Mengapa Ikan di Cagar Alam Telaga Ranjeng Tidak Boleh Dipancing? - My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi

Kamis, 25 Maret 2021

Mengapa Ikan di Cagar Alam Telaga Ranjeng Tidak Boleh Dipancing?


Assalamualaikum Sobat. Hari Minggu tanggal 21 Maret 2021 kemarin saya baru saja berkunjung ke tempat salah satu wisata di kawasan Desa Pandansari, Payugayangan, Brebes. Ceritanya saya dan anak-anak nemenin babe yang sedang survey untuk satu pekerjaan di Bumiayu. Nah pulangnya itu kami diajak mampir jalan-jalan gitu, Sob. Karena ternyata survey nya nggak lebih dari sejam. 


Minggu pagi pukul 9 itu mobil melaju ke arah daerah Paguyangan. Menyibak keramaian pasar Bumiayu yang macet, bercampur kesibukan orang-orang yang tengah berbelanja kebutuhan dapur ataupun untuk warung mereka. Kami harus menahan diri agar tak menggerutu manakala angkot dengan sembarangan menyabot jalur mobil. Namanya juga angkot, suka-suka pengemudinya lah ya. Dan katanya orang sabar banyak rejekinya, aamiin.


Akhirnya keruwetan jalan raya di jalan Pangeran Diponegoro terurai, ketika mobil melintas menuju Kecamatan Paguyangan, Brebes. Tepatnya di kawasan Kaligua. Tempat yang berada di ketinggian1.563 Mdpl.


Namun sebelum tiba di kawasan kebun teh Kaligua, saya tertarik melihat sisi kiri jalan. Di sana ada beberapa warga yang sepertinya berasal dari luar daerah seperti kami, berdiri di tepi perairan mirip telaga. Yang menarik adalah terdengar suara kecipak air padahal nggak ada perahu yang ada di atas air. Suara apakah itu? Saya penasaran dong.


Telaga Ranjeng di Pandansari

Tidak terpikirkan oleh saya kalo tempat itu merupakan kawasan wisata. Lokasinya di pinggir jalan Desa Pandansari, Bantang Kawung, Brebes. Jalur ini bakal kalian lewati bila menuju tempat wisata Kebun Teh Kaligua. 


Selama perjalanan saya memandang  lurus ke arah jalan di depan mata. Saya jadi nggak memperhatikan sisi kiri saat tiba di dekat kawasan Telaga Ranjeng. Hanya saya sempat berujar, ada apa sih kok orang ngelihat ke kawasan berpagar? Dan tempatnya memang nggak terlihat kayak tempat wisata lainnya. 



"Itu Telaga Ranjeng, Buk," balas si bungsu.

Ah percaya deh karena matanya menatap layar gawai. Kata si bungsu lagi, Telaga Ranjeng yang dikelola oleh Perhutani Pekalongan Timur ini didominasi pohon damar dan pinus. Telaga seluas 48,5 ha ini berada di kaki Gunung Slamet. 

"Yuk turun dulu sebentar," ajakku pada suami.

"Nanti aja sepulang dari kebun teh," 

Jawaban suami diiyakan anak-anak karena tujuan pertama kami memang ke kebun teh. Baru nanti sepulang dari kebun teh lah kami akan mampir ke Telaga Ranjeng. Kebetulan kami di kebun teh juga nggak cukup lama. Karena suasana di kebun teh tidak sejuk seperti bayangan saya sebelumnya. Setelah ngemil jajanan yang sengaja saya siapkan dari rumah, dan jalan ke Tuk Bening, kami keluar dari Kebun Teh Kaligua. Tulisan saat kami wisata di kebun teh Kaligua akan saya tulis setelah ini.


Jadi sekitar pukul 11 sepulang dari kebun teh, suami menghentikan mobilnya di tempat parkir seberang telaga. Udara lumayan sejuk. Saya memperhatikan beberapa pengunjung sekitar 4 orang tengah jongkok di tepi telaga. Hanya si sulung yang nemenin saya menuju tepi telaga. Suami dan si bungsu melihat dari luar di balik pagar.


Suami in action πŸ˜‚

Untuk memasuki kawasan telaga, saya cukup mengisi kotak sumbangan yang diletakkan di dekat pintu masuk. Di sisi kiri ada bapak-bapak yang berdiri dengan kotak kardus yang isinya beberapa bungkus roti. Rupanya roti itu sengaja dijual pada pengunjung yang datang ke lokasi telaga.


Saya penasaran buat apa si bapak jualan roti deket telaga? Mengapa si bapak tidak berjualan aja di deretan warung yang letaknya di tempat parkir? Karena di sana memang ada deretan warung yang menjual roti, air mineral, permen, dan jajanan lainnya.  


Ternyata si bapak memang sengaja jualan roti di tepi telaga untuk pengunjung yang ingin memberi makan ikan. Ada dua jenis roti, yang ukuran agak besar harganya 10 ribu. Sementara yang kecil harganya 5 ribu. Saya pun membeli satu bungkus roti yang seharga 5 ribu.


Kalo kalian amati, foto yang saya ambil ini menampakkan sekumpulan ikan dalam jumlah yang sangat banyak. Kebanyakan ikan koi, ikan mas, dan saya nggak tahu ikan apa lagi. Ikan-ikan itu bergerombol seakan menanti pengunjung memberi sepotong roti. Dan mereka akan berebut roti itu. Saya sempat kaget saat roti yang saya lempar langsung ditangkap seekor ikan. Dia melompat gitu hingga terdengar suara kecipak air saat tubuhnya jatuh ke permukaan telaga. 



Saya kaget dan berteriak kecil. Si sulung yang mendamping bilang,"Kan aku udah bilang, Ibu jangan terlalu dekat di tepi telaga." 


Iya sih, ikannya kayak beringas gitu. Mereka semangat saat menangkap setiap roti yang dilempar oleh pengunjung. Lucu sih melihat ikan-ikan itu kayak rakus menyerobot tiap roti yang dilempar pengunjung. 


Cagar Alam Telaga Ranjeng

Dari seorang bapak yang saya wawancara, menceritakan bahwa telaga itu udah lama ada. Jauh sebelum kemerdekaan negeri ini, sekitar tahun 1920an gitu. Konon katanya telaga ini merupakan pemandian tokoh kerajaan di Jawa Tengah.


Dahulu telaga ini merupakan habitat ribuan ekor lele dan ikan nila berukuran raksasa saking besarnya. Dan yang anehnya adalah tidak ada orang yang menabur bibit ikan di sana. Warga sekitar juga nggak ada yang berani mengambil ikan di telaga untuk dikonsumsi ataupun dijual. Memang ada mitos yang menyatakan kalo ada orang yang mengambil ikan tersebut akan sakit. Kecuali dia mengembalikan ikan tersebut ke telaga. 



Itu sebabnya ikan di telaga ini sangat banyak dan berukuran besar. Karena memang tidak ada orang yang berani mengambil atau memancingnya. Orang yang datang kesana hanya memberikan makan sebagai hiburan. Atau menikmati suasana telaga yang asri dan sepi dari hiruk pikuk dunia. 


Dari si bapak pula saya mendengar tentang mitos ikan yang nggak boleh dipancing. Pengunjung hanya boleh memberi makan.  Sambil menikmati suasana tepi telaga yang asri, saya meminta si sulung mengambil gambar. Tapi saya sengaja hanya memintanya motret telaga. Saya nggak ingin foto di depan telaga karena kondisi lokasi yang tak leluasa untuk foto-foto. 


Mendadak ada pengunjung yang lumayan banyak, rombongan menggunakan mobil kapasitas 16 orang. Jadi kami memilih keluar pagar dan kembali ke mobil. Situasi pandemi memang mengharuskan setiap orang jaga jarak. Cuma selalu ada orang-orang yang tidak peduli dengan aturan ini. Sedih loh.


Melihat lokasi Telaga Ranjeng sebenarnya bisa menjadi tempat wisata yang menarik. Udara pegunungan yang sejuk, terletak di hutan lindung, dan air telaga yang tenang, layak dijadikan tempat untuk menyepi. Sayang pengelolaan sebagai tempat wisata kurang maksimal aja. Atau bisa jadi memang hanya diperuntukkan sebagai cagar alam, jadi sengaja nggak dibuka untuk tempat wisata. Namun kalo memang sebatas itu, mestinya pagar dipasang gembok. Agar tidak dikomersilkan sebagai tempat wisata.


Dari laman wikipedia tentang cagar alam Telaga Ranjeng ini, justru tertulis kisah unik. Konon menurut cerita turun temurun, di telaga yang memiliki kedalaman 3 meter ini terdapat ribuan ikan lele. Ikan ini dianggap sebagai penunggu telaga. Dan ikan lele ini ukurannya raksasa karena tidak pernah diambil oleh warga. 


Pernah ada seorang pengunjung yang mengambil ikan lele tersebut. Nah, begitu sampai di rumah tuh orang ini jatuh sakit. Katanya lagi, ikan lele itu dia pulangkan lagi agar bisa sembuh. 


Benar atau tidak cerita ini, saya nggak tahu. Karena saya tergolong menggunakan logika, malah balik nanya kepada si penjaga, trus yang balikin ikan lele siapa tuh? Tetangga, saudaranya, atau siapa? Bayangan saya lagi, bawa ikan lele dari telaga menuju rumahnya emang nggak resiko si ikan mati ya? Hihihiii, saya emang sejak kecil suka banyak nanya gitu kalo mendengar atau membaca berita yang tidak masuk akal.


Namanya juga mitos, bisa benar atau tidak. Kalian boleh percaya atau tidak, bebas sih. Tapi meski nggak percaya tetep dong menghormati kepercayaan warga setempat. Sebagai tamu sudah selayaknya menjaga sikap dong.


Oiya ikan lele yang dulunya banyak, saat ini sudah nggak terlihat. Kemarin saya hanya melihat ikan mas dan ukurannya besar semua. Ya gimana coba, setiap pengunjung yang datang selalu memberi makan pada ikan-ikan itu. Dan mereka bisa hidup bebas tanpa terganggu. Ikan-ikan itu senang banget mendekati pengunjung. Saya aja sempat kecipratan air telaga gara-gara si ikan bersemangat loncat. Seakan ingin menerkam roti yang saya lempar. 

Dasar telaga terlihat, airnya jernih

Kebetulan sepulang dari Bumiayu ini, kami mampir ke rumah adik di Tegal. Dari ceritanya, belum tentu juga setiap pengunjung bisa menjumpai ikan-ikan mas ini. Karena dulu dia pernah mampir ke Telaga Ranjeng dan tidak nampak ikan satupun. Makanya waktu saya tunjukkan video saat di lokasi, adik saya seneng banget. 


"Kok bisa sih aku nggak lihat ada ikan satu pun?!"

"Yaaah lagi nggak beruntung aja, atau bisa jadi saat kemarau. Jadi ikannya memilih tinggal di dasar telaga."

Adik saya bilang, saat kesana ada airnya sampai dekat pagar. Tapi memang nggak nampak ikannya. Kalo airnya surut pasti jarak daratan dengan pagar lumayan jauh.


Nah kembali lagi ya adik saya belum beruntung. Karena waktu saya kesana, ikannya buanyaaakkk. Saya dan si sulung sampai senang nebar roti yang kami beli dari bapak penjaga.


Fasilitas Telaga Ranjeng

Kalo saya melihat kekurangan Telaga Ranjeng ini adalah, tidak adanya tempat yang lumayan asik untuk ambil foto. Apalagi kalo pengunjung lebih dari 10 orang dan situasi masih pandemi. Kondisi normal aja orang bakal berdesakan karena daratannya memang sempit. 



Saya membayangkan ada perahu yang bisa disewa untuk berkeliling telaga. Pasti syahdu banget kan, menyusuri perairan tenang sambil menikmati hutan yang hijau rimbun. Tempatnya asri, cukup sejuk, dan menentramkan jiwa. 


Di seberang telaga yang merupakan lahan parkir, ada deretan warung. Kalian bisa membeli jajanan, mie instan, air mineral, atau kopi sachetan. Saya kurang tahu harga makanan di warung-warung ini karena memang nggak beli jajanan di sana. Setiap pergi saya sudah menyiapkan jajanan dan makanan dari rumah. Kalau beli juga biasanya di minimarket kompleks perumahan atau pinggir jalan. Itu juga biasanya air mineral atau cemilan ringan.


Karena hanya memberi makan ikan, tentu saja kehadiran kami nggak lebih dari 10 menit. Setelah itu kami segera melanjutkan perjalanan keluar dari Desa Pandansari, Brebes. 


Sepulang dari Desa Pandansari kami menyempatkan mampir di salah satu masjid untuk shalat Dhuhur. Baru lah kami kulineran sate blengong, makanan khas Brebes yang saya rindukan. Dahulu saya pernah menyicipi kuliner ini. Nanti saya tulis cerita kulineran sate blengong dalam tulisan selanjutnya. Wassalamualaikum.


Sumber Materi :

- Pengalaman Saat Berkunjung ke Lokasi

- id.wikipedia.org/wiki/cagar_alam_telaga_ranjeng

31 komentar:

  1. Ikannya gede-gede ya.. Mitos selalu ada di setiap tempat-tempat unik kayak gini.. Tapi jadinya lebih lestari sih ya..hehe..Coba kalo gak ada mitos itu..mungkin ikannya udah habis diambilin ..

    BalasHapus
  2. Airnya jernih juga ya mbak. Hihi aku percaya ga percaya sih soal mitos. Tapi lebih ke menghormati aja adat setempat. Meskipun rasanya sayang banget kalo ga dipancing kan lumayan buat makan. Hehe

    BalasHapus
  3. besar-besar sekali ya mak ikan-ikan di telaga ranjeng, bikin pengen siapapun buat memancing tapi karena Memang ada mitos yang menyatakan kalo ada orang yang mengambil ikan tersebut akan sakit jadi gak ada yang berani deh

    BalasHapus
  4. waaah hikayat dan ceritanya menarik yaa mba. Jadi kalau dipancing dan dan dimakan bisa sakit ya mba? Tapi aku juga suka ngga tega liat ikan banyak dan lucu begituuu

    BalasHapus
  5. Ngeri banget ya kalau ada orang berani mgambil ikan2 di telaga ini..takut sama mitosnya ga sih? πŸ˜‚πŸ˜‚ Gede2 amat dan menarik tuh ikan2nya... Sayang kalau digoreng wkwkwkwk.. piknik yg asik nih mb Wati.

    BalasHapus
  6. ikan2nya genduuuutttt
    Gemeshh banget pastinya kalo lihat ikan gemooll gitu
    aduuh, aku mupeng dolan ke Telaga nan sejuuukkk

    BalasHapus
  7. Sepertinya di beberapa tempat ada mitos pantang menangkap ikan ya...Saat saya ke Thailand ikan patin di sungai Chao Phraya juga pantang ditangkap karena bisa bawa musibah bagi epnangkapanya. Ada wisata memberi ikan berupa roti juga dan ikannya berebutan banyaaak sekali

    BalasHapus
  8. Wah kalau anak aku pasti heboh krna masi kcil mba dan dia suka ikan πŸ˜† mesti deh nggak mau pulang. Aku bisa ngebayangin gmn ikan2 disitu dikasih makan, rameeee suaranya. Ih kynya teduh yaa disitu😍

    BalasHapus
  9. Waduh kemruyuk gitu ikannya ya mbak, seneng lihatnya.

    Mitosnya ada manfaatnya juga ya, ikannya jadi bisa bebas berkembang biak dan tumbuh tanpa ada gangguan dari tangan-tangan manusia

    BalasHapus
  10. Biar ikannya gede=gede kalau ada mitosnya aku takut mba wkwkwk. Ngeri aja mau ngambil dan ikannya biar lestari ya di situ gak ada yang utak atik

    BalasHapus
  11. Di setiap wisata emang ya, selalu ada mitosnya. Entah benar atau enggak, itu urusan mereka aja, ya. Yang penting kita mah taat peraturan aja gitu. Hehehe.

    Ikannya jadi tumbuh dan berkembang biak dengan baik nih. Udah gitu setiap pengunjung kasih makan, cepet gede-gede ikannya.

    Mungkin di sana kurang dikelola dengan baik kali ya, Mbak? Jadi tempatnya ya, masih kayak gitu. Semoga next time bisa makin tertata dan banyak spot yang menarik di sana.

    BalasHapus
  12. Ngeri juga ya mbk kalo ikannya bringas gitu, kita yang nggak tau pasti kaget ya ahahaha. Ikannya banyak banget dan besar besar ya. Asik banget tempatnya buat liburan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bawa anak kicik bakalan lebih seru yaaa... mereka pasti heboh saat melihat ikan-ikan yang hiperaktif itu. :)

      Hapus
  13. Anak saya pasti bakal seneng banget kalau diajak ke sini, soalnya dia suka ngasih makan ikan...

    BalasHapus
  14. Kayaknya bisa nih dijadiin wishlist saat mudik nanti. Ke Brebes malah seringnya keliling rumah sodara jarang ke tempat wisata. Ayahku suka bgt wisaya alam gini hehe

    BalasHapus
  15. Swpemikiran mba sama yang mitos ambil lele terus pas sampe rumah sakit eh lelenya kudu dibalikin lah tuh lelenya emang ga mati ya yah selama perjalanan halah jadi nikirin hehehe tp suka sih telaga gini asik buat rekreasi ha mba

    BalasHapus
  16. saya beberapa kali lewat sana saat ke Kaligua tapi belum prnah mampir ke Telaga Renjeng..hehe.. Ah, untung mba Wati mampir dan menuliskan pengalaman ini. Terima kasih mba..

    BalasHapus
  17. Woh ikannya banyak banget ya maaaak.. kaya di rumah makan yg biasanya ada kolam ikannya gitu yaaa.. alhamdulillah deh ada mitos kaya gitu, jadi ikannya juga alhamdulillah hidup sejahtera disana yaaaa.. hehe

    BalasHapus
  18. Di Jogja juga ada kolam yang konon isinya ikan lele putih. Hanya yang beruntung yang bisa lihat. Saya pas ke sana lihatnya lele hitam semua. Nggak ada yang putih...hihi...tapi cerita mitos tu bikin lokasi wisata menarik untuk dikunjungi..

    BalasHapus
  19. Wah ikannya banyak banget ya mbak. Anak-anak kalo ke sini kayaknya kesenengan banget. Macem-macem juga ikannya. Asyik ya tempatnya buat refreshing.

    BalasHapus
  20. Wow ikannya banyak dan gendut2 gemesin hehe, anak2 kalau diajak mampir sana pas ya hepi :D
    BTW Kadang mitos2 gtu adalah cara nenek moyang kita pendahulu kita menjaga lingkungan di sekitar sana, gak boleh ambil ikan, gak boleh petik tumbuhan dll. Tp yawda turutin aja sih hehe

    BalasHapus
  21. Huaaah ikannya pasti bikin anakku Shanum teriak kegirangan sambil mulutnya juga dimonyong-monyongi seperti mulut ikan yang mangap mangap

    BalasHapus
  22. wahh ikan ikannya emang gede gede ya mbak, emang bikin orang pingin ngambil
    tapi mitosnya bikin ngeri,lebih baik cukup dinikmati dgn dilihat saja ya mbak ikannya

    BalasHapus
  23. Anak anak pasti seneng diajak kesini bisa ngelihat ikan mas gede gede gini. Jadi kaya ikan koi ukurannya.

    Berarti harus melihat cuaca kalo mau kesana biar bisa ngelihat ikan. Sayang udah jauh-jauh ngga ketemu ikannya.

    BalasHapus
  24. MasyaAllah sejuknyaaa ikannya hepi banget itu mba Hiday. Abah lucu banget actionnya hahaha. Pengen dolan belum kesampaian. Sehat selalu sekeluarga ya Mba.

    BalasHapus
  25. Dari foto-fotonya saja sudah kelihatan adem bener.
    Pasti betah ngabisin waktu di Telaga Renjeng.
    Semoga juga tabah buat nggak tergoda mancing ikannya ya ^^

    BalasHapus
  26. Masya Allah ikannya banyak banget ya dan nggak hilang diambil orang karena ada mitos yang menyertainya ya mbak.. Asyik bisa piknik tipis-tipis iniii..

    BalasHapus
  27. Berarti Mb Wati termasuk beruntung dong bisa melihat ikan segitu banyaknya. Wah, kalau sempat videoin pas ikan loncat itu bagus yo mba :))

    BalasHapus
  28. Masyaallah ikannya ndut ndut gitu...aku kok ngeri pas dksih makan malah ikannya loncat keluar ambil roti yg ada di tangan smuaπŸ˜…

    BalasHapus
  29. Aku malah takut kalo makan ikan yang gede2 kayak gitu, mbak, hihi. Aku sukanya liatin ikan yang berenang gitu aja

    BalasHapus
  30. Aku percaya mitos itu dicipta semata untuk menjaga kelestarian telaga beserta habitat di sekitarnya.

    Apakah telaga itu ada pengelolanya, mba?

    Btw,
    Aku suka banget perjalanan seperti ini, ada acara spontanitas.
    Apalagi tempatnya sangat alami.


    BalasHapus