Mengajak Anak Belajar Sehat Finansial - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Minggu, 22 November 2020

Mengajak Anak Belajar Sehat Finansial


Assalamualaikum Sobat. Sejak anak-anak usia sekolah dasar, saya udah mengajak mereka belajar mengelola keuangan. Dari hal remeh dan receh kayak mengatur uang saku yang saya berikan. Mereka bebas menggunakan uang saku yang udah diterima tapi tetep ya bertanggung jawab. Karena biasanya akan ada laporan receh juga yang bakal mereka berikan pada saya.


Jadi sejak kelas 3 SD, si sulung saya ajarkan ngurus duitnya sendiri. Tentu saja duit yang didapatkan dari uang saku mingguan. Saya memang mengajak anak-anak untuk mengelola duit saku dengan cara memberinya secara mingguan. 

Menurut saya, usia 8 tahun udah bisa kok diajari cara menggunakan duit untuk membeli kebutuhannya. Ingat ya kebutuhan, bukan keinginan. 

Contohnya nih, beli jajan, menurut saya keinginan. Karena dari rumah, si sulung udah saya bawakan bekal nasi dan lauk, buah, dan jajanan. Jadi duitnya harusnya sih utuh dan nggak dibelanjakan untuk beli jajan. Biasanya duitnya berkurang untuk iuran sedekah dan nabung. Tapi kalo hari Sabtu saya membebaskan si sulung untuk beli jajan. Seminggu sekali nggak apa deh. Meski dia juga jarang jajan karena perutnya katanya udah kenyang. Alhamdulillah, tanda bekalnya dimakan sampai habis. 


Karena sekarang mereka udah dewasa dan punya penghasilan sendiri, saya masih memantau juga lho. Terlebih saat ini ada banyak godaan beli ini itu yang bikin mereka gak bisa fokus nabung.


Apalagi suami dulu seusia si sulung, udah punya investasi rumah. Dengan gaji yang tak seberapa namun hidup hemat bisa kok punya rumah di usia muda. Sebelum menikah memang lebih baik investasi dulu untuk masa depan. Jadi ketika menikah, udah ada rumah untuk keluarga kecil nantinya.

Nah tips yang saya tuliskan ini memang diambil dari pengalaman suami dan tentunya dengan modifikasi sesuai jamannya. 

Tips Cermat Mengelola Keuangan Untuk Kaum Milenial :



Dengan membuat anggaran bulanan, kalian memiliki perencanaan biaya untuk sebulan. Anggaran ini bisa dibagi dalam dua pos biaya. Kebutuhan utama, seperti makan, tranportasi, tagihan listrik, angsuran rumah, dan biaya yang sekiranya lumayan besar dan selalu rutin muncul tiap bulan. 

Kebutuhan Sampingan atau tersier, seperti belanja outfit, traveling, hangout bareng teman, dan hiburan lainnya. Memang sekarang ini kebutuhan untuk bersenang-senang nampaknya harus dipersiapkan juga. Enggak apa kalo memang kalian punya anggaran yang cukup dan tidak mengganggu pos biaya utama.

Langkah berikutnya adalah...



Sejak masih lajang saya selalu menyisihkan duit gaji untuk membantu ibu, sedekah, dan traktir sepupu serta adik sebulan sekali. Saya yakin melakukan tiga hal ini tidak bakal membuat gaji saya habis. Saya udah punya anggaran untuk tiga hal ini, sedikit tapi sebisa mungkin rutin setiap bulan setelah menerima gaji. 

Hal ini saya ajarkan pada si sulung sejak masih sekolah. Sedekah itu wajib sebagai umat muslim yang menginginkan penghasilannya menjadi berkah. Minimal 2,5% dari gaji bulanan harus dibayarkan sedekahnya, bisa di masjid, panti asuhan, atau kerabat dan tetangga yang tidak mampu.

Kemudian, lakukan hal penting ini...



Jangan pernah menunda bayar tagihan yang menjadi kewajiban kalian. Seperti angsuran rumah, motor, biaya listrik, telpon, asuransi kesehatan, dan kewajiban lainnya. Ini penting banget menjadi prioritas agar kalian tidak stres dengan tunggakan atau denda yang bakal menambah biaya di luar anggaran.

Melalukan pembayaran segera setelah menerima gaji juga bakal bikin hati tenang. Ujungnya tentu aktivitas kalian lancar dan tidak perlu memikirkan hal yang seharusnya bukan masalah baru.

Tapi sebelumnya, lakukan terlebih dulu...



Hal pertama yang saya dan suami lakukan saat menerima gaji (waktu awal kerja hingga resign) adalah menabung. Sekecil apapun saya selalu menyisihkan di awal agar bisa nabung. Dan tabungan ini alhamdulillah menjadi penolong ketika saya membutuhkan dana untuk modal berjualan kain batik. Nah, ketika mendapatkan THR saya alokasikan duitnya untuk membeli perhiasan. 

Beda lagi dengan langkah suami yang hanya mampu menyisihkan duit tapi untuk digunakan bayar kuliah. Dia kasihan pada ibunya yang harus membagi penghasilan dari gaji guru untuk membiayai pendidikan adik-adiknya. Namun suami saat memperoleh gaji ke-13 dan THR, digunakannya untuk membayar uang pokok pinjaman KPR. Jaman dahulu suami membeli rumah dengan akad  kredit bisa menyicil pokok pinjaman pembelian rumah pada saat tertentu. Saya kurang tahu apa sekarang masih ada item seperti ini.

Intinya sama ya, saya dan suami sejak masih lajang sudah memikirkan langkah finansial untuk masa depan. Investasi suami dengan cara membeli rumah. Sementara saya memilih investasi perhiasan emas yang bisa dipakai. Cara saya memang tradisional seperti ibu-ibu jaman dulu yang senang beli emas saat punya rejeki berlebih. Nantinya perhiasan emas ini akan berguna dan menjadi dana darurat. Yang penting enggak beli perhiasan emas dan dalam selisih dua bulan dijual lagi, rugi bandar dong. 

Yang penting juga, lakukan hal remeh seperti...



Sebagai orang yang sekolah dan bekerja di bidang keuangan, saya dan suami tergolong tertib dalam hal menggunakan uang. Kami selalu mengutamakan kebutuhan yang wajib dipenuhi dibanding membeli sesuatu yang sekadar keinginan. 

Langkah yang saya lakukan adalah membuat laporan keuangan sederhana. Saya catat pengeluaran yang sudah terlaksana dalam buku khusus. Jaman dahulu saya selalu memasukkan uang yang udah tertulis dalam pos bugdet bulanan ke dalam amplop berbeda. Namun untuk pengeluaran kecil saya tidak catat karena biasanya diambil dari duit makan setiap hari.

Langkah ini sukses loh bikin saya mampu mengerem keinginan belanja yang nggak penting. Kalo suami sejak masih lajang udah tertib menggunakan uang gajinya. Saya memang banyak belajar pada dia sejak kami belum menikah. Hubungan pacaran enggak sekadar haha hihi bagi kami. Namun juga menjadi ajang diskusi dan saling belajar memahami setiap masalah dan menemukan solusinya. Termasuk sejak awal sebelum menikah sudah ada komitmen untuk terbuka ketika muncul masalah finansial.

_____________________________

Lantas apakah saya pernah tergoda untuk membelanjakan uang di luar anggaran rutin? Pernah dong, dan tergantung dengan apa yang saya beli. Karena saya jarang banget beli karena tergoda promo diskon atau hadiah yang ditawarkan oleh sales marketing. 

Saya membeli barang yang selalu menjadi kebutuhan. Misal ketika tahu rencana pernikahan kami setahun sebelumnya, saya udah menganggarkan belanja kebutuhan dapur. Seperti membeli mixer, kompor gas, karpet, dan barang lainnya. 

Mengapa saya memikirkan membeli perlengkapan dapur ini, bukan yang lainnya? Alasannya sederhana, karena begitu menikah pasti kami akan menempati rumah yang sudah dimiliki suami. Namanya juga rumah baru, isinya kosong, dan butuh barang atau perlengkapan penting untuk dapur. Aktivitas rumah tangga pasti didukung kegiatan dapur setiap hari, entah cuma bikin minum atau masak nasi. Kalo saya juga beli mixer, karena memang suka bikin kue sejak masih gadis. Sementara ibu saya nggak punya dan nggak pernah tertarik bikin kue. 

Godaan Jaman Yang Berbeda, Gimana Solusi Agar Anak Tetap di Jalur Yang Benar?

Saya suka menahan diri agar tidak membandingkan anak-anak dengan bapaknya. Saya hanya mengingatkan mereka kalo langkah menuju masa depan masih panjang. 

"Kalian pengen menikah usia berapa?"
Hening seketika suasan ruang tengah di rumah. 
"Kalo udah punya rumah," celetuk si sulung
"Trus apa usahamu agar bisa beli rumah sebelum nikah?"

Si sulung tersenyum mendengar pertanyaan ibunya ini. Dia memang udah investasi duitnya di reksadana di salah satu lembaga keuangan  dan koin emas di pegadaian. 



Sebelumnya saya sempat mengajak bicara si sulung yang senang beli minuman kekinian. Nyaris tiap hari, jajan minuman dan makanan. Kalo dia tidak menghentikan kebiasaan ini, bakal habis duit gajinya. Waktu itu melaju dan tidak pernah menunggu orang yang tidak merencanakan keuangannya dengan baik. Saya ingatkan dengan satu surat dalam Al-Qur'an. 

"Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi"

Iya kalo masih suka nongkrong di kafe, jajan tiap hari, dengan gaji UMR, apakah bisa nyimpan duit gaji? 
Saya bilang, berhemat itu bukan berarti kamu pelit. Namun belajar untuk menjadi cerdas dalam mengelola keuangan. Cerdas finansial agar kamu bisa mewujudkan semua mimpi-mimpi

Langkahnya masih jauh untuk memiliki rumah impiannya. Namun saya dan bapaknya terus memberikan suntikan semangat agar giat bekerja dan jangan lelah meminta bantuan pada Sang Khalik untuk mewujudkan keinginannya ini. Tak ada hal yang tak mungkin terjadi. Yang harus dilakukannya cukup tawakal dan istiqomah pada niatnya itu.


Memang cara mengatur duit dari jaman dulu hingga nanti pasti memiliki kesamaan. Nabung lah selagi muda dan belum ada kebutuhan penting, jangan foya-foya, agar masa tua bisa bahagia. Duhhh ini quote dari mana coba, hahahaa.

Saya sih ngak ingin menggurui karena bukan seorang financial planner. Namun paling enggak dari pengalaman selama menikah, kami bisa merdeka dalam hal keuangan. Kami memilih KPR saat pembelian rumah karena tahun 1992 itu suami masih kuliah sambil kerja. Alhamdulillah dari rencana jangka waktu 10 tahun angsuran, kami bisa melunasi pada tahun ke-6. Hal ini bisa terjadi karena suami adalah orang yang tertib dalam mengelola keuangan.

Harapan saya dan suami adalah anak-anak memiliki tujuan keuangan yang sehat. Karena dengan cerdas mengelola keuangan, insyaAllah apapun impian mereka bisa diwujudkan. Gimana menurut kalian? Sharing yuk. Wassalamualaikum.

24 komentar:

  1. Kalau buat yg besar aku sudah mulai kasih uang saku perbulan mbak waktu kelas 7, tapi buat yg kecil aku kasihnya mingguan dia sukanya makan trus soalnya uangnya habis buat beli nasi uduklah dll padahal bawa bekal makan siang juga :-D
    Penting banget mulai dari kecil diajarkan mengelola keuangan karena nantinya pasti akan terbawa hingga mereka dewasa ya. Kalau dari kecil belajar membuat laporan keuangan juga perlu gak ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dibikin, anaknya diajari nulis per hari udah mengeluarkan duit untuk apa aja. Anak-anak kadang suka lupa, hihihii

      Hapus
  2. Belajar memang tidak mengenal usia ya.. apalagi untuk anak anak, semakin teredukasi sejak dini, maka akan selalu terpakai sampai kelak mereka dewasa nanti.. belajar mengelola keuangan sejak dini bisa membantu anak lebih menghargai uang ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, tiap hari belajar mendampingi anak-anak meski mereka udah dewasa

      Hapus
  3. Sekarang godaan belanja semakin gencar. Dari ponsel aja tiap hari berseliweran foto-foto yang bikin selera belanja jadi naik beberapa persen. Kalau dulu cuma ke mall, sekarang mallnya semakin dekat kerena di telapak tangan hampir 24 jam. Jadi kalau gak disiplin dalam bidang finansial emang bakalan boncos terus setiap bulan. Semoga tips mengelola keuangan di atas bermanfaat bagi teman-teman semua. Untuk sukses secara finansial kita emang kudu disiplin banget ya :)

    BalasHapus
  4. Aku setuju cerdas finansial bukan pelit. Justru malah jadi tahu sebenernya uang ini larinya kemana aja. hehehe..
    btw boleh share uang saku anaknya kelas 3 mba? terus kasih dalam mingguan itu berarti uang kecil semua kan ya?

    BalasHapus
  5. Anak2ku juga sudah belajar menabung sejak TK :) Menyisihkan sedikit uang jajannya lama2 jadi banyak, malah udah pada punya emas masing2 hehehe alhamdulillaah. Bangga kan kalau bisa beli sesuatu dari uang mereka sendiri. Anak2 juga jadi tau betaoa susahnya mencari uang dan belajar juga menghargai waktu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah, terima kasih banget sharingnya ya mbak Nurul.
      Iya bener anak-anak bakal terbiasa menghargai duit kalo udah tahu gimana susahnya membeli sesuatu dari duit tabungan mereka sendiri

      Hapus
  6. benar sekali mbak, kebiasaan mengelola keuangan harus diajakrkan sejak dini ya mbak..
    klo aq memulainya dgn mengajari menabung

    BalasHapus
  7. Setuju banget sih...secara mengatur keuangan itu penting banget. Banyak duit gak bis angatur ya gak jadi apa2 duitnya.. Makanya sejak kecil menurutku perlu banget anak2 mengenal ttg pengelolaan keuangan dan disiplin mengelolanya...

    BalasHapus
  8. Pertanyaan Mbak Wati ini joss lho ...

    "Kalian pengen menikah usia berapa?"
    Hening seketika suasan ruang tengah di rumah.
    "Kalo udah punya rumah," celetuk si sulung
    "Trus apa usahamu agar bisa beli rumah sebelum nikah?"


    Ini bikin anak muda mikir ya ... dan bertanya seperti itu, kata psikolog, merupakan teknik yang pas buat anak milenial.

    Saya perlu belajar nih cara Mbak Wati ngadepin anandanya.

    BalasHapus
  9. Keren banget mbak langkah-langkah edukasi finansialnya. Jadi terinspirasi deh aku. Kalo u.selama ini anakku nabungnya masih buat hal2 yg ingin ia miliki belum ke arah masa depan gitu. Pengen punya kartu debet juga, waduh kata saya nanti malah nambah konsumtif. Jadi saya rem dulu tu keinginan dia untuk punya kartu debet.

    BalasHapus
  10. keren banget bun sejak kecil anaknya sudah belajar mengatur keuangan.. oh iya, soal bawa bekal dari rumah, saya pun ingin sekali menerapkan itu kelak anak2 saya sudah usia sekolah.. tapi, perlu lingkungan yg mendukung nggak sih bun? secara disini "budaya" nya nggak kayak gitu, anakk2nya pd suka jajan dan bawa bekel ke sekolah sesuatu yg aneh gituu

    BalasHapus
  11. Bikin laporan keuangan nih aku yang masih PR banget. Kalau hematnya sih udah, dari sekolah juga. Mbakku dulu ngasih uang saku buat kupegang sendiri. Jadi udah belajar tanggung jawab sih buat ngatur

    BalasHapus
  12. Wah, keren ini mbak. .sudah ada role modelnya. Meskipun berbeda jaman, tapi pengalaman ayahnya anak2 berhasil menabung dan membeli properti sebelum menikah, bisa jadi motivasi.

    BalasHapus
  13. Aahh, mau niru cara mba wati ngajari anak-anak ngelola uang ah. dulu waktu kecil aku gak dilatih, jadi kayaknya ngaruh sampe sekarang, payah banget soal ngelola uang. hihi.

    BalasHapus
  14. Mbaaa, kamu sungguh juaraaa
    aku pengin niru cara kamu, mba
    soale, terus terang, belakangan ini aku out of control untuk urusan keinginan/kebutuhan anak2. maksude, dia minta apa aja aku turutin, hiksss

    makasi reminder-nya ya

    BalasHapus
  15. dua anaku udah bisa atur uang jajannya sendiri. nabung buat beli barang kesukaannya sendiri juga. tinggal si bungsu yg masih sd nih... hobi jajannya susah direm hahaha
    makasi tipsnya mba. nanti mau dipraktekin buat si bungsu yg boros :D

    BalasHapus
  16. Keren banget cara Mbak Wati dan suami mengelola keuangan, kalau aku untungnya sering beli perhiasan pas masih ngantor terus dilanjutkan dengan arisan LM pas anak masih kecil jadi lumayan ada simpanan..mau meniru caramu untuk uang saku mingguan anak..

    BalasHapus
  17. Senang baca cerita mb Wati ngajarin anak-anak tentang ngurus duit. Kadang yang agak repot itu kalo tetangga kita caket punya warung hehehe

    BalasHapus
  18. Iya mbak setuju sedini mungkin anak diperkenalkan dengan literasi keuangan ya supaya pas gede mampu mengurusi keuangannya dengan bijak.
    Wah keren nih si kakak udah punya investasi. Nanti kalau udah dewasa sekali dan uangnya udah kekumpul sblm nikah, kudu kuat didorong sekalian investasi properti ya mbak :D
    Lebih baik nabung buat inves dr beli2 jajanan yaa

    BalasHapus
  19. Alhamdulillah anakku sudah mulai pintar mengelola keuangan. Bahkan tabungannya sudah lumayan banyak dan akhirnya aku simpan di bank supaya tidak terganggu atau keambil dan dipinjam terus sama ibu bapaknya haha.

    BalasHapus
  20. aku mulai dari anak menyimpan uangnya dan jajan yang teratur mursah mak xd. Jadi ga dikit2 minta jajan kalau ke mini market. Soale uang jajannya terbatas juga mba xD
    tapi memang dari kecil harus benar-benar memperhatikan biar nanti dewasa mereka siap

    BalasHapus
  21. Cerdas finansial ini penting banget...agar pengeluaran tiap bulan terpantau dan kita bisa tau boncosnya dimana aja yaa..
    **tapi, aku masih jelek banget kak...pengaturan finansialnya. Kerap tergoda dengan makanan enak, heuheu~

    Terus anak-anakku gimana?

    BalasHapus