My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Kuliner Brebes
Tampilkan postingan dengan label Kuliner Brebes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner Brebes. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Mei 2021

Kulineran Kupat Glabed dan Sate Blengong di Tegal, Bakal Bikin Kamu Ketagihan
Mei 06, 2021 25 Comments


Assalamualaikum Sobat traveling. Beberapa waktu yang lalu, saya dan anak-anak diajak suami menemaninya survey lokasi proyek pengerjaan rumah di kawasan Bumiayu. Biasanya memang kalo suami ada pekerjaan keluar kota, inginnya mengajak keluarga. Istilah Jawanya ngiras ngirus. Bekerja sambil mampir tempat wisata misalkan lokasinya dekat. Dan tentu saja harus kulineran juga demi menambah energi, hahahaa.


Silahkan baca : Mitos Telaga Ranjeng

Sepulang dari wisata tipis-tipis menyaksikan fenomena ikan yang berukuran besar dan tidak ada yang berani mengambilnya di Telaga Renjeng. Anak-anak udah ditawari pengen makan apa, sate, ayam goreng, atau kuliner lainnya. Namun karena sudah sepakat sebelumnya, kami akan menyicipi Kupat Glabed dan Sate Blengong. Kuliner khas yang akan mudah kalian jumpai di Tegal, Brebes, dan kota sekitarnya.


Mungkin kalian hanya mengenal Tegal karena warteg yang menjamur dengan harga relatif murah. Bahkan di beberapa kota masyarakat lebih suka makan atau belanja sayur di warteg a.k.a warung Tegal. Karena ragam makanan yang ditawarkan memang banyak. Namun di Tegal sendiri yang terkenal adalah satu kuliner khas yang mampu memanjakan lidah. Rasanya yang enak, unik, dan harganya juga terjangkau. Yaitu Kupat Glabed.


Saya dulu penasaran mengapa namanya unik. Ternyata kuliner Kupat Glabed ini diberikan nama sesuai penampilannya. Isiannya memang potongan kupat dengan kuah yang kental. Orang Tegal menyebut tekstur kuah kental yang masuk ke dalam mulut ini adalah glabed. Penyebutan ini bergeser hingga menjadi makna sebuah sajian kuliner yang berisi potongan kupat dengan diguyur kuah berwarna kuning yang teksturnya kental.  


Nah, biasanya untuk menemani kuliner kupat glabed ini ada sate blengong. Jangan bengong dulu yaa. Sate blengong itu merupakan hasil dari persilangan mentok dan bebek. Dagingnya empuk hingga bikin penikmatnya sangat menyukainya. Pokoknya setelah menikmati sate blengong ini kalian bakal lupa udah habis berapa tusuk.


Mencari Warung Kupat Glabed dan Sate Blengong Yang Legendaris

Saya dan keluarga sengaja ingin menikmati kuliner ini sepulang dari Bumiayu. Pas banget kan siang sepulang dari survey lokasi proyek dan wisata tipis-tipis, makan siang di Tegal. Dan kupat glabed yang menjadi incaran kami ada di Tegal.


Dari kawasan pegunungan di Kecamatan Paguyangan, Brebes, kami menyusuri jalanan yang sebagian besar udah beraspal mulus. Hingga tiba di pertigaan jalan raya Talok, ambil arah ke kanan menuju Kota Tegal. Begitu masuk Kota Tegal arahkan tujuan ke kawasan Randugunting. Lokasi warung yang menyajikan kupat glabed berada di tengah pemukiman penduduk. Kalo kalian ingin memilih warung yang aksesnya mudah, bisa menuju alun-alun Kota Tegal. Warung Pak Saleh ada di jajaran kios di kawasan alun-alun.


Suami memilih makan di warung Pak Saleh yang ada di rumahnya. Karena bayangan kami tentu tidak seramai di alun-alun yang gampang diakses pelintas jalur pantura.



Siang itu saya pesan 4 porsi kupat glabed, 2 porsi sate blengong dan 1 porsi sate ayam. Tadinya cuma pesan 1 porsi sate blengong dan 1 porsi sate ayam. Namun karena rasa sate blengong itu lezat, gurih, dan enak banget, kami nambah lagi satu porsi, wkwkwkk.


Cita Rasa Kupat Glabed dan Sate Blengong

Isi 1 porsi kupat glabed adalah potongan kupat tentu saja yang diguyur dengan kuah berwarna kuning. Sepintas mirip dengan kuah opor. Namun rasanya beda karena teksturnya lebih creamy Kayaknya ada maizena yang dicampurkan dalam kuah karena kental banget di indera pengecap. 


Ada tambahan kerupuk mie kuning yang diremas dan ditaburkan bersama bawang goreng. Krupuk mie ini menjadi penyelamat bagi lidah saya yang kurang suka rasa kuah yang kental. Saya dan suami tidak menghabiskan kuah glabed ini karena alasan terlalu kental. 


Nah kupat glabed emang selalu dinikmati bareng sate. Pilihannya beragam, dari sate ayam, sate kikil kambing, sate kerang, dan sate blengong. 



Karena tiga jenis sate lainnya udah pernah makan, tentu saja saya memesan sate blengong. Namun suami meminta saya tetap memesan sate ayam untuk berjaga misalkan tidak doyan dengan sate blengong.



Ternyataaa ... sate blengong menjadi favorit kami. Itulah sebabnya kami menambah satu porsi sate blengong. Saking enaknya sih jadi tanpa sungkan kami memesan lagi. Hihihiii. 


Tekstur daging sate blengong lebih mendekati mentok. Meski berasal dari persilangan induk mentok dan bebek. Anaknya ini yang disebut blengong. Pertama kali saya kenal kuliner ini saat ikut acara desa wisata di Brebes. Blengong biasanya disajikan dalam wujud masakan opor. Nah, saya penasaran ketika mengetahui blengong juga dijadikan sate.


Dan rasa penasaran keluarga saya terbukti, blengong lebih enak dijadikan sate. Karena dagingnya empuk, citarasanya juga khas. Coba deh kalian datang dan menikmati sate blengong ini. Bisa jadi nambah pesanan karena merasakan dagingnya yang gurih dan empuk.


Menikmati menu kupat glabed dan sate blengong di warung Pak Saleh di Randugunting ini, cocok ditemani dengan teh khas Tegal. Siang itu menikmati sajian teh panas yang kental, pas banget menjadi penghalau tubuh lelah. Mata jadi segar manakala lidah menyesap teh khas Kota Tegal.




Yang bikin saya dan suami kaget adalah saat membayar makanan pesanan. Pesanan 4 porsi kupat glabed, 2 porsi sate blengong, 1 porsi sate aya, dan 2 gelas jeruk panas, 3 gelas teh panas, kami cukup membayar 137 ribu rupiah. Jadi sate di warung Pak Saleh ini dihitung per satuan tusuk. Untuk 30 tusuk sate yang harganya sama, tinggal dikalikan 3 ribu. Untuk sate harga totalnya adalah 90 ribu rupiah. Sisanya untuk bayar kupat glabed dan minumannya. Murah banget kaaan?!


Bukan karena harganya yang murah yang bakal bikin kami akan kembali lagi menyicipi kuliner di warung Pak Saleh ini. Tapi juga citarasa sate blengong yang mampu bikin lidah kami jadi ketagihan. Sayang juga sih bila dipesan untuk dibawa pulang ke Semarang. Nanti rasanya pasti udah berubah. Mending sabar aja dulu, nunggu pembatasan selama lebaran udah selesai, kami baru bisa menikmati kuliner sate blengong lagi. Karena pengerjaan proyek rumah tinggal juga diundur jadwalnya setelah lebaran. Pas banget kan untuk kembali kesana dan menikmat lagi kupat glabed dan sate blengong.


Sobat ada yang udah pernah menikmati kuliner khas pantura ini? Cerita yuk pengalaman kalian. Apakah ketagihan seperti kami atau justru kapok? Wassalamualaikum.

Reading Time: