My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Review Film
Tampilkan postingan dengan label Review Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2022

Review Film Favorit Delicious, Resto Pertama di Perancis Milik Juru Masak Bangsawan
November 09, 2022 25 Comments
Halo Assalamualaikum Sobat. Kalo ada yang nanya apa film favorit saya, bingung loh jawabnya. Karena saya tidak akan pernah bisa menjawab satu judul aja. Film favorit itu selalu berhubungan dengan selera juga. Dan tentang selera ini juga dipengaruhi oleh banyak hal, bisa saja dari kesukaan jalan-jalan jadi suka film petualangan. Kalo suka masak dan makan, pasti juga bakal memilih flm tentang kuliner. 

Seperti kali ini saya ingin menuliskan salah satu film favorit dengan genre drama romance histori. Bercerita tentang juru masak di dapur rumah bangsawan. Film yang diproduksi tahun 2021 ini sangat menarik hingga bikin saya nonton berulang sampai tiga kali. Dan masih belum bosan juga. Jadi kalian mesti nonton nih sob.

Sinopsis film Delicious :

Mengisahkan tentang seorang koki handal bernama Pierre Manceron (Gregory Gadebois) yang dipecat oleh seorang Duke sombong bernama Duke of Chamfort (Benjamin Lavernhe), karena menolak untuk meminta maaf. Kala itu ia hanya berinovasi pada hidangannya yang tetap lezat, namun karena rasa inisiatif tersebut yang membuat dirinya dikritik. Usai kejadian itu, ia memutuskan untuk mendirikan restoran agar bisa memasak dengan bebas.

Review Film Favorit Delicious, Kisah Juru Masak Kaum Bangsawan 

Bagi penyuka film dengan kisah koki atau juru masak, atau chef bagi saya selalu menarik. Saya beberapa kali nonton film dengan mengambil setting dapur seorang cheff di jaman modern ataupun juru masak kaum bangsawan. 

Para pemain film adalah Gregory Gadebois, Isabelle Carre, Benjamin Lavernhe, Guillaume de Tonquedec, dan lainnya. Selain menjadi sutradara, Eric juga menulis naskah untuk film yang syuting di Paris ini bersama Nicolas Boukhrief.

Untuk film Delicious menceritakan kisah juru masak yang mengalami proses keluar dari rumah bangsawan, kemudian balik ke desa kelahiran dan mendirikan restoran pertama di Perancis.



Setting cerita pada masa sebelum revolusi Perancis sekitar abad ke-18, ‘Delicious’ mengisahkan tentang seorang koki handal bernama Pierre Manceron (Gregory Gadebois). Dia dipecat oleh atasannya, seorang Duke yang sombong bernama Duke of Chamfort (Benjamin Lavernhe), karena menolak untuk meminta maaf.

Kesalahannya menurut Duke, Pierre berinovasi di luar pesanan sajian masakan yang udah ditentukan. Dan aslinyaa, hidangan hasil inovasi itu lezat, seperti hidangan lainnya karya Pierre.

Inisiatif menu di luar yang dipesan oleh Duke yang membuat dirinya dikritik oleh seorang tamu yaitu pendeta dengan tidak sopan. Tamu lainnya menertawakan ejekan sang pendeta. Namun justru sang koki yang diharuskan untuk meminta maaf. Penolakan Pierre membuatnya mesti keluar dari rumah Duke. 



Ketika pulang ke kampung halamannya, Pierre kembali ke gubuh ayahnya yang sudah hampir runtuh. Dulunya rumah itu juga merupakan penginapan yang dikelola oleh ayahnya. 

Di desa itu dia mulai membuat makanan untuk dinikmati bersama anaknya dan lelaki pemabuk yang setia padanya. Suatu hari ia bertemu seorang wanita misterius bernama Louise (Isabelle Carré) yang meminta untuk diajari memasak. Wanita itu setengah memaksa dan memberikannya keping uang untuk modal membeli bahan masakan.

Dengan bantuan putranya yang bernama Benjamin (Lorenzo Lefèbvre) dan Louise yang menjadi muridnya, mereka mulai membenahi penginapan milik ayahnya yang sudah cukup rusak. Kebetulan penginapan itu berada di pinggir jalan yang sering dilintasi para penduduk desa.  Mereka saling bekerjasama untuk membuat sebuah restoran dengan konsep baru yang berbeda. Benjamin bahkan memberikan nama Delicious untuk restoran pertama di Perancis itu.
 

Banyak rintangan yang harus dihadapi. Terutama kegalauan hati Pierre yang ternyata masih ingin kembali bekerja sebagai juru masak di istana. Namun akhirnya mereka bisa mendirikan restoran dengan cita rasa makanan khas seorang Pierre Manceron.

Kisah Awal Berdirinya Restoran Delicious

Mengambil latar di abad ke-18, film ini menceritakan tentang bagaimana ide restoran terbentuk, konsep apa yang digunakan, bagaimana cara menjamu pelanggan, serta memberikan hidangan sesuai dengan pesanan pelanggan.

Pada saat itu, restoran hanya berbentuk sebuah pondok kecil yang dikunjungi oleh para pelancong yang ingin mengisi perutnya. Makanan yang disajikan pun terbilang sederhana karena memanfaatkan bahan baku disekitar tempat tersebut.

Makanan yang kerap kali dihidangkan ialah kaldu, karena selain menyehatkan dan menghangatkan proses pembuatannya pun tergolong mudah. Namun karena yang memasak adalah juru koki handal jaum bangsawan, tentu saja cita rasa khas menjadi sangat diminati. 



Sayangnya pada masa itu penduduk sekitar desa tidak memiliki uang untuk belanja. Mereka kelaparan hingga mencuri roti yang ada di restoran milik Pierre. Namun dia diam karena tidak ingin keributan dan pura-pura tidak melihat.

Louise tidak ingin restoran mereka bangkrut dan tutup. Ia membutuhkan tempat tinggal sementara. Ia mengusulkan pada Benjamin untuk membuat terobosan baru dengan memperluas bangunan yang mereka tinggali, serta menambah meja dan kursi untuk pelanggan.


Pelanggan yang mulai berdatangan karena adanya invasi kependudukan tentara Jerman, mendatangkan keuntungan bagi Delicious. Kursi dan meja ditambah dan hidangan makin bervariasi. Mereka bahkan mulai menulis menu masakan apa aja yang bisa dipesan di restoran.

Kelezatan cita rasa masakan resto terdengar hingga ke telinga kaum bangsawan. Utusan Duke meminta Pierre untuk menyiapkan hidangan khusus sesuai permintaan dengan nominal yang sudah dibayar sebagai uang muka. Belasan tong berisi bir, bahan masakan berkualitas premium, berdatangan sebelum hari H. 

Sayangnya niat buruk Duke memang tak pernah usai. Hingga berujung maut, sang pemabuk yang selalu membantu Peirre ditemukan meninggal dunia. Kesedihan itu membuat Pierre malas ke dapur. Pertengkaran pun muncul antara Benjamin dan sang ayah. 

Emosi saya sebagai penonton ikut hanyut dalam pertikaian mereka. Louise pun sempat diusir pergi. Jadi penasaran kan dengan kisah mereka? Yang jelas sih happy ending ya.


Film Dengan Sajian Visual Yang Indah

Film ini memiliki visualisasi yang indah, dengan warna dan detail-detail pendukung lainnya yang menampilkan suasana abad ke 18. Dari kostum, make up, tampilan rumah, lingkungan, gaya rambut dan kendaraan yang digunakan. Bagi penyuka film dengan tema kerajaan, pasti amat menikmati ceritanya.




Film bernuansa klasik yang kental seakan membawa kita ke masa itu. Makanan-makanan yang ditampilkan dalam film pun beragam dan menggugah selera dengan tampilan memikat mata.

Sutradara menghadirkan kisah dengan tema abad ke-18, tak lupa juga menambahkan visual yang apik. Dari pemandangan alam yang alami, rerumputan hijau, pohon dan tumbuhan yang subur menjadi pelengkap visual yang eksotis. Seakan penonton diajak ke sebuah negeri dongeng. Belum lagi pencahayaan yang sesuai saat pengambilan gambar interior dapur, ruang bagian dalam restoran, terlihat apik dan natural.


Kesimpulan Film Favorit Pilihan Delicious

Konfliknya memang kurang greget. Penampakan sisi emosional para pemain juga masih tergolong kurang terlihat kuat. Namun alur cerita yang konsisten dan runut bikin saya menikmati dan menutup kekurangan itu.

Film ini berhasil meraih nominasi di ajang Cesar Awards ke-47 untuk kategori Best Costume Design dan Best Production Design dan International Film Music Critics Award 2022. Kalo kalian menyukai kisah klasik, kuliner, dan perjuangan seorang koki membangun karirnya, fim DELICIOUS layak dijadikan pilihan tontonan. Nanti cerita ya kalo udah nonton juga. Wassalamualaikum.

Gambar diambil dari :
@SamuelGoldwyn Film
Reading Time:

Jumat, 01 Juli 2022

Self Healing Dengan Nonton Drakor atau Film Korea
Juli 01, 2022 16 Comments

Assalamualaikum Sahabat. Ketika suasana hati tengah dirundung duka, apa yang biasanya sahabat lakukan? Orang sekarang bilang lakukan self healing agar hati bahagia. Nggak perlu keluarin duit banyak kalo pilihannya nonton film atau drakor.




Atau saat tubuh lelah dan pengennya rebahan. Biasanya kalo saya sambil nonton film, video di youtube, atau drakor. Ngomongin drakor, baru sebatas hitungan jari tangan yang saya pilih menjadi teman saat rebahan. 


Karena saya tuh bukan penggemar drakor, udah move on lama banget. Dulu emang iya saya suka nonton drakor jadul, seperti Endless Love, Full House, Winter Sonata, atau Jewel in the Palace. Ada lagi beberapa drakor tapi saya udah lupa saking lamanya. Saya ingat waktu itu anak-anak udah mulai bisa main sendiri jadi saya bebas nonton drakor, hahahaa.


Cuma karena saat itu nonton drakor hanya bisa di tv nasional yang tayang pada hari tertentu, saya jadi malas. Karena kadang saya ada keperluan seperti keluar rumah, nggak bisa ngulang nonton juga kan. Beda dengan sekarang yang bisa nonton drakor di berbagai platform pilihan. Bisa juga memilih nonton drama yang udah selesai serialnya, nggak perlu nonton yang on going gitu kayak jaman dulu.


Mengenal Lendyagassi.com pemilik blog Review Drama dan Film Korea


Sejak menjadi blogger dan gabung dalam komunitas, saya jadi suka ikut grup WA yang mengadakan blog walking. Semacam baca blog teman blogger yang menyertakan artikelnya dalam daftar kunjungan. Ada beberapa grup yang saya ikuti meski nggak rajin ikut dalam blog walking. Paling enggak setiap ada artikel di blog ini tayang, saya mengikutkannya dalam blog walking.


Dari kegiatan ini saya jadi tahu tentang blog yang mereview drama Korea. Salah satunya ada Lendy, si pemilik blog review drakor yang bikin saya jadi kepo tentang drakor jaman now. Saya yang nggak paham dengan aktor dan aktris pemeran drakor, awalnya nggak minat untuk nonton. Namanya nggak kenal ya nggak sayang. 


Karena sering baca reviewnya, akhirnya tergoda dong, hahahaa. Tapi kalo ngikutin salah satu drakor yang ditulis reviewnya juga saya belum ada yang minat. Akhirnya nanya, apa ada drakor yang genre nya thriller. Eh ternyata ada, dan saya pun mulai mencari di blog Lendy. Hahahaa, beneran racun deh isi blognya.


Tapi selama ini baru ada dua drakor yang benar-benar ngena di hati, yaitu Forest of Secrets. Bahkan saya tulis reviewnya di blog ini, gila gak sih. Sebagus itu jalan cerita drakor dengan genre thriller yang tanpa adegan romance. Cek yuk review saya : Kisah Sang Jaksa dan Detektive



Yang satu lagi saya pilih setelah nonton Forest of Secrets, muncul judul berikutnya. Saya nggak tahu apakah Lendy udah menuliskan review drakor ini, yaitu Birthcare Center. Saya sendiri belum menuliskan review drakor ini karena dulu nontonnya juga nggak langsung sampai tamat.


Nonton Film Korea Pilihan 

Bagi saya sekarang, nonton drakor itu pilihan ya. Mau nonton sekarang atau besok besok gitu ya it's okay. Nggak ada waktu tertentu yang membuat saya ingin nonton drakor. Sesekali ketika ada waktu luang dan bingung mau ngapain, justru menjadi waktu yang tepat untuk nonton drakor. 


Cuma meski bukan drakor on going, tetep aja butuh waktu khusus kalo pengen nonton serial yang panjangnya sampai 10 episode misalnya. 


Kadang pilihan saya adalah nonton Film Korea yang cukup sekali duduk aja udah beres, hahahaa. Saya juga baca review di blog Lendy kalo pengen memilih film Korea yang asik menjadi hiburan.


Saya nonton film atau drakor nggak selalu baca reviewnya terlebih dulu. Tapi misalkan nggak ada pilihan film yang asik, saya terbiasa mencari review film atau drama Korea di website. 

Salah satu film Korea yang menarik minat saya setelah baca reviewnya adalah The Naked Kitchen (2009). Tapi sampai sekarang malah nggak jadi saya tonton, hahahaa.


Picture taken by Lendyagassi.com


Saya sampai lupa mengapa setelah baca review dan sempat nonton trailernya, enggak jadi meneruskan nonton filmnya. Lupa aja gitu sih, nggak ada alasan lain. Mungkin setelah ini saya akan nonton film ini. Terlebih meski film ini mengisahkan adanya hubungan terlarang, namun si tokoh ini mengaku jujur kesalahannya pada sang suami. 


Gimana, kalian penasaran nggak dengan film Korea yang berlatar belakang tukang masak ini? Sebagai penonton yang suka film dengan tokoh chef, saya cukup antusias bakal suka dengan filmnya. Ayo yang udah nonton film ini, cerita dong review singkat ala kamu. 


Ahhh besok deh mau nonton film Korea yang nggak perlu ngabisin waktu seperti drakor. Meski masing-masing memiliki kelebihan dan nggak bisa dibandingkan untuk kualitasnya ya. Ya udah lah, pilih sesuai kesukaan aja. Apalagi kalo diniatkan untuk self healing. Sambil rebahan nonton film Korea atau Drama Korea. Bebaskan pilihanmu, sahabat. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Selasa, 22 September 2020

Review Drama Korea Forest of Secrets, Kisah Sang Jaksa dan Detektiv
September 22, 2020 50 Comments


Assalamualaikum Sahabat. Kali ini saya ingin menuliskan review drama Korea. Ah aneh juga ya, kan selama ini saya nulis reveiw film Hollywood dan belum pernah drakor. Ya enggak apa sih sesekali karena penasaran dan udah nonton juga. Sayang kalo enggak dituliskan review nya.

Sinopsis Forest of Secrets :

Forest of Secret menceritakan seorang jaksa Hwang Shi Mok (Cho Seung Woo), yang tidak bisa merasakan emosi terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Waktu usia sekolah dasar dirinya pernah menjalani operasi otak. Hwan Shi Mok seorang jaksa yang dingin, rasional, dan memiliki integritas. Meskipun sebagian besar jaksa di kantor kejaksaan banyak yang menerima suap.

Pada suatu hari rangkaian pembunuhan disusun rapi oleh seseorang. Dan menggiring Hwan Shi Mok ke lokasi terjadinya pembunuhan. Di TKP dia bertemu dengan Letnan Han Yeo Jin (Bae Doo Na). Pertemuan yang membuat keduanya saling mengenal dan terjebak dalam labirin misteri. Mereka bersama saling memberantas korupsi di masing-masing departemennya. Serta mengusut pembunuhan berantai yang saling terkait.


Review Forest of Secrets :

Sebetulnya saya udah lama banget nggak nonton drama Korea. Assliii... saya takut kecanduan seperti jaman dulu. Tapi drakor sekarang ternyata kan ada tayangan tunda. Nggak kayak dulu yang hanya ada di beberapa TV Nasional. Saat ini ada banyak pilihan bagi pecinta drakor. Saya sendiri nonton Forest of secrets di VIU. Gratis ya, yang original dan bukan yang premium.

Yuk deh mulai ceritanya!

Hwan Shi Mok, dulunya waktu masih usia SD pernah ngalami sakit kepala yang memunculkan emosi berlebihan. Ketika marah, dia akan membanting benda apa aja yang ada di hadapannya. Ketika hatinya sedang senang, dia akan tertawa berlebihan. Akhirnya ketika sakitnya sudah tak tertahankan, dia pun menjalani lobotomi. Operasi di otak yang ternyata memiliki efek samping. 

Dia tak lagi memiliki emosi bahkan susah mengekspresikan sedih, bahagia, atau jatuh cinta.  Bahkan dia dijuluki psikopat karena tidak pernah merespon lawan bicaranya. Dia sesekali mengalami sakit kepala yang luar biasa. Pernah mobilnya berhenti mendadak di tengah lalu lintas yang ramai. Karena dia mengalami sakit kepala yang tak tertahankan. Untungnya nggak berapa lama sakitnya reda. 

Cerita berlanjut dengan kehadirannya di tempat pembunuhan, rumah milik korban yaitu Park Moo Sung (diperankan oleh Um Hyo Sup). Mok pula yang menghubungi kantor polisi untuk melaporkan pembunuhan. Ini lah yang bikin dia masuk sebagai calon tersangka. Dia sendiri merasa dijebak, namun dia berhasil menangkap pelaku. Seorang tukang servis TV.

Bahkan di sini pula perjumpaan pertamanya dengan Letnan Han Yeo Jin, yang gemas karena Mok tidak merespon pertanyaannya. Hahahaa, iya sih wajahnya datar gitu. Cool banget!



Tapi ternyata, pelaku yang tukang servis TV ini bukan pembunuh yang sebenarnya.  Si tukang servis TV-nya ini ngambil perhiasan, otomatis dia jadi tersangka dan di penjara. Tapi dia tidak terima, karena dia bukan pembunuh, bahkan akhirnya gantung diri di dalam selnya. Park Moo melakukan ini agar pihak jaksa yang telah memasukkannya ke bui, merasa bersalah. Sebelumnya dia sempat menulis surat kepada Hwan Shi Mok.

Awalnya kasus dipegang Hwan Shi Mok, tetapi ada juniornya jaksa wanita Young Eun Soo (Shin Hye Sun) memiliki keinginan sama. Dia ingin membuktikan bisa mengungkap kasus. 

Dalam perjalanannya, setelah vonis baru ketahuan kalo pembunuh bukan tukang TV. Semula dia dianggap berjasa, dipuji-puji. Namun ketika Park Moo gantung diri, streslah dia dan keadaan ayahnya semakin memburuk. 

Ayah dari jaksa Young ini mantan menteri, yang dijebak melakukan korupsi. Dengan menjadi jaksa, Young Eun Soo ingin membuktikan jika ayahnya tidak bersalah. Episode-episode awal sih, dia sering berantem karena tidak tahu jika Hwan Shi Mok itu pernah operasi yang tidak bisa merasakan emosi. Tapi bukan berarti Hwan Shi Mok ini dingin atau psikopat seperti yang disangkakan temannya para jaksa ya.

Akting Kece Pemeran Utama dan Pendukung



Yang seru dari drakor ini adalah akting seluruh pemainnya keren abis. Sejak berhenti nonton drakor, saya nggak tertarik dengan genre romance. Tapi karena tantangan nulis tema arisan drakor, saya harus  nyari drakor yang menarik untuk saya ikuti tayangannya sampai habis. 

Sempat loh saya nanya pada teman blogger yang suka nonton drakor dan menuliskan review-nya. Namun entah mengapa kok saya belum ketemu judul drakor yang cocok, hahahaa.

Akhirnya gak sengaja ketemu Stranger, Forest of Secrets. Dari nonton trailer nya aja udah bikin saya langsung nonton episode 1 seketika itu juga. Trus lanjut hingga episode 6 dan tak mampu berhenti. Dan Forest of Secrets jadi drakor favorit saya sementara ini.


Selain jalan ceritanya yang penuh teka-teki, bikin penasaran banget. Juga info tentang kasus pembunuhan yang berujung pada terbukanya kasus korupsi besar-besaran di tubuh kejaksaan. Jalan ceritanya dibuat perlahan-lahan dalam pengungkapan siapa tersangka pembunuh yang sebenarnya. Bahkan sampai episode ke 10, jadi penonton memang dibuat bersabar nontonnya.

Akting seluruh pemainnya benar-benar memukau. Terlihat alami, tidak ada yang bertele-tele ngomong gak penting. Saya paling nggak suka drakor dengan percakapan lebai. Namun Forest of Secrets ini tidak bakal kalian temukan kalimat itu. Terselip juga percakapan yang aslinya lucu, tapi karena si Mok ekspresinya datar, jadi geli sendiri melihat reaksi lawan mainnya yang gemas. Dan Hwang Shi Mok langsung jadi aktor drakor favorit saiyaah. Hahahahaa.

Letnan Hen Yeo Jin yang akhirnya menjadi teman seperjuangan *eciyeee, suka nggodain si om jaksa yang kece. Tapi gak pernah dapat tanggapan. Biasanya Yeo Jin akan memberikan gambar diri Jaksa Mok saat sedang serius dan fokus dengan kasus yang dihadapi. 

Korupsi yang terjadi nggak hanya di kejaksaan tapi juga di kepolisian. Pembunuhan yang kedua, lagi-lagi Mok yang ketahuan ngejar-ngejar si korban, terjadi di rumah korban pertama. Hmmm, sampai di sini aja udah kelihatan banget ketegangan yang sengaja dibangun dengan pelan-pelan.

Ada juga jaksa Seo Dong Jae (Lee Jun Hyuk), yang menjadi teman di kejaksaan, orang nya tengil sih menurutku. Udah jadi tersangka, rempong menyembunyikan bukti namun tetap aja ketahuan anak buah tim khusus. 

Oiya tim khusus ini dibentuk atas usulan seseorang yang masih misterius. Tim ini dipimpin oleh jaksa Mok, dengan dibantu Letnan Yeo Jin, jaksa muda Eun Soo, detektiv Jang Geon, dan beberapa staf jaksa.

Ada juga jaksa yang kesannya baik, suka membantu, tapi ternyata dia lah yang jadi biang masalah alias tersangka. 

Seperti yang Letnan Yeo Jin bilang :

Yang selama ini dekat dengan kita, bekerja bersama, tak pernah terlihat bahwa dia melakukan hal yang diduga. Mengapa kita tak pernah tahu atau curiga?

Moral stori dari drama Korea Forest of Secrets adalah :

- Tidak semua orang yang menampakkan sikapnya adalah seperti yang terlihat. Bisa saja dia terlihat kalem tapi hatinya jahat. Atau terlihat dingin dan tak peduli tapi ternyata punya tekad kuat menolongmu. Jadi lah teman yang baik, terima kekurangannya seperti kamu menerima kelebihan

- Seseorang kadang menjadi sosok yang menyebalkan hingga kamu tak peduli. Tapi ketika sosok ini tiada, baru terasa kosong. Kamu kembali mengingat kebersamaan kalian, saat minum bersama teman yang lain atau kegiatan lainnya

- Menjadi teman yang baik, nggak harus memberikan kado yang mahal. Bisa juga dengan menjadi teman yang perhatian saat dibutuhkan. Atau beri kado sederhana yang ternyata menjadi kenangan bagi si teman 

Suweeer, saya terkesan banget dengan drakor pilihan yang tak sengaja malah jadi awal yang seru dan mengesankan. Setelah sekian lama (ada 10 tahun lebih) nggak nonton drakor, Forest of Secrets menjadi pilihan yang the best.

Kalian harus nonton, terutama kalo suka dengan genre thriller atau misteri pembunuhan. Tapi jangan harap juga menemukan romansa dalam drakor ini, nggak ada sama sekali. Meski saya merasakan Eun Soo atau Yeo Jin menaruh hati pada Hwang Shi Mok. Tapi Mok sendiri nggak merasa, hahahahaa. 

Kayaknya harus ada romansa dikit lah untuk sequel Forest of Secrets. Penonton berharap banget nih! 
Wassalamualaikum.
Reading Time:

Jumat, 17 April 2020

Good LIfe, Pelajaran Hidup Dari Pensiunan dalam Film The Intern
April 17, 2020 22 Comments

Good Life, Pelajaran Hidup Dari Pensiunan dalam Film The Intern




Assalamualaikum Sahabat.  Stay at Home tidak lantas bikin saya bosan setengah mati. Meski nggak bisa nonton film di bioskop, namun di rumah ada smart TV yang memiliki beragam channel dengan pilihan drakor, film hollywood, FYI, dan lainnya. Bisa juga buat nonton YouTube, asik kaaan. 

Trus selama di rumah aja nyaris sebulan lebih udah nonton drakor berapa bijik? Oh tidaaak, saya bukan pecinta drakor. Saya lebih menyukai film Hollywood, atau film lepas dari negara pun. Namun saya tak menolak untuk nonton film serial sepanjang jalan ceritanya bagus.

Film produksi dari Eropa juga suka, biasanya alurnya lambat. Eh ini yang saya tonton sih. Suka dengan plot twist ceritanya dan setting lokasi yang khas di dataran Eropa.     

Kali ini saya akan tuliskan review film yang disutradarai Nancy Meyers. Dibilang film dengan mengusung feminisme, bisa jadi ya. Tapi ada tokoh laki-laki baik yang di sini menjadi panutan semua orang. Film ini udah tayang tahun 2015, dan saya nonton di HBO. Sayang banget kalo nggak saya tuliskan di sini. 

Sinopsis Film The Intern :

Film ini mengisahkan cerita  duda berusia 70 tahun, bernama Ben Whittaker (Robert De Niro). Istri yang sudah 42 tahun mendampinginya telah meninggal. Sementara anak dan cucunya tinggal di tempat terpisah. Ben juga pensiunan wakil direktur sebuah percetakan. Usai pensiun dia mengisi kegiatan dengan olah raga untuk lansia, ke gereja, bertemu dengan teman sebayanya. Seperti lansia umumnya lah.

Suatu hari dia mengajukan aplikasi sebagai pekerja magang di perusahaan belanja online. Perusahaan fashion yang merupakan startup ini didirikan oleh Jules Ostin (Anne Hathaway) yang juga selaku SEO di About The Fit. 



Situs belanja online ini mempekerjakan anak muda yang dinamis, tampil dengan dandanan casual, dan energik. Kehadiran Ben yang tampil dengan gaya necis dari setelan jas dan sapu tangan yang terselip di kantong jas, memberikan warna baru di perusahaan milik Jules.

Saya suka aktris Anne Hathaway karena aktingnya yang bisa serius, jenaka, romantis. Dan saya udah banyak nonton film-filmnya, seperti Armageddon, The Princess Diaries, Ella Enchanted, The Princess Diaries 2, Brides Wars, The Devil Wears Prada,  Brokeback Mountain, Passengers, Ocean's Eight, Interstellar, yang lainnya lupa, hihii. Terakhir nonton film Anne di bioskop itu judulnya HUSTLE. 

Silahkan baca review nya : film Hustle, Penipu Yang Tertipu


Review film The Intern ala saya :

"Experience Never Gets Old" adalah tagline yang diusung oleh film The Intern.  Tagline yang pas banget dengan film yang mengisahkan Ben, seorang pensiuanan yang bekerja selama puluhan tahun di perusahaan percetakan buku telepon. 

Suatu hari ia mengikuti seleksi program magang warga senior di AboutTheFit, milik Jules Ostin. Bisnis startup online shop fashion yang meroket dalam waktu singkat. Jules seperti baterai yang masih gres dengan kekuatan energinya sebagai pengusaha perempuan sukses. Ia mengelola 200 karyawan dengan bidang kerja yang kontemporer.

Seorang pekerjanya mengabari bahwa lusa akan ada pegawai senior magang memulai pekerjaan di AboutTheFit. Semula Jules menolak karena merasa tak butuh asisten. Namun ia terpaksa menerima saran dari salah seorang koleganya.

Ternyata Ben bisa beradaptasi dengan lingkup anak muda tanpa kehilangan kebanggaannya sebagai pria dengan tampilan klasik. Ben juga memiliki disiplin tinggi yang telah membentuknya menjadi dirinya sekarang. Ben bahkan mau belajar teknologi, termasuk bikin akun yang pertama kali di Facebook. 



Ben hadir beda dengan jas dan selipan sapu tangan di antara karyawan yang mengenakan kaos dan celana jins. Namun ia handal dengan gayanya yang tak pernah mengomentari tingkah karyawan lainnya. Tak pernah pula memberikan ceramah layaknya orang tua.

Film ini menyentuh hati saat asisten Jules menangis dan teman kerjanya yang sudah lama jatuh hati, memberikan sapu tangan. Iyess, sapu tangan milik Ben yang dipinjamankan pada anak muda itu untuk mendekati 


Ketika melihat beberapa adegan dalam film ini, kamu akan merasa sulit mendefinisikan hubungan yang terjalin antara Ben dan Jules. Satu sisi mereka tampak seperti bos dan karyawan, sisi lainnya sebagai sahabat, namun dalam adegan yang lain tampak seperti ayah dan anak. Terlihat ada sisi romansa hubungan laki-laki tua dengan perempuan dewasa yang tengah bingung dalam perannya sebagai pengusaha sukses.

Kepiawaian Nancy Mayers dalam menyusun cerita dengan menggabungkan budaya kerja orang tua dengan anak muda, terlihat sangat mengesankan. Anak muda yang tidak peduli termasuk senang menaruh sampah di tempat tertentu. Hal ini ditunjukkan melalui sikap peduli Ben yang senang membantu untuk membersihkan meja kerja yang telihat semrawut dan tidak bersih. 



Sutradara perempuan ini ingin menunjukkan pula sisi lain Jules sebagai pengusaha. Seorang ibu yang jarang bisa mengantar putrinya ke sekolah dan mendapat nyinyiran dari sesama ibu. Sebuah kisah klasik perseteruan atau pro kontra ibu pekerja dan Stay at Home.

Jules pun memperkenalkan Ben kepada suaminya, Matt (Anders Holm) dan putrinya, Paige (JoJo Kushner). Suami dan anak Jules menyukai Ben yang ramah dan baik hati. Bahkan Paige terlihat makin akrab tiap kali Ben mampir ke rumah. Oiya posisinya saat itu Ben sudah menjadi driver pengganti karena yang sebelumnya sakit flu parah.

Jules akhirnya bisa merasakan ketulusan Ben setelah beberapa hari menerima bantuan pada saat kritis. Seperti menemani putrinya datang ke pesat ulang tahun teman sekolahnya. Namun Ben sendiri juga merasa sedih menjumpai suami Jules yang selingkuh. Oh spoiler banget!

Lika-liku masalah perempuan bekerja, suami yang bertahan di rumah meski dulu nya ia seorang CEO yang sukses. Juga keinginan Jules yang mengurangi kesibukannya di AboutTheFit agar bisa meluangkan waktu untuk keluarganya. Semua itu menjadi bumbu yang menarik dalam film The Intern.

Juga dituturkan bagaimana Ben bertemu dan terpikat pada Fiona (Rene Russo), tukang pijat atau terapis di About the Fit. Perusahaan ini memanjakan karyawannya dengan relaksasi di tengah kesibukan jam kerja yang super padat.

Walaupun berteman baik dan menyukai Fiona, Ben tetap memuja istrinya yang telah meninggal, yaitu Molly. Kehadiran Rene Russo dalam The Intern menyeimbangkan tokoh lansia di antara banyaknya anak muda. Apalagi orang tua dalam film ini tetap menarik dari segi penampilan dan kecerdasannya.

The Intern merupakan film tentang startup dengan pekerja yang loyal pada perusahaan dan pimpinannya. film ini tak hanya mengisahkan tentang dinamika pekerja magang, tapi juga bagaimana sosok Jules sebagai bos yang ditakuti namun juga disayangi.

Ada beberapa adegan yang lucu, seperti saat empat pekerja laki-laki termasuk Ben membantu Jules untuk menghapus pesan elektronik dengan nge-hack laptop mama Jules. Film yang lucu, seru, dan sangat bisa dinikmati tanpa perlu banyak berpikir, di saat pandemi sekarang ini.



Apakah Jules akan tetap mencari seorang CEO untuk menjadi pengganti dirinya mengelola startup nya? Juga bagaimana sikap Jules tentang perselingkuhan suaminya? 

Uhhh seru banget film ini, meski telat nonton lama tapi tetap menarik dan tidak ketinggalan banget lah. Suasana film masih terasa karena saat ini bisnis startup tengah digandrungi. 

Jika kalian pernah nonton film ini, cerita dong mana adegan yang paling favorit dalam The Intern? Cerita yus Sahabat. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Minggu, 05 April 2020

Review Film The Invisible Man, Hubungan Cinta Yang Posesif
April 05, 2020 24 Comments

Film The Invisible Man, Hubungan Cinta Yang Posesif

Assalamualaikum Sahabat. Saya dari awal tidak tertarik nonton film ini karena menganggap bukan genre pilihan. Meski saya suka genre thriller, di mata saya The Invisible Man itu cocoknya film fantasi. Dan karena telah melihat film yang sebelumnya, saya terbawa dengan jalan ceritanya yang paling juga mirip lah ya.

Namun menjadi perempuan sendiri di rumah adalah, tidak bisa memilih film drama kesukaan. Ini udah diikhlaskan sih, hahahaa. Karena saya masih bisa nonton di smart TV di rumah. Paksuami bilang, kalo pengen nonton drama romantis mending di rumah aja. 

Yo wes, dari pada saya di rumah sendiri sementara para lelaki nonton bioskop, saya pun ikut. Meski paksuami juga nggak akan membiarkan saya sendiri di rumah sih. Pasti dipaksa ikut nonton, karena katanya mumpung anak-anak udah besar dan bisa diajak menikmati nonton bareng film di bioskop.

Oiya, saya dan keluarga nonton The Invisible Man awal bulan Maret, ketika belum ada info soal #WorkFromHome. Dan merupakan film terakhir yang kami tonton di bioskop sebelum mesti #StayAtHome


Beruntung sih di rumah ada STB baru yang bisa mengubah TV biasa menjadi Smart TV. Jadi saya puas-puasin nonton film dari HBO original. 

Sinopsis Film The Invisible Man :

Film ini dibuka dengan adegan yang memperlihatkan kehidupan Cecilia yang tinggal bersama sang suami yang obsesif, Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen). Cecilia hidup di bawah kontrol Adrian. Setiap gerak gerik Cecilia dipantau lewat kamera CCTV serta alarm otomatis yang membuatnya tetap di rumah.

Perhatian yang mendekati obsesif membuat Cecilia merasa lelah. Belum lagi dengan perlakuan buruk Adrian secara mental. Cecilia pun memutuskan melarikan diri dari tempat tersebut dengan bantuan kakak perempuannya Emily (Harriet Dyer). 

Ada juga sang sahabat, James (Aldis Hodge), putri James Sydney (Storm Reid),  menjadi bagian Cecilia menjalani kehidupannya yang baru. Cecilia mulai merasakan kehidupan baru yang dijalaninya lebih bebas dan membuatnya mampu tersenyum. Meski ia harus berlatih untuk berani keluar rumah, hanya ke teras saja ia masih ketakutan. Terbukti cinta posesif seorang lelaki telah sukses membelenggunya.



Namun mimpi buruk yang dikiranya berakhir ternyata malah menjadi awal dari teror yang lain. Usai mendengar kabar bahwa sang mantan kekasih meninggal karena bunuh diri, Cecilia seakan diteror oleh sesuatu yang tak terlihat. Ternyata, sosok tersebut adalah Adrian yang memalsukan kematiannya. Dia memakai baju tembus pandang ciptaannya untuk mengikuti dan menyiksa Cecilia.

Bahkan yang lebih buruk adalah, Adrian meninggalkan harta yang banyak untuk Cecilia dengan syarat tertentu. Yaitu Cecilia tidak boleh terlibat kasus kriminal atau masuk penjara. 


Review Film The Invisible Man ala Saya:

Teror yang tak kasat mata yang diberikan Adrian pun membuat orang di sekitar Cecilia menganggapnya gila. Hal tersebut semakin buruk ketika Adrian membunuh Emily di tengah restoran dan membuat Cecilia menjadi tersangka. Cecilia yang diseret ke rumah sakit jiwa dan diberikan perawatan sambil menunggu pengadilan ternyata diketahui mengandung anak Adrian.



Kabar hamilnya Cecilia ini membuat saudara laki-laki Adrian, Tom (Michael Dorman) mendatangi Cecilia dan memintanya kembali ke Adrian dan membesarkan anak tersebut bersama. 

Cecilia tidak hanya menolak tawaran tersebut namun juga mencuri pulpen dari tas Tom. Menyadari satu-satunya cara untuk memancing Adrian adalah dengan membahayakan keselamatannya, Cecilia pun pura-pura mencoba bunuh diri di dalam fasilitas kesehatan mental.

Pancingan Cecil sukses, bahkan berhasil menyerang sang mantan dan menyebabkan pakaian tembus pandang tersebut menjadi malfungsi dan menarik perhatian petugas keamanan. Adrian pun dengan sadis membunuh banyak petugas keamanan. Namun Cecilia mengikutinya kabur dari rumah sakit tersebut. Mengambil pistol dari petugas keamanan yang tewas, Cecilia mencoba menembak Adrian namun gagal. 

Adrian marah dan mengancam akan menyakiti orang terdekat Cecilia. Dan kalian tahu tentunya gimana kakak Cecil udah menjadi orang terdekat pertama yang dibunuh Adrian.

Cecil mulai dikucilkan dari lingkungannya yang baru, sahabatnya James bahkan tidak lagi memercayainya.

Menjelang film ini berakhir, muncul Cecilia yang pergi ke rumah sahabatnya, James dan memberitahu bahwa Adrian telah menjadi The Invisible Man. Cecil menuju rumah Adrian. Namun Cecil justru menemukan fakta baru. Yaitu saat ia berhasil membunuh The Invisible Man, ia mendapati sosok di balik kostum tersebut bukanlah Adrian melainkan Tom. Bahkan Adrian berada di sebuah bilik dengan tangan terikat. Cecilia tidak memecayai penglihatannya, ia menganggap Adrian lah sang pembuat skenario semua peristiwa ini.

Adrian sendiri mengaku pada petuga polisi, bahwa selama ini ia dikontrol oleh Tom dan semua perlakuannya merupakan suruhan. Cecilia yang tentunya tidak percaya menyadari satu-satunya cara untuk dapat lolos dari sang mantan adalah mengikuti permainan Adrian.

Cecilia memutuskan pergi ke rumah Adrian untuk makan bersama. Malam itu Cecilia mencoba bertahan untuk mendapatkan pengakuan bahwa Adrian membunuh kakak Cecilia. Namun bukan itu saja yang jadi tujuan Cecilia. Ia bersikap manis untuk mengalihkan perhatian Adrian.



Pada awal film, Cecilia terlihat mengambil baju tembus pandang kedua tersebut dan menyembunyikannya di belakang lemari baju Adrian. Berpura-pura ingin mandi dan membersihkan diri, Cecilia pergi untuk mengenakannya dan membunuh Adrian dengan cara yang sama pria tersebut membunuh kakaknya. 

Untuk menyempurnakan rencananya, Cecil menggunakan kamera pengawas sebagai alat bukti. Rekaman kamera tersebut memperlihatkan Adrian yang bunuh diri. Oiya saya nggak akan menyebutkan detilnya gimana, ntar kalian terkejut.

The Invisible Man terbaru dari Leigh Whannell ini menghadirkan sebuah cerita yang berbeda dari versi aslinya. Jadi bukannya fokus pada sang Invisible Man, film ini fokus pada korban dari teror tersebut. Yang pada akhirnya berhasil terbebas dari teror tersebut dengan membunuhnya. Spoiler banget deh. 

Sebagai seorang ahli teknologi, apa yang dilakukan oleh Adrian di sepanjang film pada akhirnya menjadi bumerang untuknya sendiri. Terlebih dirinya yang menganggap bahwa ia adalah orang yang berkuasa terhadap sang mantan membuatnya lengah. 

Hal tersebut dimulai dari usahanya menciptakan lebih dari satu pakaian tembus pandang. Rupanya Cecilia mengetahuinya dan berhasil menyembunyikan di pojok penyimpanana di dan digunakan oleh Cecilia untuk membunuh Adrian. Obsesi luar biasanya pada Cecilia dengan meletakkan kamera pengawas di setiap sudut rumah, justru dimanfaatkan menjadi bukti sempurna menutupi jejak bahwa Cecilia yang membunuh Adrian.

Spoiler atau enggak, tentunya kalian akan tahu setelah nonton film The Invisible Man nantinya. Karena saya nggak menuliskan ceritanya dengan detil. Ada banyak adegan yang sepanjang film tayang bikin penonton tegang. Mengantisipasi setiap kejadian apa yang bakal dialami atau terjadi pada Cecilia.

Terus terang dari awalnya nggak ingin nonton, telah mengubah pandangan saya bahwa The Invisible Man ini layak jadi film spesial. Saya bahkan ingin kembali nonton bila nanti tayang di HBO original.

Sahabat udah nonton film The Invisible Man? Seru kaaan, atau malah takut dengan adegan kekerasan yang sering tampil? 

Saya menganggap adegan kekerasan itu memang terlihat jelas ya. Dan memang sesuai peruntukannya, film ini hanya boleh ditonton oleh anak minal usia 16 tahun. Tapi misal anak saya usianya masih 16 tahun pun, nggak bakal saya ijinkan nonton. 

Anak bungsu saya udah 20 tahun bulan Mei nanti, jadi enggak apa sih nonton film ini. Apalagi ada saya dan suami serta kakaknya, kami bisa jadikan film ini sebagai bahan diskusi setelah film usai. Biasanya memang gitu sih, abis nonton bareng satu film, bakal terjadi diskusi seru selama perjalanan pulang. 

Ya udah, sampai jumpa dalam review film yang berikutnya. Saya kasih bocoran dulu, film berikutnya yang saya review diperankan oleh si cantik Anna Hatheway. Penasaran film yang mana? Tungguin ya, wassalamualaikum.
Reading Time:

Senin, 17 Februari 2020

Review Film : BOMBSHELL, Ketika Kerajaan News TV Digoncang Skandal
Februari 17, 2020 24 Comments

Review Film : BOMBSHELL, Ketika Kerajaan News TV Digoncang Skandal



Assalamualaikum Sahabat. Saya merasa banget menjadi penonton yang dimanjakan dengan hadirnya film-film Hollywood sepanjang Nopember - Desember 2019, dan berlanjut hingga Januari 2020.

Hampir tiap minggu adaa aja film yang bisa dipilih untuk menjadi hiburan setelah sibuk kerja ngumpulin duit untuk umroh sekeluarga. Iya, saya sisipkan harapan di artikel ini, siapa tahu kan ya banyak yang baca dan ikut mendoakan ikhtiar kami agar bisa umroh awal tahun 2021 bareng keluarga suami.

Nah, waktu nonton film Bombshell ini tuh aslinya saya masih recovery dari sakit asam lambung. Bosen di rumah selama seminggu di atas kasur. Paling kegiatannya ke kamar mandi, makan sesendok dua sendok, baca buku, nonton film di TV, ngobrol sama suami dan anak-anak kalo mereka lagi di rumah. 

Akhirnya rengekan saya didengarkan suami. Nunggu waktu longgar suami juga, jadi dipilih lah tanggal 14 Januari 2020 nonton Bombshell. Trus milihnya waktu juga abis makan siang. Dan karena cuma tayang di XXI yang ada di Paragon Mall, akhirnya malah jalan-jalan sesudah film berakhir. Oiya sekarang udah nggak tayang di bioskop, hahahaa kelamaan nulis review nya juga ya.


Baik laah, saya tuliskan aja ya tentang film Bombshell dan tiga pemainnya. Ah kayaknya saya bakal spoiler nih, hahahaa. Yah gimana, itu juga ceritanya berdasar kisah nyata yang pernah terjadi di Amerika. Kayaknya semua yang ngikuti berita online pun bakal udah baca kisah Roger Ailes kan?!

Film Bombshell diangkat dari skandal pelecehan seksual yang terjadi di kantor saluran berita Amerika Serikat, Fox News pada tahun 2016. Sebagian besar tokoh dalam film ini ada yang ada sungguhan, namun ada pula tokoh rekaan. Kayaknya untuk memperkaya cerita dan tokoh di film ini.

Sinopsis Film Bombshell, Hati-Hati Dengan Pelecehan di Kantor


Terungkapnya skandal Ailes dimulai ketika Gretchen Carlson (diperankan Nicole Kidman) mulai ambil tindakan atas tingkah menjijikkan pria itu kepadanya. Carlson adalah mantan pembawa acara dalam stasiun televisi tersebut yang mengaku kerap menerima pelecehan seksual dari Ailes.

Roger Ailes sering mengomentari bentuk tubuh dan penampilannya. Ia juga meminta Carlson untuk memakai pakaian ketat saat sedang on air. Ketika ia mengeluh tentang rekan prianya yang bicara merendahkan, Ailes malah mengabaikan klaimnya dan menudingnya sebagai pembenci pria.

Dalam berbagai pertemuan, Roger Ailes sering meminta para wanita berpose untuk ia nilai. Banyak pegawai wanita yang diminta untuk melayani nafsunya.

Sadar tak mudah untuk melawan Roger Ailes, Carlson mengumpulkan bukti-bukti selama satu tahun untuk mendukung laporannya. Carlson pun mulai menyewa pengacara untuk mengurus kasusnya. Ia berjaga-jaga sebenarnya karena udah merasa bakal dikeluarkan oleh Ailes. 

Pada 2014, ia mulai merekam aksi pelecehan seksual yang dilakukan Ailes lewat iPhone-nya secara sembunyi-sembunyi. Meski punya bukti yang cukup, perjuangan Carlson belum selesai. Pada hari kontrak kerjanya berakhir, Carlson  dipecat. 

Carlson kemudian menyewa pengacara untuk menangani kasusnya. Namun ia tidak menggugat Fox. Gretchen Carlson hanya menggugat Roger Ailes secara personal.  Tak mundur, ia malah terus menunjukkan taringnya dengan meminta setiap perempuan yang pernah kerja di Fox untuk gabung. Ia bahkan sampai memasang software khusus di ponselnya agar Ailes dan Fox tak bisa mengacaukannya.

Setelah gugatan masuk, tanpa diduga, enam orang wanita muncul dan ikut mengungkap pelecehan seksual yang dilakukan Roger Ailes. Bahkan, ada juga yang membantu menyediakan investigasi khusus untuk masalah ini.

Menyikapi masalah tersebut, Roger Ailes dan istrinya membantah. Mereka balik mengatakan, bahwa orang-orang itu mencoba memersekusinya.

Sepanjang investigasi, makin banyak pegawai Fox yang buka suara, termasuk Megyn Kelly (yang diperankan Charlize Theron dalam Bombshell). Kelly dijuluki sebagai wajah masa depan stasiun televisi tersebut saat itu. Ia mengungkap tingkah Roger Ailes padanya. 


Review Film Bombshell ala hidayah-art(com)

Film yang mengedapankan tiga aktris dengan talenta menawan. Mereka adalah Charlize Theron, Nicole Kidman dan Margot Robbie, beraksi di film Bombshell. Mengangkat tema pelecehan seksual, Bombshell menjadi sebuah tontonan yang menghibur.

Bombshell memotret ketatnya persaingan antar-jurnalis perempuan di Fox News. Tak jarang, jurnalis perempuan harus mengandalkan keelokan fisiknya demi mendapat tempat di program bergengsi atau jam tayang utama.


Picture taken by imdb(com)
Ada tiga karakter yang mendapat sorotan di film Bombshell; Megyn Kelly (Charlize Theron) yang mendapat sejumlah masalah terkait wawancaranya dengan Donald Trump. Gretchen Carlson (Nicole Kidman) yang kariernya terancam karena sikapnya yang kritis dan cenderung membangkang. Serta Kayla Pospisil (Margot Robbie) jurnalis muda yang ambisius. Aslinya karakter Kayla ini nggak ada di kisah nyata. Jadi sengaja ditampilkan untuk menambah cerita saja kayaknya.

Karier ketiganya, dan jurnalis Fox News lainnya, bergantung pada peran sang direktur utama, Roger Ailes (John Lithgow). Terhadap jurnalis perempuan, Roger tak cuma senang mengeksploitasi kecantikan mereka. Ia juga menciptakan situasi agar para jurnalis perempuan bersaing ketat, demi mendapatkan waktu siaran di jam utama. Situasi memanas setelah Gretchen dipecat, dan mengaku mendapat pelecehan seksual dari Roger.


Kayak bukan Charlize Theron ya
Picture by imdb
Sutradara Jay Roach mengemas Bombshell dengan kece. Alur film dibikin lebih dinamis. Layaknya dunia kerja yang penuh persaingam tajam dari sesama pekerja.

Dalam film ini pun atmosfer persaingan digambarkan dengan penuh intrik. Sayangnya, film yang skenarionya digarap Charles Randolph ini lebih banyak mengangkat sisi sensasional, ketimbang emosional para karakternya. Munculnya skandal pelecehan seksual justru dimanfaatkan sejumlah jurnalis perempuan muda untuk cari muka ke atasan. Dan tidak memberi dukungan pada sesama rekannya. 

Sebenarnya saya penasaran, mengapa tak banyak adegan yang menunjukkan seberapa hancur, atau kuatnya karakter tokoh utama dengan masalah yang mereka hadapi. Yang ditunjukkan itu gimana Kelly, Carlson dan Kayla mencari cara agar tujuan mereka tercapai. 

Charlize Theron tampil prima. Penampilannya dalam film ini bikin saya pangling. Ekspresi dan gestur tubuhnya terlihat berbeda. Intinya bukan Charlize banget. Riasan dan gaya berpakaiannya pun menambah kekuatan dari karakter Megyn Kelly. 

Yang saya suka tuh riasan dan busana para wanita di Bombshell semuanya modis tanpa kesan menor. Nah hal ini menjadi nilai tersendiri. Sementara Margot Robbie, terlihat effortless dengan peran yang dibawakannya. Nicole Kidman meski karakternya terbilang penting, tapi dia kurang menonjol dibanding dua teman mainnya.

Duhhh pengen spoiler banget deh dengan jalan ceritanya plus intrik di film ini.  Saya suka dengan celetukan para pemainnya yang bikin ngakak atau senyum geli. Ada juga kisah Kayla berjuang ingin mengenakan celana panjang. Namun mendapat larangan dari teman dan  manajer nya. 

Ending cerita tentu yang diharapkan semua perempuan. Tokoh jahat masuk bui dan membayar kerugian pihak korban. Semua bahagia tentunya.

Asliii, film nya menghibur dengan pesan moral tentang menjaga attitude di tempat kerja. Jangan takut speak up misalkan ada yang melakukan pelecehan di tempat kerja. Meskipun yang melakukannya adalah pimpinan kamu. Jangan sampai kemilau pekerjaan menjadikanmu silau dan menutup mata dengan pelecehan seksual di tempat kerja. Gimana, udah nonton film Bombshell juga? Sharing kuy. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Rabu, 01 Januari 2020

Review Film Jumanji: The Next Level, Dari Kegelisahan Yang Berujung Petualangan Seru
Januari 01, 2020 23 Comments

Review Film Jumanji: The Next Level


Assalamualaikum Sahabat. Akhir tahun 2019 disemarakkan dengan kehadiran film-film yang menarik, seru, mendebarkan, hingga yang romantis. Desember jadi bulan yang semarak dan penuh warna. Saya dan suami sampai kewalahan memilih judul film, karena tidak semua kami sukai. 

Meski aslinya selera suami dan saya tidak sama. Tetep nggak jauh juga bedanya, yaitu film import dari Hollywood. Bukan itu saja sih, tapi juga menyesuaikan waktu longgar suami. Pernah loh saya udah siap sesuai janji suami mau nonton jam segini misalnya. Eh suami kelupaan dan bikin janji dengan klien, wkwkwkkk.

Sebenarnya ada beberapa film yang udah saya tonton pada bulan Desember ini. Di antaranya ada Knives Out, yang review nya sudah saya tulis di blog ini.

Silahkan baca : 


Kisah petualangan empat sahabat yang kembali hadir dalam film aksi petualangan yang mendebarkan. Dari kejar-kejaran dengan burung unta, menghindari pertarungan sengit dengan kawanan monyet, hingga menemukan kembali sebuah warisan milik suku tertua di Jumanji.

Bagian dari sekuel Jumanji: Welcome To The Jungle ini, hadir dengan bumbu komedi yang pas banget. Bahkan dari awal pun cukup sukses membuat penonton tertawa tanpa henti. Namun tidak hanya menghadirkan komedi yang memunculkan tawa penonton. Jumanji The Next Level juga menghadirkan adegan yang menyentuh hati.

Komplit deh cerita dalam film ini, dengan hadirnya adegan yang menyentuh hingga mengobrak-abrik emosi penonton. Huehuee, saya teringat pada mata yang terasa panas karena menahan isak tangis.

Sungguh film ini mampu mengaduk-aduk emosi saya. 

Sinopsis Film Jumanji, The Next Level:

Petualangan Spencer (Alex Wolff), Fridge (Ser’Darius Blain), Martha (Morgan Turner) dan Bethany (Madison Iseman) dimulai dengan hal yang konyol. Rasa insekuriti spencer-lah yang mengantarkannya kembali ke dalam permainan gila bin ajaib itu. 

Mereka adalah empat sahabat yang memiliki perasaan kuat terhadap satu sama lain. Martha, Fridge, dan Bethany kembali ikut mempertaruhkan nyawa mereka demi menyelamatkan Spencer.


Mau tidak mau, suka atau tidak suka, mereka harus kembali ke permainan itu. Avatar utama dalam permainan ini seperti Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Ruby Roundhouse (Karen Gillan), Moose Finbar (Kevin Hart), dan Professor Shelly Oberon (Jack Black) adalah karakter yang tentu saja familiar kalo kalian adalah penyuka film petualangan ini sebelumnya.

Namun kali ini ada karakter tambahan yang membantu empat karakter utama tadi untuk menyelesaikan permainan. Yang paling konyol antara penentuan avatar kali ini tidak semulus biasanya. Permainan gila itu justru memunculkan tambahan avatar dan melakukan perubahan avatar secara acak.

Akankah Spencer kembali menjadi Dr. Smolder Bravestone di dalam permainan tersebut? Ataukah ada orang lain yang tak terduga memasuki permainan gila tersebut? 


Review Film Jumanji, The Next Level

Saya dan suami nonton film ini untuk menemani adik ipar dan ponakan. Kami sengaja memilih nonton film pukul 21.10 malam itu karena pas dengan waktu pilihan kami semua.


Oiya film ini sebenarnya bukan pilihan tontonan kesukaan saya dan suami. Kami nonton film ini karena ajakan adik ipar aja, hahahaa. Tapi so far, saya suka sih. Alasannya adalah Jumanji, The Next Level cukup untuk dijadikan film yang menghibur. Saya dan hampir semua penonton selalu tertawa ngakak sepanjang nonton film ini.

Kali ini Jumanji yang mereka mainkan lebih sulit dan berbahaya dari sebelumnya. Mereka harus menjelajah ke daerah-daerah baru yang belum mereka taklukkan sebelumnya. Dahulu mereka hanya bermain di hutan belantara. Namun di film ini, komplit deh lokasinya. Mulai dari gunung es, gurun pasir, hingga ke hutan belantara. Nah tentunya rintangan yang dihadapi bakal berbeda dengan film sebelumnya.



Yang lebih menarik lagi, kakek Spencer, Eddie dan sahabatnya, Milo, juga ikut-ikutan terjebak dalam permainan ini. Keberadaan 2 kakek ini bikin permainan jadi makin sulit.

Okay berikut saya tuliskan review ala saya untuk film Jumanji, The Next Level.

Film ini dibuka dengan kisah empat anak muda di empat tempat yang berbeda. Mereka adalah Spencer (Alex Wolff), Fridge (Ser’Darius Blain), Martha (Morgan Turner) dan Bethany (Madison Iseman). 



Spencer dan Martha dulunya sepasang kekasih, sebelum akhirnya putus. Saya kok lupa alasan mereka putus karena apa, hahahaa.

Yang jelas mereka terhubung dengan semacam alat komunikasi. Mereka berjanji untuk bertemu dan berkumpul di kafe yang sekarang dimiliki oleh Nora. Kafe ini dulunya milik kakek Spencer yang bernama Eddie dan temannya, Milo Walker.

Rupanya Spencer khawatir mengenai pertemuan dengan semua orang terutama Martha. Mereka sudah memutuskan hubungan, dan Spencer berpikir mereka mempunyai kehidupan lebih baik.  Spencer galau dengan keputusannya untuk kembali ke rumahnya dan bertemu tiga sahabatnya. Ia memutuskan turun ke ruang bawah tanah rumahnya, dan mencari permainan Jumanji yang sudah disimpannya.

Martha, Bethany dan Fridge menjadi khawatir sebab Spencer tak juga muncul malam itu. Pagi harinya, mereka pun ke rumah Spencer. Di sana mereka hanya bertemu dengan kakek Spencer, yaitu Eddie yang tinggal di rumah itu untuk memulihkan diri dari operasi pinggul. 

Kebetulan pula ada Milo Walker, temannya yang membuka kafe, namun sudah dijual dengan alasan ingin pensiun. 

Di ruang bawah tanah, Bethany udah curiga bahwa Spencer sengaja masuk ke permainan Jumanji. Ketiganya berniat menjemput Spencer karena beranggapan hanya mereka yang mampu menyelesaikan permainan bersama-sama.

Namun permainan Jumanji itu rusak. Dan hanya mengisap Martha dan Fridge, bersama Milo dan Eddie. Bethany tak tinggal diam. Ia pun memaksa sesama Player Jumanji, yaitu Alec Vreeke agar bersedia membantu masuk ke dalam permainan.


Sementara di dalam permainan Jumanji, Martha kembali dalam avatar Ruby. Namun Fridge berakhir dengan perannya sebagai profesor Oberon sementara Eddie dan Milo mendapati karakter Bravestone dan Mouse. 

Aturan dalam permainan Jumanji The Next Level ini  adalah, setiap kejadian mereka gagal dan mati. Nyawa mereka berkurang satu dari tiga yang dimiliki. Jadi seru kan karena mereka mesti mempertahankan diri agar mereka tidak kehilangan tiga nyawa yang dimiliki. Pertama kali nyawa yang hilang adalah milik Fridge karena dimakan ular. 



Pada saat yang sama, mereka pun mengetahui bahwa panglima perang Jurgen the Brutal, telah mencuri kalung ajaib the Falcon's Heart.

Dalam kesempatan itu, mereka juga diberitahu bahwa Jurgen bertanggung jawab terhadap kematian orang tua Bravestone.

Mereka harus menemukan kalung ajaib The Falcon's Heart karena memberikan kesuburan pada lahan milik daerah Jumanji. Selama kalung ajaib itu tetap dibawah sinar matahari, lahan akan tetap subur.

Kekeringan melanda negeri tersebut saat Jurgen mencuri permata tersebut. Mereka harus mengambilnya sebelum dia menjualnya menuju sindikat kejahatan.

Beberapa kali mereka menjumpai masalah, dari penyerangan burung unta, bertemu kelompok penjahat pimpinan Jurgen, hingga masalah pribadi. 

Masalah pribadi itu adalah kisah masa lalu antara Eddie dan Milo. Eddie menyalahkakn Milo sebab menjual restoran mereka, memaksanya pensiun. Pertengkaran keduanya mengakibatkan Milo dihancurkan sebuah batu besar yang mengakibatkannya kehilangan nyawanya yang ke-2. 

Fridge, Spencer, dan Bethanya mendapati avatar asli mereka kembali, sementara itu Milo dan Eddie masing-masing berakhir pada Ming dan Cyclone, namun mereka ditangkap pasukan Jurgen tidak lama kemudian. Di benteng Jurgen, Bethany dan Fridge menghentikan tentara bayaran, Sementara itu Martha, Spencer dan Alex menyelamatkan mereka.



Bagaimana dengan kejadian berikutnya? Tentunya ada banyak aksi yang mendebarkan saat adegan bertemu sekawanan monyet ganas. Saya ngak akan kasih kisah petualangan Spencer dengan kawan-kawannya, kakek Eddie, dan Milo secara komplit. Kalian mesti nonton langsung aja deh. 

Kisah Jumanji, The Next Level ditutup dengan kembalinya kakek Eddie memasuki kafe yang dulu dimilikinya. Kemana kah Milo, sahabatnya? Hmm, spoiler again dong kalo saya tulis di sini, hahahaa.

Udah deh mumpung masih tayang kalian bisa nonton aja ke bioskop. Apakah anak-anak boleh nonton film ini? Saya tetap menyarankan temani mereka sepanjang nonton film dan ajak diskusi setelah usai. Nggak ada adegan serem sih, misal kekerasan atau tak senonoh. Semua dalam batas kewajaran. So, kuy nobar. Wassalamualaikum.

Gambar dari : vox.com
Reading Time: