Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

20 Sep 2015

Pilih Masak Atau Jajan Saat Di Makkah?


1383918637597383666
Gambar diambil dari sini


Halo assalamu'alaikum temans, semoga semuanya dalam keadaan sehat, aamiin.

Saat ini jemaah haji dari Indonesia sudah berkumpul di Makkah. Karena sudah mendekati saat ARMINA, biasanya mulai diberlakukan pula jam malam untuk mengantisipasi kerusuhan yang akan mengganggu pelaksanaan puncak ibadah haji. Tiap pukul 10 malam, petugas sudah patroli terutama di pinggir kota yang menghubungkan jalan menuju pusat kota Makkah.


Biasanya petugas TPHI akan selalu mengingatkan jemaah agar jangan pernah melepas gelang identitas yang dibagikan saat masih berada di asrama haji. Gelang itu merupakan identitas jemaah haji yang tertera nomor porsi jemaah, nomor kloter dan pemondokan selama di Makkah.

Nah, bicara pemondokan nih ya, beberapa hari lalu ada kabar tentang kebakaran yang diakibatkan karena kelalaian jemaah saat masak di pemondokan. Kejadian itu pun mengundang pro dan kontra. Bahkan dalam salah satu thread di fb salah seorang teman saya, ada kalimat yang kasar. Mengomentari jemaah haji Indonesia yang identik dengan kebodohan, udik, bahkan menyeret topik saat pilpres. Ada-ada aja nih. Terlihat banget semua dihubung-hubungkan dengan politik.

Sebenarnya sih kalo menurut saya, kebakaran di Makkah murni karena kelalaian dan ceroboh aja. Kabar yang beredar juga simpang siur. Ada yang bilang jemaah tersebut masak air di dalam magic com dan diletakkan di atas kasur. Ada juga yang bilang masak nasi. Entah mana yang benar, kita sama tidak tahunya.

Coba saya kupas dan mencocokkan dengan kondisi saya tahun lalu saat tinggal di Makkah. Kalo memasak air di dalam magic com, itu untuk apa? Karena persediaan air panas untuk mandi sudah disediakan oleh pihak hotel. FYI, kamar mandi hotel yang sekarang disewa oleh pemerintah itu komplit. Ada bathub, shower, closed duduk dan jongkok serta wastafel dengan cermin. Air panas selalu tersedia dengan fasilitas water heater. Nah, jadi gugur ya alasan masak air untuk mandi.

Sementara bila masak nasi, oke deh, bisa aja. Karena saya juga membawa bekal beras sesuai anjuran teman satu regu meski sebenarnya malas. Berat di koper aja.

Tapiiii.... pihak hotel juga menyediakan dapur yang lumayan besar untuk berbagi fasilitas masak untuk tiga regu. Satu regu yang terdiri dari 10 - 12 jemaah haji, biasanya yang masak ibu-ibu. Fasilitas di dapur juga komplit, ada kulkas gede bahkan lebih tinggi dari tubuh suami saya. Ada jug lemari dapur, bahkan kami menemukan cobek raksasa, saking besarnya di dalam lemari dapur. Kayaknya peninggalan jemaah tahun-tahun sebelumnya. Namun tak ada kompor di dapur. Tapi jemaah bisa belanja kompor listrik, magic com, wajan atau peralatan dapur lain di toko terdekat dengan hotel. Nah kan, tak ada alasan masak di kamar, apalagi di atas kasur. Duuuh, ini mah ceroboh aja jemaahnya.

Sebenarnya, pilihan masak atau jajan saat di Makkah bagi para jemaah haji bukan hal penting. Namun karena dalam thread yang mengomentari ulah jemaah hingga mengakibatkan kebakaran gedung hotel di lantai 8 itu yang bikin saya menuliskan pengalaman selama di Makkah.

Bagi yang tidak mengenal kondisi kota Makkah, pasti gampang aja berkomentar,"Bodoh banget sih, napa masak segala. Jauh-jauh berangkat haji kan harusnya untuk ibadah. Bukan membakar hotel."

Nah, ada tuh yang komentar seperti itu. Padahal bagi jemaah haji gelombang I, yang berangkat ke Madinnah terlebih dulu dan baru ke kota Makkah, jarang bisa menjumpai penjual makanan matang. Orang Madura yang biasanya menjadi penjual masakan itu, datang ketika kota Makkah sudah agak ramai dengan kedatangan jemaah haji gelombang II yang awal. Kalo saya dulu sih udah tinggal di Makkah selama 10 hari baru menemukan banyak orang Madura yang berjualan di teras depan hotel.

Nah, ketika awal tiba di Makkah, saya pun akhirnya setuju untuk ikut masak bareng satu regu. Kami iuran beli magic com dan kompor listrik, juga wajan anti lengket. Perorang dikenakan SR 30, sementara kami satu regu 12 orang, jadi terkumpul SR 360. Cukup untuk mendapatkan 1 kompor listrik, 1 magic com, dan 1 wajan. Sisa uang digunakan belanja telur, sayuran, tempe, juga bumbu dan cabe. Cukup deh sisa uang iuran buat masak selama 3 hari

SEjak di tanah air saya sudah enggan untuk masak. Tapi karena alasan belum banyak penjual masakan itu lah, yang bikin saya setuju ikut iuran. Dan, saya memang setuju ikut iuran masak hingga hari terakhir di kota ini, meski kadang enggak ikut bantu masak karena tengah berada di masjid atau ingin istirahat aja. Dan saya juga konsekwen beli masakan di luar bareng suami, duit bekal dari pemerintah masih ada cukup banyak kok. Anggap saja iuran itu adalah sedekah.

Biasanya saya juga belanja sendiri telur, tempe atau sayuran lain. Trus saya sumbangkan buat dimasak bareng. Nah, mengapa saya enggak masak bareng teman satu regu? Nanti saya tuliskan dalam artikel terpisah.

Kalo mau ngirit, ide masak sendiri ini bisa jadi pilihan. Saya hitung ya bila iuran perorang SR 75, bisa digunakan untuk belanja kebutuhan makan selama enam hari. Perhari rata-rata kami butuh SR 12 untuk belanja. Sementara kami tinggal di Makkah selama 25 hari. Jika 25 hari x SR 12 = SR 300. Jadi kebutuhan untuk makan kami sebesar SR 300.

Bandingkan bila saya dan suami yang acapkali tidak masak dan memilih makan di luar. Sepuluh hari setelah masak sendiri, kami dilanda bosan dan lelah. Apalagi di luar mulai ada penjual masakan yang udah matang. Penjual yang hampir semua berasal dari Madura, beberapa ada yang mengaku dari Garut dan Tasikmalaya, adalah pendatang ilegal. Mereka kebanyakan TKI yang selama bulan haji biasanya mencari uang dari berjualan masakan.

Makanan yang dijual cukup beragam. Mulai telur masak balado, kering kentang basah, ayam masak bumbu bali, tahu dan tempe. Wah, saya berasa masih tinggal di tanah air karena bisa makan tempe tiap hari. Do you also will feel the same way with me? Hahahaaa

Bahkan ada gorengan, siapa yang kagak suka gorengan? Entah lah pakar kesehatan bilang itu sarat kolesterol dan tidak sehat. Tapi, saya senang banget saat menjumpai bakwan sayur, mendoan dan pisang goreng. Meski rasa dan harga beda, tapiii... tak mengapa lah. Bakwan dan mendoan harganya SR 1, sementara pisang goreng SR 2. Oh ya ada soto dan rawon juga yang dijual dalam wadah styrofoam seharga SR 5. Nah kan, semua harga terjangkau dengan bekal dari pemerintah.

Kemarin di berita juga ada kabar bahwa jemaah sakit perut karena beli masakan basi di penjual pinggir jalan. Nah, memang harus teliti saat memilih makanan yang kita beli. Saya dan teman satu regu pernah juga membeli masakan yang basi. Tapi karena kami sudah tahu kalo itu basi, ya udah dibuang aja enggak jadi dimakan.

Gambar dari sini

Sesekali saya dan suami juga beli masakan yang di dalam hotel. Di hotel J 03 ada resto di dalamnya. Yang jual juga orang Madura. Masakannya beragam, meski mirip yang dijual di pinggiran itu. Namun di sini tentu saja lebih higienis karena tidak terkena debu jalanan. Ya, seperti di tanah air lah, kalo di pinggir jalan kita bisa menikmati makanan dengan harga murah dan kondisi ala kadarnya dalam hal kemasan atau kebersihannya. Sementara di resto tentu saja kebersihan saat masak dan menyajikannya dijamin sekali.

Harga masakan di resto dua kali lipat dengan yang ada di pinggir jalan. Untuk soto dan rawon satu porsi sebesar SR 10. Rendang daging sejumlah 5 potong ukuran kecil dihargai SR 10.

Kalo ingin wiskul dengan makanan yang beda, sepulang dari masjid usai shalat Shubuh, saya dan suami suka turun dari bus di wilayah Misfalah yang dekat dengan Bakhutmah. Di sana ada deretan pertokoan, yang salah satunya adalah resto masakan Indonesia. Di sini saya beberapa kali membeli makanan, yaitu bakso dan rawon. 

Kalo ingin menghemat uang saku, beli di pinggir jalan cukup belanja sebesar SR 10 untuk oseng sayur, lauk ikan 2 bungkus, bakwan 4 biji. Nasi sudah masak sendiri di dapur hotel. Makan segitu udah kenyang untuk saya dan suami. Atau bisa juga SR 10 untuk beli soto dua porsi tanpa menambah lauk karena irisan ayam di soto lumayan banyak. 

Nah, saya hitung selama di Makkah, rata-rata belanja sehari minimal SR 10 sampai SR 25. 

- Kalo selama 15 hari saya belanja masakan matang      SR 10  = SR 150 ---]
                                                                                                                         ]  Jumlah SR 400
- Sisanya selama 10 hari saya belanja masakan sebesar SR 25  = SR  250 ---]

Jadi tiap orang hanya butuh uang sejumlah SR 400 untuk belanja masakan yang siap saji. Udah kenyang dan tubuh juga nggak lelah karena masak *itu saya*

Makan pagi cukup ceplok telur atau beli bubur kacang ijo, sudah cukup mengenyangkan perut. Itu kalo suami lagi pengen makan nasi. Saya sih biasanya makan apel dan pisang.  Sementara siang, saya seringnya bawa bekal dari rumah untuk dinimati sebagai makan siang di Masjidil Haram bareng suami. 

Nah, kan ada gambaran mau pilih masak sendiri atau jajan aja saat tinggal di Makkah selama kurang lebih 25 hari. Biasanya hari tertentu, senin dan kamis, ada penduduk setempat yang bagi-bagi nasi biryani dan lauk ayam 1/2 ekor. Lumayan untuk makan berdua bareng suami. Atau ada juga yang bagi-bagi satu tas kresek isinya roti, biscuit, minuman jus dan satu buah apel atau pisang.

Sering-sering aja keluar hotel, jangan di kamar terus, pasti deh nemu orang yang sedekah. Pokoknya tiap kali ada mobil berhenti, langsung diserbu jemaah haji untuk dapatin halalan. Alhamdulillah, irit deh sesekali enggak keluar duit buat jajan :D

Widih panjang banget curhat saya kali ini, hihii...
Makasih udah bersedia baca, ceritanya dilanjut lusa yaa. wassalamu'alaikum temans.

24 comments :

  1. Kalo bapak ibuku dulu kayaknya lebih banyak jajan sih, kalo ngga salah inget sih kayaknya pernah cerita gitu hihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gelombang 2 kali ya, yg jual ush banyak. Aku akhirnya juga jajan terus :)

      Delete
  2. Waah terima kasih sharingnya mbak.Bermanfaat sekali.Belum pernah haji soalnya.Jadi tau apa-apa yang meati dibawa dan apa yg seharusnya dilakukan.Termasuk gak usah masak itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, semua kembali pada pilihan masing2 sih. Moga bisa segera dimampukan berangkat haji yaa.

      Delete
  3. Kebayang capeknya ya mba kalau kudu masak sendiri, padahal pengen khusyuk ibadah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya lah mbak, mending ke masjid aja ngumpulin amalan shalat jamaah ya

      Delete
  4. Wah, riskan, ya. Kalau saya pengen yang praktis aja. Selain hemat waktu dan ga ribet dengan bagasi, waktu ibadah juga jadi lebih khusyuk. Tapi tiap orang mungkin punya pertimbangan sendiri mungkin, ya. CMIIW. Semoga saya segera kesampaian pergi umrah dan haji. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, moga segera dimampukan berangkat haji ya :)

      Delete
  5. Wah ^^ aku ngumpulin uang dulu deh, hehehe... tapi makasih Mak postingannya, jadi tau situasi di sana dan apa yang perlu dipersiapkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngumpulinnya di tabungan haji kan mbak, nggak bisa diambil soalnya kalo belum ngumpul 25 jt. Moga segera bisa byr ONH. Aamiin

      Delete
  6. Kalau saya ada rejeki ke Makkah kayaknya bakal jajan, sekalian menjajal kuliner di Mekah. Aamiin semoga bisa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyeessss... kuliner di sana juga cocok dg lidah kita. Nyobain nasi biryani sama ayam bakarnya juga.

      Aamiin, moga segera terlaksana ya Evi.

      Delete
  7. Karena saya tidak begitu suka masak, pastinya milih jajan saja. Itung-itung wisata kuliner juga, hehehe. Semoga bisa menyusul kesana...

    ReplyDelete
  8. tengkiu mak, paling nggak skrg udh punya gambaran lah ya, moga bs segera bs mewujudkannya, amin, bantu doa ya mak, prok prok prok *malah jd pak tarno

    ReplyDelete
  9. Jd yg disediakan pemerintah indo jg ud cukup Dan layak ya mak?

    ReplyDelete
  10. Kalo saya kombinasi masak dan beli. Masak cuma sayur aja. Soalnya sayur yang dijual sama pedagang di depan hotel sedikit sekali. Sayurnya juga sayur bening yang praktis aja. Kalo lauk dan nasi selalu beli. Soalnya pilihan lauknya sangat beragam.
    ngomongin haji, jadi kangen pengen kesana lagi

    ReplyDelete
  11. sesuai kebutuhan saja mungkin ya mbak, dan si sesuaikan dengan keadaan. Jika memungkinkan masak atau beli biar praktis

    ReplyDelete
  12. kalau saya ya mbak, masak nasi sendiri lauknya beli biar lebih variasi... :)

    ReplyDelete
  13. kalau ada uang banyak pilihnya ya jajan :)

    ReplyDelete
  14. Bahagianya sudah menapakkan kaki di rumah Allah. do'akan ya, semoga selagi ada umur di badan, bunda masih juga bisa menunaikan kewajiban yang satu ini. Aamiin.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...