Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

22 Jul 2016

Rajin Ikut Lomba Menulis Sejak Menjadi Pelajar SMA



www.hidayah-art.com

Assalamu'alaikum. Alhamdulillah memasuki One Day One Post hari kesepuluh ini saya masih tetap semangat. Senang juga bisa berpartisipasi menulis selama 14 hari hingga tanggal 26 juli 2016 nanti. Niatnya memang ingin mendongkrak semangat yang nglokro selama libur lebaran. Rasanya ODOP bikin saya pengen posting rutin, meski banyak hambatan menghadang. 

Kalo nggak kuat iman menahan godaan, pengennya nyerah aja saat hari ketiga dan kelima. Hari ketiga saya mengantar ibu mertua nengok bude di Boyolali. Sampai rumah udah malam, pengen selonjor di kasur dan langsung tidur. Sementara hari kelima, sedari pagi saya bantuin ibu ngurus konsumsi halbil di rumah. Dan sore mulai persiapan mengurus snack untuk pertemua RT bapak-bapak. Semua konsumsi memang udah pesan, tapi tetap aja badan lelah bikin otak susah merespon niat ngeblog. Alhamdulillah usai acara RT, suami nemeni hingga selesai posting artikel ODOP hari kelima.

Nah, tema ODOP hari kesepuluh ini bikin saya menengok kembali kenangan saat SMA. Ketika saya masih berseragam abu-abu. Masih unyu, langsing, dan cantiiiiik. *siapin kresek yak*

Iyaaa, saya masih unyu, masih polos karena belum kenal pacaran. Saya nggak mau seperti teman-teman yang hampir sebagian udah punya cowok.  Prinsip saya waktu itu adalah, masa muda masa berkarya. 

pixabay.com
gambar dari pixabay.com
Sejak kecil suka membaca, bahkan saya udah jadi anggota Perpustakaan Wilayah Kota Semarang. Saat itu lokasinya masih di jalan Pemuda dan dekat dengan SMA Negeri 5. Kegiatan saya sepulang sekolah yang terletak di jalan Mt. Haryono, setiap hari Selasa atau Jumat, selalu mampir ke perpustakaan.

Di rumah pun sebenarnya Bapak juga langganan surat kabar. Bapak memang bukan orang kaya, kami keluarga sederhana. Namun untuk urusan bacaan, Bapak tidak pernah sayang mengeluarkan uang untuk membeli koran dan majalah.

Dari seringnya baca koran, saya jadi tahu ada lomba menulis yang diadakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup. Saat itu yang menjabat sebagi mentri adalah Bapak Emil Salim.

Tertarik dengan lomba menulis tentang lingkungan hidup, saya pun mulai melakukan riset. Hampir seminggu tiga kali saya mengunjungi perpustakaan. Petugasnya sampai hapal dengan wajah saya, hingga selalu menyapa dengan ramah. Saya bahkan banyak dibantu oleh Ibu Dewi (nama samaran), untuk mendapatkan buku-buku yang jadi bahan rujukan. 

Saya berusaha menulis feature tentang daun stevia yang bisa digunakan sebagai pemanis. Saya sampai mencari tanaman tersebut dan mencoba bereksperimen dengan memeras bunganya. Setelah itu saya menulis dengan alat mesin ketik. Saya mesti berhati-hati agar jangan sampai mengetik salah. Kan nggak rapi kalo ada typo, karena masih pakai mesin ketik manual. 

pixabay.com
gambar dari Pixabay.com
Namun ternyata saya tidak terpilih sebagai pemenang.  Ah, saya sih nggak sedih, karena kalah dan menang dalam perlombaan itu hal biasa. Apalagi meski nggak menang, saya mendapat kiriman surat yang ditanda tangani oleh Bapak Emil Salim. Bersama surat ucapan terima kasih karena turut menjadi peserta lomba nulis, disertakan majalah dan buku. Waaah, rasanya saat itu saya senang sekali. Sampai melonjak-lonjak di ruang tamu waktu membuka kiriman suratnya.

Senangnya tuh karena Bapak Mentri baik banget memperhatikan para peserta lomba, ngga cuma yang menang tapi juga yang kalah. Kayaknya hingga saya lulus dari SMA, surat dan majalah tersebut masih tersimpan di lemari buku. Namun sayangnya,  surat dan majalah tersebut tercecer saat pindah rumah.

Sebagai pelajar yang sangat suka menulis, saya juga pernah mengikuti lomba nulis puisi. Waktu itu Pemkot Semarang mengadakan lomba nulis puisi dalam rangka Pertempuran Lima Hari di Semarang. Meski nggak terpilih sebagai juara 1 hingga 3, puisi saya masuk nominasi dan dibukukan. Sedihnya lagi, buku pusisi ini pun raib entah kemana. Waktu pemberian hadian dan buku, saya pun termasuk yang diundang. Gedung GRIS yang sekarang telah beralih fungsi menjadi Mall Paragon menjadi saksi bisu tempat pembacaan puisi si pemenang.

Kecintaan dengan lomba nulis ini bikin saya makin penasaran. Saya mulai menulis untuk media cetak. Saat itu dengan pede, saya mengirim artikel pengalaman pribadi saat ikut pendadaran Pramuka di bumi perkemahan Karanggeneng Kabupaten Ungaran. Sekarang kita mengenal artikel tersebut dengan sebutan Kisah Inspirasi. Alhamdulillah baru pertama mengirim artikel ke media cetak, langsung dimuat sebulan kemudian. 

Saya jadi keranjingan mengirim artikel lagi. Hingga kesenangan menulis ini berlanjut saat jadi mahasiswi dengan memilih media cetak nasional di Jakarta. Kayaknya kali ini keberuntungan tengah berpihak pada saya. Beberapa kali artikel saya dimuat di majalah MODE. Saat ini majalahnya udah nggak ada. Sayang banget ya, majalah ini jaman saya muda, menjadi favorit kaum remaja. 

Ah, mengingat kenangan masa remaja ini bagaikan suntikan semangat agar tetap konsisten menulis. Apalagi sekarang saya udah resign dan fokus menulis. Semoga meningkat dengan menjadi penulis buku solo. Impian yang terus saya rawat dengan konsisten menulis setiap hari. 

Dulu, saya rajin ikut lomba menulis sejak menjadi pelajar SMA. Sekarang saya pun rajin ikut lomba menulis dengan media blog. Alhamdulillah, saya udah tiga kali menikmati kebahagiaan sebagai pemenang lomba menulis dengan nilai materi yang lumayan. Nah, teman-teman saat SMA pernah juga kah ikut lomba? Cerita yuk di sini. Wassalamu'alaikum.

13 comments :

  1. Wah, keren Mba Hidayah ini. Sudah sering ikut lomba sejak SMA rupanya. Saya nyerah ikut ODOP mbak, gak kuat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu kayaknya saya termasuk anak yang penasaran, dan pengen bisa nulis seperti penulis idola, hehehe

      Delete
  2. Sampai sekarang ya Mbak senang menulis....tema yg ini agak susah juga nih harus bernostalgia ke masa lalu...xixi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mesti mengenang jaman masih unyuu, hihi

      Delete
  3. Waaah rajinnya udah ikut lomba sejak.SMA. Sukses terus nulisnya ya mbak, semoga bukunya segera terbit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, makasih doanya mbak Viv. Sukses juga buat mbak Vivera :)

      Delete
  4. Waaah rajinnya udah ikut lomba sejak.SMA. Sukses terus nulisnya ya mbak, semoga bukunya segera terbit.

    ReplyDelete
  5. Ternyata senang menulisnya sudah dari SMA ya Mba. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget mbak Ruth, nggak bisa move on dari kesukaan yang satu ini sampai sekarang, hihii

      Delete
  6. inspiratif banget ceritanya mba.., aku juga dari es de seneng nulis, tapi kayanya belum berani ikut lomba sampe pas udah gede, hehehe

    ReplyDelete
  7. kalo saya, jaman SMA belum kenal lomba menulis Mba Wati walau saat itu sudah suka menilis, tapi tulisannya cuman disimpan dan dibaca sendiri :)

    ReplyDelete
  8. waaah saya baru baru ini mba bikin blog dan itupun tulisan di blog saya udah lumayan banyak karena ikut lomba hahaha.. btw cerita mba keren banget, konsisten nulis dari dulu. Oiya, pak Emil Salim sekarang walaupun sudah berumur tapi tetap eksis, pernah ketemu beliau waktu jadi panitia di sebuah seminar lingkungan hidup tahun 2014. Beliau ramah banget mba, sama orang yang bukan siapa2 kayak saya beliau mau membalas obrolan dan pertanyaan. Ihhh senengnyaa.. Oiya mba, ODOP ini komunitas gitu ya mba? Hihi komennya jadi panjang gini

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...