My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Lembah Harau
Tampilkan postingan dengan label Lembah Harau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lembah Harau. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2022

Traveling Lagi ke Lembah Harau,  Wisata Menarik di Payakumbuh Sumatra Barat
September 15, 2022 33 Comments

Assalamualaikum Sahabat. Melanjutkan cerita traveling saya bersama keluarga suami, awal bulan Agustus 2022 yang mengesankan. Ya bagi saya setiap perjalanan selalu meninggalkan kesan yang mendalam. Siapapun teman perjalanan pasti akan ada cerita yang tak sama. Meski dengan orang yang sama, ke tempat tujuan sama, akan selalu ada cerita yang berbeda. 



Apalagi perjalanan kami kali ini terasa istimewa dikarenakan untuk menjadi saksi ijab dan pernikahan ponakan. Pernikahan yang udah jadi perbincangan di WAG kelluarga sejak akhir tahun kemarin. Alhamdulillah pesan tiket pesawat udah dari Februari jadi masih dapat harga murah. Acaranya juga lancar, meski ada drama sejak berangkat dari hape yang tertinggal di mobil sampai ada yang kehilangan hape beneran. Ya itu lah cerita yang akan selalu jadi kenangan saat ada di satu perjalanan.


Oia saya menuliskan versi lengkap perjalanan ini karena traveling ke Lembah Harau adalah sisipan kegiatan setelah tasyakuran pernikahan ponakan. Jadi sengaja saya menulis lengkap perjalanan dari awal di bandara hingga ke Pekanbaru.


Perjalanan kali ini bersama dengan suami, ibu mertua, mbak Nur (mbak ipar), mbak Ida (istri kakaknya suami), dan adik ipar (pasangan suami istri, dek Pur dan Ani, serta si bungsu Nina). Dari rombogan kali ini dengan tujuan sama, yaitu Kota Pekanbaru dan nantinya akan jalan-jalan ke kawasan Bukittinggi. Kali ini saya akan menuliskan cerita saat wisata di Lembah Harau. Meski kami juga ke tempat wisata lain. Akan saya ceritakan di lain waktu bila ada yang tertarik, hihii.


Meski bukan kali pertama berkunjung ke lembah ini namun tetap aja menjadi pengalaman yang mengesankan. Tapi ada juga sih pengalaman tak mengenakkan. Apa sih yang bikin nggak enak? Baca lebih lanjut aja yaa.


Hari Kedua Berangkat dari Bogor Menuju Bandara

Setelah menikmati perjalanan sepanjang 7 jam, dengan beristirahat di Pekalongan dan rest area haritage Brebes, kami tiba di Bogor di kawasan Dramaga. Rumah adik kami yang hanya ditempati oleh anak sulungnya. Rencana besok pagi jam 8 kami akan berangkat ke bandara Soekarno Hatta bersamanya.


Sampai di Bogor segera masak nasi untuk makan malam kami bertujuh. Lauk pelengkap udah bawa dari Semarang. Ada rendang daging, serundeng, kentang pedas, dan telur balado. Saya dan mbak Nur akhirnya nyari sayuran di kulkas untuk dimasak tumis. 


Yang bebas tugas ada yang mandi, beberes bajuk untuk besok pagi, atau eksplor koleksi tanaman di kebun depan, hahahaa. Sementara suami dan adik ipar membersihkan mobil.


Setelah makan malam dan ngobrol diselingi vidcall dengan adik yang di Pekanbaru, kami segera masuk kamar untuk beristirahat. Capek, ngantuk, dan kami mesti mempersiapkan stamina untuk perjalanan besok ke bandara. Yang pasti kami harus siap nunggu lama di bandara karena pesawat delay. Udah biasa ya kalo maskapai Li**, hehee.


Pagi hari Jumat, 5 Agustus 2022 mobil kami terisi 7 orang dari sebelumnya karena ada ponakan yang bareng kami. Oia yang nikah adiknya duluan kemarin. Tapi alhamdulillah si sulung dari nte Yuli (adik kami yang tinggal di Pekanbaru) insya Allah bakal nyusul tahun depan. Mohon doanya ya buat ponakan kami.


Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam, mobil pun memasuki bandara terminal 2E. Setelah menurunkan bawaan, suami menitipkan mobil di parkiraan inap di dekat gate 1. Dia sendirian kesana, karena ada satpam yang antar. Kata si bapak satpam nantinya akan naik ke gate 1 lewat eskalator atau anak tangga. Kami pun menanti di dekat pintu masuk terminal 2E.


Penantian Selama 6 Jam di Bandara, Dari Shalat Hingga Makan Siang 

Setelah suami bergabung dengan rombongan, kami segera boarding karena ada penitipan bagasi. Berbarengan pula ada pesan notif masuk di WAG kalo adik bungsu udah nungguin di Gate E5 bersama Ibu. Mereka berangkat dari Semarang dengan penerbangan pertama. 


Jadi ceritanya memang kami barengannya mulai dari bandara Soetta. Karena kasihan ibu kalo mesti ikut kami yang muda ini road trip Semarang - Bogor. Tapi pulangnya terpaksa ikut road trip Bogor - Semarang karena adik bungsu mesti pulang duluan. Tapi alhamdulillah Ibu sehat sehat aja selama dalam perjalanan dari berangkat hingga pulang lagi ke Semarang.


Sebelum beranjak ke Gate E5 kami memilih shalat Dhuhur dulu di mushola yang ada Terminal 2D. Karena adik kami bilang, mushola yang ada di Gate E5 itu mesti turun satu lantai gitu. Meski akhirnya juga kami tetep mengakses kesana karena harus ke toilet saat menanti jam penerbangan yang masih lama. 


Setelah semua selesai melaksanakan shalat yang dijamak, kami pun beranjak ke Gate E Terminal 2E. Wah kasihan ibu misal jadi berangkatnya bareng kami naik mobil dari Semarang. Tapi tadi adik kami yang bareng Ibu juga cerita kalo mereka pun jalannya jauh. Beruntung ada fasilitas kursi roda bagi lansia, dibantu oleh maskapainya. Yang penting saat boarding sampaikan pada petugasnya kalo ada orang tua yang butuh kursi roda karena masalah dengan kakinya.




Tiba di terminal 2F rombongan kami segera berkumpul di deretan kursi bareng adik bungsu dan Ibu. Kami masih menanti rombongan dari Kuningan, keluarga suaminya adik kami. Tapi dari Kuningan ini hanya empat orang yang bisa berangkat ke Pekanbaru. Yang berangkat yang usianya muda ataupun tubuhnya sehat. Meski dibanding kami ya masih mudaan kami sih, karena yang berangkat adalah kakaknya ayah dari pengantin putra. Ah syudahlah nggak perlu dipusingkan tentang keluarga dan usianya, hahahaa. 


Di sini kami makan perbekalan, nasi kebuli dan ayam goreng. Pilihan lain nasi putih dengan ayam goreng dan telur balado. Pilihan saya nasi kebuli dan suwir daging, enak banget ya Allah. Kayaknya aku lapar karena jalan jauh antara terminal masing-masing gate ini, hihiii. Tapi emang udah jam makan siang juga sementara paginya saya hanya makan bolu dan teh manis.


Tepat jam 16.00 petugas memanggil para penumpang pesawat Lion Air tujuan Pekanbaru. Perjalanan nggak lama karena pukul 18.00 pesawat udah mendarat di bandara Sultan Syarif Kasim. 



Kami masih sempat foto-foto di bandara dan akhirnya bertemu dengan keluarga adik yang akan menikahkan anak bungsunya keesokan harinya. Dari bandara ini ada dua mobil plus satu mobil sewaan untuk menjemput rombongan dari Jawa.


Perjalanan dari bandara menuju rumah nggak butuh waktu lama karena lokasinya dekat, cuma membutuhkan waktu 15 menit. Setelah pembagian kamar dan mandi, shalat, dan beberes pakaian, kami berkumpul untuk ngobrol. Kebetulan ada dua kakak sepupu dari keluarga besar ibu mertua yang tinggal di Boyolali dan Palembang akan menghadiri pernikahan besok. Jadi deh malam itu acaranya makan dan ngobrol seru. Kalo nggak ingat besok bakal ada acara penting pasti ngobrolnya nggak bakal disudahi, hihiii.



Om Aji mengantar kedua pasangan suami istri (Mba Sri dan suami, Mba Heni dan suami) ke hotel. Suami dan om Pur dengan mobil lain mengikuti dari belakang. Rencananya adik ipar akan ditinggal di hotel tempat menginap pengantin dan keluarga, jadi mobil akan dibawa pulang suami. 


Piknik ke Lembah Harau Lagi, Suasana Udah Beda

Acara pernikahan aku skip aja yaa, alhamdulillah dari akad nikah hingga resepsi berjalan lancar. Kami pulang jelang pukul 14.00 dan segera shalat di rumah. Abis itu kami beristirahat tapi nggak bisa tidur karena mau nyuci, wkwkwk. Yang penting nyuci ntar setrikaan biar diurusi si mbak ART besoknya. Karena besok kami berencana akan wisata di kawasan Bukittinggi.


Akhirnya Minggu pagi setelah diskusi semua rombongan ikut kecuali adik bungsu yang harus pulang dengan pesawat pukul 9 pagi. Dari rencana 6 orang, akhirnya Ibu dan adik kami yang kemarin abis punya acara, ikut serta piknik. Ya adik kami ikut nemenin. Nggak kebayang capeknya seperti apa tapi masih sempat nemenin kami wisata. 


Tapi sebenarnya adik kami ini menggunakan jasa wedding organizer. Jadi ya meski capek juga paling karena ngurusi keluarga, masak buat kami, dan siapin oleh-oleh untuk kami juga. Karena sebelum kami datang dia udah belanja oleh-oleh, jajanan khas Pekanbaru. Untuk oleh-oleh ini nantinya akan saya tulis khusus di artikel selanjutnya.


Sebelum berangkat, Om Aji udah wanti-wanti kalo daerah Bangkinang ada jalur buka tutup karena proyek jalan yang tengah dicor. Kami udah siapin cemilan buah dan snack ringan untuk teman di perjalanan. Saya yang nggak sempat sarapan di rumah pun memilih cemilan buah selama di perjalanan. 


Setelah 4 jam perjalanan, sempat rehat sejenak di Kelok 9 untuk menyelonjorkan kaki, kami tiba di Lembah Harau. Oia kami sempat menghabiskan jagung bakar, pisang bakar selama di Rest Area Kelok 9. Kami juga sempat foto-foto bersama. 






Sejak 1993, Harau sudah menjadi cagar alam hutan hujan tropis dataran tinggi. Bahkan di sini juga terdapat suaka margasatwa sebagai rumah satwa asli Sumatra. Dengan luas 669 hektare, wilayah cagar alam Harau terbagi menjadi 3 area resort. Di antaranya adalah Resort Aka Barayun, Resort Sarasah Bunta, serta Resort Rimbo Piobang. 


Dahulu Lembah Harau terkenal dengan wisata menarik seperti air terjun. Sayangnya kali kedua saya ke tempat ini, kolamnya kering dan air terjun mirip curahan gerimis. Entah apa yang terjadi di atas bukit sana. Tapi yang pasti pepohonan di hutan di atas bukit pasti sudah berkurang habitatnya.


Sekarang Lembah Harau udah berbeda, tidak seperti dulu saat saya kesini bersama mba Nur, suami, dan dek Yuli. Kata banyak netizen Lembah Harau sekarang ada wisata menarik yang wajib dikunjungi. Ternyata ada penambahan wisata menarik tematik yaitu Kampung Eropa, Korea, Sarosa, Secret Garden, dan Jepang.






Selain itu, tersedia juga opsi wahana outbound dan tempat wisata menarik kekinian di Lembah Harau. Untuk akomodasi, kalian bakal mudah mendapatkan penginapan di lokasi wisata ini yang umumnya berupa homestay. Camping ground pun juga ada. Fasilitas lain adalah area parkir, toilet, serta tempat ibadah.

jalan menuju toilet, ada sandal khusus

Kecewa di mushola ini, banyak pengunjung tidak melepas alas kaki. Udah ada tanda larangan, disediakan sandal oleh pengelola juga. Sayang banget pengunjung membuang sampah seenaknya juga. 


Saya kasihan pada pekerja yang rajin membersihkan lokasi wisata ini. Hal yang paling memalukan adalah pekerja menyapu semua sepatu atau sandal yang naik ke lantai tempat larangan. Eh tapi masih ada beberapa pengunjung yang enggan melepas, justru naik ke anak tangga lebih tinggi dengan sepatu yang terpakai.

"Aduh aduuhhh, kok nggak ada empati gitu ya, ada larangan masih aja sepatu gak dilepas,"


Komentar gusar saya lepas seketika. Mbak Ipar ngakak mendengar omelan saya. Kesadaran menjaga tempat wisata di negeri ini merupakan PR besar yang entah gimana cara memperbaikinya. Saya selalu gemas kalo melihat kondisi sampah di tempat wisata. Ndableg (bandel) banget yak sebagian kecil (harapan saya) wisatawan ini. 


Harga Tiket Lembah Harau

Harga tiket masuk Lembah Harau Sumbar bergantung pada spot wisata menarik yang dikunjungi. Biaya masuknya mulai dari IDR 20K. Ada juga tiket masuk terusan IDR 30K-40K. Tiket terusan biasanya meliputi kunjungan ke semua atau ke sebagian spot (Kampung Eropa, Korea, Jepang, Kampuang Sarosa, serta Secret Garden). Saya sendiri kurang tertarik di samping keterbatasan waktu juga untuk mampir ke tempat tersebut.



Sempet ngintip bagian dalamnya
 seperti di foto bawah itu


Bagi sebagian warga wisata kekinian ini dianggap sebagai spot foto yang menarik. Karena belum bisa berkunjung ke negara impian, ya udah foto aja di spot yang ada di sini. Namun sebagian wisata lain justru menyayangkan kehadiran wisata tematik tersebut justru menghilangkan eksotisnya Lembah Harau. 


Lembah Harau merupakan ngarai curam yang terapit dinding tebing dengan ketinggian 100-200 meter. Lanskapnya begitu menawan, cenderung eksotis dengan topografi berbukit-bukit dan bergelombang. Di Lembah Harau ini setiap bukit memiliki nama masing-masing. Saya mendengar seseorang yang menuturkan ada yang disebut Bukit Jambu, Bukit Air Putih, Bukit Singkarak, Bukit Tarantang. Meski beliau tidak begitu hapal bukit mana yang namanya bukit Air Putih.  



Saya hanya berada di tempat ini sekitar 1,5 jam, diselingi ngemil, shalat, dan foto-foto. Semoga aja tempat ini masih mempertahankan kealamiannya. Karena Lembah Harau udah menarik dengan apa yang udah disuguhkan alam. Tebing tinggi, air terjun, hamparan rumput atau sawah, serta rumah adat Minangkabau dalam bentuk miniatur maupun tempat tinggal, atau homestay-nya. Semua itu berpadu indah dan eksotis terutama ketika kabut datang dan gerimis turun perlahan. 


Pukul 13.45 kami pun beranjak meninggalkan lapangan parkir menuju destinasi wisata menarik berikutnya. Teman-teman udah pernah berapa kali ke Lembah Harau? Bagi yang belum pernah berkunjung ke tempat ini, saya sarankan untuk datang sepagi mungkin agar bisa menikmati suasana lembah yang tenang dan damai. 


Artikel ini agak panjang di awal ya, mohon maaf karena saya sengaja ingin menjelasakan perjalanan kami sekeluarga. Nggak ada anak-anak yang ikut karena mereka semua sekolah dan ada kegiatan kuliah atau kerja. Jadi yang berangkat memang rombongan orang tua, om, tante, budhe, gitu yaa. 


Dan artikel ini sekaligus juga merupakan tantangan nulis dalam grup arisan blogger. Kali ini ada mba Siti Nurjanah yang pernah bertemu saat ada kopdar blogger di Semarang dulu. Lifestyle Blogger yang bertubuh mungil ini juga sering traveling ke berbagai tempat wisata menarik yang belum pernah saya kunjungi. Hmm apakah kami bakal kopdar lagi yaa? Semoga aja bisa traveling bareng ya, teman-teman. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Kamis, 14 Juli 2022

Tips Traveling Satu Hari di 7 Tempat Wisata dari Pekanbaru Hingga Bukittinggi
Juli 14, 2022 22 Comments
Assalamualaikum bestie. Ada yang udah traveling sejak kondisi dinyatakan endemi? Saya udah meski ke tempat yang dekat dari kota kelahiran. Namun saya nggak akan berbagi cerita traveling tipis tipis ini. Karena ceritanya saya lagi kangen dengan traveling saat ke wilayah Sumatra tahun 2017 lalu. Ada beberapa tempat yang menjadi persinggahan saya, suami, adik dan kakak ipar. Di antaranya adalah sekitar Bukittinggi, yaitu Payakumbuh, Pagaruyung, dan tentu saja Pekanbaru.



Roadtrip bulan September 2017 ini sungguh berkesan bagi saya dan suami, juga kakak ipar. Kami berempat ceritanya nemenin suami mengantar mobil yang baru dibeli oleh adik ipar di Bogor.  Saya pernah nulis ceritanya di blog ini juga. 


Mengapa saya baru menulis kelanjutan road trip ini? Entah lah saya sendiri lupa alasannya, hahahaa. Kalo nggak salah ingat, usai berjalanan Bogor - Pekanbaru itu, saya dan suami punya kesibukan masing-masing. Kemudian kami berdua sempat ke Jogya, suami ngurusi pekerjaannya dan saya seperti biasa ngikut. Karena suami janji bakal ngajak saya jalan-jalan ke beberapa tempat wisata, hahahaa.


Baik lah nggak perlu nengok ke belakang mencari alasan mengapa baru saya tayangkan sekarang. 


Jadi ceritanya setelah tiba di Pekanbaru, kami sempat istirahat sehari. Baru keesokan harinya adik kami, Yuli mengajak jalan-jalan. Mendengar dia bercerita kemana aja kami akan pergi seharian besok, agak sangsi apa bisa mengunjungi semua tempat itu? 


Bayangkan deh, rencananya jam 6.30 pagi kami akan berangkat ke destinasi pertama yaitu di Ulu Kasok. Kemudian lanjut menuju Candi Muara Takus. Dari sana kami akan berkunjung ke Lembah Harau yang sebelumnya melintasi Kelok 9. Rencananya kami akan makan siang di Los Lambuang Bukittinggi. Foto-foto di depan Jam Gadang, beli oleh-oleh, baru deh mampir ke Istano Basa Pagaruyung.


Apakah kami bisa mengunjungi ketujuh tempat tersebut? Atau sekadar wacana ajah? Silakan baca lebih lanjut yuk, temans.

Oia, yang saya tuliskan di sini nantinya hanya 5 destinasi wisata aja ya, termasuk tempat belanja oleh-oleh. Nah kalian jangan bingung mengapa saya menuliskan judulnya ada 7 tempat wisata. Karena kami memang mengunjungi 7 tempat wisata dalam satu hari saja. Namun untuk dua tempat wisata lainnya, udah saya tuliskan di artikel terpisah. Cek yuk di sini :


Jajan Jagung Bakar di Kelok 9




Pertama mendengar dari adik ipar kalo kami akan melewati Kelok 9, saya udah excited. Beberapa tahun sebelumnya udah tahu nama ini dari berita di TV nasional. Kemudian tayangan di YouTube yang dibagikan di WAG alumni, bikin saya pengen banget suatu hari bisa menapakkan kaki di jalan yang viral ini. 


Kelok 9 adalah jalan penghubung Provinsi Sumatera Barat dan Kepulauan Riau yang membelah wilayah Bukit Barisan. Jalan berkelok-kelok dengan diapit perbukitan tinggi dengan pohon rimbun. Kontras sekali dengan langit biru dan awan putih yang bergerak dan berubah bentuknya tiap tertiup angin.


Dahulu Kelok 9 adalah ruas jalan yang membentang sepanjang 300 meter dengan tikungan tajam dan lebarnya hanya 5 meter. Bayangkan kalo kamu pernah melintas di Kelok 9 ini, menatap keluar mobil akan bertemu dengan jurang. Sempitnya jalan yang tidak sebanding dengan kendaraan yang melintas menyebabkan kemacetan yang panjang. Terutama saat hari libur atau perayaan hari besar, kendaraan yang melintas bisa 2 hingga 3 kali lipat.


Kemudian atas usulan berbagai pihak, mulailah pembangunan jembatan layang Kelog 9. Jembatan layang Kelok 9 ini tak kalah cantiknya dengan jalan yang lama yang ada di bawahnya. Dari dalam mobil saja, kita bisa memandang jalan yang berkelok-kelok eksotis. Di jembatan yang paling tinggi, di sisi kiri dari arah Payakumbuh terdapat warung-warung  dan terdapat spot untuk berfoto.  Ada tempat yang agak menjorok luas dijadikan tempat berjualan makanan dan minuman. Ada mie rebus, jagung bakar, sosis bakar, dan banyak lagi jenis jajanan yang ada di lapak.

Terlena Sejuknya Lembah Harau



Dari Kelok 9 kami melanjutkan penjelajahan di lembah yang jaraknya 15 km dari Kota Payakumbuh. Tempat yang sejuk, suasana kota yang tenang, sepi, bikin kami terlena. 

Terlebih saat kami membuka jendela mobil dan merasakan lembutnya udara menyentuh permukaan kulit. Seketika ingin lekas turun dari mobil dan berlari menyambut udara yang bersih ini. Jalan sempit yang diapit dengan tebing nan tinggi menjulang, dan di sisi lainnya adalah hamparan padi atau kebun, tak membuat kami bosan. 


Hingga tiba lah kami di sebuah tempat wisata yang bersih dan memiliki fasilitas cukup lengkap. Ada mushola yang bersih, usai shalat kami duduk di serambi dan menikmati hembusan udara sejuk yang membelai kulit. Kami jadi mager. Kantuk pun menyapa mesra.


Kalian bisa mengambil foto di mana aja. Banyak spot foto yang bakal bikin kamu bingung karena saking luasanya lahan. Ada tebing tinggi nan terjal dengan hamparan sawah yang pasti bakal cakep dijadikan latar foto kamu dengan pasangan. 


Naik perahu dengan pemandangan
tebing tinggi nan indah


Kamu juga bisa menyewa perahu dan mendayung mengelilingi sungai kecil. Seru sih karena tempat ini memang sangat luas untuk dijelajahi. Oia kami hanya bayar tiket 5 ribu per orang dan parkir juga sama. Harga tiket ini bisa jadi sekarang udah berbeda ya.

Kalo ada yang bertanya mana foto air terjun di Lembah Harau? Kebetulan kami nggak ambil foto air terjunnya karena tidak menarik. Debit air terjun kecil, nggak terlihat apik kalo difoto. Padahal saya kesana itu saat musim hujan, namun mengapa air terjunnya tidak sedahsyat yang saya bayangkan?

Jam Gadang di Bukittinggi

Lelah berjalan-jalan dan sesekali berhenti untuk ngambil foto, kami melanjutkan jalan-jalan menuju Bukittinggi. Tiba di sini saat matahari tepat di atas kepala. Karena perut udah nagih janji, kami diajak adik menuju Los Lambuang yang ada di pasar dekat Jam Gadang. 


Kami melewati deretan penjual bermacam jajan, kerajinan tangan lokal, tas, sepatu, bahkan ada juga kue khas Bukittinggi. Pasar atas Bawah ini juga ada kuliner khas yaitu Nasi Kapau. Yang jualan menyebut kiosnya NI. Adik ipar mengajak kami makan di Ni Er, saya awalnya skeptis. Tapi begitu nyobaik sesendok gulai tunjang, waduhhh jadi ketagihan, hahahaa.

Saya tuliskan di sini :



Jam Gadang adalah sebuah menara jam yang berada di pusat Kota Bukittinggi. Menara jam kebanggaan masyarakat Bukittinggi ini memiliki jam dengan ukuran sangat besar, itulah alasan dinamakannya Jam Gadang yang diambil dari Bahasa Minangkabau. 




Ukuran bagian bawah bangunan menara seluas 13×4 meter dengan tinggi 26 meter ini memiliki beberapa tingkat. Bagian paling atas terdapat bandul jam yang sempat diganti dengan yang baru karena patah oleh gempa tahun 2007. Yang menarik penyangga jam bukan terbuat dari besi dan semen. Namun dari campuran kapur, putih telur dan pasir putih.


Bagian paling atas terdapat empat jam di masing-masing sisi dengan ukuran relatif besar berdiameter 80 cm. Jam ini sendiri langsung didatangkan dari Rotterdam, Belanda. Pada masa itu, pelayarannya dilakukan melewati Pelabuhan Teluk Bayur. 


Yang paling unik adalah gerakan mekanik pada mesin jam ini hanya dibuat dua unit. Dua unit ini untuk Jam Gadang dan Big Ben di London, Inggris. Vortmann Relinghausen adalah nama pabrik pembuat mesin jam ini yang terletak di Jerman, sekitar tahun 1892. Bahkan, nama tersebut juga tertera pada tubuh Jam Gadang tepat di bagian loncengnya. 


Puas-puasin aja foto di depan Jam Gadang ya teman-teman. Di taman depan Jam Gadang ada beberapa tukang foto yang menawarkan jasa. Ada juga penjual mainan anak-anak. 


Saya sebenarnya ingin mampir di gedung yang ada di depan Jam Gadang. Yaitu Museum Bung Hatta, sayangnya waktu itu tutup. Semoga lain kali bisa berkunjung kesana.

Belanja Makanan Khas Lokal di Bukittinggi

Dari Jam Gadang, kami ingin menuntaskan rasa bahagia dengan mengunjungi istana raja-raja jaman dulu. Ini juga jadi salah satu destinasi impian saya sejak masih kecil yang rasanya tak mungkin terwujud. Tak disangka, adik ipar saya mewujudkan impian masa kecil ini. 

Namun sebelumnya adik kami mengajak mampir beli oleh-oleh untuk kami bawa pulang lusa. Dia tahu satu toko oleh-oleh yang harganya terjangkau, kualitas jajanan atau kuliner lokal terjamin bagus, selalu fresh, dan servis pengemasan yang rapi.


Toko oleh-oleh UMI AUFA ini terletak di Jl. Soekarno Hatta, Manggis Ganting, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Cari aja di Google Map, gampang kok ketemunya. 



Di toko ini ada berbagai macam oleh-oleh khas Sumatra Barat. Yang menyenangkan adalah kalian bisa nyobain testernya karena disediakan. Seru sih karena hanya di satu toko, kalian bisa mendapatkan apa aja yang kalian inginkan. 

Oiya, proses pelayanan di kasir juga cepat, karyawannya bahkan membantu untuk pengemasan dalam kardus yang udah disediakan. Tentunya dengan membayar harga per kardusnya. Senang banget karena saya dan mbak Ipar bisa membawa pulang oleh-oleh yang udah terkemas dalam kardus dengan rapi. Jadi aman deh, bisa masuk bagasi di pesawat.


Senja di Istano Basa Pagaruyung



Setelah barang belanjaan dikemas dan dimasukkan ke bagasi belakang, kami pun beranjak ke mobil. Suami mengarahkan mobil menuju daerah Batu Sangkar. Jalan yang makin menanjak, dan udara terasa sejuk, menyambut kami saat memasuki kawasan ini. 


Begitu tiba di lapangan parkir, kami turun dan berjalan ke seberang tempat Istano Basa Pagaruyung yang berdiri anggun. Di bagian luar terdapat loket penjualan tiket. Wisatawan lokal dan mancanegara berbeda harganya.  

Istana ini beberapa kali terbakar, terakhir pada tanggal 27 Februari 2007, akibat tersambar petir. Upaya pembangunan kembali berlangsung antara tahun 2008-2012 dengan menelan dana lebih dari Rp. 20 Miliar. Arsitektur aslinya tetap dipertahankan meskipun sebagian besar peninggalan barang berharga di dalamnya musnah dan hanya tersisa sekitar 15 persen.



Istano Basa Pagaruyung nampak berdiri kokoh dengan 72 tiang yang menopang. Bagian dalam interior Istano Basa didominasi dengan kayu-kayu mengkilap. Ornamen-ornamen kayu nampak menghiasi bagian dalam Istano Basa. Material kayu ini dihias dengan 60 ukiran yang menjelaskan filosofi dan budaya Minangkabau. 

Wisata di Istano Basa Pagaruyung ini kalian bisa berdandan layaknya putri dan raja tempo dulu. Ada tempat penyewaan baju adat Minangkabau di ruangan yang terletak di lantai bawah. Saya dan mbak ipar sebenarnya pengen nyewa. Sayangnya kami udah di sana cukup lama baru terbit keinginan itu. Udah menjelang waktu Maghrib pula. Jadi kami urungkan niat ini dan berharap semoga bisa datang lagi ke tempat eksotis ini.

________________________

Tips Traveling Hemat Waktu dan Budget

Ternyata bisa loh mengunjungi 7 tempat wisata yang ada di kawasan Pekanbaru hingga Bukittinggi. Dan berikut ini saya sertakan tips traveling 7 destinasi wisata dari Pekanbaru hingga Pagaruyung. 


1. Perhatikan jam keberangkatan, lebih awal lebih bagus karena bisa memulai traveling sejak pagi. Biasanya tempat wisata ada yang buka sejak pukul 08.00 WIB.

2. Pilih Kendaraan Pribadi bisa dengan menyewa, karena lebih hemat waktu. Apalagi bila kalian perginya rombongan seperti saya dan keluarga. 

3. Kunjungi setiap tempat dalam waktu secukupnya, karena keterbatasan waktu yang kamu miliki. Kecuali kamu ada rencana extend lebih lama sehingga bisa sepuasnya menikmati setiap destinasi wisata. Beda bila cuma punya waktu satu hari kayak saya dan keluarga, dinikmatinya sejam ada udah lebih dari cukup.

4. Meski menghemat waktu bukan berarti kalian harus terburu-buru. Tetap nikmati waktu traveling dengan membuka mata, dan segenap indera yang kita miliki. Berbicara dengan warga lokal, sekadar menyapa, bertanya tentang tempat yang kita kunjungi.

5. Hormati kearifan lokal, adat setempat meski kamu tidak satu pemahaman. Karena kehadiranmu di sana sebagai tamu, sudah sewajarnya menghormati adat setempat.

6. Pilih makanan khas daerah yang kamu kunjungi sebagai bagian dari traveling. Saya bukan penggemar nasi Padang namun ketika traveling mendadak suka dengan nasi Kapau. Menjajal makanan lokal juga menghemat waktu kamu karena biasanya gampang ditemui. 

7. Siapkan uang tunai secukupnya, karena belum semua tempat menerima pembayaran dengan e-money atau kartu debet. Dan kadang sangat susah menjumpai gerai ATM di beberapa daerah pinggiran.


Meski kami seharian berkunjung di 7 tempat, namun waktunya cukup lah. Rata-rata satu jam di satu destinasi. Dan kami pulang dari Istano Basa pagaruyung itu menjelang Maghrib. Dari tempat ini kami hanya mampir shalat Maghrib. Kami nggak mampir makan karena bekal roti masih ada. Dan kami tiba di rumah di Pekanbaru sekitar pukul 10 malam. Lelah banget tapi puas bisa berkunjung di 7 tempat wisata dalam satu hari. Sampai rumah kami gantian mandi dan shalat Isya lanjut tidur. Karena pagi harinya kami masih ada beberapa tempat yang ingin disambangi lagi.


Sekian ya curhat cukup panjang dakuw saat traveling ke pulau Sumatra bersama suami dan adik serta mbakyunya. Oia bulan Agustus 2022 kami akan kembali mengunjungi Pekanbaru, tempat adik kami tinggal. Sayangnya kali ini kami menggunakan transportasi udara a.k.a pesawat. Udah siap semua termasuk tiket pesawat, udah pesan sejak bulan Desember 2021. Doakan semoga perjalanan kami diberi kelancaran. 


Dan tulisan ini untuk memenuhi permintaan Nurul Rahma pemilik blog bukanbocahbiasa yang pernah menjadi tamu istimewa Google tahun 2017. Pemilik blog dengna platform wordpress ini memilih niche Lifestyle dan Traveling. Menarik tulisan di blog mba Nurul, dan beliau rajin banget Masya Allah. Salah satu blogger yang inspiratif di mata saya. 


Wassalamualaikum.


Sumber Artikel :
- Wikipedia
- indonesiakaya.com
- Gosumatra.com
- Pengalaman Pribadi Penulis
- Warga Lokal
Reading Time: