My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Wisata di Brebes
Tampilkan postingan dengan label Wisata di Brebes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata di Brebes. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 April 2025

Healing di Tengah Kesejukan Kebun Teh Kaligua
April 22, 20250 Comments
Assalamualaikum Sahabat Jalan Jalan. Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tidak hanya terkenal dengan telur asinnya. Daerah ini juga memiliki destinasi wisata alam yang menarik, salah satunya adalah Kebun Teh Kaligua. Kebun teh ini terletak di lereng Gunung Slamet, tepatnya di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes Jawa Tengah.


Ceritanya suami ada survei untuk memulai pekerjaan konstruksi di daerah Bumiayu. Karena pemilihan survei hari Sabtu, suami pun ngajak kami sekeluarga ikut. Rencananya kami akan nginap di daerah Bumiayu. Dan usai survei untuk pekerjaan, kami bisa healing sejenak di Kebuh Teh Kaligua.

Sebelum ke Kebun Teh Kaligua, kami sempat mampir ke Telaga Renjeng. Silakan baca di sin :


Sekilas Tentang Kebun Teh Kaligua

Kebun Teh Kaligua merupakan salah satu perkebunan teh tertua di Indonesia. Kaligua didirikan oleh perusahaan perkebunan Belanda, NV. Nederlandsch-Indische Thee Maatschappij tahun 1889. Kebun teh seluas sekitar 1.400 hektar ini berada pada ketinggian 1.500 hingga 2.050 meter di atas permukaan laut.

Kalian yang belum pernah ke Kebun Teh Kaligua tentunya udah membayangkan udara sejuk yang bersih dan bebas polusi. Tak dipungkiri kalo tempat ini memang asri dan menawarkan pemandangan yang sangat indah. Hamparan tanaman teh yang hijau dan asri terhampar luas di bawah kaki Gunung Slamet. Udaranya pun sangat sejuk dan segar, cocok untuk melepas penat dari hiruk pikuk perkotaan.

Objek wisata perkebunan teh ini dikelola oleh PTPN IX dan di bawah nama Agrowisata Kaligua. Kebun teh ini tidak cuma menawarkan estetika alam yang instagrammable. 

Bahkan wisatawan juga diajak untuk belajar perihal pengolahan teh pada ahlinya. Tentunya masih banyak lagi aktivitas dan wahana rekreasi yang dapat kalian nikmati.

Mau Ngapain Aja di Agrowisata Kaligua?

Selain menikmati pemandangan alam, pengunjung Kebun Teh Kaligua juga bisa melakukan berbagai aktivitas menarik, seperti:

Wisata Kebun Teh 

Pengunjung bisa menyusuri hamparan perkebunan teh dengan berjalan kaki atau berkuda. Yakin deh bagi kalian yang menyukai suasana alam nan asri, bakal betah duduk berlama-lama di kebun teh.

Kalian bisa juga menyaksikan pemetik teh yang sedang bekerja, tentu saja bila beruntung momennya. 

Sempet ngobrol dgn
ibu pemetik daun teh


Saat saya wisata di agrowisata, kebetulan banyak pekerja yang tengah memetik teh. Suara gunting yang beradu dengan pucuk tangkai teh seperti nyanyian alam nan merdu.

Outbound 

Kebun Teh Kaligua memiliki fasilitas outbound yang lengkap, seperti flying fox, gardu pandang, jembatan gantung, dan panjat tebing. Selain itu tersedia juga becak air yang bisa dinikmati bareng keluarga.



Camping 

Bagi kalian yang menyukai kegiatan alam bebas, bisa camping di area kebun teh untuk menikmati suasana alam yang lebih syahdu. Siapa tahu bisa menyaksikan milky way di tengah cuaca yang cerah saat tengah malam. 

Untuk detil biaya dan peraturan, bisa nanya di bagian loket yang lokasinya di depan pintu gerbang agrowisata.

Tuk Bening



Saya kemarin cukup lama di area Tuk Bening. Suara air yang bergemuruh dari sumbernya, bikin saya betah. Air yang bening dan terasa dingin saat bersentuhan dengan jari jemari seakan memberi tambahan energi bagi tubuh.

Goa Jepang

Bagi kalian yang ingin mengekspor semuanya, bisa berkunjung ke goa peninggalan jepang. Karena lokasinya cukup jauh, kalian bisa memilih naik angkutan khusus yang udah disediakan oleh pengelola.

Di Goa Jepang ini juga sudah dilengkapi patung-patung atau replika – replika yang memudahkan wisatawan membayangkan kondisi zaman dahulu. Wah, ternyata bukan hanya menjadi tempat healing, Agrowisata Kaligua ini juga dapat dijadikan wisata sejarah yang seru

Fasilitas dan Tiket Masuk Agrowisata Kaligua

Fasilitas di Agrowisata Kaligua mencakup fasilitas umum dan rekreasi. Sebagian fasilitas umum terdiri dari area parkir, toilet umum, kafe, auditorium, panggung, mushola, serta unit pelayanan kesehatan. Sedangkan untuk fasilitas rekreasi berupa sarana dan prasarana berupa wisma, kolam renang air hangat, area camping, area outbond, gardu pandang, hingga lapangan olahraga.

Agrowisata Kaligua juga menyediakan beragam paket tamasya dan jasa untuk melengkapi pengalaman rekreasi. Pengunjung bisa memilih paket tamasya edukasi, family gathering, sejarah dan budaya, serta outbond. Tersedia pula penyewaan kostum untuk berfoto dan angkutan odong-odong untuk ke Gua Jepang.

Berdiri di lahan seluas 600 hektar lebih, wilayah Kaligua menyajikan panorama mempesona. Saat kalian berdiri di bagian mana saja di agrowisata, yang nampak adalah hamparan hijau dedaunan teh yang menyegarkan mata. 



Kebun Teh Kaligua juga terhampar dari ketinggian bervariasi 1.200 – 2.050 mdpl. Suhunya di musim kemarau malah dapat mencapai 4 derajat celcius. Pengunjung sudah tentu akan menerima hawa sejuk dan dingin yang menggigit. Bonusnya, pada cuaca tertentu zona perkebunan ini semakin cantik karena diselimuti kabut.

Kebun Teh Kaligua buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Harga tiket masuknya adalah Rp20.000 per orang.

Berikut adalah beberapa tips untuk berkunjung ke Kebun Teh Kaligua:

  • Pilih waktu yang tepat. Kebun Teh Kaligua memiliki suhu udara yang dingin, terutama di pagi hari. Oleh karena itu, sebaiknya kalian berkunjung saat cuaca cerah dan tidak terlalu dingin. Biasanya cuaca cerah pada bulan Mei hingga September. Namun lebih baik jika kalian rajin memeriksa perkiraan cuaca terbaru H-1 sebelum kesana.
  • Pakai pakaian dan sepatu yang nyaman. Selama di kebun teh Kaligua, kalian banyak berjalan kaki di kebun teh, jadi sebaiknya pakai pakaian dan sepatu yang nyaman.
  • Siapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Pastikan membawa topi, jaket, dan kamera untuk mengabadikan momen. 
  • Kebun Teh Kaligua merupakan destinasi wisata yang cocok untuk keluarga maupun bersama teman. Dengan keindahan alamnya yang memukau, Kebun Teh Kaligua bisa menjadi pilihan yang tepat untuk healing yang menyenangkan.
  • Jangan lupa bawa bekal minum serta cemilan meski di lokasi pun ada penjual makanan. Tapi ingat ya, buang sampah pembungkus makanan atau minuman di tempat sampah. 

Lokasi Kebun Teh Kaligua

Agrowisata Kaligua terletak di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Obyek wisata ini berjarak sekitar 75 kilometer dari pusat Kota Brebes. Wisatawan yang ingin berkunjung, bisa memilih dua akses. Yaitu yang pertama bisa melalui rute Bumiayu yang berjarak 15 kilometer. Rute lainnya ialah lewat Paguyangan berjarak sekitar 10 kilometer.


Nah saat berkunjung ke agrowisata ini kami memilih rute pertama yaitu lewat Bumiayu. Kondisi jalan desa menuju Kaligua tergolong udah bagus. Namun saat jalan mendekati gerbang masuk kawasan agrowisata mulai bertemu jalan yang tidak terlalu mulus. 

Jalan yang kami temui adalah jalan tanah yang dilapisi batu kasar dan konturnya terus-menerus menanjak. Gunakan mobil atau motor yang layak dan dalam kondisi prima untuk menghindari masalah di jalan tanjakan ini. 

foto dari aditya putra

Jalur ini memang membutuhkan skill pengemudi yang trampil dan berpengalaman. Alhamdulillah suami udah berpengalaman mengemudi di medan seperti ini. Jadi  kami penumpang pun enjoy aja meski tetep lah ya doanya gak berhenti.

Kalian udah pernah berkunjung ke Kebun Teh Kaligua atau Agrowisata Kaligua? Kalo belum, coba deh kalian berkunjung. Sempatkan waktu untuk healing sejenak di keindahan yang menyejukkan mata, hati, dan pikiran di Agrowisata kaligua. Yakin deh sepulang dari agrowisata, kalian serasa abis mengisi energi positif. Nanti cerita ya kalo udah berkunjung kesana. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Kamis, 25 Maret 2021

Mengapa Ikan di Cagar Alam Telaga Ranjeng Tidak Boleh Dipancing?
Maret 25, 2021 31 Comments


Assalamualaikum Sobat. Hari Minggu tanggal 21 Maret 2021 kemarin saya baru saja berkunjung ke tempat salah satu wisata di kawasan Desa Pandansari, Payugayangan, Brebes. Ceritanya saya dan anak-anak nemenin babe yang sedang survey untuk satu pekerjaan di Bumiayu. Nah pulangnya itu kami diajak mampir jalan-jalan gitu, Sob. Karena ternyata survey nya nggak lebih dari sejam. 


Minggu pagi pukul 9 itu mobil melaju ke arah daerah Paguyangan. Menyibak keramaian pasar Bumiayu yang macet, bercampur kesibukan orang-orang yang tengah berbelanja kebutuhan dapur ataupun untuk warung mereka. Kami harus menahan diri agar tak menggerutu manakala angkot dengan sembarangan menyabot jalur mobil. Namanya juga angkot, suka-suka pengemudinya lah ya. Dan katanya orang sabar banyak rejekinya, aamiin.


Akhirnya keruwetan jalan raya di jalan Pangeran Diponegoro terurai, ketika mobil melintas menuju Kecamatan Paguyangan, Brebes. Tepatnya di kawasan Kaligua. Tempat yang berada di ketinggian1.563 Mdpl.


Namun sebelum tiba di kawasan kebun teh Kaligua, saya tertarik melihat sisi kiri jalan. Di sana ada beberapa warga yang sepertinya berasal dari luar daerah seperti kami, berdiri di tepi perairan mirip telaga. Yang menarik adalah terdengar suara kecipak air padahal nggak ada perahu yang ada di atas air. Suara apakah itu? Saya penasaran dong.


Telaga Ranjeng di Pandansari

Tidak terpikirkan oleh saya kalo tempat itu merupakan kawasan wisata. Lokasinya di pinggir jalan Desa Pandansari, Bantang Kawung, Brebes. Jalur ini bakal kalian lewati bila menuju tempat wisata Kebun Teh Kaligua. 


Selama perjalanan saya memandang  lurus ke arah jalan di depan mata. Saya jadi nggak memperhatikan sisi kiri saat tiba di dekat kawasan Telaga Ranjeng. Hanya saya sempat berujar, ada apa sih kok orang ngelihat ke kawasan berpagar? Dan tempatnya memang nggak terlihat kayak tempat wisata lainnya. 



"Itu Telaga Ranjeng, Buk," balas si bungsu.

Ah percaya deh karena matanya menatap layar gawai. Kata si bungsu lagi, Telaga Ranjeng yang dikelola oleh Perhutani Pekalongan Timur ini didominasi pohon damar dan pinus. Telaga seluas 48,5 ha ini berada di kaki Gunung Slamet. 

"Yuk turun dulu sebentar," ajakku pada suami.

"Nanti aja sepulang dari kebun teh," 

Jawaban suami diiyakan anak-anak karena tujuan pertama kami memang ke kebun teh. Baru nanti sepulang dari kebun teh lah kami akan mampir ke Telaga Ranjeng. Kebetulan kami di kebun teh juga nggak cukup lama. Karena suasana di kebun teh tidak sejuk seperti bayangan saya sebelumnya. Setelah ngemil jajanan yang sengaja saya siapkan dari rumah, dan jalan ke Tuk Bening, kami keluar dari Kebun Teh Kaligua. Tulisan saat kami wisata di kebun teh Kaligua akan saya tulis setelah ini.


Jadi sekitar pukul 11 sepulang dari kebun teh, suami menghentikan mobilnya di tempat parkir seberang telaga. Udara lumayan sejuk. Saya memperhatikan beberapa pengunjung sekitar 4 orang tengah jongkok di tepi telaga. Hanya si sulung yang nemenin saya menuju tepi telaga. Suami dan si bungsu melihat dari luar di balik pagar.


Suami in action 😂

Untuk memasuki kawasan telaga, saya cukup mengisi kotak sumbangan yang diletakkan di dekat pintu masuk. Di sisi kiri ada bapak-bapak yang berdiri dengan kotak kardus yang isinya beberapa bungkus roti. Rupanya roti itu sengaja dijual pada pengunjung yang datang ke lokasi telaga.


Saya penasaran buat apa si bapak jualan roti deket telaga? Mengapa si bapak tidak berjualan aja di deretan warung yang letaknya di tempat parkir? Karena di sana memang ada deretan warung yang menjual roti, air mineral, permen, dan jajanan lainnya.  


Ternyata si bapak memang sengaja jualan roti di tepi telaga untuk pengunjung yang ingin memberi makan ikan. Ada dua jenis roti, yang ukuran agak besar harganya 10 ribu. Sementara yang kecil harganya 5 ribu. Saya pun membeli satu bungkus roti yang seharga 5 ribu.


Kalo kalian amati, foto yang saya ambil ini menampakkan sekumpulan ikan dalam jumlah yang sangat banyak. Kebanyakan ikan koi, ikan mas, dan saya nggak tahu ikan apa lagi. Ikan-ikan itu bergerombol seakan menanti pengunjung memberi sepotong roti. Dan mereka akan berebut roti itu. Saya sempat kaget saat roti yang saya lempar langsung ditangkap seekor ikan. Dia melompat gitu hingga terdengar suara kecipak air saat tubuhnya jatuh ke permukaan telaga. 



Saya kaget dan berteriak kecil. Si sulung yang mendamping bilang,"Kan aku udah bilang, Ibu jangan terlalu dekat di tepi telaga." 


Iya sih, ikannya kayak beringas gitu. Mereka semangat saat menangkap setiap roti yang dilempar oleh pengunjung. Lucu sih melihat ikan-ikan itu kayak rakus menyerobot tiap roti yang dilempar pengunjung. 


Cagar Alam Telaga Ranjeng

Dari seorang bapak yang saya wawancara, menceritakan bahwa telaga itu udah lama ada. Jauh sebelum kemerdekaan negeri ini, sekitar tahun 1920an gitu. Konon katanya telaga ini merupakan pemandian tokoh kerajaan di Jawa Tengah.


Dahulu telaga ini merupakan habitat ribuan ekor lele dan ikan nila berukuran raksasa saking besarnya. Dan yang anehnya adalah tidak ada orang yang menabur bibit ikan di sana. Warga sekitar juga nggak ada yang berani mengambil ikan di telaga untuk dikonsumsi ataupun dijual. Memang ada mitos yang menyatakan kalo ada orang yang mengambil ikan tersebut akan sakit. Kecuali dia mengembalikan ikan tersebut ke telaga. 



Itu sebabnya ikan di telaga ini sangat banyak dan berukuran besar. Karena memang tidak ada orang yang berani mengambil atau memancingnya. Orang yang datang kesana hanya memberikan makan sebagai hiburan. Atau menikmati suasana telaga yang asri dan sepi dari hiruk pikuk dunia. 


Dari si bapak pula saya mendengar tentang mitos ikan yang nggak boleh dipancing. Pengunjung hanya boleh memberi makan.  Sambil menikmati suasana tepi telaga yang asri, saya meminta si sulung mengambil gambar. Tapi saya sengaja hanya memintanya motret telaga. Saya nggak ingin foto di depan telaga karena kondisi lokasi yang tak leluasa untuk foto-foto. 


Mendadak ada pengunjung yang lumayan banyak, rombongan menggunakan mobil kapasitas 16 orang. Jadi kami memilih keluar pagar dan kembali ke mobil. Situasi pandemi memang mengharuskan setiap orang jaga jarak. Cuma selalu ada orang-orang yang tidak peduli dengan aturan ini. Sedih loh.


Melihat lokasi Telaga Ranjeng sebenarnya bisa menjadi tempat wisata yang menarik. Udara pegunungan yang sejuk, terletak di hutan lindung, dan air telaga yang tenang, layak dijadikan tempat untuk menyepi. Sayang pengelolaan sebagai tempat wisata kurang maksimal aja. Atau bisa jadi memang hanya diperuntukkan sebagai cagar alam, jadi sengaja nggak dibuka untuk tempat wisata. Namun kalo memang sebatas itu, mestinya pagar dipasang gembok. Agar tidak dikomersilkan sebagai tempat wisata.


Dari laman wikipedia tentang cagar alam Telaga Ranjeng ini, justru tertulis kisah unik. Konon menurut cerita turun temurun, di telaga yang memiliki kedalaman 3 meter ini terdapat ribuan ikan lele. Ikan ini dianggap sebagai penunggu telaga. Dan ikan lele ini ukurannya raksasa karena tidak pernah diambil oleh warga. 


Pernah ada seorang pengunjung yang mengambil ikan lele tersebut. Nah, begitu sampai di rumah tuh orang ini jatuh sakit. Katanya lagi, ikan lele itu dia pulangkan lagi agar bisa sembuh. 


Benar atau tidak cerita ini, saya nggak tahu. Karena saya tergolong menggunakan logika, malah balik nanya kepada si penjaga, trus yang balikin ikan lele siapa tuh? Tetangga, saudaranya, atau siapa? Bayangan saya lagi, bawa ikan lele dari telaga menuju rumahnya emang nggak resiko si ikan mati ya? Hihihiii, saya emang sejak kecil suka banyak nanya gitu kalo mendengar atau membaca berita yang tidak masuk akal.


Namanya juga mitos, bisa benar atau tidak. Kalian boleh percaya atau tidak, bebas sih. Tapi meski nggak percaya tetep dong menghormati kepercayaan warga setempat. Sebagai tamu sudah selayaknya menjaga sikap dong.


Oiya ikan lele yang dulunya banyak, saat ini sudah nggak terlihat. Kemarin saya hanya melihat ikan mas dan ukurannya besar semua. Ya gimana coba, setiap pengunjung yang datang selalu memberi makan pada ikan-ikan itu. Dan mereka bisa hidup bebas tanpa terganggu. Ikan-ikan itu senang banget mendekati pengunjung. Saya aja sempat kecipratan air telaga gara-gara si ikan bersemangat loncat. Seakan ingin menerkam roti yang saya lempar. 

Dasar telaga terlihat, airnya jernih

Kebetulan sepulang dari Bumiayu ini, kami mampir ke rumah adik di Tegal. Dari ceritanya, belum tentu juga setiap pengunjung bisa menjumpai ikan-ikan mas ini. Karena dulu dia pernah mampir ke Telaga Ranjeng dan tidak nampak ikan satupun. Makanya waktu saya tunjukkan video saat di lokasi, adik saya seneng banget. 


"Kok bisa sih aku nggak lihat ada ikan satu pun?!"

"Yaaah lagi nggak beruntung aja, atau bisa jadi saat kemarau. Jadi ikannya memilih tinggal di dasar telaga."

Adik saya bilang, saat kesana ada airnya sampai dekat pagar. Tapi memang nggak nampak ikannya. Kalo airnya surut pasti jarak daratan dengan pagar lumayan jauh.


Nah kembali lagi ya adik saya belum beruntung. Karena waktu saya kesana, ikannya buanyaaakkk. Saya dan si sulung sampai senang nebar roti yang kami beli dari bapak penjaga.


Fasilitas Telaga Ranjeng

Kalo saya melihat kekurangan Telaga Ranjeng ini adalah, tidak adanya tempat yang lumayan asik untuk ambil foto. Apalagi kalo pengunjung lebih dari 10 orang dan situasi masih pandemi. Kondisi normal aja orang bakal berdesakan karena daratannya memang sempit. 



Saya membayangkan ada perahu yang bisa disewa untuk berkeliling telaga. Pasti syahdu banget kan, menyusuri perairan tenang sambil menikmati hutan yang hijau rimbun. Tempatnya asri, cukup sejuk, dan menentramkan jiwa. 


Di seberang telaga yang merupakan lahan parkir, ada deretan warung. Kalian bisa membeli jajanan, mie instan, air mineral, atau kopi sachetan. Saya kurang tahu harga makanan di warung-warung ini karena memang nggak beli jajanan di sana. Setiap pergi saya sudah menyiapkan jajanan dan makanan dari rumah. Kalau beli juga biasanya di minimarket kompleks perumahan atau pinggir jalan. Itu juga biasanya air mineral atau cemilan ringan.


Karena hanya memberi makan ikan, tentu saja kehadiran kami nggak lebih dari 10 menit. Setelah itu kami segera melanjutkan perjalanan keluar dari Desa Pandansari, Brebes. 


Sepulang dari Desa Pandansari kami menyempatkan mampir di salah satu masjid untuk shalat Dhuhur. Baru lah kami kulineran sate blengong, makanan khas Brebes yang saya rindukan. Dahulu saya pernah menyicipi kuliner ini. Nanti saya tulis cerita kulineran sate blengong dalam tulisan selanjutnya. Wassalamualaikum.


Sumber Materi :

- Pengalaman Saat Berkunjung ke Lokasi

- id.wikipedia.org/wiki/cagar_alam_telaga_ranjeng

Reading Time: