Penyidik siber dari kemarin sudah melakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan juga melakukan upaya paksa penggeledahan. Informasi yang kami terima dari penyidik, yang bersangkutan (AH) merupakan seorang yang berkepribadian ganda. Ditunjukkan dari hasil penggeledahan di tempat singgah AH dengan ditemukan kartu kuning, dan beberapa faktur-faktur tanda berobat di salah satu RS kejiwaan yang ada di Surabaya
Kamis, 17 November 2022
Selasa, 15 November 2022
Assalamualaikum Sahabat. 30 tahun yang lalu, sebelum menikah tapi udah pacaran, saya sempat gamang. Tetangga depan rumah pasangan suami istri dengan 4 anak, sering bertengkar. Kalo bertengkar kadang benda pun melayang. Saya yang tak pernah melihat pertengkaran hebat dalam perkawinan bapak dan ibu, melihat itu jadi takut.
Bagaimana bila hal sama terjadi pada saya kelak? Saya, anak perempuan sulung yang tak pernah mendapat bentakan dari bapak, apa bisa menerima bentakan dari laki-laki yang jadi suami saya? Saya tidak ingin mengalami kekerasan dalam rumah tangga seperti tetangga. Saya mencintai diri sendiri hingga nggak bakal mengijinkan seorang laki-laki melakukan KDRT dalam sebuah pernikahan.
Pentingnya Self Love Untuk Perempuan Sebelum Jatuh Cinta
Orang sekarang sering menyebut self love untuk kesehatan mental. Terutama sejak pandemi, saat imunitas tubuh sangat penting. Kesadaran tentang kesehatan mental dianggap menjadi bagian penting pula.
Self love artinya mencintai diri sendiri. Tetapi tentu saja bukan berarti kita egois memenuhi keinginan diri sendiri terus menerus. Makna Self-love adalah dengan mengharuskan kita memperlakukan dan menerima diri sendiri dengan baik dan apa adanya.
Perempuan begitu mudahnya jatuh cinta tanpa memiliki kesadaran apa yang bakal ditemuinya nanti. Dia tak menyiapkan fondasi baik secara materi maupun mental ketika jatuh cinta. Mungkin tidak semua perempuan bersikap seperti ini. Saya sendiri nggak mau seperti lirik lagu Agnez Mo, Cinta ini tak ada kata logika. Saya justru menggunakan logika saat menjalani hubungan kasih dengan pacar (suami saya, suwer dia bukan cinta pertama tapi pacar pertama saya, hihiii).
Terlebih saya sudah melihat beberapa pernikahan yang gagal di tengah jalan karena beragam kasus, meski kebanyakan karena KDRT. Saya melihat sendiri kerabat yang mengalaminya. Bahkan ada kasus yang terjadi di depan kantor, penjual makanan yang mengalami KDRT. Sedih loh melihat tapi tanpa bisa menemukan solusi pencegahan KDRT Pada Wanita.
Menurut saya, mencegah itu lebih baik dibanding mengobati luka yang dialami para wanita ini. Saya bukannya diam tanpa membantu sedikit pun. Saya bahkan siap menjadi pendamping untuk mengenalkan mereka yang mengalami KDRT pada wanita untuk mendapatkan perlindungan.
Namun ketika wanita yang menjadi korban menolak keras, apa daya saya? Jadi ketika usaha sudah saya jalankan, keputusan akhir memang ada pada si korban KDRT.
Itu lah sebabnya saya sejak pacaran udah memberikan batasan pada diri sendiri tentang suatu hubungan dua arah. Saya tidak akan mau dirugikan, menjadi korban baik kekerasan fisik maupun mental dalam sebuah hubungan dengan seseorang, apalagi dengan calon suami. Sejak masih remaja saya merasa kayak disiapkan oleh bapak agar menjadi wanita yang punya tujuan, tidak bergantung pada orang, dan pantang menyerah.
Dalam perkembangan usia, saya juga menumbuhkan sikap tidak mau bergantung dalam mengambil keputusan. Untuk menjadi pribadi yang tangguh, saya butuh mencintai diri saya. Siapa lagi yang mau menghargai diri kita kalo bukan kita sendiri?
Saya saat itu menyadari, mencintai diri sendiri itu modal kita mampu berdiri tegak dan tidak memusingkan omongan orang. Sepanjang kita sudah melakukan sesuatu hal, baik yang sederhana maupun yang penting, itu cukup.
Mencintai diri sendiri bisa membangkitkan rasa bangga pada diri sendiri karena sudah mampu menyelesaikan sebuah tujuan baik suatu karya maupun cita-cita. Tapi rasa bangga ini bukan lantas menjadikan kita sombong, bukan yaa. Itu lah pentingnya mengelola self love atau mencintai diri kita dengan cara positif.
Modal Self Love Agar Terhindar Dari KDRT
Ketika perempuan ada dalam ikatan pernikahan, akan banyak effort yang dikeluarkannya. Bisa terjadi juga pada laki-laki sebenarnya. Namun menurut saya, ketika perempuan dan laki-laki sudah memutuskan untuk menyatukan cinta dalam pernikahan, wajib banget memegang komitmen.
Nggak hanya komitmen, tapi juga menjunjung niat baik sebelum menikah, takut pada Tuhan, menghargai pasangan, dan masih ada yang lainnya. Memang tidak mudah menjalani hubungan dalam pernikahan. Namanya juga dua pribadi yang memiliki banyak perbedaan berinteraksi dalam pernikahan.
Sepanjang usia pernikahan saya selama 28 tahun ini, self love ini ternyata bermanfaat menjaga hubungan dengan suami dan anak-anak. Tidak ada luka masa kecil ataupun remaja yang menghalangi langkah saya menjadi istri dan ibu. Terlebih memiliki pasangan hidup yang selalu mendukung apapun impian yang masih ingin saya capai, menambah kepenuhan rasa dalam diri.
![]() |
Laki-laki dengan sifat mirip Bapak menempatkan impian saya sebagai tujuan hidupnya |
Sungguh saya tidak pernah merasakan KDRT baik fisik maupun kekerasan verbal selama menikah. Hal ini yang menjadikan saya ibu yang bahagia dengan dukungan suami yang super love. Dalam hal ini termasuk model pengasuhan bergantian agar saya memiliki me time. Saat saya ingin membaca novel, hobi yang sejak kecil sudah melekat di diri, suami siap menidurkan anak-anak. Atau ketika saya ingin ngumpul dengan sahabat semasa kuliah, suami siap nemenin anak-anak di rumah dan bermain seharian.
Mencintai diri mampu menepis rasa insyekur menjadi penuh rasa syukur. Merasa bahagia dengan apapun yang saya miliki tanpa merasa rendah diri dengan pencapaian orang lain.
Hal sama yang saya harapkan dirasakan anak-anak agar mereka bersyukur dengan cinta dari ibunya. Cinta yang tulus, yang tak pernah menghakimi dengan setiap pilihan mereka. Cinta yang akan selalu ada mendampingi mereka bertumbuh.
Semoga Allah azza wa jalla senantiasa menjadikan anak-anak saya seperti bapaknya, yang selalu memberikan cinta yang tanpa batas pada ibu mereka. Self love atau mencintai diri sendiri sebelum melabuhkan cinta pada seseorang yang spesial itu wajib. Wassalamualaikum.
Senin, 14 November 2022
Assalamualaikum Bestie. Minggu lalu saya diajakin suami ikutan silaturahmi di rumah temannya di Jogja. Kali ini kami perginya nggak bersama anak-anak. Tapi kami pergi berombongan naik bus bersama bestie yang asik dan rame. Saya baru kenal beberapa bulan ini. Mereka adalah teman suami kala sekolah dasar yang belum lama ini reuni. Dan yang berangkat kebanyakan pasangan suami istri, ada juga yang masih single. Rencananya setelah silaturahmi kami akan healing di Tebing Breksi dan Candi Ijo.
Minggu pukul 6 pagi saya dan suami udah boncengan motor menuju titik kumpul di dekat sekolah dasar mereka di kawasan Seteran, Semarang. Saya hanya bawa bekal jeruk 2 kg dan biskuit serta air mineral. Nantinya kami akan mendapat sarapan di bus, ada donatur yang udah nyiapin nasi kotak.
Kami udah ngumpul tapi bus nya belum datang. Dari pada bengong, kami ngobrol untuk ngisi waktu, bercanda agar tidak bosan nungguin bus. Rasanya kok kami jadi kembali ke masa anak sekolah ya. Yah gitu deh, usia udah setengah abad lebih tapi masih suka ngumpul dan dolan. Kalo ngumpul pasti seru karena saling mengolok tanpa ada yang ngambek. Udah tua nggak cocok kan kalo suka ngambek.
Begitu bus nya datang langsung deh diserbu. Tapi nggak ada yang berebut karena peserta wisata ini hanya 18 orang. Sementara bus berkapasitas 25 kursi.
Saya duduk dengan suami? Enggak dong! Di rumah udah berduaan tapi kalo di luar rumah enaknya duduk terpisah. Jadi saya duduk dengan teman perempuan suami yang kebetulan juga teman SMP kami. Oia udah tahu kan kalo saya dan suami adalah teman satu SMP? Kalo baru tahu juga santuyy aja ya geesss.
Tetap Ceria Selama Perjalanan di Dalam Bus

Paling asik kalo dalam perjalanan itu duduk santuy, nyanyi, bercanda bersama teman serombongan. Ada sih yang hilir mudik jalan ke belakang balik depan, tapi sambil bagi nasi kotak. Ada juga yang bagi-bagi air mineral, jajanan, atau perman. Kok nggak abis-abis yang dibagikan? Ya iya lah tiap orang bawa bekal lumayan banyak dengan maksud dinikmati barengan di dalam bus. Kantong yang nempel di kursi depan kita, langsung penuh isi jajanan, alhamdulillah yaa.
Eh tadi begitu bus jalan kami udah berdoa bersama, semoga perjalanan lancar tanpa hambatan.
Silaturahmi di Rumah Sahabat
Rumah yang kami kunjungi berada di kawasan wisata, dekat banget dengan Situs Ratu Boko. Itu artinya kami akan mampir berkunjung ke tempat wisata dekat kawasan itu. Tapi bukan ke Situs Ratu Boko. Di kawasan itu banyak tempat wisata. Nanti ya setelah silaturahmi di rumah teman, akan saya ceritakan kami wisata di mana.
Acara silaturahmi berjalan asik, santai, namun tetap ada seriusnya. Karena acara dijalankan dengan urutan layaknya pertemuan rapat. Ada pembukaan, kata sambutan tuan rumah, sambutan ketua, laporan keuangan, dan tentu saja menikmati sajian hidangan dari tuan rumah.
Seru acaranya, kudapannya juga enak sesuai selera kami penyuka jajanan tradisional. Rasanya meski makan sedikit hati tetap hepi karena banyak yang nemenin makan. Saya udah terbiasa makan siang sendirian karena suami dan anak-anak hanya bisa sesekali aja nemenin. Dengan kesibukan masing-masing tentu saya ikhlas. Makanya kalo ada acara ngumpul, saya senang bisa ikut silaturahmi dengan bonus makan bersama, hahahaa.
Foto Syantik Bareng Bestie di Tebing Breksi
Setelah makan, shalat, dan istirahat sejenak, kami berpamitan undur diri. Dan tuan rumah yang baik mengajak kami wisata di tempat terdekat dari rumah. Ahhh senangnya ya punya teman baik yang memahami kebutuhan kami healing.
Tempat pertama yang kami tuju memang sudah dibicarakan saat istirahat usai makan dan shalat. Tebing Breksi sengaja dipilih karena ingin menikmati suasana jelang sore dan tentu saja foto-foto.
Setelah memutuskan di mana tempat sesi foto, kamera pun mulai beraksi. Sayang suami saya memilih duduk di depan tempat parkir. Karena ada teman kami yang nggak memungkinkan untuk keliling menyusuri spot foto. Jadi jangan dicari yang mana suami saya. Tapi nggak masalah karena kami pernah berkunjung ke tempat ini setahun yang lalu.
Jadi kalo ingin mengenal Tebing Breksi bisa loh baca cerita saya di blog ini. Di aratikel ini saya nggak akan menuliskan detil tentang Tebing Breksi yang viral hingga hari ini. Dan menjadi salah satu tempat wisata wajib dikunjungi bila kamu sedang di Jogja.
Silakan baca di sini : Mengunjungi 3 Tempat Dalam 1 Hari
Sekitar 1 jam kemudian kami diajak berpindah tempat yang jaraknya hanya 15 menit perjalanan. Kali ini kami meninggalkan bus di tempat parkir wisata Tebing Breksi. Akan kemana kah kami? Yuk baca di bawah ini, bestie.
Mendaki Candi Ijo
Jadi kami ke tempat wisata berikutnya naik apa? Hmmm, bentar ya saya ceritakan dulu. Tuan rumah acara sudah menyiapkan mobil keluarga untuk mengantar kami hingga tiga kali bergiliran dalam tiga rombongan. Keren ya sampai segitunya, nggak kenal rasa lelah mengantar kami, menyenangkan kami semua. Itu lah yang namanya teman terbaik. Tapi saya melihat teman-teman suami ini saling mendukung, suka berbagi, dan tidak mengenal kaya atau miskin.
Saya ikut rombongan pertama yang diantar hingga ke lokasi, yaitu Candi Ijo. Pandangan pertama di tempat parkir udah bikin hepi. Ada gardu pandang yang juga dijadikan spot foto. Asik kan yaaa?
Bergiliran kami foto karena ada aturan tertulis tempat itu hanya boleh memuat 3 orang. Peraturan untuk keamanan ini mesti diikuti ya sob. Peraturan dibuat untuk ditaati karena demi keamanan bersama tentunya.
Setelah foto-foto jangan lupa juga untuk mengisi recehan, yaitu 3 ribu. Tapi kalo kamu baik hati dan suka sedekah, boleh kok ngisinya dilebihkan gitu.
Setelah puas foto-foto dan rombongan pun lengkap, kami berpindah ke tempat wisata Candi Ijo. Jangan nyari candi yang warnanya ijo, kamu nggak bakal menemukannya. Saya juga belum googling mengapa dinamakan Candi Ijo padahal bangunannya tidak berwarna ijo.
![]() |
Gambar atas adl candi paling bawah Setelah itu ada anak tangga menuju ke atas |
Kami menaiki anak tangga setapak demi setapak. Ya ampun pemilik tulang ini mesti bersabar kayaknya, hahahaa.
Ya gimana sih, usia udah 54-57 tahun kok masih suka naik anak tangga. Tahu kan kalo anak tangga bikinan pemahat candi itu jaraknya sama sekali tidak ergonomis. Napas udah mulai engap tapi semangat masih menyala. Saya meyakini kalo kami mampu sampai di pelataran candi paling atas.
Saya pun memberikan semangat manakala ada yang menyerah dan kembali turun.
"Ayo bisa yookkk... strategi nggak gampang engap adalah, naik satu anak tangga berhenti. Boleh foto selfi sambil tarik napas dalam dalam dan hembuskan perlahan,"
![]() |
Anak tangga terakhir menuju candi paling atas |
Gitu terus tiap ada yang mengeluh. Meski saya sendiri aslinya juga udah merasa engap. Tapi saya orang yang suka tantangan meski tetap mengukur kemampuan diri. Dan saya merasa diri saya mampu menaiki anak tangga dengan langkah pelan tapi yakin sampai di anak tangga terakhir.
ALHAMDULILLAAAH... Senang banget waktu pucuk candi terlihat. Saya nggak mau takabur dengan berlari. Napas tua ini mesti diatur dengan lebih kalem. Padahal pengennya segera mencari spot foto paling kece.
Dan lebih hepi lagi karena kami akhirnya bisa sampai semua di atas. Heboh deh semuanya mengeluarkan ponselnya untuk foto selfi. Saya memilih saling membantu fotoin teman dan sebaliknya juga mereka bantuin fotoin saya.
Namun setelah euforia kebahagiaan karena mampu menaklukkan rasa putus asa dengan tiba di pelataran tertinggi candi, kami pun mulai berkumpul. Salah seorang mulai mengatur gaya kami untuk sesi foto yang rasanya nggak selesai-selesai.
Sayang juga ya kondisi pengunjung tidak begitu banyak. Apakah candi ini tidak mempesona? Enggak juga loh. Bangunan candi itu sebuah mahakarya dari leluhur kita jaman dahulu.
Untuk kebersihan cukup terjaga meski ada sampah di beberapa tempat tapi hanya satu dua gitu. Untuk tiket masuk juga terjangkau banget karena per orang dikenakan tarif 7 ribu rupiah.
Tapi ada senangnya juga ya dengan area candi yang pengunjungnya sepi begini. Kami jadi nyaman foto tanpa bocor, hahahaa. Puas banget foto-foto di sini tapi nggak akan saya pamerkan semua di sini. Takut pembaca blog ini muak dengan foto gak jelas kami serombongan.
Sepulang dari wisata bersama bestie, ya saya sudah menganggapnya begitu. Karena tiap kali kami bertemu yang ada hanya menertawakan apa aja. Hidup terasa mengalir, tiada beban apapun. Saya bersyukur diajak suami untuk gabung dan menjalin pertemanan dengan mereka. Rasanya berkah memiliki teman baru di usia senja ini.
Saya jadi teringat dengan teman blogger Rani Noona yang tinggal di Kudus. Dari artikel di blog yang pernah saya baca (maaf ya mba Ran, nggak semua dibaca), ada satu yang menarik minat. Jurnal Syukur artikel yang menurut saya sangat pantas dijadikan pilihan bacaan. Terutama untuk kalian yang masih menyimpan luka-luka masa lalu yang belum terselesaikan. Meski bisa aja menjadi bacaan semua perempuan yang menyandang status ibu. Coba deh sempatkan waktu untuk membacanya.
Tapi kalo kalian nggak memiliki luka masa lalu, nggak masalah juga untuk membacanya. Dari artikel ini saya ikut belajar tentang self healing yang sederhana. Membuat jurnal syukur bisa jadi self healing. Betapa bersyukurnya bisa mengingat nikmat yang kalian rasakan seharian ini dan menuliskannya di media apapun.
Ahhh rasanya tulisan ini pun merupakan jurnal syukur, ungkapan terima kasih pada teman-teman suami dan pasangannya masing-masing. Yang telah merangkul saya menjadi keluarga mereka. Kalian pernah juga masuk dalam sebuah perkumpulan orang-orang baik yang bersahaja seperti saya, bestie? Semoga udah ya dan mari kita rawat silaturahmi dengan mereka. Wassalamualaikum.
Rabu, 09 November 2022
Review Film Favorit Delicious, Resto Pertama di Perancis Milik Juru Masak Bangsawan
Sinopsis film Delicious :
Review Film Favorit Delicious, Kisah Juru Masak Kaum Bangsawan


Kisah Awal Berdirinya Restoran Delicious

Film Dengan Sajian Visual Yang Indah


Kesimpulan Film Favorit Pilihan Delicious
Kamis, 03 November 2022
Mahasiswa Desain Komunikasi Visual, Belum Lulus Udah Ditawari Kerja?

Mengenal Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV)
Perlu kalian tahu kalo di jurusan DKV, mahasiswa diajarkan melalui proses kreatif untuk menggabungkan seni visual dan teknologi dalam menyampaikan ide atau informasi.
![]() |
Akun IG @remtromol |

Program CSR JNE Goes to School

Saya mewakili Pesantren Darularafah Raya, mengucapkan banyak terimakasih kepada JNE Medan. Semoga ada kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya yang dapat kita adakan bersama. Santri-santri kami begitu bersemangat mengikuti kegiatan ini, semoga apa yang disampaikan oleh pemateri dari JNE dapat memotivasi mereka untuk lebih giat lagi belajar dan mengembangkan diri, tutur Misdan
