Hari Ibu Dalam Kenangan Seorang Anak - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Wednesday, 6 December 2017

Hari Ibu Dalam Kenangan Seorang Anak

www.hidayah-art.com
pict by india.com

Assalamualaikum. Bagaiman Anak-Anak Mengenang Seorang Ibu? Bukan hal mudah menulis tentang Hari Ibu. Karena sejak kecil saya lebih dekat dengan Bapak. Ibu adalah sosok pendiam yang lebih sering memuntahkan kemarahan bila ada kesalahan kecil sekali pun. Namun Ibu juga sosok yang segera memenuhi keinginan putri-putrinya untuk urusan baju. 

Ibu adalah penjahit yang trampil. Pelanggan Ibu ada beberapa peragawati dan model yang memiliki tubuh sempurna. Mereka mau loh datang ke rumah kami yang terletak di gang sempit di daerah Pecinan Semarang.


Ibu menjadi penjahit untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Kayaknya peran ini sah dan menjadi kondisi kebanyakan masyarakat Indonesia. Banyak perempuan menjadi pekerja karena mengisi kekurangan bahkan kekosongan nafkah bagi keluarganya.

Hari istimewa seperti hari raya, ada saudara yang menikah, ataupun pesta kelulusan sekolah, dijadikan alasan bagi Ibu membuatkan putri-putrinya gaun pesta.

Kebetulan saya dan adik nomer 2, sering dibuatkan pakaian kembar karena selisih usia sekitar 4 tahun. Berbagai momen pun sering Ibu pilih untuk menyenangkan hati putri-putrinya dengan pakaian yang cantik. Pakaian dengan model yang sedang trendy dan memiliki ciri khas.

Meski untuk urusan curhat, saya lebih dekat dengan Bapak. Namun untuk urusan bantuan pekerjaan Ibu menjahit, menjadi tugas saya.

Sebagai sulung dan anak perempuan nomer satu, saya sering diminta bantuan oleh Ibu membeli perlengkapan menjahit. Dan saya senang sekali bila disuruh. Itu artinya saya bisa punya waktu untuk menyaksikan ketrampilan ibu menjahit. Saya senang menyaksikan Ibu mengukur, memotong bahan kain, mengubahnya menjadi pakaian yang cantik untuk si pemesan.

Sayangnya Ibu kadang nggak suka saya membantu pekerjaan lebih banyak. Seperti saya nggak bakal diijinkan menjahit yang mudah-mudah. Bahkan keinginan saya bisa menjahit pakaian untuk diri sendiri pun ditolak.

"Udah lah, Ibu aja yang menjahit pakaianmu. Nggak perlu repot belajar menjahit," tolak Ibu saat itu.

Saya sedih. Saya ingin sekali bisa menjahit baju sendiri. Apalagi selama sekolah di SMP maupun SMA, tak pernah ada pelajaran menjahit.  Namun meski sering tak bisa sependapat, saya tak pernah bisa membantah perkataan Ibu.

Bertahun kemudian, saya pun menjadi seorang Ibu

www.hidayah-art.com
Pict. by pixabay

Ketika seorang putri menjadi dewasa dan memiliki peran sebagai Ibu, ada satu kondisi yang mengubah semuanya menjadi satu kata, penyabar.

Saya menjadi lebih dekat dengan Ibu. Meski tak semua hal seputar pengasuhan anak bisa terjawab dengan lancar oleh Ibu. 

Ibu sudah memberikan banyak kenangan pada saya dan keluarga kecil kami. Kini saatnya saya pun mulai menorehkan kenangan untuk keluarga kecil saya.

Ada ribuan kenangan yang sudah saya ukir untuk keluarga kecil kami. 

Sore sepulang kerja, saya mendapati tangan mungil menyerahkan kertas dalam bentuk buket bunga. Kertas robekan dari buku tulis dan ada gambar bunga, dibentuk buket. Ketika ada tangan mungil menyodorkannya pada saya sore itu, lelah pun luntur seketika. Terlebih saat gigi putih terlihat dengan sorot mata yang berbinar. 

Aihhhh, malaikat kecilku yang begitu baik. Hari Ibu, 12 tahun yang lalu menjadi salah satu hari-hari indah yang selalu ada dalam best moment keluarga kami.

Namun tak hanya tanggal 22 Desember yang menjadi hari kebahagiaanku. Ada satu hari pada bulan Mei. Saya masih mengingat saat lagi-lagi si bungsu memberikan selembar kertas. 

Namun kali ini kertasnya udah nggak sepolos dulu. Anak baru gede yang udah kelas VII ini memberikan kartu ucapan terima kasih karena telah menjadi ibu yang baik untuknya. Dulu saya pernah memajang kartu ini di feed Instagram. 

Kartu warna ungu yang lucu dan unyu, sebagai ungkapan rasa sayang si bungsu. Oleh guru bahasa Mandari di sekolahnya, yang meminta setiap siswa membuat sesuatu untuk ibu masing-masing.

Bagaimana Saya di Mata Anak-Anak?

www.hidayah-art.com

Katanya saya nggak pernah marah-marah, hahahaa. 

Iya lah, karena saya enggan marah hanya karena alasan sepele. Seperti rumah berantakan, gelas pecah karena ketendang bocah, atau nasi tercecer saat makan.

Aslinya sih saya juga enggan marah-marah karena takut tua lebih awal. Katanya perempuan itu lebih cepat menua dibanding laki-laki. Karena perempuan suka mengurusi masalah yang tak perlu diurus. Karena perempuan selalu mencari alasan agar bisa mengeluarkan kemarahannya.

Saya belajar menahan kesabaran saat menghadapi anak-anak sejak mereka lahir dari rahim ini. Saya berlatih menjadi Ibu yang bisa menerima kekurangan dan kelemahan anak-anak saya. Saya mengajarkan sikap meminta maaf dan memaafkan agar mereka belajar berdamai dengan keadaan sesulit apapun.

Karena saya hanya seorang perempuan yang ingin menjadi Ibu penyayang untuk anak-anak yang lahir dari rahim ini. 

Saya hanya ingin memberikan kenangan indah untuk anak-anak agar kelak hanya itu yang mereka kenang dari ibunya.

Ahhh, jadi melow nih nulis tema #ArisanBlogGandjelRel periode ke 17. Tema yang diminta oleh dua pemenang arisan , yaitu Noorma Fritriana dan Chela. 

Noorma Fitriana adalah ibu dua malaikat kecil yang lucu dengan tingkah polahnya. Pemilik Blog www.normafitrianamzain.com ini punya tag yang lucu. Yaitu Cah Kesesi Ayu Tea. Kesesi merupakan tempat tinggalnya. Kata Noorma, itu daerah terpencil di wilayah Pekalongan. Biasanya dilewati bila jalan utama ditutup.

Chela dengan blog www.gurukecil.com sesuai tubuhnya yang mungil, hihiii. Chela udah ngehits sebagai blogger dan juga pengajar di salah satu sekolah dasar di daerah Purwodadi. 

Meski kesulitan menulis tena Ibu dan Kenangan, alasannya juga karena pernah menulis hal serupa. Namun saya berusaha menuliskan apa yang ada dalam hati saya. Semoga isi tulisan ini memberi manfaat bagi pembaca. Wassalamualaikum.

12 comments:

  1. Iyah, memang ibu begitu mulia, Islam pun meningkatkan derajat para ibu dengan kemulian yang luar biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampai disebut tiga kali oleh Rasulullah ya mbak, betapa mulia derajat seorang ibu

      Delete
  2. Ibuku dulu juga penjahit. Seragam dari TK sampai SMA semua hasil tangan ibu..dan ibuku jg sering marah karena aku yg nakal.hahaha

    ReplyDelete
  3. Aku selalu salut dengan ibu2 yg telaten jahit. Sama kain aja beliau sabar apalagi sama anaknya ya *halah*.
    Btw anak2 bu wati mesti seneng ya gapernah dimarahin gt 😄😘😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tanya aja nanti kalo pas kebetulan ketemu, hihiii

      Delete
  4. huaaa..... bisa ya ngga marah2 gitu.
    pingin deh bisa gitu jg.
    terimakasih inspirasinya ya :)

    ReplyDelete
  5. Percaya banget klo mb Wati ibu penyabar...sdh tampak bgt di profilnya..hehe...

    ReplyDelete
  6. Bu Wati anaknya kok ganteng-ganteng *salah fokus :P

    ReplyDelete
  7. Mba wati mah sabar banget. Pasti anak2 juga jadi anak yang sholeh dan sayang ibunya

    ReplyDelete
  8. Mbak Wati memang sudah kelihatan sabar banget dan banyak senyum. Meskipun saya baru bertemu dua kali tapi tahu loh, hehe..

    Menyenangkan sekali ya mbak kalau ibu bisa jahit baju, pasti setiap ada momen bajunya baru dan limited edition alias nggak pasaran karena membuat sendiri :)

    Sayapun demikian mbak, setelah mendapat banyak kenangan manis bersama ibu, sekarang ingin juga membuat kenangan manis bersama anak saya. Apalagi orang tua tinggal bersama keluarga kami, jadi harus saling menorehkan kenangan yang tak terlupakan..

    ReplyDelete
  9. mbak Wati, aku harus belajar sabar padamu mbaak..

    ReplyDelete