Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

30 Nov 2017

Pahami Cara Menggunakan BPJS Kesehatan Ketika Rawat Inap


www.hidayah-art.com

Assalamualaikum. Cara Menggunakan BPJS Kesehatan Ketika Rawat Inap itu sebenarnya gampang. Tentu saja asal memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan dalam aturan. Karena nggak semua penyakit bisa mendapat rujukan rawat inap atau rawat jalan di rumah sakit.

Kalo ditanya sih pengennya saya dan keluarga diberikan kesehatan. Namun ada kalanya tubuh tumbang karena berbagai sebab. Bisa karena faktor cuaca, abai dengan kondisi tubuh yang butuh istirahat, dan lainnya.



Nah, saya udah mengalami awal Nopember lalu. Entah karena saya yang banyak kegiatan sebelumnya atau ada bakteri atau virus yang hinggap dalam tubuh saya. Tiba-tiba hari jumat tanggal 3 Nopember saya merasa tubuh saya lelah. Minggu sebelumnya saya baru saja liburan ke Yogya berdua dengan suami. Anak-anak punya kegiatan sendiri, jadi kami hanya berdua aja liburannya.

Jumat itu pula saya mendapat undangan berkunjung ke Pasar Karetan di Mijen. Acaranya hari Minggu tanggal 5 Nopember 2017. Hari Sabtu sore saya udah merasa tubuh saya agak demam. Bahkan lutut saya terasa nyeri. Semula saya mengira mulai kena ostheoporosis.  Suami udah menyarankan saya untuk ngasih undangan pada teman blogger yang mau. Sayangnya yang aku japri juga punya acara sendiri untuk hari Minggu itu.

"Gimana besok, tetep berangkat ke Mijen?" suami sempat ragu melihat saya terlihat lemes di tempat tidur.

"Oh iya dong, semoga besok udah sehat ya Mas," harapan saya diaminkan suami.

Jalan-Jalan ke Pasar Karetan di Mijen

Minggu pagi saya bangun dengan perasaan biasa aja. Tubuh kayaknya udah nggak berasa sakit. Terutama di bagian lutut. Kan nanti di Pasar Karetan saya harus jalan-jalan. Nggak asik banget kalo lutut sakit buat jalan-jalan.

Karena info dari Vita bahwa jalan menuju lokasi nggak cocok untuk bermobil, saya dan suami berangkat naik motor. 

www.hidayah-art.com

Duh, udah lama nggak motoran berkilo-kilo meter, sampai di lokasi saya merasa lelah. Dan selama di Pasar Karetan, tubuh saya mendadak nggak nyaman. Saya memang menikmati suasana Pasar Karetan yang ramai dan menyenangkan. Namun tiap kali saya memesan makanan, nggak pernah mampu saya habiskan. Seperti saat beli soto, saya cuma menyicipi tiga sendok. Padahal sendoknya kecil. Sisanya dihabiskan suami, hihiii.

Jam 10 kurang saya udah ngajak suami pulang. Tubuh saya kayaknya mulai demam lagi. Padahal jam 13.00 masih ada acara arisan keluarga di daerah Simongan. Kalo saya nggak datang, nggak enak. Udah share foto di Instagram, masa tiba-tiba saya ijin nggak datang, hahaha. Udah pamer foto jalan-jalan di tempat wisata di Pasar Karetan, masak tiba-tiba sakit. Dunia maya kadang bikin galau banget deh.

Akhirnya sesampai di rumah saya sempat tidur sebentar. Trus bangun dan shalat Dhuhur, kemudian berangkat ke rumah Budhe di Simongan. Sampai di sana, saya masuk ke rumah Budhe dengan langkah limbung. 

"Eh buruan duduk, jangan jalan-jalan dulu,"

Banyak yang mengira vertigo saya kambuh. Tapi aslinya sih demam mulai merambah sekujur tubuh. Saya udah nggak doyan makan. Padahal ada banyak makanan di depan saya. Namun cuma hawug-hawug yang bisa masuk ke mulut.

Begitu pulang dan mandi, saya langsung tidur setelah shalat Ashar. Bangun hanya untuk shalat Magrib dan tidur lagi. Suami memaksa saya bangun hanya untuk makan. Namun saya udah tak mampu untuk menelan sesuatu makanan.

Malam sekitar pukul 9, saya terbangun dan lari ke kamar mandi. Maaf ya, saya ternyata diare. Dan setelah itu saya tidur lagi usai shalat Isya. Namun sepanjang malam hingga Shubuh, saya beberapa kali terbangun untuk menuntaskan BAB di kamar mandi. Ada lima kali BAB berupa cairan. 

Demam dan Diare Menyerang Tubuh 

Senin pagi tubuh saya masih agak demam, namun sudah nggak setinggi sebelumnya. Suami mengajak saya periksa ke dokter keluarga. Obat yang saya minum sepetinya nggak menyembuhkan diare. Seharian itu saya masih BAB, bahkan saya menghitung sudah mencapai 11 kali dari jam 7 pagi sampai malam.

Teman SMA suami datang menjenguk sekitar abis Maghrib. Saya malas keluar kamar. Jadi teman perempuan masuk ke dalam kamar. Saya udah nggak peduli dengan penampilan. Tapi udah beberapa hari saya tidur dengan gamis sih. Jadi ya aman aja karena tinggal pakai kerudung kalo ada yang bezuk ke kamar. Aslinya sih saya enggak berbasa-basi dengan yang bezuk. Saya cuma pengen tidur dan tidur.

Sementara teman-teman suami pengennya saya segera ke rumah sakit.

Dalam keadaan sakit pun saya masih sempat ngomong,"Diare sampai masuk rumah sakit, enggak ah,"

Suami sebenarnya udah meminta saya menuruti sarannya. Ditambah teman-temannya juga menyarankan hal yang sama. Saya tetap dengan pendirian saya. Pasti besok udah sembuh kalo obat dari dokter habis.

Ternyata hari Selasa pagi saya masih diare. Tubuh saya udah nggak demam lagi. Namun tubuh saya mulai melemah. Mungkin itu pertanda dehidrasi mulai mengunjungi tubuh saya. Namun saya masih merasa kuat untuk berjalan ke kamar mandi. Aslinya sih pandangan saya mulai kabur. 

Selasa siang ada lagi teman suami yang datang menjenguk saya. Kali ini saya dipaksa untuk segera ke rumah sakit. Katanya wajah saya udah pucat. Saat ke kamar mandi, saya sempat bercermin. 

"Masa iya wajah saya pucat?" tanya saya pada diri sendiri sambil menatap wajah di cermin.

Eh saya kaget saat menatap pipi tirus dengan muka terlihat bersih. Ini sih bersih, bukan pucat, batin saya mantap.

Selasa sore saya makin merasa lemah. Tapi saya masih ngotot nggak mau diajak ke rumah sakit. Suami udah memelas wajahnya meminta saya menurut dengan anjurannya.

Akhirnya saya kasihan melihat wajah suami. 
Saya bilang padanya,"Ya udah, ayok ke rumah sakit. Tapi aku nggak mau dirawat di sana. Nanti kalo mau diinfus, bawa pulang aja infusnya. Atau dihabiskan aja satu infus, trus besok paginya pulang,"

Dari cerita suami, dia sebenarnya pengen tertawa mendengar permintaan saya. Tapi karena takut saya membatalkan berangkat ke rumah sakit, dia pun mengiyakan.

Bersama adik saya, kami pun berangkat ke rumah sakit. Si sulung naik motor sendiri agar bisa pulang langsung begitu udah tahu perkembangan penyakit saya.

Masuk Rumah Sakit Tanpa Menggunakan Rujukan dari Faskes Tingkat I

Ternyata begitu masuk IGD, saya udah nggak boleh lagi pulang ke rumah. Dokter jaga langsung memutuskan saya rawat inap. Suami langsung menyetujui perintah dokter. Dia sih senang karena melihat saya langsung diinfus dan disuntuk untuk menurunkan demam dan menghentikan diare.

"Loh kenapa saya dikasih gelang? Besok kan udah pulang," protes saya melemah ketika melihat gelang identitas pasien dipasang di tangan kanan.

Entah perawatnya menjawab apa, saya udah ngantuk pengen tidur lagi.

www.hidayah-art.com

Malam itu proses saya mendapat penanganan dengan fasilitas BPJS Kesehatan kelas II berjalan lancar. Kebetulan kamar yang sesuai kelas tengah kosong. Jadi saya langsung masuk kamar tanpa menunggu antrian.

"Malam itu semua urusan dimudahkan Allah. Aku udah nggak pusing lagi melihat kondisi kamu seperti sebelumnya," tutur suami keesokan harinya. Itu juga yang diceritakannya tiap ada yang bezuk dan menanyakan apa penyebab saya dirawat di rumah sakit.

Saya udah mengalami dehidrasi tingkat sedang. Pantas aja dokter jaga langsung memerintahkan saya masuk kamar perawatan. Saya juga menjalani serangkaian tes darah, cek jantung, dan tekanan darah. Saya udah dalam kondisi pasrah malam itu. 

Karena masuk kamar udah malam hari, saya juga nggak mendapat makan malam. Entah mengapa, tiba-tiba saya pengen makan. Padahal selama tiga hari sebelumnya, makanan apapun nggak bisa saya telan. Bahkan untuk minum air putih aja nggak bisa. 

Baru kali ini saya mengalami sakit tanpa doyan makan dan minum. Sebelumnya tiap kali sakit, saya masih bisa memaksa mulut saya untuk menelan makanan.

Rabu pagi saya terbangun dengan tubuh agak segar. Saya baru tersadar nggak lagi pengen BAB. Tapi saya masih merasakan sakit di perut bagian atas. Bahkan sarapan dari rumah sakit yang terlihat menggiurkan pun nggak mampu saya santap sampai habis.

Waktu kunjungan dokter spesialis Penyakit Dalam sore harinya, baru lah ketahuan sakit saya. Yaitu, diare dengan dehidrasi tingkat sedang. Gejala typus, tapi nggak begitu masalah. Efek dari dehidrasi adalah saya mengalami Hypokalium. Solusinya adalah saya mesti makan pisang yang banyak setiap hari. Perut saya yang sakit di bagian dekat ulu hati itu merupakan pertanda penyakit asam lambung.

Apalagi saya masih pengen mual dan kepala juga pusing. Dokter menyarankan agar saya istirahat dulu selama tiga hari di rumah sakit. 

Hiksss, saya pengen pulaaang.
Akhirnya saya memaksa bisa menyantap makanan yang sudah disajikan oleh bagian dapur rumah sakit.

www.hidayah-art.com

Berbeda ternyata menjadi pasien dengan penunggu pasien di rumah sakit. Saya merasa enggak enak tidur, enggak enak makan. 

Alhamdulillah saya akhirnya diperbolehkan pulang hari Jumat malam. Dokter hanya mengingatkan beberapa hal berikut :

- Makan dalam porsi sedikit tapi lebih sering
- Usai makan jangan langsung berbaring
- Hindari coklat, ketan, makanan pedas, makanan bergetah
- Hindari minum kopi
- Hindari stres
- Disarankan tidur dengan bantal yang agak tinggi

Makanan yang disarankan untuk saya adalah pisang, segala jenis. Tapi saya sukanya pisang rebus, hihihii.

www.hidayah-art.com

Pahami Aturan BPJS Kesehatan untuk Rawat Inap 

Selama tiga hari tiga malam menginap di Rumah Sakit Roemani, saya tidak dikenakan biaya apapun. Biaya cek darah, cek jantung, dan kamar perawatan sudah terkaver oleh BPJS Kesehatan.

Saya jadi ingat pengalaman Everonia, Ibu lima anak yang sharing Melahirkan Caesar dengan Menggunakan BPJS Dari Luar Kota. Artikel yang merupakan post trigger #KEBloggingCollab kelompok Butet Manurung ini menjelaskan tentang melahirkan caesar dengan fasilitas BPJS Kesehatan. 

Yup, peserta BPJS Kesehatan bisa menikmati pelayanan di rumah sakit sepanjang mengikuti prosedur berobat dari Faskes I atau dokter keluarga. Kecuali untuk masalah darurat seperti yang saya alami, tidak perlu menggunakan surat rujukan dari Faskes I atau dokter keluarga.

Namun tentu saja kalian harus membayar iuran secara rutin dan tidak memiliki tunggakan. Karena apabila ada tunggakan, kemudian kalian tiba-tiba membutuhkan perawatan, bakal ada tagihan. Kalian harus melunasi tunggakan dengan denda yang sudah ditentukan. 

Kemudian, ada 144 jenis penyakit yang tidak disarankan meminta rujukan untuk rawat jalan di rumah sakit. Datanya kalo pengen tahu bisa dilihat di dokter keluarga atau Faskes tingkat I di klinik yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. 

Jadi sejumlah 144 diagnosa penyakit ini diharapkan bisa menerima layanan kesehatan di dokter keluarga atau di Faskes tingkat I. Apabila kalian ngotot ingin rawat jalan di rumah sakit, biaya tidak akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan diadakan untuk membantu masyarakat golongan menengah ke bawah yang selama ini tidak mampu memiliki fasilitas asuransi kesehatan yang mahal dari swasta. Jadi, solusi untuk memperoleh fasilitas kesehatan dengan biaya murah tentunya dengan menjadi peserta BPJS Kesehatan.

Nah, cerita yuk pengalaman menggunakan BPJS Kesehatan selama ini. Pasti ada banyak pengalaman yang berbeda dari kalian semua. Wassalamualaikum.

1 comment :

  1. Prosedurnya mudah dan fleksibel ya.. Saya dan keluarga sekarang juga sudah terdaftar sebagai anggota BPJS. Alhamdulillah.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...