Mencintai Diri Sendiri, Memulai Gaya Hidup Sehat - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Jumat, 14 Februari 2020

Mencintai Diri Sendiri, Memulai Gaya Hidup Sehat

Mencintai Diri Sendiri, Memulai Gaya Hidup Sehat


Assalamualaikum Sahabat. Dahulu saat masih usia remaja, saya sempat ngeri tiap kali mendengar ada perempuan yang mengalami sakit kanker payudara. Terlebih ketika usianya masih muda dan produktif. Kegiatannya sebagai ibu (misalkan udah nikah), bisa terganggu. Karena penyakit ini bikin penderitanya menjadi lemah.

Pertama mendengar penyakit kanker payudara dari ibu. Sepulang pengajian, ibu bercerita kalo abis bezuk temannya. Teman pengajian ibu tengah menjalani pengobatan untuk mencegah sel kanker menjalar di payudaranya.

Ibu dengan detil menuturkan bahwa salah satu payudara temannya udah diangkat atau dipotong. Huhuhuuu, saya merinding membayangkannya.

Waktu berjalan dan menjalani hubungan selama dua tahun, saya mendapat kabar kalo calon ibu mertua kena kanker payudara. Saya jadi teringat kisah teman ibu waktu itu. Saya membayangkan kejadian yang mengerikan, bikin sedih banget deh.

Namun pengobatan calon ibu mertua dengan kemoterapi di klinik dokter ahli penyakit kanker ketika itu, sukskes membunuh sel kanker. Alhamdulillah setelah menjalani pengobatan, kemoterapi, hingga mengelola kembali pola makan, ibu  dinyatakan sembuh. 

Hingga sekarang, usia beliau udah mencapai 81 tahun. Masih sehat dan senang silaturahim hingga ke Depok, Jawa Barat. 


Ibu Mertua yang masih
semangat jalan-jalan
Bahkan sekitar tahun 2016 beliau sempat jalan-jalan bareng adik ipar dan rombongan keluarganya sampai Malang dan Bromo. Saya aja belum sempat ke Bromo, hikksss... baper jadinya.

Selain ibu mertua, saya juga mengenal survivor kanker payudara lainnya. Beliau adalah Ibu Erin, usianya beda tipis lah dengan saya. 

Beliau kena kanker payudara sekitar tahun 2008. Sempat diangkat salah satu benjolan di payudara kanan. Juga menjalani serangkaian kemoterapi selama 8 bulan. Pemeriksaan lanjutan masih dijalani Ibu Erin hingga hasil mamografi terakhir, beliau dinyatakan terbebas dari sel kanker.


Menjalani Hidup Baru Sebagai Survivor kanker


Selama proses penyembuhan ada banyak pantangan makanan yang harus dihindari. Seperti makanan yang digoreng menggunakan minyak lebih dari dua kali. Ya, makanan yang prosesnya melalui proses penggorengan memang rasanya lebih enak. Bayangkan aja mendoan, bakwan jagung, bakwan sayur, tahu isi, semuanya nikmat banget dinikmati bareng kopi atau teh. 

Namun begitu menjadi survivor kanker payudara, Ibu Erin segera meniadakan makanan atau jajanan yang digoreng untuk konsumsi keluarga. Pilihan ayam pun juga dilakukan, yaitu tidak mengonsumsi ayam broiler. Kalian tahu dong kalo ayam broiler itu ayam pedaging yang perkembangan tubuhnya disuntik hormon. Bahkan apa yang dikonsumsi ayam ini juga ada campuran bahan untuk menggemukkan daging secara cepat.

Dari menjalani kemoterapi tiap minggu di RS Karyadi Semarang, Ibu Erin bertemu dengan sesama penderita kanker. Bermacam kanker yang diidap pengunjung gedung tempat perawatan pasien kanker ini. Ada yang tumbang di tengah jalan proses pengobatan. Namun ada juga yang terus berjuang dengan suport semangat dari sesama penderita dan keluarga yang menemani.

Ada banyak kesan dan pesan yang menjadi catatan Ibu Erin dalam proses pengobatannya. Dari mereka yang telah sembuh, tetangga saya ini menuturkan bahwa berjuang menjalani pengobatan itu susah sekali. Namun ketika seorang penderita menjalaninya dengan semangat, tidak mengenal kata putus asa, bahkan memandang prosesnya dengan positif, itu satu modal yang sangat penting.

Obat dari dokter memang menjadi syarat untuk proses penyembuhan. Namun ternyata ada yang lebih penting selain obat, yaitu hati yang ikhlas, berpikir positif, tersenyum meski kondisi tubuh merasakan nyeri yang begitu menyakitkan.

Ibu Erin berdamai dengan penyakit kanker payudara. Ia tidak menyembunyikan penyakitnya dari pertanyaan tetangga dan kerabatnya. Ia bercerita tentang proses kemoterapinya. Tentang rambutnya yang mulai rontok dan menipis. Tentang mual, pusing, dan merasa lemas setiap kali pulang dari proses kemoterapi. Namun beliau tetap tersenyum saat turun dari mobil dan membalas sapaan tetangga yang menyambut di depan pintu rumah.

Saya melihat ada semangat pantang menyerah melawan sel kanker yang menggerogoti payudaranya. Tiga bulan berlalu, Ibu Erin cerita kalo sekarang rambutnya sudah mulai tumbuh. Beliau masih kemo, kadang muncul mual tapi sudah tak sehebat dulu. Dan ketika beliau dinyatakan bebas dari kanker setelah proses operasi, juga kemoterapi, menjalani serangkai tes, genap satu tahun setelah diagnosa awal. Kami tetangganya pun ikut bersyukur mendengar kabar yang membahagiakan ini.

Namun perjuagan Ibu Erin tak berhenti. Beliau hingga saat ini masih menjaga pola hidup sehat. Jarang banget makan makanan yang digoreng. Beliau sekarang lebih suka ngemil buah, ketela kukus, atau kalo masih lapar ya minum air putih. Seperti juga saya, Ibu Erin selalu jalan kaki kalo belanja sayuran. Usia kami nyaris sama, udah 51 tahun dan aktivitas fisik pun juga beberes rumah. Jadi pilihan olah raga tentunya menyesuaikan usia dan kondisi tubuh. Jalan kaki tiap pagi kami lakukan selama 30 menit. 


Mencegah Penyakit Kanker, Apakah Bisa?

Ikhtiar mencegah penyakit kanker memang harus terus dilakukan agar tidak menjalani proses pengobatan yang menyakitkan. 

Dari keluarga bapak dan ibu saya, tidak ada yang pernah mengalami sakit kanker. Namun saya tidak boleh meremehkan penyakit ini. Karena dari keluarga suami, ada beberapa orang yang pernah sakit kanker. 

Memiliki gen penyakit kanker bukan lantas menjadikan hal ini momok bagi saya, terutama anak-anak. Justru saya belajar mendengar kondisi tubuh, mencoba lebih peka agar menyadari bila muncul tanda satu penyakit.

Seperti Ibu Erin yang berdamai dengan kanker yang dideritanya. Saya pun belajar dari beliau, bahwa obat-obatan atau operasi bukan lah segalanya. Bahkan dokter yang menanganinya juga menuturkan hal itu. Dengar lah suara hati dan pikiran kamu, tubuh tak hanya soal fisik. Namun juga  memiliki hati dan pikiran. Biasakan mendengar suara hati dan pikiran, apa yang diinginkan tubuh ketika sudah lelah. Jangan melampaui jam istirahat karena tubuh berhak untuk relaksasi dari kepenatan setelah bekerja.

Itu lah sebabnya saya dan keluarga selalu menyempatkan diri melakukan perjalanan. Traveling ke tempat-tempat yang mengharuskan kami bergerak. Berjalan, bercanda sepanjang perjalanan, ngemil buah, bikin tubuh sehat karena asupan gizi yang komplit. Memenuhi energi baik untuk tubuh, hati dan pikiran.




Saya tak pernah lelah meminta anak-anak saya untuk menjalani pola hidup sehat. Saya kenalkan pada mereka, memulai hidup sehat itu bukan setelah usia 40 tahun. Namun sedari mereka memasuki usia remaja harus menjaga pola hidup sehat. 

Mengapa sih saya begitu cerewet mengajak anak-anak saya menjalani pola hidup sehat? 

Terus terang saya cemas menyaksikan fenomena jajanan kekinian yang menjamur di mall, komplek perumahan, bahkan di teras minimarket. Melihat proses penyajiannya bikin saya mengernyitkan dahi. Saya terlahir pada jaman jajanan tradisional yang sangat digemari. Sementara anak saya meski masih mengenal jajanan tradisional, mereka juga akrab dengan jajanan kekinian. 

Apalagi mereka juga udah menghasilkan duit dari kerja. Mereka memiliki kebebasan membelanjakan uang tanpa perlu bertanya lagi pada saya, ibunya. Seperti ketika mereka masih usia sekolah yang akan menanyakan, boleh nggak beli ini, beli itu?

Karena itu saya tetap akan terus memberikan pencerahan gimana memilih makanan yang sehat. Makanan untuk tubuhnya yang harus mereka cintai. Apa yang masuk ke dalam tubuhnya mestinya menjadikan bahan untuk sumber energi yang baik. 



Beruntungnya mereka masih muda, jadi kegiatan olah raga menjadi hal yang rutin dilakukan. Bersepeda dan lari yang saat ini menjadi pilihan si bungsu. Hanya si sulung saja yang belum bisa rutin melakukannya. Saya masih berkewajiban mengingatkannya agar mulai rutin dan konsisten olah raga. Jangan menjadikan kesibukan kerja atau kelelahan sebagai alasan menghindari aktivitas fisik.

Saya tidak ingin mereka mengalami penyakit tidak menular. Seperti Jantung, Diabetes, Kanker, dan penyakit lainnya. Apalagi mereka memiliki gen dari keluarga suami yang pernah kena kanker. Atau bahkan menuruni bapaknya yang pernah kena serangan jantung.


Jadi untuk mengurangi resiko penyakit tersebut, saya ajak mereka untuk mengatur pola hidup sehat. 

Yaitu, memilih makanan sehat, perbanyak konsumsi buah dan sayur, rutin olahraga dan aktivitas fisik,  serta memperbaiki jam tidur. 



Nggak ada lagi tidur sampai tengah malam karena lembur nonton channel pilihan di YouTube. 

"Cintai diri kamu sebelum mencintai anak gadis orang," tutur saya pada anak-anak.

Saya menjelaskan bagaimana cara mencintai diri sendiri dengan menjalani pola hidup yang sehat dan seimbang. Tidak bekerja terlalu ngoyo, hingga tak ada waktu untuk keluarga dan temannya.


Mereka berdua anak laki-laki yang sekarang udah menjadi manusia dewasa. Masih belajar untuk berani bertanggung jawab dengan memilih setiap keputusan yang mempengaruhi hidupnya kelak.

Saya selalu mengajarkan agar mereka memiliki sifat pemurah, rendah hati, berempati, dan menghormati sesama. Saya ingin mereka tumbuh menjadi manusia dewasa yang berhati lapang dan sabar. 

Dengan mencintai diri sendiri terlebih dulu, kelak ketika masanya tiba, mereka akan mampu mencintai seseorang yang menjadi pasangan hidupnya. Wassalamualaikum.

29 komentar:

  1. Soal makanan memang sekarang gimana gitu. Diolah di jalanan, padahal banyak debu. Tapi malah disukai dan laris. Hal yang menyenangkan selalu hadir dengan akibat yang baru dirasa di masa depan.

    BalasHapus
  2. Ngeri ya mba kangker payudara ini dan kangker-kangker yang lain juga dan sekarang banyak makanan serba instan yang bikin gaya hidup kita makin nggak sehat

    BalasHapus
    Balasan
    1. kisah tetangganya mbak ini inspiratif. beliau tak menutup2i. jd para tetangganya bs waspada dan lakukan sadari sebagai antisipasi

      Hapus
    2. Jadi bisa untuk pelajaran buat tetangga juga ya

      Hapus
  3. Bahagia ya bisa mengantarkan buah hati menjadi pribadi teladan. Bukan hanya di keluarga tapi juga di lingkungan dan masyarakat. Semoga selain pola makan yang sehat dan teratur, pemikiran positif dan jernih juga senantiasa bisa kita lakukan demi jadi pribadi yang sehat lahir batin. Aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pikiran positif akan membentuk anak-anak menjadi manusia yang lebih baik, berempati, dan seni berbagi. iyess awalnya tentu dari makanan sehat juga

      Hapus
  4. Saya suka kata kata terakhirnyaaa

    Dengan mencintai diri sendiri terlebih dulu, kelak ketika masanya tiba, mereka akan mampu mencintai seseorang yang menjadi pasangan hidupnya.
    Juaraaa hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harapan saya sebagai ibu, tentunya yang baik baik,

      Hapus
  5. Betuulll banget, Mbaaa
    Kudu jalankan gaya hidup sehat dan me-manage stres secara baik dan benar
    Itu super duper pentiiing banget bangeeett

    BalasHapus
  6. "Cintai diri kamu sebelum mencintai anak gadis orang." Hahahaha. Anaknya cowok semua ya mba?

    Benar mba, kesadaran akan kanker harus dibangun sejak dini. Bagaimana pun kanker pembunuh nomor satu di Indonesia. Siapapun harus mawas diri, mulai dari anak-anak hingga dewasa tua.

    BalasHapus
  7. Wajib banget, deh, memperbaiki gaya hidup agar sehat. Agar sel jahat tidak menjadi kanker. Agar selalu sehat dan keluarga terurus.
    Btw, Mbak Wati tambah cantik dan segar.

    BalasHapus
  8. Selain menjalankan gaya hidup sehat, pola pikir sehat juga harus di jaga ya mbak.
    Berpikir dan bertindak positif, maka hasilnya akan lebih baik

    BalasHapus
  9. Ibu idola kamu mba Hiday beruntung banget yang bisa jadi mantumu. Loveee

    BalasHapus
  10. Semoga sehat2 kita ya, suka serem sih tapi ya semuanya sdh takdir apalagi kalo liat yg kena kanker tuh ga semuanya yg makan sembarangan sih ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, temanku ada yang udah bener menjalankan hidup sehat. Ternyata kena kanker usus, tapi kita gak tahu juga pola hidup sebelumnya.

      Hapus
  11. Duh, aku suka galau liat jajanan anak sekolah. Di rumah udah dijagaaaa banget. Di sekolah losss. Btw, ngeri aku klo denger kanker. Semoga kita dijauhkan dah dari yg gini2

    BalasHapus
  12. Jadi inget temen kuliahku mba yang meninggal karena kanker payudara ini. Sedih dan jadi ke trigger untuk lebih aware dan jaga kesehatan. Terutama pola makan. Cuma masih peer untuk bagian olahraga nih yang kadang mood-moodan.

    BalasHapus
  13. Ngeri memang kalau terkena kanker. Tetanggaku ada dua ibu dan anak meninggal karena kanker payu dara.

    BalasHapus
  14. Aku bagian dari mereka yang doyan jajan. Fast food emang paling favorit, tapi belakangan aku lebih milih jajan salad buah buat ngurangin kebiasaan jajan fast food. Aku takut soalnya banyak artikel yang angkat isu kesehatan ini.

    BalasHapus
  15. IYa sih semua dimulai sekarang dan dari diri sendiri. Kudu rajin olahraga (meskipun adang wacana hahaha), makan yang bergizi seimbang, ga begadang lagi, makan buah2an :) Itu yang sedang aku usahakan biar hidup sehat dan kita menjadi tetap cantik merawat diri ya mbak :D

    BalasHapus
  16. Dulu sebelum kenal papinya shasha, sempat tunangan sama orang lain..orang itu ibunya kanker payudara sampai meninggal..sering makan alakadarnya dan makan mie instan karena bapaknya kerja di pabrik mie..pas liat abis operasi serek liatnya sampai pecah pernah katanya..sekarang sudah almarhum..memang selain pola makan juga pola pikir..jangan stress dan menyimpan marah dalam hati..

    BalasHapus
  17. Di keluarga perlu saling mengingatkan ya Mba, untuk menjalani hidup sehat ini... Apalagi udah ada anak2 yg makin besar, harus ngasih contoh juga supaya mereka auto makan sehat tanpa dipaksa2

    BalasHapus
  18. Hati yg ikhlas, positif thinking, mungkin agak susah y mb buat survivor kanker pdhl mrk mengalami skt yg teramat sangat..salut deh

    BalasHapus
  19. aku harus bisa mulai ubah pola hidup. kadang masih belum bisa jauh dari mi ayam, kopi susu, burger gitu mbak :D padahal ngikutin jg bikin2 infused water tp ga telaten. hiks

    BalasHapus
  20. suamiku sudah mulai jaga makan, masuk 40 tahun, sudah nggak gorengan, dll, aku pengen mengikuti kok susah ya hahaha

    BalasHapus
  21. Benar juga ya mba, jajanan jaman sekarang tuh melihat cara mengolahnya saja udah gimanaaa gitu. Enak sih, menggoda banget malah, tapiiii...
    Memang pola makan sehat harus mulai ditanamkan sejak dini ya. Kalau baru mulai di usia 40an badan udah terlanjur ngos-ngosan. *pengakuan

    BalasHapus
  22. Aku mau ngatur pola makan lagi kok agak susah ya? Sudah kadung cheating berbulan-bulan. Kayaknya kudu diniatin lagi. Emang enak bnget kok kalau makan tanpa minyak dan tanpa gula tuh

    BalasHapus
  23. yesss sepakat. mencintai diri sendiri dengan disiplin olahraga dan mengurangi makanan yang memberikan risiko bagi kesehatan.. itu juga yang aku terapkan ke diri sendiri

    BalasHapus