My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Lifestyle Blogger
Tampilkan postingan dengan label Lifestyle Blogger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lifestyle Blogger. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2022

Traveling Lagi ke Lembah Harau,  Wisata Menarik di Payakumbuh Sumatra Barat
September 15, 2022 33 Comments

Assalamualaikum Sahabat. Melanjutkan cerita traveling saya bersama keluarga suami, awal bulan Agustus 2022 yang mengesankan. Ya bagi saya setiap perjalanan selalu meninggalkan kesan yang mendalam. Siapapun teman perjalanan pasti akan ada cerita yang tak sama. Meski dengan orang yang sama, ke tempat tujuan sama, akan selalu ada cerita yang berbeda. 



Apalagi perjalanan kami kali ini terasa istimewa dikarenakan untuk menjadi saksi ijab dan pernikahan ponakan. Pernikahan yang udah jadi perbincangan di WAG kelluarga sejak akhir tahun kemarin. Alhamdulillah pesan tiket pesawat udah dari Februari jadi masih dapat harga murah. Acaranya juga lancar, meski ada drama sejak berangkat dari hape yang tertinggal di mobil sampai ada yang kehilangan hape beneran. Ya itu lah cerita yang akan selalu jadi kenangan saat ada di satu perjalanan.


Oia saya menuliskan versi lengkap perjalanan ini karena traveling ke Lembah Harau adalah sisipan kegiatan setelah tasyakuran pernikahan ponakan. Jadi sengaja saya menulis lengkap perjalanan dari awal di bandara hingga ke Pekanbaru.


Perjalanan kali ini bersama dengan suami, ibu mertua, mbak Nur (mbak ipar), mbak Ida (istri kakaknya suami), dan adik ipar (pasangan suami istri, dek Pur dan Ani, serta si bungsu Nina). Dari rombogan kali ini dengan tujuan sama, yaitu Kota Pekanbaru dan nantinya akan jalan-jalan ke kawasan Bukittinggi. Kali ini saya akan menuliskan cerita saat wisata di Lembah Harau. Meski kami juga ke tempat wisata lain. Akan saya ceritakan di lain waktu bila ada yang tertarik, hihii.


Meski bukan kali pertama berkunjung ke lembah ini namun tetap aja menjadi pengalaman yang mengesankan. Tapi ada juga sih pengalaman tak mengenakkan. Apa sih yang bikin nggak enak? Baca lebih lanjut aja yaa.


Hari Kedua Berangkat dari Bogor Menuju Bandara

Setelah menikmati perjalanan sepanjang 7 jam, dengan beristirahat di Pekalongan dan rest area haritage Brebes, kami tiba di Bogor di kawasan Dramaga. Rumah adik kami yang hanya ditempati oleh anak sulungnya. Rencana besok pagi jam 8 kami akan berangkat ke bandara Soekarno Hatta bersamanya.


Sampai di Bogor segera masak nasi untuk makan malam kami bertujuh. Lauk pelengkap udah bawa dari Semarang. Ada rendang daging, serundeng, kentang pedas, dan telur balado. Saya dan mbak Nur akhirnya nyari sayuran di kulkas untuk dimasak tumis. 


Yang bebas tugas ada yang mandi, beberes bajuk untuk besok pagi, atau eksplor koleksi tanaman di kebun depan, hahahaa. Sementara suami dan adik ipar membersihkan mobil.


Setelah makan malam dan ngobrol diselingi vidcall dengan adik yang di Pekanbaru, kami segera masuk kamar untuk beristirahat. Capek, ngantuk, dan kami mesti mempersiapkan stamina untuk perjalanan besok ke bandara. Yang pasti kami harus siap nunggu lama di bandara karena pesawat delay. Udah biasa ya kalo maskapai Li**, hehee.


Pagi hari Jumat, 5 Agustus 2022 mobil kami terisi 7 orang dari sebelumnya karena ada ponakan yang bareng kami. Oia yang nikah adiknya duluan kemarin. Tapi alhamdulillah si sulung dari nte Yuli (adik kami yang tinggal di Pekanbaru) insya Allah bakal nyusul tahun depan. Mohon doanya ya buat ponakan kami.


Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam, mobil pun memasuki bandara terminal 2E. Setelah menurunkan bawaan, suami menitipkan mobil di parkiraan inap di dekat gate 1. Dia sendirian kesana, karena ada satpam yang antar. Kata si bapak satpam nantinya akan naik ke gate 1 lewat eskalator atau anak tangga. Kami pun menanti di dekat pintu masuk terminal 2E.


Penantian Selama 6 Jam di Bandara, Dari Shalat Hingga Makan Siang 

Setelah suami bergabung dengan rombongan, kami segera boarding karena ada penitipan bagasi. Berbarengan pula ada pesan notif masuk di WAG kalo adik bungsu udah nungguin di Gate E5 bersama Ibu. Mereka berangkat dari Semarang dengan penerbangan pertama. 


Jadi ceritanya memang kami barengannya mulai dari bandara Soetta. Karena kasihan ibu kalo mesti ikut kami yang muda ini road trip Semarang - Bogor. Tapi pulangnya terpaksa ikut road trip Bogor - Semarang karena adik bungsu mesti pulang duluan. Tapi alhamdulillah Ibu sehat sehat aja selama dalam perjalanan dari berangkat hingga pulang lagi ke Semarang.


Sebelum beranjak ke Gate E5 kami memilih shalat Dhuhur dulu di mushola yang ada Terminal 2D. Karena adik kami bilang, mushola yang ada di Gate E5 itu mesti turun satu lantai gitu. Meski akhirnya juga kami tetep mengakses kesana karena harus ke toilet saat menanti jam penerbangan yang masih lama. 


Setelah semua selesai melaksanakan shalat yang dijamak, kami pun beranjak ke Gate E Terminal 2E. Wah kasihan ibu misal jadi berangkatnya bareng kami naik mobil dari Semarang. Tapi tadi adik kami yang bareng Ibu juga cerita kalo mereka pun jalannya jauh. Beruntung ada fasilitas kursi roda bagi lansia, dibantu oleh maskapainya. Yang penting saat boarding sampaikan pada petugasnya kalo ada orang tua yang butuh kursi roda karena masalah dengan kakinya.




Tiba di terminal 2F rombongan kami segera berkumpul di deretan kursi bareng adik bungsu dan Ibu. Kami masih menanti rombongan dari Kuningan, keluarga suaminya adik kami. Tapi dari Kuningan ini hanya empat orang yang bisa berangkat ke Pekanbaru. Yang berangkat yang usianya muda ataupun tubuhnya sehat. Meski dibanding kami ya masih mudaan kami sih, karena yang berangkat adalah kakaknya ayah dari pengantin putra. Ah syudahlah nggak perlu dipusingkan tentang keluarga dan usianya, hahahaa. 


Di sini kami makan perbekalan, nasi kebuli dan ayam goreng. Pilihan lain nasi putih dengan ayam goreng dan telur balado. Pilihan saya nasi kebuli dan suwir daging, enak banget ya Allah. Kayaknya aku lapar karena jalan jauh antara terminal masing-masing gate ini, hihiii. Tapi emang udah jam makan siang juga sementara paginya saya hanya makan bolu dan teh manis.


Tepat jam 16.00 petugas memanggil para penumpang pesawat Lion Air tujuan Pekanbaru. Perjalanan nggak lama karena pukul 18.00 pesawat udah mendarat di bandara Sultan Syarif Kasim. 



Kami masih sempat foto-foto di bandara dan akhirnya bertemu dengan keluarga adik yang akan menikahkan anak bungsunya keesokan harinya. Dari bandara ini ada dua mobil plus satu mobil sewaan untuk menjemput rombongan dari Jawa.


Perjalanan dari bandara menuju rumah nggak butuh waktu lama karena lokasinya dekat, cuma membutuhkan waktu 15 menit. Setelah pembagian kamar dan mandi, shalat, dan beberes pakaian, kami berkumpul untuk ngobrol. Kebetulan ada dua kakak sepupu dari keluarga besar ibu mertua yang tinggal di Boyolali dan Palembang akan menghadiri pernikahan besok. Jadi deh malam itu acaranya makan dan ngobrol seru. Kalo nggak ingat besok bakal ada acara penting pasti ngobrolnya nggak bakal disudahi, hihiii.



Om Aji mengantar kedua pasangan suami istri (Mba Sri dan suami, Mba Heni dan suami) ke hotel. Suami dan om Pur dengan mobil lain mengikuti dari belakang. Rencananya adik ipar akan ditinggal di hotel tempat menginap pengantin dan keluarga, jadi mobil akan dibawa pulang suami. 


Piknik ke Lembah Harau Lagi, Suasana Udah Beda

Acara pernikahan aku skip aja yaa, alhamdulillah dari akad nikah hingga resepsi berjalan lancar. Kami pulang jelang pukul 14.00 dan segera shalat di rumah. Abis itu kami beristirahat tapi nggak bisa tidur karena mau nyuci, wkwkwk. Yang penting nyuci ntar setrikaan biar diurusi si mbak ART besoknya. Karena besok kami berencana akan wisata di kawasan Bukittinggi.


Akhirnya Minggu pagi setelah diskusi semua rombongan ikut kecuali adik bungsu yang harus pulang dengan pesawat pukul 9 pagi. Dari rencana 6 orang, akhirnya Ibu dan adik kami yang kemarin abis punya acara, ikut serta piknik. Ya adik kami ikut nemenin. Nggak kebayang capeknya seperti apa tapi masih sempat nemenin kami wisata. 


Tapi sebenarnya adik kami ini menggunakan jasa wedding organizer. Jadi ya meski capek juga paling karena ngurusi keluarga, masak buat kami, dan siapin oleh-oleh untuk kami juga. Karena sebelum kami datang dia udah belanja oleh-oleh, jajanan khas Pekanbaru. Untuk oleh-oleh ini nantinya akan saya tulis khusus di artikel selanjutnya.


Sebelum berangkat, Om Aji udah wanti-wanti kalo daerah Bangkinang ada jalur buka tutup karena proyek jalan yang tengah dicor. Kami udah siapin cemilan buah dan snack ringan untuk teman di perjalanan. Saya yang nggak sempat sarapan di rumah pun memilih cemilan buah selama di perjalanan. 


Setelah 4 jam perjalanan, sempat rehat sejenak di Kelok 9 untuk menyelonjorkan kaki, kami tiba di Lembah Harau. Oia kami sempat menghabiskan jagung bakar, pisang bakar selama di Rest Area Kelok 9. Kami juga sempat foto-foto bersama. 






Sejak 1993, Harau sudah menjadi cagar alam hutan hujan tropis dataran tinggi. Bahkan di sini juga terdapat suaka margasatwa sebagai rumah satwa asli Sumatra. Dengan luas 669 hektare, wilayah cagar alam Harau terbagi menjadi 3 area resort. Di antaranya adalah Resort Aka Barayun, Resort Sarasah Bunta, serta Resort Rimbo Piobang. 


Dahulu Lembah Harau terkenal dengan wisata menarik seperti air terjun. Sayangnya kali kedua saya ke tempat ini, kolamnya kering dan air terjun mirip curahan gerimis. Entah apa yang terjadi di atas bukit sana. Tapi yang pasti pepohonan di hutan di atas bukit pasti sudah berkurang habitatnya.


Sekarang Lembah Harau udah berbeda, tidak seperti dulu saat saya kesini bersama mba Nur, suami, dan dek Yuli. Kata banyak netizen Lembah Harau sekarang ada wisata menarik yang wajib dikunjungi. Ternyata ada penambahan wisata menarik tematik yaitu Kampung Eropa, Korea, Sarosa, Secret Garden, dan Jepang.






Selain itu, tersedia juga opsi wahana outbound dan tempat wisata menarik kekinian di Lembah Harau. Untuk akomodasi, kalian bakal mudah mendapatkan penginapan di lokasi wisata ini yang umumnya berupa homestay. Camping ground pun juga ada. Fasilitas lain adalah area parkir, toilet, serta tempat ibadah.

jalan menuju toilet, ada sandal khusus

Kecewa di mushola ini, banyak pengunjung tidak melepas alas kaki. Udah ada tanda larangan, disediakan sandal oleh pengelola juga. Sayang banget pengunjung membuang sampah seenaknya juga. 


Saya kasihan pada pekerja yang rajin membersihkan lokasi wisata ini. Hal yang paling memalukan adalah pekerja menyapu semua sepatu atau sandal yang naik ke lantai tempat larangan. Eh tapi masih ada beberapa pengunjung yang enggan melepas, justru naik ke anak tangga lebih tinggi dengan sepatu yang terpakai.

"Aduh aduuhhh, kok nggak ada empati gitu ya, ada larangan masih aja sepatu gak dilepas,"


Komentar gusar saya lepas seketika. Mbak Ipar ngakak mendengar omelan saya. Kesadaran menjaga tempat wisata di negeri ini merupakan PR besar yang entah gimana cara memperbaikinya. Saya selalu gemas kalo melihat kondisi sampah di tempat wisata. Ndableg (bandel) banget yak sebagian kecil (harapan saya) wisatawan ini. 


Harga Tiket Lembah Harau

Harga tiket masuk Lembah Harau Sumbar bergantung pada spot wisata menarik yang dikunjungi. Biaya masuknya mulai dari IDR 20K. Ada juga tiket masuk terusan IDR 30K-40K. Tiket terusan biasanya meliputi kunjungan ke semua atau ke sebagian spot (Kampung Eropa, Korea, Jepang, Kampuang Sarosa, serta Secret Garden). Saya sendiri kurang tertarik di samping keterbatasan waktu juga untuk mampir ke tempat tersebut.



Sempet ngintip bagian dalamnya
 seperti di foto bawah itu


Bagi sebagian warga wisata kekinian ini dianggap sebagai spot foto yang menarik. Karena belum bisa berkunjung ke negara impian, ya udah foto aja di spot yang ada di sini. Namun sebagian wisata lain justru menyayangkan kehadiran wisata tematik tersebut justru menghilangkan eksotisnya Lembah Harau. 


Lembah Harau merupakan ngarai curam yang terapit dinding tebing dengan ketinggian 100-200 meter. Lanskapnya begitu menawan, cenderung eksotis dengan topografi berbukit-bukit dan bergelombang. Di Lembah Harau ini setiap bukit memiliki nama masing-masing. Saya mendengar seseorang yang menuturkan ada yang disebut Bukit Jambu, Bukit Air Putih, Bukit Singkarak, Bukit Tarantang. Meski beliau tidak begitu hapal bukit mana yang namanya bukit Air Putih.  



Saya hanya berada di tempat ini sekitar 1,5 jam, diselingi ngemil, shalat, dan foto-foto. Semoga aja tempat ini masih mempertahankan kealamiannya. Karena Lembah Harau udah menarik dengan apa yang udah disuguhkan alam. Tebing tinggi, air terjun, hamparan rumput atau sawah, serta rumah adat Minangkabau dalam bentuk miniatur maupun tempat tinggal, atau homestay-nya. Semua itu berpadu indah dan eksotis terutama ketika kabut datang dan gerimis turun perlahan. 


Pukul 13.45 kami pun beranjak meninggalkan lapangan parkir menuju destinasi wisata menarik berikutnya. Teman-teman udah pernah berapa kali ke Lembah Harau? Bagi yang belum pernah berkunjung ke tempat ini, saya sarankan untuk datang sepagi mungkin agar bisa menikmati suasana lembah yang tenang dan damai. 


Artikel ini agak panjang di awal ya, mohon maaf karena saya sengaja ingin menjelasakan perjalanan kami sekeluarga. Nggak ada anak-anak yang ikut karena mereka semua sekolah dan ada kegiatan kuliah atau kerja. Jadi yang berangkat memang rombongan orang tua, om, tante, budhe, gitu yaa. 


Dan artikel ini sekaligus juga merupakan tantangan nulis dalam grup arisan blogger. Kali ini ada mba Siti Nurjanah yang pernah bertemu saat ada kopdar blogger di Semarang dulu. Lifestyle Blogger yang bertubuh mungil ini juga sering traveling ke berbagai tempat wisata menarik yang belum pernah saya kunjungi. Hmm apakah kami bakal kopdar lagi yaa? Semoga aja bisa traveling bareng ya, teman-teman. Wassalamualaikum.
Reading Time: