Assalamalaikum. Ketika anak-anak sudah beranjak dewasa, saya kadang suka mengingat masa lalu. Masa ketika mereka masih bocah dan senang sekali mencoret dinding di rumah menjadi lukisan surealis. Bapaknya sampai gemes karena dinding baru aja selesai dicat belum ada satu bulan.
Saya dan suami memang cuma bisa gemas, meski udah disediakan papan tulis ukuran besar untuk coret-coret, anak-anak tetap aja memilih dinding rumah sebagai media gambar. Ya sudah lah, kami nggak ingin mematikan hasrat anak-anak mengekspresikan imajinasinya di dinding. Meski dinding jadi nggak cantik lagi, hahahaa.
Saya yakin masa mencoret-coret dinding itu nggak lama, nanti saat usia 5 atau 6 tahun mereka udah bisa dikasih saran agar tidak melakukannya. Apalagi usia segitu juga udah sekolah, udah diajari menggambar di buku tulis atau papan tulis.
Satu hal yang saya ingat dari hobi kedua anak saya, si sulung masih menurut bila diingatkan untuk menggambar di papan tulis. Meski nanti juga lupa lagi kalo udah beberapa hari. Sementara si adik tetep aja nggak mau menggambar di papan tulis. Katanya papannya jelek, ibu pusing deh kalo alasannya seperti itu. Padahal papan tulisnya itu udah dibikin yang bagus karena saya pesan di salah satu tukang kayu langganan suami.
Manfaat Seni Gambar Bagi Anak-Anak
Namun tidak semua orang tua menerima kesenangan anak-anaknya menggambar di dinding rumah. Sering saya menemukan orang tua yang marah karena dinding jadi nggak karuan dengan coretan abstrak si kecil. Anak usia 3 tahun mana tahu kalo dia telah merusak dinding rumah dengan coretannya? Dia hanya ingin mencoret sesuka dan sebisanya aja. Nggak paham dengan dinding yang berubah kotor, nggak cantik, nggak rapi lagi di mata orang dewasa.
Saya ingat pernah membaca di salah satu artikel di majalah Ayah Bunda, majalah langganan saya sejak menikah hingga mengasuh anak-anak. Dari artikel tersebut dituliskan tentang kesenangan anak menggambar di media mana aja itu memiliki manfaat bagi tumbuh kembangnya.
Bahkan bisa aja seni gambar yang dilakukan anak kita kelak menjadi sumber nafkahnya? Siapa yang tahu, ye kaan?!
Saya juga baca dari salah satu portal berita dari disdikpora, menggambar dan juga mewarani itu memiliki manfaat bagi anak-anak. Berikut ini manfaat menggambar dan mewarnai :
- Sebagai Media Berekpresi
Bukan hanya orang dewasa yang butuh mengekspresikan perasaannya. Anak-anak terutama yang masih balita dan belum bisa menyampaikan isi hatinya, butuh media untuk berekpresi. Bagaimana isi hati mereka, marah, sedih, gembira, semua dituangkan dalam seni gambar.
- Membantu Anak Mengenal Perbedaan Warna
Ini untuk menggambar sekaligus mewarnai, atau mewarnai saja. Memberi kegiatan seni mewarnai untuk anak, membantu mereka mengenal warna. Sekaligus mengajarkan perbedaan warna, kata yang tepat untuk setiap warna agar tidak salah menyebutkannya.
- Menstimulasi Otak Kanan
Seni gambar juga mampu menstimulasi otak kiri dan kanan secara seimbang. Bila otak kanan berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, musik, warna, dan emosi serta ingatan jangka panjang. Sedangkan otak kiri berkaitan dengan logika, analisa, hitungan, tulisan dan ingatan jangka pendek.
- Melatih Anak Menggenggam Pensil
Sebagai orang tua, tentu kalian pernah kesulitan mengajarkan anak memegang pensil. PR banget ya membimbing anak memegang pensil. Belajar menggenggam dan mengontrol pensil di tangan itu harus dibiasakan. Kemampuan tersebut nantinya pasti akan dibutuhkan saat mulai masuk sekolah.
- Melatih Kreativitas Anak
Tahu nggak bu-ibu, anak yang suka menggambar biasanya menggunakan imajinasinya untuk menorehkan pensil atau apapun itu ke media sesuai bentuk yang diinginkan. Anak usia 3 tahun belum bisa menampilkan gambar yang kece. Ya iya lah, coretan tak berbentuk mulus pun udah suatu prestasi baginya.
Si bungsu kami sejak kecil suka mencoret dinding rumah. Begitu usianya 4 tahun gambarnya mulai berbentuk. Cuma kadang saya merasa agak seram lihat gambarnya yang bawa pedang dengan darah menetes gitu. Apaaah? Anak usia 4 tahun udah menggambar hal yang mengerikan? Ya saya nggak bisa menyuruh dia untuk menggambar yang manis manis aja. Eh pernah sekali saya arahkan begitu. Malah hasilnya kaku, gak alami.
Ternyata cara saya membiarkan justru menjadi efektif karena si bungsu bebas berkreasi. Dan sekarang anaknya udah jadi mahasiswa semester 7 di jurusan DKV Udinus. Udah nyambi kerja juga dan ini karena dilamar oleh owner perusahaannya via DM Instagram. Boleh magang di situ juga dari pada keluar kerja. Kerjanya menyesuaikan jam kuliah karena sekarang sebagian udah mulai tatap muka.
- Melatih Kepekaan Pada Lingkungan
Anak yang suka menggambar, terbiasa mengamati lingkungannya. Dia punya kepekaan dan menuangkan hasilnya di media gambar. Karya si bungsu sejak dia suka menggambar di kertas, dipajang di lemari kaca meja belajarnya. Dari gambar kucing yang menjulurkan lidahnya, dengan badan setengah manusia, pemuda membawa pedang, gadis yang duduk sendirian, dan masih banyak lagi.
Saya tidak tahu dia mengamati siapa, kemudian dituangkan dalam ekspresi yang berbeda dengan aslinya. Namun saya mengagumi tangannya yang menggores garis tanpa mleyot, tegas dan yakin dengan setiap goresan pensil di kertas. Saya pun akhirnya menyediakan buku sketsa yang cukup tebal beberapa buah. Karena kecepatan gambarnya bisa menghabiskan buku sketsa dalam beberapa waktu aja.
Mulai Menyukai Doodle dan Menorehkan Karya di Media Apa Aja
Oh iya saya masih ingat, waktu usia 12 tahun dia mulai bikin doodle. Nggak tahu juga belajar dari mana, mendadak buku sketsanya terisi beberapa doodle. Yang bikin saya ngakak adalah, rak buku di kamarnya pun tak lepas dari goresan doodle.
Sebenarnya hasil dia bikin doodle itu nggak hanya ada di buku sketsa atau lemari buku. Doodle dan hasil karyanya bisa ditemukan di sepatu, tas sekolah, kursi, slayer, atau topi. Dia paling suka kalo saya membawa pulang goodie bag dengan warna polos. Itu artinya bisa dijadikan media gambarnya.
Sejak kuliah di DKV, si bungsu mulai merasa berada di tempat yang diinginkannya sejak kecil. Setiap hari dia punya tugas menggambar, atau nerjain nirmana. Bosan nggak bosan setiap hari bertemu tugas ini.
Saya senang melihat dia nyaman di jurusan yang dipilihnya sesuai passion. Saya awalnya nggak bisa menjelaskan pada orang-orang yang bertanya si bungsu kuliah di mana. Ketika saya melafalkan DKV, orang mendengarnya itu kuliah di kafe, hahahaa.
Masih banyak orang yang nggak paham bahwa jurusan DKV ini memiliki kesempatan kerja yang lebih luas. Bahkan waktu pertama kali saya (sebagai wali mahasiswa) datang pada acara ramah tamah dengan pihak kampus bersama orang tua lain di jurusan DKV, udah mendapat warning dari dekan.
Tolong saat anaknya nanti menginjak semester 3 atau 4, jangan terlena dengan tawaran kerja. Karena kalo udah mengenal duit, bisa lupa dan nggak menyelesaikan kuliahnya
Hmm, benar juga soal tawaran kerja ini. Meski sebenarnya dia udah mulai menghasilkan duit dari passion sejak usia 14 tahun di SMP. Beberapa kali mendapat order desain logo usaha orang tua temannya. Bayarannya duit jajan atau produk usaha mereka.
Yang lumayan didapatkan si bungsu adalah membimbing anak seorang pengusaha karoseri terkenal di Semarang. Selama satu bulan memberikan pendampingan membuat desain 3D render untuk persiapan lomba.
Nah mengapa sekarang saya membiarkan si bungsu kerja di salah satu perusahaan restorasi mobil antik di Semarang? Pertama karena si bungsu tetap menjalani kuliah sesuai jadwal. Dia bertanggung jawab dengan pilihannya kuliah sambil kerja. Karena waktu ditawari pekerjaan, dia masih kuliah daring. Dan ketika sekarang kuliah udah mulai tatap muka, si bos mengijinkan dia mengutamakan kuliah dan bekerja ketika jawal kuliah libur atau kosong.
Jadi buk-ibuk, kalo anaknya suka mencoret-coret dinding rumah, jangan baper atau marah. Siapa yang tahu si anak kelak menjadi tukang insinyur, desainer, animator, dan bidang seni lainnya? Masih aman lah kalo media dinding rumah sendiri yang kena coretan anak-anak, dari pada milik tetangga?
Seperti yang udah saya tuliskan di awal, biarkan anak bebas berekspresi dengan media apapun yang dipilihnya. Ketika usianya bertambah juga dia bakal memilih media gambar dan tidak lagi coret-coret dinding. Tapi, coretan di dinding bisa jadi seni grafiti juga kan? Sebuah karya yang juga bisa dinikmati bila dibikin dengan bagus. Setuju nggak sih? Silakan berkomentar di bawah ya teman-teman, wassalamualaikum.






