My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Usaha Rumahan
Tampilkan postingan dengan label Usaha Rumahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Usaha Rumahan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2022

Memulai Bisnis Rumahan Dengan Modal Minim
Juni 19, 2022 21 Comments


 

Assalamualaikum Sahabat. Saat ini setiap orang bisa memiliki usaha dengan lebih mudah. Kalian tidak butuh tempat khusus untuk memulai usaha baru. Bahkan kalian bisa menghemat pengeluaran modal usaha dengan melakukan bisnis dari rumah.


Peluang bisnis rumahan saat ini makin jadi incaran anak muda yang ingin usaha dengan modal minimalis. Bahkan ada juga yang hanya modal smartphone bisa memulai bisnis. Semudah itu ya memulai usaha dari awal. 


Sejak pandemi, banyak perusahaan melakukan PHK besar-besaran. Banyak pengangguran dadakan. Sementara itu lulusan sekolah maupun perguruan tinggai juga tiap tahun bertambah. Kompetisi mendapatkan pekerjaan makin meningkat. Mau gak mau mereka yang baru lulus pun putar otak dan mengasah kreativitas. Salah satunya dengan menjadi pemilik usaha sendiri.


Bisnis yang saat ini tengah viral adalah berjualan online. Yang paling mudah menjadi reseller karena kita tak perlu memiliki modal banyak. Cukup dengan smartphone udah bisa menjadi reseller. Kalian hanya butuh semangat bekerja, membesarkan usaha, dan memiliki strategi pemasaran yang terbaik.


Memulai Bisnis Dengan Modal Minim di Evermos

Anak muda yang baru lulus sekolah memiliki semangat yang luar biasa. Mungkin mereka belum punya modal materi yang banyak. Namun kemauan untuk bekerja dan belajar hal baru bisa menjadi modal usaha. Karena untuk menjadi pengusaha sukses itu butuh semangat belajar hal baru setiap waktu.


Nah bagi kalian anak muda yang ingin mulai usaha namun minim modal, saya punya saran agar kalian gabung menjadi reseller di Evermos. Kalian bisa loh mewujudkan mimpi dengan memulai usaha rumahan di Evermos mulai hari ini juga.


Evermos merupakan platform atau aplikasi social commerce terbaik pilihan reseller dan dropshipper. Saat ini Evermos berkolaborasi dengan brand UMKM, di antaranya ratusan brand muslim ternama Indonesia seperti hijab, gamis, qu'ran digital, buku muslim dan masih banyak lagi. 


Dengan niat ingin membangun jaringan penjualan terbesar dan membuka peluang usaha untuk memasarkan beragam produk muslim di Indonesia. Visinya adalah untuk membantu pelaku bisnis kecil dan perorangan agar berani bersaing dengan perusahaan besar atau yang udah maju.


Bagi kalian yang gabung dengan Evermos, bisa memulai usaha tanpa modal. Platform ini mengajak kalian yang masih awam dengan dunia bisnis untuk belajar secara gratis dipandu dalam tim yang udah berpengalaman. 


Apa sih keuntungan gabung menjadi Reseller Evermos? Yuk simak penjelasan berikut ini :

- Punya Toko Online Pribadi

Hanya bermodalkan smartphone, kalian bisa menjangkau konsumen lebih luas. Caranya dengan membagikan status dan bercerita tentang toko online yang kalian miliki ke sosial media. Mudah banget kaan, semua yang punya ponsel dan akun media sosial bisa melakukannya dalam sekali klik.


- Bisa Mengakses E-Katalog

Menjadi reseller juga bikin kalian memiliki kemudahan mengakses katalog produk dari lebih dari 700 brand lokal yang kualitasnya udah terjamin. Ada lebih dari 80 ribu produk berkualitas yang bisa jadi modal jualan tanpa modal. Seru kan yaaa, cukup modal rajin share di status WhatsApp atau di Instagram story.



- Belajar Bisnis Gratis

Bayangkan, udah gabung dengan mudah dan bakal belajar bisnis gratis yang dipandu oleh Trainer Profesional. Kalian bisa mendapatkan ilmu dan strategi berjualan, teknik pemasaran, bahkan juga cara berpromosi di media sosial dari trainer profesional yang udah berpengalaman. Kalian akan diajari gimana sih cara berpikir wirausahawan, mengubah mindset itu susah ya kalo nggak ada trainernya. Yuk semangat, bestie.


- Gratis Ongkos Kirim

Yang menarik adalah keuntungan gratis ongkos kirim kemana aja. Jadi nggak ada nih cerita kalian berjualan tapi mesti bayarin ongkos kirim ke konsumen.


- Pengemasan dan Pengiriman Produk Dilakukan Evermos 

Ini nih keuntungan menjadi reseller Evermos, anti ribet ribet club, gengs. Karena Evermos yang akan melakukan semua kegiatan pengemasan dan pengiriman produk langsung dari gudang kepada konsumen. Kalian nggak perlu pusing-pusing dan ngabisin waktu mengemas produk jualan.


- Jasa Titip

Nah, kalian yang punya bestie dan pengen belanja tapi nggak mau ribet, bisa tuh membuka layanan jastip. Lumayan tuh bisa order untuk titipan produk bestie kalian, ye kaaan.


- Kesempatan Umroh

Huwaaa, senangnya kalo rajin jualan, reseller bisa kok mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Yang nantinya bikin kalian mendapatkan kesempatan umroh gratis dan ini tanpa diundi loh. Masya Allah, semoga beruntung ya.


Udah jadi reseller, sukses jualan online dan mendapatkan pelanggan banyak. Kalian bisa naik kelas bergabung menjadi Reseller Premium. Keuntungan Reseller Premium pasti lebih banyak dong. 


Keuntungan Gabung Reseller Premium :

- Mendapat Komisi Referral bila kalian bisa ngajak orang lain jadi reseller. Komisi tambahannya lumayan banget, yaitu 100 ribu untuk 1 orang referral.

- Kalian juga bakal mendapat Kupon Diskon yang artinya bisa mendapatkan selisih harga. Asik banget sih.

Poin Belanja 3X lipat. Dengan poin yang makin terkumpul banyak, kalian bakal lebih dekat dengan hadiah istimewa.

- Buku Panduan Reseller yang isinya adalah materi bisnis online yang bisa kalian gunakan untuk panduan.

- Voucher Belanja Menarik, total 300 ribu dan dibagi menjadi 4 skema dan berlaku hingga 4 bulan sejak gabung Reseller.

- Goodie Bag Spesial dari Evermos


Gimana, kalian udah siap gabung di Evermos? Semoga kalian bisa mendapatkan banyak keuntungan setelah menjadi reseller. 

Evermos membuka peluang bagi siapa aja yang ingin gabung. Anak baru lulus SMA/SMK, Sarjana S1, ibu rumah tangga, ataupun pekerja kantoran. Setiap orang bisa memiliki usaha sampingan di EvermosJadi ciptakan yuk peluang usaha dari rumah, sahabat. Wassalamualaikum.

Reading Time:

Jumat, 25 Maret 2022

Merintis Usaha Pizza Homemade Dengan Modal Minim
Maret 25, 2022 9 Comments

Naumi Pizza Semarang


Assalamualaikum Sahabat. Siapa yang selama pandemi baru mulai merintis usaha? Awal pandemi sekitar Maret 2020, ah berasa udah lama ya, dua tahun kita di situasi yang tidak biasa. Ketika waktu berjalan dalam kondisi tidak normal dan warga diharuskan beradaptasi secara cepat. Perusahaan mulai terdampak usahanya dan mengambil kebijakan pengurangan karyawan.


Adik saya dan tetangga ada yang terdampak karena akhirnya pertengahan tahun 2020 itu di-PHK. Namun ada hikmahnya juga karena dia mulai merintis usaha jualan. Apa aja yang bisa mendatangkan rejeki halal, dia jual. 


Saya pernah menceritakannya di blog ini kalo adik saya berjualan burung. Dia ternak burung dan menjualnya saat udah usia remaja. Kemudia adik saya ini juga punya usaha lain yaitu kursus baca Al Quran dan Baca Tulis untuk anak usia 6 tahun. Untuk persiapan masuk sekolah dasar.


Justru dari usaha ini mendatangkan penghasilan yang melebih gajinya saat  masih kerja sebagai supervisor di pabrik meubel. Masya Allah, selalu ada hikmah di balik musibah ya.


Merintis Usaha Saat Pandemi

Saya melihat banyak kenalan yang begitu kena PHK langsung memulai usaha. Nampaknya karena sebelum di-PHK ada pemberitahuan sebelumnya, jadi mereka udah mulai riset usaha. 


Memang untuk mulai usaha baru setelah sekian lama berada di zona nyaman, butuh riset. Riset yang sederhana aja, nanya dan cari tahu produk barang atau jasa apa yang tengah dibutuhkan saat pandemi. Ada kan yang tadinya berstatus ibu rumah tangga, begitu pandemi bisa punya usaha produksi masker kain. Ada juga yang jualan masker secara online atau pun menggunakan motor keliling gang. Atau ada pula penjual masker yang mangkal di pinggir jalan.


Apapun usaha yang dilakukan sejak pandemi telah mampu untuk menjadi pemasukan keuangan. Dan ini banyak dilakukan oleh sebagian besar orang yang ingin tetap berjuang di tengah musibah global. Karena saat itu tidak ada yang tahu kapan pandemi bakal selesai. Yang berjuang dan bertahan di tengah pandemi tentu tak ingin kalah dengan kondisi saat itu. Tidak ada kepastian kapan bisa bekerja kembali di tempat semula atau menemukan perusahaan baru. Karena banyak perusahaan yang kolaps di tengah pandemi.


Saya salut pada keberanian mereka yang banting setir dan melirik usaha mandiri. Karena tidak mudah untuk membuang kenyamanan. Namun keterpaksaan yang membuat mereka mampu melakukan hal itu.


Dari Hobi Jadi Duit

Nah, mulai pengen ya punya usaha sendiri dan nggak jadi karyawan sampai tua, kan? Saya yang udah ngalami jadi karyawan selama 25 tahun ngerti banget suka duka jadi karyawan. 


Suami saya kerja jadi pegawai cukup lama juga, tapi belum mencapai waktu yang melebihi saya. Dia kerja mulai tahun 1988 dan resign tahun 2001 karena ingin memulai usaha sendiri. Bertahan sebagai pemilik usaha renovasi dan konstruksi, tanpa bermodal ijazah. Hanya pengalaman dan kepercayaan menjadi modal utama suami menekuni usaha ini sampai sekarang.


Namun tak ada usaha yang lancar mulus kayak jalan tol. Apalagi tidak ada modal bantuan dari pihak manapun. Hanya tekad, niat, dan doa untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Hingga tahun lalu, setelah lebaran suami hanya mendapatkan pekerjaan dengan nilai kontrak kecil.


Saat itu saya masih belum tergerak untuk ikut punya usaha. Suami masih ada pekerjaan meski keuntungan tidak banyak. Cukup lah untuk belanja. Sementara kebutuhan rumah tangga lainnya bisa dipenuhi dari simpanan dana darurat. Apalagi saya juga masih ada job nulis ataupun influencer. 


Namun sebenarnya sejak lama saya ingin punya usaha di rumah. Nggak perlu sewa bangunan ataupun lahan di minimarket. Jualan barang online bisa dilakukan dari rumah, itu yang ada dalam pikiran saya.


Sampai suatu hari suami mengusulkan pada saya untuk jualan telur aja di rumah. Kami punya kenalan pemasok telur. Kebetulan kami punya kios kecil di pasar yang disewa oleh pemasok telur. 


Namun ketika kami berniat memesan telur, si ibu pemasok bilang harganya sedang tak menentu. Ya udah kami menurut diminta nunggu seminggu lagi. Ternyata saat itu harga telur naik tajam. Pemasok banyak yang mengambil barang secukupnya. Mereka hanya memenuhi pesanan rumah makan atau pengecer. Dan hanya menyisakan sedikit untuk dijual di warung. 


Saya sendiri akhirnya meminta suami jangan usaha jualan telur. Takutnya rugi karena harga pasar yang masih tidak menentu. Kami bertahan dengan mengambil dana darurat. Modal yang dimiliki suami akhirnya disimpan dulu.


Meski begitu saya tetap memutar otak usaha apa yang paling dibutuhkan saat pandemi. Menurut keyakinan saya, kuliner itu salah satu usaha yang mampu bertahan saat pandemi. Namun suami saya tidak setuju dengan pilihan saya. Alasannya nanti saya malah kecapekan, takutnya jadi sakit. 


Saya sendiri memang suka masak, beberapa kali juga bikin nasi berkat ketika butuh untuk acara keluarga. Waktu anak-anak masih kecil, saya selalu bikin sendiri jajanan untuk mereka. Atau ketika ada arisan atau pengajian, baik Snack box maupun suguhannya, selalu saya masak sendiri. Ya pasti ada yang bantuin untuk beberes atau prepare seperti motong sayuran. Tapi saya jarang banget pesan, kecuali saat aqiqah anak-anak saya. Ya iya lah, abis lahiran masa mau masak sendiri untuk hajatan. Hahahaa.


Dan sajian masakan saya selalu mendapat pujian dari kerabat atau tetangga. Mereka suka dan bebeberapa kali bertanya, mengapa tidak menerima pesanan?


Saya sejak lama pengen punya catering namun suami tidak pernah setuju. Karena pekerjaan ini membutuhkan komitmen yang luar biasa. Bukan hanya modal materi tapi juga pikiran dan fisik.


Saya pernah punya usaha jualan lumpia dan pisang coklat. Saya titipkan di 5 warung dan toko. Salah satunya adalah toko yang ada usaha sampingan menjadi agen travel dan pool bus. Penjualan lumpia saya di toko ini lumayan laris. Jarang ada lumpia tersisa. Kalo pun masih ada paling sebiji atau dua biji. Lumayan sih ada tambahan pemasukan uang dan menambah tabungan saya di bank.


Namun saya tak lama melakukan usaha ini karena anak-anak yang masih kecil butuh perhatian. Saya juga saat itu masih menjadi karyawan di perusahaan distributor barang impor. Rasa lelah sepulang kerja dan masih harus menyiapkan bahan untuk bikin lumpia dan pisang coklat sungguh menyita waktu. 


Padahal peran saya masih dibutuhkan untuk nemenin anak-anak belajar. Ya saya harus ngajari anak-anak belajar di rumah karena mereka tidak mau ikut kursus tambahan pelajaran. Jadi kalo ibu-ibu saat pandemi menjadi guru di rumah, saya udah melakukan hal sama meski hanya sejam. Anak-anak merasa nyaman diajari oleh ibunya dibanding ikut kursus di luar rumah.


Usaha Dari Rumah Dengan Modal Minim

Nah kembali saya terpikir ingin usaha kuliner. Saat ini saya udah resign dari tempat kerja, nyaris udah 8 tahun. Meski ada job nulis, tapi saya merasa butuh punya jaring pengaman untuk keuangan keluarga. 


Saya dan suami adalah pekerja mandiri. Kami tidak memiliki tabungan pensiun. Jadi memang harus pintar mengatur keuangan keluarga. Untuk urusan pendidikan anak-anak, alhamdulilah kami sudah tidak memikirkan lagi. Si sulung udah bekerja, adiknya juga. Si bungsu ini sejak bekerja inginnya bisa bayar kuliah sendiri. Atau membantu sedikit dari total uang semesteran. Mungkin mereka ingin meniru langkah bapaknya yang kerja sambil kuliah. 


Jadi kebutuhan terbesar memang untuk rumah tangga kami, juga membantu ibu serta adik bungsu yang juga tidak punya penghasilan tetap. Saya dan suami insya Allah ikhlas membantu untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi kami tinggal berdekatan. Dan kami memang sejak lama sudah menjadi penanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan bapak ibu saya. 


Kembali pada keinginan saya untuk usaha kuliner. Akhirnya suami setuju saya memulai usaha kuliner. Dengan catatan saya tidak boleh kelelahan. Saya tidak boleh ngoyo, begitu istilah yang dikatakan suami. 


Saya pun memutar otak usaha kuliner apa yang tidak bikin saya cepat lelah. Hahahaa. Ada-ada aja sih syarat suami saya.


Akhirnya saya memutuskan untuk jualan pizza. Baking adalah kecintaan saya. Terutama sejak pandemi, tidak  bisa traveling, mesti di rumah terus. Bikin saya menyibukkan diri dengan lebih banyak merawat tanaman dan masak di dapur. 


Kegiatan di dapur ini lah yang bikin saya rajin mengasah kembali ketrampilan baking. Karena sejak anak-anak punya kesibukan di sekolah, dan suami juga sering keluar kota untuk urusan kerja, saya jarang baking. Bahkan urusan masak pun kadang juga diambil alih oleh catering langganan. Karena tidak setiap hari saya masak untuk keluarga. 


Nah sejak pandemi, anak-anak mulai di rumah terus. Suami alhamdulilah dapat pekerjaan juga di kota sendiri. Jadi saya mulai lagi masak untuk keluarga. Dari resep lama hingga resep baru saya coba. 


Bestik Ayam


Roti Manis untuk Snack
Roti manis untuk Snack box 
buatan saya

Termasuk bikin cemilan, dari jajanan tradisional hingga fushion food. Dari tahu walik,  cireng, pempek, hingga baguette. Ada yang saya ulangi lagi karena keluarga suka. Kadang saya pun berbagi hasil masak atau baking dengan kerabat. Mereka kebanyakan bilang, mengapa nggak jualan aja sekalian? 


Nah di sinilah akhirnya saya memutuskan untuk memilih salah satu cemilan yang paling sering saya buat. Pizza menjadi pilihan karena bikinnya gampang, praktis dan bisa disimpan. Untuk dijual, saya tidak harus repot membuat adonan dari awal. Saya bisa bikin dough atau adonan dulu, kemudian dioven sebentar. Kemudian saya simpan di freezer untuk persediaan bila sewaktu-waktu ada pembeli.


Rencananya begitu. Namun takdir bicara lain. Ketika memutuskan usaha jualan pizza produksi homemade, saya udah siap kalo pembeli susah kami dapatkan. Jadi saya nggak sedia adonan setengah matang. 


Usaha produksi pizza juga bagi saya tidak butuh modal gede. Peralatan sebagian besar menggunakan yang udah ada di dapur. Hanya perlu menambah beli loyang pizza lagi beberapa buah. Untuk beli bahan pizza juga tidak butuh modal banyak. Belanja bahan pizza awalnya saya mengeluarkan uang tidak lebih dari 300 ribu. Udah lengkap termasuk box pizza. 


Ini cerita usaha pizza Saya



Setelah menemukan harga pokok penjualan, saya lakukan langkah berikutnya yaitu tes pasar. Saya dan adik saya berencana mulai berjualan pizza Hari Sabtu tanggal 5 Februari 2022.


Namun takdir berkehendak beda. Hari Kamis usai saya bikin status di sosial media, dari Instagram dan WhatsApp, masuk lah beberapa orderan pizza. Awalnya seneng dong, ternyata ada calon pembeli yang merespon. Bahkan ada yang nggak mau nunggu hari Sabtu. Tiga pembeli awal ini minta dibuatkan pizza untuk hari Jumat. Dan ini testimoni beberapa konsumen pizza homemade.


Testimoni konsumen Naumi Pizza


Dengan semangat saya pun menerima pesanan pertama tersebut. Saya menyanggupi karena bahan pembuat dough dan toping sudah tersedia.


Hasil pizza penjualan hari pertama pun saya posting di status WhatsApp. Bertubi tubi pesanan masuk dan saya arahkan untuk hari berikutnya. Setiap hari minimal 10 loyang pizza ukuran diameter 24 dan 26 saya produksi. Saya dibantu adik saya yang tinggalnya masih di rumah ibu.


Pesanan ini masih mengalir hingga sebulan kemudian saya stop ketika kedua anak saya kena virus covid-19. Setelah sekian lama akhirnya keluarga saya kena virus ini. Anak sulung kena ketika kerja bareng salah satu lembaga pemerintah. Si sulung ini bekerja di lembaga nirlaba  yang tidak dapat saya sebutkan namanya. 


Sementara si bungsu ketahuan dari hasil tracing di tempat kerjanya yang rutin 5 hari sekali diadakan tes PCR. Akhirnya saya hentikan produksi pizza meski hasil tes antigen saya dan suami negatif.


Kemudian setelah 10 hari saya kembali memproduksi pizza lagi. Sebelum itu pada hari ketujuh setelah anak-anak positif covid, saya sempat bikin pesanan dari tetangga dan famili. Mereka tidak peduli meski kami masih isoman. Alasannya udah kangen, wkwkwkk. Ya sebenarnya hasil tes anak-anak juga udah negatif. Saya sendiri ingin istirahat setelah tiap hari baking. Mayan juga ya produksi setiap hari, bikin tubuh lelah ketika sore tiba.


Setelah libur pesanan yang masuk tak sebanyak sebelumnya. Saya tetap bersyukur karena itu tanda saya nggak boleh berlelah-lelah memproduksi pizza. Karena pernah sehari bikin 17 loyang pizza, sorenya saya tepar. Nggak bisa nyiapin makan malam untuk keluarga. Ujung-ujungnya jajan online, hahahaa.


Selama ini saya hanya memasarkan produk pizza rumahan ini via posting foto di status WhatsApp. Saya juga mempromosikan di akun Instagram. Namun kalo pesanan yang masuk cukup banyak, saya udah gak punya tenaga untuk motret hasil jadi pizza. Bisa tetap tegak berjalan aja udah alhamdulilah. 


Pizza homemade


Saya masih ingin bisa berjualan pizza kepada masyarakat lebih luas. Rencananya ingin nyoba jualan di market sebuah aplikasi online. Atau punya gerobak kece dengan warna ngejreng dan sewa lahan di minimarket. Cuma saya masih harus melakukan survei untuk menentukan lokasi yang tepat.


Mengapa saya serius menekuni usaha ini? Karena saya ingin adik saya punya usaha yang bisa dijadikan sumber penghasilannya. Saya tidak tahu apakah saya bisa membantu kehidupan adik dan ibu saya. Kalo saya dan suami masih diberi umur panjang, insya Allah kami masih bisa membantu. Siapa yang tahu sepekan, dua bulan, atau setahun depan, saya dan suami masih berumur panjang?


Itu yang jadi alasan saya ingin punya usaha di rumah. Untuk merintis usaha yang bisa jadi sumber penghasilan untuk keluarga saya yang masih bergantung pada kami. Alhamdulillah mulai bulan ini suami udah mengerjakan proyek pengerjaan bangunan lagi. Insya Allah kami bisa kembali mengumpulkan dana darurat. Semoga kita semua diberi kesehatan, rejeki yang berkah dan berkecukupan, selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin. 


Sekian ya curhat tentang usaha dadakan yang tidak sengaja menjadi tambahan sumber penghasilan. Silakan kalo ingin memberikan saran untuk usaha saya dan keluarga. Terima kasih udah berkenan membaca cerita saya. Wassalamu'alaikum.

Reading Time: