My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Traveling Malaysia
Tampilkan postingan dengan label Traveling Malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling Malaysia. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2022

 Jelajah Rasa Nasi Lemak Saat di Malaysia
Desember 26, 2022 21 Comments

Jelajah Rasa Nasi Lemak di Malaysia

Nasi Lemak

Assalamualaikum. Traveling ke Malaysia cuma 2 kali namun udah bikin saya termehek-mehek dengan kulinernya yang unik. Sampai sekarang saya belum bisa move on terutama dengan cita rasa Nasi Lemak. Oia, saya berkesempatan ke Malaysia dua kali pada tahun yang sama. Yang pertama Maret 2019, traveling bareng teman blogger, namun saya dan Vita, blogger yang sekarang tinggal di Cibinong, mengajak pasangan masing-masing. 

Kunjungan kedua saat ikut dalam famtrip ke rumah sakit atas ajakan Malaysia Healthcare bulan Oktober 2019. Kedua perjalanan ini mengesankan, dan tetap ada juga pengalaman menyicipi Nasi lemak. Bikin saya tergila-gila dengan kuliner satu ini hingga sekarang.

Cerita Sejarah Nasi Lemak

Nasi lemak adalah jenis makanan khas suku Melayu yang lazim ditemukan di Malaysia di mana hidangan ini dianggap sebagai salah satu hidangan nasionalnya, dan Indonesia, khususnya di Riau, Kepulauan Riau dan Sumatera Utara. Hidangan ini pun dapat ditemukan di Singapura dan Brunei.

Nasi lemak terbuat dari nasi yang dimasak dengan santan, jahe, kayu manis, dan daun pandan. kondimen nasi lemak adalah ayam rendang, ikan teri, rendang ayam atau daging sapi, sambal, kacang goreng, telur rebus, ikan bilis, dan lainnya sesuai selera.

Asal usul Sejarah Nasi Lemak adalah berasal dari tanah semenanjung Malaysia. Nasi Lemak juga menjadi makanan popular di Semenanjung Melayu dan pantai timur Sumatera. 

Dari beberapa sumber berita, diceritakan bahwa jaman Kesultanan Melaka, ada sepasang ibu dan anak bernama Mak Kuntum dan Seri. Suami Mak Kuntum udah lama tiada karena menjadi korban pertempuran di Selat Melaka. Kondisi ini membuat Mak Kuntum terpaksa bekerja keluar rumah menjadi tukang urut. Sementara putrinya Seri tinggal dan mengurus rumah.

Seri jenuh dengan cara masak nasi serta pelengkapnya yang itu lagi itu lagi. Jadi dia pun mulai berkreasi dengan memasukkan lengkuas dan daun pandan. Saat Mak Kuntum datang, Seri pun menyajikan hasil masakannya.

"Apa kau masak ni, Seri?" Tanya Mak Kuntum yang kaget melihat nasi masakan anaknya.

Jawab Seri,"Nasi le! Mak!"

Mak Kuntum bertanya hal yang sama. Seri tetap mengulang jawabannya. 

"Nasi le mak!", "Nasi le mak!", "Nasi le mak!"

Semenjak hari itu, nasi tersebut dikenali sebagai Nasi Lemak. Ahhh, saya jadi ingin berkunjung lagi ke Malaysia dan bertanya pada penjualnya. Karena dulu pun saya hanya menikmati sajian nasi lemak dan tak ada keinginan mengenal cerita di balik lahirnya. Semoga semesta mendukung ya, Sob. 

Menjelajahi Rasa Nasi Lemak Saat di Malaysia    

Mengingat perjalanan saya ke Malaysia tiga tahun lalu, menyisakan kenangan saat menyesap cita rasa gurih Nasi Lemak. Pertama perkenalan nasi lemak di Kota Semarang di salah satu resto yang ada di mall. Namun ketika akhirnya merasakan nasi lemak di negara asalnya, kok rasanya beda. 

Di atas pesawat yang membawa saya menuju Kuala Lumpur disajikan nasi lemak dalam kemasan styrofoam. Isinya ada nasi gurih, rendang ayam, teri, kacang goreng (ini yang paling favorit, hahahaa), dan sambal yang semua dalam porsi kecil. Tapi bagi saya porsi segitu juga udah banyak karena terbiasa sama kayak di rumah.

Nasi Lemak di pesawat Airasia

Memang saat pramugari Air Asia menawari pilihan makanan, saya sengaja minta nasi lemak dengan kondimen ayam. Cuma sayangnya kok ternyata ada tambahan telur rebus juga. FYI, saya tuh kurang suka telur rebus jadi pelengkap makan nasi. Kalo misalnya telur ceplok atau dadar masih bisa lah. 

Biasanya saya bagikan telur rebus pada teman makan. Namun karena saat terbang bersama Air Asia itu saya sendiri, ya udah akhirnya dimakan terakhir setelah nasinya habis. Saya paling nggak bisa menyisakan makanan, takut merasa bersalah aja karena kebiasaan sejak kecil.

Ternyata setibanya di KLIA ada tim penyambut dari panitia dan diantar ke kantor cabang MHTC di bandara. Di sini setiap blogger dan media yang datang udah disediakan nasi kotak dan minuman. Tahu nggak nasinya apa? Nasi lemak! 


Sayangnya perut saya masih penuh dengan makanan nasi lemak di pesawat tadi. Jadi akhirnya saya tinggalkan aja di meja dan mengambil minumannya aja. Kebetulan di sini saya bertemu dengan Muthia, blogger asal Pekanbaru. 

Muthia

Sempetin foto berdua dong ya, karena selama ini hanya bertemu di media sosial. Padahal saya udah dua kali ke Pekanbaru, sayangnya nggak ada kesempatan bertemu.

Kembali lagi cerita menjelajah rasa nasi lemak di Malaysia yang ternyata udah beberapa kali saya lakukan. Tanpa sengaja sebenarnya, mungkin lidah saya terlanjur sayang, hahahaa.

Mengingat kembali traveling ke Malaysia bulan Maret 2019 bersama suami, serta teman blogger Vita dan suaminya, Mara, dan mba Dian Nafi. Saya nyobain nasi lemak pertama kali beli di pasar dekat Masjid Jameek. Sambil nungguin suami saya dan suaminya Vita shalat Jumat, saya melihat pasar tempat jualan jajanan dan buah-buahan. Tapi saya makannya di food court NU Central KLCC. 


Dengan harga 2,5 RM udah dapat nasi lemak dikemas dengan mika. Murah banget dengan isiannya ayam panggang yang rasanya lezat, aromanya itu loh yang bikin saya puas menikmati nasi lemak ini. 

Suami saya beli nasi lemak di food court nya seperti Vita dan suaminya. Isi nasi lemak pesanan suami adalah nasi, teri dan kacang dibikin kayak balado (kalo nggak salah yaa), telur rebus, ayam goreng tepung, rebusan okra, dan sambel.

Nasi Lemak di food court KLCC


Porsinya lebih besar dibanding punya saya. Tentu saja ya dengan harga yang lebih mahal sudah pasti isinya juga lebih banyak. Untuk satu porsi nasi lemak dengan ayam goreng tepung seperti ini dibanderol 7,5RM. 

Nasi Lemak Bukan Lagi Sebagai Menu Sarapan

Ya nasi lemak yang dulunya sebagai menu sarapan biasanya disajikan pukul 6 hingga 10 pagi. Di Malaysia udah biasa menyebut jam sarapan sebagai "waktunya nasi lemak".

Namun sekarang nasi lemak udah wajar disantap di luar jam sarapan. Buktinya banyak kedai dan resto di Malaysia yang menyajikan nasi lemak saat makan siang atau bahkan makan malam.


Dahulu nasi lemak dibungkus daun pisang dan menjadi bekal ke sawah atau para pekerja kebun sawit dan karet. Nasi lemak dengan bahan beras, santan, daun pandan, memang nikmat disantap dalam bungkusan daun pisang. Rasa sedap lebih mengena di lidah.

Isian nasi lemak adalah Nasi bersantan, sambel, irisan ikan teri, kacang-kacangan, dan telur rebus, dan lauk utama seperti ayam atau daging dimasak mirip rendang. Bahkan seperti yang food court bisa aja ayamnya berupa goreng tepung. 

Nasi Lemak dalam bahasa Melayu ada yang bilang mirp dengan nasi uduk Betawi atau nasi gurih di Jawa Tengah. Masing-masing memiliki ciri khas dengan tampilan yang hampir mirip. Nasi lemak seperti juga nasi uduk atau nasi gurih, juga dicintai oleh masyarakat lokal. 

Begitu lah cerita saya tentang pengalaman menjelajahi rasa nasi lemak di negara asalnya, Malaysia yang menyenangkan. Semoga saya bisa berkunjung lagi kesana dan menyicipi nasi lemak serta kulinernya yang lain. Sahabat udah pernah nyoba nasi lemak juga? Sharing yuk pengalmannya di kolom komentar. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Kamis, 11 Agustus 2022

Mencari Halal Food di Jalan Alor, Bukit Bintang, Malaysia, Susah Banget Kah?
Agustus 11, 2022 41 Comments
Assalamualaikum Sahabat. Mengenang kembali jalan-jalan ke negeri Jiran tahun 2019, rasanya jadi kangen. Kangen jajanannya yang khas, unik, dan punya cita rasa lezat. Kesan mencari halal food yang cukup susah, tapi tetap excited, hehehe. So...mending ditulis aja nggak sih pengalaman kuliner selama di Malaysia. Karena saya juga nggak tahu kapan bisa kesana lagi. Terlebih kondisi masih cukup merisaukan dengan adanya virus yang masih bermutasi. 



Traveling ke Malaysia saya alami dua kali pada tahun yang sama yaitu tahun 2019. Cukup lama juga ya dan memang sebelum pandemi menghantam bumi. Pertama kali berkunjung ke Malaysia pada bulan Maret 2019 bersama suami, dan teman-teman blogger. 

Maret 2019 di Bukit Bintang
Penjual gerobak di Jalan Alor belum buka 

Kemudian saya kembali lagi bulan Oktober 2019. Namun kali ini untuk kunjungan liputan bareng Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC). 

Silakan baca liputan saya : Malaysia Healthcare Travel Council


Selama 4 hari 3 malam saya bersama rekan media dan blogger benar-benar bekerja dari pagi hingga malam. Kebetulan saya mendapat jatah kunjungan di beberapa rumah sakit yang ada di Kuala Lumpur. Dan beruntungnya pula jadi nginap di satu hotel aja selama di sana, yaitu di Park Royal Hotel. Namun saya dan dua teman dari Kota Medan mendapat jatah kamar di apartemen Park Royal Hotel.

Kerja Terus, Kapan Jalan-Jalannya?

Dari hari pertama kedatangan hingga hari terakhir kami disibukkan dengan acara liputan. Kemudian pada hari kedua, sepulang dari acara Welcome Dinner bersama Tourism Malaysia, beberapa teman ngobrol pengen healing sejenak. 

"Capek juga ya, jadwal liputan padat,"
"Iya nih, jadi nggak ada waktu melipir jalan-jalan,"
"Namanya juga undangan kerja, hahahaa."

Bincang gak jelas malam itu di dalam mobil sewaan panitia MHTC mengundang tawa. Memang paling bener kalo tubuh dan pikiran lelah itu obatnya bercanda, ngakak bareng teman seperjalanan yang senasib, hahahaa.

Kebetulan hotel tempat kami nginap itu terletak di dekat Bukit Bintang. Setelah ngobrol lagi, dan melihat beberapa tempat terdekat yang oke untuk healing, bertemu lah land mark Kuala Lumpur yaitu jalan Alor. Wuihhh tempat yang udah lama saya nantikan untuk dikunjungi nih, asik banget ihhh.

Waktu awal jalan-jalan ke Malaysia ini, saya, suami dan teman-teman lewat depan jalan Alor. Sayangnya nggak bisa wisata kuliner di sana karena masih siang dan belum buka semua. Hanya resto yang ada di jalan tersebut yang udah buka. Namun kami nggak tertarik karena yang kami inginkan ya jajanan khas jualan yang pakai gerobak dan suasana malam jalan Alor.

Jadi saat saya mendengar kalo hotel saat kunjungan liputan dekat dengan land mark Kuala Lumpur, langsung deh setuju dengan usul teman untuk ke jalan Alor.

Kami pun janjian untuk segera ngumpul di lobby. Karena ada teman yang ingin ngambil sesuatu di kamarnya. Setelah terkumpul siapa aja yang ikut, kami berjalan keluar hotel. Jarum jam menunjukkan pukul 22.10 dan kami berjalan berenam, perempuan semua. Suasana malam di kawasan Bukit Bintang justru makin ramai. Kami jalan santai aja dan nggak butuh waktu lama udah tiba di depan jalan Alor yang udah ramai pengunjung.

Mencari Halal Food di Jalan Alor

foto di atas adalah pintu masuk jalan Alor

Sebenarnya saya dan teman-teman udah merasa kenyang dengan sajian masakan dalam acara yang diadakan oleh Malaysia Health care. Tapi karena malam itu adalah kesempatan terakhir kami bisa jalan-jalan, ya udah lah diputuskan segera capcus ke lokasi terdekat dengan hotel tempat nginep. Daaan, kata mba Tari, jalan Alor itu tempat terdekat dan terbaik untuk menikmati malam di kota Kuala lumpur. Nggak berniat  nyari makanan berat, melihat-lihat aja siapa tau ada halal food porsi kecil yang bisa dinikmati. Atau boleh juga sih porsi besar, ntar bisa dimakan bareng gitu.


Jalan alor ini pusat kuliner street food di bukit bintang, banyak sekali pedagang makanan disini, kebanyakan chinese food dan seafood. Tempatnya sangat ramai dengan pilihan makanan yang beragam. Harga makanannya bervariasi, ada yang murah sampai yang mahal. Tergantung ya jenis makanan yang kalian pilih. 


Tapi saya lihat makanan yang mendominasi memang jenis chinese food dan seafood. Ada juga jajanan khas, makanan asli Kuala Lumpur seperti nasi lemak. Banyak pramusaji yang menawarkan pengunjung untuk mampir ke resto mereka. Sambil menyodorkan buku menu, menyarankan beragam pilihan masakan. Kalo kalian tidak tertarik, bisa dibalas dengan senyum atau tolak secara halus. 


Selain makanan yang mengandung B2, Chinese Food yang halal juga ada banyak pilihan. Nanya aja sebelum pesan makanannya ya. Selain itu ada juga penjual yang menyajikan Thailan food atau Indian food. Beragam nasi, sayur, sup, jajanan manis juga ada. 


Ada banyak gerobak makanan dan cindera mata. Yang bikin makin ngiler tuh ketemu gerobak durian, air tebu, dim sum/ steamboat dan masih banyak lagi. Sebenarnya pengen ya nyicipi salah satu sajian halal food di jalan Alor. Seperti roti Arab, nasi lemak, kebab, tortla, duhhh sukses deh bikin ngiler. 


Pilihan halal food di jalan Alor
foto sate di piring itu milik orang, saya pinjam untuk difoto 

Menarik nih waktu saya menemukan gerobak yang jualan Japanese sweet potato, kacang rebus, jagung rebus. Aroma manis jagung dan kacang rebus menguar, mengundang setiap mata si pemilik perut yang tengah lapar. 




Akhirnya tatapan kami terpaku pada penjual kue putu. Rasa penasaran yang mengantarkan kami mendekat pada gerobak penjualnya. Jauh jauh ke Malaysia, jajannya malah kue putu, hahahaa.


Kalo kalian pernah bertemu penjual kue putu yang berjualan keliling dengan suara berdenging, di sini enggak begitu. Penjual dengan gerobak yang mangkal di salah satu ruas jalan Alor, menyajikan kue putu sambil nyiapin dari adonan yang masih mentah. Yang sama dengan kue putu di Semarang hanya sama-sama disajikan dalam keadaan hangat. 


Kue putu di jalan Alor ini rasanya sama dengan yang ada di Semarang. Bentuknya aja yang berbeda. Kalo di Semarang karena dicetak menggunakan bambu, bentuknya lonjong. Kalo di jalan Alor ini kue putu menggunakan cetakan dari aluminium berbentuk kerucut. Cetakan ini diisi dengan adonan yang terbuat dari tepung bers dan kelapa, serta bumbu lainnya. Kemudian diisi parutan gula jawa, baru deh dikukus. Dan setelah matang bentuknya bulat, disajikan bersama parutan kelapa. Ini seporsi isinya 3 buah dijual harga RM 2,5 dikemas menggunakan styrofoam bening. Rasanya enak kok sama dengan kue putu yang ada di Semarang.




Yang khas di jalan Alor ini adalah saat makan akan ada penyanyi jalanan yang menyanyikan berbagai lagu. Ditingkahi suara obrolan dari berbagai bahasa, dengan aroma beragam makanan, jadi bikin malas meninggalkan lokasi.


Semakin malam jalanan ini ramai sekali, orang berjalan dan pedagang yang menyajikan makanan & minuman. Tersedia berbagai minuman seperti es kelapa muda, es tebu mapun berbagai juice buah.




Selain makanan dari berbagai pilihan, terdapat juga pijat refleksi, bar/cafe, mini market, bahkan gerobak penjual cindera mata. Saya bersama teman-teman sempat mampir untuk melihat-lihat jenis jualan si bapak. Ada dompet kw, gantungan kunci dengan hiasan land mark setempat, patung dari bahan akrilik, cincin, gelang, dan masih banyak yang lain.




Akses Menuju Jalan Alor

Jalan Alor ini menjadi tujuan wisata kuliner oleh setiap wisatawan yang berkunjung ke Kuala Lumpur. Jalan ini juga sangat mudah dijangkau dengan transportasi kereta monorail. Kalian bisa turun di Stasiun Imbi atau Bukit Bintang. Jika dari Stasiun Imbi, cukup jalan kaki aja menyusuri Lorong Pudu atau Jalan Bulan menuju Jalan Bukit Bintang. Setelah itu melangkah lah ke Jalan Changkat Bukit Bintang. Jalan Alor mudah ditemukan karena terlihat jelas di sisi kiri kalian jalan kaki.


Untuk yang mengakses dari Stasiun Bukit Bintang, tinggal langkahkan kaki ke Jalan Bukit Bintang seperti halnya petunjuk sebelumnya. Dari Plaza Low Yat, pusat Jalan Alor Kuala Lumpur Malaysia bisa dijangkau kira-kira 10 menit jalan kaki.


Malam yang makin larut, seakan mampu membuat kami tersihir untuk terus berjalan. Untung aja ujung jalan terlihat pandangan mata kami. Dan kami pun memutuskan kembali ke tempat awal kami masuk jalan Alor. Karena udah puas dengan apa yang udah kami nikmati malam itu, kami memutuskan balik ke hotel.


Ternyata penjelajahan kami di jalan Alor tidak lama, hanya satu jam. Apalagi kami juga hanya beli beberapa cindera mata dan jajan minuman serta cemilan kue putu aja. Hemat banget yaaak. Mungkin lain waktu kami bisa kembali kesini untuk menikmati wisata kuliner atau halal food yang dijajakan di resto chinese food atau seafood halal? Bisa juga sih, semoga ada waktu terbaik ya, sahabat. 


Kalian pernah juga berkunjung ke jalan Alor, sahabat? Udah nyoban halal food apa aja? Yuk bagikan pengalaman kalian nyoba menu halal food di jalan Alor. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Minggu, 01 Desember 2019

Tak Sekadar Belanja Coklat di Harriston Boutique Malaysia
Desember 01, 2019 33 Comments

Belanja Coklat di Harriston Boutique Malaysia


Assalamualaikum Sahabat. Saat saya berkunjung ke Malaysia yang kedua kalinya, pengennya sih jalan-jalan di tempat wisata yang baru. Terutama tempat wisata yang belum saya kunjungi saat pertama ke Malaysia. 

Namun ternyata kunjungan kedua kali ini jadwal dari si pemberi job sangat padat. Rencana hari terakhir pengen ke Dataran Merdeka. Kemudian pengen juga numpang shalat di Masjid Jamek, karena kunjungan pertama cuma bisa di serambi. Pas hari Jumat tuh masjid tertutup untuk jemaah perempuan. Kan nyesek gitu udah sampai di masjid gak bisa shalat.


Rencananya juga abis itu mau ke Sentral Market, kan deketan ya bisa belanja oleh-oleh. 

Namun ternyata rencana dan harapan tak sesuai kenyataan. Hmm, kayak lagu jadul niy. Kunjungan hari ketiga rampungnya udah sore banget. Akhirnya harus ganti destinasi lah, yang sesuai dengan keinginan semua orang. Karena ada yang pengen foto-foto di Menara KLCC.

Driver Hotel Yang Mengantar Rombongan ke Harriston Coklat

Rencananya sih kami akan diantar oleh driver yang selama tiga hari menjadi teman perjalanaan di Kuala Lumpur. Jadi ada beberapa tujuan jalan-jalan. rombongan saya akan ke Kenanga Wholesale City, tempat belanja baju dengan model grosir. Minimal harus beli tiga bijik dan harganya murah. Bisa jadi oleh-oleh untuk ponakan.

Namun sayangnya jam 6 malam udah tutup, jadi kami akhirnya minta ke toko oleh-oleh yang khusus jual coklat. Jalan-jalan ke Malaysia tanpa beli coklat serasa hampa, sob!

Kami ngakak sepanjang jalan karena driver melewati jalan tikus dengan kesan lingkungan yang gelap dan kumuh. Etapi kalo nggak lewat jalan ini, kami pasti kelamaan di jalan. Karena Kuala Lumpur tuh tiap sore jalannya macet kayak di Jakarta.

Di jalan yang udah dekat dengan toko penjual coklat, terlihat puncak Menara KLCC. Teman serombongan udah bilang sama driver untuk diantar juga ke KLCC. Padahal janjinya sejak di lobby hotel, kami hanya diantar sampai di toko oleh-oleh. Nanti deh saya ceritakan di akhir tulisan ini ya. Apakah kami diantar sampai ke KLCC atau di toko penjual oleh-oleh?

Harriston Boutique, A Unique Malaysian Chocolate Experience

Driver ngajakin ngomong kami sepanjang jalan, udah kayak tour guide gitu. Eh beliau juga promo sih kalo bisa menjadi driver misal kami ingin berkunjung lagi ke Kuala Lumpur. Saya langsung catat nomer telepon bapak driver yang baik dan ramah ini.

"Nah, gedung yang jual coklat udah ada di depan sana, di sebelah kiri," tutur driver.

Mata kami mencari gedung yang driver jelaskan. Saya yang udah pernah ke toko penjual oleh-oleh coklat di Kuala Lumpur, ikut mencari. Saya cari sebuah nama yang lekat di ingatan. Namun nggak ada papan penunjuk dengan tulisan nama yang saya ingat.

Mobil jenis station ukuran seperti mobil travel di Indonesia, berbelok ke arah kiri. Tempat parkir luas menyambut mobil yang membawa rombongan saya. Ada beberapa mobil serupa, juga jenis mobil lainnya. Beberapa driver terlihat duduk di kursi yang ada di luar bangunan.

"Udah sampai, silahkan belanja dan borong untuk oleh-oleh," tutur bapak driver.

Kami berhamburan turun dari mobil dan lari ke bangunan di arah kiri kalo dari pintu masuk jalan.

Ada semacam patung yang menggambarkan buah-buahan, bahan tambahan produk coklat. Saya dan teman-teman pun bergantian foto di depan patung buah-buahan tersebut. Sebenarnya saya mati gaya deh foto di situ, tapi karena diminta pose ya.. udah lah, hahahaa.


Kemudian di belakang patung buah-buahan, ada petugas yang memberikan kalung tanda masuk. Jadi selama tour di Harriston Boutique, kalung ini mesti dipakai oleh pengunjung.

Begitu memasuki pintu ada outlet yang menyambut pengunjung. Ada petugas yang dengan ramah menjelaskan bahan dasar dan jenis-jenis coklat yang ada di Harriston.


Di sini juga ada dapur tempat untuk memproduksi coklat yang terlihat dalam etalase berukuran besar. Namun saya tidak melihat aktivitas produksi coklat di sana. Karena bisa jadi udah saatnya jam tutup produksi mungkin ya, saya lupa nggak menanyakan hal ini.


Tak Sekadar Belanja Coklat di Harriston Boutique

Saya melihat ada beberapa rombongan yang sedang mendengarkan penjelasan di tiap outlet dengan petugas yang berbeda. Rombongan saya hanya betah sebentar mendengarkan uraian si petugas. 

Ya iya lah, kami udah tiga hari ini dengerin penjelasan terus, tapi tentang info kesehatan dan rumah sakit di Malaysia. Masa iya mau belanja aja masih diminta dengerin informasi lagi, hahahaa. Capek akutu.

Saya dan tiga orang teman segera berpencar. Yang lain pun mengikuti, melihat berbagi coklat yang dipajang di etalasi dan di meja-meja.


Sebenarnya kalo kami punya waktu lebih, senang juga mendengarkan informasi seputar coklat dan bahan tambahan lainnya. Karena Harriston Boutique ini tak sekadar menjajakan coklat. Namun memberikan pengalaman unik mengeksplorasi produk coklat yang diklaim nomer satu di Malaysia ini. 

Ada beberapa jenis dan rasa coklat yang disajikan dan bisa dipilih oleh pengunjung. Kemasannya pun beragam, dari kemasan plastik, kertas, toples, kaleng dengan tema gamber masjid Putra Jaya dan Menara KLCC, hingga dikemas seperti kado. 


Pilihan rasa coklat  yang dipajang di etalase Harriston Chocolates ada banyak. Seperti dark chocolate, tiramisu, kopi, almont, hazelnut, sampai rasa buah-buahan, yaitu strawberry, durian, dan lainnya.


Saya udah ngincipi Almond yang dibalut coklat susu, rasanya gurih tapi juga kemanisan untuk lidah saya. Ini nih foto penampakan coklat almond berbalut susu.


Tirmiau Chocolate with Milk menjadi andalan Harriston Chocolate Boutique. Pengunjung terlihat memasukkan kemasan coklat ini di keranjang belanja. Ada juga yang memilih Chocolate white almond, Chocolate white strawberry, dan Hazelnut yang berbalut coklat susu.

Harga produk coklat di Harriston Boutique bervariasi, dari 24 MYR hingga 199 MYR. Ada juga kemasan dengan jumlah 6 pak yang dijual dengan harga lebih murah dibanding beli satuan. 


Malaysia memang menempati urutan teratas sebagai produsen coklat terbaik di kawasan Asia. Untuk kelas dunia, Malaysia ada di urutan kelima, sementara Belgia dan Belanda yang menjadi nomer satu dan dua terbaik di dunia.

Saya di sini enggak belanja satu pun produk coklat Harriston. Karena saya dan beberapa teman udah janjian akan belanja coklat di tempat lain. Nanti ya saya update cerita tentang belanja coklat di tempat favorit tiap berkunjung ke Malaysia. Aihhh, baru juga dua kali berkunjung ke Malaysia, udah punya tempat favorit belanja coklat.


Dan kunjungan kedua kali ini saya harapkan tidak menjadi yang terakhir. Saya masih pengen berkunjung lagi ke Malaysia bersama teman ataupun keluarga. Masih ada banyak tempat wisata di Malaysia yang belum saya kunjungi. Impian dan doa itu bakal terwujud kalo diucapkan. Aamiinkan yaa, Sahabat. 

Selesai belanja coklat di Harriston, kami kembali ke mobil. Driver udah siap pula mengantarkan saya dan teman-teman menuju destinasi berikutnya, yaitu Menara KLCC. Bapak driver yang baik hati ini memang benar-benar berjiwa penolong. Permintaan kami diwujudkan meski janjinya tadi kami hanya diantar di satu destinasi saja. Semoga pelanggan makin banyak ya Pak. 

Pemandangan di jalan raya kota udah mulai nampak lengang. Adzan Maghrib sebentar lagi berkumandang. Para pekerja tengah di jalan atau di rumah masing-masing. Alhamdulillah kami juga udah tiba di pelataran KLCC. 

"Terima kasih, Pak," ucap kami nyaris bergantian pada driver.

Ucapan kami disambut senyum ramah dan doa terbaik. Kami saling mendoakan. Harapan yang sama terucap, semoga ada waktu terbaik bisa berkunjung lagi ke Malaysia. Sampai jumpa lagi, bapak driver yang baik. Wassalamu'alaikum.
Reading Time:

Kamis, 07 November 2019

Malaysia Healthcare Travel Council, Berobat ke Malaysia dengan Cara Menyenangkan
November 07, 2019 37 Comments

Wisata Berobat Bersama Malaysia Healthcare Travel Council 


Assalamualaikum Sahabat. Sudah sejak lama saya sering bingung ketika menjumpai beberapa orang yang saya kenal saat sakit, malah terbang ke Malaysia. Katanya sih untuk berobat. Saya bertanya, untuk berobat atau jalan-jalan?

Jawaban mereka bikin saya terkejut. Katanya tujuan mereka ke Malaysia memang untuk berobat plus jalan-jalan. 

"Kalian ggak percaya perawatan dokter di negeri sendiri?" tanya saya agak kecewa.
"Bukannya nggak percaya, saya yakin dokter di sini pintar. Tapi untuk diagnosanya, rumah sakit di Semarang suka mengulur waktu. Banyak deh alasan mereka, yang intinya di mata saya, menunda perawatan pasien. Udah sakit, makin diperparah kan dengan penanganannya?"

Hmm, saya nggak mampu membalas jawaban mereka. Saya teringat ponakan yang akhirnya didiagnosa kena leukemia. Sebelum diagnosa ini ditegakkan, ada sekitar sebulan dia dirawat di kamar kelas 1 di sebuah rumah sakit swasta terbaik di Semarang. Setiap kakak sepupu saya bertanya, apa sebenarnya penyakit anaknya. Selalu dijawab masih dilakukan observasi. 

Tahu dong berapa duit yang akhirnya dibayarkan untuk perawatan anaknya ini? Untuk satu bulan sebelum diagnosa terbit, duit sekitar puluhan juta keluar dari rekening tabungan sepupu saya. Itu terjadi awal tahun 2000. Bayangkan berapa duit yang dibutuhkan sekarang pada tahun 2019.

Malaysia Healtcare Travel Council

Alhamdulillah saya beruntung terpilih dan diajak mengenal Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC). Menjadi salah seorang blogger yang hadir dalam peluncuran Malaysia Year of Healthcare Travel (MyHT) 2020 di Kuala Lumpur pada tanggal 30 Oktober - 2 Nopember 2019 yang dikemas dalam bentuk Familiarisation Trip.

Malaysia Year of Healthcare Travel 2020, atau dikenal sebagai MyHT2020, diluncurkan bersamaan dengan kampanye pariwisata Visit Malaysia 2020 (VM2020). MyHT2020 merupakan perayaan tentang pentingnya kesehatan fisik dan mental dengan mengajak masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan dan kesejahteraan di Malaysia serta menikmati berbagai atraksi wisata di Negeri Jiran tersebut.


MHTC adalah badan resmi milik pemerintah Malaysia yang tidak memiliki kesamaan dengan agensi lainnya. MHTC bekerja sama dengan Kementrian Kesehatan, dan mulai tahun 2018 berada di bawah Kementrian Keuangan.


MHTC Lounge di KLIA 2
Didirikan pada tahun 2009, MHTC berupaya untuk memberikan fasilitas dan mengembangkan industri pariwisata kesehatan Malaysia di bawah brand "Malaysia Healthcare". MHTC ini diharapkan untuk menjadikan Malaysia sebagai tujuan utama pariwisata kesehatan di dunia. 

MHTC diniatkan untuk menyatukan para pemain industri dan penyedia layanan dalam sebuah strategi pengembangan dengan fokus meningkatkan profil pariwisata kesehatan Malaysia di kancah dunia. Model kemitraan antara publik - swasta ini telah terbukti berhasil mengembangkan sektor pariwisata kesehatan di Malaysia. 

Bisa dilihat dari angka yang terus bertumbuh, bahwa ada lebih dari 1,2 juta wisatawan kesehatan yang berkunjung untuk berobat ke Malaysia. Reputasi Malaysia sebagai destinasi perjalanan kesehatan dibangun atas kegigihannya menyediakan perawatan kesehatan yang berkualitas kelas dunia. Fasilitasnya mudah diakses, terjangkau secara kompetitif, ramah, bersahabat, dan dihadirkan secara hangat.

Pantas juga kalo majalah International Living (USA) menobatkan Malaysia sebagai "Best Country in the World for Healthcare" Global Retirement Index tahun 2015, 2016, 2017, dan 2019.

Bahkan Malaysia juga menerima penghargaan "Destination of the Year" untuk wisata kesehatan dari tahun 2015 - 2017, juga penilaian istimewa pada tahun 2018 oleh International Medical Travel Journal dari Inggris. Tiga kriteria utama penilaiannya berdasarkan pada kualitas, kemudahan akses dan keterjangkauan harga.


Mengapa Harus Memilih Malaysia Healthcare?

Malaysia menawarkan sesuatu yang berbeda dari para pesaing regionalnya, yaitu sebuah pengalaman perjalanan end-to-end bebas hambatan bagi para wisatawan kesehatan yang dimulai sejak kedatangan hingga kepulangan ke negara asal. 

Malaysia Healthcare menyediakan layanan penjemputan di aerobridge, jalur cepat melewati imigrasi dan bea cukai dan bantuan pengambilan bagasi. Layanan penerjemahan juga disediakan sesuai permintaan untuk memudahkan komunikasi bagi pasien yang membutuhkan layanan.

Saya dan rekan media mengalaminya langsung begitu pesawat mendarat di KLIA 2. Begitu memasuki gate kedatangan, ada perwakilan dari MHTC yang menyambut kami. Nama saya dan rekan media, Dony (Suara Merdeka) tertulis dalam selembar kertas yang diangkat seorang perempuan cantik dan ramah bernama Nadia. Untuk pasien yang membutuhkan kursi roda, akan disediakan juga.

Saya dan Nadia, dari MHTC
Langkah Nadia tidak cepat, namun jangkauannya agak panjang. Dia melangkah santai sementara saya dan Dony berjalan cepat mengimbanginya di belakang. 

Kami memotong jalur imigrasi, tidak mengikuti antrian panjang yang pasti menyebalkan bagi seorang pasien yang tengah menderita sakit tertentu. Begitu bagian imigrasi mengecek paspor dan dua jari telunjuk dipindai sidik jarinya di mesin, urusan di sini udah rampung. Kami diajak langsung menuju ke Malaysia Healthcare Lounge. Oiya kemarin saya diajakin naik golf car, jadi enggak capek dong jalan dari ujung ke ujung, hihihii.

Saya menatap antrian mengular di imigrasi, orang-orang tengah berjibaku dengan tas bawaanya. Apakah di antara mereka ada calon pasien yang ingin berobat juga di Kuala Lumpur? Ah andai mereka tahu, ada jalur khusus untuk berobat ke negeri jiran ini.

MHTC memiliki perwakilan di tiga bandara di Malaysia. Yaitu Malaysia Healthcare Lounge yang bertempat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), KLIA2 dan Penang International Airport. Saya kemarin udah melihat langsung Malaysia Healthcare Lounge di KLIA 2. Tempatnya nyaman dengan kursi dan meja yang ditata di beberapa sudut lounge. Kursinya nyaman, ada tempat colokan untuk mengisi daya baterai ponsel, majalah, serta pemandangan keluar jendela.


Di sini, pasien yang datang dari berbagai negara dan ingin berobat di Malaysia, bisa menanti jemputan dari hospital piihan. Nantinya pihak hospital yang menjemput dan mengantar pasien dari bandara.

Dari Malaysia Healthcare Lounge, kami diajak pindah menuju hotel Istana. Tempat MHTC akan mengadakan media briefing untuk blogger dan media. Kesempatann ini dipergunakan juga untuk mengenalkan Malaysia Healthcare Travel Council.

Sebelum berangkat ke Malaysia, saya udah menerima semacam itinerary yang isinya menerangkan seputar MHTC. Namun mendengarkan penjelasan langsung dari Ms. Sherene Azli, CEO Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC), menjadi perhatian terbesar saya. 

Sore itu Ms. Sherene didampingi oleh Ms. Shobena Singam (Vice President Public Relations and Corporate Communication MHTC), dan Ms. Nik Yazmin Azman (Chief Commercial Officer Malaysia Healthcare Traveil Council).


Ms Nik Yazmin
Pada kesempatan ini dijelaskan secara lengkap mengenai MHTC serta rangkaian persiapan menyambut Malaysia Year of Healthcare Travel 2020 (MyHT 2020) tahun depan.

MHTC memiliki mitra sebanyak 73 rumah sakit swasta, yang terdiri dari 21 anggota elite dan 52 anggota biasa. 

Rumah sakit tersebut tersebar di wilayah persekutuan Malaysia. Ada yang di Penang, Melaka, Kuala Lumpur, Ipoh, Sabah, Serawak, dan kota-kota lainnya.

Melihat animo masyarakat di Indonesia, Tiongkok, Jepang, dan beberapa negara di Asia lainnya yang memilih datang berobat di Malaysia. Namun tidak semua mendapatkan informasi yang akurat mengenai perawatan kesehatan di Malaysia. Bahkan banyak juga yang tidak mengetahui bahwa Malaysia menerapkan batas atas tarif tertinggi pada biaya perawatannya agar lebih terjangkau.  

Sistem perawatan kesehatan Malaysia diatur secara ketat oleh Kementerian Kesehatan Malaysia melalui Private Healthcare and Facilities Service Act (1998) yang mengedepankan keselamatan pasien serta biaya perawatan terjangkau.

Jadi jangan cemas kalo kamu akan dikenakan biaya semena-mena atau di luar batas kewajaran. Enggak ada istilah udah masuk rumah sakit malah terbebani biaya yang luar biasa.

Bandingkan dengan biaya perawatan di rumah sakit Singapura. Biaya perawatan di rumah sakit swasta di Malaysia ini bisa loh hanya sepertiga dari biaya di rumah sakit Singapura.

Malaysia juga tidak membedakan pasien yang datang karena fokus utamanya adalah bagaimana proses pengobatan bisa dilakukan lebih cepat. Dan tentunya tidak membebani pasien dan keluarganya dengan biaya yang tak terhingga. Terlebih rumah sakit swasta di Malaysia ini juga bekerja sama dengan asuransi swasta. Nantinya asuransi swasta ini lah yang akan berkomunikasi dengan asuransi swasta yang ada di Indonesia. Jadi enggak bisa langsung ya.

Oiya, tak hanya itu, para wisatawan kesehatan juga dapat menikmati beragam layanan kesehatan menarik sambil dikelilingi pemandangan alam khas Malaysia yang menakjubkan.

Nanti ya dalam tulisan berikutnya akan saya tunjukkan rumah sakit dengan fasilitas pemandangan yang cantik. Saya kasih fotonya dulu di sini. Foto ini saya tengah berada di Presiden Suite Room Sunway Hospital. Pemandangan dari balkon adalah Sunway Lagoon, semacam waterpark.



Nah, udah tahu dong kalo MHTC itu adalah sebuah tim yang berpengalaman. Yang akan membantu calon pasien dengan memberikan informasi yang memenuhi kebutuhan setiap wisatawan kesehatan, mulai dari rumah sakit dan pusat perawatan, jenis perawatan yang tersedia, akomodasi, serta kebutuhan pariwisata kesehatan lainnya.

Bila ingin tahu lebih banyak tentang beragam informasi mengenai layanan kesehatan di Malaysia, seperti perawatan medis, akomodasi dan perjalanan, di situs web ini:



Lantas, mengapa MHTC hanya bermitra dengan rumah sakit swasta?
Tentunya karena adanya kebijakan khusus yang mengharuskan rmah sakit negeri yang bersubsidi fokus melayani pasien warga negara Malaysia saja. Di Malaysia tidak ada asuransi khusus seperti di Indonesia untuk warga tidak mampu. Namun mereka hanya mengenakan tarif sebesar 5 MYR untuk berobat. Terjangkau banget ya buat warga tidak mampu di sana.


Nah, kalo warga lokal tetap bebas memilih rumah sakit negeri atau pun swasta juga tentunya.


Welcome Dinner Bersama Tourism Malaysia


Setelah membersihkan diri, kami segera berkumpul lagi di loby dan bersiap menuju acara berikutnya. Malam ini bus yang mengantar kami menuju tempat dinner udah siap di depan hotel. 

Delegasi blogger dan media
dari berbagai negara
Perjalanan menuju The Oakroom, Connexxion, Bangsar cukup jauh. Bisa jadi karena kami enggak tahu lokasi persisnya. Hahahaa. 

Alhamdulillah setelah perjalanan yang terasa agak lama, rombongan pun tiba di The Oakroom. Tempatnya terselip di antara ruangan di mall besar. Pintu masuknya udah bikin adem mata pengunjung. Suara gemericik air mancur kecil yang berjumlah lebih dari satu. Kaki saya melangkah di antara kolam, suasana langsung terasa adem menyejukkan.

Para gadis cantik menyambut kedatangan rombongan dari delegasi berbagai negara. Yaitu dari Indonesia, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Bangladesh, India, Tiongkok, dan Brunai. 

Rangkaian acara dinner dibuka dengan sambutan dari perwakilan MHTC, Ms. Nik Yazmin Azman, Chief Commercial Officer Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC).

Kemudian untuk mengenalkan tentang pariwisata Malaysia, ada Ybhg. Zulkifly bin Md Said, Deputy Director General (Planning) Tourism Malaysia. Ada begitu banyak wisata di Malaysia, dari arung jeram, danau, tempat wisata kuliner yang semuanya begitu mempesona dan layak dijadikan destinasi pilihan.

Acara juga dikemas dengan tampilan memikat berupa kesenian khas dari berbagai suku yang tinggal di Malaysia. Karena masih dalam rumpun yang sama, seakan saya menyaksikan penampilan dari negeri sendiri. 

Musik rancak, tarian yang energik, bahkan mengajak serta tamu undangan yang hadir untuk ikut bergabung. Suasana meriah malam itu mencairkan udara yang dingin dari penyejuk udara.


Foto bersama seluruh delegasi dari berbagai negara
dan pejabat MHTC serta mitra 

Terlebih ada begitu banyak pilihan kuliner lokal yang unik dan khas dari sajian The Oakroom yang sungguh memikat mata dan lidah. 

Malam itu saya pulang ke kamar hotel dengan hati bahagia dan perut kenyang karena puas, hahahaa. Ada banyak informasi yang menarik yang ingin segera saya bagikan pada pembaca blog www.hidayah-art.com.

Seremoni Peluncuran Malaysia Year of Healthcare Travel (MyHT) 2020

Pagi usai sarapan di resto Park Royal Hotel, rombongan meluncur ke The Majestic Ballroom, The Majestic Hotel Kuala Lumpur. 

Acara peluncuran Malaysia Year of Healthcare Travel 2020 direncanakan pada pukul 12.00 waktu setempat. Rangkaian acaranya terdiri dari kedatangan Menteri Keuangan, YB Tuan Lim Guan Eng beserta rombongan pejabat setempat dan tim MHTC. Kemudian hadirin diminta menyanyikan lagu kebangsaan Malaysia yaitu Negaraku. Dan dilanjutkan doa sebelum memulai peluncuran event MyHT 2020.

Kata sambutan pertama oleh Ms. Sherene Azli, CEO of the Malaysia Healthcare Travel Council. Puan Sherene menuturkan tentang julukan ‘Healthcare Marvel’. Beliau sempat bercanda tentag Avenger dan kaitannya tentang Healthcare Marvel ini. 



Lebih lanjut, Ms. Sherene bercerita bahwa Malaysia telah berkembang menjadi destinasi perjalanan kesehatan kelas dunia yang sukses dalam waktu singkat serta diakui oleh berbagai rekan industri dan pakar kesehatan di seluruh dunia. 

“Kami ingin mengundang semua wisatawan kesehatan untuk menikmati pengalaman perjalanan end-to-end bebas hambatan kami yang berkualitas tinggi dan terjangkau selama kampanye MyHT2020 berlangsung. Kami melihat popularitas Malaysia sebagai pilihan destinasi perawatan kesehatan telah meningkat akhir-akhir ini, dan saya percaya bahwa hal ini merupakan buah dari kepercayaan yang diberikan oleh para wisatawan kesehatan kepada kami,” tutur Ms. Sherene Azli, CEO Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC).
Di bawah lima kementrian yang ada yaitu : Menteri Kesehatan, Menteri Keuangan, Menteri Pariwisata, Seni & Budaya, Mentri Ekonomi, serta Menteri Perdagangan & Perindustrian, MHTC menjadi mitra pemerintah mengembangkan industri pariwisata dan berobat bagi calon wisatawan dari negeri Asia dan secara luas negara di dunia.

Saya cukup takjub melihat peran serta kelima kementerian di Malaysia ini bersatu padu mengerjakan industri kesehatan dan pariwisata.

Industri perjalanan kesehatan Malaysia tercatat tumbuh setiap tahunnya dengan Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan (CAGR) sebanyak 17%. Melalui total pendapatan rumah sakit yang mencapai RM 1.5 milliar pada tahun 2018, Malaysia Healthcare telah berkontribusi sebesar RM 6.4 miliar terhadap ekonomi nasional Malaysia. 



Dengan mengusung MyHT2020, Malaysia Healthcare menargetkan untuk berkontribusi sebesar RM 8 – 10 miliar terhadap ekonomi nasional Malaysia pada tahun 2020.

Berikutnya sambutan dari Menteri Keuangan, YB Tuan Lim Guan Eng. Dalam sambutannya beliau menekankan tentang Malaysia Year of Healthcare Travel 2020.

Acara dilanjutkan dengan foto bersama, yaitu :
YBrs. Ms. Sherene Azli (CEO of Malaysia Healthcare Travel Council), YBhg. Dato’ Seri Dr Chen Chaw Min (Secretary General of Health of Ministry of Heath Malaysia),  Dr Enggang, YB  Dato’ Wira Ir. Haji Amiruddin bin Haji Hamzah (Deputy Minister of Finance Malaysia), YBhg. Datuk Dr. Kuljit Singh (President of the Association of Private Hospitals of Malaysia), YBhg.  Datuk Musa Bin Yusof (Director General of Tourism Malaysia of Ministry of Tourism, Arts and Culture), dan Ybrs. Captain Izham Ismail (Group CEO of  Malaysia Airlines Berhad).



Penandatanganan MoU (MHTC and MAS)

Peluncuran MyHT 2020 juga menjadi event penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara MAS Airlines dan MHTC. Selama ini, MAS telah berperan besar dalam memastikan pengalaman perjalanan pasien yang bebas hambatan.

Dengan diadakannya penandatanganan MoU ini tentunya akan memperkuat layanan industri perjalanan kesehatan Malaysia. Dalam waktu dekat, para wisatawan kesehatan akan dimanjakan dengan berbagai paket perjalanan kesehatan yang menarik sebagai bagian dari MyHT2020.


Kapten Izham Ismail, Kepala Eksekutif Grup, Malaysia Airlines Berhad (MAB) menuturkan sebagai berikut :


“Malaysia Airlines sangat gembira dapat bermitra dengan MHTC untuk segmen pasar yang penting ini. Sebagai maskapai nasional negara Malaysia, kami sepenuhnya mendukung Malaysia sebagai negara tujuan utama untuk perawatan kesehatan dan wisata. Para pengunjung yang memilih Malaysia untuk rawatan kesehatan dan wisata akan berkesempatan untuk mendapatkan manfaat dari para ahli dan fasilitas medis yang sudah dikenal secara internasional, di tengah-tengah rancangan Malaysia yang indah dan tenang di mana mereka dapat merasakan pengalaman yang terbaik dari Malaysia Healthcare yang telah kita kenal. Jaringan komprehensif kami yang mencakup lebih dari 1.000 tujuan di seluruh dunia dan di dalam negeri adalah pelengkap yang sempurna untuk ini, sebagai cara terbaik untuk terbang ke, dari dan di sekitar Malaysia. Yang paling penting  adalah memastikan  keramahtamahan yang tanpa batas sepanjang perjalanan pasien dan untuk ini kami juga akan berkolaborasi dalam pelatihan lintas bidang terkait, di antara lainnya."


Apa Maskot Malaysia Year of Healthcare Travel 2020?

MyHT2020 memperkenalkan maskotnya, seekor hornbill cum bernama Dr. Enggang. Maskot ini sebagai representasi keramahtamahan Malaysia yang merupakan elemen penting dalam pengalaman perjalanan kesehatan Malaysia Healthcare yang bebas hambatan.

Peserta famtrip dan tamu undangan dari berbagai rumah sakit mitra MHTC yang hadir dipersilahkan untuk foto bersama maskot Dr. Enggang. Saya pun tak mau ketinggalan ikut foto bareng dr. Enggang, dibantu oleh delegasi dari Tiongkok. Terimakasih yaa, lupa nanya namanya.


Nah, seperti apakah rumah sakit yang menjadi mitra MHTC? Saya akan tuliskan tiga rumah sakit yang saya kunjungi bersama teman blogger dan media dalam artikel selanjutnya. 

Ketiga rumah sakit ini memiliki kelebihan dalam hal fasilitas dan perawatan yang ditawarkan pada pasien. Itu lah sebabnya saya akan menuliskannya secara terpisah dengan artikel ini. Wassalamualaikum Sahabat.

Dokumen dan Materi Artikel :
- Dokumen Pribadi
- Foto dari MHTC
- Press release

Alamat MHTC di Indonesia :
SPACES, Lantai 3, WTC 3, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 29-31, Karet Sudirman, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia 12920.
Call centre: 081289710029 (WhatsApp)
Reading Time: