My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Kamis, 17 November 2022

Kasus Kebaya Merah Jadi Ingat Film Tema Kepribadian Ganda
November 17, 2022 2 Comments
Assalamu'alaikum. Sahabat mengetahui video viral tentang si kebaya merah beberapa waktu lalu? Saya cukup kaget saat membaca kebaya merah menjadi trending topic di Twitter. Tak saya sangka kalo viral kasusnya adalah menyalahi moral yang ada di masyarakat kita. Tidak seperti info dari media sosial yang kebanyakan hanya menyoroti masalah tindak amoral si kebaya merah, saya ingin melihat sisi lain kasus ini.


Menurut informasi dari portal berita, si kebaya merah (AH) yang membuat video viral tersebut memiliki kepribadian ganda. Saya ambil kutipan dari Detik Health, bahwa menurut Direktur Reskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Farman, AH merupakan pasien rawat jalan di RSJ Surabaya.

Penyidik siber dari kemarin sudah melakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan juga melakukan upaya paksa penggeledahan. Informasi yang kami terima dari penyidik, yang bersangkutan (AH) merupakan seorang yang berkepribadian ganda. Ditunjukkan dari hasil penggeledahan di tempat singgah AH dengan ditemukan kartu kuning, dan beberapa faktur-faktur tanda berobat di salah satu RS kejiwaan yang ada di Surabaya

Kepribadian Ganda atau Gangguan Identitas Disosiatif 

Bagi kalian yang belum memahami apa itu kepribadian ganda, ada penjelasannya di sini. Kepribadian ganda disebut juga gangguan identitas disosiatif adalah suatu kondisi kesehatan mental,  ketika seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda antara satu dengan lainnya. 


Yang perlu diketahui juga pengidap gangguan ini mengalami kepribadian yang berubah-ubah, namun dia tidak menyadari apa yang terjadi dalam dirinya. Gangguan yang muncul bisa ditandai dengan terganggunya memori, kesadaran, dan kepribadian yang seringnya dipicu kejadian traumatis saat masih kecil. Bentuk trauma bisa karena kekerasan fisik atau verbal yang dialaminya dan terjadi secara berulang-ulang.


Dalam istilah medis sendiri kepribadian ganda disebut dengan gangguan identitas disosiatif (DID) dan termasuk kondisi kesehatan mental yang terganggu. Bahkan bisa saja mereka ini memiliki lebih dari dua kepribadian, atau kepribadian yang berlapis-lapis.


Bayangkan bertemu dengan orang berkepribadian ganda, kadang emosinya labil, berubah-ubah sesuai kepribadian yang mana yang muncul. Namun dia sendiri tidak menyadari dengan kepribadian ganda yang tersemat dalam dirinya. Satu orang dengan dua atau lebih kepribadian yang bertolak belakang.


Setiap identitas yang ada di dirinya memiliki sejarah pribadi, ciri-ciri khusus, suka dan tidak suka, yang berbeda. Bahkan DID ini menimbulkan si kepribadian ganda mengalami halusinasi atau gangguan dalam memorinya. Dia meyakini sesuatu itu nyata meski aslinya tidak demikian dengan yang orang lihat.


Contoh Kepribadian Ganda Bisa Nonton Film Genre Thriller Secret Window

Bagi penyuka novel Stephen King, pasti kenal dengan Secret Window, Secret Garden. Novel thriller ini kemudian diadaptasi menjadi film dengan atmosfer thriller. Film dengan plot twist yang mengejutkan menyajikan sisi kesehatan mental dari karakter utamanya yang diperankan oleh Johnny Depp.


Film dengan judul mirip novelnya, Secret Window dengan durasi tayang 90 menit cukup seru dan menegangkan di beberapa bagian. 


Morton "Mort" Rainey (Johnny Depp) adalah penulis novel dengan genre misteri yang cukup populer. Suatu hari Mort memergoki sang istri, Amy yang berselingkuh dengan seorang pria bernama Ted di sebuah motel.


Kejadian itu membuat Mort memutuskan untuk menyendiri di rumah kabinnya yang ada di di Danau Tashmore, New York. Sementara Amy memilih tinggal bersama Ted.


Beberapa bulan kemudian, Mort gelisah karena mengalami “writer's block” dan masih belum bisa menulis cerita yang baru. Di sisi lain juga, ia memutuskan untuk menunda proses perceraian yang diajukan oleh Amy sejak lama.


Di tengah kebuntuan menulis, seorang pria misterius bernama John Shooter muncul di depan pintu kabin Mort. Ia menuduh Mort melakukan plagiat atas tulisannya yang berjudul Sowing Season.


Shooter hanya datang dan menyerahkan naskah cerita tersebut kepada Mort. Lalu ia pergi dengan menatap tajam kepada Mort. Sepeninggal Shooter, Mort membaca karya Shooter. Ia cukup kaget karena ternyata mirip dengan novel yang ia buat yakni Secret Window.


Hanya bedanya ada di bagian akhir tulisan Shooter yang memiliki ending tak sama dengan karya Mort. Esok harinya Mort bertemu dengan Shooter, dan memberitahunya kalo tulisan yang ia buat sudah dicetak di sebuah majalah misteri tahun 1994. Sedangkan Shooter menulis Sowing Season di tahun 1997.


Mort sebenarnya memiliki masalah mental yaitu kepribadian ganda. Ia seperti mengalami halusinasi dan yang lebih gawat yang dilakukan Mort akhirnya justru membunuh orang-orang yang menghalangi langkahnya. Mantan istrinya, Amy dan Ted dibunuh Mort.


Ia lalu mengubur mayat Amy dan Tedd tepat di bawah kebun yang berada di samping rumah kabinnya. Kebun tersebut pun dapat dilihat melalui “Secret Window” yang berada di lantai atas tempatnya bekerja.

Ending cerita rasanya mengganjal karena Sheriff kesannya membiarkan kejahatan terjadi. Mort bersikap biasa dan seolah tidak ada yang terjadi. Sheriff Dave Newsome, yang sebenarnya mengetahui kejahatannya Mort, datang ke kabinnya, dan berjanji akan mengungkapkan kebenarannya. 

Sungguh berhubungan dengan orang berkepribadian ganda itu melelahkan atau bisa aja nyawa taruhannya. Saya sendiri belum pernah bertemu dengan orang berkepribadian ganda. Apakah kalian punya kenalan dengan kepribadian ganda? Hati-hati ya, ajak ke psikiater untuk berobat agar tidak melakukan hal-hal yang mengerikan. Wassalamu'alaikum.

Reading Time:

Selasa, 15 November 2022

Self Love Atau Mencintai Diri Sendiri Sebelum Jatuh Cinta
November 15, 2022 13 Comments

Assalamualaikum Sahabat. 30 tahun yang lalu, sebelum menikah tapi udah pacaran, saya sempat gamang. Tetangga depan rumah pasangan suami istri dengan 4 anak, sering bertengkar. Kalo bertengkar kadang benda pun melayang. Saya yang tak pernah melihat pertengkaran hebat dalam perkawinan bapak dan ibu, melihat itu jadi takut. 


Bagaimana bila hal sama terjadi pada saya kelak? Saya, anak perempuan sulung yang tak pernah mendapat bentakan dari bapak, apa bisa menerima bentakan dari laki-laki yang jadi suami saya? Saya tidak ingin mengalami kekerasan dalam rumah tangga seperti tetangga. Saya mencintai diri sendiri hingga nggak bakal mengijinkan seorang laki-laki melakukan KDRT dalam sebuah pernikahan.


Pentingnya Self Love Untuk Perempuan Sebelum Jatuh Cinta

Orang sekarang sering menyebut self love untuk kesehatan mental. Terutama sejak pandemi, saat imunitas tubuh sangat penting. Kesadaran tentang kesehatan mental dianggap menjadi bagian penting pula.


Self love artinya mencintai diri sendiri. Tetapi tentu saja bukan berarti kita egois memenuhi keinginan diri sendiri terus menerus. Makna Self-love adalah dengan mengharuskan kita memperlakukan dan menerima diri sendiri dengan baik dan apa adanya.


Perempuan begitu mudahnya jatuh cinta tanpa memiliki kesadaran apa yang bakal ditemuinya nanti. Dia tak menyiapkan fondasi baik secara materi maupun mental ketika jatuh cinta. Mungkin tidak semua perempuan bersikap seperti ini. Saya sendiri nggak mau seperti lirik lagu Agnez Mo, Cinta ini tak ada kata logika. Saya justru menggunakan logika saat menjalani hubungan kasih dengan pacar (suami saya, suwer dia bukan cinta pertama tapi pacar pertama saya, hihiii).


Terlebih saya sudah melihat beberapa pernikahan yang gagal di tengah jalan karena beragam kasus, meski kebanyakan karena KDRT. Saya melihat sendiri kerabat yang mengalaminya. Bahkan ada kasus yang terjadi di depan kantor, penjual makanan yang mengalami KDRT. Sedih loh melihat tapi tanpa bisa menemukan solusi pencegahan KDRT Pada Wanita


Menurut saya, mencegah itu lebih baik dibanding mengobati luka yang dialami para wanita ini. Saya bukannya diam tanpa membantu sedikit pun. Saya bahkan siap menjadi pendamping untuk mengenalkan mereka yang mengalami KDRT pada wanita untuk mendapatkan perlindungan. 


Namun ketika wanita yang menjadi korban menolak keras, apa daya saya? Jadi ketika usaha sudah saya jalankan, keputusan akhir memang ada pada si korban KDRT.


Itu lah sebabnya saya sejak pacaran udah memberikan batasan pada diri sendiri tentang suatu hubungan dua arah. Saya tidak akan mau dirugikan, menjadi korban baik kekerasan fisik maupun mental dalam sebuah hubungan dengan seseorang, apalagi dengan calon suami. Sejak masih remaja saya merasa kayak disiapkan oleh bapak agar menjadi wanita yang punya tujuan, tidak bergantung pada orang, dan pantang menyerah. 


Dalam perkembangan usia, saya juga menumbuhkan sikap tidak mau bergantung dalam mengambil keputusan. Untuk menjadi pribadi yang tangguh, saya butuh mencintai diri saya. Siapa lagi yang mau menghargai diri kita kalo bukan kita sendiri?


Saya saat itu menyadari, mencintai diri sendiri itu modal kita mampu berdiri tegak dan tidak memusingkan omongan orang. Sepanjang kita sudah melakukan sesuatu hal, baik yang sederhana maupun yang penting, itu cukup. 


Mencintai diri sendiri bisa membangkitkan rasa bangga pada diri sendiri karena sudah mampu menyelesaikan sebuah tujuan baik suatu karya maupun cita-cita. Tapi rasa bangga ini bukan lantas menjadikan kita sombong, bukan yaa. Itu lah pentingnya mengelola self love atau mencintai diri kita dengan cara positif. 


Modal Self Love Agar Terhindar Dari KDRT 

Ketika perempuan ada dalam ikatan pernikahan, akan banyak effort yang dikeluarkannya. Bisa terjadi juga pada laki-laki sebenarnya. Namun menurut saya, ketika perempuan dan laki-laki sudah memutuskan untuk menyatukan cinta dalam pernikahan, wajib banget memegang komitmen. 


Nggak hanya komitmen, tapi juga menjunjung niat baik sebelum menikah, takut pada Tuhan, menghargai pasangan, dan masih ada yang lainnya. Memang tidak mudah menjalani hubungan dalam pernikahan. Namanya juga dua pribadi yang memiliki banyak perbedaan berinteraksi dalam pernikahan.


Sepanjang usia pernikahan saya selama 28 tahun ini, self love ini ternyata bermanfaat menjaga hubungan dengan suami dan anak-anak. Tidak ada luka masa kecil ataupun remaja yang menghalangi langkah saya menjadi istri dan ibu. Terlebih memiliki pasangan hidup yang selalu mendukung apapun impian yang masih ingin saya capai, menambah kepenuhan rasa dalam diri. 

Laki-laki dengan sifat mirip Bapak
menempatkan impian saya sebagai tujuan hidupnya

Sungguh saya tidak pernah merasakan KDRT baik fisik maupun kekerasan verbal selama menikah. Hal ini yang menjadikan saya ibu yang bahagia dengan dukungan suami yang super love. Dalam hal ini termasuk model pengasuhan bergantian agar saya memiliki me time. Saat saya ingin membaca novel, hobi yang sejak kecil sudah melekat di diri, suami siap menidurkan anak-anak. Atau ketika saya ingin ngumpul dengan sahabat semasa kuliah, suami siap nemenin anak-anak di rumah dan bermain seharian.


Mencintai diri mampu menepis rasa insyekur menjadi penuh rasa syukur. Merasa bahagia dengan apapun yang saya miliki tanpa merasa rendah diri dengan pencapaian orang lain. 


Hal sama yang saya harapkan dirasakan anak-anak agar mereka bersyukur dengan cinta dari ibunya. Cinta yang tulus, yang tak pernah menghakimi dengan setiap pilihan mereka. Cinta yang akan selalu ada mendampingi mereka bertumbuh. 


Semoga Allah azza wa jalla senantiasa menjadikan anak-anak saya seperti bapaknya, yang selalu memberikan cinta yang tanpa batas pada ibu mereka. Self love atau mencintai diri sendiri sebelum melabuhkan cinta pada seseorang yang spesial itu wajib. Wassalamualaikum.

Reading Time:

Senin, 14 November 2022

Healing Bareng Bestie di Tebing Breksi dan Candi Ijo Bareng Bestie
November 14, 2022 25 Comments

Assalamualaikum Bestie. Minggu lalu saya diajakin suami ikutan silaturahmi di rumah temannya di Jogja. Kali ini kami perginya nggak bersama anak-anak. Tapi kami pergi berombongan naik bus bersama bestie yang asik dan rame. Saya baru kenal beberapa bulan ini. Mereka adalah teman suami kala sekolah dasar yang belum lama ini reuni. Dan yang berangkat kebanyakan pasangan suami istri, ada juga yang masih single. Rencananya setelah silaturahmi kami akan healing di Tebing Breksi dan Candi Ijo.


Minggu pukul 6 pagi saya dan suami udah boncengan  motor menuju titik kumpul di dekat sekolah dasar mereka di kawasan Seteran, Semarang. Saya hanya bawa bekal jeruk 2 kg dan biskuit serta air mineral. Nantinya kami akan mendapat sarapan di bus, ada donatur yang udah nyiapin nasi kotak. 


Kami udah ngumpul tapi bus nya belum datang. Dari pada bengong, kami ngobrol untuk ngisi waktu, bercanda agar tidak bosan nungguin bus. Rasanya kok kami jadi kembali ke masa anak sekolah ya. Yah gitu deh, usia udah setengah abad lebih tapi masih suka ngumpul dan dolan. Kalo ngumpul pasti seru karena saling mengolok tanpa ada yang ngambek. Udah tua nggak cocok kan kalo suka ngambek.


Begitu bus nya datang langsung deh diserbu. Tapi nggak ada yang berebut karena peserta wisata ini hanya 18 orang. Sementara bus berkapasitas 25 kursi. 


Saya duduk dengan suami? Enggak dong! Di rumah udah berduaan tapi kalo di luar rumah enaknya duduk terpisah. Jadi saya duduk dengan teman perempuan suami yang kebetulan juga teman SMP kami. Oia udah tahu kan kalo saya dan suami adalah teman satu SMP? Kalo baru tahu juga santuyy aja ya geesss.


Tetap Ceria Selama Perjalanan di Dalam Bus


Paling asik kalo dalam perjalanan itu duduk santuy, nyanyi, bercanda bersama teman serombongan. Ada sih yang hilir mudik jalan ke belakang balik depan, tapi sambil bagi nasi kotak. Ada juga yang bagi-bagi air mineral, jajanan, atau perman. Kok nggak abis-abis yang dibagikan? Ya iya lah tiap orang bawa bekal lumayan banyak dengan maksud dinikmati barengan di dalam bus. Kantong yang nempel di kursi depan kita, langsung penuh isi jajanan, alhamdulillah yaa.


Eh tadi begitu bus jalan kami udah berdoa bersama, semoga perjalanan lancar tanpa hambatan. 


Perjalanan selama 3 jam tidak terasa karena ngobrol sepanjang jalan. Meski sesekali mata digayut kantuk. Namun ketika ada celetukan iseng mengundang tawa, kantuk langsung lenyap. Teman-teman suami dengan pasangannya adalah orang yang asik. Mereka sekelompok orang yang apa adanya dan tidak pernah jaim saat bertemu. Dan saya nyaman berkumpul dengan mereka. 

Silaturahmi di Rumah Sahabat

Rumah yang kami kunjungi berada di kawasan wisata, dekat banget dengan Situs Ratu Boko. Itu artinya kami akan mampir berkunjung ke tempat wisata dekat kawasan itu. Tapi bukan ke Situs Ratu Boko. Di kawasan itu banyak tempat wisata. Nanti ya setelah silaturahmi di rumah teman, akan saya ceritakan kami wisata di mana. 


Acara silaturahmi berjalan asik, santai, namun tetap ada seriusnya. Karena acara dijalankan dengan urutan layaknya pertemuan rapat. Ada pembukaan, kata sambutan tuan rumah, sambutan ketua, laporan keuangan, dan tentu saja menikmati sajian hidangan dari tuan rumah.



Seru acaranya, kudapannya juga enak sesuai selera kami penyuka jajanan tradisional. Rasanya meski makan sedikit hati tetap hepi karena banyak yang nemenin makan. Saya udah terbiasa makan siang sendirian karena suami dan anak-anak hanya bisa sesekali aja nemenin. Dengan kesibukan masing-masing tentu saya ikhlas. Makanya kalo ada acara ngumpul, saya senang bisa ikut silaturahmi dengan bonus makan bersama, hahahaa.


Foto Syantik Bareng Bestie di Tebing Breksi


Setelah makan, shalat, dan istirahat sejenak, kami berpamitan undur diri. Dan tuan rumah yang baik mengajak kami wisata di tempat terdekat dari rumah. Ahhh senangnya ya punya teman baik yang memahami kebutuhan kami healing.


Tempat pertama yang kami tuju memang sudah dibicarakan saat istirahat usai makan dan shalat. Tebing Breksi sengaja dipilih karena ingin menikmati suasana jelang sore dan tentu saja foto-foto.


Setelah memutuskan di mana tempat sesi foto, kamera pun mulai beraksi. Sayang suami saya memilih duduk di depan tempat parkir. Karena ada teman kami yang nggak memungkinkan untuk keliling menyusuri spot foto. Jadi jangan dicari yang mana suami saya. Tapi nggak masalah karena kami pernah berkunjung ke tempat ini setahun yang lalu. 


Jadi kalo ingin mengenal Tebing Breksi bisa loh baca cerita saya di blog ini. Di aratikel ini saya nggak akan menuliskan detil tentang Tebing Breksi yang viral hingga hari ini. Dan menjadi salah satu tempat wisata wajib dikunjungi bila kamu sedang di Jogja.


Silakan baca di sini : Mengunjungi 3 Tempat Dalam 1 Hari


Sekitar 1 jam kemudian kami diajak berpindah tempat yang jaraknya hanya 15 menit perjalanan. Kali ini kami meninggalkan bus di tempat parkir wisata Tebing Breksi. Akan kemana kah kami? Yuk baca di bawah ini, bestie.


Mendaki Candi Ijo


Jadi kami ke tempat wisata berikutnya naik apa? Hmmm, bentar ya saya ceritakan dulu. Tuan rumah acara sudah menyiapkan mobil keluarga untuk mengantar kami hingga tiga kali bergiliran dalam tiga rombongan. Keren ya sampai segitunya, nggak kenal rasa lelah mengantar kami, menyenangkan kami semua. Itu lah yang namanya teman terbaik. Tapi saya melihat teman-teman suami ini saling mendukung, suka berbagi, dan tidak mengenal kaya atau miskin. 


Saya ikut rombongan pertama yang diantar hingga ke lokasi, yaitu Candi Ijo. Pandangan pertama di tempat parkir udah bikin hepi. Ada gardu pandang yang juga dijadikan spot foto. Asik kan yaaa?


Bergiliran kami foto karena ada aturan tertulis tempat itu hanya boleh memuat 3 orang. Peraturan untuk keamanan ini mesti diikuti ya sob. Peraturan dibuat untuk ditaati karena demi keamanan bersama tentunya.


Setelah foto-foto jangan lupa juga untuk mengisi recehan, yaitu 3 ribu. Tapi kalo kamu baik hati dan suka sedekah, boleh kok ngisinya dilebihkan gitu. 


Setelah puas foto-foto dan rombongan pun lengkap, kami berpindah ke tempat wisata Candi Ijo. Jangan nyari candi yang warnanya ijo, kamu nggak bakal menemukannya. Saya juga belum googling mengapa dinamakan Candi Ijo padahal bangunannya tidak berwarna ijo.

Gambar atas adl candi paling bawah
Setelah itu ada anak tangga menuju ke atas

Kami menaiki anak tangga setapak demi setapak. Ya ampun pemilik tulang ini mesti bersabar kayaknya, hahahaa.


Ya gimana sih, usia udah 54-57 tahun kok masih suka naik anak tangga. Tahu kan kalo anak tangga bikinan pemahat candi itu jaraknya sama sekali tidak ergonomis. Napas udah mulai engap tapi semangat masih menyala. Saya meyakini kalo kami mampu sampai di pelataran candi paling atas. 


Saya pun memberikan semangat manakala ada yang menyerah dan kembali turun. 


"Ayo bisa yookkk... strategi nggak gampang engap adalah, naik satu anak tangga berhenti. Boleh foto selfi sambil tarik napas dalam dalam dan hembuskan perlahan,"

Anak tangga terakhir menuju
candi paling atas

Gitu terus tiap ada yang mengeluh. Meski saya sendiri aslinya juga udah merasa engap. Tapi saya orang yang suka tantangan meski tetap mengukur kemampuan diri. Dan saya merasa diri saya mampu menaiki anak tangga dengan langkah pelan tapi yakin sampai di anak tangga terakhir.


ALHAMDULILLAAAH... Senang banget waktu pucuk candi terlihat. Saya nggak mau takabur dengan berlari. Napas tua ini mesti diatur dengan lebih kalem. Padahal pengennya segera mencari spot foto paling kece. 


Dan lebih hepi lagi karena kami akhirnya bisa sampai semua di atas. Heboh deh semuanya mengeluarkan ponselnya untuk foto selfi. Saya memilih saling membantu fotoin teman dan sebaliknya juga mereka bantuin fotoin saya.


Namun setelah euforia kebahagiaan karena mampu menaklukkan rasa putus asa dengan tiba di pelataran tertinggi candi, kami pun mulai berkumpul. Salah seorang mulai mengatur gaya kami untuk sesi foto yang rasanya nggak selesai-selesai.


Sayang juga ya kondisi pengunjung tidak begitu banyak. Apakah candi ini tidak mempesona? Enggak juga loh. Bangunan candi itu sebuah mahakarya dari leluhur kita jaman dahulu. 


Untuk kebersihan cukup terjaga meski ada sampah di beberapa tempat tapi hanya satu dua gitu. Untuk tiket masuk juga terjangkau banget karena per orang dikenakan tarif 7 ribu rupiah.


Tapi ada senangnya juga ya dengan area candi yang pengunjungnya sepi begini. Kami jadi nyaman foto tanpa bocor, hahahaa. Puas banget foto-foto di sini tapi nggak akan saya pamerkan semua di sini. Takut pembaca blog ini muak dengan foto gak jelas kami serombongan.


Sepulang dari wisata bersama bestie, ya saya sudah menganggapnya begitu. Karena tiap kali kami bertemu yang ada hanya menertawakan apa aja. Hidup terasa mengalir, tiada beban apapun. Saya bersyukur diajak suami untuk gabung dan menjalin pertemanan dengan mereka. Rasanya berkah memiliki teman baru di usia senja ini. 


Saya jadi teringat dengan teman blogger Rani Noona yang tinggal di Kudus. Dari artikel di blog yang pernah saya baca (maaf ya mba Ran, nggak semua dibaca), ada satu yang menarik minat. Jurnal Syukur artikel yang menurut saya sangat pantas dijadikan pilihan bacaan. Terutama untuk kalian yang masih menyimpan luka-luka masa lalu yang belum terselesaikan. Meski bisa aja menjadi bacaan semua perempuan yang menyandang status ibu. Coba deh sempatkan waktu untuk membacanya. 


Tapi kalo kalian nggak memiliki luka masa lalu, nggak masalah juga untuk membacanya. Dari artikel ini saya ikut belajar tentang self healing yang sederhana. Membuat jurnal syukur bisa jadi self healing. Betapa bersyukurnya bisa mengingat nikmat yang kalian rasakan seharian ini dan menuliskannya di media apapun. 


Ahhh rasanya tulisan ini pun merupakan jurnal syukur, ungkapan terima kasih pada teman-teman suami dan pasangannya masing-masing. Yang telah merangkul saya menjadi keluarga mereka. Kalian pernah juga masuk dalam sebuah perkumpulan orang-orang baik yang bersahaja seperti saya, bestie? Semoga udah ya dan mari kita rawat silaturahmi dengan mereka. Wassalamualaikum.

Reading Time:

Rabu, 09 November 2022

Review Film Favorit Delicious, Resto Pertama di Perancis Milik Juru Masak Bangsawan
November 09, 2022 25 Comments
Halo Assalamualaikum Sobat. Kalo ada yang nanya apa film favorit saya, bingung loh jawabnya. Karena saya tidak akan pernah bisa menjawab satu judul aja. Film favorit itu selalu berhubungan dengan selera juga. Dan tentang selera ini juga dipengaruhi oleh banyak hal, bisa saja dari kesukaan jalan-jalan jadi suka film petualangan. Kalo suka masak dan makan, pasti juga bakal memilih flm tentang kuliner. 

Seperti kali ini saya ingin menuliskan salah satu film favorit dengan genre drama romance histori. Bercerita tentang juru masak di dapur rumah bangsawan. Film yang diproduksi tahun 2021 ini sangat menarik hingga bikin saya nonton berulang sampai tiga kali. Dan masih belum bosan juga. Jadi kalian mesti nonton nih sob.

Sinopsis film Delicious :

Mengisahkan tentang seorang koki handal bernama Pierre Manceron (Gregory Gadebois) yang dipecat oleh seorang Duke sombong bernama Duke of Chamfort (Benjamin Lavernhe), karena menolak untuk meminta maaf. Kala itu ia hanya berinovasi pada hidangannya yang tetap lezat, namun karena rasa inisiatif tersebut yang membuat dirinya dikritik. Usai kejadian itu, ia memutuskan untuk mendirikan restoran agar bisa memasak dengan bebas.

Review Film Favorit Delicious, Kisah Juru Masak Kaum Bangsawan 

Bagi penyuka film dengan kisah koki atau juru masak, atau chef bagi saya selalu menarik. Saya beberapa kali nonton film dengan mengambil setting dapur seorang cheff di jaman modern ataupun juru masak kaum bangsawan. 

Para pemain film adalah Gregory Gadebois, Isabelle Carre, Benjamin Lavernhe, Guillaume de Tonquedec, dan lainnya. Selain menjadi sutradara, Eric juga menulis naskah untuk film yang syuting di Paris ini bersama Nicolas Boukhrief.

Untuk film Delicious menceritakan kisah juru masak yang mengalami proses keluar dari rumah bangsawan, kemudian balik ke desa kelahiran dan mendirikan restoran pertama di Perancis.



Setting cerita pada masa sebelum revolusi Perancis sekitar abad ke-18, ‘Delicious’ mengisahkan tentang seorang koki handal bernama Pierre Manceron (Gregory Gadebois). Dia dipecat oleh atasannya, seorang Duke yang sombong bernama Duke of Chamfort (Benjamin Lavernhe), karena menolak untuk meminta maaf.

Kesalahannya menurut Duke, Pierre berinovasi di luar pesanan sajian masakan yang udah ditentukan. Dan aslinyaa, hidangan hasil inovasi itu lezat, seperti hidangan lainnya karya Pierre.

Inisiatif menu di luar yang dipesan oleh Duke yang membuat dirinya dikritik oleh seorang tamu yaitu pendeta dengan tidak sopan. Tamu lainnya menertawakan ejekan sang pendeta. Namun justru sang koki yang diharuskan untuk meminta maaf. Penolakan Pierre membuatnya mesti keluar dari rumah Duke. 



Ketika pulang ke kampung halamannya, Pierre kembali ke gubuh ayahnya yang sudah hampir runtuh. Dulunya rumah itu juga merupakan penginapan yang dikelola oleh ayahnya. 

Di desa itu dia mulai membuat makanan untuk dinikmati bersama anaknya dan lelaki pemabuk yang setia padanya. Suatu hari ia bertemu seorang wanita misterius bernama Louise (Isabelle Carré) yang meminta untuk diajari memasak. Wanita itu setengah memaksa dan memberikannya keping uang untuk modal membeli bahan masakan.

Dengan bantuan putranya yang bernama Benjamin (Lorenzo Lefèbvre) dan Louise yang menjadi muridnya, mereka mulai membenahi penginapan milik ayahnya yang sudah cukup rusak. Kebetulan penginapan itu berada di pinggir jalan yang sering dilintasi para penduduk desa.  Mereka saling bekerjasama untuk membuat sebuah restoran dengan konsep baru yang berbeda. Benjamin bahkan memberikan nama Delicious untuk restoran pertama di Perancis itu.
 

Banyak rintangan yang harus dihadapi. Terutama kegalauan hati Pierre yang ternyata masih ingin kembali bekerja sebagai juru masak di istana. Namun akhirnya mereka bisa mendirikan restoran dengan cita rasa makanan khas seorang Pierre Manceron.

Kisah Awal Berdirinya Restoran Delicious

Mengambil latar di abad ke-18, film ini menceritakan tentang bagaimana ide restoran terbentuk, konsep apa yang digunakan, bagaimana cara menjamu pelanggan, serta memberikan hidangan sesuai dengan pesanan pelanggan.

Pada saat itu, restoran hanya berbentuk sebuah pondok kecil yang dikunjungi oleh para pelancong yang ingin mengisi perutnya. Makanan yang disajikan pun terbilang sederhana karena memanfaatkan bahan baku disekitar tempat tersebut.

Makanan yang kerap kali dihidangkan ialah kaldu, karena selain menyehatkan dan menghangatkan proses pembuatannya pun tergolong mudah. Namun karena yang memasak adalah juru koki handal jaum bangsawan, tentu saja cita rasa khas menjadi sangat diminati. 



Sayangnya pada masa itu penduduk sekitar desa tidak memiliki uang untuk belanja. Mereka kelaparan hingga mencuri roti yang ada di restoran milik Pierre. Namun dia diam karena tidak ingin keributan dan pura-pura tidak melihat.

Louise tidak ingin restoran mereka bangkrut dan tutup. Ia membutuhkan tempat tinggal sementara. Ia mengusulkan pada Benjamin untuk membuat terobosan baru dengan memperluas bangunan yang mereka tinggali, serta menambah meja dan kursi untuk pelanggan.


Pelanggan yang mulai berdatangan karena adanya invasi kependudukan tentara Jerman, mendatangkan keuntungan bagi Delicious. Kursi dan meja ditambah dan hidangan makin bervariasi. Mereka bahkan mulai menulis menu masakan apa aja yang bisa dipesan di restoran.

Kelezatan cita rasa masakan resto terdengar hingga ke telinga kaum bangsawan. Utusan Duke meminta Pierre untuk menyiapkan hidangan khusus sesuai permintaan dengan nominal yang sudah dibayar sebagai uang muka. Belasan tong berisi bir, bahan masakan berkualitas premium, berdatangan sebelum hari H. 

Sayangnya niat buruk Duke memang tak pernah usai. Hingga berujung maut, sang pemabuk yang selalu membantu Peirre ditemukan meninggal dunia. Kesedihan itu membuat Pierre malas ke dapur. Pertengkaran pun muncul antara Benjamin dan sang ayah. 

Emosi saya sebagai penonton ikut hanyut dalam pertikaian mereka. Louise pun sempat diusir pergi. Jadi penasaran kan dengan kisah mereka? Yang jelas sih happy ending ya.


Film Dengan Sajian Visual Yang Indah

Film ini memiliki visualisasi yang indah, dengan warna dan detail-detail pendukung lainnya yang menampilkan suasana abad ke 18. Dari kostum, make up, tampilan rumah, lingkungan, gaya rambut dan kendaraan yang digunakan. Bagi penyuka film dengan tema kerajaan, pasti amat menikmati ceritanya.




Film bernuansa klasik yang kental seakan membawa kita ke masa itu. Makanan-makanan yang ditampilkan dalam film pun beragam dan menggugah selera dengan tampilan memikat mata.

Sutradara menghadirkan kisah dengan tema abad ke-18, tak lupa juga menambahkan visual yang apik. Dari pemandangan alam yang alami, rerumputan hijau, pohon dan tumbuhan yang subur menjadi pelengkap visual yang eksotis. Seakan penonton diajak ke sebuah negeri dongeng. Belum lagi pencahayaan yang sesuai saat pengambilan gambar interior dapur, ruang bagian dalam restoran, terlihat apik dan natural.


Kesimpulan Film Favorit Pilihan Delicious

Konfliknya memang kurang greget. Penampakan sisi emosional para pemain juga masih tergolong kurang terlihat kuat. Namun alur cerita yang konsisten dan runut bikin saya menikmati dan menutup kekurangan itu.

Film ini berhasil meraih nominasi di ajang Cesar Awards ke-47 untuk kategori Best Costume Design dan Best Production Design dan International Film Music Critics Award 2022. Kalo kalian menyukai kisah klasik, kuliner, dan perjuangan seorang koki membangun karirnya, fim DELICIOUS layak dijadikan pilihan tontonan. Nanti cerita ya kalo udah nonton juga. Wassalamualaikum.

Gambar diambil dari :
@SamuelGoldwyn Film
Reading Time:

Kamis, 03 November 2022

Mahasiswa Desain Komunikasi Visual, Belum Lulus Udah Ditawari Kerja?
November 03, 2022 30 Comments
Assalamu'alaikum. Saya jadi teringat kejadian beberapa waktu lalu, seorang teman yang lama tak bertemu nanya, gimana kabar si bungsu. Dulu kami pernah bertemu saat makan di resto dan kaget dengan si bungsu yang udah nambah tinggi. Waktu itu si bungsu masih jadi mahasiswa baru jurusan DKV di kampus swasta terbaik di Semarang. 



"Udah kerja ya? Oh belum lulus kuliah, enak ya bisa nyari duit meski masih kuliah,"

Saya tersenyum mengangguk. Iya si bungsu yang pandemi kemarin sempat cuti kuliah selama 2 semester, malah mendapat tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan restorasi otomotif. Bosnya langsung yang nawari setelah melihat instagram si bungsu yang menampilkan hasil blender motor atau mobil. 

Teman saya nanya lebih banyak. Dan salah satunya adalah, apakah lulusan SMA sosial (jurusan IPS) bisa kuliah di jurusan DKV?

Saya bilang kalo si bungsu justru lulusan SMA jurusan bahasa karena ingin belajar bahasa Perancis atau Jerman. Ia udah menguasai bahasa Inggris dan penge nambah lagi kemampuan bahasa asing lainnya. Jadi bagi kalian yang ingin kuliah di jurusan DKV, tenang aja karena menerima lulusan semua jurusan. Tentunya sepanjang kalian merasa punya bakat atau mampu menggambar. 

Mengenal Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV)

Menjadi mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual atau kerap disingkat DKV, saat ini sangat diminati. Bahkan orang tua pun sekarang udah paham jurusan ini, terutama kerjanya nanti gimana.

Perlu kalian tahu kalo di jurusan DKV, mahasiswa diajarkan melalui proses kreatif untuk menggabungkan seni visual dan teknologi dalam menyampaikan ide atau informasi.
 
Jadi bisa dibilang bahwa DKV merupakan cabang ilmu seni desain. Kalian akan belajar tentang cara memanfaatkan elemen visual dengan tujuan tertentu secara efektif, informatif, dan komunikatif. Dan menggambar menjadi salah satu kemampuan yang memang seharusnya dimiliki oleh calon mahasiswa DKV. 

Dari pengalaman si bungsu, ada temannya yang tidak bisa menggambar. Pada beberapa tugas, dia butuh bantuan dari orang luar. Pasti akan ada pengaruhnya dengan hasil akhirnya nanti. 

Meski tidak hanya tentang seni gambar, namun mahasiswa DKV juga diajari gimana cara mengolah kalimat untuk copywriting, tipografi, fotografi, sejarah seni rupa, dan banyak hal lainnya. 

Sepulang ketemu tak terduga dengan teman tadi, saya di rumah merenung cukup lama. Memori lama saat si bungsu balita yang suka gambar dinding rumah hadir dengan manisnya. Ahh masa itu sungguh cepat berlalu. Beruntung ya dulu nggak pernah kami tegur dengan keras. Ketika si bungsu tidak mau berpindah ke media yang sudah disediakan, dan tetap aja membuat lukisan abstrak di dinding, kami pun menyerah. Namanya juga anak-anak. Masa-masa yang akan cepat berlalu dan dinding bisa dicat ulang, kan?

Perkembangan si bungsu termasuk kemampuan menggambarnya tumbuh seiring usianya. Si bungsu tak lagi mencoret dinding rumah, namuan berganti di buku sketsa, buku tulis pelajarannya, lemari pakaian,  rak buku, hahahaa. Tetep sih menggambar di media apapun tapi sudah tidak lagi di dinding. Kemudian berkembang lagi ketrampilannya menggambar di aplikasi yang ada di komputer. 

Momen paling tak terlupakan saat ia menjadi pelajar kelas VII di SMP islam terpadu dan mewakili sekolahnya di ajang lomba Desain Grafis. Peserta dari seluruh sekolah swasta di Kota Semarang, dan dua wakil dari sekolah ini meraih dua kategori juara. Si bungsu mendapat juara 2, kakak kelasnya juara 1. 

Saya sendiri senang bukan karena si bungsu mendapatkan piala dan uang yang luamayan. Saya senang karena pencapaian ini menunjukkan si bungsu memiliki prestasi di luar akademik. Ini sebuah prestasi yang wajib saya syukuri. Dan saya terharu plus bangga dengannya. Teringat bully yang diterimanya dari guru sekolah saat ia kelas V. Saya pernah cerita di blog ini.

Ternyata kemampuan seorang anak dalam bidang desain grafis sangat diapresiasi. Saat itu tahun 2012 akhir dan masih banyak orang yang belum paham apa itu desain grafis. Saya mesti menjelaskan dengan sederhana ketika keluarga besar bertanya si bungsu memenangkan lomba. Dan ternyata sejak saat itu kenalan kami mulai tertarik membimbing anak-anaknya yang suka menggambar untuk belajar desain grafis.

Saya hanya tahu si bungsu mengenal desain grafis secara otodidak. Belajar dari Google, entah gimana caranya. Karena saat itu kami hanya memiliki komputer yang masih jadul dengan modem internet yang terbatas.

Time flies so fast... Sekarang si bungsu udah jadi mahasiswa semester 7 dan mulai riset untuk mengerjakan skripsinya. Dia juga magang di tempat kerjanya selama satu tahun terakhir. Sesekali pula ia menerima job freelance dari berbagai pihak, dari DM yang masuk di akun instagram, email, teman sekerja dan dosennya.

KARYA SI SULUNG YANG DIUNGGAH 
DI AKUN INSTAGRAMNYA
Akun IG @remtromol



Program CSR JNE Goes to School 

Saat ini si bungsu tetap kerja meski kuliah juga jalan. Apalagi pemerintah udah mulai mengakhiri status pandemi, itu artinya sekolah dan kampus juga udah mulai diberlakukan pembelajaran tatap muka. Dalam 6 hari kerja, dia masuk ke tempat kerjanya ketika tidak ada jadwal kuliah. Pimpinan tempatnya bekerja nggak mempermasalahkan hal ini karena sejak awal juga udah tahu kalo karyawannya itu masih jadi anak mahasiswa. 

Saya menganggap itu keberuntungan si bungsu. Rejeki mendapat tempat magang sebelum beneran masuk dunia kerja. Untuk materi yang diterimanya memang tidak sesuai standar gaji karyawan di sana. Namun si bungsu setiap bulan minimal mendapatkan setara UMR. Bahkan ada dua kali semester dia membayar sendiri uang kuliahnya, Masya Allah. Saya waktu itu speechless mendengar si bungsu ngomong uang kuliahnya udah dia bayar pakai tabungannya. 

Semester ini mata kuliah di kampusnya ada beberapa yang udah pembelajaran tatap muka. Dan semua sekolah, dari tingkat TK, SD, SMA, SMK, dan kampus lainnya pun sama. Begitu pula di pondok pesantren keponakan saya di daerah Solo. Sepupu saya udah mengantarkan ke pondok pesantren putrinya sejak bulan Juli lalu. Kegiatan di lembaga pendidikan juga udah tidak lagi hanya belajar materi pembelajaran. Kegiatan lomba, ekstrakulikuler sekolah, pameran pendidikan, udah mulai dihadirkan kembali seperti sebelum pandemi.

Kabar terbaru saya ketahui tentang program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh JNE Medan dengan sebutan JNE Goes to School. Kegiatan CSR yang dilakukan JNE ini udah ada sejak 5 tahun lalu. CSR ini ternyata juga dilakukan di berbagai kota / kabupaten yang ada di Sumatera Utara. Kegiatan CSR JNE Goest to School ini kembali hadir dan menyapa siswa siswi diberbagai sekolah untuk memberikan motivasi. 



CSR JNE Goes to School dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 27 Oktober 2022 di Pondok Pesantren 
Darularafah Raya Jl. Berdikari No. 1 A Desa Lau Bakeri, Sampe Cita, kec. Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan dibuka oleh Misdan selaku Musyrif Pesantren Darularafah Raya. 

Saya mewakili Pesantren Darularafah Raya, mengucapkan banyak terimakasih kepada JNE Medan. Semoga ada kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya yang dapat kita adakan bersama. Santri-santri kami begitu bersemangat mengikuti kegiatan ini, semoga apa yang disampaikan oleh pemateri dari JNE dapat memotivasi mereka untuk lebih giat lagi belajar dan mengembangkan diri, tutur Misdan  

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Cabang JNE Medan, Fikri Alhaq Fachryana menyampaikan, "Bahwa untuk siswa kelas 3 sudah harus dapat menetapkan visi, menyusun misi, dan membangun target-target dalam hidup, agar siswa yang sudah masuk remaja ini bisa menjalani kehidupan yang bahagia". 



Pemateri lainnya ada Muhammad Arif Taufik selaku Human Capital JNE Medan. Dalam materinya, Arief menuturkan bagaimana menjadi siswa yang bahagia, yaitu selain harus memiliki kecerdasan intelektual (IQ), santri Darularafah Raya juga harus memiliki keseimbangan antara kecerdasan spiritual (SQ) dan kecerdasan emosi (EQ) yang baik pula. Agar tak hanya pintar, namun juga memiliki sikap dan tingkah laku yang baik. Saya selaku orang luar mengetahui materi yang dibagikan ini turut bahagia. Semoga pendidikan karakter ini dilakukan oleh seluruh citivas pendidikan di negeri ini.


JNE Medan memiliki beberapa kegiatan CSR, diantaranya program Rumah Tahfidz JNE-DT Peduli Sumut, program 12 Sanggar Genius JNE Yatim Mandiri bagi yatim dan dhuafa, program Pelatihan Design Grafis JNE IZI Sumut, Program Tanggap Bencana Tagana JNE Medan, Program Sekolah Bisnis UMKM, dan program JNE Goes to School dan Campus. 

Wah ternyata ada juga program Pelatihan Desain Grafis JNE IZI Sumatera Utara. Semoga ada banyak anak muda yang menggunakan kesempatan CSR dari JNE ini sebaik-baiknya. Lumayan loh kalo kalian menguasai ketrampilan desain grafis dengan baik, bisa nyari cuan dari sini.

Fikri Alhaq berharap kegiatan CSR yang dilakukan JNE dapat bermanfaat dan membawa keberkahan baik bagi keluarga besar JNE maupun masyarakat sebagai penerima manfaat. Wah ini sesuai banget ya dengan tagline Connecting Happiness yang berarti mengantarkan kebahagiaan. Connecting Happiness ini juga memiliki arti dan makna yang luas, bukan hanya tentang pengiriman paket. Dalam hal ini JNE memiliki peran dalam berbagai aspek di setiap kehidupan masyarakat tutupnya.   

Bagi kalian yang memiliki kesukaan menggambar, jangan malu. Ketrampilan menggambar tidak dimiliki semua orang. Orang tua pun jangan pernah melarang si anak yang ingin belajar atau kursus menggambar. 

Nggak ada yang tahu, masa depan seorang anak yang suka menggambar ini bisa mendapatkan rejeki dari hobinya. Seperti anak saya yang lemah di bidang pelajaran matematika namun nilai bahasa dan seninya sangat bagus. Ayuk dong bagikan cerita kalian tentang menggambar atau teman suka desain grafis. Atau anak kalian ada yang lulusan jurusan DKV? Cerita yuk, wassalamualaikum. 
Reading Time: