My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: OJK
Tampilkan postingan dengan label OJK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OJK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Oktober 2021

Literasi Produk Jasa Keuangan di FIN Expo - BIK 2021
Oktober 29, 2021 37 Comments

Assalamualaikum Sobat. Saya yakin kalian yang membaca artikel ini punya rekening di bank. Nggak masalah saldonya kecil, yang penting udah ada rekeningnya kan? Paling tidak sobat udah tahu manfaat punya rekening tabungan di bank.


Karena tidak semua orang memiliki rekening di bank. Saya sendiri cukup kaget saat tahu teman alumni perempuan ada yang enggak punya rekening di bank. Waktu itu ada rencana reunian dan saya sebagai bendahara mendapat colekan dari beberapa teman. Dia bilang ingin datang ke rumah untuk nitip uang donasi untuk reuni. Alasannya dia tidak punya rekening di bank jadi nggak bisa transfer uang donasi.

 

Saya jadi ingat dengan pedagang di pasar yang justru punya rekening, mereka nabung tiap hari di bank pasar. Bank yang beroperasi di pasar-pasar tradisional ini memang sengaja menyasar pedagang dan pembeli yang setiap hari melakukan transaksi di pasar. Bank pasar ini menurut pedagang yang memiliki rekening, sangat membantu mereka. Mereka jadi punya tabungan untuk kebutuhan darurat dari uang yang disisihkan tiap hari. 


Pedagang itu kalo pegang duit, inginnya membelanjakannya kembali untuk barang dagangan. Kalo barang dagangan pengisi lapak penuh, mereka bahagia. Itu kata mereka ketika saya nanya-nanya entah berapa tahun yang lalu saat berbelanja di lapak langganan.


Udah punya tabungan di bank pasar, tapi ketika kematian datang, mereka bingung. Duit yang tersisa hanya untuk bertahan hidup paling lama dua tahun. Setelah itu bagaimana dengan biaya hidup yang harus berjalan? Masa iya minta pada anak? Belum tentu juga mereka memiliki kemampuan finansial untuk membantu orang tua. Jangan sampai menjadi generasi sandwich. Yaitu menjadi orang tua yang membebani anaknya untuk kebutuhan hidup hari tua.


Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2021


Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan informasi bahwa bulan Oktober ini merupakan Bulan Inklusi Keuangan. Rupanya sejak tahun 2016, bulan Oktober diperingati sebagai bulan Inklusi keuangan (BIK) . Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan pemerintah terus berupaya meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia. 


OJK dan Industri Jasa Keuangan bekerja sama menggelar kegiatan tahunan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) secara terintegrasi, masif dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia dari tanggal 1 - 31 Oktober 2021, dengan tema "Inklusi Keuangan Untuk Semua, Bangkitkan Ekonomi Bangsa".




Sobat udah tahu apa sih inklusi keuangan itu? Saya sendiri baru tahu sekitar dua tahun ini. Padahal saya dan sobat semua sudah sejak lama melakukan kegiatan yang menjadi bagian dari inklusi keuangan.


Istilah inklusi keuangan termasuk istilah yang populer di tengah masyarakat, namun tak banyak yang tahu atau paham tentang istilah ini. Padahal, tanpa kita sadari, di kehidupan sehari-hari, sudah banyak kegiatan yang menjadi bagian dari inklusi keuangan.


Inklusi keuangan bisa diartikan sebagai keadaan masyarakat dalam mengakses atau menggunakan produk layanan jasa keuangan seperti perbankan, asuransi, investasi, teknologi finansial dan lain sebagianya. 


Untuk contoh inklusi keuangan dalam keseharian itu misalnya :

- Menabung di bank, tarik tunai di ATM
- Transaksi perbankan secara online melalui internet banking, mobile banking
- Layanan untuk pinjaman online 
- Investasi saham, beli asuransi kesehatan hingga asuransi mobil secara online dan lainnya.


Gimana Sob, ternyata selama ini kita udah melakukannya setiap hari. Tapi nggak ngerti kalo itu dinamakan inklusi keuangan.


Namun di sisi lain, apakah masyarakat sudah memahami bahwa inklusi keuangan yang mereka jalani itu udah benar? Ada kan yang masih curiga dengan produk keuangan. Seperti saat beli asuransi ternyata tidak sesuai ekspektasi. 


Agar masyarakat paham saat memilih serta menggunakan produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing, diadakan lah Bulan Inklusi Keuangan. Tahun ini BIK diselenggarakan sekaligus untuk memperingati Hari Asuransi yang mengangkat tema "Literasi Asuransi Untuk Negeri, Kenali - Pahami - Miliki".


Nah untuk mempermudah masyarakat bisa mendapatkan edukasi keuangan, diadakan lah FIN EXPO BIK 2021 secara virtual. Apa aja yang akan kita jumpai di FIN EXPO BIK 2021 ini? 


FIN EXPO BIK 2021


FIN EXPO BIK 2021 merupakan pameran produk atau jasa keuangan yang digelar secara virtual dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan 2021. Tahun ini merupakan kedua kalinya FIN EXPO diadakan dengan konsep virtual. Hal ini merupakan bentuk adaptasi terhadap dinamika perekonomian pada masa pandemi. FIN EXPO BIK 2021 diadakan mulai tanggal 18 Oktober - 2 November 2021.


Melalui FinExpo, masyarakat dapat memperoleh informasi program promo dan  reward produk/jasa keuangan, edukasi keuangan dan informasi kegiatan lainnya yang dilaksanakan oleh Lembaga Jasa Keuangan selama Bulan Inklusi Keuangan sepanjang bulan Oktober 2021.



Apa aja yang bakal kita temui di FIN EXPO BIK 2021? Nah sobat harus daftar dulu di finexpo-bik2021-id baru deh nanti bisa main secara virtual di booth-booth yang ada di sana. Ya kayak bazar di pameran jasa keuangan tapi bentuknya tuh virtual. Enak kan jadinya dari berbagai kota atau provinsi mana pun bisa mengakses FIN EXPO BIK 2021 ini. Sobat bisa mendapatkan informasi seperti berikut :

- Penjualan Produk/Jasa Keuangan Berinsentif, berupa promo discount, cashback
- Pembukaan Rekening
- Fasilitas Pemberian Kredit/Pembiayaan
- Webinar Edukasi Keuangan
- Pameran Jasa Keuangan

Dan kebetulan sekali booth pertama yang saya kunjungi secara virtual adalah Prudential. Di sini sobat bisa menjumpai berbagai informasi seputar Asuransi Prudential. Ada video gallery, promo dan program yang bisa kalian akses untuk mendapatkan informasi yang lebih detil. 



Saya sendiri kemarin langsung memilih video gallery dan bingung dong karena ada 5 video di sana. Tapi nggak cukup lama sih karena saya memilih video tips dari Merry Riana tentang memilih asuransi kesehatan.

Berikut ini tips Merry Riana :

1. Persiapkan anggaran sesuai dengan kemampuan kamu.
2. Pahami Kebutuhan dan fasilitas yang diinginkan seperti fasilitas rumah sakit serta batas manfaat yang ditawarkan berdasarkan plan yang kamu inginkan dan pilih.
3. Tentukan premi yang akan kamu bayar. Dan memilih produk asuransi kesehatan yang murni tanpa komponen investasi. Ini bisa kamu dapatkan dengan premi yang terjangkau.
4. Pahami masa pertanggungan dari produk asuransi kesehatan yang kamu beli.
5. Pelajari jenis penyakit yang akan ditanggung. Karena ada beberapa penyakit yang tidak ditanggung oleh perusahaan asuransi. Nah cari tahu juga daftar rekanan rumah sakit yang bekerja sama dengan penyedia asuransi yang kamu pilih.


Di masa ketidakpastian seperti saat ini, asuransi kesehatan sekarang terasa begitu penting. Jadi memang sobat perlu memiliki untuk perlindungan kesehatan kalian.


Untuk video lainnya sobat bisa nonton langsung di virtual booth Prudential. Ada video penjelasan tentang asuransi dan masa pembayaran dari Unik Link, Endowment, Whole Life, dan Term. 


Ada satu video yang bikin saya jadi mellow setelah menontonnya. video yang durasinya sekitar 4 menit itu mempertunjukkan orang tua muda dengan orang tua mereka sendiri. Mereka bicara dari hari ke hati tentang pengalaman menjadi orang tua. Dan orang tua muda ini teringat masa ketika mereka masih lajang, suka membantah, melakukan hal bodoh lainnya. 


Ahhh jadi mellow kalo ingat video tentang perjuangan orang tua membesarkan anak-anaknya. Saya yakin kalian yang udah berkeluarga dan memiliki amanah mengasuh anak, pasti udah merasakan susah senangnya. 


Yang menarik di virtual booth Prudential adalah Promo dan Program yang ditawarkan. Berikut ini info soal promo dan program dari Prudential Indonesia :




- We Do Cashback Special Untukmu, dapatkan cashback hingga 2 bulan premi atau kontribusi untuk pembelian polis baru yang terbit hingga 31 Oktober 2021. Tentu ada syarat dan ketentuan yang berlaku dan untuk produk tertentu.

- Asuransi Jiwa Syariah PRUCinta, Buktikan cintamu karena cinta itu hidup selamanya sementara sebagai kepala keluarga tentu tidak dong. 

- Asuransi Jiwa Syariah PRUCerah, mewujudkan masa depan cerah bagi buah hati dengan pendidikan tinggi.

- PRULink Generasi baru/ PRULink Syariah Generasi baru, wujudkan proteksi dan investasi yang #Pastidikasihlebih.


Nah, udah saya ceritakan ya saat berkunjung virtual booth di Prudential Indonesia. Coba deh sobat main main juga di sana karena nonton sendiri video sharing bakal lebih terasa di hati. 


Saya berharap dengan FIN EXPO BIK 2021 ini bakal makin banyak masyarakat yang mendapatkan edukasi cerdas tentang pemahaman pengelolaan keuangan. Salam literasi finansial, Sobat. Wassalamualaikum.

Reading Time:

Jumat, 26 April 2019

 Ngobrol Tempo : Bijak Memilih Fintech Untuk Mendukung UMKM
April 26, 2019 37 Comments

Bijak Memilih Fintech Untuk Mendukung UMKM

Ngobrol Tempo tentang Fintech

Assalamualaikum Sahabat. Hari Rabu tanggal 24 April, saya berkesempatan hadir dalam acara #NgobrolTempo dengan tema Manfaat Ekonomi Fintech Lending. Katanya tak kenal maka tak sayang.

Beberapa bulan ini saya membaca di linimasa media sosial, tentang curhatan beberapa teman yang mendapat telpon atau email dari fintech. Mereka dihubungi untuk dimintai pertanggungjawaban karena dalam lingkar pergaulan, ada teman mereka yang memiliki pinjaman tak terbayar di fintech ini.

Lucu banget kan ya, ketika ada teman yang berhutang dan kita ikut ditagih gitu. Berasa kita yang punya hutang, dong.

Nah, waktu itu reaksi saya adalah, kok bisa sih fintech ini mendapatkan data teman-temannya yang punya hutang? Apalagi teman yang berhutang ini juga nggak memberikan data temannya pada fintech.

Jadi saat hadir dalam acara #NgobrolTempo, saya jadi ngerti kalo fintech itu ada aturan mainnya. 

Opening Speech Manfaat Ekonomi Fintech Lending

Bapak Indra Yuheri, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Kantor Regional 3 Jateng &  DIY, mengungkapkan dalam sambutannya, bahwa ada banyak kendala dialami oleh UMKM tentang modal usaha.

Beberapa di antara masalah yang muncul adalah jenis usaha UMKM ini tidak bankable. Dan juga diperlukannya jaminan saat melakukan peminjaman untuk modal usaha. Nah akhirnya mereka ini meminjam kepada tengkulak yang mamatok bunga sampai 300%. Ngeri ya bunga segitu bisa mematikan usaha UMKM itu sendiri.

Ngobrol Tempo tentang Fintech

Keynote speech berikutnya adalah Bapak Yudi Mardiana, Kepala Badan Pendapatan Daerah Kota Semarang yang mewakili Wali Kota Semarang. Dalam kata sambutan walikota yang dibacakan oleh Bapak Yudi:
Pemerintah telah bertekad untuk ramah pada perkembangan teknologi. Dukungan ini dengan tersedianya 2.300 titik free wifi dan 148 sistem e-government. 
Bahkan Pemerintah Kota Semarang juga bekerja sama dengan berbagai perusahaan fintech untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.
Seperti program pembayaran ongkos bus Trans Semarang udah menggunakan aplikasi Gopay. Dan perlu kalian tahu, pendapatannya udah mencapai 1,5 milyar. Keren yak!

Fintech Lending Membantu UMKM Mengembangkan Usaha

Fintech lending adalah penyelenggaran layanan jasa keuangan yang mempertemukan pemberi pinjaman (lender) dengan penerima pinjaman secara online.

Tidak seperti lembaga keuangan konvensional yang harus bertemu langsung, proses fintech lending ini bekerja lebih mudah dan cepat. 

Pada siang hari itu #NgobrolTempo terlibat dalam tema yang menari. Fintech lending ini tengah marak di masyarakat milenial. Hadir siang hari itu beberapa peserta dari aktivis kampus, blogger Gandjel Rel, media, dan pemilik UMKM di wilayah Kota Semarang.


Ngobrol Tempo tentang Fintech

Dalam diskusi yang menarik perhatian peserta, ada tiga pembicara. Yang pertama adalah Ibu Rati Connie Foda, Deputi Direktur Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK. Dalam uraiannya, Ibu Connie menjelaskan bagaimana OJK menangani permasalahan terhadap begitu banyaknya kasus keuangan. 

Ada batasan yang diberlakukan pada fintech, seperti tidak diijinkan untuk mengakses data milik peminjam. Nah di sini lah perbedaan fintech dengan lembaga keuangan konvensional. Fintech itu memiliki keterbatasan hanya bisa mengakses lokasi, foto, dan microphone (berbicara) dengan nasabahnya.

Sebagai nasabah, mereka diharapkan cerdas saat memilih fintech. Karena ada ratusan fintech dan yang terdaftar legal di OJK hanya 106. Dan 102 di antaranya berada di Jabodetabek. Sedangkan ada sekitar 200an perusahaan fintech yang masih ilegal.

Meski pemerintah sudah melakukan pencekalan. Namun mereka lihai dan muncul lagi dengan nama yang beda. Masyarakat diharapkan cek dulu fintech mana aja yang udah legal di website OJK.

Dari pengalaman selama ini, ada penjelasan dari Ibu Connie bahwa fintech yang tidak terdaftar ini lah yang sering melakukan pelanggaran. 

Nah, ada empat jenis fintech di Indonesia. Di antaranya adalah :
  • Fintech yang memberikan pelayanan pembayaran
  • Fintech yang bertindak sebagai pengumpul data dan membantu pengguna mengambil keputusan dalam hal pendanaan
  • Fintech yang memberikan layanan robot advisor
  • Fintech peer to peer lending, yaitu yang mempertemukan pendana dan peminjam
Contoh fintech yang nomer empat ini lah yang menjadi sorotan masyarakat. Makanya kalian mesti perhatian dalam memilih fintech legal agar tidak kena kasus seperti yang marak dibicarakan.

Beberapa Fintech di Indonesia : 

Menurut Ibu Connie, ada dua jenis fintech lending. Yaitu :

- Fintech ekosistem tertutup

Khusus untuk pihak tertentu, seperti Tokomodal yang memberikan fasilitas pinjaman bagi warung binaan Alfarmart yang dimanfaatkan untuk meningkatkan penjualannya. Ada program yang diarahkan dengan memberikan bantuan berupa barang yang lebih banyak dan lebih variatif agar omzet meningkat. Dan untuk pembayarannya, warung binaan ini membayar setelah barang laku.

- Fintech ekosistem terbuka

Fintech ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas untuk mendapatkan pendanaan sesuai kebutuhannya. Nah seperti yang udah disebutkan sebelumnya, Ibu Connie berharap masyarakat waspada saat memilih fintech yang terdaftar di OJK.

Fungsi OJK ke dapannya nanti adalah bisa mendorong fintech yang mampu menciptakan dampak positif. Caranya dengan memberikan kontribusi yang lebih besar pada masyarakat.

Pembicara kedua ada Ibu Litani Satyawati, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang. Ibunya pemilik UMKM di Semarang yang ternyata menjadi pembicara favorit siang hari itu. Beliau menyapa dengan keramahan dan hangat, terutama pada ibu-ibu pemilik UMKM yang hadir sebagai peserta #NgobrolTempo.

Dalam kesempatan ngobrol, Ibu Litani mengajak pemilik UMKM untuk mengenal istilah yang ada di dalam fintech. UMKM harus cerdas karena semua transaksi saat ini menggunakan sistem digital. Semua pembayaran banyak yang udah mulai menggunakan e-money atau cashless. Jadi mereka harus memilki akses internet dan tentunya gawai.

Karena sekarang cukup dengan memiliki gawai, semua akses pembayaran dan informasi bisa dijangkau. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Litani, bahwa saat ini semua hal dilakukan sejauh jangkauan gawai yang dimiliki oleh setiap orang.

- Mengenal AMARTHA, Fintech Yang Menyasar Peminjam Pinggiran Kota 

Pembicara ketiga ada Mas Andi Taufan, CEO AMARTHA, merupakan jenis fintech P2P lending. Nah kalo AMARTHA ini menyasar pendanaan pada perajin UMKM dan petani di pinggiran kota. 

Siang itu diputar pula video yang mengisahkan agen AMARTHA saat melakukan survey ataupun pengenalan jasanya hingga pelosok desa. 


Ngobrol Tempo tentang Fintech

Peserta yang hadir begitu serius menyimak video serta pembicaraan yang menarik tentang fintech lending.

Mas Andi menjelaskan bahwa AMARTHA selalu melakukan penilaian usaha sebelum memberikan pinjaman dana. Agen ini sungguh merupakan perpanjangan tangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Sebagai bagi hasil, nantinya ada bunga yang diberikan untuk pendana dan agen mendapatkan komisi.

Dan di AMARTHA karena kebanyakan merupakan petani atau peternak, dilakukan unit kelompok. Jadi tiap kelompok akan mendapatkan pinjaman dana dalam satu waktu, misal 1 tahun dengan jumlah dana maksimal 3 juta sampai 14 juta rupiah.

Amartha juga menyesuaikan cash flow peminjam untuk mengurangi kemungkinan peminjam tak mampu membayar. Kredit macet ini biasa terjadi karena namanya usaha, bisa karena hasil pertanian yang kurang berhasil.

Dalam hal ini AMARTHA bekerja sama dengan perusahaan asuransi. Sehingga jika peminjam meninggal atau bangkrut, uang pokok milik pendana tidak hilang. Besarnya asuransi biasanya sekitar 70 % dari pokok pinjaman.

Nah kehadiran fintech lending selama dua tahun terakhir memberikan banyak manfaat. Di antaranya adalah menyerap tenaga kerja sebesar 215.433 orang.  Menstimulasi pertumbuhan perbankan, perusahaan pembiayaan, dan ICT. Meningkatkan penyaluran kredit khususnya ke sektor UMKM, menambah GDB sebesar 25,97 triliun. Serta menambah pendapatan masyarakat (pekerja fintech lending) berupa upah dan gaji sebesar 4,56 triliun.



Menarik loh ngobrol bareng Tempo sampai ada begitu banyak yang bertanya saat sesi tanya jawab. Saya senang bisa menuliskan hasil dari sharing tentang finctech lending ini. Semoga menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan pendanaan ataupun pemilik modal yang ingin investasi. 


Ngobrol Tempo tentang Fintech
pict by  @Marasoo

Sampai jumpa dalam sharing keuangan berikutnya, sahabat. Wassalamualaikum.
Reading Time: