My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Kamis, 16 Januari 2025

Treking Curug Lawe, Tertipu Review di Channel YouTube
Januari 16, 20250 Comments
Assalamualaikum. Judulnya kok gitu amat sih? Ya emang saya tertipu review jalur yang ada di video salah satu channel YouTube. Yang ditayangkan hanya secuil, saya kira jalurnya ya cuma nanjak dan turun tipis tipis. Ternyata kenyataan tidak seindah di reel Instagram atau video di YouTube. Treking di Curug Lawe itu puanjaaang dan laamaaaaa.


Bagi orang yang usianya masih muda, treking ke curug Lawe mungkin biasa aja. Meski tak dipungkiri kemarin ada juga dan banyak anak usia belasan atau awal 20an yang keteteran jalannya seperti kami. Gaya-gayaan, berhenti dan ambil foto, cekrek, hahahaaa. Alasannya ambil foto, selfie, aslinya sih tarik napas panjang agar engap berkurang.

Kata suami,"Andai tahu jalannya sejauh ini, aku nggak bakal kesini,"

Hahahaa, saya ngakak denger ucapan suami sepulang dari Curug Lawe. Meski tak dipungkiri kami berdua sangat menikmati perjalanan berangkat dan pulang dari Curug Lawe. Tapi memang jalannya jauh banget. Kalo baca review di google, rata-rata orang bilang jalurnya sekitar 2 km. Nonton di beberapa video channel YouTube pun juga testimoninya sama.

Namun mengapa alat pengukur langkah yang saya pakai, menunjukkan 3,4 km jarak dari gapura bertuliskan CLBK menuju Curug?

Oiya, CLBK bukan kependekan dari Cinta Lama Bersemi Kembali yaa. Tapi Curug Lawe Benowo Kalisidi. 

Gapura CLBK
Jalur treking di belakang kami

Ya udah lah ya, terlanjur basah jadinya kami tetap lanjut jalan dong. Yuk baca cerita saya bersama suami menyusuri treking menuju Curug Lawe.

Tiket Masuk

Harga tiket untuk per orang 11.000, saya dan suami dikenakan 22k. Untuk parkir kendaraan roda dua 3.000, roda empat 5.000, dan roda enam 10.000.

Lahan parkir cuku luas untuk menampung beberapa mobil dan kendaraan roda dua. Pagi itu pengunjung yang datang ramai terlihat dari tempat parkir yang penuh.

Menyusuri Jalur Panjang Curug Lawe

Curug Lawe berada di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat. Lebih tepatnya RT.01/RW.06, Hutan, Kalisidi, Kec. Ungaran Bar., Kabupaten Semarang, Jawa Tengah 50519.

Setelah bertemu Kantor Kecamatan Gunung Pati, kalian maju aja sedikit dan belok ke kiri jika dari arah Ungaran. Setelah itu ikuti petunjuknya. Kalo suami kemarin pakai GPS di HP atau GPS dalam arti lain, yaitu Gunakan Penduduk Sekitar. Hahahaa.
  
Akses jalan sebagian mulus, walaupun di beberapa titik ada jalan yang tidak rata, alias rusak  tapi enggak parah. 

Sisi kanan dan kiri jalan adalah rumah penduduk, dengan tanaman hias yang terlihat subur dengan warna cantik. Tanaman keras dan buah ada juga yang ditanam di pekarangan rumah. Ada warung makan, sembako, bahkan mendekati tempat wisata terdapat beberapa usaha ternak ayam. 

Memasuki desa Kalisidi jalanan lumayan menanjak dengan pemandangan yang cantik. Jalan yang berkelok mengikuti jalan kampung, kadang lewat pertigaan juga. Namun tenang saja petunjuk jalannya ada di setiap percabangan.

Mendekati lokasi wisata, vegetasi berganti dengan perkebunan, kebanyakan tanaman cengkeh. Namun ada juga tanaman kopi, jati, berbagai jenis tanaman lainnya. 

Setelah melintas perkebunan yang cantik, penunjuk mengarah pada gerbang bertuliskan Curug Lawe Benowo Kalisidi. Alhamdulillah akhirnya sampai juga di lokasi curug. Eh tapi ini baru sampai lokasi tiket ya, curugnya masih harus jalan lumayan jauh. Suami langsung parkir motor (iya kami sengaja memilih naik motor berdua) dan menuju tempat penjualan tiket.

Kecantikan Pemandangan Sepanjang Jalur Curug Lawe

Setelah tiket di tangan, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pintu masuk rimba Curug. Dari loket tiket, jalan berupa cor beton di dua sisi dengan dipisahkan tanah berumput di bagian tengah.

Setelah melewati jalan cor kurang lebih 300 meter, pengunjung diarahkan belok kiri dan bertemu gapura bertuliskan CLBK. Sebelum menuruni anak tangga dengan pegangan di sisi kiri, saya dan suami foto dulu. Ada sesama pengunjung yang membantu kami mengambil gambar. Ceritanya saya menawarkan satu keluarga yang akan foto welfie. 

"Mari saya bantu ambil gambarnya, Pak,"

Ihhh modus ya, ahahahaa. Ya gak apa sih, kan saling membantu teman seperjalanan. Mereka senang bisa dapat hasil foto keluarga yang bagus, saya pun juga. 

Kelihatan kan pegangan
tangga di belakang kami berdiri?

Setelah puas foto-foto, saya dan suami mulai berjalan turun lewat anak tangga. Lumayan sih agak berjarak dengan kemiringan yang tajam. Untuk kamu yang memiliki masalah persendian, nampaknya bakal butuh effort deh.

Treking awal
sesudah gapura CLBK

Setelah anak tangga terakhir, perjalanan masih aman. Kanan dan kiri jalur itu jurang dan selokan yang merupakan jalur irigasi. Airnya jernih sampai terlihat ikan kecil yang berenang.

Pastikan selalu hati-hati kalau melangkah menyusuri jalan setapak ini. Karena sisi kanan adalah selokan yang kedalamannya lumayan meski airnya cukup dangkal. Sisi kiri langsung jurang yang dalam tanpa ada pengaman atau pembatas sedikitpun. 

Sebelum treking ini, saya sempat nonton video perjalanan ke Curug Lawe di YouTube. Jadi sejak awal saya udah mempersiapkan nyali berjalan di jalur yang cukup bikin jantung dag-dig-dug. Pokoknya sepanjang jalan isinya dzikir deh, Masya Allah. 

Meski jalur di awal perjalanan cukup menguji nyali, saya dan suami tetap menikmati sepanjang jalan. Rindangnya pepohonan di kiri jalan, udara yang bersih dan segar, suara alam yang menenangkan hati, mampu menenggelamkan rasa ngeri melihat area jurang.

Apalagi saat berjalan nggak sampai 400 meter udah ketemu jembatan yang viral di sosial media. Iya jembatan cinta namanya. Jembatan yang terbuat dari kayu dan besi itu mampu membangkitkan semangat saya. Aslinya agak ngeri sih karena di bawah jembatan itu jurang yang nggak terlihat kedalamannya. Pagar pengaman juga cuma satu sisi. 

Jembatan cinta dicat warna merah dan terdapat tempat selfie di bagian tengah. Di mana pun bagian jembatan merupakan titik favorit pengunjung untuk ngambil foto. Saya pun tak mau ketinggalan ikut foto selfie sendiri. Biasa lah, suami susah diajakin foto bareng.

Sisi kanan saya
itu langsung jurang

Selepas jembatan kami bertemu dengan sungai dan ada jembatan kecil yang hanya cukup untuk satu orang. Bila ada orang yang ingin menyeberang dari sisi berlawanan, harus bergantian. Karena jembatan ini tanpa pagar pembatas.

Berpikir mau turun, begitu ngeliat
jalur menanjak di belakang
Tapi bohong, karena saya masih
 semangat naik


Treking di jalur ini memang dibutuhkan nyali, pantang menyerah, dan kehati-hatian. Banyak jalur yang membutuhkan kewaspadaan, nggak boleh lengah pokoknya.

Setelah menyeberang, kami langsung berhadapan dengan jalur menanjak yang terdiri dari ban bekas. Saya dan suami masih semangat. Nggak sia-sia deh setiap hari kami rutin jalan kaki minimal 3,5 km, bahkan di akhir pekan bisa mencapai 5 km. Jadi hingga separoh perjalanan belum merasa engap dan lelah.

Wajah saya masih antusias

Terlebih sepanjang perjalanan itu pemandangan begitu indah. Sepanjang jalur kita akan disuguhi pohon yang rindang dan anak sungai dengan air yang jernih. 

Aslinya pengen main air
Tapi tanjakan di belakang begitu
menggoda untuk dijelajahi, hehee

Jadi kalo lelah, kamu bisa rehat dan bermain air atau foto-foto. Kalo kamu suka ngonten, pasti akan sering berhenti untuk ngambil foto atau video. Kami sih sering lupa ngambil foto saking terpesona dengan hutannya yang keren banget.

Jalur menuju lokasi curug itu memiliki berkali kali tanjakan dan turunan. Saya sampai nggak mau berekspektasi kapan sampe Curug. Dijalanin aja, ntar kalo emang udah saatnya juga bakal tiba di lokasi.

Bersyukur pengelola CLBK ini sangat peduli dengan kebutuhan pengunjung soal makanan dan minuman. Di beberapa titik pendakian terdapat warung yang menyediakan beragam jajanan dan minuman. Saya dan suami datang saat hari Minggu, jadi warung yang jualan ada 4. Kalo hari biasa apakah jualan atau libur, saya kurang tahu. 

Pengelola juga menyiapkan toilet, tempat untuk rehat di beberapa titik, musholla, dan tempat sampah. Salut loh pada pihak pengelola CLBK karena sepanjang jalur itu cukup bersih dari sampah. Saya hanya menjumpai sampah satu dua plastik kemasan entah jajanan apa di jalur. Artinya pengelola cukup rajin menginspeksi sampah di sepanjang jalur.

Setelah berjalan selama 40 menit, kami bertemu sebuah percabangan. Ada papan petunjuk yang menjelaskan dua pilihan. Bila ingin ke Curug Lawe ambilah ke arah kanan, namun kalo ingin ke Curug Benowo ambilah ke arah kiri. 

Ya, Curug Lawe dan Benowo merupakan dua buah curug yang berbeda, namun lokasinya berdekatan. Dari papan petunjuk tersebut, Curug Lawe memiliki jarak yang sedikit lebih jauh dari persimpangan tadi. Tapi, entah mengapa sepertinya Curug Lawe lah yang lebih sering dikunjungi. Dan itu terlihat dari banyaknya pengunjung yang ngambil arah kanan seperti kami.

Dari persimpangan jarak yang harus ditempuh menuju Curug Lawe masih 800 meter lagi. Ayuk semangat!

Tanjakan terakhir yang paling terjal menghadang langkah kami. Hmmm, ingin berhenti sebenarnya. Namun beberapa pengunjung yang kami jumpai saling menyemangati. 

Sisi kiri sungai dan jurang
Saya jalannya mepet kanan

"Semangat, Ibuk.. bentar lagi sampai di curug. Ini tanjakan terakhir,"

Ucapan semangat yang sering saya dapatkan dari sesama pengunjung ini mampu menyuntikkan energi dari hati turun ke kaki. Terlebih saat suara deburan air yang tajam tertangkap Indra pendengaran. Kaki auto bergegas menapak di jalur yang basah karena gerimis yang cukup deras. 

Iya, setelah anak tangga terakhir, kami menjumpai satu jembatan di atas sungai kecil yang deras. Mendadak gerimis luruh ke bumi. Tadinya kami santai aja tetap berjalan. Eh makin deras juga airnya, hingga kami harus memakai jas hujan. Beruntung saat itu ada batu atau tebing tinggi yang bisa jadi tempat berteduh sambil memakai jas hujan.

Kemudian kami berjalan lagi hingga akhirnya tiba di Curug Lawe. Ketinggian curug yang gagah dengan curahan air deras dan kencang memang sangat mempesona. Sayangnya saat itu gerimis masih setia menemani, jadi kami foto dengan memakai jas hujan, hahaha.

Ada yg bantu motret

Saya dan suami nggak berlama-lama di curug. Di samping hujannya makin deras, kami memilih istirahat makan siang di warung yang aman dari hujan. Maaf ya saat di warung kami nggak foto-foto. Karena kami sungkan dengan pengunjung lainnya yang tengah menikmati suasana jajan di hutan.

Tips Treking ke Curug Lawe

Kalo kamu ingin jalan-jalan ke Curug Lawe, perhatikan beberapa hal berikut ini yaa.

  • Pakai pakaian yang nyaman dan menyerap keringat. 
  • Gunakan sepatu untuk treking, jangan pakai sandal jepit.
  • Bawa bekal secukupnya, jangan  lupa air minum yang cukup
  • Bawa obat-obatan yang sekiranya dibutuhkan bila ada keadaan darurat
  • Kondisi tubuh harus fit karena treking ke curug ini nggak main-main. Fisik kalian harus kuat sehingga nggak akan merepotkan orang di jalur trek.
  • Perhatikan jalur, hati-hati selalu karena di titik awal ada beberapa ruas trek yang pinggirnya itu jurang.
Misal kalian kurang tidur, jangan langsung treking. Mending istirahat sebentar atau minum kopi, makan permen agar mata waspada.

Kalian yang usianya seperti saya (56 tahun), tetap bisa treking sepanjang udah mempersiapkan diri dengan rutin jalan atau joging. Jadi jangan galau, yang penting siapkan fisik sehat dan bugar.

Sekian ya cerita saya dan suami yang sukses treking menyusuri jalur trek Curug Lawe yang katanya pendek. Ternyata kami kena prank. Jalurnya Masya Allah panjang banget. Alhamdulillah kami aman aja berjalan berangkat dan pulangnya. Next trip kemana lagi enaknya? Kasih saran di kolom komentar ya, wassalamu'alaikum.
Reading Time:

Jumat, 13 Desember 2024

Bagaimana Infrastruktur EV Charging Mendukung Transisi ke Kendaraan Listrik?
Desember 13, 20240 Comments
Assalamualaikum Sahabat. Transisi menuju kendaraan listrik (EV) adalah langkah penting dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Namun, keberhasilan transisi ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan EV, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur pengisian daya (EV charging). Infrastruktur yang memadai memberikan kepercayaan kepada pengguna untuk beralih ke EV, sekaligus mempercepat adopsinya secara luas.  

Pentingnya Infrastruktur EV Charging  

Salah satu kekhawatiran utama pengguna adalah kehabisan daya baterai di tengah perjalanan, terutama di daerah yang minim stasiun pengisian. Dengan infrastruktur pengisian yang tersebar luas dan mudah diakses, pengguna dapat merasa lebih tenang saat berkendara.  


Infrastruktur yang baik memungkinkan pengisian daya di berbagai lokasi strategis, seperti rumah, tempat kerja, pusat perbelanjaan, hingga jalan tol. Hal ini mempermudah pengguna untuk mengisi daya sesuai kebutuhan tanpa harus mengubah rutinitas mereka.  

Infrastruktur EV charging mendorong perkembangan industri terkait, seperti manufaktur charger, perangkat lunak pengelolaan daya, dan layanan pemeliharaan. Selain itu, peningkatan jumlah EV dapat menciptakan peluang baru bagi pelaku bisnis, seperti penyedia layanan pengisian daya.  

Elemen Utama Infrastruktur EV Charging  

Stasiun Pengisian Umum: Stasiun pengisian umum adalah tulang punggung infrastruktur EV. Lokasi-lokasi strategis seperti rest area, kota besar, dan pusat transportasi menjadi prioritas pembangunan untuk memudahkan pengguna.

EV Charging


Pengisian Daya di Rumah: Kebanyakan pengguna EV mengandalkan pengisian daya di rumah untuk kebutuhan harian. Pemerintah dan perusahaan listrik perlu memberikan insentif untuk pemasangan home charger, termasuk penyesuaian tarif listrik.  

Pengisian Cepat (DC Fast Charging): DC Fast Charging memungkinkan pengisian hingga 80% dalam waktu 20–40 menit, ideal untuk pengguna yang melakukan perjalanan jauh. Kehadiran fasilitas ini di rest area atau jalan tol meningkatkan kepercayaan pengguna EV.  

Aplikasi dan Teknologi Pendukung: Teknologi seperti aplikasi pencarian stasiun pengisian, pembayaran digital, dan pengelolaan energi cerdas memudahkan pengguna mengakses layanan EV charging.  

Aplikasi Pencarian Stasiun Pengisian Daya
Gambar diambil dari website Invi Indonesia
dan diedit dg Aplikasi Paint


Peran Pemerintah dalam Pengembangan Infrastruktur  

Kebijakan dan Regulasi: Pemerintah perlu menetapkan kebijakan yang mendukung pengembangan infrastruktur EV, seperti memberikan subsidi pemasangan stasiun pengisian, insentif pajak, atau kemudahan izin pembangunan.  

Kemitraan dengan Sektor Swasta: Kolaborasi antara pemerintah dan swasta, seperti perusahaan energi, pengembang properti, dan produsen EV, dapat mempercepat pembangunan infrastruktur.  

Standar Nasional: Penetapan standar untuk konektor, tarif, dan keamanan pengisian daya sangat penting agar pengguna dapat dengan mudah menggunakan fasilitas di seluruh wilayah.  

Tantangan dan Solusi  

Keterbatasan Infrastruktur di Daerah Terpencil. Solusi: Pemerintah dan perusahaan swasta dapat bekerja sama untuk membangun stasiun pengisian di daerah terpencil menggunakan energi terbarukan, seperti tenaga surya atau angin.  

Biaya Investasi yang Tinggi. Solusi: Memberikan insentif fiskal atau subsidi untuk perusahaan yang ingin membangun infrastruktur EV.

Kurangnya Edukasi Pengguna. Solusi: Kampanye publik untuk meningkatkan kesadaran tentang manfaat dan cara menggunakan fasilitas EV charging.  

Infrastruktur EV charging adalah kunci utama dalam mendukung transisi ke kendaraan listrik. Dengan jaringan pengisian yang luas, efisien, dan mudah diakses, masyarakat akan semakin percaya untuk beralih ke EV. Pembangunan infrastruktur ini membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat demi menciptakan transportasi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Invi Indonesia adalah electric vehicle company yang berfokus pada pengembangan solusi mobilitas masa depan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan menghadirkan produk berkualitas tinggi dan teknologi mutakhir, Invi Indonesia mendukung transisi menuju transportasi bebas emisi yang efisien dan modern. Sebagai bagian dari upaya mewujudkan ekosistem hijau, Invi terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan mobilitas generasi saat ini dan mendatang.

Semoga informasi di atas bermanfaat bagi sahabat semua, wassalamualaikum.
Reading Time:

Senin, 02 Desember 2024

Wisata Religi Dengan Sewa Mobil Semarang
Desember 02, 2024 11 Comments
Assalamualaikum Sahabat. Semarang kini menjadi tujuan wisata religi bagi masyarakat muslim dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagai orang Semarang saya cukup kaget saat beberapa bulan yang lalu mendapat telepon dari salah seorang sepupu yang tinggal di Depok. Dia menanyakan tempat wisata religi yang juga memiliki sejarah peradaban Islam di Semarang.

Saya jadi teringat beberapa tahun lalu pernah menemani teman yang berkunjung dan wiata religi di dua masjid besar di Semarang. Kedua masjid ini sudah saya tuliskan untuk rekomendasi sahabat bila ingin wisata religi di Semarang. Dalam kesempatan ini saya juga tambahkan 3 masjid lagi yang bisa sahabat pilih. 

1. Masjid Agung Jawa Tengah

Saya tuliskan Masjid Agung Jawa Tengah atau MAJT di urutan pertama sebagai destinasi wisata religi bernuansa Islam di Kota Semarang. Alasannya karena masjid ini lokasinya paling dekat dengan rumah saya. Masjid yang paling akhir dibangun dari beberapa daftar dalam artikel ini, menyimpan nilai artistik. 

Masjid Agung Jawa Tengah


Kalo sahabat pernah berkunjung ke masjid ini, pasti akan setuju dengan penilaian awam saya. Arsitektur dari fasad depan udah terlihat memadukan unsur arsitektur gaya Jawa dan Arab.  Terdapat kubah besar di bagian tengah tempat beribadah dan kubah kecil berjumlah empat di sekelilingnya. MAJT memiliki ciri khas dengan enam buah payung hidrolik raksasa yang berada di teras masjid. Model payung ini mengadopsi seperti yang terdapat di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Halaman parkir yang luas sering terisi oleh bus pariwisata yang membawa jemaah masjid, ataupun rombongan pelajar, karyawan yang ingin melaksanakan shalat di masjid. 

Interior masjid sangat lah cantik dengan hiasan ukiran dan kaligrafi rumit nan indah. Seperti umumnya masjid besar, banyak pengajian dan kajian yang mendatangkan ulama dan ustadz dari berbagai wilayah. Fasilitas di masjid ini saangat lengkap, selain toko-toko yang menyediakan kebutuhan pengunjung, terdapat juga wisma tamu, dan gedung serbaguna.

Yang tak kalah menarik, ada Menara Asmaul Husna yang terletak di sebelah kiri setelah parkiran depan. Menara ini memiliki tinggi 99 meter dan pengunjung bisa naik ke atas dengan fasilitas lift. Bagian puncak menara adalah tempat pengunjung bisa menatap pemandangan Kota Semarang dengan berbagai sudut menarik. Bila cuaca bagus kalian bisa melihat kapal kapal yang sedang bersandar di Pelabuhan Tanjung Mas. Bagian dalam menara terdapat museum yang berisi dokumentasi Islam, naskah kuni, dan Al Quran raksasa. Pengunjung hanya dikenakan tiekt masuk ke menara ini sebesar 7.500 rupiah.

2. Masjid Jami Pekojan

Semarang adalah kota yang menjadi tempat persinggahan pedagang dari berbagai belahan dunia termasuk dari Tiongkok dan Gujarat. Sebagai salah satu tempat peninggalan sejarah agama Islam di Jawa Tengah, di Semarang terdapat beberapa masjid yang berdiri di dekat pesisir pantai Utara. Salah satunya adalah masjid bersejarah yang terletak di kawasan pecinan. Masjid bersejarah ini adalah Masjid Jami Pekojan.

Meski berada di kawasan pecinan, masjid ini berdiri kokoh di tengah permukimam warga keturunan Koja dan Gujarat. Koja dan Gujarat merupakan sebutan bagi pedagang Islam dari kawasan India dan Pakistan. Sangat menarik ya akulturasi budaya di Kota Semarang.

Yang tak kalah menarik adalah sajian bubur India setiap bulan Ramadan di masjid Jami Pekojan. Berawal dari kedatangan pedagang dari negeri India, Arab, dan Gujarat. Masjid ini dibangun pada tahun 1309 Hijriah atau 1878 Masehi oleh Haji Muhammad Azhari Akwan. Kedatangan para pedagang ini juga untuk mensyiarkaan agama Islam. Dan mereka membawa tradisi membuat bubur untuk dibagikan pada masyarakat selama bulan Ramadan. Sejak itu masyarakat setempat menyebut takjil tersebut sebagai Bubur India karena yang masak adalah orang India. 

Wisata Religi Semarang

Masjid Jami Pekojan terletak di Jalan Petolongan nomor satu, Kampung Pekojan, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah. Akses menuju masjid ini sekitar setengah jam dari Bandara Ahmad Yani atau 15 menit dari Stasiun Besar Tawang ke arah Jalan MT Haryono, yang terkenal dengan Jalan Mataram.

3. Masjid Baiturrahman

Selain MAJT, ada satu lagi masjid di Kota Semarang yang layak menjadi destinasi wisata religi. Masjid Raya Baiturraahman yang terletak di kawasan Simpang Lima Semarang. Lokasinya yang berada di pusat keramaian memudahkan pengunjung yang datang dari luar wilayah Kota Semarang. Masjid yang menjadi salah satu ikon Kota Semarang kian memukau setelah direnovasi pada Agustus 2021 hingga Agustus 2022.

Masjid Baiturrahman

Pembangunan Masjid Baiturrahman diinisiasi oleh Yayasan Masjid Candi yang telah berdiri sejak tahun 1955 dengan pendirinya HM Bachroen, RMT Panji Mangunnegoro dan Ahmad Bastari. Beliau sangat berharap agar Masjid Baiturrahman dapat menjadi
landmark baru tujuan wisata di pusat Kota Semarang. Pada sisi depan, Masjid Baiturrahman ditambah dengan penambahan kolam reflektif dan air mancur, pohon, rumput hingga lampu pagar. 

Masjid ini juga terdapat toko yang menyediakan keperluan pengunjung, juga bank Muamalat, biro tour, haji dan umroh, serta fasilitas gedung serbaguna. 

4. Masjid Kauman 

Masjid Kauman Semarang atau yang juga dikenal sebagai Masjid Agung Semarang menjadi salah satu masjid yang menjadi daya tarik wisata religi bagi wisatawan yang berkunjung ke Semarang. Masjid yang berada di samping Aloon - Aloon Barat Kota Semarang ini merupakan masjid tertua di Kota Semarang yang didirikan pada 13 November 1890.

Secara detail, Masjid Kauman berdiri dengan kokoh dan megah dengan perpaduan cat eksterior berwarna hijau. Di sisi samping masjid terdapat menara yang menjulang tinggi. Menurut arsip Masjid Kauman Kota Semarang, bangunan masjid ini berdiri sudah sejak ratusan tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 13 November 1890. Masjid ini tak pernah sepi dari jemaah baik warga lokal maupun para pendatang dari berbagai daerah yang tengah melakukan aktivitas di Kota Semarang. 

Sewa Mobil Semarang untuk wisata religi

Setiap menjelang bulan Ramadan terdapat tradisi pawai Warak Ngendog yang menjadi penanda datangnya bulan puasa. Di Aloon Aloon terdapat beragam kuliner khas setempat yang selalu ramai oleh pengunjung. Saya suka beli nasi kebuli tiap ke kawasan ini.

5. Masjid Menara

Sebagai salah satu masjid peninggalan pedagang yang singgah di Indonesia, Masjid Menara atau Masjid Layur ini cukup kental dengan nuansa unik. Tempat shalat yang dipisahkan antara jemaah laki-laki dan perempuan mengadopsi seperti umumnya masjid yang ada di tanah Arab. Bangunan yang tergolong bersejarah di Kota Semarang ini dibangun sekitar tahun 1802 oleh para pedagang dari Yaman. Masjid ini terletak di tepi sungai yang dulu konon katanya menjadi tempat berlayar kapal-kapal pedagang. 


Masjid ini terletak di Kota Semarang, tepatnya berada di Jalan Layur, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara. Seperti Masjid Jami Pekojan, Masjid Menara ini juga punya tradisi unik setiap bulan Ramadan. Ketika saatnya berbuka puasa, takmir masjid akan menyediakan kopi Arab dan jajanan khas. Unik sekali yaa.

Saya yang sempat melaksanakan shalat fardhu siang hari itu tak merasakan udara panas Kota Semarang. Karena bangunan masjid yang indah dengan masih melestarikan interior jaman dulu, kisi-kisi yang memungkinkan udara dapat mengalir bebas ke seluruh ruang bagian dalam masjid.

Sebenarnya masih ada lagi beberapa masjid yang sering dijadikan kunjungan oleh wisatawan religi ketika di Semarang, seperti Masjid Qubro, Masjid Mbah Depok, dan ziarah Makam Kyai Sholeh Darat. Namun karena saya belum pernah mengunjungi tempat tersebut, saya belum bisa menuliskannya di blog ini.

Nah untuk mengunjungi beberapa wisata religi ini sahabat bisa memilih alternatif transportasi yang termudah. Namun tetap harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

1. Bebas Mengatur Waktu Kunjungan

Bagi kalian yang ingin mengunjungi tempat wisata, lebih praktis menggunakan mobil sewa karena tidak tergantung pada transportasi umum. Perjalanan lebih fleksibel dan efisien dengan memudahkan kalian mengunjungi beberapa tempat dalam satu waktu.

2. Kenyamanan

Mobil sewaan biasanya lebih nyaman dibandingkan dengan transportasi umum. Sahabat bisa memilih mobil sesuai dengan kebutuhan, bisa mobil ukuran kecil maupun mobil mewah atau ukuran besar untuk rombongan. Jadi perjalanan akan terasa nyaman dan tidak melelahkan bagi kalian.

3. Biaya Lebih Efektif

Bagi rombongan atau keluarga yang bepergian bersama, menyewa mobil bisa lebih hemat dibandingkan dengan menggunakan taksi atau layanan transportasi online secara terpisah. Sahabat bisa memilih penyedia jasa sewa mobil Semarang yang menawarkan paket sewa harian, mingguan, hingga bulanan dengan harga kompetitif.

4. Keamanan dan Privasi

Pilih penyedia layanan sewa mobil yang menjanjikan sopir berpengalaman dan menguasai medan jalanan. Dengan begitu sahabat akan merasa nyaman dan terjaga privasinya dibanding naik transportasi umum. 

5. Layanan Tambahan

Banyak jasa sewa mobil di Semarang yang menawarkan layanan tambahan seperti sopir profesional, antar jemput bandara, atau layanan wisata yang lengkap dengan Penawaran layanan ini sangat membantu wisatawan yang tidak familiar dengan Kota Semarang dan sekitarnya. 

6. Berbagai Pilihan Mobil

Jasa sewa mobil Semarang menyediakan berbagai pilihan mobil sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Mulai dari city car yang ekonomis, SUV yang tangguh untuk melintas jalan tanjakan, hingga mobil mewah untuk keperluan khusus seperti pernikahan. 

Saran saya kalo kalian pergi dalam jangka waktu lama karena dinas misalnya sampai satu atau dua bulan, bisa sewa mobil bulanan Semarang. Karena untuk nominalanya pasti lebih murah dibandingkan yang harian. Untuk yang ingin wisata sekeluarga, bisa loh sewa mobil innova reborn Semarang. Di samping mobilnya udah terlihat elegan, ruang duduknya pun lega jadi nggak berdesakan. 

7. Proses Pemesanan yang Mudah

Pemesanan sewa mobil saat ini lebih mudah dengan adanya kemajuan teknologi. Sahabat bisa dengan mudah melakukan pemesanan online yang praktis melalui aplikasi maupun website. 

Saya rekomendasikan tempat sewa mobil Semarang yang praktis untuk kalian gunakan sebagai alat transportasi saat wisata religi di Semarang. Sebenarnya ini juga rekomendasi dari suami saya yang pernah menyewa mobil DG Rent Car untuk klien dari Surabaya saat ingin wisata di Kota Semarang. Kebetulan klien suami ini tinggal di hotel dekat rumah kami. Jadi suami waktu itu menyarankan rental mobil Semarang Timur.

Sewa mobil murah Semarang yang terbaik  yaitu di Danakirti Group Rental Mobil Semarang. DANAKIRTI GROUP adalah perusahaan sewa mobil Semarang yang berdiri sejak tahun 2015 yang secara konsisten memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen. 

DANAKIRTI GROUP memiliki pengalaman selama 9 tahun melayani konsumen dengan servis yang terbaik. Menurut suamiku, Danakirti memiliki harga sewa mobil yang kompetitif. Oia, perusahaan layanan sewa mobil ini memiliki salah satu keunggulan menyediakan berbagai layanan paket kendaraan. Jadi sahabat bisa duduk manis menikmati perjalanan yang menyenangkan dan aman. 

Sewa Mobil Semarang


Pilih saja armada yang sesuai dengan kebutuhan dan budget kalian. Danakirti ini udah menyediakan paket sewa lengkap all in, seperti biaya driver, bahan bakar, biaya tol, parkir, bahkan air mineral pun ada. Driver juga udah pengalaman dan profesional, tidak ugal-ugalan karena mereka udah melalui proses seleksi dan memiliki lisensi lengkap. 

Danakirti Group terlokasi di Jl. Gisiksari (Samping Cluster Riverside) RT 04 RW 04 Kelurahan Sadeng, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Layanan sewa mobil DG Rent Car tidak hanya melayani seputar Semarang, namun juga ke seluruh Indonesia, terutama Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur dan berbagai kota besar lain.

Silakan bagi sahabat yang ingin menggunakan fasilitas sewa mobil Semarang bisa menghubungi Danakirti Group di WA 0812 7057 0517. Atau bisa juga sahabat cek di website dgrentalmobil.com. Selamat menikmati kunjungan kalian di kota kami, wassalamualaikum. 
Reading Time:

Senin, 04 November 2024

Buku Dalam Dekapan Zaman, Beragam Cara Menjaga Bumi
November 04, 2024 20 Comments
Assalamualaikum Sahabat. Isu tentang perubahan iklim udah lama banget menjadi perhatian banyak kalangan. Sebagai warga bumi, saya merasakan perubahan iklim seperti suhu udara yang panas mulai tahun 2023 lalu. Terutama mengingat banyak tanaman hias saya yang tidak kuat menahan teriknya matahari. Perlu diketahui rumah saya menghadap barat. Namun tahun 2023 itu suhu sedemikian panasnya hingga merenggut sejumlah tanaman hias di teras rumah.


Kesukaan saya pada tanaman tidak padam karena kondisi tersebut. Saya mencari penyebabnya, mungkin karena tanaman merambat dan penahan panas di depan kurang bisa melindungi tanaman hias yang ada di teras. Akhirnya saya pun memasang paranet, jaring yang biasanya memiliki prosentase pelindung matahari untuk tanaman. Sekarang teras rumah sudah lumayan teduh karena ada penghalang sinar matahari langsung. 

Mengapa saya begitu ingin mengoleksi tanaman meski teras rumah sempit? Tentu saja karena saya terlahir dari seorang bapak yang suka berkebun. Dari bapak lah saya mengenal cara menanam berbagai jenis tanaman. Saya lambat laun menyukai kegiatan berkebun meski di teras yang sempit. 

Saya menyukai aroma embun yang terlihat di permukaan daun di tanaman yang ada di pot-pot di teras rumah. Meski sedikit, namun tanaman-tanaman itu mampu  mengundang kupu-kupu, burung liar, bahkan walang. Tidak saya sangka tanaman di kebun sempit itu menjadi oase saya saat pikiran suntuk karena pekerjaan. Mata saya kembali segar dan jernih usai menatap tanaman hijau di teras rumah.

Buku Dalam Dekapan Zaman

Saat pertama kali saya mendapat kabar terpilih menjadi pembaca untuk edisi pertama buku Dalam Dekapan Zaman, saya bahagia sampai ingin berteriak kegirangan. Dan begitu buku tersebut tiba di depan mata, saya berkali-kali mengucap syukur. 

Saya memang baru mengenal Ibu Amanda Katili melalui sosial media. Dari beberapa artikel yang seringkali menyertakan nama beliau di berbagai event tentang krisis iklim, pangan sebagai sumber bencana maupun penyelamat bumi, dan masih banyak lagi yang lain. Itu lah sebabnya saya sungguh bangga akhirnya bisa ikut membaca buku Dalam Dekapan Zaman, Memoar Pegiat Harmoni Bumi.

Pertama kali memegang buku setebal lebih dari 400 halaman ini sempat membuat saya gamang. Apakah saya mampu menyelesaikan isi buku tak lebih dari 10 hari? Karena saya harus menuliskan review tentang buku ini. Namun saya yakin perjalanan membaca buku Dalam Dekapan Zaman akan menjadi salah satu momen terindah dalam hidup saya sebagai pecinta buku.


Buku ini menggambarkan lebih dari sekadar perjalanan di bidang lingkungan hidup, perubahan iklim dan keberlanjutan bagi sosok Ibu Amanda Katili Niode. Semua yang telah dikerjakan oleh beliau sebagai pegiat bumi selaras dengan pendidikannya. Ibu Amanda lulusan Sarjana Biologi dengan konsentrasi Ilmu Lingkungan ITB, gelar Doktor dari School of Environment and Sustainability, University of Michigan Ann Arbor dan MSc dari American University, Washington DC dalam Ecology & Environmental Management.

Perjalanan panjang karirnya menunjukkan kecintaan Ibu Amanda pada Bumi. Beliau adalah pemerhati lingkungan yang merelasikan keseimbangan bisnis yang ramah lingkungan. Kehadirannya sebagai coach bagi 20 ribuan perempuan pemilik UMKM di Indonesia tentu menjadi hal yang menarik. 

Buku ini dilengkapi dengan 17 testimoni dari generasi muda, pengusaha, para pakar, dan tokoh masyarakat, termasuk Emil Salim, Rachmat Gobel, Suzy Hutomo, Daniel Murdiyarso, Gita Wirjawan, Erros Djarot, dan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.

Dalam Dekapan Zaman, Memoar Pegiat Harmoni Bumi mengisahkan sejumlah hasil pemikiran dan tindakan Ibu Amanda Katili Niode menanggapi krisis di Bumi. Buku ini juga menggambarkan dirinya sebagai pegiat lingkungan yang ingin terus berbagi pengalaman transformasi pribadinya dalam pengembangan diri, kepemimpinan, dan komunikasi. 

Dengan gaya narasi yang kuat, Ibu Amanda memadukan kisah-kisah inspiratif dan wawasan mendalam, serta kiat-kiat pemecahan masalah yang menunjukkan bahwa tantangan di tingkat lokal, nasional, hingga global dapat menjadi pemicu perubahan diri yang signifikan. 

Tak terbayangkan betapa luar biasanya pengalaman yang akhirnya dituliskan dalam setiap memoar oleh Ibu Amanda. Nyaris sepanjang usianya, dari Amanda kecil hingga dewasa yang sering diajak sang ayah bertemu tokoh dunia. Bahkan perjalanan profesinya yang mengharuskan beliau menghadiri pertemuan internasional terkait lingkungan hidup, perubahan iklim dan berkelanjutan, entah itu diundang ataupun atas biaya instansi tempatnya bekerja.

Kalo boleh saya sebutkan, buku ini bukan sekadar memoar. Namun kisah seorang Ibu Amanda, Pegiat Harmoni Bumi yang sangat memahami setiap tindakan yang beliau lakukan dan dituturkannya dalam sebuah buku. 

Saya tersentuh membaca salah satu testimoni dari Budayawan Erros Djarot :

So, Amanda, teruskan langkahmu dan terus lah melangkah...hingga sang Maha Pencipta memintamu berhenti; karena hanya Dia-lah yang bisa dan berhak menghentikanmu!

Peran Ayah Yang Membentuk Kecintaan Pada Bumi

Begitu membuka buku sejak halaman pertama saya sudah terpacu menikmati rangkaian kalimat dengan narasi yang dalam. Tentunya semua karena pengalaman dan perjalanan karirnya, serta kesempatan Ibu Amanda bertemu dengan banyak orang hebat yang peduli dengan Bumi. Setelah selesai membaca buku ini, saya melihat Ibu Amanda ibarat Bumi, planet yang dinamis dan hidup.

Bumi yang menyediakan sumber daya alam yang dibutuhkan untuk keberlangsungan makhluk hidup, terutama adanya tanah, air, udara, dan energi. Semua ini bila dimanfaatkan secukupnya dan tidak berlebihan tak akan muncul masalah di Bumi seperti saat ini. 

Ketertarikan Ibu Amanda pada Bumi tentu hal wajar mengingat peran orang tuanya yang sejak kecil sudah mmendekatkannya dengan alam. Ibu Amanda bahkan mengingat kesigapan sang kakek dari pihak ibu, Abdul Uno yang profesinya sebagai inspektur kehutanan di zaman Belanda. Tugas sang kakek adalah menghutankan dan menjaga lingkungan di kawasan Indonesia Timur. Dan ketika tinggal di Gorontalo, bila melihat setitik api di hutan, kakeknya tidak segan langsung mendatangi lokasi api dengan mobilnya. Bersama stafnya, kakek akan berusaha memadamkan api. 

Kesetiaan kakeknya pada bidang pekerjaan di luar jam kerja, menjadi landasan cara berpikir Ibu Amanda. Sebuah tanggung jawab profesi yang seribu persen dilakukan demi menjaga Bumi.

Sejak kecil peran orang tua terutama sang ayah telah membentuk pribadi Ibu Amanda menyukai Bumi. Ayahnya selalu mengajak anak-anaknya terlibat dalam diskusi tentang alam. Ketika dia masih berusia 11 tahun, ayahnya bertanya :

"Non, apa kata yang bagus untuk  menggambarkaan awan?
"Mega!" Amanda kecil menjawab sambil terus bermain boneka.

Ayahnya mengutip Firman Allah dalam Al-Qur'an surat An Naml ayat 98:"Dan kamu memandang gunung-gunung itu, kamu sangka dia tidak bergerak, padahal ia berlalu laksana beraraknya mega..." (halaman 5)

Menarik banget keikutsertaan ibu Amanda saat mendampingi ayahnya dalam kongres atau pertemuan ilmiah di dalam maupun luar negeri. Meski beliau tidak mahir berbahasa Inggris, namun oleh sang ayah, Ibu Amanda diminta untuk mendengar, menulis, mencatat, dan berbicara dengan para ilmuwan asing. Menurut ayahnya, dia bisa belajar bahasa asing meski paham atau tidak, nanti akan jadi terbiasa.

Perjalanan keluar negeri yang kadang tidak cocok dengan jadwal belajar di kampus, ternyata menimbulkan masalah dengan dosennya. Ibu Amanda dianggap keluar negeri untuk bersenang-senang sementara teman-temannya kuliah. 

Terlepas dari ketidaksukaan sang dosen, saya melihat keterlibatan Ibu Amanda sejak muda dengan kegiatan ayahnya, menjadi pupuk yang subur hingga berkembangnya wawasan berharga pada diri beliau. Ini yang membangun karir beliau hingga bisa melakukan semua kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan hidup dan perubahan iklim secara global.

Setiap ucapan, juga tindakan ayahnya nampaknya sangat berperan besar bagi Ibu Amanda mengambil keputusan dalam hidupnya. Seperti saat beliau memilih kuliah di Bandung dan tinggal jauh dari keluarga. Alasannya karena ingin mengikuti jejak sang ayah kuliah di ITB.

Menggugah Kekuatan Cerita Pribadi, Mengumpulkan Memoar Sukarelawan

Sebagai pegiat harmoni Bumi, Ibu Amanda yang senang membaca karya penulis dari berbagai negara, sangat detil menuturkan pengalaman dan hasil pemikiran dalam buku ini. 

Salah satu penulis favorit beliau adalah Kim Stanley Robinson yang berasal dari Amerika. Tentu saja tema buku non fiksi seputar perubahan iklim, pola cuaca, dan ekosistem. 

Dengan banyaknya karya penulis yang sudah dibaca, membuat Ibu Amanda ingin mengumpulkan memoar dari sukarelawan The Climate Reality Project. Organisasi nirlaba ini didirikan oleh mantan wakil presiden Amerika Serikat dan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Al Gore. Organisasi ini memiliki misi katalisasi solusi global terhadap krisis iklim penyebab berbagai bencana, serta menjadikan tindakan mendesak sebagai kebutuhan di setiap lapisan masyarakat.

Climate Reality Indonesia sebagai bagian dari The Climate Reality Project merupakan perkumpulan independen dengan sukarelawan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka mendapat pelatihan dari Al Gore serta sejumlah ilmuwan, komunikator, serta aktivis.

Naskah yang terkumpul oleh Climate Reality Indonesia terdiri dalam beberapa bahasa dan merupakan pengalaman pribadi penulisnya. Tulisannya merupakan aha moment yang dialami baik terkait ilmu pengetahuan, dampak, solusi, maupun aksi perubahan iklim. Kisah inspiratif yang dilakukan oleh pejuang peduli lingkungan dan perubahan iklim. 

Jadi memoar yang mereka tuliskan merupakan cerita pribadi dan bukan berdasar cerita orang lain. Memoar biasanya berisi refleksi yang penuh wawasan, narasi yang emosional dan eksplorasi mendalam tentang pertumbuhan seseorang. Atau bisa juga berupa pemahaman yang dirasakan saat mengalami satu peristiwa.

Pengampu situs web Perfect Memoirs, Deborah Willbrink menjelaskan ada 4 manfaat kesehatan yang akan diperoleh secara holistik saat seseorang menuliskan kisah hidupnya. Yaitu 
  • Pertama, dengan menceritakan momen penting dalam kehidupannya, seseorang akan menyadari identitas dirinya
  • Kedua, melestarikan kisah hidup akan meninggalkan warisan bermakna yang mengangkat keterhubungan antar generasi
  • Ketiga, menulis memoar dapat memberdayakan seseorang karena mengingat masa-masa kekuatan dan keberhasilan, dapat membangun jalan untuk diikuti lebih banyak pencapaian
  • Terakhir adalah kenangan tentang kehidupan adalah alat untuk memahami kehidupan seseorang dan memaknainya
Dari kisah yang terkumpul ada cerita seorang pejuang Bumi tentang para nelayan yang kesulitan mencari ikan di laut. Kebayang nggak sih, berlayar di tengah laut demi mencari ikan yang berkurang karena efek perubahan iklim. Dulunya saat kakek buyutnya berlayar, cukup menyerok ikan menggunakan kaos bekas disulap jadi jaring. Dan kakeknya ini menyerok ikan juga hanya berjarak 10 meter dari bibir pantai. 

Seorang pejuang Bumi, Lia Zakiyyah menuliskan kisah berjudul "Perjalanan Pribadi untuk Menerima Diri Sendiri". Seseorang yang mengeruk sumber daya untuk mencapai tahta atau harta, menekan masyarakat marjinal, membabat satwa langka, bisa jadi karena dia belajar mematikan rasa karena tidak suka menghadapi emosi dirinya.

Saya jadi teringat ketika suami mendapatkan kesempatan bekerja untuk penyediaan pasir besi. Dia mengajak saya berdiskusi tentang prospek penghasilan yang akan didapatkan. Saya sejak awal menentang karena pekerjaan itu sama saja merusak Bumi. Akhirnya dia tidak menerima pekerjaan tersebut setelah perenungan yang cukup panjang. Apalagi setiap hari saya ingatkan suami agar tidak mengeruk sumber daya alam semaunya pemilik modal. 

Meski tidak bisa menjadi pejuang bumi, setidaknya kami tidak ikut merusak bumi hanya demi harta untuk memperkaya diri. 

Sementara itu kembali pada pengumpulan karya para pejuang Bumi, ternyata tidak sesuai ekspektasi karena harapannya bisa terkumpul 100 karya tulisan. Jadi Ibu Amanda harus merasa puas dengan 93 karya yang masuk ke Climate Reality Indonesia. Buku dengan judul "Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi, Memoirs by Climate Reality Leaders" diluncurkan saat ada perhelatan akbar tentang perubahan iklim di kota Sharm El-Sheikh, Mesir. (halaman 44)

Ibu Amanda Katili mengungkapkan ketakjubannya karena dalam buku tersebut ada naskah putra-putrinya. Kebetulan mereka juga aktif beraktivitas di bidang lingkungan hidup dan perubahan iklim. Terzian Ayuba Niode menulis "Makna Sukarelawan Bagi Seorang Bankir". Sedangkan artikel Karida Humaira Niode berjudul "Aktivis Iklim dan Pelaku UMKM".

Menurut Ibu Amanda, menulis memoar ternyata bisa menjadi pengikat keluarga. Tulisan Karida Humaira saya sertakan di bawah ini.


Saya sangat menikmati tulisan Karida Humaira yang merasa bukan sebagai aktivitas lingkungan. Namun pada masa pandemi dirinya sempat menanam berbagai jenis bibit sayuran. Ahh jadi kebayang saya pun melakukan hal sama, menanam sayuran pokcoi, kangkung, cabe dan tomat.

Namun bedanya, Karida juga berbagi paket bibit sayuran dari yang ditanam kepada tetangga sekitar rumah yang berpenghasilan rendah dan yang membutuhkan.

Peran Kita Sebagai Warga Bumi

Perempuan meliputi setengah populasi dunia termasuk di Indonesia. Dengan makin banyaknya keikutsertaan perempuan dalam pengambilan keputusan dan perencanaan secara tingkat tinggi, akan membuka pintu bagi tindakan iklim yang makin efektif. Keterlibatan perempuan juga akan mendorong jenis investasi domestik yang diperlukan untuk memerangi krisis iklim. 

Saya percaya perempuan juga sebagai penentu keputusan belanja keluarga. Apabila aktivitas harian belanja keluarga diikuti dengan gaya hidup berkelanjutan alangkah indahnya Bumi. Pilihan gaya hidup memengaruhi dunia yang ada di sekitar kita. Dengan menjadi bagian warga yang setia menjaga Planet Bumi, mengubah kebiasaan kecil dan membuat pilihan yang tidak berbahaya bagi lingkungan. 

Langkahnya mudah namun apakah mau atau tidak untuk melakukannya. Misalnya, membangun rumah hemat energi dengan banyak ventilasi. Kita bisa memilih jalan kaki atau bersepeda, atau menggunakan transportasi umum untuk belanja atau ke tempat kerja. Bisa juga dengan mengurangi limbah pangan, menyiapkan makanan secukupnya, berkebun sayur dan mendaur ulang sampah organik dapur. 

Banyak yang bisa kita lakukan sebagai perempuan dan warga Bumi. Saya sudah lebih dari 10 tahun menjalani beberapa hal demi menjaga Bumi. Dan salah satu yang dimaksud oleh Ibu Amanda tentang donasi pakaian. Rumus saya adalah kalo membeli 1 baju, ada 3 baju yang harus dihibahkan. Dan saya bersyukur  mengenal orang yang bersedia menerima baju yang masih bisa dipakai dengan pantas. 

Dulu saat pandemi saya sempat mengolah sampah dapur menjadi kompos. Namun kemudian terhenti karena lahan yang terbatas. Sekarang ini saya mulai lagi membuat kompos cair yang tidak membutuhkan ruang luas. Jadi saya masukkan kupasan kulit sayur dan buah ke dalam toples atau botol. Dengan campuran bahan lainnya, saya diamkan selama 30 hari untuk kemudian saya aplikasikan untuk memupuk tanaman secara organik. 

Saya senang bisa ikut sedikit menyumbang pengurangan sampah organik. Kebayang nggak sih kalo sampah makanan sisa atau organik ini ketika kita buang ke tempat pengumpulan sampah di luar sana? Jika sampah makanan membusuk, akan melepaskan emisi gas rumah kaca yang tidak bisa diabaikan begitu saja karena jumlahnya mencapai puluhan ton. Saya ngeri setelah banyak membaca artikel tentang sampah yang tidak dikelola dan hanya dibuang di TPA. 

Sebenarnya saya masih ingin bercerita tentang beberapa inspirasi yang saya temukan dari isi buku ini. Namun rasanya tidak asik juga ya, alangkah lebih baik bila kalian baca juga bukunya. 


Sahabat bisa mendapatkan Buku Dalam Dekapan Zaman dengan menghubungi langsung penerbit Diomedia di nomor 0856-4376-2005 dengan harga : Rp.  145.000,00 (belum termasuk Ongkir). Sementara bermanfaat, wassalamu'alaikum.
Reading Time:

Sabtu, 02 November 2024

Plepah Mengubah Limbah Jadi Berkah
November 02, 2024 16 Comments
Assalamualaikum Sahabat. Aktivitas harian yang padat telah mengubah masyarakat Indonesia menyukai hal yang instan. Keluarga muda banyak yang mengubah kebiasaan menyajikan hidangan dari dapur rumah dengan memilih membeli makanan dari luar. Perilaku ini rupanya tidak hanya terjadi di kota besar, saya melihat beberapa kota kecil di Indonesia pun memiliki kecenderungan serupa.

Perubahan perilaku ini menjadi penyumbang sampah kemasan terbesar di Indonesia. Setiap hari masyarakat berkontribusi  hingga 20 juta kemasan makanan bekas yang butuh waktu ratusan tahun untuk terurai. 

Kalo merujuk data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di 18 kota Indonesia, pada tahun 2018 ditemukan sebanyak 0,27 ton hingga 0,59 juta ton sampah masuk ke laut. Dan kalian tentunya sudah membaca kabarnya saat itu di portal berita bahwa sampah tersebut didominasi stirofoam. Yang paling menyedihkan adalah sampah stirofoam membutuhkan waktu sekitar 500 tahun sampai 1 juta tahun untuk dapat terurai oleh tanah.

Masalah sampah ini mengusik hati seorang anak muda, yaitu Rengkuh Banyu Mahandaru, Sarjana Desain Produk di Institut Teknologi Bandung. Dia terinspirasi ide mengolah produk hasil hutan non kayu menjadi wadah makanan. 

Dokumentasi : Eva Martha Rahayu

Idenya muncul saat dia berkesempatan keliling ke beberapa negara sebagai product designer tempatnya bekerja. Salah satu negara tersebut adalah India, yang memiliki kearifan lokal menggunakan dedaunan sebagai pembungkus makanan. 

Cerita Awal Mula Plepah Hadir 

Kearifan lokal warga India yang masih menggunakan daun-daunan sebagai perlengkapan makanan menarik perhatian Rengkuh. Dia melihat warga di sana masih menggunakan daun untuk membungkus atau sebagai wadah makanan. Hal ini pernah dilakukan masyarakat Indonesia dulu. Sekarang sayangnya sudah sangat sulit dijumpai warga yang menggunakan daun sebagai pembungkus makanan.

Rengkuh yang merasa gelisah dengan kondisi tersebut, ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat secara luas. Dia akhirnya mendirikan Plepah bersama dua temannya, startup yang melakukan proyek riset dengan membuat bahan-bahan turunan dari agrikultur untuk kemasan makanan alternatif. 

Seperti diketahui Indonesia memiliki potensi kekayaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang sangat besar untuk dikembangkan.  HHBK adalah hasil hutan hayati nabati ataupun hewani beserta produk turunannya, kecuali kayu yang berasal dari hutan. Nah, salah satu HHBk adalah tanaman Pinang.

Pinang memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi. Selain buah dan biji, limbah daun pelepah pinang juga memiliki nilai ekonomis. Artinya memiliki nilai manfaat bagi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Dalam proses membangun Plepah, Rengkuh rela meninggalkan pekerjaannya sebagai product designer salah satu studio desain. Rengkuh ingin keluar dari zona nyaman dan merasa bisa berkontribusi dengan keahliannya. Tahun 2018 Plepah mengajak kerjasama dengan multi pihak yaitu NGO yang fokus untu konservasi hutan.

Pada tahun yang sama pula, tengah marak kebakaran hutan. Rengkuh berinisiatif menjalin komunikasi intensif dengan para petani karet dan sawit. Dia memberikan edukasi agar mereka tidak iseng mengekstraksi hutan dengan membakar atau pun menebang pohon sembarangan. 

Sejak awal fokus Plepah di Sumatera khususnya Desa Teluk Kulbi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi dan Desa Mendis, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Plepah mengembangkan dan memproduksi produk kemasan ramah lingkungan seperti piring, mangkok dan kontainer makanan.

Dokumentasi Plepah


Rengkuh menciptakan waktu yang lebih produktif dengan konsep berbasis komunitas serta memberdayakan desa dan masyarakat di Sumatera Selatan dan Jambi. Masyarakat diajak mengolah limbah agrikultur komoditas pohon pinang sebagai pendapatan ekonomi alternatif. Yaitu menggunakan limbah pelepah pinang untuk diubah menjadi produk akhir eco friendly food packaging dan foodware.

Untuk pengoperasian limbah tersebut Plepah menggunakan skema micro manufacturing. Skema tersebut dipilih agar teknologinya bisa diadaptasi oleh masyarakat di pedesaan, terutama di area-area terpencil. Hal ini dilakukan mengingat tempat pengolahan awal berada di tengah-tengah perkebunan karet dan kelapa sawit.

Proses produksi juga dengan menggunakan sumber listrik dari solar panel, turbin air, atau daya yang lebih hemat. Mesin produksi juga didesain yang praktis dengan maksud memudahkan distribusi dan tidak memerlukan banyak ruang.

Tantangan Yang Harus Dihadapi Plepah

Bagi Plepah hal yang sulit saat mengembangkan produk ramah lingkungan tidak hanya pada riset. Meski memang tidak dipungkiri riset ini menjadi masalah utama yaitu pendanaannya yang sulit. Terlebih dahulu juga Plepah belum banyak dikenal, beda dengan sekarang yang mulai dimudahkan dengan akses pendanaan. Namun masih tetap bukan hal mudah juga.

Selanjutnya, tantangan mengenai edukasi terhadap stakeholder petani. Komoditas yang dianggap oleh petani berupa sawit, karet, pisang, atau apapun itu yang memang sudah menghasilkan nilai ekonomi. Sementara apa yang ditawarkan Plepah adalah sesuatu yang baru, ekosistem ekonominya belum terbangun. Pelaku-pelaku yang seharusnya hadir di setiap bagian belum ada. Waktu itu memang masih belum banyak mendapat tanggapan atau respon yang baik. 

“Itu juga jadi tantangan tersendiri untuk kami bisa membangun rantai pasok. Jauh sebelum rantai pasok terbangun, kami juga kesulitan meyakinkan bahwa ini punya value ekonomi, di sisi lain juga menjadi sebuah solusi terhadap masalah kemasan tidak ramah lingkungan yang begitu mengganggunya di kota besar,” katanya.

Potensi Pinang di Daerah Papua Dan NTT

Riset ini juga memetakan potensi pinang di Papua dan NTT. Pelepah pinang hampir tidak memiliki nilai dan dianggap sebagai limbah pertanian karena itu pada umumnya dibuang atau dibakar, terutama selama musim hujan karena dapat menjadi sarang nyamuk.

Dokumentasi dari mongabay.co.id

Pendiri Plepah, Rengkuh Banyu melihat potensi yang sangat besar untuk mengalihfungsikan limbah pohon pinang ini secara berkelanjutan.

Rengkuh bersama dua kawannya Almira Zulfikar dan Fadhan Makarim, yang juga lulusan Institute Teknologi Bandung, mengembangkan dan memproduksi mesin tepat guna untuk mengoptimalkan produksi piring dan kontainer makanan dari pelepah Pinang.

Rengkuh menyebutkan bahwa rata-rata petani memiliki lahan 2-3 hektar kebun Pinang. Dari luas kebun itu bisa menghasilkan 5-10 kilogram pelepah yang jatuh dari pohonnya perhari. Kemudian pelepah ini dikumpulkan dan disetorkan ke pabrik. Teknik pemrosesan dibikin menjadi wadah makanan berupa alat cetak pemanas. 

dokumentasi bisnis.tempo.co


“Pertama disterilkan lalu dipres atau dicetak dengan mesin khusus. Tak ada tambahan bahan lain. 1 lembar pelepah biasanya bisa dicetak menjadi 3-4 piring dengan tutupnya. Kalau dijadikan kontainer makanan seperti piring Hokben bisa 2-3 buah,” 

Produksi awal mereka sebesar 500 buah per bulan sambil terus melakukan riset dan pengembangan produksi. Kini memasuki 2024 omset Plepah sudah miliaran rupiah dengan kapasitas produksi mencapai 20.000-30.000 buah per bulan.

Plepah saat ini sedang membenahi alur pengumpulan bahan limbah dari masyarakat sekitar perkebunan. Hal ini dilakukan untuk menghindari praktek monopoli harga yang bisa merugikan tidak hanya Plepah tetapi juga petani.

Pemasaran Produk Ramah Lingkungan Plepah

Plepah mampu membuat produk ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah pelepah Pinang. Mereka juga berhasil mengajak masyarakat sekitar perkebunan pinang untuk mengumpulkan pelepah dan menjadi tambahan penghasilan bagi mereka. Langkah berikutnya tentu saja pemasaran produk ramah lingkungan yang diharapkan mendapat pasar yang luas.

Sebagai informasi, kemasan atau wadah makanan ramah lingkungan terbuat dari pelepah Pinang ini dijual seharga Rp 2.000-4.000 per buah berupa piring, mangkok dan kontainer makanan, semuanya dengan tutupnya.

Pemrosean pencetakan pelepah Pinang menjadi wadah makanan setelah proses sterilisasi dengan sinar UV, di pabrik Plepah, Tanjung Jabung Barat, Jambi dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. 

Pemasaran yang sudah dilakukan terbagi lokal dan ekspor. Di Indonesia sudah terbentuk kalangan yang mengutamakan produk ramah lingkungan, seperti di hotel dan restoran di beberapa kota besar. 

Untuk pemasaran keluar negeri, sudah dilakukan pengiriman satu kontainer yang memuat 240 ribu buah produk Plepah ke negara Jepang. Proses negosiasi dengan Jepang lebih mudah karena syarat white label dan terbiasa menerima produk anyaman dan rotan. Mereka secara terbuka bisa dengan mudah menerima aneka wadah dari pelepah Pinang.

Pada April 2023 Plepah mewakili Indonesia dalam pameran teknologi industri tingkat dunia Hannover Messe 2023 di Jerman. Plepah hadir sebagai perwakilan startup yang mempresentasikan inovasi maupun potensi investasi di sektor ramah lingkungan.

Rengkuh menuturkan antusiasme masyarakat di sana sangat tinggi pada produk sustainability. Dari pameran tersebut Plepah banyak mendapatkan permintaan dan ajakan bermitra bersama distributor dari Jerman dan beberapa negara di Eropa. Bahkan potensi kerjasama pun hadir dari Kanada dan beberapa negara Amerika Selatan.

Kerjasama dalam berbagai bentuk, seperti investasi serta kerjasama usaha. Yaitu permintaan produk untuk diekspor ke berbagai negara seperti Kanada, Jerman, Swedia, dan Belanda. Jumlah permintaan rata-rata satu kontainer sekitar 200.000 produk.

Ekspor ditargetkan terwujud tahun ini. Rengkuh berharap dari harga produk di pasar internasional yang sudah bisa kompetitif, bisa mensubsidi produk yang dipasarkan di dalam negeri.

Produk Plepah Berfokus Pengolahan Limbah

Awal tahun 2024, Plepah mulai fokus mengembangkan pelet yang terbuat dari limbah tanaman lainnya. Seperti tanaman tebu, bonggol jagung, dan lainnya yang diolah sebagai bahan bakar alternatif di PLTU. Hal ini diniatkan untuk mengurangi ketergantungan bahan bakar batubara. Jadi dengan produk dari Plepah nantinya PLTU diharapkan sedekit demi sedikit mengurangi ketergantungan terhadap batubara. 

Plepah juga bekerja sama dengan Pusat Penelitian Biomaterial LIPI di Cibinong, Jawa Barat. Kerja sama ini bertujuan mengembangkan bahan-bahan alami produk perkebunan sebagai alternatif kemasan sekalai pakai. Bahan-bahan yaang diteliti seperti batang pohon pisang, sorgum, tongkol jagung, serat kelapa, dan bambu. 

Sebuah perjalanan panjang dari tiga anak muda yang memiliki kepedulian pada lingkungan. Dan Rengkuh Banyu Mahandaru telah terpilih sebagai salah seorang Penerima Apresiasi Satu Indonesia Awards dari DKI Jakarta. Perjuangannya mengangkat limbah pelepah Pinang menjadi produk yang bermanfaat secara ekonomis dan lingkungan. 

Apresiasi Satu Indonesia Awards merupakan program pemberian apresiasi oleh PT. Astra International Tbk untuk generasi muda Indonesia yang berprestasi dan mempunyai kontribusi positif untuk masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Ada lima bidang yang bisa diajukan sebagai penerima award, di antaranya Kesehatan, pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi. Semoga kalian yang membaca artikel ini memiliki kesempatan menjadi penerima award berikutnya. Wassalamualaikum.


Sumber Materi :
~ https://www.astra.co.id/satu-indonesia-awards
~ https://swa.co.id/read/406666/cerita-rengkuh-bangun-startup-plepah-berawal-dari-keresahan
~ https://www.greeners.co/ide-inovasi/plepah/
~ https://teknologi.bisnis.com/read/20231106/266/1711430/asa-dari-seikat-pelepah-untuk-masa-depan-bebas-sampah

Reading Time: