Agustus 18, 2015
BY Hidayah Sulistyowati
49 Comments
Halo assalamu'alaikum temans. Doa saya untuk kalian semua, semoga senantiasa diberi kesehatan agar bisa beraktivitas dengan lancar, aamiin. Mendekati bulan Haji nih, saya jadi kayak nostalgia waktu nulis artikel ini yang berjudul : 5 Bekal Untuk Teman Atau Kerabat Yang Akan Berangkat Haji. Nostalgia yang selalu bikin saya senyum-senyum sendiri dan mengucap syukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi saya. *GRtingkatdewa
Setahun yang lalu, pada bulan Agustus begini kesibukan saya meningkat. Tugas kantor udah mulai diberesi, juga mengalihkannya pada teman yang kebagian job kerja dari saya. Belum lagi urusan belanja kerudung, sajadah atau oleh-oleh yang nantinya akan dibagikan usai dari tanah suci.
Semua urusan ini harus sudah kelar sebelum bulan Agustus berakhir, karena saya udah cuti per tanggal 1 September 2014. Cuti besar selama dua bulan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci. Saat itu saya udah nggak sabar pengen segera berangkat.
Semua urusan ini harus sudah kelar sebelum bulan Agustus berakhir, karena saya udah cuti per tanggal 1 September 2014. Cuti besar selama dua bulan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci. Saat itu saya udah nggak sabar pengen segera berangkat.
Nah begitu tanggal 1 September, saya baru sadar ternyata bekal untuk dibawa ke tanah suci malah belum sempat terbeli. Mana waktu berjalan cepat, udah kurang dari 6 hari saya mesti meninggalkan tanah air. Belum lagi si sulung yang tiba-tiba mesti rawat inap di rumah sakit.
MasyaAllah, Allah masih memberi saya tubuh sehat untuk menjalani hari demi hari yang sungguh berwarna ini. Mengaduk-aduk isi kepala dan hati saya, hingga berasa nano-nano. Yang akhirnya bermuara pada kepasrahan dan ikhlas menjalaninya. Yah, apa lagi yang bisa saya lakukan, selain pasrah.
MasyaAllah, Allah masih memberi saya tubuh sehat untuk menjalani hari demi hari yang sungguh berwarna ini. Mengaduk-aduk isi kepala dan hati saya, hingga berasa nano-nano. Yang akhirnya bermuara pada kepasrahan dan ikhlas menjalaninya. Yah, apa lagi yang bisa saya lakukan, selain pasrah.
Alhamdulillah, banyak yang sayang pada kami. Ketika saya tengah menemani si sulung di rumah sakit, rumah pun tak henti dibanjiri tamu. Hanya si bungsu yang ada di rumah, karena ayahnya ada di luar kota. Menyelesaikan pekerjaannya sebelum libur panjang 2 bulan. Syukurlah, hampir 5 tahun kami pindah dekat dengan rumah ortu saya. Jadi ada yang menemani si bungsu menerima tamu yang ingin mendoakan keberangkatan saya dan suami ke tanah suci.
Yang bikin saya makin surprise hingga speechless adalah, beberapa jenis bawaan/buah tangan yang ditinggal untuk kami. Apa saja sih yang dibawakan oleh tetangga dan kerabat untuk kami berdua?
Ini nih 5 bekal yang kami terima saat akan berangkat haji :
Sebenarnya biasa aja sih, datang ke rumah teman atau kerabat yang akan berangkat haji dengan membawa sesuatu hadiah. Saya sering melakukannya saat tetangga atau keluarga ada yang akan berangkat haji. Biasanya saya memesan abon sapi pada sepupu yang tinggal di Tengaran, Salatiga. Atau memesan Kering Kentang yang pedas dan renyah pada salah satu catering di daerah Senjoyo Semarang. Kedua bekal itu sangat cocok diberikan pada mereka yang akan menunaikan ibadah haji. Lumayan buat lauk teman makan selama di tanah suci. Apalagi saat Wukuf di Arafah dan melontar jumroh di Mina, makanannya sangat tak mengundang selera. Harus ada lauk motivasi buat menikmati jatah makan yang didapat.
Atau bisa juga memberikan beragam minuman kemasan, seperti kopi, wedang jahe, energen, atau susu. Juga kemasan mie instant, meski di tanah air mungkin kita nggak pernah mengonsumsinya, bisa jadi di tanah suci menjadi makanan favorit.
Bisa juga memberikan makanan favorit, seperti GUDEG dalam kemasan kaleng. Lumayan juga loh buat jemaah haji membawa bekal gudeg, bisa ngobatin kangen masakan Indonesia.
Yang bikin saya makin surprise hingga speechless adalah, beberapa jenis bawaan/buah tangan yang ditinggal untuk kami. Apa saja sih yang dibawakan oleh tetangga dan kerabat untuk kami berdua?
Ini nih 5 bekal yang kami terima saat akan berangkat haji :
1. Makanan
Sebenarnya biasa aja sih, datang ke rumah teman atau kerabat yang akan berangkat haji dengan membawa sesuatu hadiah. Saya sering melakukannya saat tetangga atau keluarga ada yang akan berangkat haji. Biasanya saya memesan abon sapi pada sepupu yang tinggal di Tengaran, Salatiga. Atau memesan Kering Kentang yang pedas dan renyah pada salah satu catering di daerah Senjoyo Semarang. Kedua bekal itu sangat cocok diberikan pada mereka yang akan menunaikan ibadah haji. Lumayan buat lauk teman makan selama di tanah suci. Apalagi saat Wukuf di Arafah dan melontar jumroh di Mina, makanannya sangat tak mengundang selera. Harus ada lauk motivasi buat menikmati jatah makan yang didapat.
Atau bisa juga memberikan beragam minuman kemasan, seperti kopi, wedang jahe, energen, atau susu. Juga kemasan mie instant, meski di tanah air mungkin kita nggak pernah mengonsumsinya, bisa jadi di tanah suci menjadi makanan favorit.
Bisa juga memberikan makanan favorit, seperti GUDEG dalam kemasan kaleng. Lumayan juga loh buat jemaah haji membawa bekal gudeg, bisa ngobatin kangen masakan Indonesia.

2. Mukena
Selama ini saya belum pernah memberikan bekal berupa mukena pada keluarga yang akan berangkat haji. Jadi, saat kemarin saya menerima beberapa mukena dari tetangga, keluarga dan teman suami yang datang ke rumah, surprise banget. Saking bingung mukena mana yang akan saya bawa ke tanah suci, saya perlu berpikir keras tanpa bermaksud mengistimewakan pemberian yang satu dari yang lain. Dan agar mukena lain tetap menjadi berkah, saya bagikan pada adik serta kakak yang membantu kerepotan di rumah menjelang berangkat ke tanah suci. Saya menyisakan dua mukena untuk bekal ke tanah suci.
![]() |
| Dua mukena dari kerabat |
3. DUIT
Nah, ini nih yang bikin saya makin takjub! Bayangkan saya menerima bekal berupa DUIT. Kok kayak mau piknik saat masih SD dulu, kerabat memberikan uang saku buat saya. Tapi, masa sih saya tolak. Ada beberapa amplop yang diselipkan saat menjelang berangkat, pada suami maupun saya. Jadi, di dalam kantong seragam haji kami ada beberapa amplop yang akhirnya membuat tawa kami berderai di dalam bus, sepanjang perjalanan menuju asrama haji Donohudan, Solo.Dan dalam waktu bersamaan, terbersit haru menyelimuti hati saya. Ada banyak kerabat yang menyayangi kami dengan memberi perhatian yang tak pernah saya bayangkan.
4. REAL
Sebenarnya ini sama juga sih ya, sama-sama duit. Cuma bedanya, duit real ini dibekalkan pada kami dengan maksud untuk sedekah. Dari bude dan ibu, suami menerima uang saku berupa REAL. Rupanya bude dan ibu mertua yang telah pergi haji, masih menyimpan sisa uang REAL, untuk diberikan pada putra atau keponakannya yang akan pergi haji. Dalam keluarga suami, hampir tiap tahun selalu ada cucu keturunan Bani Muhyi yang menunaikan ibadah haji. Saya ikutan menyimpan sisa real yang sengaja tidak ditukar menjelang kepulangan kami ke tanah air.Dan tahun ini saya pun akan memberikan bekal pada tetangga, juga teman dan keluarga yang akan berangkat haji. Banyak banget dari kenalan kami yang akan berangkat haji tahun 2015 ini. Sementara sisa uang REAL telah kami bagikan usai berangkat haji. Harus pergi dulu ke money changer untuk menukarkan rupiah untuk memperoleh REAL.
![]() |
| Sisa real |
5. PAKAIAN
Ada juga dari kerabat yang datang memberikan pakaian untuk kami. Dari bulik, adik bapak saya, beliau memberikan dua daster. Juga mbakyu ipar saya memberikan daster. Belum lagi beberapa tetangga, juga memberikan daster. Hahaha, serasa jadi bakul daster.Beragam pemberian dari kerabat dan teman untuk kami sangat sangat kami syukuri. Bahkan malam jelang keberangkatan kami ke embarkasi Donohudan Solo, seorang teman suami meninggalkan bungkusan buat kami. Setelah dibuka, isinya adalah mukena dan baju koko warna putih. Speechless banget membuka bingkisan satu persatu ini. Seperti membuka sebuah hadiah yang spesial buat kami, saya dan suami. Barakallah untuk semuanya, kami nggak mampu membalas semua itu. Semoga Allah membalas kebaikan itu dengan berlipat kali kebaikan yang telah mereka berikan untuk kami.
Nah, itu lah 5 bekal dari kerabat, teman dan saudara buat kami berdua. Terutama bingkisan makanan kemasan, yang saya bawa semua, bisa jadi bekal untuk dinikmati ramai-ramai bersama teman satu regu yang berjumlah 12 orang. Saya enggak mungkin menghabiskannya berdua bareng suami saja. Terlebih bila rejeki yang sudah kita terima, bisa dibagikan pada orang lain lagi, pasti lebih berkah.
Namun tak selamanya bekal yang bisa diberikan harus berupa benda. Bisa juga dengan memberikan sebaik-baiknya bekal, yaitu DOA. Doa terindah, yang paling tulus, dan terbaik untuk keselamatan, kesehatan dan kelancaran bagi saudara, teman atau tetangga yang akan menunaikan ibadah haji. Dan saya merasa beruntung ada banyak yang memberikan bekal berupa doa, hingga selama di tanah suci banyak mendapatkan perlindunganNYA.
Ke- 5 bekal untuk teman atau kerabat yang akan berangkat haji ini bisa saja berubah. Tergantung situasi kondisi yang terus berubah seiring perbaikan pelayanan haji dari Departemen Agama yang mengurus Haji. Wassalamu'alaikum.




