Lanjut tulisan sebelumnya, saya masih berada di kota Bogor. Hmm, udara kota yang mendapat julukan kota hujan ini terasa sejuk berhembus. Membuat semangatku bangkit. Saatnya menjelajah obyek wisata di kota ini.
Dari beberapa usulan rombongan keluarga, ada yang memilih Kebun Raya Bogor, Puncak atau wana wisata lain. Namun suami yang mendapat bujukan dari anak-anak tentang lokasi air terjun cantik di kota ini, memilih wisata Curug bidadari. Penasaran aja dengan penampakannya karena dinamakan bidadari. Apakah akan ada bidadari yang turun dari kahyangan mandi di curug ini, hahaha... nonsens pastinya.
Assalamu'alaikum. Sebagai kota yang terkenal dengan sebutan kota seribu pantai, Pacitan memang cocok dipilih sebagai destinasi liburan. Bisa dengan mengajak teman-teman karib, keluarga, atau tetangga. Kali ini saya sekeluarga sengaja memilih destinasi wisata Pantai Klayar. Katanya sih di Pantai Klayar ini kita tidak hanya bermain air, tapi bisa juga mendengarkan suara seruling di tepi Samudra Indonesia. Apa sih sebenarnya suara seruling itu? Dari mana asalnya? Yuk ikuti perjalanan keluarga kami.
Tulisan saya yang sebelum ini kan jalan-jalan di Pantai Teleng Ria, bisa deh dibaca di blogpost ini : Jalan-Jalan Seru di Pacitan
Meski cuma setengah jam aja di sana. Namun kami malah bisa menikmati kuliner lokal yang yummy. Kebetulan suami memilih jalan keluar yang ada deretan warung. Jual apa yaaa, batin saya penasaran.
Huwaaaa.....jajanan seafood yang bikin ngeces nih.
Kamis, tanggal 15 Mei 2014, dengan kaki kiri yang
masih dibalut perban mirip mummi, saya paksakan diri untuk takziah ke rumah
keluarga ibu Nur Endah. Bersama suami dan si sulung, saya berangkat dari rumah
jam 07.38 Wib.
Rumah besar berlantai dua itu tampak ramai oleh
pelayat. Air mata ini menetes tanpa sadar. Terlebih saat si sulung almarhumah
berjalan menyongsong kedatangan kami sekeluarga.
"Ibu kan masih sakit, kok datang
kesini..." suara Bintang tersendat.
Minggu ini saya lagi terpuruk banget :"(
Minggu tanggal 11 Mei kemarin abis ngedeprok di depan halaman Masjid Agung Demak. Gara-gara jatuh bertahun lalu nggak diurus dengan bener, jadinya ya gini. Kambuh dan langsung parah. Engkelnya melesak jadi kagak bisa berdiri tegak.
Udah diurut di daerah Gedawang, yaitu di kliniknya Ibu Siti. Kalo pengobatan tradisional gini emang butuh kesabaran dan ketelatenan. Beda dengan pengobatan medis. Terus terang saya memilih yang tradisional aja. Alasannya sih takut dibedah di meja pak dokter.
Nah, hari rabu sore, saat tengah duduk di depan teve sambil selonjoran, si bungsu pulang dari sekolah. Ia masuk sambil mengucap kalimat Innalillahi wa innailaihi rojiun. Kalimatnya yang terakhir membuat kedua tangan ini menangkup di depan dada.
Apa kabar semuaaa...
Adakah yang pernah berkunjung ke Solo? Ahh pasti pernah ya meski hanya sesekali. Saya sering banget menyambangi kota ini. Tak terhitung malah. Karena saya punya teman dan kerabat yang tinggal di kota Solo dan sekitarnya. Jadi sering mampir ke kota ini.
Tapiiii... saya belum pernah punya kesempatan shalat di Masjid Agung Keraton. Eh, bener gak sih namanya? Abis banyak yang nyebut begono siiih :)
Subscribe
For New Post Notifications