Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

28 Sep 2015

Perjuangan Melontar Jamrah Aqobah


Saking lengangnya bisa narsis bareng teman


Alhamdulillah bisa blogging lagi, setelah peristiwa di Mina pada hari pertama melontar jamrah Aqobah. Iya, saya sempat terpuruk mendengar musibah tersebut. Bukan hanya karena ada sembilan pasangan suami istri yang kebetulan adalah sepupu, teman, tetangga dan teman suami yang berangkat haji tahun ini. Saya cuma bisa bantu doa, setelah susah menghubungi mereka semua. 


Apalagi kalo melihat pemberitaan di layar kaca, jadi malas nonton tayangannya. Bahkan orang yang pernah berangkat haji pun bisa-bisanya komentar yang kurang selayaknya. Seharusnya, alangkah bijaknya bila kita saling menahan diri dan jangan mudah berkomentar yang bakal bikin sedih keluarga korban. Apalagi kita sama-sama tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. 

Bagi jemaah haji, melontar jamrah Aqobah pada hari pertama usai mabit di Muzdalifah merupakan perjuangan tersendiri. Tubuh yang lelah karena sebagian dari jemaah belum tentu bisa beristirahat dengan nyaman. Mengingat kondisi padang Muzdalifah yang hanya berupa tanah kosong beralaskan tanah dan beratap langit. Kecuali saya yang bisa tertidur dengan nyaman di Muzdalifah dalam pelukan simbah. Ceritanya pernah saya tuliskan di sini.

Melontar jamrah Aqobah memiliki ketentuan khusus. Jemaah haji boleh melontar kapan pun waktunya, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah dengan batas waktu sampai pukul 24.00 WAS. Tiap mazhab memiliki ketentuan berbeda dan rasanya sudah tak masanya lagi berdebat soal kapan waktu yang benar melontar jamrah. Silahkan memilih mazhab yang dipercaya masing-masing.

Baik yang memilih melontar jamrah sebelum terbit fajar, saat afdhol yaitu setelah Dhuha hingga terbenamnya matahari, masing-masing mazhab bisa dibuktikan kebenarannya.

Saya memilih melontar jamrah sebelum terbit fajar, dengan alasan PPIH (Petugas Pembimbing Ibadah Haji) yang menyarankan karena faktor cuaca yang lebih bersahabat. Juga menghindari lautan jemaah yang pasti lebih banyak memilih waktu afdhol melontar jamrah, yaitu usai shalat Dhuha. Mengingat pengalaman jemaah haji yang melontar saat tengah malam, banyak yang menyatakan sebuah pengalaman yang menakjubkan. Bahkan tengah malam pun Mina tetap sibuk dan hidup.

Berjalan sepanjang 2 - 6 km bagi jemaah haji yang masih muda (seperti saya #ehm) butuh kekuatan fisik. Apalagi bagi jemaah yang udah sepuh/uzur, tentunya butuh kenyamanan dan keamanan saat melaksanakan ibadah yang satu ini.

Usai mabit di Muzdalifah, kemudian istirahat beberapa jam dan segera melontar jamrah Aqobah, tentu butuh fisik yang sehat. Itulah alasan sebagian jemaah yang maktabnya berada di jarak 6km dari jamarat, untuk lebih memilih pulang ke hotel dibanding kembali ke maktab. 

Jembatan jamarat dapat diakses melalui tiga terowongan dengan 11 jalan masuk dan 12 jalan keluar yang searah dan dilengkapi dengan pendingin udara raksasa. Pendingin udara ini dimaksud dapat mempertahankan suhu udara tak lebih dari 29 derajat C. 


Masih kurang 1km lagi menuju jamarat

Saya selalu memasuki dua terowongan untuk menuju lokasi jamarat, dan selalu memilih di lantai 3 dari 5 lantai yang disediakan. Saya berjalan bersama rombongan, tanpa merasa lelah meski saat berangkat agak aras-arasen (enggan) karena kaki yang mulai lelah. Namun semangat menunaikan kewajiban yang bikin saya akhirnya sangat senang melaksanakannya. Apalagi sepanjang terowongan disediakan eskalator datar tiap beberapa ratur meter. Gunanya tentu saja agar jemaah bisa mengurangi tenaga yang terforsir karena jauhnya lokasi jamarat. Bayangkan pulang pergi kami harus berjalan sepanjang 5 hingga 6 km. Bila di tanah air, saya mungkin tidak kuat jalan sepanjang itu karena kaki yang kadang masih sakit. Namun di jamarat Mina ini, saya tak merasakannya.




Fasilitas eskalator bagi yang udah lelah berjalan


Sepertinya pengorbanan Nabi Ibrahim telah menyuntikkan semangat pada diri saya dan seluruh jemaah haji. Berjalan sedemikian jauh terasa tak berarti, sehingga esok harinya pun kami tetap berangkat dengan semangat. Bahkan kami lebih memilih nafar Tsani, melontar hingga tanggal 13 Dzulhijjah. Alasan saya dan rombongan, tak mengapa jalan sejauh 6 km, bukankah tak setiap tahun kami bisa merasakan pelaksanaan melontar jamrah ini? 

Hanya jemaah haji yang bisa melaksanakan pelontaran jamrah, sementara umroh tak mungkin bisa. Alasan lain adalah, ternyata nikmat sekali berjalan sejauh 6 km bila diniatkan dengan ibadah dan menikmati suasana kota Mina saat tengah malam hingga menjelang fajar. Gemerlap lampu yang menerangi jalan, juga bangunan di kota Makkah yang bisa dilihat dari lantai 3 jamarat, menjadi pemandangan yang indah.

Hanya sayangnya, banyak pula jemaah yang tersesat sepulang dari melontar jamrah karena banyak alasan. Yang pertama, jarang pihak PPIH yang memberikan alamat maktab jemaah. Sehingga ketika tersesat, mereka susah melaporkan lokasi maktab pada askar yang akan membantu. Gelang haji hanya menunjukkan nomor paspor dan asal kloter. SEmentara gelang biru dari pemerintas Arab Saudi hanya menunjukkan lokasi hotel di Makkah. Sepertinya kebetulan saja kalo saya dan rombongan kecil kami berjumlah 23 orang tidak tersesat sepulang melontar jamrah hari pertama.

Kawasan Mina yang sangat luas, yaitu 650 hektar yang digunakan sebagai lokasi perkemahan jemaah memang tak dipungkiri menjadi tempat yang membingungkan. Terlebih bila tak bisa mengingat lokasi maktab atau jalannya. Semua tempat nyaris seragam. Bentuk tenda maktab yang serupa makin membuat bingung jemaah.

Kami serombongan, terutama suami yang mengingat tanda-tanda khusus, seperti gunung batu yang berbeda bentuknya di atas maktab kami. Juga jumlah terowongan yang kami lewati, serta deretan toko yang berjualan di sepanjang jalan perlintasan. Bila tak mengamati secara detil, nama jalan, lokasi maktab, berapa kali masuk terowongan, bukan tak mungkin bakal tersesat. 

Hari pertama itu memang banyak sekali yang tersesat dan tak bisa menemukan lokasi maktab. Bahkan dua jemaah dalam kloter kami, tersesat hingga hari ketiga baru bisa ditemukan. Sementara dari jumlah jemaah satu kloter 17 SOC sebanyak 375 orang, ada sejumlah 296 yang tersesat. Ada yang baru pulang pukul 10.00 WAS, namun banyak yang baru sampai maktab pukul 15.30 WAS. Bayangkan, seharusnya kami hanya butuh jalan sepanjang 6 km PP, mereka harus berjalan hingga mencapai 12 - 16 km. Bayangkan pula perasaan cemas dan takut yang memasung pikiran dan hati mereka karena tak segera menemukan maktab. Cerita yang tersesat ini pernah pula saya tuliskan di sini.

Masya Allah, betapa banyak dan berat perjuangan seorang jemaah haji selama melaksanakan ibadah ini. Semoga semua jemaah senantiasan mendapat perlindungan Allah Swt. Sementara yang meninggal di tanah suci, diampuni dosanya, dan khusnul khotimah, aamiin.

4 comments :

  1. Mbakyu, doakan yaa aku dan keluarga kelak bisa merasakan juga, entah dari jalan mana Allah Membukakan pintu rezeki :)

    ReplyDelete
  2. kayaknya mengenangkan ya mbak berjalan kaki melewati Mina di malam hari bisa melihat pemandangan yang menakjubkan...benar-benar pengalaman yang tak terlupakan... :)

    ReplyDelete
  3. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Mungkin jamaah bisa menggunakan kamera untuk menandai detil jalan dilalui sebelumnya.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...