My Mind - Untaian Kata Untuk Berbagi: Kekerasan Verbal
Tampilkan postingan dengan label Kekerasan Verbal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kekerasan Verbal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 November 2023

Pesan Ibu Untuk Anak Laki-laki Yang Akan Melepas Masa Lajangnya
November 02, 2023 5 Comments
Assalamualaikum Sahabat. Setiap manusia lahir di dunia akan menjalani proses kehidupan yang nyaris sama. Mulai lahir, tumbuh berkembang menjadi dewasa, kemudian menikah, memiliki anak dan seterusnya. Ini hal biasa dalam kehidupan. Dan saya akan menjalankan proses selanjutnya ketika memiliki anak yang udah masuk usia dewasa. InsyaAllah si sulung berniat ingin menyempurnakan agamanya dengan menikah 


Gadis pilihannya udah dikenalkan pada kami sekeluarga sejak dua tahun lalu. Antara haru, bahagia, juga agak cemas sebenarnya, mungkin seperti orang tua umumnya yang akan melepas anaknya untuk memasuki hidup berumah tangga. Apalagi ini adalah anak sulung, tentunya banyak harapan yang kami sematkan padanya.

Tanggal pernikahan sudah ditetapkan oleh anak-anak berdua, kami hanya menyetujui setelah mendengar alasan mereka. Sambil menanti hari H, sesekali saya dan suami pun memberi saran, nasihat, dan hal-hal yang perlu dilakukan si sulung. Beberapa hal sudah kami bicarakan dalam suasana santai dan tidak ada waktu khusus. Namun ada juga yang masih kami tahan dan rencananya akan kami sampaikan di sisa waktu jelang hari pernikahan mereka.

Berikut ini beberapa hal yang kami sampaikan pada si sulung sebelum menikah :

Persiapkan Finansial Sebelum Menikah 

Kehidupan di dunia ini memang butuh persiapan finansial yang matang. Apalagi mau melamar anak gadis orang, tentunya dibutuhkan materi. Di sini maksudnya untuk menghargai seorang anak gadis orang yang sejak lahir dan dibesarkan menjadi seseorang perempuan untuk dipinang.

Memang ada hadist yang menyatakan bahwa menikah itu hendak lah meringankan si laki-laki. Namun namanya juga hidup dalam lingkungan di negeri yang menganggap pernikahan bukan hanya untuk dua orang. Ada keluarga besar yang akan bergabung dan mendoakan calon pengantin.

Jadi saat si sulung mengutarakan keinginannya untuk menikah, sebenarnya saya kaget. Karena saat itu dia bahkan tengah nganggur karena efek pandemi. Ya ada sih pemasukan sedikit dari jualan online dan kerjaan di channel youtube-nya. Namun pernikahan itu butuh biaya yang tidak sedikit dan saya yakin tabungan si sulung udah abis digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.

Namun saya mendadak ingat kalo seorang laki-laki berniat menikahi calon pasangannya, doakan mereka. 

"Semoga anakku sebentar lagi mendapat pekerjaan yang gajinya bisa ditabung untuk biaya pernikahan,"

Doa saya diaminkan si sulung. Saya nggak nyangka, tidak butuh waktu lama, si sulung ngabari dia mendapat panggilan wawancara.

Sebenarnya selama nganggur itu, dia sesekali dapat panggilan wawancara namun selalu menjadi sales. Dan Masya Allah, selang sehari si sulung ngabari kalo dia diterima dan harus segera ikut pendidikan di salah satu hotel di Kota Semarang.

Saya takjub dengan janji Allah SWT yang langsung dihadirkan seketika niat si sulung menikah tercetus kala itu. Itu jeda waktunya nggak ada 2 minggu, beneran ya Masya Allah. Saya sampai nangis terharu dan mendoakan yang terbaik untuk pekerjaan si sulung yang ada hubungannya dengan kesehatan ini.

Saya yakin Allah azza wa jalla sudah mempersiapkan waktu terbaik untuk si sulung bisa mendapatkan pekerjaan ini. Dan akhirnya si sulung bisa mempersiapkan biaya pernikahan dengan menabung lagi setiap bulannya.



Persiapkan Spiritual Sebelum Menikah 

Saya selalu menekankan pada si sulung agar lebih banyak lagi menyisihkan waktu belajar fiqih pada seorang ustadz. Sebagai seorang suami, laki-laki Muslim juga harus siap untuk memandang pernikahan sebagai salah satu cara beribadah kepada Allah.

Ibadah mempunyai aturan yang sudah disiapkan. Itu lah sebabnya si sulung saya harapkan mau mempelajari apa saja kewajibannya sebagai suami, apa yang menjadi hak istri, dan apa yang menjadi tanggungjawab seorang ayah terhadap anak-anaknya.

Saya bersyukur si sulung menemukan pendamping yang mengerti agama. Calon pendamping si sulung taat dan menjalankan ibadah dengan benar. Dari mana saya tahu? Sebagai ibu tentu saya memiliki intuisi tentang calon pendamping anak saya.

Persiapkan Mental Sebelum Menikah

Sebelum memasuki kehidupan berumah tangga, banyak hal yang harus dipersiapkan oleh si sulung dan calonnya. Saya inginnya mereka tidak hanya fokus pada persiapan hari H atau wedding day. Bukan hanya sekadar tanggal, waktu, lokasi pernikahan, gaun dan jas pengantin, katering, hingga rencana bulan madu. 

Selain materi ada juga hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan dan dipersiapkan, yaitu persiapan mental. Suami saya sesekali mengajak keduanya bicara dalam suasana santai (seringnya hanya si sulung yang diajak ngobrol).

Persiapan Mental yang perlu dilakukan adalah :

- Mulai Biasakan Dengan 'Kita'

Begitu menikah, dua orang yang saling menyayangi akan menjadi satu kata yaitu KITA. Namun tentunya masing-masing tetap akan memiliki hak privasi. Hal yang perlu diingat adalah, pernikahan itu dijalankan oleh dua orang yang memiliki tujuan yang sama yaitu  membangun keluarga. Jadi tentunya butuh kerjasama dan mengesampingkan ego masing-masing. Sebuah pernikahan adalah dua pemikiran yang saling melengkapi tanpa ada saling menguasai.

- Memahami dan Menerima Perubahan Karena Pernikahan

Setelah menikah pasti akan ada banyak perubahan yang terjadi. Perubahan yang muncul bisa berupa skala prioritas, gaya hidup, pengeluaran bersama, dan tabungan. Bahkan bisa jadi cara memandang masing-masing bisa berubah. Mungkin selama masa pacaran atau penantian pernikahan, mulai terbuka sedikit demi sedikit. Namun saya yakin akan ada yang berubah begitu memasuki rumah tangga. 

Agar tidak terjadi perbedaan pendapat di kemudian hari, saya meminta si sulung agar bersikap dewasa dan mengerti bahwa terdapat beberapa hal yang harus disikapi dari dua sisi. Saya berharap si sulung bisa menjadi suami yang menyayangi istrinya. Apabila ada permasalahan yang muncul, semoga dia bisa mengajak komunikasi yang baik dan jangan sampai ada kekerasan verbal.

Hal ini lah yang membuat saya dan suami ingin putra kami melihat hubungan ayah ibunya sebagai contoh. Sepanjang pernikahan kami, insya Allah belum pernah ada pertikaian yang menggemparkan hingga banting pintu ataupun benda. Ucapan yang keluar saat emosi pun juga jangan sampai menyakiti hati pasangan kami.

- Belajar Memaafkan Pasangan

Dalam pernikahan itu akan selalu ada masalah yang muncul. Namanya juga dua orang dengan pikiran yang tidak sama. Saudara kandung pun bisa saja bertikai meski terlahir dan mendapatkan pengasuhan yang sama. Apalagi dua anak manusia yang menjalin hubungan dalam satu pernikahan.

"Semua masalah selalu ada solusinya, jadi berpikir lah terbuka dan komunikasi yang baik dengan istrimu kelak," pesan ini saya tekankan pada si sulung.

Saya dan ayahnya menitipkan pesan, agar menjadi suami yang rendah hati, terbuka dengan saran yang disampaikan istri, dan memaafkan kesalahan yang ada. Manusia itu tempatnya salah. Sudah sewajarnya saling memaafkan dan jalin hubungan yang baik. Harapan saya si sulung bisa mengelola emosi dengan positif. Meski sejak kecil hingga sekarang saya belum  pernah melihat si sulung emosional. 

- Bicarakan Tujuan Pernikahan

Saya dan suami sering bercerita bagaimana kami dulu menikah. Kami membicarakan semua hal yang perlu diungkapkan sebelum memasuki pernikahan. Hal ini kami lakukan begitu anak-anak memasuki usia dewasa. Alasannya adalah kedua anak kami insya Allah akan menjadi pemimpin keluarga. Setidaknya dia yang akan menjadi penentu kebijakan dalam rumah tangganya dengan mendengar saran dari anggota keluarga termasuk pasangannya.

Mereka harus punya tujuan gimana pernikahan akan terwujud, apa impian mereka dan pasangannya masing-masing. Mereka tahu gimana saya dan ayahnya memiliki impian bisa berangkat haji selagi muda. Dan alhamdulillah impian itu bisa terwujud saat kami menunaikan ibadah haji tahun 2014 saat usia kami 46 dan 47 tahun. Saya inginnya mereka juga memiliki impian yang sama seperti kami di luar impian lainnya. Karena ibadah haji itu wajib bagi muslim yang mampu.

- Bicara Tentang Keuangan Keluarga

Calon pengantin


Sebelum menikah, calon pengantin wajib membicarakan masalah keuangan secara terbuka. Agar kelak ketika memasuki pernikahan, mereka tidak terguncang bila menemukan masalah keuangan.

Saya pun dulu melakukan hal ini. Saya ajak calon suami saat itu membicarakan keuangan kami. Berapa gaji kami berdua (saat itu saya belum tahu apakah akan resign), jumlah pengeluaran bulanan, tabungan kami, dan rencana keuangan kami di masa depan. Semua saya kupas tuntas meski awalnya calon suami enggan. 

Namun saya memang nggak ingin terjadi ribut di kemudian hari apabila sebelum menikah tidak membicarakan masalah keuangan ini. Tahu kan kalo ribut-ribut tentang keuangan keluarga bisa menyulut emosi. Saling menyalahkan dan mau menang sendiri bisa saja terjadi. 

Jadi alhamdulillah sepanjang pernikahan kami tidak pernah ribut masalah uang. Karena kami sudah bicarakan hal ini sebelum menikah, aman jadinya. Ketika ada masalah keuangan muncul, tinggal ambil solusi dan dibicarakan berdua. 

---------------

Ahhh rasanya saya harus bersabar menanti hari H pernikahan anak saya yang sulung. Tentu saya dan suami menanti dengan memperbanyak doa dan dzikir. Tak lupa juga meminta bantuan doa pada kerabat yang tiap kali berjumpa menanyakan tentang kapan pernikahan si sulung. Mohon doanya ya sahabat, wassalamualaikum.
Reading Time:

Selasa, 15 November 2022

Self Love Atau Mencintai Diri Sendiri Sebelum Jatuh Cinta
November 15, 2022 13 Comments

Assalamualaikum Sahabat. 30 tahun yang lalu, sebelum menikah tapi udah pacaran, saya sempat gamang. Tetangga depan rumah pasangan suami istri dengan 4 anak, sering bertengkar. Kalo bertengkar kadang benda pun melayang. Saya yang tak pernah melihat pertengkaran hebat dalam perkawinan bapak dan ibu, melihat itu jadi takut. 


Bagaimana bila hal sama terjadi pada saya kelak? Saya, anak perempuan sulung yang tak pernah mendapat bentakan dari bapak, apa bisa menerima bentakan dari laki-laki yang jadi suami saya? Saya tidak ingin mengalami kekerasan dalam rumah tangga seperti tetangga. Saya mencintai diri sendiri hingga nggak bakal mengijinkan seorang laki-laki melakukan KDRT dalam sebuah pernikahan.


Pentingnya Self Love Untuk Perempuan Sebelum Jatuh Cinta

Orang sekarang sering menyebut self love untuk kesehatan mental. Terutama sejak pandemi, saat imunitas tubuh sangat penting. Kesadaran tentang kesehatan mental dianggap menjadi bagian penting pula.


Self love artinya mencintai diri sendiri. Tetapi tentu saja bukan berarti kita egois memenuhi keinginan diri sendiri terus menerus. Makna Self-love adalah dengan mengharuskan kita memperlakukan dan menerima diri sendiri dengan baik dan apa adanya.


Perempuan begitu mudahnya jatuh cinta tanpa memiliki kesadaran apa yang bakal ditemuinya nanti. Dia tak menyiapkan fondasi baik secara materi maupun mental ketika jatuh cinta. Mungkin tidak semua perempuan bersikap seperti ini. Saya sendiri nggak mau seperti lirik lagu Agnez Mo, Cinta ini tak ada kata logika. Saya justru menggunakan logika saat menjalani hubungan kasih dengan pacar (suami saya, suwer dia bukan cinta pertama tapi pacar pertama saya, hihiii).


Terlebih saya sudah melihat beberapa pernikahan yang gagal di tengah jalan karena beragam kasus, meski kebanyakan karena KDRT. Saya melihat sendiri kerabat yang mengalaminya. Bahkan ada kasus yang terjadi di depan kantor, penjual makanan yang mengalami KDRT. Sedih loh melihat tapi tanpa bisa menemukan solusi pencegahan KDRT Pada Wanita


Menurut saya, mencegah itu lebih baik dibanding mengobati luka yang dialami para wanita ini. Saya bukannya diam tanpa membantu sedikit pun. Saya bahkan siap menjadi pendamping untuk mengenalkan mereka yang mengalami KDRT pada wanita untuk mendapatkan perlindungan. 


Namun ketika wanita yang menjadi korban menolak keras, apa daya saya? Jadi ketika usaha sudah saya jalankan, keputusan akhir memang ada pada si korban KDRT.


Itu lah sebabnya saya sejak pacaran udah memberikan batasan pada diri sendiri tentang suatu hubungan dua arah. Saya tidak akan mau dirugikan, menjadi korban baik kekerasan fisik maupun mental dalam sebuah hubungan dengan seseorang, apalagi dengan calon suami. Sejak masih remaja saya merasa kayak disiapkan oleh bapak agar menjadi wanita yang punya tujuan, tidak bergantung pada orang, dan pantang menyerah. 


Dalam perkembangan usia, saya juga menumbuhkan sikap tidak mau bergantung dalam mengambil keputusan. Untuk menjadi pribadi yang tangguh, saya butuh mencintai diri saya. Siapa lagi yang mau menghargai diri kita kalo bukan kita sendiri?


Saya saat itu menyadari, mencintai diri sendiri itu modal kita mampu berdiri tegak dan tidak memusingkan omongan orang. Sepanjang kita sudah melakukan sesuatu hal, baik yang sederhana maupun yang penting, itu cukup. 


Mencintai diri sendiri bisa membangkitkan rasa bangga pada diri sendiri karena sudah mampu menyelesaikan sebuah tujuan baik suatu karya maupun cita-cita. Tapi rasa bangga ini bukan lantas menjadikan kita sombong, bukan yaa. Itu lah pentingnya mengelola self love atau mencintai diri kita dengan cara positif. 


Modal Self Love Agar Terhindar Dari KDRT 

Ketika perempuan ada dalam ikatan pernikahan, akan banyak effort yang dikeluarkannya. Bisa terjadi juga pada laki-laki sebenarnya. Namun menurut saya, ketika perempuan dan laki-laki sudah memutuskan untuk menyatukan cinta dalam pernikahan, wajib banget memegang komitmen. 


Nggak hanya komitmen, tapi juga menjunjung niat baik sebelum menikah, takut pada Tuhan, menghargai pasangan, dan masih ada yang lainnya. Memang tidak mudah menjalani hubungan dalam pernikahan. Namanya juga dua pribadi yang memiliki banyak perbedaan berinteraksi dalam pernikahan.


Sepanjang usia pernikahan saya selama 28 tahun ini, self love ini ternyata bermanfaat menjaga hubungan dengan suami dan anak-anak. Tidak ada luka masa kecil ataupun remaja yang menghalangi langkah saya menjadi istri dan ibu. Terlebih memiliki pasangan hidup yang selalu mendukung apapun impian yang masih ingin saya capai, menambah kepenuhan rasa dalam diri. 

Laki-laki dengan sifat mirip Bapak
menempatkan impian saya sebagai tujuan hidupnya

Sungguh saya tidak pernah merasakan KDRT baik fisik maupun kekerasan verbal selama menikah. Hal ini yang menjadikan saya ibu yang bahagia dengan dukungan suami yang super love. Dalam hal ini termasuk model pengasuhan bergantian agar saya memiliki me time. Saat saya ingin membaca novel, hobi yang sejak kecil sudah melekat di diri, suami siap menidurkan anak-anak. Atau ketika saya ingin ngumpul dengan sahabat semasa kuliah, suami siap nemenin anak-anak di rumah dan bermain seharian.


Mencintai diri mampu menepis rasa insyekur menjadi penuh rasa syukur. Merasa bahagia dengan apapun yang saya miliki tanpa merasa rendah diri dengan pencapaian orang lain. 


Hal sama yang saya harapkan dirasakan anak-anak agar mereka bersyukur dengan cinta dari ibunya. Cinta yang tulus, yang tak pernah menghakimi dengan setiap pilihan mereka. Cinta yang akan selalu ada mendampingi mereka bertumbuh. 


Semoga Allah azza wa jalla senantiasa menjadikan anak-anak saya seperti bapaknya, yang selalu memberikan cinta yang tanpa batas pada ibu mereka. Self love atau mencintai diri sendiri sebelum melabuhkan cinta pada seseorang yang spesial itu wajib. Wassalamualaikum.

Reading Time:

Kamis, 30 April 2020

Mendampingi Anak Korban Verbal Bullying Bisa Move On dan Punya Prestasi
April 30, 2020 25 Comments

Mendampingi Anak Korban Verbal Bullying


Assalamualaikum Sahabat. Tema arisan periode 6 ini mengingatkan saya saat si bungsu kelas 5 SD. Biasanya bullying itu dilakukan oleh sesama teman atau kakak kelas, adik kelas kan. Beda yang dialami si bungsu, dia menjadi korban bullying gurunya.

Saya sebenarnya udah menutup luka lama ini. Dahulu saya bahkan sempat mengucapkan kalimat, enggak apa anak saya menjadi korban. Tapi insyaa Allah, dia akan menjadi anak yang sukses. 

Meski saya nggak mau anak saya menjadi martir. Karena guru yang mengajar di kelas 5 ini setiap tahun selalu melakukan hal serupa. Korbannya aja yang ganti karena anak didiknya kan naik ke kelas berikutnya.

Cerita Korban Verbal Bullying Kala Itu...

Saya melihat perubahan perilaku Naufal. Dia bungsu kami yang selalu ceria mendadak jadi pendiam. Memang aslinya anaknya pemalu tapi enggak pendiam banget lah kalo di rumah. Dan saya pun mencari informasi ke putra tetangga yang satu kelas dengan si bungsu ini.

Ternyata temannya nggak tahu, apa yang dialami si bungsu saat di sekolah. Saya bahkan tak menaruh curiga kalo anak saya ini mengalami verbal bullying.

Baru lah saat beberapa hari kemudian si bungsu curhat tentang nilainya yang menurun. Alasannya dia tidak bisa mendengar gurunya berbicara karena duduknya di belakang. Si bungsu memang anaknya bongsor, waktu usia 10 tahun itu BB udah 43 kg. Abis khitan juga waktu naik kelas 5 jadi nambah tinggi dan gemuk. Anaknya doyan makan dan nggak punya pantangan, apa aja doyan.

Saya pun berkunjung ke kelas 5 esok harinya untuk menanyakan tentang rolling tempat duduk siswa. Namun rupanya guru kelasnya kurang berkenan dengan pertanyaan saya tentang rolling kursi ini. Padahal di sekolah itu udah biasa siswa melakukan rolling tempat duduk tiap minggu sekali. Jadi tiap siswa akan merasakan duduk di kursi depan, belakang, samping kanan, ataupun kiri. Adil kaaan?!

Saya pun pulang ke rumah namun tetap meminta guru kelas si bungsu agar mendengarkan aspirasi orang tua murid.

Saya juga memantau perkembangan tentang rolling dengan bertanya pada si bungsu seminggu kemudian. 

"Gimana dek, masih duduk di belakang sendiri?"
"Sekarang dduduk paling depan," Naufal tertawa, terlihat hepi.

"Alhamdulillah ya dek, jadi dengar dong ucapan Bu Guru,"

Saya udah melupakan masalah ini, sambil tetap menitipkan pesan agar dia protes kalo duduknya di belakang terus kayak kemarin. Semua siswa punya hak untuk meminta rolling tempat duduk.

Ternyata ada kejadian yang agak parah dialami si bungsu. Entah bagaimana kesalahannya, si bungsu kerap dipanggil dengan sebutan anak bodoh. Saya mendapat info dari tetangga yang anaknya satu kelas dengan si bungsu.

Saya marah dong! Masa ada seorang guru yang memberikan jugdment kata-kata buruk pada siswanya sendiri?!

Saya pun mendatangi guru kelasnya dan protes dengan ucapannya. Tentu saja saya mengajukan keberatan dengan sopan, bukan memaki atau berteriak. Saya masih punya adab sopan santun juga dan tak ingin si bungsu malu dengan sikap ibunya.

Entah guru kelas yang sejak awal nggak suka dengan permintaan rolling hingga terbawa dengan masalah terakhir, saya tidak tahu. Yang pasti tiap saya mengajukan keberatan dengan senyum manis, beliau juga menanggapi dengan baik. Namun ternyata dia memberikan penilaian buruk tingkah laku si bungsu. Bahkan kepala sekolah udah mendapat laporannya.

Saya mengetahui masalah ini saat dipanggil oleh kepala sekolah. Katanya ada yang melaporkan bahwa anak saya merokok di sekolah. Astaghfirullah... saya itu orang yang paling keras dengan perokok. Masa iya anak saya malah merokok di sekolah?

Dari hasil perbincangan dengan kepala sekolah, saya mendapat informasi bahwa si bungsu terlihat memegang rokok dan meniup-niupnya. Ada guru agama yang melihat dari jauh. Karena tahu si bungsu adalah siswa guru A, dia pun lapor pada guru kelasnya.

Yang bikin saya kecewa adalah ucapan guru kelasnya. Seperti ini ucapannya,"Saya tahu Naufal itu merokok karena nyontoh bapaknya,"

Mata saya membesar, kaget dong. 

"Maaf Ibu, dari mana Ibu tahu kalo suami merokok? Coba kalo berbicara dengan mengemukakan fakta yang benar. Suami saya itu orang yang nggak pernah merokok, baik di rumah, di lingkungan RT RW, keluarga besar."

Guru wali kelasnya cuma tersenyum, melihatnya aja udah nggak enak banget lah waktu itu.

"Ibu kan pendidik, masa dengan mudah selalu memberikan jugdment negatif seperti itu. Silahkan datang ke tetangga saya, Ibu tahu kan rumah kami. Tolong tanya kepada mereka, apakah suami saya seorang perokok?!"

Masalah ini diselesaikan dengan peringatan untuk anak saya agar tidak mengulangi perbuatannya. Masya Allah, saya sungguh harus bersabar mendengar keputusan itu. Saya hanya mampu mengucap istighfar agar tidak emosi mendengar anak saya dikatakan merokok di sekolah.

Selang beberapa bulan kemudian, baru saya tahu bahwa si bungsu memang memegang rokok. Dia menemukan rokok yang masih panjang. Namun dia dan temannya saling memegang bergantian. Apesnya waktu dipegang si bungsu, ada guru agama yang melihat. 

Saya melihat ada kondisi yang memang tidak menguntungkan si bungsu. Namun saya yang udah lelah protes ke sekolah, menganggap ini adalah ujian bagi saya di si bungsu.

Bahkan ada saran dari tetangga yang anaknya pernah menjadi siswa di bawah arahan guru tersebut, untuk memberi amplop. Saya tegas menolak waktu suami cerita saran tetangga. Memang guru tersebut terkenal suka diberi sesuatu oleh orang tua murid. Dan tiap tahun selalu bermasalan dengan anak didiknya hingga sering mendapat protes dari orang tua siswa.

Saya dan suami bahkan baru tahu, saat itu sebenarnya ada beberapa wali murid yang juga ingin mengajukan keberatan pada kepala sekolah atas perbuatan guru kelas 5. Namun mendengar sikap kami yang sudah protes duluan, mereka nggak jadi melakukannya. 

Masalah yang dihadapi anak-anak mereka tidak sama persis. Namun guru kelas tersebut melakukan verbal bullying pada siswa-siswa yang juga teman sekelas Naufal. Ada yang disebut anak goblok, atau tukang jajan, dan sebutan negatif lainnya dan itu tidak pantas diucapkan oleh guru wali kelas atau pendidik.

Mendampingi Anak Korban Verbal Bullying

Picture by Pexels
Bukan hal mudah mendampingi si bungsu saat kena bully gurunya. Dia sampai trauma tiap Senin pagi tiba. Misalkan sejak pagi udah siap dengan pakaian dan sarapan, mendadak mogok ke sekolah. Pusing kan saya waktu itu, apalagi masih harus mempersiapkan berangkat kerja. Beberapa kali saya ijin terlambat ke kantor karena mencari tahu apa yang sedang terjadi pada si bungsu.

Peran orang tua mendampingin anak yang menjadi korban verval bullying ini sangat penting. Setiap hari saya memberikan dukungan dengan menyuntikkan kalimat motivasi agar si bungsu tidak takut terhadap gurunya. 

Yup, si bungsu seperti ketakukan berangkat dan bertemu guru kelasnya. Trauma banget pokoknya. 

Alhamdulillah dengan pendampingan yang saya lakukan bersama suami dan kakaknya, si bungsu berangsur pulih. Dia bisa naik kelas dengan nilai memuaskan. Terlebih guru kelas 6 yang menjadi wali kelasnya adalah orang yang senang memotivasi. 

Usai terima raport, guru wali kelas 6 langsung mendatangi si bungsu dan mengajak bicara. Ternyata guru wali kelas 6 ini telah membiasakan untuk menyambut calon siswanya dengan mengucapkan kalimat motivasi. Agar semangat dan siap menjadi siswa kelas 6 yang selalu bahagia. 

Aduh sungguh saya terharu mendengar cerita si bungsu tentang kalimat motivasi yang disampaikan gulu kelas 6. Seakan kondisi yang dialami si bungsu sebelumnya terhapus oleh ucapan yang bikin hati adem.

Saya ingin sharing apa aja yang mesti dilakukan orang tua untuk mendampingi anaknya yang menjadi korban verbal bullying. 

Verbal bullying itu tidak terlihat secara fisik namun tidak boleh dibiarkan. Verbal bullying adalah penindasan yang dilakukan dengan mengucapkan kalimat negatif. Efeknya bisa lebih dahsyat dibanding kekerasan fisik. Karena tahu dong kekerasan verbal itu nancap di hati, bahkan ada yang mengakibatkan efek 'mematikan' si korban.

Berikut ini tips mendampingi anak korban verbal bullying :

1. Kenali Gejala Anak Kena Verbal Bullying 

Picture by Pexels
Verbal bullying tidak terlihat karena kekerasan dalam bentuk ucapan. Namun orang tua bisa mengenali dari gejala yang nampak. Dari perubahan perilaku, sikap anak yang semula ceria berubah murung. Atau anak mencari perhatian dengan melakukan tindakan yang tidak seperti dirinya selama ini. 

Bisa terlihat kok, seperti saya yang menemukan si bungsu terlihat tidak hepi. Tidak lagi mau duduk dekat saya saat nonton TV. Ternyata dia membentengi dirinya agar tidak diajak bicara oleh saya, ayahnya maupun kakaknya.

2. Ajak Anak Menghadapi Pelaku Bullying

Saya sudah mengetahui bahwa pelaku bullying adalah guru kelasnya. Pertama tahu pelaku verbal bullying adalah guru, saya mencari tahu tentang dirinya. Rupanya beliau udah dikenal sebagai guru yang suka melakukan verbal bullying. Setiap tahun selalu ada siswa yang menjadi korban bully dan enggak hanya satu anak. 

Namun saat itu kekerasan verbal belum begitu diperhatikan seperti halnya kekerasan fisik. 

Beda ya tindakan menghadapi pelaku verbal bullying dari guru dan sesama teman. Guru itu punya kuasa memberikan nilai pada anak saya. Jadi saya harus pintar-pintar mencari kalimat yang tidak menambah beban bagi si bungsu ketika di kelas. Gurunya kalo nggak suka dengan wali murid yang kena anaknya. Tapi saya selalu memberi pengertian pada si bungsu bahwa dia harus berani bertanya di kelas. Dia juga tidak boleh mendengarkan omongan negatif dari gulu kelasnya. 

3. Beri Tahu Pihak Sekolah

Sebenarnya sebelum saya melakukan tindakan protes, ada temannya Naufal yang udah kena duluan dan ada dua anak. Cuma karena anaknya tidak ngasih tahu orang tuanya, tenggelam deh dengan kasus anak saya. Orang tua mereka ini yang ternyata punya rencana akan protes kepada kepala sekolah, namun nggak jadi. Sudah ada saya yang menjadi leader protes duluan.

Kepala sekolah pun sebenarnya sudah mengetahui bahwa tenaga guru yang mengajar kelas 5 sudah serin diprotes wali murid. Dua tahun sebelum anak saya, ada orang tua murid yang melaporkan hingga ke Dinas Pendidikan Kota. Udah ada teguran pula, namun belum sampai dipindahkan ke sekolah lain.

Jadi ketika saya protes pun tanggapan kepala sekolah hanya menenangkan dan berjanji akan menegur guru kelas 5. Namun bukannya berubah, justru anak saya yang diintimidasi. Puncaknya kejadian tentang merokok seperti yang saya ceritakan di atas.

4. Pantau Selalu Keadaan Anak

Orang tua jangan pernah menyerah ketika anak merengek tidak ingin sekolah. Seperti anak saya tiap hari Senin seperti kayak trauma enggak mau masuk ke sekolah. Pernah saya mendapat telpon dari suami yang mengabarkan kalo si bungsu lari keluar dari halaman sekolah menuju masjid. Akhirnya diajakin mengambil air untuk wudhu dan shalat Dhuha. Usai shalat, diajakin ngobrol lah sama babenya. Dan akhirnya mau masuk kelas setelah beberapa waktu.

Suami sendiri yang nganter tapi dari jauh dan guru kelasnya melihat keluar saat Naufal masuk kelas. Tahu kayaknya kalo ayahnya Naufal anter dari jauh, karena senyumnya manis sekali saat menyambut si bungsu.

Intinya tetap pantau sikap anak, perhatikan hal kecil, tanya kegiatan apa seharian itu di kelas. Bagaimana sikap si pembully, apakah udah ada perubahan dari nya. Orang tua diharapkan mampu meyakinkan anak bahwa kasus itu bukan kesalahannya. Dia bukan anak yang bodoh. Selalu beri motivasi untuk anak berani mengajukan pertanyaan ketika di kelas. 

5. Pindah Sekolah

Foto taken by ARTEM Photography
Jika masalah bullying terus berlanjut dan kondisi anak semakin parah, orang tua harus peduli. Mungkin mereka bisa mencari solusi dengan memindahkan sekolah baru. Atau memilih konsep belajar home schooling. Dan pilihan belajar di rumah ini sempat terpikirkan oleh saya. Namun suami tidak setuju mengingat saya masih kerja di kantor. 

_______________

Intinya, Moms... jangan menyepelekan seorang anak yang menjadi korban verbal bullying. Karena dampaknya bisa melekat hingga jangka panjang bahkan sampai dia tumbuh dewasa. Emosinya bisa berubah dalam sekian menit karena bisa saja dia belum bisa memaafkan dirinya sendiri akibat jadi korban verbal bullying.

Korban verbal bullying ini juga mengubah sikap seorang anak menjadi tidak percaya diri. Sedih loh saya tiap kali di rumah anak udah dimotivasi, trus ke sekolah percaya dirinya hilang gara-gara ucapan negatif gurunya.

Semoga kejadian verbal bullying ini tidak tejadi pada anak lain. Saya dulu berdoa seperti itu, cukup berhenti pada anak saya. Dan kabarnya ketika si bungsu udah masuk ke sekolah lanjutan, gurunya ini udah dipindahkan ke kelas yang lebih rendah. Perubahan perilakunya juga ada dan tidak lagi suka membully siswanya. 

Alhamdulillah saya jadi mendapat pelajaran juga dari kejadian ini. Meski saya jadi trauma dengan sekolah negeri, paling tidak saya berani mengupayakan hak anak saya. Senangnya di SMP yang kami pilihkan ini ada sesi konsultasi dengan psikolog. Saya jadi bisa curhat tentang peristiwa saat si bungsu kelas 5. Sesi konsultasi ini juga menggali minat dan ketrampilan anak didik sehingga bisa diarahkan ikut kegiatan eksul di sekolah. Dari sini lah si bungsu terpilih mewakili sekolah untuk lomba desain graphis dan dapat membawa pulang kemenangan sebagai juara ketiga. 

Tak selamanya anak korban verbal bullyng menjadi tidak punya prestasi. Asal orang tua mau meluangkan waktu dan mendampingi dengan benar, mereka pun dapat meraih prestasi sesuai minat. Sahabat punya pengalaman seperti saya? Sharing yuk, kalian enggak sendiri. Wassalamualaikum.
Reading Time:

Senin, 28 Januari 2019

Melindungi Anak Dari Kekerasan Fisik dan Verbal, Bisa kah?
Januari 28, 2019 41 Comments

Melindungi anak dari kekerasan

Assalamualaikum Sahabat. Melindungi Anak Dari Kekerasan Seksual, Bisa kah? Harusnya bisa sih. Kekerasan seksual itu bisa terjadi pada siapa saja. Terlebih lagi anak-anak, kondisinya yang masih kecil dan tak berdaya untuk menolak atau melindungi dirinya sendiri, menjadi korban termudah.

Perlindungan anak sebenarnya sudah diatur oleh negara. Undang-Undang Republik Indonesia no. 35 tahun 2014, tentang perubahan atas UU no. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dalam undang-undang tersebut sudah ditegaskan perlunya pemberatan sanksi pidana dan denda bagi pelaku kejahatan terhadap anak. Terutama kejahatan seksual yang tujuannya untuk memberikan efek jera. 

Perlindungan Anak Dari Kekerasan Keluarga

Pernah nggak sih kalian menyaksikan orang tua yang melakukan kekerasan pada anak-anaknya?

Lantas apa yang kalian lakukan saat itu? Menjadi penonton, ikut mencegah agar kekerasan tidak berlanjut lagi, atau tidak peduli?

Dalam lingkungan kehidupan urban saat ini, setiap orang bisa saja menjadi manusia individualis. Efeknya adalah tingkat kepedulian antar sesama kian menurun. 

Terlebih ketika dunia digital mengambil alih kehidupan manusia saat ini. Perhatian pada masalah di luar sana, yang jauh dari diri kita, menjadi lebih penting. Maka muncul lah netizen-netizen yang peduli pada kejadian dari tempat yang jauh dibanding dari lingkungan tempat tinggalnya.

Melindungi anak dari kekerasan
Ciptakan suasana ceria
saat bersama anak-anak
Menjadi anak seseorang bukan lah keinginan anak tersebut. Kelahiran seorang anak meski dinantikan, bisa saja menjadi musibah bagi anak itu. Hiksss.

Kalo kekerasannya berupa ucapan yang kasar, kadang sebagai ibu saya nggak bisa berbuat banyak. Kecuali bila si ibu ini adalah orang yang terbuka dengan tetangga. 

Beda ketika mata saya melihat orang tua yang melakukan tindakan kekerasan fisik. Saya berani menegur, meski nantinya akan menerima umpatan kasar atau mata melotot nggak sedap dipandang.

Saya memang nggak bisa menyaksikan kekerasan pada anak. Awalnya karena pernah menyaksikan pengalaman tak mengenakkan ketika masih usia belasan tahun.

Peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh seorang ibu dengan keempat anaknya, terjadi saat usia saya 14 tahun. Usia segitu masih kepo-keponya dengan berita yang menggegerkan. Jadi lah saya berlari bersama teman-teman sepermainan ke lokasi pembunuhan. 

Gang kecil sudah penuh dengan manusia yang antusias ingin menonton rumah yang menjadi saksi bunuh diri. Saya yang masih bertubuh kecil saat itu, menyelinap dari satu tubuh ke tubuh lainnya yang rapat menutup jalan masuk gang. 

Sampai tiba-tiba, pandangan saya tertuju pada kasur dengan pola bekas darah berwarna merah kecoklatan. Tubuh saya seketika dingin dengan jantung berdegup kencang. Saya hanya bisa berdiri kaku. Memori buruk dan imajinasi yang berkembang dari satu peristiwa mengerikan, membekas lekat dalam ingatan.

Beberapa orang, sebagian besar menyayangkan si ibu yang gampang mengambil keputusan nekad. Namun sebagian yang lain pun tak menyalahkan sang ibu. Status ekonomi yang lemah, tak mampu bekerja dengan 4 anak tentu kesulitan hidupnya makin membelit. Sementara si bapak yang harusnya bertanggung jawab menjadi pencari nafkah utama, pergi meninggalkan mereka entah kemana.

Sejak saat itu, pikiran polos saya seakan menyimpulkan satu fakta. Bahwa ketika seorang ibu sedang bermasalah dengan suaminya, anak-anak tidak boleh menjadi korbannya. Bukan hanya kekerasan fisik namun juga kekerasan verbal. 

Kalo sekadar ngomel gimana? 

Hmmm, saya sendiri selama ini berusaha tidak ngomel ketika anak-anak berlaku lebih kreatif dibanding anak lainnya. Masa kecil anak-anak saya kondisikan dengan ucapan yang baik-baik untuk mereka. 

Melindungi anak dari kekerasan
Jangan hapus senyum mereka
dengan kekerasan fisik dan verbal
Namanya manusia, kadang emosi bisa tersulut oleh hal sepele. Mainan berserakan, makanan tercecer, belum lagi duit belanja mengalir deras bak banjir di musim hujan. Pernah nggak sih ngalami hal seperti ini?

Pernah dong, dan saya biasanya meninggalkan sejenak dengan pindah lokasi. Atau mengambil air wudlu yang sering ampuh menyurutkan emosi. Atau tarik napas dan relaksasi sejenak di ruangan lain. Bisa juga keluar rumah dan menatap tanaman daun yang segar atau bunga yang mekar cantik di teras rumah. 

Jadi ketika kembali menghadapi anak-anak, yang ada hanya senyum sambil mengajak mereka membersihkan kotoran di lantai. Atau membereskan mainan tanpa marah-marah.

Perlindungan Anak dari Kekerasan Seksual

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menolong korban kekerasan (seksual) yang terjadi di sekitar kalian. Di antaranya adalah :

- Mengenal lingkungan sekitar

Mengenal atau memahami lingkungan tempat kalian tinggal itu penting. Berkenalan dan berinteraksi dengan orang-orang yang tinggal di dekat rumah, atau di lingkungan kerja, sangat berguna untuk diri kita sendiri maupun orang lain.

Alasannya sederhana banget. Ketika suatu saat sedang terjadi keadaan darurat, orang-orang ini lah yang akan menjadi penolong kalian. Begitu pula sebaliknya. Kalian bisa menjadi pihak yang memberikan bantuan pada tetangga atau teman kerja saat terjadi sebuah peristiwa. 

Masih ingat kan dengan kasus Angelina, gadis kecil yang tinggal di Denpasar. Sedih banget ya membaca beritanya di media cetak. Bahkan sampai dibuatkan film dan menjadi tayangan laris untuk keluarga Indonesia. 

Silahkan dibaca di sini : Film untuk Angelina

Meski menurut saya film Angelina ini tidak layak untuk tontonan anak. Karena ada beberapa adegan yang memperlihatkan kekerasan fisik. Juga perlakuan tak wajar seperti pemberian makanan untuk binatang yang diberikan untuk Angelina. Jadi sedih kaaannn?!

- Mengenali tanda-tanda anak mengalami kekerasan

Tidak semua anak kecil atau abege, bisa mudah bercerita saat mengalami kekerasan baik fisik, verbal, maupun seksual.

Ada dua penyebab mereka tidak mampu bercerita. Yang pertama karena mereka ini tidak memahami kekerasan seksual yang dialaminya. Yang kedua adalah adanya ancaman dari orang dewasa yang melakukan kekerasan.

Perubahan fisik dan psikis ketika anak mengalami kekerasan biasanya terlihat. Dari perubahan perilaku, atau anak lebih banyak menyendiri.

Saya pernah loh sampai parno gara-gara ada kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh robot gedek. Itu kan terjadi pada saat anak-anak saya masih balita. 

Saya jadi lebih banyak memberikan pengertian pada anak-anak agar berani menolak saat ada orang asing mengajak ngobrol atau memberikan sesuatu. Seperti makanan kecil, minuman, atau permen.

Saya ajarkan pula agar mereka berani menolak dengan berteriak kencang. Terutama saat ada orang tak dikenal, akan mengajak mereka pergi ke suatu tempat tanpa ijin kami secara langsung.

Atau berani menolak ketika ada yang ingin memeriksa bagian tubuhnya yang tertutup. Saya memberi anak-anak pengertian, bahwa hanya saya dan bapaknya yang boleh memeriksa tubuhnya. Dokter pun hanya boleh memeriksa tubuhnya bila ada pendampingan dari saya atau bapaknya.

- Jangan ragu dengan membantu korban kekerasan 

Melindungi anak dari kekerasan
Jadikan hari-hari anak penuh warna
dengan kegembiraan
Kekerasan yang terjadi pada anak, kekerasan pada perempuan maupun pada pekerja rumah tangga, biasanya termasuk dalam kekerasan domestik. 

Kekerasan ini sering tersembunyi dari mata lingkungannya bila dilakukan hanya di dalam rumah. Bahkan ada juga tetangga yang diam meski mengetahui kekerasan yang terjadi pada orang di lingkungan tempat tinggalnya.

Padahal perilaku kekerasan yang terjadi di lingkungan kalian, tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak berwajib. Namun juga menjadi tanggung jawab orang-rang yang tinggal di sekitarnya. 

Apabila kalian takut dengan ancaman pelaku kekerasan, bisa melaporkan pada ketua RT, RW, atau pun pihak berwajib. Atau bisa juga dengan melaporkan pada pihak yang bisa memberikan bantuan hukum.

Intinya kekerasan yang dilakukan orang dewasa pada anak seharusnya menjadi kepedulian kalian untuk lebih bertanggung jawab. Melindungi anak memang tak harus menjadi tugas pihak berwajib. Namun menjadi tugas semua orang yang mengetahui terjadinya kekerasan.

Jangan sampai terulang kejadian seperti yang dialami oleh Angelina. Karena ada pihak yang mengetahui kekerasan yang dialami Angelina, namun tidak melakukan sesuatu untuk memberikan perlindungan. Ketika kekerasan terlanjur menjadi musibah, baru penyesalan hadir. Menyedihkan banget kalo udah seperti ini. 

Bagaimana dengan kalian, udah pernah melakukan sesuatu ketika menemukan kekerasan pada anak? Ayo lakukan sesuatu dengan lebih peduli pada perlindungan anak. Jadikan setiap hari merupakan kebahagiaan bagi anak-anak Indonesia. Wassalamualaikum.

Tulisan ini disertakan dalam #BlogChallengeGandjelRel Parade 4th Gandjel Rel Pekan 3
Reading Time: