Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

23 Mar 2016

Yuk, Jangan Terlambat Lapor Pajak Bagi Wajib Pajak Pribadi



www.hidayah-art.com

Assalamu'alaikum.

Udah nyaris mendekati minggu terakhir bulan Maret, nih. Bagi teman-teman yang punya usaha sendiri dan selama ini udah punya NPWP, warning banget ini. Tanggal 31 Maret 2016 identik dengan batas akhir pelaporan Wajib Pajak Pribadi. Enggak pengen dong, telat lapor pajak gara-gara lupa atau kurang perhatian. Yuk, jangan terlambat lapor pajak bagi Wajib Pajak Pribadi.

Sebagai pemilik usaha sendiri, suami udah sejak jauh hari mengingatkan saya agar segera menghitung berapa kewajiban pajak selama satu tahun. Selama ini saya yang membantu suami menghitung dan melaporkan pajaknya. Jadi memang mesti perhatian nih dengan printilan bukti setor tiap bulannya, yang kami terima dari relasi suami. Saya tinggal menghitung total kewajinan bayar yang masih kurang disetor aja. 

Saya beruntung bisa kenal dengan ibu Zeti Arina, seorang Konsultan Pajak yang sangat rajin memberi edukasi pada masyarakat. Edukasi tentang pajak itu penting, agar wajib pajak jangan sampai terlambat membayar pajak. Kalo sampai terlambat, yang rugi kan diri kita sendiri.

Eh tapi sebelum saya cerita lebih lanjut, udah tahu kan Wajib Pajak Pribadi itu siapa? Tadi ada yang nyolek saya, pengen tahu siapa yang dimaksud dengan Wajib Pajak Pribadi. 

Sepengetahuan saya, Wajib Pajak Pribadi adalah orang yang mendapatkan penghasilan. Baik dia sebagai direktur di satu atau banyak perusahaan, pemegang saham, komisaris, pegawai di tingkatan apapun (menengah mapun bawahan), hingga pekerja mandiri. Pekerja mandiri itu bisa saja doker, konsultan keuangan/pajak, notaris, pengacara, dan masih banyak lagi.

Apa aja penghasilan yang dilaporkan dalam SPT?

1. Penghasilan dari usaha.

Seperti berdagang, memproduksi barang, dan yang lainnya. Juga penghasilan dari pekerjaan bebas, yaitu profesi tertentu seperti dokter, pengacara, notaris/PPAT, konsultan, dan lain-lain. Nah, yang tak ketinggalan adalah para pegawai. Pemeriksa tentu akan mengecek terlebih dulu angka-angka yang tercantum di SPT.

2. Investasi dalam bentuk saham, tabungan, deposito, sewa, hak kekayaan intelektual, properti, dan lain-lain (jika memiliki). Juga penghasilan yang diperoleh dari berbagai jenis investasi seperti dividen atau pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki. Juga bunga, royalti, capital gain (laba yang diperoleh dari investasi dalam surat berharga atau efek. Seperti saham, obligasi, atau dalam bidang properti, di mana nilainya melebihi harga pembelian. 

Dalam hal ini, pemeriksa akan meminta berbagai dokumen dan informasi yang berkaitan dengan bukti-bukti kepemilikan.

3. Daftar Biaya Hidup atau daftar yang berisi perincian selama periode tertentu, yang umumnya adalah bulanan. Di dalamnya, teman-teman harus mengisikan jumlah rata-rata dari pengeluaran untuk makan, minum, bayar telepon/komunikasi, listrik, air, transport/BBM, langganan koran/majalah, dan semua biaya lain yang rutin dikeluarkan selama ini.

Pemeriksa akan menilai keseimbangan antara pengeluargan dan penerimaan. Logikanya, pajak yang harus dibayar tergantung besarnya penghasilan yang sesungguhnya. Kecuali bila teman-teman memiliki pengeluaran besar, sementara penghasilan kecil. Kok bisa? Bisa aja, bila teman-teman mendapatkan harta warisan atau hibah. Eh, ada catatan nih, pemeriksaan ini tidak diperlukan untuk orang yang berkategori jetset atau super kaya.

Nah, selanjutnya adalah cara membuat laporan pajak.

Langkah pertama tentu saja teman-teman harus punya beberapa berkas. Yaitu bukti penghasilan dari mana saja, misalnya bukti potong 1721 A1 ini untuk teman-teman yang jadi karyawan sebuah perusahaan. 

Formulir 1721-A1 adalah bukti bahwa seseorang yang berstatus pegawai telah membayar pajak dari penghasilan yang diperoleh setiap bulan dalam satu tahunnya melalui pemberi kerja.

Trus, gimana cara menghitung pajak pribadi? Ikuti yuk, langkahnya :

1. Hitung penghasilan bruto setiap bulan. Penghasilan bruto ini mencakup gaji pokok, tunjangan dan premi jaminan yang sifatnya dibayar tertur. Tambahkan juga uang lembur, uang perjalanan dinas, bonus, dan uang cuti.

2. Hitung total pengurangan. Antara lain, biaya jabatan (5 % dari gaji pokok), iuran pensiun (2% dari gaji pokok), iuran Jaminan Hari Tua (5,7% dari gaji pokok, dengan perincian 3,7% ditanggung perusahaan dan 2 % ditanggung pekerja).

3. Hitung penghasilan bersih sebulan, dengan cara angka hasil nomer 1 dikurangi angka hasil nomer 2.  

4. Hitung penghasilan bersih setahun. Caranya, angka hasil nomer 3 dikalikan 12.

5. Hitung penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Tergantung status wajib pajak, apakah belum kawin, kawin, dan belum punya anak (K-0), kawin dan punya anak 1 (K-1), kawin dan punya anak dua (K-2), dan kawin dan punya anak 3 (K-3).

6. Hitung penghasilan kena pajak. Caranya angka hasil nomer 4 dikurangi angka hasil nomer 5.

7. Hitung pajak penghasilan pribadi. Beberapa tarif pajak pribadi adalah :
- 5%   bagi penghasilan di bawah 50 juta.
- 15% bagi penghasilan antara 50 juta - 250 juta.
- 25% bagi penghasilan antara 250juta - 500 juta.
- 30% bagi penghasilan di atas 500 juta.

8. Hasil angka nomer 7 dibagi 12.

Nah, gimana? Mudah kan carang menghitung kewajiban bayar pajak? Bagi pegawai malah lebih mudah, karena biasanya sudah dibantu oleh teman yang ada di divisi pajak. 

Sementara kalo kewajiban pajak suami saya, cara menghitungnya sama. Saya tinggal ngikuti cara nomer 1 - 8, trus kalo kurang bayar tinggal datang aja ke bank atau kantor pos. Dan saya memilih setor kurang bayar di kantor pos yang dekat dengan rumah. Setelah setor kurang bayar, tinggal bikin laporan aja.

www.hidayah-art.com
Contoh SPT Tahunan Wajib Pajak Pribadi & bukti kurang bayar
Tapi, bagi teman-teman yang baru aja memiliki NPWP, dan udah punya penghasilan untuk beberapa waktu sebelumnya, wajib ya bikin laporan pajak. Penghasilan yang dihitung tentu saja sesuai tahun perolehannya. Misal nih, kalo NPWP dibuat pada bulan September 2015. Tinggal dihitung aja penghasilan mulai bulan September hingga Desember 2015. Kemudian, laporkan juga di tahun 2015. Sehingga kalo ada penghasilan selama tahun 2015, tinggal dilakukan pembetulan. Jangan lupa loh, akan ada sanksi atau denda bila kurang bayar.

Nah, gimana jika ada yang lupa membayar pajak pribadi setelah tanggal 31 Maret nanti?

Tentu saja Wajib Pajak Orang Pribadi akan dikenakan sanksi administrasi sebesar Rp.  100.000. Dan masih ditambah sanksi bunga sebesar 2% perbulan atas kurang bayarnya karena keterlambatan membayar. Tapi kalo tidak ada, tinggal bayar Rp. 100.000 aja.

Makanya, jangan sampai terlambar bayar kewajiban pajak, teman-teman. Jangan lupa juga bikin segera laporannya. Yuk, jangan terlambat lapor pajak. Wassalamu'alaikum.

20 comments :

  1. Wah kalau gaji saya pribadi pernah dihitung gak kena pajak mbak wati, kalau suami dah dihitungkan kantor terus langsung dipotong, paling cuma nyerahin sptnya aja disini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo jadi pegawai memang gak repot sih, ada yang bantuin dari temen sekerja ya, Vit

      Delete
  2. iya betul jangan terlambat deh lapor pajak pribadi, kalo engga dapat dendanya lumayan banyak ya hiks..hiks..

    ReplyDelete
  3. Suami sih sudah, karena dari perusahaan sudah woro-woro soal pajak tahunan ini..kalo aku, apa yg mau buat bayar pajak ya? hehe

    ReplyDelete
  4. Wah makasih admin sudah mengingatkan siap meluncur.

    ReplyDelete
  5. Sebagai warga negara yang baik harus taat pajak ya mbak Wati, sip deh infonya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyess, mbak Anjar, wajib sih kan untuk membangun negeri sendiri ya :)

      Delete
  6. Blm ngurus pajak. Tp bolehlah nanti kalo punya usaha

    ReplyDelete
  7. Pinginnya sih udah ada sistem di DJP yg gitu di enter NPWP kita udah nongol semua pajak kita di situ, jadi kita nggak perlu ngelapor lagi, hehe

    ReplyDelete
  8. Ini rata-rata para pekerja kantoran lagi disibukkan sama SPT tahunan ini ya Mak.. Ntar aku coba ongetin suami deh, mudah-mudahan dia ngga lupa.. Hehe. Makasi infonya ya Maaaak

    ReplyDelete
  9. ayo jangan sampai lupa lapornya ya, Makasih sudah dingatkan mbak

    ReplyDelete
  10. Masih bingung kalo bicara tentang perpajakan mbak. Hehehe Makasih informasinya mbak :D

    ReplyDelete
  11. Freelancer juga mesti bikin laporan,Mbak? Masih bingung bikin laporannya :D

    ReplyDelete
  12. Sejak punya NPWP saya malah gak pernah SPT. Dulu 10 bulan awal rajin bayar SSP, tapi pas mau SPT tahun pertama kok ternyata malah lebih bayar. Tahun berikutnya penghasilan makin turun, logika saya ya berarti malah gak masuk kategori wajib bayar pajak karena PKP-nya masuk. Ya udah, ya pernah bayar.

    Etapi kira-kira bakal didenda gak ya? :D

    ReplyDelete
  13. Hayuuu... jangan telat-telat ah.. hehe...
    Salam kenal Sulistyowati.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...