My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Jurusan DKV
Tampilkan postingan dengan label Jurusan DKV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurusan DKV. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 November 2022

Mahasiswa Desain Komunikasi Visual, Belum Lulus Udah Ditawari Kerja?
November 03, 2022 30 Comments
Assalamu'alaikum. Saya jadi teringat kejadian beberapa waktu lalu, seorang teman yang lama tak bertemu nanya, gimana kabar si bungsu. Dulu kami pernah bertemu saat makan di resto dan kaget dengan si bungsu yang udah nambah tinggi. Waktu itu si bungsu masih jadi mahasiswa baru jurusan DKV di kampus swasta terbaik di Semarang. 



"Udah kerja ya? Oh belum lulus kuliah, enak ya bisa nyari duit meski masih kuliah,"

Saya tersenyum mengangguk. Iya si bungsu yang pandemi kemarin sempat cuti kuliah selama 2 semester, malah mendapat tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan restorasi otomotif. Bosnya langsung yang nawari setelah melihat instagram si bungsu yang menampilkan hasil blender motor atau mobil. 

Teman saya nanya lebih banyak. Dan salah satunya adalah, apakah lulusan SMA sosial (jurusan IPS) bisa kuliah di jurusan DKV?

Saya bilang kalo si bungsu justru lulusan SMA jurusan bahasa karena ingin belajar bahasa Perancis atau Jerman. Ia udah menguasai bahasa Inggris dan penge nambah lagi kemampuan bahasa asing lainnya. Jadi bagi kalian yang ingin kuliah di jurusan DKV, tenang aja karena menerima lulusan semua jurusan. Tentunya sepanjang kalian merasa punya bakat atau mampu menggambar. 

Mengenal Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV)

Menjadi mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual atau kerap disingkat DKV, saat ini sangat diminati. Bahkan orang tua pun sekarang udah paham jurusan ini, terutama kerjanya nanti gimana.

Perlu kalian tahu kalo di jurusan DKV, mahasiswa diajarkan melalui proses kreatif untuk menggabungkan seni visual dan teknologi dalam menyampaikan ide atau informasi.
 
Jadi bisa dibilang bahwa DKV merupakan cabang ilmu seni desain. Kalian akan belajar tentang cara memanfaatkan elemen visual dengan tujuan tertentu secara efektif, informatif, dan komunikatif. Dan menggambar menjadi salah satu kemampuan yang memang seharusnya dimiliki oleh calon mahasiswa DKV. 

Dari pengalaman si bungsu, ada temannya yang tidak bisa menggambar. Pada beberapa tugas, dia butuh bantuan dari orang luar. Pasti akan ada pengaruhnya dengan hasil akhirnya nanti. 

Meski tidak hanya tentang seni gambar, namun mahasiswa DKV juga diajari gimana cara mengolah kalimat untuk copywriting, tipografi, fotografi, sejarah seni rupa, dan banyak hal lainnya. 

Sepulang ketemu tak terduga dengan teman tadi, saya di rumah merenung cukup lama. Memori lama saat si bungsu balita yang suka gambar dinding rumah hadir dengan manisnya. Ahh masa itu sungguh cepat berlalu. Beruntung ya dulu nggak pernah kami tegur dengan keras. Ketika si bungsu tidak mau berpindah ke media yang sudah disediakan, dan tetap aja membuat lukisan abstrak di dinding, kami pun menyerah. Namanya juga anak-anak. Masa-masa yang akan cepat berlalu dan dinding bisa dicat ulang, kan?

Perkembangan si bungsu termasuk kemampuan menggambarnya tumbuh seiring usianya. Si bungsu tak lagi mencoret dinding rumah, namuan berganti di buku sketsa, buku tulis pelajarannya, lemari pakaian,  rak buku, hahahaa. Tetep sih menggambar di media apapun tapi sudah tidak lagi di dinding. Kemudian berkembang lagi ketrampilannya menggambar di aplikasi yang ada di komputer. 

Momen paling tak terlupakan saat ia menjadi pelajar kelas VII di SMP islam terpadu dan mewakili sekolahnya di ajang lomba Desain Grafis. Peserta dari seluruh sekolah swasta di Kota Semarang, dan dua wakil dari sekolah ini meraih dua kategori juara. Si bungsu mendapat juara 2, kakak kelasnya juara 1. 

Saya sendiri senang bukan karena si bungsu mendapatkan piala dan uang yang luamayan. Saya senang karena pencapaian ini menunjukkan si bungsu memiliki prestasi di luar akademik. Ini sebuah prestasi yang wajib saya syukuri. Dan saya terharu plus bangga dengannya. Teringat bully yang diterimanya dari guru sekolah saat ia kelas V. Saya pernah cerita di blog ini.

Ternyata kemampuan seorang anak dalam bidang desain grafis sangat diapresiasi. Saat itu tahun 2012 akhir dan masih banyak orang yang belum paham apa itu desain grafis. Saya mesti menjelaskan dengan sederhana ketika keluarga besar bertanya si bungsu memenangkan lomba. Dan ternyata sejak saat itu kenalan kami mulai tertarik membimbing anak-anaknya yang suka menggambar untuk belajar desain grafis.

Saya hanya tahu si bungsu mengenal desain grafis secara otodidak. Belajar dari Google, entah gimana caranya. Karena saat itu kami hanya memiliki komputer yang masih jadul dengan modem internet yang terbatas.

Time flies so fast... Sekarang si bungsu udah jadi mahasiswa semester 7 dan mulai riset untuk mengerjakan skripsinya. Dia juga magang di tempat kerjanya selama satu tahun terakhir. Sesekali pula ia menerima job freelance dari berbagai pihak, dari DM yang masuk di akun instagram, email, teman sekerja dan dosennya.

KARYA SI SULUNG YANG DIUNGGAH 
DI AKUN INSTAGRAMNYA
Akun IG @remtromol



Program CSR JNE Goes to School 

Saat ini si bungsu tetap kerja meski kuliah juga jalan. Apalagi pemerintah udah mulai mengakhiri status pandemi, itu artinya sekolah dan kampus juga udah mulai diberlakukan pembelajaran tatap muka. Dalam 6 hari kerja, dia masuk ke tempat kerjanya ketika tidak ada jadwal kuliah. Pimpinan tempatnya bekerja nggak mempermasalahkan hal ini karena sejak awal juga udah tahu kalo karyawannya itu masih jadi anak mahasiswa. 

Saya menganggap itu keberuntungan si bungsu. Rejeki mendapat tempat magang sebelum beneran masuk dunia kerja. Untuk materi yang diterimanya memang tidak sesuai standar gaji karyawan di sana. Namun si bungsu setiap bulan minimal mendapatkan setara UMR. Bahkan ada dua kali semester dia membayar sendiri uang kuliahnya, Masya Allah. Saya waktu itu speechless mendengar si bungsu ngomong uang kuliahnya udah dia bayar pakai tabungannya. 

Semester ini mata kuliah di kampusnya ada beberapa yang udah pembelajaran tatap muka. Dan semua sekolah, dari tingkat TK, SD, SMA, SMK, dan kampus lainnya pun sama. Begitu pula di pondok pesantren keponakan saya di daerah Solo. Sepupu saya udah mengantarkan ke pondok pesantren putrinya sejak bulan Juli lalu. Kegiatan di lembaga pendidikan juga udah tidak lagi hanya belajar materi pembelajaran. Kegiatan lomba, ekstrakulikuler sekolah, pameran pendidikan, udah mulai dihadirkan kembali seperti sebelum pandemi.

Kabar terbaru saya ketahui tentang program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh JNE Medan dengan sebutan JNE Goes to School. Kegiatan CSR yang dilakukan JNE ini udah ada sejak 5 tahun lalu. CSR ini ternyata juga dilakukan di berbagai kota / kabupaten yang ada di Sumatera Utara. Kegiatan CSR JNE Goest to School ini kembali hadir dan menyapa siswa siswi diberbagai sekolah untuk memberikan motivasi. 



CSR JNE Goes to School dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 27 Oktober 2022 di Pondok Pesantren 
Darularafah Raya Jl. Berdikari No. 1 A Desa Lau Bakeri, Sampe Cita, kec. Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan dibuka oleh Misdan selaku Musyrif Pesantren Darularafah Raya. 

Saya mewakili Pesantren Darularafah Raya, mengucapkan banyak terimakasih kepada JNE Medan. Semoga ada kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya yang dapat kita adakan bersama. Santri-santri kami begitu bersemangat mengikuti kegiatan ini, semoga apa yang disampaikan oleh pemateri dari JNE dapat memotivasi mereka untuk lebih giat lagi belajar dan mengembangkan diri, tutur Misdan  

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Cabang JNE Medan, Fikri Alhaq Fachryana menyampaikan, "Bahwa untuk siswa kelas 3 sudah harus dapat menetapkan visi, menyusun misi, dan membangun target-target dalam hidup, agar siswa yang sudah masuk remaja ini bisa menjalani kehidupan yang bahagia". 



Pemateri lainnya ada Muhammad Arif Taufik selaku Human Capital JNE Medan. Dalam materinya, Arief menuturkan bagaimana menjadi siswa yang bahagia, yaitu selain harus memiliki kecerdasan intelektual (IQ), santri Darularafah Raya juga harus memiliki keseimbangan antara kecerdasan spiritual (SQ) dan kecerdasan emosi (EQ) yang baik pula. Agar tak hanya pintar, namun juga memiliki sikap dan tingkah laku yang baik. Saya selaku orang luar mengetahui materi yang dibagikan ini turut bahagia. Semoga pendidikan karakter ini dilakukan oleh seluruh citivas pendidikan di negeri ini.


JNE Medan memiliki beberapa kegiatan CSR, diantaranya program Rumah Tahfidz JNE-DT Peduli Sumut, program 12 Sanggar Genius JNE Yatim Mandiri bagi yatim dan dhuafa, program Pelatihan Design Grafis JNE IZI Sumut, Program Tanggap Bencana Tagana JNE Medan, Program Sekolah Bisnis UMKM, dan program JNE Goes to School dan Campus. 

Wah ternyata ada juga program Pelatihan Desain Grafis JNE IZI Sumatera Utara. Semoga ada banyak anak muda yang menggunakan kesempatan CSR dari JNE ini sebaik-baiknya. Lumayan loh kalo kalian menguasai ketrampilan desain grafis dengan baik, bisa nyari cuan dari sini.

Fikri Alhaq berharap kegiatan CSR yang dilakukan JNE dapat bermanfaat dan membawa keberkahan baik bagi keluarga besar JNE maupun masyarakat sebagai penerima manfaat. Wah ini sesuai banget ya dengan tagline Connecting Happiness yang berarti mengantarkan kebahagiaan. Connecting Happiness ini juga memiliki arti dan makna yang luas, bukan hanya tentang pengiriman paket. Dalam hal ini JNE memiliki peran dalam berbagai aspek di setiap kehidupan masyarakat tutupnya.   

Bagi kalian yang memiliki kesukaan menggambar, jangan malu. Ketrampilan menggambar tidak dimiliki semua orang. Orang tua pun jangan pernah melarang si anak yang ingin belajar atau kursus menggambar. 

Nggak ada yang tahu, masa depan seorang anak yang suka menggambar ini bisa mendapatkan rejeki dari hobinya. Seperti anak saya yang lemah di bidang pelajaran matematika namun nilai bahasa dan seninya sangat bagus. Ayuk dong bagikan cerita kalian tentang menggambar atau teman suka desain grafis. Atau anak kalian ada yang lulusan jurusan DKV? Cerita yuk, wassalamualaikum. 
Reading Time:

Senin, 01 Agustus 2022

Anak Hobi Seni Gambar? Jangan Diremehkan!
Agustus 01, 2022 30 Comments

Assalamalaikum. Ketika anak-anak sudah beranjak dewasa, saya kadang suka mengingat masa lalu. Masa ketika mereka masih bocah dan senang sekali mencoret dinding di rumah menjadi lukisan surealis. Bapaknya sampai gemes karena dinding baru aja selesai dicat belum ada satu bulan.



Saya dan suami memang cuma bisa gemas, meski udah disediakan papan tulis ukuran besar untuk coret-coret, anak-anak tetap aja memilih dinding rumah sebagai media gambar. Ya sudah lah, kami nggak ingin mematikan hasrat anak-anak mengekspresikan imajinasinya di dinding. Meski dinding jadi nggak cantik lagi, hahahaa.


Saya yakin masa mencoret-coret dinding itu nggak lama, nanti saat usia 5 atau 6 tahun mereka udah bisa dikasih saran agar tidak melakukannya. Apalagi usia segitu juga udah sekolah, udah diajari menggambar di buku tulis atau papan tulis.


Satu hal yang saya ingat dari hobi kedua anak saya, si sulung masih menurut bila diingatkan untuk menggambar di papan tulis. Meski nanti juga lupa lagi kalo udah beberapa hari. Sementara si adik tetep aja nggak mau menggambar di papan tulis. Katanya papannya jelek, ibu pusing deh kalo alasannya seperti itu. Padahal papan tulisnya itu udah dibikin yang bagus karena saya pesan di salah satu tukang kayu langganan suami.


Manfaat Seni Gambar Bagi Anak-Anak

Namun tidak semua orang tua menerima kesenangan anak-anaknya menggambar di dinding rumah. Sering saya menemukan orang tua yang marah karena dinding jadi nggak karuan dengan coretan abstrak si kecil. Anak usia 3 tahun mana tahu kalo dia telah merusak dinding rumah dengan coretannya? Dia hanya ingin mencoret sesuka dan sebisanya aja. Nggak paham dengan dinding yang berubah kotor, nggak cantik, nggak rapi lagi di mata orang dewasa.


Saya ingat pernah membaca di salah satu artikel di majalah Ayah Bunda, majalah langganan saya sejak menikah hingga mengasuh anak-anak. Dari artikel tersebut dituliskan tentang kesenangan anak menggambar di media mana aja itu memiliki manfaat bagi tumbuh kembangnya.


Bahkan bisa aja seni gambar yang dilakukan anak kita kelak menjadi sumber nafkahnya? Siapa yang tahu, ye kaan?!


Saya juga baca dari salah satu portal berita dari disdikpora, menggambar dan juga mewarani itu memiliki manfaat bagi anak-anak. Berikut ini manfaat menggambar dan mewarnai :


- Sebagai Media Berekpresi


Bukan hanya orang dewasa yang butuh mengekspresikan perasaannya. Anak-anak terutama yang masih balita dan belum bisa menyampaikan isi hatinya, butuh media untuk berekpresi. Bagaimana isi hati mereka, marah, sedih, gembira, semua dituangkan dalam seni gambar.


- Membantu Anak Mengenal Perbedaan Warna

Ini untuk menggambar sekaligus mewarnai, atau mewarnai saja. Memberi kegiatan seni mewarnai untuk anak, membantu mereka mengenal warna. Sekaligus mengajarkan perbedaan warna, kata yang tepat untuk setiap warna agar tidak salah menyebutkannya.


- Menstimulasi Otak Kanan

Seni gambar juga mampu menstimulasi  otak kiri dan kanan secara seimbang. Bila otak kanan berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, musik, warna, dan emosi serta ingatan jangka panjang. Sedangkan otak kiri berkaitan dengan logika, analisa, hitungan, tulisan dan ingatan jangka pendek.


- Melatih Anak Menggenggam Pensil



Sebagai orang tua, tentu kalian pernah kesulitan mengajarkan anak memegang pensil. PR banget ya membimbing anak memegang pensil. Belajar menggenggam dan mengontrol pensil di tangan itu harus dibiasakan. Kemampuan tersebut nantinya pasti akan dibutuhkan saat mulai masuk sekolah. 


- Melatih Kreativitas Anak

Tahu nggak bu-ibu, anak yang suka menggambar biasanya menggunakan imajinasinya untuk menorehkan pensil atau apapun itu ke media sesuai bentuk yang diinginkan. Anak usia 3 tahun belum bisa menampilkan gambar yang kece. Ya iya lah, coretan tak berbentuk mulus pun udah suatu prestasi baginya. 

Si bungsu kami sejak kecil suka mencoret dinding rumah. Begitu usianya 4 tahun gambarnya mulai berbentuk. Cuma kadang saya merasa agak seram lihat gambarnya yang bawa pedang dengan darah menetes gitu. Apaaah? Anak usia 4 tahun udah menggambar hal yang mengerikan? Ya saya nggak bisa menyuruh dia untuk menggambar yang manis manis aja. Eh pernah sekali saya arahkan begitu. Malah hasilnya kaku, gak alami. 

Ternyata cara saya membiarkan justru menjadi efektif karena si bungsu bebas berkreasi. Dan sekarang anaknya udah jadi mahasiswa semester 7 di jurusan DKV Udinus. Udah nyambi kerja juga dan ini karena dilamar oleh owner perusahaannya via DM Instagram. Boleh magang di situ juga dari pada keluar kerja. Kerjanya menyesuaikan jam kuliah karena sekarang sebagian udah mulai tatap muka.


- Melatih Kepekaan Pada Lingkungan 

Anak yang suka menggambar, terbiasa mengamati lingkungannya. Dia punya kepekaan dan menuangkan hasilnya di media gambar. Karya si bungsu sejak dia suka menggambar di kertas, dipajang di lemari kaca meja belajarnya. Dari gambar kucing yang menjulurkan lidahnya, dengan badan setengah manusia, pemuda membawa pedang, gadis yang duduk sendirian, dan masih banyak lagi.

Saya tidak tahu dia mengamati siapa, kemudian dituangkan dalam ekspresi yang berbeda dengan aslinya. Namun saya mengagumi tangannya yang menggores garis tanpa mleyot, tegas dan yakin dengan setiap goresan pensil di kertas. Saya pun akhirnya menyediakan buku sketsa yang cukup tebal beberapa buah. Karena kecepatan gambarnya bisa menghabiskan buku sketsa dalam beberapa waktu aja. 


Mulai Menyukai Doodle dan Menorehkan Karya di Media Apa Aja


Oh iya saya masih ingat, waktu usia 12 tahun dia mulai bikin doodle. Nggak tahu juga belajar dari mana, mendadak buku sketsanya terisi beberapa doodle. Yang bikin saya ngakak adalah, rak buku di kamarnya pun tak lepas dari goresan doodle. 


Sebenarnya hasil dia bikin doodle itu nggak hanya ada di buku sketsa atau lemari buku. Doodle dan hasil karyanya bisa ditemukan di sepatu, tas sekolah, kursi, slayer, atau topi. Dia paling suka kalo saya membawa pulang goodie bag dengan warna polos. Itu artinya bisa dijadikan media gambarnya. 


Sejak kuliah di DKV, si bungsu mulai merasa berada di tempat yang diinginkannya sejak kecil. Setiap hari dia punya tugas menggambar, atau nerjain nirmana. Bosan nggak bosan setiap hari bertemu tugas ini.


Saya senang melihat dia nyaman di jurusan yang dipilihnya sesuai passion. Saya awalnya nggak bisa menjelaskan pada orang-orang yang bertanya si bungsu kuliah di mana. Ketika saya melafalkan DKV, orang mendengarnya itu kuliah di kafe, hahahaa. 


Masih banyak orang yang nggak paham bahwa jurusan DKV ini memiliki kesempatan kerja yang lebih luas. Bahkan waktu pertama kali saya (sebagai wali mahasiswa) datang pada acara ramah tamah dengan pihak kampus bersama orang tua lain di jurusan DKV, udah mendapat warning dari dekan.


Tolong saat anaknya nanti menginjak semester 3 atau 4, jangan terlena dengan tawaran kerja. Karena kalo udah mengenal duit, bisa lupa dan nggak menyelesaikan kuliahnya


Hmm, benar juga soal tawaran kerja ini. Meski sebenarnya dia udah mulai menghasilkan duit dari passion sejak usia 14 tahun di SMP. Beberapa kali mendapat order desain logo usaha orang tua temannya. Bayarannya duit jajan atau produk usaha mereka.


Yang lumayan didapatkan si bungsu adalah membimbing anak seorang pengusaha karoseri terkenal di Semarang. Selama satu bulan memberikan pendampingan membuat desain 3D render untuk persiapan lomba. 


Nah mengapa sekarang saya membiarkan si bungsu kerja di salah satu perusahaan restorasi mobil antik di Semarang? Pertama karena si bungsu tetap menjalani kuliah sesuai jadwal. Dia bertanggung jawab dengan pilihannya kuliah sambil kerja. Karena waktu ditawari pekerjaan, dia masih kuliah daring. Dan ketika sekarang kuliah udah mulai tatap muka, si bos mengijinkan dia mengutamakan kuliah dan bekerja ketika jawal kuliah libur atau kosong.


Jadi buk-ibuk, kalo anaknya suka mencoret-coret dinding rumah, jangan baper atau marah. Siapa yang tahu si anak kelak menjadi tukang insinyur, desainer, animator, dan bidang seni lainnya? Masih aman lah kalo media dinding rumah sendiri yang kena coretan anak-anak, dari pada milik tetangga?


Seperti yang udah saya tuliskan di awal, biarkan anak bebas berekspresi dengan media apapun yang dipilihnya. Ketika usianya bertambah juga dia bakal memilih media gambar dan tidak lagi coret-coret dinding. Tapi, coretan di dinding bisa jadi seni grafiti juga kan? Sebuah karya yang juga bisa dinikmati bila dibikin dengan bagus. Setuju nggak sih? Silakan berkomentar di bawah ya teman-teman, wassalamualaikum.

Reading Time: