Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

10 Jan 2015

TAK GENDONG KEMANA-MANA...

Sudah bukan rahasia lagi, kalo jemaah haji pasti bawa air zam-zam di dalam koper besar untuk dibawa pulang. Meski regulasi yang mengatur barang bawaan sudah sejak awal dijabarkan, dan air temasuk benda yang dilarang. Tetap saja larangan itu dilanggar.

Yah mau gimana lagi? Pulang haji pasti yang ditunggu adalah oleh-oleh air zam-zam plus doa. Sedangkan jatah dari Garuda bagi tiap jamaah hanya lima liter. Tidak sepadan dengan jumlah teman dan kerabat yang berjubel menanti jatah air zam-zam di rumah.

Air zam zam 5 ltr

Sejak masih di tanah air, ustazd kami pun sudah mensinyalkan larangan menyimpan botor berisi air zam-zam di koper besar. Semua sepakat, ada teman juga yang menyarankan, mending terang-terangan saja dibawa dalam tas kresek beberapa botol ukuran 500 ml. Kalo petugas tanya, bilang aja untuk sangu minum antri pemeriksaan di bandara. 

Ternyata justru yang dibawa malah aman. Petugas bandara King Abdul Azis mengibaskan tangan, artinya saya lolos pemeriksaan dari benda terlarang.  Ya karena saya nggak bawa korek api, pisau atau benda terlarang lainnya. Meski ada dua botol air zam-zam di tangan kiri saya.

Dari bisik-bisik selama pemeriksaan di bandara pas pulang ke tanah air, ada yang dapat bocoran dari petugas penerbangan, kalo banyak jerigen berisi air zam-zam disita dari dalam tas koper besar. Waduuh, mendengar kabar itu saya lirik sana sini. Mencari tanggapan dari teman yang ikut ngegosip di bandara. Ternyata tak ada yang mau berkomentar. Hanya senyum dikulum yang menandakan satu jawaban sama. Ah, apa arti senyuman itu?

Andai saja pak petugas penerbangan tahu perjuangan mereka yang mengumpulkan air zam-zam.

Setelah lelah sirna usai Umroh Wajib dan nyicil Umroh Sunnah, beberapa jemaah berangkat ke Masjidil Haram sambil bawa jerigen. Jerigen-jerigen itu diajak berdesakan di dalam bus yang membawa rombongan jemaah menuju masjid.

Tiba di masjid, ada yang langsung thawaf. Ada juga yang ngisi jerigen dulu dengan air zam-zam. Kemudian baru menuju tempat thawaf. Biasanya yang bawa jerigen ini lebih memilih putaran thawaf lantai 2 atawa 3. Lebih longgar, tidak seperti lantai 1 yang berjubel kayak cendol.

Nah, mulailah urutan putaran ke-1 hingga ke-7 dilakukan. Sambil menggendong jerigen, melafalkan bacaan memutari Ka’bah dengan semangat. Tak ada segan atau enggan, hanya senyum berbaur tangis haru bisa menatap Ka’bah. Meski beban di punggung, di pundak atau di depan dada begitu mencolok mata. Tetap saja tak ingin menyingkirkan beban itu.

Bukan pria gagah semata yang membebani tubuh dengan jerigen berisi air zam-zam. Begitu banyak perempuan paruh baya, dari berbagai belahan dunia yang melakukan serupa. Ada yang hanya menentengnya, memikul di atas kepala atau membawanya dalam tas.

Saya? Oh tidaaak… Saya tidak terbiasa mengangkat beban berat. Bukan kemayu siih. Tapi memang tak ingin menyakiti tubuh dengan beban air sebanyak lima liter. Dan saya tidak paham apa maksud air zam-zam itu diajak mengelilingi bangunan Ka’bah. Teman sesama jemaah yang melakukan hal itu tak memberikan jawaban memuaskan. Mereka kebanyakan hanya ikut-ikutan.

Menemui fenomena seperti itu, bikin saya makin penasaran. Tapi setiap saya bertanya, tak kunjung juga mendapat jawaban. Bahkan kadang cuma senyum yang menjadi jawaban dari pertanyaan saya. 

Jadi… untuk apa jerigen isi air zam-zam itu digendong kemana-mana? Entah lah. Adakah yang bisa membantu saya memberikan jawaban?

Terima kasih udah berkunjung ke rumah mayaku. Nantikan cerita saya selanjutnya yaaa

8 comments :

  1. O..jadi hanya boleh 5 liter ya mbak. Tamunya besok dikasih setete-setetea mbak..hihihi..

    ReplyDelete
  2. ngasihnya seteguk gitu ya mba kalau untuk tamu, yang gelasnya kayak gelas sake gitu mba keciil..hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngasihnya seteguk sih mbak, tapi ada juga kok yg minta nambah hahaha

      Delete
  3. Kasih seteguk gelas kecil Mbak ben rata hahaha:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adil merata spt sila kelima Pancasila ya mbak, qiqiqii

      Delete
  4. kasih setetes aja hehehe biar semua pada dapat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh serasa di padang pasir pulang dari bertamunya hihiii...

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...