Laman

  • Beranda
  • Jalan-jalan
  • Inspirasi
  • Review
  • Disclosure
  • About Me
  • Achievement

6 Nov 2015

Waktu Santai Bersama Eyang NH DINI Dan Sahabat

hidayah-art.com
Akhirnya hari yang saya nantikan datang. Setelah pertemuan pertama gagal gegara tempat yang salah, ini bagai obat penawar kerinduan yang mujarab. Hihihiii, seperti sedang sakit saja nih. Iyaaa, sakit rindu saking pengen bertemu muka dengan penulis legendaris yang selalu saya impikan sejak kenal bukunya puluhan tahun lalu. #Ishh... ketahuan deh tahun kelahiran berapa :D


Siapa coba yang nggak kenal perempuan bernama NH Dini? Siapa pun yang pernah mengenyam pendidikan SMP, pasti pernah diminta meresensi buku karya beliau. Saya juga kenalnya dari buku Pada Sebuah Kapal. Buku yang menceritakan tentang perempuan bernama Sri ini, bayangan saya ketika itu adalah kisah sang penulis. Seperti juga banyak pembaca buku karyanya, saya juga penasaran dengan kehidupan beliau. 

Terlepas dari pemikiran tentang karyanya adalah juga kisah hidupnya, buku-buku NH Dini banyak dibaca kalangan cendikiawan, sastrawan dan merupakan karya sastra yang melegenda.Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini memang sudah dinobatkan sebagai sastrawan di Indonesia. Sementara beliau sendiri mengaku, hanya seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan.

Buku Nh Dini yang paling berkesan adalah saat saya membaca Padang Ilalang di Belakang Rumah dan Sekayu. Entah napa, usai membaca buku ini, saya tiba-tiba tertarik mendatangi rumah beliau di Sekayu. Kebetulan tempat tinggal saya dekat dengan wilayah Sekayu. Jadi mudah saja bagi saya berjalan kesana. 

Saya juga membayangkan bisa mengikuti jejak beliau menjadi penulis. Yang akhirnya saya tuangkan dalam bentuk karya artikel dengan mengirimkannya ke harian SM dan dimuat. Saat itu usia saya yang masih belasan tahun, begitu bangga bisa menikmati honor dari menulis. 

Sekian tahun kemudian, ketika akhirnya bisa bertemu eyang Dini di rumah makan Nglaras Roso, hati saya buncah oleh kegembiraan. Pagi itu saya berangkatnya gasik banget. Alasan yang pertama sih karena diantar suami yang mau keluar kotam dan kebetulan lewat depan rumah makan itu. Dan alasan berikutnya adalah, nggak apa kepagian datang, lebih enak menunggu eyang Dini. Bisa eksplore lokasi rumah makan yang terkenal memiliki tempat bernilai seni.

Akhirnya bisa juga bertemu beliau, bareng sahabat penulis yang semula hanya kenal di dunia maya. Seperti mba Orin, Dewi Rieka, Winda Oei, dan si anak muda yang penuh semangat Artie Ahmad. Ih, kok seusia si sulung ya. *glekkk* *Oles wajah dulu dengan krim anti aging*

Begitu eyang Dini datang, tersibak semua kerinduan saya pada beliau. Aura kehangatan seorang ibu dan eyang begitu terpancar dari wajah yang masih terlihat ayu pada usia senja beliau. Kami langsung menyambut keramahan eyang dan berkumpul menanti oleh-oleh cerita perjalanan dari Frankfurt.

Cerita bersambung pada beberapa gosip terbaru seputar dunia menulis. Tapi kemudian meloncat lagi dengan topik yang berbeda. Siang itu ada berita duka tentang Pak Raden yang telah berpulang. Eyang pun menuturkan kisah pertemuan mereka juga beberapa tahun silam. *Selamat jalan Pak Raden, semoga Allah menerima semua amal ibadahmu, aamiin.*

Percakapan siang itu memang mengalir santai namun penuh makna. Percakapan hangat antara eyang dengan cucu-cucu beliau. Eh tapi, cucu ketemunya beliau udah sepuh, hihihiii

hidayah-art.com
Asik dengar Eyang Dini bercerita tentang perjalanan di Frankfurt
Cukup lama juga kami berbincang seru, banyak tertawa, namun tak lepas juga sharing menulis eyang Dini. Juga keseharian eyang berinteraksi dengan orang yang ada di sekeliling beliau. Eh sayangnya, Winda mesti pulang dulu karena anak-anaknya udah bosan main di tempat main resto yang mulai panas.

Saya takjub dengan kesabaran beliau dalam bertutur dengan kami, yang lebih muda dalam usia dan karya. Tak ada sekat, semua percakapan mengalir seperti dengan keluarga. Semoga eyang Nh. Dini diberikan kesehatan, usia yang berkah dan tetap berkarya mengisi hari tua. Aamiin.

Kopdar pun tak asik tanpa narsis, heheheee
Oh iya, moga mba Dian Nafi bisa ikut lagi dalam pertemuan berikutnya. See u next time :D

hidayah-art.com
bahagia bisa berbincang dengan Eyang Dini
Makasih Artie sayang, udah mempertemukan kami siang itu. Makasih juga mbak Orin, buku-bukunya akan disumbangan untuk rumah baca. Makasih mbak Dedew udah antarin aku sampe ke halte BRT, hihiii... Kelihatan banget enggak pernah naik angkot :D

11 comments :

  1. Senengnyaaa....bisa ketemu sama eyang NH Dini....*ngiri beraaat

    ReplyDelete
  2. Asyiknyaaaa... Pengin juga ketemu beliau dan sharing tentang dunia menulis :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan bisa terwujud keinginannya, mbak :)

      Delete
  3. Waaah senangnya akhirnya ketemu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Lusi, yang pertama gagal karena miskomunikasi :)

      Delete
  4. Sering denger nama beliau tapi baru tahu beliau sudah sesepuh itu *ya aammpuuun bener2 jadi malu ga tau penulis hebat ini :(((

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah bisa ketemuan lagi dengan eyang, yuk mba ika Inshaa Allah kalau ada lagi diajak yaa...

    ReplyDelete
  6. Ini jadi pertemuan rutinkah, Mbak?
    Pengen ikutan

    ReplyDelete
  7. Bunda juga suka sama novelnya dan pernah baca, tapi udah lupa judulnys apa -- harus ngubek-ngubek rak buku lagi, hehehe...

    ReplyDelete
  8. Berarti kita seumur ya, mbak. Soalnya waktu sekolah aku jjga dapat fugas bikin resensi karya beliau, judulnya juga Pada Sebuah Kapal. Alhamdulillah ya beliau masih sehat.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...