Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

22 Oct 2016

Berharap Ada Waktu Terbaik Mengunjungi Baitullah Lagi



www.hidayah-art.com

Assalamu'alaikum. Kalo ditanya apa momen yang paling berkesan dan tak terlupakan, saya bingung jawabnya. Sepanjang usia saya, ada banyak momen yang sangat berkesan dan tak mungkin terlupa. Tapi kalo untuk milih satuuu aja, baik laaaah. Saya akan menuturkan kisah saat ibadah Thawaf Wada dan terakhir kali melihat bangunan Ka'bah. Saat berdoa dan berharap ada waktu terbaik mengunjungi Baitullah lagi.


Menikmati sebagai tamu Allah Swt dan melaksanakan setiap proses ibadah Rukun, Sunnah, dan Wajib Haji pada tahun 2014 lalu, merupakan berkah. Hingga detik ini pun, saya masih merasa kalo peristiwa itu laksana mimpi. Saya dan suami, bukan orang yang kaya harta dan kaya ilmu. Namun ketika kekuatan doa dan keyakinan, kami bisa menunaikan ibadah haji, bikin saya ingin meyakinkan banyak orang. Bahwa semua orang itu bisa berangkat haji, asal memiliki niat, terus berikhtiar dengan menabung, dan melantunkan doa setiap saat.

Saya banyak menuliskan cerita perjalanan haji di blog ini dengan label Ibadah Haji. Silahkan bagi yang ingin mengetahui ceritanya, semoga semangat kami menular pada pembaca.

Kali ini saya ingin bercerita hari-hari terakhir menjelang kepulangan ke tanah air. Karena semua ibadah telah selesai kami kerjakan, kecuali Thawaf Wada, tentu saja saatnya belanja. Kegiatan yang saya tahan-tahan selama ini, meski sudah berminggu-minggu berada di Makkah. 

"Ingat, jangan belanja-belanja sebelum semua ibadah Rukun dan Wajib Haji selesai. Belanjanya nanti aja, kalo sudah mau pulang ke tanah air," pesan ustadz kami.

Saya dan suami, serta teman-teman regu IV, Kelompok I, Kloter 17 SOC manut banget dengan nasehat ustadz Arifin. Beliau selama setahun lebih membimbing manasik tanpa imbalan apapun. Karena niat beliau Lillahi Ta'ala. Karena beliau menginginkan jemaah haji Indonesia lebih pintar, taat aturan, dan mengerti semua tuntunan ibadah. Namun juga menghargai perbadaan cara beribadah yang dilakukan oleh jemaah dari berbagai negara.

Jadi sisa hari selama kurang dari seminggu, saya dan suami jalan-jalan di sekitar maktab di Bakhutmah. Ada banyak toko jualan oleh-oleh di sana. Ada yang jual coklat, kurma, celak mata, hiasan dinding, karpet, perhiasan, hingga pakaian. Ada juga sajadah, tas, jam, gelang dan cincin dengan batu yang cantik. Saya akhirnya membeli satu set nampan dengan teko, serta gelas untuk air zam-zam. Karena sebelum berangkat ke tanah suci, saya nggak sempat belanja. 

Tiga hari menjelang kepulangan, ketua kloter mengumumkan agar jemaah segera mengerjakan Thawaf Wada'.  Regu kami memiliki perbedaan kapan waktu untuk melaksanakan thawaf yang artinya adalah pamitan. Akhirnya kami sepakat untuk beribadah sesuai keinginan masing-masing. Saya dan suami serta pasangan Bapak dan Ibu Slamet, memilih dinihari menjelang shalat Shubuh. Sementara yang lain beragam. Ada yang segera melakukannya hari itu juga. Namun berbeda waktunya, antara Dhuha, Dzuhur, Ashar, hingga Isya.

Saya sengaja tidur lebih awal, setelah shalat Isya. Kamar hanya tersisa saya dan Ibu Slamet. Kami berdua menghimpun tenaga agar dinihari nanti bisa lancar melaksanakan Thawaf Wada'. Yang lainnya sedang berada di Masjidil Haram. Kamar-kamar lain juga nyaris sama. Jemaahnya melaksanakan dengan waktu yang berbeda. Suasana maktab lumayan sepi. Jadi saya dan Bu Slamet bisa istirahat dengan tenang.

Tepat pukul 01.00 saya mandi dan mulai persiapan mengenakan pakaian bersih. Suami sudah menelpon, agar saya siap di ruang makan sekitar pukul 02.00 WAS. 

Tepat pukul 02.00 WAS, saya dan suami berangkat menuju jalan raya di daerah Bakhutmah J03. Kami menanti bus yang akan membawa jemaah ke Masjidil Haram. 

Cukup lama juga kami menanti. Biasanya bus hilir mudik mesti tengah malam.


www.hidayah-art.com

Sekitar 20 menit kami akhirnya mendapatkan bus menuju terminal Kuday. Dan nanti ganti bisa berikutnya yang berwarna orange, menuju terminal Ghasa di terowongan dekat dengan basement hotel. Dari sana kami berjalan kaki menuju serambil depan Masjidil Haram.

Dinihari itu tubuh saya tengah flu parah. Seruangan di maktab kena flu semua, dan saya yang terakhir. Kondisi tubuh yang lemah ini bikin hati saya jadi sensitif. Entah mengapa saya juga dari berangkat udah bercerita tentang kejadian di maktab. Biasanya saya tidak suka menceritakan keadaan seseorang pada suami. Saya cerita kalo salah seorang teman seregu ada yang nggersah tentang urusan masak. Saya juga cerita kepada suami, kalo mereka menyesal tidak menuruti saranku tentang ngak usah masak lagi sepulangnya dari Mina. Alasan saya waktu itu karena tubuh udah capai melaksanakan serangkaian ibadah mulai dari Arafah, Muzdalifah, hingga Mina.

Benar juga prediksi saya, yang tidak masak dijadikan bahan pembicaraan. Seperti saya yang tidak ikut masak, namun tetap ikut iuran. Saya juga tidak ikut menikmati masakan itu. Karena saya menyadari tubuh saya rentan sakit bila terlalu lelah. Suami juga setuju dengan niat saya yang ikut iuran tapi tidak ikut masak. 

Sekarang ada yang ngambek karena dia kelelahan akibat masak sendiri. Saya cerita semua percakapan dengan ibu Slamet malam sebelumya. Kami bercakap dalam suasana tenang sebelum tidur. Intinya teman-teman yang lain menyesal kenapa nggak nurut saran saya.

Kami nyaris tiba di pintu samping Masjidil Haram. Namun seorang Askar mengatakan bahwa masjid penuh dan tidak mengijinkan kami masuk menuju jalan menuju basement. Kami diminta lewat pintu lain. 

Saya sudah menjelaskan dalam bahasa tarzan, bahwa kami akan Thawaf Wada'. Tentu saja kami ingin memilih lewat basement untuk sampai di bangunan Ka'bah. 

Percuma aja rupanya usaha saya dan suami. Akhirnya kami berputar arah menuju ke samping kanan. Askar masih mengijinkan kami masuk. Namun saya dan suami tidak bisa menaiki anak tangga menuju area Thawaf lantai 2. Kami berputar-putar hingga saya bilang pada suami, kalo saya lelah sekali. Telapak kaki sudah sakit. Begitu pula betis dan paha, rasanya saya enggan melangkah. Pengen banget duduk sekenanya, dan shalat lail di tempat yang masih kosong.

"Kita thawaf dulu, baru shalat Shubuh," ucap suami.
"Aku kan belum shalat sunnah. Nanti aja thawafnya. Aku masih pengen berlama-lama di masjid," jawabku dengan tangis yang nyaris tersendat.

"Kita cari tempat yang paling dekat dengan tempat thawaf lantai dua aja."
"Ya udah kita naik kesana," ucapku sambil menunjuk arah ke utara.
"Bukaaan ... Di sebelah sana kalo mau thawaf. Tapi sepertinya ditutup juga. Itu kan biasanya pintu terbuka, mengapa ditutup sih?"

Suami masih yakin kalo arah yang saya pilih salah. Saya juga tak mau kalah, terus saja mendebatnya. Suami akhirnya menurut dengan arah pilihan saya. 

Namun nyaris selama tiga puluh menit kemudian, kami masih belum juga menemukan jalan menuju tempat thawaf. Sementara selama dua puluh hari lebih kami di Makkah, kejadian ini belum pernah saya alami. Selama ini kami mudah saja menuju tempat thawaf. Tiba-tiba saya melihat ada beberapa jemaah perempuan yang shalat lail di satu lokasi. Tempat yang menghubungkan area masjid dengan ruang Sa'i.

"Aku shalat dulu di sana ya, Mas," pintaku pelan.
Suami mengangguk. Ia udah shalat sebelum berangkat tadi. Jadi suami duduk agak mejaga jarak dan membaca Quran.

Setelah shalat beberapa rakaat, saya mengajak suami pindah. Melihat jam yang menunjukkan waktu 03.10 Was, saya meyakini kami mesti shalat Shubuh dulu baru melaksanakan Thawaf Wada'.

Saya dan suami melangkah menuju eskalator yang mengantarkan kami ke lantai 4. Sebenarnya kami bisa thawaf di sini, karena pernah juga melakukannya dulu. Namun luas putarannya pasti bakal menambah lelah. Apalagi kondisi tubuh saya tengah kurang fit. 

"Kita shalat Shubuh di sini aja. Nanti selesai shalat, kita akan mencari jalan menuju lantai 2 tempat thawaf seperti yang biasanya,"

Bujukan suami kali ini saya turuti. Saya sudah lelah lahir dan batin. Fisik saya lemah, hati saya tengah rapuh. Saya sudah kepengen duduk saja di sembarang tempat. Saya pun menengok ke belakang, tempat jemaah perempuan tengah shalat lail. Saya hamparkan sajadah dan melakukan hal serupa. Tak menanti lama, adzan ajakan shalat Shubuh pun berkumandang.

Saya semangat saat Imam Masjidil Haram mulai berniat shalat Fardhu. Saya pun berdiri dan berusaha tumakninah. Hingga menjelang sujud pertama rakaat pertama. Tiba-tiba saja batuk menyerang. Ingus pun hilir mudik dari pangkal menuju ujung hidung. Saya mulai tidak konsentrasi shalat. Dalam sujud kedua, saya sudah mulai mengambil tisu dan mengusap ingus sampai bersih. Ada ucapan istighfar terselip dalam bacaan shalat. Saya menyesali ucapan khilaf yang sempat mengalir dari mulut ini. Saya memohon maaf karena berucap buruk tentang teman sesama jemaah.

Sementara air mata mulai membasahi sebagian wajah. Saya shalat dengan tangan menggenggam berlembar-lembar tisu. Entah lah apa Allah akan menerima ibadahku ini. Yang pasti saat rakaat kedua, serangan batuk dan hidung berlendir mulai berkurang. Saya bisa shalat dengan suasana hati yang tenang. Pikiran buruk yang sempat mampir telah sirna bersamaan saat saya berdahak. Hingga selesainya shalat fardhu, batuk saya berangsur berkurang intensitasnya.

Suami mendekati tempat saya shalat. Melihat wajah saya yang masih terlihat lembab karena air mata, tangannya segera merengkuh bahu dengan erat. Saya bersyukur suami lebih sering mengalah saat mulai muncul perdebatan kecil. Karena sejak berangkat pun, semua orang termasuk ibunya, berpesan agar menjaga saya. Masih ingat dengan engkel kaki saya yang terkilir kan? Nah, itu alasan semua orang yang wanti-wanti pada suami agar selalu ada di samping saya.

Ketika shalat Shubuh usai, semua pintu yang tadi sempat ditutup segera dibuka kembali. Kami sangat mudah menemukan jalan penghubung menuju area thawaf lantai 2. Kami pun memulai serangkaian putaran pertama hingga ketujuh dengan lancar. Namun air mata kembali membasahi wajah saya. Kali ini air mata kesedihan karena akan meninggalkan Masjidil Haram. 

Begitu thawaf putara ketujuh berakhir, saya dan suami berdiri menghadap Ka'bah dan berdoa. Berikut doanya :


“Allahumma innal baita baituka, wal-‘abda ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu amatika, hamaltani ‘ala ma sakhkharta li min khal qika, hatta sayyartani ila biladika, wa balagtani bini’matika hatta a’antani ala qada’i manasikik. Fa in kunta radita ‘anni fazdad ‘anni rida, wa illa famunnal-ana ‘alayya qabla taba’udi ‘an baitika haza, awanunsirafi in azinta li gaira mustabdilin bika wa la bibaitika wa la ragibin ‘anka wa la ‘an baitik. Allahumma ashibniyal ‘afi-yata fi badani, wal-‘ismata fi dini, wa ahsin munqalabi, warzuqni ta’ataka abadan ma abqaitani, wajma’ li khairayid-dun-ya wal-akhirah, innaka ‘ala kulli syai’in qadir. Allahumma la taj’al haza akhiral-‘ahdi bibaitikal-haram, wa in ja’altahu akhiral-‘ahdi fa’awwidni ‘anhul-jannata birahmatika ya arhamar-rahimin. Amin ya rabbal-‘alamin”


Artinya:
Ya Allah, rumah ini adalah rumah-Mu, aku ini hamba-Mu anak hamba-Mu yang lelaki dan anak hamba-Mu yang perempuan. Engkau telah membawa aku di dalam hal yang Engkau sendiri memudahkan untukku sehingga Engkau jalankan aku ke negeri-Mu ini dan Engkau telah menyampaikan aku dengan nikmat-Mu juga, sehingga Engkau menolong aku untuk menunaikan ibadah haji. Kalau Engkau rela padaku, maka tambahkanlah keridhaan itu padaku. Jika tidak maka tuntaskanlah sekarang sebelum aku jauh dari rumah-Mu ini. Sekarang sudah waktunya aku pulang, jika Engkau izinkan aku dengan tidak menukar sesuatu dengan Engkau (Dzat-Mu) ataupun rumah-Mu tidak benci pada-Mu dan tidak juga benci pada rumah-Mu. Ya Allah, berkalilah aku ini dnegan afiat pada tubuhku, tetap menjaga agamaku, baik kepulanganku dan berilah aku taat setia pada-Mu selama-lamanya selama Engkau membiarkan aku hidup dan kumpulkanlah bagiku kebajikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan waktu ini masa terakhir bagiku dengan rumah-Mu. Sekiranya Engkau jadikan bagiku masa terakhir, maka gantilah surga untukku, dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Amin, wahai Tuhan Pemelihara seru sekalian alam.


Sedih karena sebentar lagi kami mesti keluar dari ruangan masjid yang suci, begitu menyayat hati. Ini saat-saat terakhir kami menatap bangunan Ka'bah. Entah kapan lagi kami berdua bisa melaksanakan umroh dan thawaf di sini. 



Air mata tak mampu saya bendung. Saya biarkan mengalir deras membasahi wajah dan hijab. Bahkan air mata ini lebih basah dibanding saat pertama kali menjumpai bangunan Ka'bah saat Umroh wajib dulu.

Ketika doa telah usai saya panjatkan, suami menggamit lenganku dan mengajak beranjak menjauh. Kami tak boleh berlama-lama di sini. Karena bila tak ada alasan apapun, dan kami masih berada di area masjid, thawaf Wada' mesti kami ulangi. 

Saya pun bergegas melangkah keluar bersama suami. Kami sempatkan diri mengambil foto bergantian. Selama dua puluh hari lebih berada di Masjidil Hara, jarang banget kami mengambil gambar. Seakan kami terpesona untuk melakukan ibadah dan terlupa dengan kegiatan foto-foto.

"Kita belum pernah foto berdua ya?" ucap suami menyadarkanku.

Tiba-tiba ada sepasang anak muda yang menawarkan bantuan. Masya Allah, tiba-tiba saja kami bisa foto berdua di halaman depan masjid, berhadapan dengan menara jam yang menjulang.



Namun kali ini tak ada lagi tangis. Hati saya telah pasrah dan tak lagi gelisah. Saya siap pulang ke tanah air, bertemu keluarga. Meski ingin beribadah terus di Makkah, namun ada keluarga yang menanti kepulangan kami. Thawaf Wada' ini menjadi momen yang paling berkesan dan tak akan mungkin terlupakan hingga hari ini.

Saya dan suami tetap berdoa dan berharap ada waktu terbaik mengunjungi Baitullah lagi. Semoga suatu ketika terlaksana seperti doa-doa yang kami lantunkan selama ini. Wassalamu'alaikum.

                                          ----------888----------


Mba Ira, semoga bahagia dan tercapai harapan serta doa-doanya. Semoga sukses juga mengelola blog www.irawatihamid.com. Jangan lupa, segera tulis kisah seputar kota Bau-Bau, keindahannya, kulinernya, tempat wisatanya dari sudut pandang mba Ira. Peluk hangat dari Semarang *kisskiss*





22 comments :

  1. wah momen yg tdk terlupakan pastinya pergi ke tanah suci


    www.travellingaddict.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, bisa mewujudkan mimpi kami :)

      Delete
  2. Pengalaman yang tak mungkin terlupakan Mbak Wati :)
    Semoga suatu hari aku bisa ke situ juga bersama keluarga dan orang2 tersayangku, amin amin ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, moga bisa segera terwujud ,mba Wahyu :)

      Delete
  3. Replies
    1. Aamiin, moga dapat waktu terbaik, mba Tira :)

      Delete
  4. Ya allah..pengen banget bisa kesana..aminn..semoga bisa jadi tamu Allah..seru banget ya mba, memorable moments banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, sangat memorable, Gena. Moga terwujud keinginannya ya :)

      Delete
  5. Ya Allah jadi ingin ke Baitullah, semua bisa bareng juga dengan suami dan anak-anak :)

    Momen yang sangat berkesan sekali ya mba

    ReplyDelete
  6. Senangnya... pasti berkesan sekali ya mba... Semoga aku juga mendapat kesempatan untuk menjejakkan kaki di sana..

    ReplyDelete
  7. Bacanya terharu, Mbak.
    Rasanya makin rindu Tanah Suci. Semoga kita semua diberi kesempatan untuk mengunjungi Tanah Suci lagi ya. Aamiin

    ReplyDelete
  8. Luar biasa pengalamannya....serasa saya ikut menjadi peserta ibadah tawaf...

    Semoga bisa kembali menginjakkan kaki di tanah suci ya Bu Hajjah �� amin...

    ReplyDelete
  9. amin. Semoga bisa kembali ke tanah suci lagi ya mbak. Pasti berkesan sekali pengalaman di sana.

    ReplyDelete
  10. Wah pengalaman luar biasa yah Mbak...
    Semoga bisa kembali ke tanah suci lagi aminn

    ReplyDelete
  11. yang sudah pernah saja mau kesana lagi, apalagi yang belum pernah...
    semoga dimudahkan jalan menuju baitullah..

    ReplyDelete
  12. semoga aku bisa memijakkan kaki ke Tanah Suci, Amiin

    ReplyDelete
  13. Allahumma Amin.
    Dan semoga aku juga dipanggilNya dan diberi kesempatan untuk berkunjung ke Baitullah :)

    ReplyDelete
  14. Mengharukan, semoga Allah segera memudahkan langkah saya dan suami menunu ke tanah suci.

    ReplyDelete
  15. Semoga kelak Mba bisa datang lagi kesana amin :)

    ReplyDelete
  16. membaca cerita Mba Wati ini ada keharuan di dada saya Mba, semoga saya dan suami bisa mengikuti jejak Mba Wati dan suami ke tanah suci, amin..

    terimakasih sudah berpartisipasi di GA saya yah Mbaa :*

    ReplyDelete
  17. tak terasa airmata saya menetes saat membaca cerita mbak. seketika saat membaca saya serasa ada di baitullah. semoga kelak mbak bisa datang lagi kesana, dan Allah juga memudahkan langkah saya, suami dan anak semata wayang saya ke tanah suci. aamiin

    ReplyDelete
  18. Semoga bisa segera ke tanah suci lagi ya mbak. Baitullah emang ngangenin...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...