat seperti biasanya. Ternyata ketika ditekuk saat duduk tahiyat awal, kaki kiri terasa nyeri. Aku sungguh nggak kuat, jadi duduknya senyamanku aja. Sebelumnya aku shalat di kursi selama 2 bulanan.
Ini yang jadi penyebab suami ingin membeli kursi roda untuk aktivitasku nanti di tanah suci. Dia membayangkan dengan kaki seperti itu, mana bisa aku melaksanakan ibadah dari rukun, wajib, dan sunnah haji?
Niatnya baik karena ingin meringankan rasa sakit tiap kali kaki digunakan untuk jalan atau shalat. Namun aku sendiri memiliki keyakinan bahwa Allah Maha Penyembuh. Insyaa Allah nanti akan diobati ketika akan melaksanakan ibadah di tanah suci.
Apalagi Bu Siti bilang kakiku udah mulai pulih. Misalkan saat ibadah di tanah suci nanti kakiku sakitnya kambuh, pasti ada orang yang akan menolongku. Ucapan Bu Siti menenangkan hati dan aku percaya.
Berangkat Haji Bersama Suami
 |
Aku dan suami bersama keluarga
|
Hari keberangkatan tiba, Sabtu tanggl 7 September 2014 menjadi kenangan yang selalu tersemat dalam ingatanku. Suami pasti juga merasakannya karena dia terlihat pendiam sejak di dalam bus yang mengantarkan regu 1, rombongan 1 kloter 17 SOC Boyolali Jawa Tengah.
Suami mendaftar dengan menyetor BPIH sejumlah 25 juta per orang. Saat itu bulan Juli 2010 dan kami langsung mendapat nomor porsi keberangkatan tahun 2014. Uang 50 juta itu kami dapatkan setelah menjual rumah di Pedurungan.
Ketika tahun 2014 tiba dan suami mendapat telepon dari Bank Mandiri, untuk segera melunasi kekurangan setoran, kami melakukannya segera. Seperti pesan sepupuku yang kerja di Depag urusan Haji. Katanya tak peduli nilai dolar berapa pun, segera lunasi. Memang rejeki kami saat pelunasan ONH tahun 2014 itu dolar tengah naik. Jadi jumlah yang harus dibayar suamiku waktu itu per orang sejumlah 13.690.000. Tinggal dikalikan dua aja untuk pelunasan kami berdua.
Alhamdulillah sejak bulan Februari 2014, Allah memberikan kami rejeki berlimpah. Seperti air mengalir, tak henti dikucurkan ke rekening tabunganku. Kebetulan saat itu pekerjaan proyek suami memang menggunakan tabunganku. Jadi aku tahu ketika ada duit masuk ke rekening. Tiap kali ada duit masuk, tak henti aku bersyukur dengan kemurahanNYA.
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. At Thalaq: 2)
“Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya” (Q.S.53:39)
Dua ayat dalam Al Quran ini dipegang teguh oleh suami. Laki-laki yang aku anut kepasrahannya dalam hal rejeki.
Haji adalah ibadah memenuhi panggilanNYA melaksanakan rukun, wajib, dan sunnah haji di Makkah dan shalat arba'in di Madinah. Tak cukup membawa bekal materi. Karena ibadah haji adalah ibadah yang butuh fisik yang bugar. Enggak cukup dengan berusia muda karena ada banyak orang tua yang lebih kuat berjalan sejauh 2 km di bawah terik mentari tanpa mengeluh.
Karena itu lah aku merasa terpukul saat pertama menyadari tak bisa berjalan dengan sempurna seperti sebelum terkilir. Niat haji pada usia muda adalah agar bisa membantu orang tua yang susah menemukan jalan, menggandengnya, seperti musnah dalam sekejap.
Namun aku mengambil hikmah dengan kejadian ini. Manusia hanya berencana dengan segala keterbatasannya. Jangan pernah terbersit perasaan sombong menjadi yang terbaik, suka menolong karena ingin dianggap baik hati, dan seterusnya.
Kaki yang terkilir menjadi penyebab aku tak lagi mandiri. Semua urusanku dari berangkat ke asrama Donohudan Boyolali dan selama di tanah suci, dibantu suami.
Semua jemaah bahkan yang udah usia sepuh membawa sendiri koper tenteng, namun aku? Dibantu suami karena melihat untuk jalan pun masih agak kesakitan. Alhamdulillah saat itu suamiku dalam keadaan sehat fisiknya. Jadi selama perpindahan bus, naik dan turun dari tangga pesawat, santai saja berjalan membawa dua koper tenteng milik kami.
Ibadah Haji Sebagai Traveling Pertama Keluar Negeri
Sejak dulu aku ingin banget bisa berkunjung ke Singapura, dekat kan negeri ini jadi tentu tiketnya pun nggak mahal. Namun tiap kali suami diajak traveling ke negeri singa ini, selalu menolak.
"Traveling pertama keluar negeri itu ke tanah suci, bukan ke Singapura, Malaysia atau negara mana aja,"
Huhuu, sedihnya mendengar ucapan suami.
Namun ketika kakiku mendekat ke jendela kamar di hotel yang ada di Madinah, dan nampak menara Masjid Nabawi, ada satu rasa yang menyentuh hati. Terlebih saat akhirnya kakiku menginjakkan kaki di hamparan karpet di dalam masjid dengan pendingin udara. Saat dahi menyentuh karpet yang dingin dan menyejukkan. Tangis pun tumpah seketika.
Seketika aku menyadari, mungkin benar kata suamiku bahwa impian sejak awal menikah ingin berangkat haji selagi muda itu harus diwujudkan. Jangan kepengen yang lainnya dulu.
Dari keberangkatan, menginjakkan kaki di KAA Jedah, hatiku masih biasa aja. Hanya tak henti kalimat istighfar menemani sepanjang jalan.
Perjalanan panjang selama 8 jam dari Jedah menuju Madinah, aku dan suami hanya duduk dengan tetap berdzikir. Tak henti kami saling menatap dengan senyum tersemat, bahagia, haru, dan rasa takjub bisa menjalani ibadah haji berdua.
Bahkan saat harus berangkat dan pulang dari hotel menuju Masjid Nabawi dan balik lagi ke hotel, kami jalani dengan semangat. Meski matahari saat menjelang shalat Ashar sangat menyengat. Kami memang harus pulang karena akan makan siang dan istirahat sejenak.
Setiap selesai shalat Subuh, aku dan suami memilih jalan-jalan di sekitar masjid. Menjelajahi toko cendera mata, mencari sarapan yang cocok di lidah kami.
Iya, saat itu rasanya seperti traveling. Sebagai jemaah haji gelombang pertama, keberangkatan kami bisa dibilang 20 hari lebih awal sebelum ibadah Armina (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Ada banyak waktu untuk digunakan menjelajah kota Madinah dan Makkah. Menyusuri jalan yang panas dan berdebu. Namun juga menikmati kuliner yang kadang tak bersahabat. Tapi tetap saja aku menikmatinya karena penasaran dengan rasa nya yang khas dengan aroma rempah.
Kadang kami melewati jalan berbeda saat pulang ke hotel. Melihat-lihat toko di sepanjang jalan, meski enggak berniat belanja. Tapi kami menikmati jalan berdua di kota Madinah yang ramah pada pejalan kaki.
Madinah dan Makkah, Saksi Cinta Kami
Setiap pukul 9 pagi, aku udah siap dengan perlengkapan keluar hotel menuju Masjidil Haram. Ada kacamata, masker N-95, Topi dengan pinggir lebar, dan ransel di punggung.
 |
Laki-laki terbaik yang Allah pilihkan untukku |
Kamarku dan suami dipisahkan dari pavilyun berbeda. Tahun 2014 memang suami istri tidak tidur dalam satu kamar.
Jadi penantian saat berangkat ke masjid seperti kencan, ada harap-harap cemas, deg-degan dan bahagia. Dan saat si dia muncul dengan ransel di punggung, hatiku berdebar. Apalagi tangannya segera menggamit jemariku dan menuntun langkahku keluar lift. Jantung berdetak tak biasa.
Terlebih saat ada kabar ada jemaah dari Brebes, India, dan Pakistan yang tertabrak mobil saat menyeberang dekat hotel kami. Suami menggandengku kencang, tak ingin lepas. Ada rasa terlindungi ketika menyadari dia memegang amanah dari orang tuaku, kerabat, dan keluarga besar kami.
"Titip Wati, Ar,"
Jaga Wati ya dek, jangan pernah berpisah dengan istrimu, selalu berdua terus ya. Itu adalah pesan dari keluargaku, ibu mertua, adik dan kakaknya, juga keluarga besar kami.
Memang kakiku yang belum pulih dari terkilir, membuat kerabat, tetangga, dan keluarga agak cemas.
Bisa jadi karena suami takut juga kehilangan aku. Kami sering mendengar cerita tentang suami istri yang terpisah karena naik taksi berdua. Jadi ceritanya waktu turun dari taksi, suami yang keluar duluan. Eh mendadak mobil melaju kencang padahal istrinya masih di dalam. Entah lah beritanya benar atau tidak, tapi selama di Makkah saya mendengar kejadian ini sampai tiga kali.
Namun suami benar-benar menjadi pelindung yang setia selama di tanah suci. Bahkan dari tanah air saat di asrama haji, suami tak pernah berhenti menolongku dalam setiap prosesnya.
Jadi teringat saat di Arafah, dan aku menggendong sendiri koper tentengku untuk berlari ke bus. Suami sampai terperangah. Aku, yang selama perjalanan haji dari rumah, asrama haji, Jedah, di Madinah, dan bahkan selama shalat di Makkah selalu mendapat pertolongannya. Mendadak mandiri dengan membawa koper tenteng dan berlari pula.
Tentu semua itu berkat semangat ingin menjalani ibadah dengan sebaik-baiknya. Juga karena sebelum menjalankan umroh wajib di masjidil Haram, kakiku telah sembuh.
Jadi dua hari menjelang berangkat ke Makkah, aku terpencar dengan teman jemaah perempuan satu regu. Entah mungkin ini takdir yang mempertemukan aku dan Ibu Supartini. Jemaah haji yang berasal dari Beji, Depok dan telah menyembuhkan engkel kaki dengan pijatannya yang lembut.
Seakan Allah SWT telah mempersiapkan kakiku agar bisa thawaf saat umroh wajib begitu tiba di Makkah.
Aku yakin dengan pertolonganNYA yang dijanjikan. Allah tahu dengan niatku yang ingin bisa membantu orang tak berdaya saat berhaji. Namun Allah memberiku ujian berupa engkel kaki terkilir. Aku menganggap itu ujian kecil, keciiil banget. Ujian yang menjadikan aku senantiasa belajar bersabar. Dan sabar itu tak terbatas. Kalo terbatas namanya air kemasan yang pakai tutup. Airnya terbatas sesuai kemasannya.
Dan perjalanan ibadah hajiku dengan suami menjadi permata pengalaman, yang senantiasa menjadi kenangan kami. Sesekali kami ceritakan pada anak-anak, agar memupuk hasrat mereka untuk menyiapkan diri berkunjung ke tanah suci.
Tak ada yang tak mungkin kalo memang Allah azza wa jalla menghendaki. Jadi jangan pernah takut bermimpi untuk berangkat haji ke tanah suci. Ada banyak kisah haji yang menakjubkan yang pernah aku dengar.
Dari teman satu perjalanan ibadah haji, yang mendadak berangkat karena harus menemani orang tuanya. Ada juga teman kuliah yang diberangkatkan oleh Kerajaan Arab Saudi karena sering menolong untuk memasangkan lampu teras di gedung dekat kantornya.
Mampukan diri dengan memenuhi panggilanNYA, insyaa Allah waktu terbaik akan tiba. Wassalamualaikum.