Adaptasi Belajar Daring Bukan Untuk Siswa, Tapi juga Orang Tua dan Guru - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Jumat, 19 Februari 2021

Adaptasi Belajar Daring Bukan Untuk Siswa, Tapi juga Orang Tua dan Guru



Assalamualaikum sobat. Pandemi covid yang belum juga usai memberi pengharuh banyak pihak. Terutama adalah anak sekolah dan kuliah yang masih belajar daring hingga saat ini. 


Anak saya yang bungsu dan menjadi mahasiswa jurusan DKV aja sampai memilih cuti satu semester kemarin. Semoga semester ini udah bisa memilih kuliah lagi. Alasan dia memilih cuti kuliah udah saya ceritakan dalam artikel sebelumnya.



Dari artikel sebelumnya juga saya udah menuliskan gimana curhat orang tua dan siswa, tentang gimana menjalani belajar daring ini. Pandemi menjadi tantangan bagaimana mereka harus menciptakan suasana belajar di rumah dengan menyenangkan.

Peran Orang Tua Saat Mendampingi Pembelajaran Jarak Jauh

picture by tes.com

Sebenarnya bagi orang tua yang terbiasa mendampingi anak-anaknya belajar selama ini, kondisi PJJ mungkin tak pengaruh banyak. Meski intensitas waktu mendampingi belajar menjadi lebih panjang. Bukan hanya itu tapi masih ditambah dengan mengajari ketika anak tidak tahu atau belum memahami materi pelajaran. 

Orang tua yang terbiasa mendampingin anak belajar, pasti tahu gimana mereka juga harus ikut memahami materi pelajaran. Tapi kesenjangan materi pelajaran sekarang memang telah melesat jauh. Materi yang dulu mungkin baru diajarkan saat siswa kelas 5, sekarang udah diajarkan pada siswa kelas2. 

Di sini muncul banyak keluhan dari orang tua yang mengalami kendala saat membantu anak  menjalani PJJ. Apalagi bila orang tua ini semua pekerja yang tidak memiliki pilihan bekerja di rumah dari tempat kerjanya. Makin banyak juga masalah yang muncul. 

Akhirnya orang tua ada yang memilih jalan untuk mengikutsertakan anak pada bimbingan belajar online. Atau memilih orang yang profesional dan cukup dekat dengan mereka yang membuka bimbingan belajar, untuk datang ke rumah. Tentu ada beberapa prosedur protokol kesehatan yang mesti dilakukan.

Namun masih ada kendala juga bila kemampuan materi tidak memungkinkan. Akhirnya materi pelajaran tidak terserap dengan tuntas oleh anak-anak ini. 

Guru Harus Kreatif Dengan Melakukan Inovasi Digital

Memang semua kembali lagi pada peran guru meski kondisi masih belum memungkinkan untuk dilakukan belajar secara tatap muka.

Kebetulan saya sempat ngobrol dengan tetangga yang juga ibu RT di lingkungan saya. Beliau adalah pendidik di salah satu sekolah dasar di Semarang Tengah. 

Beruntungnya siswa di sekolah ini, karena guru dan kepala sekolah akhirnya memiliki kemampuan untuk membuat materi pelajaran dengan membuat video. Jadi tiap guru sudah merumuskan materi pelajaran dalam bentuk tulisan dan gambar semampu yang mereka buat. Kemudian salah seorang guru yang memiliki ketrampilan edit video dan animasi, menerjemahkannya dalam bentuk digital.

Memang seperti sekolah lain, juga banyak guru lainnya, awal pandemi membuat kondisi PJJ di sekolah ini tidak suskses. Siswa mengalami penurunan konsentrasi karena tidak bisa belajar di kelas. 

Namun seiring berjalannya waktu, ide dan inovasi yang dilakukan ini tercipta dari inisiatif beberapa orang guru. Mereka merasa sedih karena anak didiknya tidak mampu memahami materi yang disampaikan. Susah kan kalo pembelajaran hanya sebatas catatan.

Inovasi yang dilakukan adalah dengan menjadikan satu ruang khusus untuk tempat guru direkam saat menjelaskan materi pelajaran. Kemudian penjelasan ini juga didukung dengan gambar animasi untuk beberapa pelajaran tertentu. Seperti matematika, yang butuh menayangkan wujud bentuk benda misalnya.

Ibu Sardi, guru yang mengampu siswa kelas 3 ini menuturkan bagaimana susahnya di awal saat harus menerjemahkan materinya dalam bentuk gambar. Dia tidak pintar menggambar, jadi memang harus dengan bantuan guru lain. Ini lah peran guru yang pintar mengolah data, gambar, dan menerjemahkan dalam bentuk visual di video. 

Di ruang khusus ini pula dilakukan pengeditan oleh si guru yang ahli di bidang komunikasi visual. Padahal pak guru ini aslinya adalah guru di bidang olahraga. Namun keahlian yang dimilikinya di bidang teknologi telah memberikan jalan keluar bagi guru, siswa, dan tentunya orang tua. 


Mendengar tetangga saya bercerita proses PJJ di sekolahnya, membuat saya pun jadi hepi. Beruntung ya sekolah yang memiliki guru dengan keahlian seperti di atas. Karena tidak banyak sekolah yang bisa melakukan hal serupa. 

Belajar Tidak Cukup Tentang Ilmu Pengetahuan

picture by edutania


Saat pandemi seperti sekarang ini,  kreativitas terhadap penggunaan teknologi sangat dibutuhkan. Dan tentunya bukan hanya transmisi pengetahuan, tapi juga bagaimana memastikan pembelajaran tetap tersampaikan dengan baik.

Sudah terbukti munculnya beragam masalah karena proses PJJ memang tidak bisa efektif seperti saat tatap muka. Teknologi tidak dapat menggantikan peran guru atau dosen. Bahkan teknologi tidak mampu mengefektifkan interaksi belajar antara siswa dan guru.

Karena pembelajaran itu bukan sekadar untuk mendapatkan pengetahuan dari mata pelajaran. Pembelajaran juga untuk memunculkan nilai, kerja sama, serta kompetensi siswa. Bukan hal mudah ketika pandemi akhirnya menuntut tanggung jawab orang tua lebih banyak. 

Namun pandemi memang menjadikan setiap orang, baik anak-anak, orang tua, kembali lagi pada esensi keluarga. Ketika selama ini orang tua pekerja, ibu rumah tangga, anak remaja, disibukkan dengan kegiatan di luar rumah. Pandemi memaksa mereka untuk kembali menghangatkan suasana rumah. Mereka tidak bisa lagi dengan mudahnya bebas bertemu teman kerja atau arisan. 

Perubahan gaya hidup dengan lebih banyak waktu bersama keluarga, tentu satu hikmah dari pandemi ini. Memang di balik setiap musibah selalu ada hikmah yang bisa disyukuri. Makin banyak waktu bersama keluarga juga merupakan saat bonding yang spesial. 

Orang tua bisa mengisinya dengan beragam kegiatan yang positif. Bisa menciptakan hobi baru yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Kegiatan ini bisa juga menjadi ajang parenting bagi orang tua dan anak. Orang tua bisa menyisipkan pesan-pesan moral saat bermain, melakukan hobi, dan kegiatan lain di rumah.

Pandemi ini memang menjadi saat penuh duka bagi banyak orang. Namun manusia adalah makhluk Tuhan yang paling kuat beradaptasi dalam kondisi apapun. 

Kekuatan iman, ikhtiar menjalani protokol kesehatan, kemampuan bertahan hidup, semoga menjadi modal untuk menghadapi pandemi yang belum tahu kapan akan berakhir. 

Semoga sobat selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan selalu dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Wassalamualaikum.

10 komentar:

  1. aamiin, iya nih, PPJ memang tantanga tersendiri, karena sekolah dan semuanya di rumah aja, alias 24 jam bersama anak terus hahaha, makanya kalau anak tidur sekalian me time sendirian

    BalasHapus
  2. Aku nggak ngerain rempongnya ada anak belajar daring mba, karena ada bocil tapi ngerasain sendiri kalo ikutan webinar kadang sinyal ilang keluar masuk zoom sedih. hahha belajarnya jadi nggak tanek

    BalasHapus
  3. Setelah setahun pandemi memaksa sekolah harus daring, mudah2sn pengelolaannya kini semakin baik ya..sehingga berjalan dengan lancar tanpa banyak timbulkan stres di banyak pihak.

    BalasHapus
  4. Semua berproses ya mbak. Awalnya aku pun merasa kesulitan tp akhirnya jd tertantang belajar lebih lagi cari aplikasi pendukung utk bikin kuis bikin materi yg lebih ramah PJJ. Yah pokoknya diusahakan PJj tetap bisa dinikmati dosen dan mahasiswanya

    BalasHapus
  5. Mengaminkan panjang quote di baris terakhir.
    Tetap sehat dan terapkan 5M, inshaAllah jadi ikhtiar bersama.
    Covid pun bisa kita terima sebagai bagian dari hidup kita saat ini, inshaAllah

    BalasHapus
  6. Semoga bisa berakhir ya pandemi ini mbak..sedih baca jumlah korban yang kian bertambah setiap hari... anak-anakku sudah beradaptasi dengan PJJ tapi sangat kangen teman-teman..

    BalasHapus
  7. Nano-nano mba rasanya mendampingi anak PJJ gini. Kadang kelihatan ringan, tapi ya tak jarang memancing emosi deh ketika anak tampak kurang antusias dan kayaknya enggan membuat tugas yang diberikan guru. Tantangan deh bagi para guru agar muridnya selalu semangat mengikuti pembelajaran daring.

    BalasHapus
  8. Akutu sering KZL sama guru-guru yang ngasih tugas tiap hari nyuruh anak baca buku, nulis, dan ngerjain soal. Iya sih, anak-anak kelas 1 memang masih masanya belajar baca/tulis juga. tapitiap hari kek gitu ya pasti anak-anak bosan.
    IYa sih, gurunya juga pusing harus semuanya serba online. tapi kalau nggak ada inovasi sama sekali, jadi kacau.

    Maafkan Mbak, aku malah curhat di sini

    BalasHapus
  9. Akhirnya emak2 ikut sekolah juga. Belajar lagi rumus2 matematika yang udah lbh sepuluh tahun ga ketemu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    BalasHapus
  10. Sebenarnya di sekolah si sulung, melibatkan ortu dalam proses pembelajaran adalah hal yang biasa. Bahkan ada laporan bulanan juga. Hanya yang menjadi tantangan adalah ketika harus belajar menggunakan media online, sementara anaknya nggak mau muncul di kamera, kadang-kadang bikin senewen juga akhirnya. Tapi setelah 1 tahun ya lama-lama jadi new normal. Mau nggak mau jadi biasa :)

    BalasHapus