Januari 09, 2023
BY Hidayah Sulistyowati
32 Comments
Lato Lato Permainan Anak-Anak Yang Sedang Viral
Assalamualaikum. Awalnya saya nggak paham dengan lato kato yang tengah jadi perbincangan di masyarakat. Namun setelah ditunjukkan gambarnya dari media sosial oleh si sulung, baru deh paham.
Saya:"Oh, ini kan yang dulu pernah kamu mainkan,"
Si sulung :"Iya, tapi aku nggak main sampai muter-muter gitu, Buk,"
Si sulung lantas membuka salah satu video di YouTube dan menampilkan anak kecil main lato lato. Lato lato yang tadinya hanya bergerak ke kiri dan ke kanan, mendadak berubah. Si anak piawai menggerakkan lato lato hingga berputar naik turun juga.
Apakah Lato Lato Mainan Tradisional?
Sempat ada yang menyebutkan kalo lato lato itu mainan tradisional masyarakat Bugis. Nama lato lato kabarnya merupakan bahasa Bugis. Namun tiap daerah di Indonesia memiliki sebutan yang berbeda. Masyarakat Makasar menyebut mainan itu katto katto. Sementara saya (orang Jawa) mengenalnya sebagai ethek ethek.
Saat anak sulung saya mengenal mainan ini, sekitar awal tahun 2000. Namun si sulung hanya memainkannya sebentar. Dia juga cuma menggerakkan ke kanan dan kiri pelan-pelan. Saya selalu mendampingi saat dia main lato lato atau ethek ethek.
Sebenarnya lato lato bukan lah mainan tradisional. Permainan ini berasal dari benua Amerika dan memiliki banyak nama. Ada yang menyebut click clacks, knocker, atau ber-bangers. Namun yang paling populer adalah clackers. Sekitar tahun 1970-an, mainan ini sempat dilarang digunakan karena saat itu terbuat dari kaca. Apabila kedua bola berbenturan rawat pecah dan mengenai tubuh pemain atau orang yang berada dekat dengannya.
Di Indonesia sendiri mainan ini terbuat dari plastik sehingga lebih ringan dan aman untuk dimainkan. Masuk ke negeri ini sekitar tahun 1990-an, lato lato layaknya permainan anak-anak lainnya seperti gasing. Saat ini lato lato kembali muncul bertepatan mulai liburan semester ganjil penghujung tahun lalu. Harganya cukup murah namun tentu saja tergantung dengan kualitas bahan. Tiap daerah memiliki harga yang berbeda, sekitar Rp. 8.000 - 12.000.
Manfaat Positif Bermain Lato Lato Bagi Anak
Menurut Nila Anggreiny, Psikolog dari Universitas Andalas, menuturkan bahwa permainan lato-lato yang tengah viral di kalangan masyarakat punya dampak positif terhadap anak-anak. Ia menyebut permainan lato-lato telah mengalihkan perhatian anak-anak dari gadget.
Saya sendiri menyaksikan anak-anak tetangga yang sekarang tengah menyukai lato lato. Namun mereka main tidak sepanjang hari, biasanya ketika pagi atau sore hari di depan salah satu rumah.
Ketika banyak orang dewasa yang tidak menyukai suara yang dihasilkan dari benturan dua bola, saya lebih memilih menikmatinya. Karena mainan seperti itu juga tidak akan berlangsung lama. Seperti layaknya mainan lainnya yang akan selalu menjadi mainan semusim. Nanti akan berganti dengan mainan lainnya.
Seperti yang dituturkan oleh Nila Anggreiny, lato lati memiliki dampak positif sepanjang ada orang dewasa yang mendampinginya. Jangan sampai bermain dengan kecepatan tinggi yang bakal berakibat buruk. Kekuatan tangan anak-anak saat memainkan lato lato juga tidak seperti orang dewasa.
Saya melihat anak-anak memainkannya dengan kecepatan sedang. Mereka sesekali tertawa ketika dirinya maupun teman sepermainannya gagal memainkan lato lato. Interaksi anak-anak dengan teman sepermainan ini yang tidak didapatkan saat mereka mengakses gadget-nya. Kecuali bermain game online, tapi tetap tidak ada tatap muka langsung.
Lato Lato Mainan Anak-Anak atau Orang Dewasa?
Permainan lato lato paling cocok dilakukan oleh anak-anak usia di atas 5 tahun. Anak usia 5 atau 6 tahun udah bisa diajak ngobrol. Orang tua bisa memberikan edukasi tentang baik dan buruknya permainan lato lato.
Bagi anak di bawah usia 5 tahun, belum bisa memahami efek buruk permainan ini. Mereka belum bisa memperkirakan batas kecepatan dan ketepatan saat bola saling berbenturan. Kalo salah sedikit, bola bisa membentur tangan dan efeknya menimbulkan bekas lebam.
Di sini lah pentingnya peran orang tua agar mendampingi anak-anak saat bermain. Permainan lato lato maupun mainan lainnya butuh pendampingan orang tua. Coba deh kalian berkunjung di rumah maya Mom Blogger Ivayana Wicha yang ternyata lahir di Kota Semarang, kayak saya nih sob, hihiii.
Iva memiliki label Home education di blognya, bisa lah ya kalian baca, siapa tahu bisa dijadikan rujukan. Terutama bagi ibu muda dengan anak balita maupun yang di atasnya sedikit, ada pilihan beberapa ide bermain.
Lato Lato Viral Saat Liburan Sekolah
Di beberapa negara permainan lato lato ini menjadi ajang kompetisi yang diikuti oleh orang dewasa. Meski tak menutup kemungkinan ada juga lomba lato lato yang pesertanya anak-anak usia 10 tahunan.
Di Sidoarjo, Solo, dan beberapa kota ada lomba lato lato yang pesertanya melibatkan anak usia 9-14 tahun. Bahkan di Sidoarjo lomba lato lato digelar dan mendapat atensi sebanyak 300 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Hadianya nggak main-main, ada seekor kambing yang diperebutkan bagi juara 1.
Pemenang lomba lato lato adalah Chesta Khadafi yang main selama 2 jam 7 menit. Anak usia 10 tahun ini mengalahkan dua pemain lainnya dengan selisih waktu masing-masing 1 menit. Beruntung ya Chesta.
Namun bukan keberuntungan saja yang menjadi modal anak kampung Sedati ini. Dia selama satu minggu berlatih main lato lato.
Lomba ini tidak sekadar memainkannya dengan membenturkan lato lato. Namun saat semifinal, peserta harus memainkan lato lato sambil duduk, jongkok, berjalan bahkan jalan berputar. Tentunya ini butuh konsentrasi agar fokus dalam permainan. Jadi Chesta memang pantas menjadi juara pertama dan mendapatkan kambing sebagai hadiahnya. Selamat Chesta!
Selalu ada pro kontra sejak munculnya media sosial. Lato lato bukan yang pertama menjadi permainan anak yang menimbulkan pro kontra di media sosial. Bukan pula mainan yang pertama menjadi benda sitaan oleh guru-guru di kelas. Bukan yang pertama pula menjadi obyek ketidak sukaan orang. Ada mainan lainnya yang pernah disita guru seperti ketapel, gasing, tamagochi, karet lompat tali, rubik, dan masih banyak lagi. Iya nggak sih?!
Kalian sendiri udah mulai kena demam lato lato, bisa memainkannya kah? Atau termasuk orang yang tidak suka karena suaranya yang mengganggu tidur kalian? Hayuk tulis aja isi hati kalian di kolom komentar. Wassalamualaikum.








